Anda di halaman 1dari 10

Pendidikan Untuk Apa ?

PENDIDIKAN UNTUK APA? 1)

Maman A. Djauhari 2)
maman@dns.math.itb.ac.id

“If a man does not know to what port he is steering, no wind is favourable”
(Seneca)

Abstract

Education is one of the elements that is worth considering besides science and technology in
order to put Indonesia to the same level as the one of the developed nations have reached.
The importance of education in the Sundanese ethnic values is prominent, which gives
priority to a man having an education. It is expressed in its songs and rhymes. Further, the
values say that education will help a man interact with others fully well. Moreover, in its
broader sense, education will ultimately lead the people of a nation to defend their country.
However, the current facts show that education in Indonesia tends to shape someone to give
priority on strengthening his/his family’s/his clan’s own economy combined with a hedonistic
and consumptive life style. All of these will lead to the negative impacts to the nation’s
resilience. Therefore, the future education of Indonesia must be committed to the nation
identity and resilience besides science and technology.

Pada awalnya penulis ingin Isi tulisan ini pada dasamya


memberi judul “Pendidikan untuk apa?: merupakan ajakan kepada kita semua untuk
Sebuah refleksi pribadi” Namun, setelah merenungkan dan kemudian mencari
ditimbang-timbang, kata reflection dapat jawaban yang terbaik dari pertanyaan yang
dimaknai sebagai sesuatu yang bersifat menjadi judul di atas. Pengalaman penulis
aksiomatik. Artinya, dapat dimaknai sebagai telah menghantarkan pada kesimpulan
sebuah model hipotetik yang mungkin jauh bahwa pendidikan, dan juga ilmu
dari keadaan. Padahal apa yang hendak pengetahuan dan teknologi (IPTEK),
disajikan merupakan kristalisasi diperuntukkan bagi ketahanan dan
pengalaman pribadi penulis dalam mencari kecemerlangan bangsa di antara bangsa-
jawaban atas pertanyaan “Untuk apa bangsa beradab lainnya.
pendidikan itu?”. Oleh karena itulah, maka Oleh karena itu, menurut hemat
sub-judulnya dihapus. Tulisan ini berisi penulis, jargon IPTEK bagi ketahanan dan
potret jejak-jejak perjalanan pribadi. kecemerlangan bangsa kurang lengkap
tanpa pendidikan. Jargon itu harus
dikembangkan menjadi P1PTEK
(Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan
1) Sebagian tulisan ini pernah disampaikan pada Teknologi) atau STE (Science, Technology,
Studium General Program Pascasarjana and Education). IPTEK saja belum cukup.
Pendidikan Matematika, Universitas Pendidikan
Indonesia, 28 April 2006 G.R. Jones, Chairman dan CEO dan GATE
(Global Alliance for Transnational
2) Profesor Statistika ITB (saat ini Executive Forum Education), dalam Annual Quality Congress
Member / Consultant in Statistics di Coleman ke-56 yang diselenggarakan oleh American
Research Group, New York)

Jurnal Sosioteknologi Edisi 9 Tahun 5, Desember 2006 113


Pendidikan Untuk Apa ?

Society for Quality 2002, menyatakan: Bagian kelima mencoba memahami


“Education is the great hope for the paradigma bangsa Amerika Serikat (AS)
survival of humankind and for the forward sebagi satu contoh yang baik (minus
progress of civilization. Therefore, arogansinya) dalam menempatkan PIPTEK
resources of every kind, including sebagai ujung tombak kecemerlangan
technology, must be intelligently focused in bangsa itu. Bagian keenam menampilkan
its service and its convenient availability to potret diri kita; keadaan masyarakat kita vis
everyone must be assured.” a vis PIPTEK. Kemudian bagian ketujuh
Tulisan ini dimulai dengan mimpi mengutarakan pengalaman pribadi penulis
tentang wajah Ibu Pertiwi nan kuat, dalam aktivitas sehari-hari bergelut dengan
cemerlang dan disegani, kemudian diikuti soft technology. Tulisan ini diakhiri dengan
dengan eksperimen value mining dan sebuah catatan tambahan pada bagian
lumbung kultural leluhur bangsa dengan kedelapan. Semoga bermanfaat!
mengambil setting Ki Sunda. Dipilih Ki
Sunda, hanya karena penulis merasa Ki 1. Bahan Renungan
Sunda lebih penulis ketahui walau dengan Perhatikanlah bola dunia hasil
pengetahuan yang terbatas. Pada bagian pemotretan wahana luar angkasa. Maka
ketiga akan diulas sedikit makna dari akan tampak sebuah kepulauan yang
globalisasi yang mewarnai habitat sosio- seluruhnya berwarna hijau, diapit dua lautan
kultural kita. Selanjutnya, dalam upaya agar biru nan luas dan dua benua yang salah
bangsa kita mampu turut aktif bermain satunya diliputi gurun pasir. Itulah Ibu
cantik dalam globalisasi, pada bagian Pertiwi. Di wajahnya tidak ada noktah
keempat kita tengok pesan-pesan beberapa berwarna kecoklatan sebagai tanda gurun
pemimpin dunia tempo dulu yang pada gersang. Hijau adalah warna surgawi.
dasarnya menekankan pentingnya suatu Keindahannya tergambarkan dengan baik
bangsa mampu mencipta dan menguasai dalam bait-bait lagu “A Wonderful World”
sains, teknologi, dan pendidikan yang baik. yang dinyanyikan Louis Armstrong.

Gambar. Jamrud di khatulistiwa


Jurnal Sosioteknologi Edisi 9 Tahun 5, Desember 2006 114
Pendidikan Untuk Apa ?

Sebagai anak-anak Ibu Pertiwi, kita patut orang pertama yang sadar tentang hal itu
merenungkan kembali tentang keberadaan dan melakukan action.
kita dan tentang kontribusi kita kepada Sang Bagaimana kita bisa mampu
Ibu. Mau kita apakan jamrud di khatulistiwa mewujudkan mimpi itu? Pada bagian
itu? Dengan apa kita mewujudkannya? berikut akan dikemukakan bahwa
Kedua pertanyaan inilah yang akan kita sebenamya leluhur kita telah memiliki nilai-
coba cari jawaban terbaiknya. Penulis yakin, nilai, yang diwariskan kepada kita, agar kita
tidak ada seorangpun anak bangsa yang membaca alam secara rasional; agar kita
tidak menginginkan Ibu Pertiwi sehat, besar, bertumpu pada sains dan teknologi dengan
kuat, cemerlang, dihormati, berpengaruh, pendidikan yang baik.
dan bermartabat. Dengan apa kita
meraihnya? Sejarah peradaban manusia 2. Nilai-nilai Luhur Kultur Leluhur
mengajarkan kearifan kepada kita bahwa: Hingga tahun 1950 an masih terdengar
“Tidak ada perkembangan peradaban Ibu-ibu di daerah Pasundan, tatkala menina
modem tanpa penguasaan sains dan bobokan bayinya, melantunkan tembang
teknologi dengan pendidikan yang baik.” berikut yang berisi pesan agar si anak
Sedangkan tingkat peradaban modern mengambil sekolah sebagai jalan hidupnya.
ditentukan oleh tingkat kecerdasan dalam Sekolah adalah jalan terbaik meraih
berkomunikasi dengan jagat (univers) secara martabat. Perhatikanlah bait-bait tembang si
rasional/ilmiah. Barangkali Socrates adalah Ibu.

Nelengnengkung, nelengnengkung (menirukan bunyi bonang dan gong)


Geura gede, geura jangkung (Cepat besar, cepat tinggi)
Geura sakola ka Bandung (Cepat sekolah ke Bandung)
Geura makayakeun indung (Cepat membuat kaya Ibu)

Tembang ini menampakkan figur diartikan “memperkaya” yang berkonotasi


masyarakat Sunda yang sejak dulu sudah materialistik. Menurut penulis, kata tersebut
menyadari peran sekolah dalam mencapai bukan berasal dan kata “kaya” (bahasa
kecemerlangan hidup bermasyarakat, Indonesia) melainkan dan kata “aya”.
berbangsa dan bernegara. Bagi masyarakat Dengan demikian, kata “makayakeun” bisa
Sunda, sekolah adalah juga pusat diartikan sebagai “membuat menjadi ada
kebudayaan. Sekolah adalah House of atau exist” Dalam konteks ini maka makna
Culture dan House of Wisdom. Ini tercermin tembang di atas adalah menjadikan sekolah
dalam istilah bernas yang diberikan sebagai jalan terbaik agar Ibu Pertiwi exist.
masyarakat Sunda kepada orang yang Kata exist di sini harus dipahami dalam
menyimpang dan norma-norma budaya, konteks filsafat existentialism Kierkegaard.
adat, dan tradisi. Di mata masyarakat Sunda, Masyarakat Sunda pun adalah
orang seperti itu dikatakan “Teu nyakola” masyarakat yang sangat rasional dan
Hanya sayang sekali kata “Indung” menjunjung tinggi pendekatan ilmiah.
atau “Ibu” pada bait terakhir sering Murid-murid Sekolah Rakyat (SR) di tahun
dimaknai secara sempit sebagai Ibu 1950 an diajari tembang berikut yang berisi
kandung. Padahal ia juga dapat dimaknai pesan agar setiap tindakan (action) selalu
secara luas, sebagai “Ibu Pertiwi.” Di didasarkan kepada pengamatan
samping itu, kata “makayakeun” juga sering (observation). Dengan nalar, hasil observasi

Jurnal Sosioteknologi Edisi 9 Tahun 5, Desember 2006 115


Pendidikan Untuk Apa ?

ditransformasikan menjadi informasi untuk knowledge. Perhatikanlah tembang murid


kemudian dikembangkan lagi menjadi SR mi.

Laku lampah hap-hap (Perilaku kadal-terbang)


Hade mun ditiru (Bagus untuk dicontoh)
Ana rek lumampah (Setiap kali mau bertindak)
Sok tara padu los bae (Tidak pernah begitu saja)
Kai gede sok dieundeuk-eundeuk heula (Pohon besar pun digoyang-goyang dulu)

Sebelum sang kadal-terbang tinggi pendidikan/sekolah dan bersikap


melompat dari satu pohon ke pohon lain, rasional, masyarakat Sunda pun memiliki
pohon besar tempat ia berada digoyang- sikap yang luhur dalam pergaulan global.
goyang terlebih dahulu untuk menguji Murid-murid SR kala itu dibekali dengan
apakah cukup kuat dijadikan pijakan. Di nilai-nilai dalam menempatkan diri di
dalam intellectus kadal-terbang ada proses manapun kelak mereka berada.
verification dan hermeneutics. Apakah ini Asmarandana di bawah ini adalah salah satu
bukan filsafat sains Karl Popper tentang contohnya.
aktivitas ilmiah? Tidak hanya menjunjung

Eling-eling mangka eling (Ingat, ingat dan ingatlah)


Rumingkang di bumi alam (Berkiprah di bumi alam)
Darma wawayangan bae (Manusia tak ubahnya seperti wayang)
Raga taya pangawasa (Raga takpunya kekuatan)
Mun kasasar nya lampah (Kalau berperilaku menyimpang)
Napsu nu matak kaduhung (Jiwa yang akan menyesal)
Badan anu katempuhan (Badan yang harus menanggung akibatnya)

Istilah “bumi alam” pada bait kedua menambang the indigeneous culture. Tapi
mengandung makna ajakan kepada murid mengapa kultur luhur warisan leluhur
agar berpikir global. Bagi masyarakat seolah-olah kurang diapresiasi oleh
Sunda, di mana pun mereka berada, sama masyarakatnya sendiri? Terlebih oleh
saja. Bumi alam adalah bumi Allah. Yang generasi muda? Padahal itu adalah salah
penting, harus bisa “nitipkeun diri satu daya tawar terhadap globalisasi?
(menitipkan diri)” atau “bisa ngigelanana Tampaknya yang kurang adalah upaya
(mampu berbaur)” dan manusia Sunda mentransformasikan the indigeneous culture
harus cageur (sehat jasmani dan rohani), tersebut menjadi aktivitas PIPTEK. Ataukah
bageur (patuh, ta’at secara cerdas dan karena kita sebagai bangsa belum memiliki
ikhlas, serta generous termasuk dalam budaya mencipta sains dan teknologi?
membagi ilmu), singer (banyak ide, kreatif,
dan inovatif termasuk dalam scientific 3. Globalisasi: Definisi & Cakupannya
knowledge production), dan pinter (smart International Institute for Strategic
dalam penyelesaian masalah). Studies, AS, memberikan definisi
Itulah beberapa artfacts yang globalisasi sebagai “transnational flow of
tersimpan di lumbung kultural warisan goods, money, ideas, lifestyle, and cultural
leluhur Sunda. Penulis yakin, di masyarakat values” Tiga yang disebut terakhir, yakni
lain pun di Nusantara ini berkembang nilai- ide, gaya hidup, dan nilai-nilai kultural akan
nilai seperti itu. Melalui tulisan ini, penulis langsung bergesekan dengan budaya kita
ingin menggugah dan mengajak kita semua atau - kalau kita ceroboh - menggeser
Jurnal Sosioteknologi Edisi 9 Tahun 5, Desember 2006 116
Pendidikan Untuk Apa ?

budaya kita. Kalau kita tidak memiliki daya nilai-nilai kultural asing. Ketahanan bangsa
tawar yang kuat, dengan meningkatkan kita adalah taruhannya.
ketahanan bangsa melalui penciptaan dan Untuk mempertebal keimanan kita
penguasaan PIPTEK, kita hanya akan akan kemampuan kita sendiri, kita patut
menjadi objek globalisasi dan tidak akan menyimak pesan/fatwa para pemimpin
pemah menjadi subjek yang dihormati. dunia masa lalu dalam memandang dunia
Berpegang pada definisi di atas, masa depan. Pada dasarnya mereka
sebenarnya sejarah menunjukkan bahwa berpesan bahwa knowledge is power dan
bangsa kita pernah berjaya sebagai subjek bahwa kita harus memiliki budaya mencipta
globalisasi yang aktif. Primadi Tabrani sains dan teknologi.
dalam “Belajar dari Sejarah” memahamkan
penulis bahwa dua ribu lima ratus tahun 4. Pesan Pemimpin Dunia Tempo Dulu
sebelum Masehi, nelayan Bugis sudah lalu Di awal, penulis mencuplik ungkapan
lalang dan kepulauan Fiji hingga Tanjung Seneca yang pada dasarnya berpesan agar
Harapan di Afrika Selatan. Teknologi tujuan segala aktivitas harusjelas. Kalau
pelayaran mereka berada pada tingkat yang tidak, maka apapun yang seharusnya dapat
setara dengan teknologi pelayaran bangsa menunjang aktivitas tersebut akan menjadi
Viking di Norwegia. Yang berbeda, berkat tidak bermanfaat. Begitujuga dengan
kemampuan berpikir rasional/ilmiah dan pendidikan. Untuk apa pendidikan itu?
kemampuan mencipta sains dan teknologi, Kalau jawabannya tidak jelas, atau kurang
bangsa Norwegia mampu mengembangkan baik, kita tidak akan kemana-mana. Ada
their indigeneous technology hingga alasan kuat - lihat alinea berikutnya -
mencapai bentuknya yang sekarang. mengapa penulis menawarkan jawaban
Sedangkan kapal pinisi kita, karena kita bahwa pendidikan adalah untuk ketahanan
belum memiliki budaya sains, hampir tidak dan kecemerlangan bangsa; untuk
mengalami perkembangan. menjadikan bangsa yang sehat, besar, kuat,
Di awal abad Masehi hingga sekitar cemerlang, dihormati, dan bermartabat.
abad pertengahan, masuk pengaruh Hindu Bagi penulis, inilah makna dan “Pendidikan
dan Budha. Pada periode mi kita menjadi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.”
objek globalisasi. Pada zaman Sriwijaya, Paling sedikit ada tiga kata kunci
kembali kita aktif melakukan globalisasi. yang dipesankan para pemimpin dunia
Setelah itu, masuk Laksamana Chen Ho, tempo dulu untuk meraih kejayaan bangsa.
Islam, dan kemudian disusul dengan Pertama, adalah kepemimpinan
masuknya era physical colonialization dan (leadership). Bangsa ini harus menjadi
intellectual colonialization hingga kini. bangsa pemimpin. Proses pendidikan harus
Sejak Sriwijaya hingga sekarang kita pasif mampu mempersiapkan peserta didik untuk
dalam globalisasi. Bahkan untuk beradaptasi menjadi pemimpin masa depan dan bukan
saja, terhadap dampak globalisasi, kita untuk menjadi pegawai. Sun-Tzu, yang
mengalami kesulitan. Akibatnya, ide, gaya terkenal dengan karyanya “The Art of
hidup, dan nilai-nilai kultural asing mudah War”, mengatakan bagaimana seorang
sekali masuk hampir tanpa filter. Tidak ada pemimpin harus mampu membawa
daya tangkal. Ini berbeda dengan Jepang rakyatnya demi untuk kecemerlangan
atau bahkan Malaysia. Hal itu diperparah bangsa: “Leadership causes people to
oleh sikap sebagian besar masyarakat kita follow their superiors willingly; therefore,
yang merasa telah menjadi manusia modern following them in death and life, the people
dengan hanya meniru ide, gaya hidup, dan will not betray them.” Kata kunci kedua
adalah informasi. Untuk menjadi pemimpin,
Jurnal Sosioteknologi Edisi 9 Tahun 5, Desember 2006 117
Pendidikan Untuk Apa ?

harus memiliki kekuatan (power). Cosmo 5. Paradigma Paman Sam


menyimpulkan bahwa kekuatan berada pada Dalam tulisan mi sengaja
kemampuan memiliki, menguasai dan diketengahkan bagaimana AS menempatkan
mengelola informasi. Dia berkata: “There is sains, teknologi, dan pendidikan pada ujung
a war out there, old friend - a World War. tombak kecemerlangan bangsanya.
And it not about whose got the most bullets; Paradigma AS (minus arogansinya), penulis
it’s about who controls the information. anggap, merupakan sebuah contoh yang
What we see and hear, how we work, what baik dalam upaya membangun ketahanan
we think. It all about the information.” dan kecemerlangan bangsa kita.
Ketiga, adalah pikiran (mind). Lebih tajam Pada 4 Maret 2001, dalam pidatonya,
dan dalam ketimbang Cosmo, Napoleon Presiden Bush mengatakan: “The... vast
Bonaparte mengatakan bahwa kekuatan ada network that connects information and
pada pikiran. “There are but two powers in weapons in new ways... will revolutionize
the world, the sword and the mind. In the the Navy’s ability to project American
long run the sword is always beaten by the power over land and sea, assuring access
mind”- kata Bonaparte. Perang di Irak for all our forces, wherever our vital
merupakan contoh yang sangat baik dari interests are threatened. America has the
pesan Bonaparte. Perang itu adalah perang technology to sustain access from the sea.
kecerdasan. Bahkan Letjen Bogdanov dari Our economic, political, and joint military
Rusia sampai pada kesimpulan: “Iraq lost success, require it. Focused investments can
the war before it even began. This was a ensure it remains decisive.” Isu strategis
war of intelligence, electronic warfare, yang ia kemukakan adalah “rule the sea”
command and control, and untuk kepentingan ekonomi, politik, dan
counterintelligence. Iraqi troops were militer. Untuk itu, ia menempatkan
blinded and deafened.. . modern war can be pengembangan sains dan teknologi sebagai
won by informatics and that is now vitalfor tumpuannya dengan investasi yang terfokus
the US. and US.S.R.” dan dapat dikatakan tidak terbatas besarnya.
Di era modem saat ini, pesan-pesan di Dalam hal mi, Center for Global Security
atas diartikulasikan oleh National Security Research (CGSR), AS, pada tahun 2002
Working Group (NSWG), AS, yang merekomendasikan: “There remains a
kemudian menerjemahkan “kekuatan” strong role for the government in support of
sebagai kemampuan mencipta dan long term S&T, i.e., that beyond the
menguasai sains, teknologi, dan pendidikan marketplace. S&T organizations must be
yang baik. Salah satu dokumen NSWG both agile in their use of staff and agile
antara lain menyebutkan: “Security within their marketplaces and across their
increasingly dependent upon science and boundaries.” CGSR menempatkan
technology superiority and agility.” pendidikan sebagai salah satu ujung tombak
Tiada jalan lain, kalau bangsa kita di antara 8 bidang unggulan lainnya
ingin dihormati dan bermartabat dengan (bioscience, photonics, climate change,
daya tahan yang tinggi, kecuali dengan energy futures, material science, chemistry,
mengembangkan budaya mencipta sains dan S&T, information technology).
teknologi dengan pendidikan yang baik. Pemerintahan Presiden Bush dituntut untuk
Sebagai bahan renungan mengenai hal ini berperan kuat dalam memberikan dukungan
marilah kita tengok sejenak bagaimana AS bagi PIPTEK.
mengembangkan paradigmanya. Perlu kita catat bahwa, dalam bidang
pendidikan, CGSR memiliki kekhawatiran
akan generasi penerus bangsa AS. Dalam
Jurnal Sosioteknologi Edisi 9 Tahun 5, Desember 2006 118
Pendidikan Untuk Apa ?

salah satu laporannya, CGSR menulis: “We jelas. Pola hidup seperti ini berakibat sangat
are properly concerned about the fatal bagi ketahanan bangsa. Umpamanya:
motivation and education of our children
and their generation. We are concerned that Berkembang sikap memandang sains dan
there will be motivated people to replace us. teknologi sebagai bahan untuk dipelajari
We are not sure that our present excellence dan bukan untuk diproduksi,
in higher education is sustainable. The Paradigma sekolah/perguruan tinggi
decreasing numbers of US citizens sebagai house of culture dan house of
graduating with science PhD’s present wisdom berubah menjadi lembaga
problems for societal and security pencetak calon pegawai,
missions.” Apabila AS saja sudah khawatir Masyarakat tidak mampu mengapresiasi
dengan pendidikan generasi penerusnya, ilmuwan sebagai profesi yang berada di
apalagi dengan kita? Di lain laporannya, garda depan dalam upaya meraih
CGSR merekomendasikan bahwa: “Science kecemerlangan bangsa.
is important to our flfe and our family. And
the community of science needs our Pola hidup demikian harus segera
support.” Bagaimana dengan kita? Sudah direformasi menjadi pola hidup masyarakat
semestinya ketahanan dan kecemerlangan yang berorientasi untuk ketahanan dan
Ibu Pertiwi ditempatkan diatas segala- kecemerlangan bangsa. Sekarang saatnya
galanya, jauh melebihi kepentingan pribadi, setiap anggota masyarakat diarahkan dan
keluarga, dan kelompok. mengarahkan din untuk membangun tekad
Itulah tadi nilai-nilai yang sudah menjadi aktivis globalisasi melalui PIPTEK.
sepatutnya kita rujuk agar kita mampu Minimal sebagai supporters yang potensial.
mendapatkan jawaban yang tepat untuk Khusus mengenai teknologi, pilihan yang
pertanyaan-pertanyaan berikut. Where are bijak dan strategis bagi bangsa ini adalah
we now? Where are we going to go? Why penciptaan dan pengembangan soft
education andfor what? Sebelum technologies. Kemampuan kita dari segi
merumuskan jawabannya, marilah kita pendanaan dan pemasaran dalam bidang
melihat potret kita sendiri. hard technologies masih terbatas. Lain
halnya dengan soft technologies. Hampir
6. Potret Kita tidak ada hambatan dalam pemasaran dan,
Penulis merasa tidak mudah untuk secara intelektual, bangsa kita mampu
memotret masyarakat kita vis a vis bersaing.
paradigma PIPTEK. Namun demikian, Sangat disayangkan bahwa
penulis menganggap bahwa media massa masyarakat umum, bahkan banyak para
adalah wahana yang mampu mencerminkan sarjana dan public figures, memandang
wajah masyarakat dengan baik. Oleh karena pendidikan secara linear. Padahal, berbeda
itu, pada bagian ini penulis memotret dengan kursus, pendidikan bukanlah seperti
melalui media massa. pipe line. Proses pembelajaran adalah proses
Secara kasat mata, baik pada media untuk mengajak peserta didik berpikir non-
cetak maupun media elektronik, tampak linear dan non-rutin. Melalui pendidikan,
jelas bahwa hampir dalam segala hal, peserta didik memupuk pengalaman agar
ukuran prioritas masyarakat umum adalah kelak dapat memilih habitat hidupnya dan
kepentingan ekonomi pribadi, keluarga, dan meraih kecemerlangan. Pendidikan adalah
kelompok dalam jangka pendek dengan investasi untuk kecemerlangan bangsa. Ia
nuansa hedonism yang kental. Pola hidup adalah ketahanan nasional, kedaulatan
konsumtif secara umum tergambar dengan bangsa, dan martabat (dignity) bangsa.
Jurnal Sosioteknologi Edisi 9 Tahun 5, Desember 2006 119
Pendidikan Untuk Apa ?

Pendidikan kita akan rendah nilainya mampu memanfaatkan secara optimal


apabila ia dipandang sebagai investasi potensi pendidikan dan potensi ilmuwan
ekonomi, walaupun sumbangan pendidikan untuk kejayaan bangsa. Sebagai akibat
pada pembangunan ekonomi sangat lanjutan, industri kita tidak mempunyai
besarjauh melebihi sumbangan yang kredibilitas, apalagi daya saing, seperti
diberikan oleh sektor investasi ekonomi. tampak pada kedua tabel di bawah ini.
Utomo Dananjaya dalam sebuah surat kabar Kedua tabel tersebut memberikan
baru-baru ini melaporkan bahwa sumbangan peringatan kepada kita bahwa pada bidang
pendidikan kepada pembangunan ekonomi teknologi manufaktur, hanya teknologi
adalah 9 kali sumbangan sektor investasi pengelasan yang meraih nilai A (skor 9,0
ekonomi. dalam skala 0— 10). Sedangkan teknologi
Paradigma masyarakat kita yang assembling meraih nilai B (7,5) dan metal
keliru telah menimbulkan ketidakadilan cutting C (6,8). Bidang lainnya gagal. Lebih
dalam cara pandang terhadap berbagai menyedihkan lagi, pada bidang teknologi
profesi. Akibat lainya, masyarakat tidak produksi, semuanya gagal.

Tabel 1. Posisi Industri Indonesia dalam Teknologi Manufaktur *)

No. Keahlian Skor


1 Pengecoran 5,0
2 Die Casting 4,5
3 Forging 1,2
4 Metal Cutting 6,8
5 Metal Forming 5,8
6 Fabrication 3,2
7 Heat Treatment 3,0
8 Pengelasan 9,0
9 Tool Making 3,1
10 Tolerance & Standards 2,0
11 Production Scheduling 2,7
12 Inventory Control 2,9
13 Quality Control 3,0
14 Assembling 7,5

Jurnal Sosioteknologi Edisi 9 Tahun 5, Desember 2006 120


Pendidikan Untuk Apa ?

Tabel 2. Posisi Industri Indonesia dalam Teknologi Produksi *)

No. Keahlian Skor


1 Application Engineering 2,0
2 Production Design: Material Selection 4,0
3 Production Design: Component Selection 3,6
4 Production Design: Total System Design 1,9
5 Failure Analysis 2,0
6 Control Technology 2,0

*) Hasil Survey Bank Dunia, Sumber: Iman Taufik (2003)

7. Pengalaman Pribadi satu nilai yang penulis anut adalah yang


Pada dasarnya inti kegiatan ilmuwan terkandung dalam Qur’an (Al-Mujadalah,
adalah upaya meningkatkan kualitas karya Ayat 11) yang tidak lain berupa janji
ilmiahnya yang mampu melampaui bahwa Tuhan akan meningkatkan derajat
capaian ilmuwan lainnya. Apapun bidang orang yang berilmu. Dalam ayat itu tidak
ilmu yang digelutinya. Di awal tahun 1950 disebutkan jenis ilmunya. Ini mengandung
an, Deming memperkenalkan pendekatan makna bahwa Yang Maha Kuasa menuntut
untuk meningkatkan kualitas yang dikenal sikap profesional dari kita. Ilmu apapun
dengan Deming’s cycle atau PDCA (Plan, yang digeluti, asalkan secara profesional,
Do, Check, Act). Untuk Tuhan akan memenuhi janjinya. Upaya
mengimplementasikan PDCA melalui mengimplementasikan nilai luhur yang
pendekatan kuantitatif empiris, dalam dua dianut dalam kehidupan sehari-hari secara
dekade terakhir para quality professionals konsisten akan mencerminkan takaran
memperkenalkan langkah-langkah yang dedikasi seseorang. Para ahli sepakat
disebut DMAIC (Define, Measure, bahwa keberhasilan (setiap organisasi,
Analyze, Improve, Control). termasuk negara) sebagian besar (70 %)
Pengalaman pribadi penulis ditentukan oleh kultur.
menunjukkan bahwa untuk Tekad untuk berbuat sesuatu, penulis
mengimplementasikan DMAIC dalam mulai dengan mempelajari standar global
peningkatan kualitas dan produktivitas suatu karya ilmiah. Sebagai contoh,
karya ilmiah, diperlukan energi yang KAIST (Korean Advanced Institute of
besar. Perlu starter atau pemicu. Energi Science and Technology) menetapkan
untuk memulai sangatlah luar biasa kriteria karya yang masuk ke dalam
besarnya. Terlebih saat menyadari bahwa kategori kelas dunia terdiri atas:
kita hidup di habitat di mana ilmuwan keorisinilan (originality) dan dampak yang
tidak mendapat apresiasi yang wajar. Di luas (major impact). Selanjutnya penulis
antara energi itu adalah: nilai luhur yang berpendapat, untuk merealisir tekad itu,
dianut, dedikasi, dan tekad untuk berbuat tidak ada jalan lain kecuali publish
sesuatu yang terbaik bagi bangsa. (internationally) or perish. Bercermin
Singkirkan jauh-jauh godaan untuk pada KAIST, maka yang harus diambil
mementingkan diri atau golongan. Salah adalah sikap “stop learning dan start

Jurnal Sosioteknologi Edisi 9 Tahun 5, Desember 2006 121


Pendidikan Untuk Apa ?

inventing/producing” Menurut hemat 8. Catatan Tambahan


penulis mahasiswa matematika, misalnya, Ketahanan dan kecemerlangan thu
perlu diajak untuk mulai bersikap Pertiwi sangat tergantung kepada tekad
“berhenti belajar matematika” dan semua anak bangsa. Daya tahan kita
“mulailah belajar membuat/memproduksi terhadap gelombang globalisasi yang
matematika” Sekecil apapun matematika semakin besar ditentukan oleh kemampuan
yang diproduksi, akan memupuk sikap kita dalam menguasai dan memproduksi
seorang pionir. Tidak ada yang salah kalau PIPTEK. Kemampuan kita menyamakan
mahasiswa memilih sikap “belajar diri dengan bangsa-bangsa lain dalam
matematika”. Hanya saja sikap itu kurang bidang PIPTEK akan menentukan
baik. Itu adalah sikap para pengikut (the martabat Ibu Pertiwi. Lihatlah Jepang.
followers) dan bukan sikap seorang Bangsa ini cemerlang hanya berkat
pemimpin (leader) dalam sains, teknologi, PIPTEK, semangat, dan disiplin, bukan
dan pendidikan. Kesalahan utama karena sumber daya alam. Lihatlah pula
pendidikan di negeri kita adalah tidak India atau Cina. Kedua negara ini pun
serius mengembangkan ilmu-ilmu dasar. menjadikan PIPTEK, semangat, dan
Khusus pendidikan bidang matematika dan disiplin, sebagai tumpuan untuk ketahanan
ilmu pengetahuan alam (MIPA), kesalahan dan kecemerlangannya. Apa yang kurang
itu diperparah oleh cara pandang (mind dengan kita? Tampaknya tekad dan
set) para pendidik dan para pengelola dayajuang masyarakat untuk mengibarkan
pendidikan di segala tingkatan yang Sang Merah Putih setinggi-tingginya
memandang MIPA sebagai bahan ajar dan melalui PIPTEK amat sangat lemah;
bukan sebagai komoditas untuk jangan-jangan hanya ada dalam upacara
diproduksi. ritual saja.
Penulis semakin yakin dengan manfaat Sains dan soft technology
paradigrna penulis di atas, terlebih setelah merupakan pilihan bijak dan strategis agar
penulis memperoleh penghargaan yang Ibu Pertiwi bersinar kembali auranya.
berupa Gold Medal dan ISOSS (Islamic Masih sulit bagi kita untuk menjadikan
Countries Society of Statistical Sciences) hard technologies sebagai primadona
untuk “outstanding contribution in dalam upaya ikut bermain di kancah
Statistics” dan pengakuan dari: globalisasi. Hambatan utama ada pada
pemasaran. Tidak demikian halnya dengan
1. UNESCO — AEGIS (Australian soft technologies, apalagi sains.
Expert Group on Industry Studies), Kurikulum berbasis kompetensi
menurut mereka, karena keterlibatan (KBK) perlu dimaknai sebagai upaya
penulis dalam scientfIc knowledge jangka panjang yang terus menerus dalam
production di wilayah Asia-Pasifik, membangun Ibu Pertiwi yang sehat, besar,
2. Experten Netzwerk Moderne kuat, cemerlang, dihormati, dan
Qualitasmethoden, Germany, untuk bermartabat. Terlampau rendah nilainya
artikel yang terbit dalarn Journal of apabila “kompetensi” di sini diartikan
Quality Technology, USA, January sebagai kompetensi lulusan di pasar kerja.
2005, Kata “kompetensi” harus dimaknai sebagai
3. Akademiai Kiado, Hungary, untuk kompetensi bangsa di antara bangsa-
artikel yang terbit di jurnal BioPharm bangsa maju lainnya. KBK bukan untuk
International: The Applied Technology mempersiapkan peserta didik menjadi
of Biopharmaceutical Development, pegawai
USA, January 2004.
Jurnal Sosioteknologi Edisi 9 Tahun 5, Desember 2006 122