Anda di halaman 1dari 29

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep peyakit

1. Definisi

Meningitis adalah infeksi ruang subaraknoid dan leptomeningen yang

disebabkan oleh berbagai organisme patogen (Abraham M. Rudolph, Julien I.E.

Hoffman, Colin D. Rudolph, 2006). Meningitis adalah gangguan yang sangat

serius yang terus memiliki insidensi mortalitas dan morbiditas signifikan.

Meningitis adalah inflamasi pada meningen atau membran (selaput) yang

mengelilingi otak dan medula spinalis (Arif muttaqin, 2008).

Jadi meningitis adalah peradangan pada meningen atau membran

(selaput) yang menngelilingi ruang subaraknoid dan leptomeningen yang

disebabkan oleh bebrbagai organisme patogen.

2. Klasifikasi

Menurut Arif mutaqin (2008) meningitis diklasifikasikan sesuai dengan

faktor penyebabnya yaitu:

a. Meningitis aseptik

Meningitis aseptik mengacu pada salah satu meningitis virus atau

menyebabkan iritasi meningen yang disebabkan oleh abses otak, ensefalitis,

limfoma, leukimia atau darah di ruang subarakhnoid. Tipe ini biasanya

disebabkan oleh berbagai jenis penyakit yang disebabkan virus seperti gondok,

herpes simpleks dan herpes zooster. Eksudat yang biasanya terjadi pada

meningitis. Bakteri tidak terjadi pada meningitis virus dan tidak ditemukan

organisme pada kultur cairan otak. Peradangan terjadi pada seluruh korteks

4
5

serebri dan lapisan otak. Mekanisme atau respons dari jaringan otak terhadap

virus bervariasi bergantung jenis sel yang terlibat.

b. Meningitis bakteri

Meningitis bakteri adalah suatu keadaan ketika meningen atau selaput

dari otak mengalami peradangan akibat bakteri. Sampai saat ini, bentuk paling

signifikan dari meningitis adalah tipe bakterial. Bentuk penularannya melalui

kontak langsung, yang mencakup droplet dan sekret dari hidung dan

tenggorok yang membawa kuman (paling sering) atau infeksi dari orang lain.

c. Meningitis tuberkulosa

Jenis meingitis ini terjadi secara lebih perlahan-lahan dibandingkan

meningitis lainnya. Walaupun anak ditemukan pertama kali dengan gejala dan

tanda meningitis, anak sebelumnya telah terinfeksi dengan mikotuberkulosis

di suatu tempat dari tubuhnya.

3. Etiologi

Menurut Arifin mutaqin (2008) penyebab-penyebab dari meningitis

meliputi:

a. Bakteri piogenik yang disebabkan oleh bakteri pembentuk pus (nanah),

terutama pada meningokokus, pneumokokus dan basil influinzae. Meningitis

dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, mikoplasma, jamur, dan

parasit.Organisme penyebab yang paling sering bervariasi bergantung pada

usia seperti pada tabel berikut ini (Terry kyle & Susan carman, 2015).
6

Tabel 1.1 Penyeab umum meningitis bakteri diberbagai kelompok usia

Organisme Penyebab Usia yang terkena

Escherichia coli Neonatus dan bayi

Streptococcus grup B Bayi berusia kurang dari 1 bulan

1 bulan hingga 6 tahun, biasanya usia 6-9


Haemophilus influinzae tipe B
bulan

Streptococcus Pneumoniae Anak usia lebih dari 3 bulan dan individu


dewasa

Neisseria Meningitidis Anak berusia lebih dari 3 bulan dan


individu dewasa

Sumber: (Kyle & Carman, 2015 )

b. Virus yang disebabkan oleh agen-agen virus yang sangat bervariasi

c. Organisme jamur

Meningitis hampir selalu merupakan komplikasi bakterimia, khususnya

pada keadaan seperti peneumonia, osteomielitis, endokarditis. infeksi lain yang

berkaitan dengan meningitis meliputi sinusitis, otitis media, ensefalitis, mielitis.

Meningitis juga dapat terjadi sesudah seseorang mengalami trauma atau menjalani

prosedur invasif yang meliputi fraktur tengkorak atau kranium, luka tembus pada

kepala, pungsi lumbal dan pemasangan shunetventrikulus (pemasangan selang

untuk mengalirkan cairan dalam otak menuju rongga perut).


7

4. Anatomi fisiologi

Secara anatomi meningen menyelimuti otak dan medula spinalis. Selaput

otak terdiri atas tiga lapisan dari luar kedalam yaitu durameter (lapisan luar),

arakhnoid (lapisan tengah) dan piameter (lapisan dalam) (Arif muttaqin, 2008).

a) Durameter (lapisan luar)

Merupakan tempat yang tidak kenyal yang membungkus otak, sum-

sum tulang belakang, cairan serebrospinal dan pembuluh darah. Durameter

terbagi atas bagian luar yang disebut selapu tulang tengkorak (periosteum) dan

durameter bagian dalam (meningeal) meliputi permukaan tengkorak untuk

membentuk falks serebrum, tentorium serebri. Falks serebrum adalah lapisan

vertikel durameter yang memisahkan kedua hemisfer serebri pada garis

tengah. Tentorium serebri adalah ruang horizontal dari durameter yang

memisahkan lobus oksipitalis dari serebellum.

b) Arakhnoid (lapisan dalam)

Disebut juga selaput otak merupakan selaput halus yang memisahkan

durameter dengan piameter membentuk sebuah kantung atau balon cairan otak

yang meliputi seluruh susunan saraf pusat. Ruangan diantara durameter dan

arakhnoid disebut juga ruangan subdural yang berisi sedikit cairan jernih

menyerupai getah bening. Pada ruangan ini terdapat pembuluh darah arteri dan

vena yang menghubungkan sistem otak dengan meningen serta dipenuhi oleh

cairan serebrospinal.

c) Piameter (lapisan dalam)

Lapisan piameter merupakan selaput halus yang kaya akan pembuluh

darah kecil yang mensuplai darah ke otak dan mengikuti gyrus dari otak.

Ruangan dianata arakhnoid dan piameter disebut sub arakhnoid. Pada reaksi
8

radang ruangan ini berisi sel radang. Disini mengalir cairan serebrospinalis

dari otak ke sumsum tulang belakang.

5. Manifestasi klinis

Pada anak manifestasi klinis timbulnya sakit secara tiba-tiba, adanya

demam, sakit kepala, panas dingin, vomitus (muntah), dan kejang. Anak menjadi

rewel dan agitasi (keresahan atau kegelisahan), serta dapat berkembang fotofobia

(rasa takut yang abnormal terhadap cahaya), delirium (penurunan kesadaran),

halusinasi (terjadinya persepsi dalam kondisi sadar tanpa adanya rangsangan nyata

terhadap indra), tingkah laku yang agresif atau mengantuk, stupor (keadaan seperti

tidur lelap tetapi ada respon terhadap nyeri) dan koma. Gejala atau gangguan pada

sistem pernapasan atau gastrointestinal seperti sesak napas, muntah dan diare.

Tanda yang khas adalah adanya tahanan pada kepala jika difleksikan, kaku kuduk,

tanda kernig (tanda kering) dan brudzinski (+). Akibat perfusi yang tidak optimal

biasanya memberikan tanda klinis kulit dingin dan sianosis (kebiruan). Gejala

lainnya yang lebih spesifik seperti petekie (adanya purpura pada kulit) sering

didapatkan apabila anak mengalami infeksi meningokokus (bakteri kokus gram

negatif yang hidup didalam manusia) (Arif muttaqin, 2008).

Pada bayi manifestasi klinisnya biasanya tampak pada usia 3 bulan sampai

2 tahun dan sering ditemukan adanya demam, nafsu makan menurun, muntah,

rewel, mudah lelah dan kejang-kejang. Tanda khas di kepala adalah fontanel

menonjol. Sedangkan pada neonatus biasanya masih sulit untuk diketahui karena

manifestasi klinisnya tidak jelas dan tidak spesifik, namun beberapa keadaan

gejalanya mempunyai kemiripan dengan anak yang lebih tua, neonatus biasanya

menolak untuk makan, Tonus otot lemah, pergerakan melemah dan kekuatan

menangis melemah. Pada kasus lanjut terjadi hipotermia (demam), ikterus


9

(perubahan warna kulit/ sclera mata), rewel, mengantuk, kejang-kejang, frekuensi

napas yang tidak teratur, sianosis atau penurunan berat badan, tanda fontanle

menonjol mungkin ada atau tidak. Leher fleksibel dan tidak didapatkan adanya

kaku kuduk (Arif muttaqin, 2008).

6. Patofisiologi

Pathway

faktor-faktor predisposisi mencakup: infeksi jalan napas bagian atas, otitismedia, mastoiditis, anemia sel sabit dan
hemoglobinopatis lain, prosedur bedah saraf baru, trauma kepala dan pengaruh immunologis

infeksi kuman ke jaringan serebral via saluran vena nasofaring posterior, telinga bagian tengah dan saluran
mastoid

reaksi peradangan jaringan serebral

gangguan metabolisme
eksudat meningen hipoperfusi
serebral

trombus daerah korteks dan aliran


darah serebral

kerusakan adrenal, kolaps sirkulasi, kerusakan endotel & nekrosis pembuluh darah

infeksi/septikemia jaringan otak

iritasi meningen

sakit kepala & perubahan fisiologis intrakranial


demam

hipertermi dan
edema serebral &
nyeri akut peningkatan permeabilitas darah otak
peningkatan TIK
10

perubahan bradikardia
penekanan area adhesi perubahan tingkat perubahan
kesadaran. sistem
fokal kortikal gastrointest
kelumpuhan saraf perubahan perilaku pernapasan
inal
disorientasi, perubahan
kaku kuduk, tanda koma fotopobia pe perfusi
penurunan jaringan otak
kering (+), tanda sekresi ADH mual kemampuan & risiko
brudzinski kematian muntah, batuk, gangguan
intake peningatan perfusi
nutrisi produksi perifer
takut & kecemasan
mukus
kejang keluaraga

resiko defisit cairan


ketidakefektifan pola
& resiko nutrisi
Risiko pernafasan & ketidak
kurang dari
cedera bersihan jalan nafas
kebutuhan tubuh

prosedur invasif lumbal kelemahan pe permeabilitas


fungsi fisik kapiler dan retensi
cairan

gangguan
ADL resiko berlebihnya
volume cairan

7. Cara penularan

Penularan kuman dapat terjadi secara kontak langsung dengan penderita

dan droplet infection yaitu terkena percikan ludah, dahak, ingus, cairan bersin dan

cairan tenggorok penderita. Saluran nafas merupakan port d’entree utama pada

penularan penyakit ini. Bakteri-bakteri ini disebarkan pada orang lain melalui

pertukaran udara dari pernafasan dan sekresi-sekresi tenggorokan yang masuk


11

secara hematogen (melalui aliran darah) ke dalam cairan serebrospinal dan

memperbanyak diri didalamnya sehingga menimbulkan peradangan pada selaput

otak dan otak.

8. Pencegahan

a. Penderita diisolasi

b. Pemberian vaksin pada anak bayi agar membentuk kekebalan tubuh. Vaksin

yang diberikan seperti Haemophilus influinzae type b (Hib). Pneumococcal

conjugate vaccine (PCV7), pneumococal polysaccaharide vaccine (PPV),

meningococcal conjugate vaccine (MCV4), dan MMR (Measles dan Rubella).

c. Meningitis TBC dapat dicegah dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh

dengan cara memenuhi kebutuhan gizi dan pemberian imunisasi BCG.

d. Pencegahan dapat dilakukan juga dengan cara mengurangi kontak langsung

dengan penderita dan mengurangi tingkat kepadatan dilingkungan perumahan

dan dilingkungan seperti barak, sekolah, tenda, dan kapal. Meningitis juga

dapat dicegah dengan cara meningkatkan personal hygiene seperti mencuci

tangan yang bersih sebelum makan dan setelah dari toilet.

e. Pemberian obat-obatan

9. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan medis lebih bersifat mengatasi etiologi dan perawat perlu

menyesuaikan dengan standar pengobatan sesuai tempat bekerja yang berguna

sebagai bahan kolaborasi dengan tim medis.

a. Obat anti inflamasi

1) Meningitis tuberkulosa

a) Isoniazid 10-20 mg/kg/24 jma oral, 2 kali seharai maksimal 500 gr

selama 1 ½ tahun
12

b) Rifamfisin 10-15 mg/kg/24 jam oral, 1 kali sehari selama satu tahun

c) Streptomisin sulfat 20-40 mg/kg/24 jam sampai 1 minggu, 1-2 kai

sehari, selama 3 bulan

2) Meningitis bakterial umur <2 bulan

a) Sefalosporin generasi ke-3

b) Ampisilin 150-200 mg (400 gr)/kg/24 jam IV, 4-6 kali sehari

3) Meningitis bakterial umur >2 bulan

a) Ampislin 150-200 mg (400 mg)/kg/24 jam IV 4-6 kali sehari

b) Sefalossforin generasi ke-3

b. Pengobatan simptomatis

1) Diazepam IV 0.2-0.5 mg/kg/dosis, atau rectal 0.4-0.6/mg/kg/dosis

kemudian dilanjutka dengan fenitoin 5 mg/kg/24 jam, 3 kali sehari

2) Turunkan demam dengan antipiretik parasetamol atau salisilat 10

mg/kg/dosis sambil dikompres air

c. Pengobatan suportif

1) Cairan intravena

2) Pemberian O2 agar konsentrasi O2 , berkisar antara 30-50% (NANDA NIC-


NOC, 2015).
meningitis bakteri akut merupakan keadaan kedaruratan medis yang

memerlukan diagnosis dini dan tindakan terapi yang segera untuk mencegah

kematian serta disabilitas sampingan. Penatalaksanaan terapeutik pertama antara

lain:

a. Tindakan kewaspadaan terhadap isolasi

b. Dimulainya terapi antimikroba

c. Pemeliharaan hidrasi yang optimal

d. Pemeliharaan ventilasi
13

e. Mengurangi peningkatan tekanan intrakranial (TIK)

f. Penatalaksanaan syok bakteri

g. Pengendalian serangan kejang

Ppengendalian suhu tubuh yang terlalu panas/dingin

h. Perbaikan anemia

i. Penanganan komplikasi (Wong, 2009).

Anak yang menderita meningitis bakteri diisolasi dari anak-anak lain,

biasanya dalam unit perawatan intensif untuk pengamatan yang ketat. Pemasangan

infus IV dilakukan untuk memudahkan penyuntikan preparat antimikroba,

pemberian cairan, obat antiepilepsi dan transfusi darah jika diperlukan. Alat

pemantau jantung dipasang pada tubuh anak (Wong, 2009).

10. Komplikasi

Komplikasi meningitis pada anak dapat meliputi:

a. Retardasi mental

Retardasi mental (RM) atau keterbelakangan mental adalah keadaan dengan

tingkat kecerdasan yang dibawah rata-rata atau kurangnya kemampuan mental

dan keterampilan yang diperlukan dalam menjalankan kehidupannya sehari-

hari.

b. Epilepsi

Merupakan kondisi yang ditandai dengan kejang yang secara berulang dipicu

oleh masalah didalam otak. Epilepsi merupakan gangguan neurologis umum

yang ditemukan pada masa kanak-kanak (Terry kyle & Susan carman, 2015)

c. Gangguan pendengaran yang unilateral atau bilateral


14

Unilateral adalah gangguan pendengaran pada salah satu telinga saja.

sedangkan bilateral adalah gangguan pendengaran yang terjadi pada kedua

telinga yang dapat terjadi pada anak dengan meningitis.

d. Efusi subdural

Adalah kumpulan cairan yang terjebak antara permukaan otak dan lapisan luar

otak (hal dura). Jika caiirran ini menjadi terinfeksi, kondisi ini disebut

empiema subdural.

e. Hidrosefalus

Adalah suatu kondisi dimana kelebihan cairan serebrospinal (CSS)

membangun dalam ventrikel. Cairan ini akan terus bertambah sehingga

ventrikel di dalam otak membesar dan menekan struktur dan jaringan otak

sekitarnya.

B. Asuhan keperawatan

1. Pengkajian

a. Biodata

1) Identitas klien: nama, tempat tanggal lahir/ usia, jenis kelamin, agama,

pendidikan, alamat, tanggal masuk, tanggal pengkajian, diagnosa medis.

2) Identitas orang tua: ayah/ ibu (nama, usia, pendidikan, pekerjaan, agama,

alamat)

3) Identitas saudara kandung: nama, usia, hubungan dengan klien, status

kesehatan

b. Riwayat kesehatan

1) Riwayat kesehatan sekarang


15

Keluhan utama: Hal yang sering menjadi alasan klien atau orang tua

membawa anaknya untuk meminta pertolongan kesehatan adalah suhu

badan tinggi, kejang, dan penurunan tingkat kesadaran.

2) Riwayat kesehatan saat ini

Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui untuk

mengetahui jenis kuman penyebab. Disini harus ditanya dengan jelas

tentang gejala yang timbul seperti kapan mulai terjadinya serangan,

sembuh atau bertambah buruk. Pada pengkajian klien dengan meningitis

biasanya didapatkan keluhan yang berhubungan dengan akibat infeksi dan

peningkatan tekanan intrakranial. Keluhan tersebut diantaranya sakit

kepala dan demam adalah gejala awal yang sering.

3) Riwayat penyakit masa lalu

Pengkajian penyakit yang pernah dialami klien yang

memungkinkan adanya hubungan atau menjadi predisposisi keluhan

sekarang meliputi pernahkah klien mengalami infeksi jalan nafas bagian

atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit, dan hemoglobinopatis lain,

tindakan bedah saraf, riwayat trauma kepala dan adanya pengaruh

immunologis pada masa sebelumnya. Riwayat sakit TB paru perlu

ditanyakan kepada klien terutama jika ada keluhan batuk produktif dan

pernah menjalani pengobatan obat anti tuberkulosis yang sangat berguna

untuk mengidentifikasi meningitis tuberkulosa. Pengkajian pemakaian

obat-obat yang sering digunakan klien, seperti pemakaian obat

kortikosteroid, pemakaian jenis-jenis antibiotik dan reaksinya (untuk

menilai resistensi pemakaian antibiotik) dapat menambah

komprehensifnya pengkajian.
16

4) Riwayat keluarga

Adakah penyakit genetik, penyakit menular, bentuk keluarga.

c. Riwayat psikososiospiritual

Pengkajian psikologis klien meningitis meliputi beberapa dimensi yang

memungkinkan perawat untuk memperoleh persepsi yang jelas mengenai

status emosi, kognitif dan perilaku klien. Pada pengkajian anak perlu

diperhatikan dampak hospitalisasi pada anak dan family center (pusat

keluarga). Anak dengan meningitis sangat rentan terhadap tindakan invasif

yang sering dilakukan untuk mengurangi keluhan, hal ini memberi dampak

stress pada anak dan menyebabkan anak kurang kooperatif terhadap tindakan

keperawatan dan medis. Pengkajian psikososial yang terbaik dilaksanakan saat

observasi anak-anak bermain atau selama berinteraksi dengan orang tua.

Anak-anak sering kali tidak mampu untuk mengekspresikan perasaan mereka

dan cenderung untuk memperlihatkan masalah mereka melalui tingkah laku.

d. Pemeriksaan fisik

1) Tanda-tanda vital (TTV)

Pada klien meningitis biasanya didapatkan penngkatan suhu tubuh

lebih dari normal yaitu 38-410C, dimulai pada fase sistemik, kemerahan,

panas, kulit kering, berkeringat. Keadaan ini biasanya dihubungkan

dengan proses inflamasi dan iritasi meningen yang sudah mengganggu

pusat pengatur suhu tubuh. Penurunan denyut ndi berhubungan dengan

tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial (TIK). Tekanan darah

biasanya normal atau meningkat.

2) Toraks dan pernapasan


17

Inspeksi apakah klien batuk, produksi sputum, sesak napas,

penggunaan otot bantu napas dan peningkatan frekuensi napas yang sering

didapatkan pada klien meningitis yang disertai adanya gangguan pada

sistem pernapasan. Palpasi toraks hanya dilakukan jika terdapat deformitas

pada tulang dada klien. Auskultasi bunyi napas tambahan seperti ronkhi

pada klien.

3) Kardiovaskular

Pengkajian pada sistem kardiovaskular terutama dilakukan pada klien

meningitis pada tahap lanjut seperti apabila klien sudah mengalami

renjatan (syok).

4) Neurologi

a) Pengkajian tingkat kesadaran

Pada keadaan lanjut tingkat kesadaran klien meningitis biasanya

berkisar pada tingkat letargi, stupor dan semikomatosa. Jika klien

sudah mengalami koma maka penilaian GCS sangat penting untuk

menilai kesadaran klien dan bahan evaluasi untuk pemantauan

pemberian asuhan.

b) Pengkajian fungsi serebral

Status mental: observasi penampilan, tingkah laku, nilai gaya bicara,

ekspresi wajah, dan aktivitas motorik klien.

c) Pengkajian saraf kranial

pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan saraf I-XII.

d) Sistem motorik

Tonus otot lemah, pergerakan melemah, dan tangisan dengan nada

tinggi.
18

e) Refleks

Refleks patologis akan didapatkan pada klien meningitis dengan

tingkat kesadaran koma. Adanya refleks babinski (+) merupakan tanda

lesi upper motor neuron (UMN).

Pemeriksaan fisik lainnya terutama yang berhubungan dengan

peningkatan tekanan intrakranial (TIK). Iritasi meningen mengakibatkan

sejumlah tanda yang mudah dikenali yang umumnya terlihat pada semua

tipe meningitis. Tanda tersebut adalah kaku kuduk, tanda kering (kernig)

positif, tanda brudzinski (+).

5) Gastrointestinal

mual sampai muntah disebabkan peningkatan produksi asam lambung.

Pemenuhan nutrisi klien meningitis menurun karena anoreksia dan adanya

kejang.

6) Integumen

Pada sitem integumen didapatkan adanya petekie, ubun-ubun menonjol,

ekstremitas dingin, ruam, sianosis (kebiruan) dan demam.

e. Pemeriksaan penunjang

1) Laboratorium

Pada klien meningitis meliputi pemeriksaan laboratorium klinik

rutin yaitu (Hemoglobin, leukosit, LED, trombosit, retikulosit, glukosa).

Pemeriksaan laboratorium yang khas pada meningitis adalah analisis

cairan otak. Pungsi lumbal tidak bisa dikerjakan pada kien dengan tekanan

intrakranial. Analisis cairan otak diperiksa untuk mengetahui jumlah sel,

protein dan konsentrasi glukosa. Kadar glukosa darah dibandingkan

dengan kadar glukosa cairan otak. Normalnya, kadar glukosa cairan otak
19

adalah 2/3 dari nilai serum glukosa dan pada kien meningitis kadar

glukosa cairan otaknya menurun dari nilai normal (Arif muttaqin, 2008).

Untuk lebih spesifik mengetahui jenis mikroba, maka organisme

penyebab dapat diidentifikasi melalui kultur kuman pada cairan

serebrospinal dan darah. Counter immuno electrophoresis (CIE) digunakan

luasa untuk mendeteksi antigen pada cairan tubuh, umumnya cairan

serebrospinal dan urine (Arif muttaqin 2008).

2) Pemeriksaan diagnostik

Pemeriksaan diagnostik meliputi foto rontgen paru, CT scan kepala. Ct

scan dilakukan untuk menentukan adanya edema serebri atau penyakit

saraf lainnya (Arif muttaqin, 2008).

2. Diagnosa keperawatan

a. Gangguan perfusi jaringan serebrum yang berhubungan dengan peningkatan

tekanan intrakranial (TIK)

b. Resiko cidera sekunder berhubungan dengan kejang

c. Hipertermia yang berhubungan dengan infeksi

d. Defisit pengetahuan berhubungan dengan perawatan di rumah

e. Penurunan tingkat kesadaran berhubungan dengan infalamsi meninges

sekunder akibat invasi oleh agen bakteri

f. Nyeri akut berhubungan dengan proses infeksi

g. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan ketidakmampuan menelan, keadaan hipermetabolik

h. Cemas berhubungan dengan ancaman, kondisi sakit, dan perubahan kesehatan


20

3. Intervensi keperawatan

a. Gangguan perfusi jaringan serebrum yang berhubungan dengan peningkatan

TIK

Hasil yang diharapkan: anak tidak menunjukkan tanda peningkatan tekanan

intrakranial (TIK)

Intervensi Rasional

1) Observasi status neurologis 1) Observasi neurologis yang sering

anak setiap 2-4 jam, catat tanda digunakan sebagai dasar

letargi, penonjolan ubun-ubun mengidentifikasi tanda-tanda dini

(pada bayi), perubahan pupil peningkatan TIK

atau kejang-kejang

2) Pantau asupan dan haluaran 2) Peningkatan volume cairan akan

cairan setiap pergantian dinas meningkatkan TIK

3) Pantau tanda-tanda vital setiap 3) Perubahan tanda-tanda vital yang

2-4 jam disertai dengan peningkatan TIK

4) Catat kualitas dan nada tangisan 4) Tangisan bernada tinggi

anak menunjukkan peningkatan TIK

5) Hindari posisi tungkai ditekuk 5) Untuk mencegah peningkatan

atau anjurkan klien jangan tekanan intrakranial

banyak bergerak dan tirahh

baring

6) Tinggikan sedikit kepala klien 6) Untuk mengurangi tekanan

dengan hati-hati cegah gerakan intrakranial

yang tiba-tiba dan hindari fleksi

leher
21

7) Kolaborasi pemberian steroid 7) Untuk menurunkan tekanan

osmotik intrakranial

b. Resiko cidera sekunder berhubungan dengan kejang

Hasil yang diharapkan: anak tidak akan mengalami cedera akibat kejang

Intervensi Rasional

1) Lakukan kewaspadaan kejang, 1) Kewaspadaan ini mencegah anak

seperti menggunakan napas jatuh, cedera kepala, anoksia,

buatan dan peralatan pengisapan tersedak dan mati serta mengurangi

lendir dan pasang penghalang risiko komplikasi lebih jauh

tempat tidur

2) Beri pengobatan antikonvulsan 2) Pengobatan antikonvulsan dapat

sesuai program mengendalikan kejang

3) Selama kejang, lakukan tindakan 3) Tindakan ini membantu melindungi


anak dan membantu tindak lanjut
berikut:
medis
a) Bantu anak berbaring miring
a) Langkah ini mencegah cedera
di tempat tidur atau lantai,
akibat jatuh dan sentaka selama
singkirkan barang-barang
kejang
yang ada ditempat tidur

b) Jangan mengikat anak, tetapi


b) Peningkatan atau memindahkan
tetap menemani
anak dengan paksa dapat
disampingnya
menyebabkan cedera
22

c) Jangan meletakkan sesuatu di c) mencoba memasukkan benda ke

mulut anak dalam mulut anak dapat merusak

gigi dan gusinya

d) Observasi status pernapasan d) Anak memerlukan resusitasi

anak pernapasan, jika mengalami apnea

selama atau setelah kejang

e) Catat berbagai gerakan tubuh e) Jenis gerakan dan lamanya kejang

anak dan lamanya kejang membantu memastikan jenis

kejang apakah yang dialami anak

c. Hipertermia yang berhubungan dengan infeksi

Hasil yang diharapkan: Suhu badan anak akan tetap kurang dari 37,80C

Intervensi Rasional

1) Pantau suhu tubuh anak setiap 2-4 1) Pemantauan dapat mendeteksi

jam kenaikan suhu

2) Beri obat antipiretik sesuai 2) Antipiretik mengurangi demam

program dengan cara mengurangi set

point ke nilai normal

3) Beri obat antimikroba sesuai 3) Antimikroba mengobati infeksi

program yang menjadi penyebab

penyakit

4) Pertahankan lingkungan yang 4) Lingkungan yang sejuk

sejuk mengurangi demam melalui

kehilangan panas secara radiasi


23

5) Beri kompres dengan suhu 370C, 5) Kompres hangat mendinginkan

sesuai program permukaan tubuh melalui

proses konduksi

d. Defisit pengetahuan berhubungan dengan perawatan di rumah

Hasil yang diharapkan: Orang tua akan mengekspresikan pemahamannya

tentang instruksi perawatan di rumah

Intervensi Rasional

1) Ajarkan orang tua bagaimana dan 1) Pemahaman pentingnya yang

kapan memberi obat, termasuk konsisiten dapat meningkatkan

uraian tetang dosis dan efek kepatuhan. Mengetahui efek

samping samping potensi dapat

mengarahkan orang tua untuk

meminta bantuan medis bila

diperlukan

2) Ajarkan orang tua pentingnya 2) Setelah infeksi, istirahat yang

memberi istirahat yang adekuat sering akan meningkatkan

pada anak pemulihan

Sumber: Speer, 2008

e. Penurunan tingkat kesadaran berhubungan dengan infalamsi meninges

sekunder akibat invasi oleh agen bakteri

Hasil yang diharapkan: anak akan memiliki tingkat kesadaran yang tepat dan

bebas dari peningkatan tekanan intrakranial yang ditandai dengan:

1) Menangis dengan nada yang normal

2) Respons terhadap nyeri sesuai usia dapat berkurang


24

3) Gerakan semua ekstremitas kuat dan sama

4) Suhu tubuh dalam rentang batas normal

5) Frekuensi jantung dalam rentang batas normal.

Intervensi Rasional

1) Obsevasi dan catat hal berikut ini 1) Memberikan data tentang

setiap 2-4 jam dan PRN: status neurologis anak,

a) Tanda-tanda vital neurologis tingkat kesadaran,

(misalnya; perubahan tingkat frekuensi pernapasan,

kesadaran, orientasi terhadap frekuensi jantung, dan

waktu dan tempat, perubahan suhu tubuh. jika suhu

pupil, gerakan ekstremitas sama, tubuh meningkat, frekuensi

skala koma glasgow (jika tersedia) pernapasan dan frekuensi

b) Frekuensi pernapasan, frekuensi jantung dan suhu

jantung dan suhu tubuh meningkat

c) Tanda dan gejala penrunan tingkat

kesadaran dan peningkatan tekanan

intrakranial

2) Ukur lingkar kepala setiap hari (ukur 2) Peningkatan FOC dapat

lingkar kepala oksipital frontal [frontal mengindikasikan

occipital circumeference, FOC]) peningkatan intrakranial

sekunder akibat invasi

akibat bakteri pada

meninges yang

menyebabkan inflamasi
25

3) Tinggikan kepala tempat tidur dengan 3) Membantu menurunkan

sudut 300 tekanan intrakranial

dengan menggunakan

gravitasi

4) Atur asuhan keperawatan untuk 4) Meningkatkan

meminimalkan gangguan dan stimulasi kenyamanan dan

pada anak membantu menurunkan

tekanan intrakranial

5) Pertahankan lingkungan anak setenang 5) Membantu menurunkan

mungkin tekanan intrakranial

6) Pertahankan suhu tubuh anak antara 6) Peningkatan suhu tubuh

36,50C-37,20C meniingkatkan kebutuhan

metabolik dan hal ini

selanjutnya meningkatkan

tekananan intrakranial

7) Buat catatan asupan dan haluaran yang 7) Overhidrasi dapat

akurat. batasi asupan cairan jika menyebabkan peningkatan

diindikasikan (biasanya dua pertiga tekanan intrakraniial

dari rumatan)

8) Berikan antibiotik sesuai jadwal. Kaji 8) Antibiotik diberikn untuk

dan catat setiap efek samping mengatasi infeksi bakteri

(misalnya; ruam dan diare)

9) Jika diindikasikan, berikan antipiretik 9) Antipiretik diberikan untuk

sesuai jadwal. Kaji dan catat menurunkan demam

keefektifannya
26

10) Jika diindikasikan berikan 10) Digunakan untuuk

kostikosteroid sesuai jadwal. Kaji dan mengurangi inflamasi otak

catat setiap efek samping (misalkan; dan mneinges

leukositis)

11) Ajarkan anak atau keluarga tentang 11) Peningkatan pengetahuan

karakteristik penurunan tingkat akan membantu anak atau

kesadaran. Kaji dan catat hasilnya keluarga dalam mengenali

dan melaporkan perubahan

kondisi anak

12) Ajarkan anak/keluarga tentang 12) Penyuluhan anak atau

perawatan. Kaji dan catat pengetahuan keluarga akan

dan partisipasi anak/keluarga dalam memungkinkan perawatan

perawatan terkait pengendalian yang akurat

demam, pemberian obat, dan lain-lain.

f. Nyeri akut berhubungan dengan proses infeksi

Hasil yang diharapkan: anak akan mengalami penurunan nyeri atau bebas dari

nyeri hebat dan/atau konstan yang ditandai dengan:

1) Komunikasi verbal mengenai kenyamanan

2) Tidak ada menangis terus-menerus, wajah menyeringai, dan gelisah

3) Frekuensi jantung dalam rentang yang dapat diterima (sebutkan rentang

spesifik)

4) Frekuensi pernapasa dalam rentang batas norrmal

5) Tekanan darah dalam rentang batas normal


27

6) Penilaian penurunan byeri atau tidak ada nyeri dengan instrumen

pengkajian nyeri

7) Tidak ada tanda/gejala nyeri

Intervensi Rasional

1) Observasi dan catat frekuensi 1) Untuk memberikan data

jantung, frekuensi pernapasan, mengenai tingkat nyeri

tekanan darah dan setiap dialami oleh anak

tanda/gejala nyeri (seperti yang

terdapat dalam pengkajian) setiap

2-4 jam dan PRN. Gunakan

instrumen pengkajian nyeri sesuai

usia

2) Observasi skala nyeri 0-10 2) Untuk mengetahui skala

nyeri klien

3) Berikan analgesik (dititrasi secara 2) Analgesik diberikan untuk

cermat untuk mengurangi nyeri dan mengurangi nyeri

tetap memunginkan pengkajian

neurologis yang adekuat) sesuai

jadwal. Kaji dan catat

keefektifannya dan setiap efek

samping (seperti; konstipasi dan

mual)
28

3) Pegang anak dengan hati-hati 3) Membantu meningkatkan

kenyamanan

4) Dorong anggota keluarga untuk 4) Membantu menenangkan da

menemani dan menenangkan anak mendukung anak

jika mungkin

5) Izinkan anggota keluarga untuk 5) Hal ini dapat meningkatkan

berpartisipasi dalam perawatan tingkat kenyamanan anak

anak jika mungkin sehingga membantu anak

dalam mengatasi nyeri

6) Gunakan aktivitas pengalihan 6) Aktivitas pengalihan dapat

(seperti; musik, televisi, beramin mengalihkan perhatian anak

games, relaksaksi) jika tepat dan dapat membantu

mengurangi nyeri

7) Jika sesuai usia, jelaskan semua 7) Memungkinkan anak untuk

prosedur sebelum melakukannya memiliki kontrol dapat

membantunya pada

penatalaksanaan nyeri

8) Jika sesuai usia, izinkan anak untuk 8) Memungkinkan anak untuk

berpartisipasi dalam merencanakan memiliki kontrol dapat

perawatannya. Dorong anak untuk membantunya pada

melakukan perawatan diri (seperti; pentalaksanaan nyeri

mandi dan berpakaian)

9) Jika diindikasikan, lakukan 9) Tindakan non-farmakologi

tindakan tambahan untuk ini dapat membantu

mengatasi nyeri, dan imajinasi mengurangi nyeri


29

terbimbing. kaji dan catat

keefektifannya

g. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan ketidakmampuan menelan, keadaan hipermetabolik

Tujuan: kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi

Kriteria hasil: turgor kulit baik, asupan dapat masuk sesuai kebutuhan,

terdapat kemampuan untuk menelan, berat badan mneingkat, Hemoglobin dan

albumin dalam batas normal

Intervensi Rasional

1) Observasi tekstur dan turgor 1) Untuk mengetahui sttatus nutrisi

kulit klien

2) Lakukan oral hygiene 2) Kebersihan mulut dapat

merangsang nafsu makan

3) Observasi asupan dan haluaran 3) Untuk mngrtahui keseimbangan

nutrisi klien

4) Tentukan kemampuan klien 4) Untuk menetapkan jenis

dalam mengunyah, menelan, dan makanan yang akan diberikan

refleks batuk pada klien

5) Observasi kemampuan klien 5) Dengan mengkaji faktor-faktor

dalam menelan, batuk dan tersebut dapat menentukan

adanya sekret kemampuan menelan klien dan

mencegah risiko aspirasi


30

6) Auskultasi bising usus , amati 6) Bising usus menentukan respons

penurunan atau hiperaktivitas pemberian makan atau terjadinya

bising usus komplikasi misalkan ileus

7) Timbang berat badan sesuai 7) Untuk mengevaluasi efektivitas

indikasi dari asupan makanan

8) Berikan makanan dengan cara 8) Menurunkan risiko regurgitasi

meninggikan kepala atau aspirasi

9) Aturlah untuk memberikan 9) Makanan lunak/cair mudah untuk

makan per oral setengah cair dan dikendalikan di dalam mulut dan

makanan lunak ketika klien menurunkan terjadinya aspirasi

dapat menelan air

10) Berikan makan dengan perlahan 10) Klien dapat berkonsentrasi pada

pada lingkungan yang tenang mekanisme makan tanpa adanya

distraksi dari luar

11) Kolaborasi dengan tim medis 11) Memungkinkan diperlukan untuk

untuk memberikan cairan memberikan cairan pengganti

melalui IV atau makanan dan juga makanan jika klien tidak

melalui selang mampu untuk memasukan segala

sesuatu melalui mulut

h. Cemas berhubungan dengan ancaman, kondisi sakit, dan perubahan kesehatan

Tujuan: dalam waktu 1x24 jam diharapkan kecemasan hilang atau berkurang

Kriteria hasil: mengenal perasaanya, dapat mengidentififkasi penyebab atau

faktor yang mempengaruhinya dan menyatakan cemas berkurang

Intervensi Rasional
31

1) Bantu klien mengekspresikan 1) Cemas berkelanjutan

perasaan marah, kehilangan dan memberikan dampak serangan

takut jantung selanjutnya

2) Observasi tanda verbal dan 2) Reaksi verbal atau nonverbal

nonverbal kecemasan, dampingi dapat menunjukkan rasa agitasi,

klien dan lakukan tindakan bila marah dan gelisah

menunjukkan perilaku merusak

3) Mulai melakukan tindakan untuk 3) Mengurangi rangsangan

mengurangi kecemasan. beri eksternal yang tidak perlu

lingkungan yang tenang dan

suasana penuh istirahat

4) Tingkatkan kontrol senasasi 4) Untuk menurunkan ketakutan

klien dengan cara memberikan

informasi tentang keadaan klien

menekan pada penghargan

terhadap sumber-sumber koping

(pertahanan diri) yang positif,

membantu klien latihan

relaksaksi dan teknik-teknik

pengalihan

5) Orientasikan klien terhadap 5) Orientasi dapat menurunkan

prosedur rutin dan aktivitas yang kecemasan klien

diharapkan
32

6) Beri kesempatan kepada klien 6) Dapat menghilangkan

untuk mengungkapkan ketegangan, kekhawatiran yang

kecemasannya tidak di ekspresikan

7) Berikan privasi untuk klien dan 7) Memberi waktu untuk

orang terdekat mengekspresikan perasaan,

menghilangkan cemas dam

membentuk prilaku adaptasi.

adanya keluarga dan teman-

teman yang dipilih klien

melayani aktivitas dan

pengalihan (misalnya membaca)

akan menurunkan perasaan

terisolasi