Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KEGIATAN PPDH

BAGIAN REPRODUKSI DAN KEBIDANAN

PRAKTIKUM BREEDING SOUNDNESS EVALUATION (BSE):


EVALUASI SEMEN SEGAR PADA DOMBA DAN SAPI

DISUSUN OLEH:

DHENOK MARIA ULVA, SKH B94174114


DIYAH SEPTIRIYANTI, SKH B94174115
FADEL RIZKI FUDHOLA, SKH B94174116
IKBAL, SKH B94174120

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Breeding Soundness Evaluation/ Examination (BSE) adalah penilaian secara


keseluruhan potensi kemampuan pejantan untuk melayani dan mengawini sejumlah
betina dalam suatu waktu tertentu. Penilaian yang dilakukan meliputi; pemeriksaan
fisik hewan, body condition score (BCS), lingkar skrotum, dan evaluasi semen
secara mikroskopis. Domba jantan berkontribusi sebanyak 75% terhadap
perubahan genetik di dalam kawanan. Peternak harus ingat bahwa beberapa hal
dapat berubah; seekor pejantan bisa mendapatkan penyakit seperti; bluetongue,
pneumonia, atau cidera. Semua bentuk tekanan dapat menyebabkan perubahan
dalam kemampuan breeding dan kualitas semen (Parsons et al. 2017).
Peternak harus memilih pejantan yang memiliki kemampuan untuk melayani
sejumlah besar betina saat musim kawin dan menghasilkan keturunan dengan
potensi genetik untuk pertumbuhan yang cepat dan efisien. BSE digunakan untuk
mengidentifikasi pejantan fertil. BSE sebaiknya dilakukan paling tidak satu bulan
sebelum dimulainya musim kawin untuk memberikan kesempatan pada pejantan
agar pulih dari suatu penyakit yang teridentifikasi saat evaluasi (Pezzanite et al.
2017).
Teknik koleksi semen dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain
teknik koleksi semen post coitum recovery, menggunakan vagina buatan, masase,
elektroejakulator, dan epididymal recovery. Teknik koleksi semen pada domba dan
sapi yang tepat adalah menggunakan teknik vagina buatan yang memungkinkan
mendapatkan semen dengan kuantitas dan kualitas yang baik dan fisiologis
(Arifiantini 2012).
Evaluasi semen dilakukan secara makroskopik dan mikroskopik, evaluasi
semen secara makroskopik meliputi volume, derajat keasaman (pH), konsistensi
atau derajat kekentalan, warna, dan bau. Evaluasi semen secara mikroskopik
meliputi gerakan spermatozoa (gerakan massa dan gerakan individu/motilitas),
konsentrasi spermatozoa, rasio spermatozoa hidup dan mati, morfologi
spermatozoa (normalitas dan abnormalitas), serta keutuhan membran plasma
spermatozoa (Arifiantini 2012).

Tujuan

Tujuan dari pengamatan ini adalah mengetahui kualitas (fertilitas) pejantan


domba dan sapi melalui teknik Breeding Soundness Evaluation yang baik dan
benar.

METODE
Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan antara lain tali pengukur, vagina buatan, tabung
berskala (penampung semen), termos air panas, lap / handuk kecil, termometer,
timbangan, kertas saring, tabung erlenmeyer, pipet tetes, gelas ukur, batang
pengaduk, heating table, kamar hitung counting chamber, refrigerator, pinset,
tabung reaksi, kertas indikator derajat keasaman (pH), mikroskop, gelas objek, kaca
penutup, tissue, mikropipet, alumunium foil, KY Jelly, straw dan container nitrogen
cair.
Bahan-bahan yang digunakan diantaranya Tris (hidroxymetil
aminomethane), natrium sitrat, fruktosa, asam sitrat, aquadest, alkohol 70%, kuning
telur, NaCl fisiologis, pewarna eosin nigrosin 0.2%, gliserol, dan antibiotik
Penicilin.

Prosedur Kerja

Pemeriksaan Fisik Hewan


Pemeriksaan meliputi suhu tubuh, denyut jantung, respirasi, umur, dan
pemeriksaan kondisi tubuh lainnya.

Pemeriksaan Alat Reproduksi


Pemeriksaan meliputi kesimetrisan skrotum dan pengukuran lingkar
skrotum.

Penampungan Semen
1. Persiapan Vagina Buatan
Inner liner dipasang dalam selongsong karet tebal kemudian diikat kuat
dengan karet pengikat pada kedua ujungnya. Corong karet dipasang pada bagian
ujung vagina buatan yang paling dekat dengan klep air panas. Tabung
penampung dipasang pada pangkal corong karet, lalu diikat kuat. Air panas
disiapkan, lalu dicampur air dingin sampai suhu mencapai 40-41oC. Air hangat
tersebut dimasukkan ke dalam vagina buatan melalui klep air panas sampai
penuh, tutup klepnya, kemudian udara dipompakan ke dalam vagina buatan
melalui klep udara. Vagina buatan diberi pelicin (KY jelly), kemudian dengan
menggunakan termometer diukur suhu pada bagian dalam vagina buatan. Suhu
vagina buatan harus berada pada kisaran 41-44οC. Tabung penampung harus
dilindungi dengan lap/kain penutup agar tidak terkena cahaya matahari secara
langsung.
2. Penampungan Semen
Sapi dan domba betina disiapkan, kemudian sapi dan domba jantan yang
telah dibersihkan bagian preputiumnya didekatkan. Vagina buatan dipegang
dengan posisi 45oC. Pada saat pejantan menaiki betina, cegah penis untuk masuk
ke dalam alat kelamin betina dengan memegang preputiumnya dan biarkan
pejantan turun. Pada saat mounting berikutnya, pegang bagian preputiumnya dan
penis diarahkan ke dalam vagina buatan. Apabila ada gerakan ejakulasi, vagina
buatan dilepaskan bersamaan dengan turunnya pejantan. Semen yang diperoleh
dibawa ke laboratorium.
3. Pembuatan Bahan Pengencer
a. Persiapan Kuning Telur
Telur dibersihkan dengan menggunakan alkohol 70%, kemudian
dipecahkan menggunakan pinset. Bagian kuning dan putih telur dipisahkan
dengan kertas saring. Setelah itu kuning yang masih terbungkus membran
vitelin dipecahkan kemudian membran vitelin dibuang. Pastikan kuning
telur yang dimasukkan tanpa membran vitelin.
b. Pembuatan Bahan Pengencer Tris - Kuning Telur Untuk Semen Cair
dan Semen Beku
Pengencer tris – kuning telur terdiri atas lima bahan, yaitu tris, asam
sitrat, fruktosa, kuning telur dan aquades. Tris (hidroxymethyl aminomethan)
ditimbang sebanyak 1.514 gram, asam sitrat sebanyak 0.085 gram, fruktosa
sebanyak 0.55 gram, kuning telur 12.5 ml, dan aquades. Semua bahan yang
telah ditimbang dilarutkan dalam aquades sampai 50 ml, lalu dihomogenkan
dalam tabung erlenmeyer. Larutan yang terbentuk di bagi dua masing-masing
25 ml ke dalam tabung berskala. Untuk semen cair, bahan pengencer berisi
buffer dan kuning telur (4:1). Untuk semen beku bahan pengencer berisi
buffer, kuning telur (4:1) dan ditambahkan gliserol 5%.
c. Pembuatan Bahan Natrium Sitrat-Kuning Telur Untuk Semen Cair dan
Semen Beku
Pengencer Natrium sitrat – kuning telur terdiri atas empat bahan, yaitu
Na sitrat, kuning telur, fruktosa dan aquades. Na sitrat ditimbang sebanyak
1.16 gram, fruktosa sebanyak 0.55 gram, kuning telur sebanyak 12.5 ml, dan
aquades. Na sitrat, fruktosa dan kuning telur dilarutkan dalam aquades sampai
50 ml, lalu dihomogenkan dalam tabung erlenmeyer. Larutan yang terbentuk
di bagi dua masing-masing 25 ml ke dalam tabung berskala. Untuk semen
cair, bahan pengencer berisi buffer dan kuning telur (4:1). Untuk semen beku
bahan pengencer berisi buffer, kuning telur (4:1) dan ditambahkan gliserol
5%.

Evaluasi Semen Segar Sapi dan Domba


1. Pemeriksaan Secara Makroskopis
Evaluasi secara makroskopis dilakukan dengan melihat volume semen
yang telah ditampung di dalam tabung plastik berskala. Hasil semen yang telah
dikoleksi di dalam tabung tulip diambil menggunakan pipet dan dipindahkan ke
dalam tabung berskala dan dilihat volumenya. Selain itu pemeriksaan
makroskopis dilanjutkan dengan melihat warna semen, megukur keasaman
semen dengan menggunakan kertas indikator pH, mencium bau semen, serta
mengamati konsistensi semen dengan cara memiringkan dan menegakkan
tabung.
2. Pemeriksaan Secara Mikroskopis
a. Gerakan Massa
Gerakan Massa sperma dilihat dengan cara meneteskan satu tetes
semen dengan menggunakan pipet pasteur di atas objek gelas, lalu diperiksa
di bawah mikroskop dengan pembesaran 10x10. Hasil pengamatan gerakan
massa diinterpretasikan sebagai berikut:
+++ : gelombang tebal, cepat berpindah, aktif, dan motilitas sangat baik;
++ : gelombang sedang dan motilitas spermatozoa cukup aktif;
+ : gelombang jarang, motiltas sperma buruk, pergerakan lemah; dan
- : tidak ada gelombang.
b. Motilitas
Motilitas (gerakan spermatozoa secara individual) dilihat dengan cara
mencampurkan NaCl fisiologis dan semen dengan perbandingan 1 : 4 untuk
sapi dan 1 : 8 atau 1 : 10 untuk domba lalu dihomogenkan. Object glass yang
digunakan harus dihangatkan terlebih dahulu.Setelah itu, campuran tersebut
diambil satu tetes untuk kemudian diletakkan pada object glass yang lain dn
ditutup menggunakan cover glass. Pergerakan sperma dilihat dibawah
mikroskop dengan perbesaran 40x10.Motilitas sperma diukur secara
kualitatif dengan mengamati pergerakan sperma hidup yang progresif
kemudian dibandingkan dengan sperma yang tidak progresif (sirkuler, diam,
reverse dan vibrator).Penilaian yang diberikan dalam bentuk presentase.
c. Konsentrasi spermatozoa (Jarak Antar Kepala)
Semen segar diteteskan di atas object glass lalu ditutup menggunakan
cover glass dan diamati jarak antar kepala sperma di bawah mikroskop
dengan perbesaran 40x10. Hasil pengamatan jarak antar kepala sperma
diinterpretasikan sebagai berikut:
Densum : ≥ 1.000 juta sperma/ml , jarak antar kepala < 1 kepala
Semi Densum : 500-1.000 juta sperma/ml, jarak antar kepala 1-1.5 kepala
Rarum : 200-500 juta sperma/ml, jarak antar kepala >1.5 kepala-1
ekor.
Oligospermia : < 200 juta sperma/ml
Aspermia : tidak ada semen
d. Konsentrasi spermatozoa (Counting Chamber/ Neubauer)
Formal salin dan semen dihisap menggunakan mikropipet yang
berbeda, kemudian di masukkan ke dalam tabung effendorf dengan
perbandingan formal salin dan semen 1:200 (5μl semen : 995μl pengencer)
untuk sapi dan 1:500 (2μl semen : 998 μl pengencer) untuk domba. Formal
salin dan semen yang ada di dalam tabung effendorf dihomogenkan dengan
cara dikocok membentuk angka delapan. Setelah itu campuran tersebut
diteteskan pada kamar hitung Neubauer lalu ditutup menggunakan cover
glass dan diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 40x10. Sperma
dihitung dalam lima kotak yang berwarna merah (gambar 2) dan hasilnya
dijumlahkan. Kepala sperma di dalam kotak dihitung satu, kepala sperma
yang terletak di batas garis dihitung 0.5, dan ekor di dalam kotak tidak
dihitung.

Gambar 1 Sketsa Kamar Hitung Neubauer chamber dihitung jumlah


spermatozoa yang masuk ke dalam daerah kotak berwarna biru.
Hasil untuk konsentrasi spermatozoa pada semen sapi dan domba
dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Konsentrasi spermatozoa = N x 5 x FP x 104 sperma/ ml

Keterangan rumus konsentrasi spermatozoa:


N : jumlah rata-rata spermatozoa dalam counting chamber
FP : faktor pengenceran (sapi 200 ; domba 500)
5 : faktor koreksi dimana hanya menghitung 5 kotak dari 25 kotak
hitung yang ada
104 : faktor koreksi yang dibutuhkan karena kedalaman cover slip
0.0001 mL per chamber
e. Spermatozoa Hidup-Mati dan Normal-Abnormal
Penentuan hidup dan mati sperma dapat ditentukan dengan membuat
preparat ulas. Cara pembuatan preparat ulasnya sama, yaitu eosin 2% atau
eosin nigrosin 2% diteteskan sebanyak 2-3 tetes di atas object glass dan
dicampurkan dengan setetes semen menggunakan gelas pengaduk. Object
glass baru disinggungkan ujungnya pada campuran tersebut lalu dibuat
preparat ulas pada object glass yang lain. Fiksasi dilakukan dengan
menggunakan heating table dan diamati di bawah mikroskop dengan
perbesaran 40x10. Spermatozoa yang hidup ditandai dengan kepala yang
tidak berwarna atau transparan, sedangkan spermatozoa yang mati ditandai
dengan kepala yang berwarna merah. Total sperma yang dihitung minimal
100-200 sperma, tapi lebih baik sampai 500 sperma.

Gambar 2 Proses pewarnaan spermatozoa

Perhitungan hidup-mati dan normal-abnormal spermatozoa dapat


dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Presentasi spermatozoa hidup


= Jumlah spermatozoa hidup x 100%
Jumlah spermatozoa hidup + mati
Presentasi spermatozoa normal
= Jumlah spermatozoa normal x 100%
Jumlah spermatozoa normal + abnormal

Pengenceran Semen
Pengenceran semen dapat dilakukan dengan menambahkan beberapa bahan
yang tidak merusak morfologi sperma. Pengencer berfungsi sebagai sumber energi,
meningkatkan volume semen, anti coldshock, melindungi dari perubahan pH,
mengatur tekanan osmotik dan elektrolit, antibakteri, serta melindungi spermatozoa
selama pembekuan. Bahan pengencer yang digunakan juga harus ekonomis, tidak
toksik, tidak membatasi daya fertilisasi sperma, praktis tetapi memiliki daya
preservasi yang tinggi. Terdapat beberapa jenis pengencer yang diketahui yaitu susu
sapi mentah, susu skim, sitrat-kuning telur, sitrat fruktosa-kuning telur, air kelapa-
kuning telur, dan tris kuning telur. Jenis pengencer yang digunakan untuk
praktikum ini hanya 2 yaitu sitrat-kuning telur dan tris-kuning telur. Semen
diencerkan pada larutan pengencer dengan perhitungan volume semen dan
pengencer sebagai berikut:
Volume total dihitung dengan rumus:

Volume total = Vol semen x konsentrasi spermatozoa x %motilitas x vol IB


Konsentrasi IB

Jumlah larutan pengencer dihitung dengan rumus:

Volume pengencer = Volume total – volume semen

Pengenceran dituangkan ke dalam tabung semen, kemudian digoyangkan


secara perlahan, lalu dimasukkan ke dalam lemari es.
Perhitungan:
a) Volume total semen cair
Dosis IB domba = 50-150 x 106
Volume ejakulat (mL) × Konsentrasi sprematozoa × % motilitas Dosis IB
𝑥 0,5 =
𝐷𝑜𝑠𝑖𝑠 𝐼𝐵
0,5 𝑚𝐿 𝑥 5675𝑥106 𝑥0,9
DOMBA 1 : 𝑥0,5= 25,5375 mL (pengencer tris)
50𝑥106
0,5 𝑚𝐿 𝑥 6750𝑥106 𝑥0,9
DOMBA 2 : x0,5= 15,1875 mL (pengencer Nasitrat)
100𝑥106

Penggunaan bahan pengencer yang digunakan = Volume total – Volume


ejakulat
Volume bahan pengencer tris untuk semen cair
(Domba 1) : 25,5 mL – 0,5 mL = 25 mL
Volume bahan pengencer Nasitrat untuk semen cair
(Domba 2) : 15,2 mL – 0,5 mL = 14,7 mL
b) Volume total semen beku
Dosis IB domba = 50-150 x 106
Volume ejakulat (mL) × Konsentrasi sprematozoa × % motilitas Dosis IB
𝑥 0,25 =
𝐷𝑜𝑠𝑖𝑠 𝐼𝐵
0,5 𝑚𝐿 𝑥 5675𝑥106 𝑥0,9
DOMBA 1 : 𝑥0,25= 12,76875 mL (pengencer tris)
50𝑥106
0,5 𝑚𝐿 𝑥 6750𝑥106 𝑥0,9
DOMBA 2 : x0,25= 7,59375 mL (pengencer Nasitrat)
100𝑥106

Penggunaan bahan pengencer yang digunakan = Volume total – Volume


ejakulat

Volume bahan pengencer tris untuk semen beku


(Domba 1) : 12,8 mL – 0,5 mL = 12,3 mL
Volume bahan pengencer Nasitrat untuk semen beku
(Domba 2) : 7,6 mL – 0,5 mL = 7,1 mL

Persiapan antibiotik:
Berdasarkan perhitungan tersebut, dimasukkan sejumlah pengencer ke
dalam tabung. Kemudian pengencer ditambahkan antibiotik penicilin dengan dosis
500 - 1000 IU. Perhitungan dosis antibiotik sebagai berikut:
Penicillin dalam kemasan 3×106 IU diencerkan dengan 15 ml aquades, sehingga
3 x 106 IU
diperoleh stok penicillin = 15 mL = 2 x 105 IU⁄mL
Vol.Pengencer x Dosis penicillin
Penicillin yang ditambahkan (mL) = Konsentrasi penicillin

Pengolahan Semen Cair (Preservasi)


Semen setelah ditampung, dilakukan evaluasi, dan ditambahkan pengencer
dan antibiotik. Setelah itu, semen yang sudah ditambahkan pengencer dilakukan
pengemasan yang nantinya untuk dilakukan penyimpanan. Penyimpanan semen
cair dilakukan dengan sistem pool. Sistem pool ini dilakukan dengan cara
memasukkan tabung ke dalam bejana berisi air dan disimpan di dalam lemari es
bersuhu 3-5oC. Setelah itu dilakukan evaluasi dengan rentang waktu setiap 24 jam
sampai motilitas spermatozoa menurun sampai spermatozoa mati.

Pengolahan Semen Beku


Semen yang sudah ditampung, kemudian dilakukan evaluasi, dan
ditambahkan bahan pengencer untuk semen beku yang sudah ditambahkan
antibiotik. Selanjutnya semen yang telah ditambahkan bahan pengencer dikemas di
dalam straw dengan volume 0.25 ml. Semen yang dikemas dalam straw. Prosedur
pengemasan diawali dengan pengisisan semen cair ke dalam straw menggunakan
spoit yang ujungnya dihubungkan dengan mikrotip. Salah satu ujung straw ditutup.
Setelah semen dikemas dalam straw, dilakukan ekuilibrasi pada suhu 3-5oC selama
4 jam kemudian diuapkan diatas N2 cair (-130oC) selama 10 menit. Setelah itu
dimasukkan ke dalam N2 cair (-196oC). Selanjutnya dilakukan thawing
menggunakan air dengan suhu yang berbeda-beda (Tabel 1). Setelah thawing
motilitas sperma diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 40×10.
Tabel 1 Suhu thawing
Suhu (oC) Waktu
27 (air kran) 30 detik
37 30 detik
TINJAUAN PUSTAKA

Semen adalah sekresi kelamin jantan yang diejakulasikan ke dalam saluran


kelamin betina sewaktu kopulasi. Semen terdiri dari spermatozoa yang berada
dalam cairan yang disebut plasma semen. Semen merupakan cairan yang terdiri dari
hasil sekresi kelenjar kelamin aksesoris dan spermatozoa yang sudah masak dari
epididimis seekor domba pejantan dewasa (Srigandono 1996). Semen terdiri atas
campuran spermatozoa yang dihasilkan oleh jaringan testis di dalam tubulus
seminiferus dan plasma semen yang berasal dari kelenjar kelamin pelengkap.
Spermatozoa normal memiliki bagian-bagian yang terdiri atas kepala, leher, badan,
dan ekor. Sekitar 2/3 bagian dari dinding depan kepala spermatozoa tampak tertutup
oleh akrosom. Tempat sambungan dasar akrosom dan kepala disebut cincin
nukleus. Di antara kepala dan badan terdapat sambungan pendek yaitu leher yang
berisi sentriol proksimal, terkadang dinyatakan sebagai pusat kinetik aktifitas
spermatozoa. Bagian badan dimulai dari leher dan berlanjut ke cincin sentriol.
Bagian badan dan ekor mampu bergerak bebas meskipun tanpa kepala. Ekor yang
menyerupai cambuk membantu mendorong spermatozoa untuk bergerak maju
(Salisbury et al (1985). Plasma semen merupakan sekresi dari epididimis, vas
deferens, kelenjar prostat, dan vesika seminalis, serta kelenjar cowper, sehingga
seminal plasma sangat berpengaruh terhadap sifat fisik dan kimia semen. Di dalam
plasma semen terdapat berbagai macam zat organik, zat inorganik, dan air. Zat
organik tersebut seperti phosphorylcholine, glycerylphosphorylcholine, asam
sitrat, fruktosa, 10 inositol, sorbitol, ergothionine, dan spremine. Zat inorganik
meliputi kalium, kalsium, dan bikarbonat yang relatif tinggi kadarnya dibandingkan
dengan yang terdapat dalam tubuh (Partodihardjo 1992). Plasma semen berguna
sebagai buffer dan medium bagi spermatozoa agar dapat bertahan lama setelah
ejakulasi (Toelihere 1993).

Parameter Kualitas Semen Parameter yang digunakan untuk menilai


kualitas semen secara umum meliputi: volume, warna, bau, pH, konsistensi,
konsentrasi, motilitas, dan viabilitas. Volume merupakan salah satu standar
minimum untuk evaluasi kualitas semen yang akan digunakan untuk Inseminasi
Buatan (Garner dan Hafez 2000). Volume semen dapat diketahui dengan membaca
skala yang terdapat pada tabung penampungan. Volume semen per ejakulat berbeda
menurut bangsa, umur, berat badan, tingkatan makanan, dan frekuensi
penampungan. Volume semen akan menurun sesudah mencapai puncak dewasa
(Toelihere, 1993). Menurut Feradis (2010), frekuensi ejakulasi sering
menyebabkan penurunan volume dan apabila dua ejakulat diperoleh berturut-turut
dalam waktu singkat maka umumnya ejakulat yang kedua mempunyai volume yang
lebih rendah. Volume semen yang rendah tidak merugikan tetapi apabila disertai
dengan konsentrasi yang rendah pula maka akan membatasi jumlah spermatozoa
yang tersedia.
Warna Semen normal berwarna seperti susu atau krem keputih-putihan dan
keruh. Derajat kekeruhannya tergantung pada konsentrasi spermatozoa. Sekitar
10% menghasilkan semen yang normal berwarna kekuning-kuningan yang
disebabkan oleh pigmen riboflavin yang dibawakan oleh satu gen autosom resesif
dan tidak mempunyai pengaruh terhadap fertilitas (Toelihere 1993). Adanya
kuman-kuman Pseudomonas aeruginosa di dalam semen dapat menyebabkan
warna hijau kekuning-kuningan apabila semen dibiarkan pada suhu kamar.
Gumpalan-gumpalan, bekuan dan kepingan-kepingan di dalam semen
menunjukkan adanya nanah yang umumnya berasal dari kelenjar-kelenjar
pelengkap dari ampula. Semen yang berwarna gelap sampai merah muda
menandakan adanya darah segar dalam jumlah yang berbeda dan berasal dari
saluran kelamin uretra atau penis. Warna kecoklatan menunjukkan adanya darah
yang telah mengalami dekomposisi. Warna coklat muda atau warna kehijau-hijauan
menunjukkan kemungkinan adanya kontaminasi dengan feses (Toelihere 1993).

Bau pada semen jarang dilakukan karena tidak berhubungan dengan kualitas
spermatozoa. Umumnya bau semen dikategorikan sebagai bau khas (Rizal et al
2006). Dan nilai pH dapat dilihat dengan cara mencocokkan warna dari kertas
lakmus yang telah ditetesi semen dengan warna pada tabung kemasan kertas lakmus
(Garner dan Hafez 2000). Pada umumnya sperma sangat aktif dan tahan hidup lama
pada pH sekitar 7,0. Motilitas partial dapat dipertahankan pada pH antara 5 sampai
10 (Toelihere 1993). Menurut Garner dan Hafez (2000), pH semen segar adalah 6,4
– 7,8. Konsistensi dapat diperiksa dengan menggoyangkan tabung berisi semen
secara perlahan-lahan. Dan biasanya semen mempunyai konsistensi kental.
Sedangkan konsentrasi menggambarkan sifat-sifat semen dan dipakai sebagai salah
satu kriteria penentuan kualitas semen (Toelihere 1993).

Motilitas spermatozoa umumnya digunakan sebagai parameter


kesanggupan spermatozoa untuk membuahi sel telur (Toelihere 1993). Sesuai
dengan bentuk morfologinya, spermatozoa hidup dapat mendorong dirinya sendiri
maju ke depan di dalam lingkungan zat cair. Terdapat 3 tipe motilitas spermatozoa
mamalia yaitu gerak progresif, gerak berputar, dan gerak oscillatoris di tempat
(Salisbury et al 1985). Motilitas spermatozoa dipengaruhi oleh kemampuan
metabolisme spermatozoa yang ditunjang oleh lingkungan yaitu suhu dan
komponen-komponen di dalam medium pengencer. Tipe gerak normal
spermatozoa secara individual bervariasi dari gerakan maju yang sangat cepat pada
spermatozoa yang baru diejakulasikan, ke gerakan maju yang lebih pelan (gerakan
kepala menyerupai baling-baling pada sumbu longitudinal) di dalam cairan, sampai
gerakan minimum yang ditandai dengan 14 gerakan sangat lemah dan terkadang
tampak ayunan ekor tanpa berpindah tempat (Salisbury et al 1985). Menurut
Toelihere (1993), penilaian gerakan individu spermatozoa yang terlihat pada
mikroskop seperti spermatozoa tidak bergerak (0%), gerakan berputar ditempat,
pergerakan progresif (0−30%), gerakan berayun atau melingkar, pergerakan
progresif (30−50%), ada gerakan massa, pergerakan progresif (50−80%), ada
gelombang, pergerakan progresif (80−90%), gelombang sangat cepat, pergerakan
sangat progresif (90−100%). Pemeriksaan motilitas sperma merupakan satu-
satunya cara penentuan kualitas semen sesudah pengenceran. Penilaian gerakan
individual spermatozoa yang terbaik dilakukan dengan melihat pola pergerakan
progresif atau gerakan aktif maju ke depan. Gerakan melingkar atau gerakan
mundur merupakan tanda bahwa spermatozoa mengalami cold shock. Gerakan
berayun dan berputar-putar di tempat biasanya terlihat pada semen yang sudah tua
dan apabila kebanyakan spermatozoa berhenti bergerak dan dianggap mati. Daya
gerak spermatozoa sangat penting karena diperlukan untuk bergerak maju dalam
saluran kelamin betina yang selanjutnya membuahi ovum.

Salisbury et al (1985) menyatakan bahwa persentase hidup spermatozoa


dapat dihitung dengan melihat reaksi spermatozoa terhadap zat warna tertentu.
Spermatozoa yang hidup tidak berwarna sedangkan spermatozoa yang mati akan
menyerap warna. Zat warna eosin tidak dapat menyusup ke dalam sel spermatozoa
hidup karena membran plasmanya masih utuh dan tidak mengalami kerusakan.
Menurut Partodihardjo (1992), sel-sel spermatozoa yang hidup akan sedikit sekali
menghisap warna sedangkan sel-sel yang mati akan mengambil warna karena
permeabilitas dinding sel menjadi lebih tinggi setelah mati. Spermatozoa yang
masih hidup akan mengambil sebagian zat warna dari ekor sampai setengah badan.
Pengambilan zat warna oleh spermatozoa dapat dipengaruhi oleh faktorfaktor lain
seperti sekresi kelenjar assesoris, pH, suhu, kesalahan teknik pada waktu
pembuatan preparat dan umur semen sesudah pengambilan semen (Suyadi dan
Isnaini 2004).

Pengenceran semen memungkinkan IB betina lebih banyak dan


mempertahankan daya fertilisasi sebelum semen disemprotkan ke dalam alat
kelamin betina waktu birahi. Pengenceran semen berfungsi untuk memperbanyak
volume semen, memberi media yang cocok untuk spermatozoa, menjaga pH,
tekanan osmotik, dan sebagai krioprotektan. Dalam melakukan pengenceran semen
perlu menghindari adanya panas yang berlebihan, bahan kimia toxic, berhubungan
dengan udara luar, sinar matahari langsung, dan guncangan. Menurut Toelihere
(1993), syarat-syarat pengencer yang baik sebagai berikut: 1. bahan pengencer
hendaknya murah, sederhana dan praktis dibuat, tetapi daya preservasinya tinggi;
2. pengencer harus mengandung unsur-unsur (fisik dan kimiawi) yang hampir sama
dengan semen dan tidak boleh mengandung zat-zat yang bersifat toksik terhadap
sperma maupun terhadap saluran kelamin hewan betina; 3. pengencer harus tetap
mempertahankan dan tidak membatasi daya fertilisasi sperma; 4. pengencer harus
memberi kemungkinan penilaian sperma sesudah pengenceran.

Semen beku merupakan semen yang telah diencerkan kemudian dibekukan


di bawah titik beku air. Pembekuan semen merupakan usaha untuk menjamin daya
tahan spermatozoa dalam waktu yang lama. Pembekuan semen meliputi proses
pengolahan, pengawetan, dan penyimpanan semen sehingga dapat digunakan pada
waktu tertentu sesuai kebutuhan (Suyadi dan Isnaini 2004). Tahapan produksi
semen beku adalah penampungan semen segar, pemeriksaan semen segar,
pengenceran semen segar, pengujian semen setelah pengenceran, ekuilibrasi,
identifikasi straw, pengemasan (filling dan sealing), proses pembekuan, pengujian
post thawing motility, penyimpanan dan pengujian semen beku setelah
penyimpanan. proses sperma yang telah mengalami ekuilibrasi dan kemudian
dimasukkan dalam kontainer berisi nitrogen cair dengan suhu -196oC, sehingga sel
spermatozoa dapat bertahan hidup dalam waktu yang lama. Menurut Partodiharjo
(1992), pembekuan dapat dilakukan dengan menggunakan es kering, cairan udara,
O2 cair, dan N2 cair. N2 cair yang paling banyak digunakan sebab dapat
membekukan pada suhu yang paling rendah dan dapat menyimpan semen dalam
waktu yang lama.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penilaian Breeding Soundness Examination (BSE) pada ternak jantan


Penilaian Breeding Soundness Examination (BSE) pada ternak jantan
sangat penting dilakukan untuk menentukan pejantan unggul. Penjantan unggul
memiliki kualitas dan kuantitas semen yang baik serta dapat menghasilkan
keturunan yang unggul. Penilaian BSE dilakukan dengan pemeriksaan fisik,
diameter skrotum, koleksi dan evaluasi semen. Pemeriksaan juga dilakukan pada
organ genital, libido dan kemampuan kawin dari pejanjtan yang digunakan untuk
menunjang penilaian pada BSE (Sargison 2008). Tabel 2 menunjukkan data hasil
pemeriksaan fisik sapi dan domba pada hari pertama. Sedangkan hasil pemeriksaan
fisik domba hari kedua disajikan pada Tabel 3.

Tabel 2 Hasil pemeriksaan fisik sapi dan domba hari pertama


Parameter Sapi Domba
Suhu (ºC) 38.3 ºC 38.8ºC
Frekuensi napas (kali/menit) 36 kali/menit 36 kali/menit
Frekuensi jantung (kali/menit) 68 kali/menit 92 kali/menit
Lingkar skrotum (cm) 35 cm 10 cm

Hasil pemeriksaan fisik sapi dan domba meliputi suhu tubuh, frekuensi
napas, frekuensi jantung, dan pengukuran lingkar skrotum. Hasil penilaian fisik
yang diperoleh menunjukkan suhu tubuh sapi dan domba berada pada nilai yang
normal. Hasil pemeriksaan fisik normal pada sapi yaitu suhu tubuh 38.0-39,5oC,
denyut jantung 60-110 kali per menit, dan frekuensi nafas 15-40 kali permenit
(Mauladi 2009). Sedangkan suhu tubuh domba 38.5-40oC, denyut jantung 70-80
kali per menit, dan frekuensi nafas 15-40 kali permenit (Smith dan Mangkoewidjojo
1988). Sehingga dapat disimpulkan dari hasil pemeriksaan fisik menunjukkan sapi
dan domba dalam keadaan sehat dan tidak terdapat kelainan.
Pemeriksaan testis dilakukan meliputi jumlah testis, konsistensi,
kesimetrisan, dan ukuran. Anatomi testis tidak ditemukan kelainan pada testis
ketika dipalpasi, lingkar skrotum pada sapi jantan 35 cm dan lingkar skrotum
domba jantan 10 cm. Noran dan Mukherjee (1997) menyatakan bahwa lingkar
skrotum mempunyai hubungan yang sangat erat dengan volume testis dan dapat
memberikan estimasi yang akurat bahwa pejantan memiliki kemampuan untuk
memproduksi spermatozoa. Sehingga dapat dikatakan diameter skrotum yang besar
diharapkan volume testisnya besar pula sehingga dapat menghasilkan spermatozoa
dengan kualitas dan kuantitas yang baik.

Tabel 3 Hasil pemeriksaan fisik dan alat kelamin jantan domba pada hari kedua
Hari kedua
Parameter
Domba 1 Domba 2
Suhu (ºC) 38.6ºC 38.9ºC
Frekuensi napas (kali/menit) 40 kali/menit 44 kali/menit
Frekuensi jantung (kali/menit) 92 kali/menit 96 kali/menit
Lingkar skrotum (cm) 10 cm 9 cm

Penilaian fisik pada domba dilakukan pada beberapa domba yang berbeda.
Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan suhu domba 1 38.50C, frekuensi jantung
92x/menit, frekuensi nafas 40x/menit, mukosa rose, nafsu makan baik dan tidak
terdapat kelainan fisik. Sedangkan suhu domba 2 38.90C, frekuensi jantung
96x/menit, frekuensi nafas 44x/menit, mukosa rose, nafsu makan baik dan tidak
terdapat kelainan fisik. Hasil tersebut menunjukkan domba dalam keadaan normal.
Menurut Smith (1988) bahwa suhu tubuh normal domba berkisar antara 38.5-39 oC.
Frandson (1992) yang menyatakan bahwa frekuensi nafas normal domba adalah 26-
32 kali/menit. Pemeriksaan testis domba juga dilakukan meliputi pemeriksaan
jumlah, konsistensi, dan ukuran. Hasil pemeriksaan menunjukkan testis domba
tidak memiliki kelainan. Lingkar skrotum testis domba 1 adalah 10 cm dan domba
2 adalah 9 cm.

Koleksi dan Evaluasi Semen


Penilaian kualitas semen dapat dievaluasi secara makroskopis dan
mikroskopis. Evaluasi makroskopis meliputi volume, pH, warna dan konsistensi
semen, sedangkan evaluasi mikroskopis meliputi gerakan massa, gerakan individu,
motilitas, viabilitas, konsentrasi dan morfologi spermatozoa. Penampungan
dilakukan pada ejakulat yang kedua dikarenakan pada ejakulasi yang pertama
cairan bertujuan untuk membersihkan saluran pengeluaran sperma sapi.
Tabel 4 Karakteristik semen segar sapi dan domba pada hari pertama
Sapi Domba

Parameter
Rataan Rataan

Makroskopik
Volume 8.5 ml 2 ml
Warna Putih susu Putih
Konsistensi Encer Kental
pH 7 6.7
Bau Bau khas semen Bau khas semen
Mikroskopik
Gerakan massa +++ +++
Gerakan individu 4 4
Motilitas progresif 89% 90%
Viabilitas 89.5% 89%
Konsentrasi spermatozoa
Semi
Estimasi Densum
densum
Counting Chamber 520 x 106/ml 17300 x 106/ml
Abnormalitas Morfologi 11,5% 9%

Pada Tabel 4 karakteristik semen segar sapi menunjukkan volume ejakulasi


sapi yang didapatkan adalah 8.5 ml. Volume yang didapatkan lebih banyak
dibandingkan yang di sebutkan oleh Feradis (2010) yaitu volume semen sapi
berkisar antara 5-8 mL. Semen sapi berwarna putih susu menuju bening dan
konsistensi encer. Feradis (2010) menyatakan bahwa semen sapi normal berwarna
seperti susu atau krem dan keruh. Evaluasi pH menunjukkan pH semen sapi adalah
7 dan berada di kisaran normal. Hasil tersebut tidak jauh berbeda dengan penilitian
Affandhy et al. (2004) dengan pH 6,9 ± 0,2 pada sapi Peranakan Ongole peternakan
rakyat. Hasil penelitian Soeroso dan Duma (2006) menunjukkan sapi yang memiliki
ukuran lingkar skrotum sebesar 26 cm mempunyai skor warna dan konsistensi 2
dengan katagori berawan, konsentrasi 2,31 x 109, sedangkan pada ukuran lingkar
skrotum 46 cm menunjukkan skor warna dan konsistensi 4 dengan katagori
berawan dan agak kekuning-kuningan. Semakin bening warna semen maka
semakin sedikit pula konsentrasi sperma didalamnya.
Gerakan massa pada semen sapi menunjukkan gambaran gelombang yang
besar dan gerakan yang cepat (+++) seperti awan yang berputar (Partodihardjo
1992). Gerakan individu bernilai 4 dan motilitas progresifnya 75%. Menurut
Affandhy et al. (2004), rataan motilitas spermatozoa pada sapi potong sebesar 84,2
± 4,8%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semen segar tersebut layak diproses
menjadi semen cair dan beku karena nilai motilitasnya diatas 60% (Sarastina et al.
2012).
Viabilitas atau persentase spermatozoa hidup yang diamati adalah 89.5%.
Konsentrasi semen sapi yaitu sebesar 520 juta spermatozoa/mL. Menurut Sorensen
(1979) konsentrasi spermatozoa pada sapi berkisar antara 800 - 1200 juta/ml. Hasil
tersebut tergolong rendah akan tetapi sesuai dengan hasil ejakulat yang encer.
Tingkat abnormalitas spermatozoa sebesar 11.5%. Berdasarkan hasil evaluasi, baik
secara makroskopis maupun mikroskopis, semen sapi jantan dapat dikategorikan
baik dan dapat digunakan untuk IB dan dapat di proses lebih lanjut.
Hasil evaluasi semen segar domba yang dikoleksi pada hari pertama adalah
volume semen 2 ml, berwarna putih, dengan konsistensi kental serta pH 6.7.
Kisaran volume semen per ejakulat pada domba adalah 0.2-1.2 ml (Hafez dan Hafez
2000). Nilai pH domba berada pada kisaran normal yang disebutkan oleh Toelihere
(1993) yaitu pH normal semen domba berkisar antara 5.9-7.3. Pemeriksaan
mikroskopik semen domba adalah gerakan massa (+++), gerakan individu 4,
motilitas progresis 90%, viabilitas 89%, konsentrasi 17300 juta, dan abnormalitas
9%.
Gerakan massa (+++) menunjukkan gelombang massa tebal dan gerakan
untuk berpindah tempat cepat. Motilitas semen segar domba berada pada nilai yang
tinggi seperti yang disebutkan oleh Garner dan Hafez (2000) yang menyimpulkan
semen segar domba mempunyai rata-rata motilitas sekitar 60-80%. Konsentrasi
spermatozoa pada semen yang diperiksa menunjukkan hasil yang cukup tinggi.
Toelihere (1993) menyebutkan bahwa konsentrasi semen domba adalah 2000-
3000x106. Sperma yang akan digunakan untuk IB harus memiliki tingkat
abnormalitas yang kecil. Hasil evaluasi menunjukkan tingkat abnormalitas
spermatozoa di dibawah 10%, sehingga masih dapat dproses lebih lanjut. Hal
tersebut sesuai dengan pendapat Toelihere (1993) yang menyatakan bahwa, semen
domba yang baik memiliki spermatozoa abnormal tidak lebih dari 14%.

Tabel 5 Karakteristik semen segar domba 1 dan domba 2 pada hari kedua
Parameter Domba 1 Domba 2
Makroskopik
Volume 1,5 ml 1,5 ml
Warna Putih susu Putih susu
Konsistensi Kental Kental
pH 6.7 6.4
Bau Bau khas semen Bau khas sperma
Mikroskopik
Gerakan massa +++ +++
Gerakan individu 3 3
Motilitas progresif 90% 90%
Viabilitas 92.3% 95%
Konsentrasi spermatozoa
Estimasi Densum Densum
Counting Chamber 5675 x 106/ml 6750 x 106/ml
Abnormalitas Morfologi 14.5% 4.6%

Hasil evaluasi semen segar domba 1 dan domba 2 yang dikoleksi pada hari
kedua sebanyak 1.5 ml, berwarna putih susu, dengan konsistensi kental serta pH
6.7 untuk domba 1 dan 6.4 untuk domba 2. Kisaran volume semen per ejakulat pada
domba adalah 0.2-1.2 ml (Hafez dan Hafez 2000). Nilai pH domba berada pada
kisaran normal yang disebutkan oleh Toelihere (1993) yaitu pH normal semen
domba berkisar antara 5.9-7.3. Pemeriksaan mikroskopik semen domba 1 dan 2
adalah gerakan massa (+++), gerakan individu 4, motilitas progresis untuk domba
1 dan 2 adalah 90%, viabilitas domba 1 adalah 92.3% dan domba 2 adalah 95%,
konsentrasi 5675 juta untuk domba 1 dan konsentrasi spermatozoa untuk domba 2
adalah 6750 juta, dan abnormalitas morfologi untuk domba 1 sebesar 14.5% dan
domba 2 sebesar 4.6%.
Gerakan massa (+++) menunjukkan gelombang massa tebal dan gerakan
untuk berpindah tempat cepat. Motilitas semen segar domba 1 dan 2 berada pada
nilai yang tinggi seperti yang disebutkan oleh Garner dan Hafez (2000) yang
menyimpulkan semen segar domba mempunyai rata-rata motilitas sekitar 60-80%.
Konsentrasi spermatozoa pada semen yang diperiksa menunjukkan hasil yang
cukup tinggi. Toelihere (1993) menyebutkan bahwa konsentrasi semen domba
adalah 2000-3000x106. Sperma yang akan digunakan untuk IB harus memiliki
tingkat abnormalitas yang kecil. Hasil evaluasi menunjukkan tingkat abnormalitas
spermatozoa untuk domba 1 di atas 10%, akan tetapi menurut Toelihere (1993)
semen domba yang baik memiliki spermatozoa abnormal tidak lebih dari 14%.

Pengolahan Semen Cair Domba


Pengenceran semen bertujuan untuk memperbanyak volume semen dan
tidak menurunkan kualitas semen tersebut. Menurut Toelihere (1993), penggunaan
bahan pengencer semen harus dapat mempertahankan viabilitas spermatozoa
sebelum digunakan pada waktunya. Syarat bahan pengencer adalah harus dapat
menyediakan nutrisi bagi kebutuhan spermatozoa selama penyimpanan, harus
memungkinkan spermatozoa dapat bergerak secara progresif, tidak bersifat racun
bagi spermatozoa, menjadi penyangga bagi spermatozoa, dapat melindungi
spermatozoa dari kejutan dingin (cold shock) baik untuk semen beku maupun
semen yang tidak dibekukan (semen cair).

Tabel 6 Rataan viabilitas dan motilitas semen cair domba 1 dengan pengencer
Tris – KT
Semen + Tris KT
Semen
Parameter Hari ke
Segar
1 2 3 4 5 6 7 8
Viabilitas (%) 92.3 89.65 59.5 54.34 50.53 46.7 28.3 18.77 8.77
Motilitas (%) 90 80 50 50 40 35 20 15 5

Tabel 7 Rataan viabilitas dan motilitas semen cair domba 2 dengan pengencer Na
Sitrat - KT
Semen + Na Sitrat KT
Semen
Parameter Hari ke
Segar
1 2 3 4 5 6 7 8
Viabilitas (%) 95 83.7 59.6 58.06 52.23 47.35 44 20.33 17.02
Motilitas (%) 90 80 60 55 45 45 40 30 15
Setelah pembuatan semen cair dengan pengencer tris dan natrium sitrat,
dilakukan pengamatan dan evaluasi viabilitas dan motilitas semen selama 8 hari.
Pada tabel 6 dapat dilihat terjadi penurunan secara berkala pada viabilitas dan
motilitas spermatozoa pada semen yang diencerkan dengan pengencer Tris hingga
motilitas mencapai 5% pada hari kedelapan pengamatan. Toelihere (1993)
mengatakan bahwa semen yang digunakan untuk inseminasi buatan (IB) harus
memiliki motilitas minimal 40%. Sementara itu pada hari kelima pengamatan,
motilitas spermatozoa adalah sebesar 35%. Berdasarkan pernyataan dari Toelihere,
dapat disimpulkan bahwa semen mulai hari kelima sudah tidak layak digunakan
untuk IB.
Pada tabel 7 dapat dilihat bahwa viabilitas dan motilitas spermatozoa pada
semen dengan pengencer Na-Sitrat cenderung lebih stabil. Motilitas cenderung
stabil dan baru menurun cukup drastis pada hari ketujuh pengamatan, dimana
motilitas sebesar 30%. Berdasarkan pernyataan dari Toelihere, maka semen pada
hari ketujuh ini sudah tidak layak digunakan untuk IB.
Viabilitas dan motilitas spermatozoa, penurunan kualitas semen tidak hanya
dipengaruhi oleh jenis pengencernya. Penurunan ini dapat terjadi juga karena suhu
penyimpanan yang dingin, semakin berkurangnya ketersediaan nutrisi pada bahan
pengencer, umur spermatozoa yang semakin tua, dan perubahan pH semen (Rizal
et al. 2009). Menurut Widjaya (2011), pH semen dapat berubah karena aktivitas
spermatozoa yang membentuk asam laktat dalam pengencer. Perubahan pH ini
dapat menimbulkan efek toksik pada spermatozoa yang menyebabkan menurunnya
viabilitas spermatozoa.

Viabilitas semen cair dengan bahan pengencer


Tris KT dan Na Sitrat KT
100

80

60

40

20

0
1 2 3 4 5 6 7 8

Semen + Tris KT Semen + Na Sitrat KT

Gambar 3 Grafik viabilitas semen cair dengan bahan pengencer Tris KT dan Na
Sitrat KT
Motilitas semen cair dengan bahan pengencer
Tris KT dan Na Sitrat KT
100

80
Motilitas (%)
60

40

20

0
1 2 3 4 5 6 7 8
Hari ke-

Semen + Tris KT Semen + Na Sitrat KT

Gambar 4 Grafik motilitas semen cair dengan bahan pengencer Tris KT dan Na
Sitrat KT

Berdasarkan gambar 3 dan 4 dapat dilihat terjadinya penurunan motilitas


dan viabilitas semen dari hari ke hari. Kurva yang mengalami naik turun dapat
disebabkan oleh beberapa hal seperti penilaian yang subjektif dari pemeriksa yang
berbeda untuk memberikan nilai serta dapat disebabkan oleh kurang homogennya
sperma dan pengencer sehingga terjadi penumpukan antara sperma yang hidup atau
yang mati ketika disimpan dalam lemari pendingin.
Grafik menunjukkan nilai motilitas dan viabilitas pada pengencer Na sitrat-
KT lebih tinggi dibandingkan dengan pengencer Tris-KT. Hal ini disebabkan
karena pengencer Na sitrat-KT dapat bertahan dari kondisi cold shock sehingga
sperma sapi dapat bertahan pada suhu 5ºC (suhu refrigerator). Na sitrat-KT dapat
memicu glikolisis sperma dan unsur ini memiliki kinerja yang mirip terhadap unsur
pada epididimis yang berguna sebagai buffer sebelum dan sesudah sperma
diejakulasikan (Salisbury dan Van Denmark 1985). Hasil yang didapatkan
berlawanan dari beberapa penelitian yang telah dilakukan yang mengatakan bahwa
pengencer tris kuning telur lebih baik dibandingkan Na sitrat kuning telur dalam
mempertahankan hidup spermatozoa. Kelebihan tris terletak pada kandungan
garam dan asam aminonya yang berperan mempertahankan osmolaritas. Tris-
kuning telur mengandung komposisi bahan yang berperan dalam mempertahankan
daya tahan spermatozoa, terutama lipoprotein, lesitin, dan fruktosa. Sedangkan
unsur elektrolit seperti Na, Ca, K berperan sebagai agen krioprotektan di dalam
pengencer (Rhoyan et al. 2014).
Daya tahan hidup spermatozoa dalam semen yang diencerkan diantaranya
dipengaruhi oleh jenis pengencer. Rendahnya daya tahan hidup disebabkan
aktivitas metabolisme spermatozoa yang membentuk asam laktat dalam media
pengencer. Asam laktat yang berlebih dalam pengencer merubah pH yang dapat
menimbulkan efek racun dan kematian yang tinggi bagi spermatozoa (Widjaya
2011).
Pengolahan Semen Beku Sapi
Semen dapat disimpan dalam waktu yang lama yaitu dengan cara mengolah
menjadi semen beku. Proses pembekuan semen dapat diperoleh dengan suhu rendah
hingga mencapai -1960C. Namun suhu yang rendah dapat memberikan dampak
negatif pada spermatozoa. Sehingga perlu dilakukan beberapa tahapan pada proses
pembekuannya.
Semen yang telah diencerkan dikemas dalam straw 0.25 ml pada suhu 50C
selama 3 jam di dalam lemari pendingin. Selanjutnya dilakukan pembekuan di atas
uap nitrogen cair selama 15 menit. Kemudian straw disimpan di dalam kontainer
yang berisi N2 cair (suhu -1960C). Thawing semen beku dilakukan dengan
menggunakan air kran pada suhu 270C selama kurang lebih 30 detik dan suhu 370C
selama kurang lebih 30 detik. Menurut BSN tahun 2014 standar semen beku post
thawing suhu antara 37 °C – 38 °C selama 15 detik sampai dengan 30 detik harus
menunjukkan motilitas spermatozoa minimal 40 %.

Tabel 8 Rataan Viabilitas dan Motilitas Semen beku Domba 1 dengan pengencer
Tris - KT
Semen + Tris KT + G
Semen Setelah
Parameter Semen Setelah
Segar Thawing
Cair Ekuilibrasi
27°C 37°C
Viabilitas (%) 92.3 89.65 88.52 60.25 73.75
Motilitas (%) 90 80 75 45 55

Tabel 9 Rataan Viabilitas dan Motilitas Semen beku Domba 2 dengan pengencer Na
Sitrat - KT
Semen + Na Sitrat KT + G
Semen Setelah
Parameter Semen Setelah
Segar Thawing
Cair Ekuilibrasi
27°C 37°C
Viabilitas (%) 95 89.93 85.6 75.23 77.18
Motilitas (%) 90 85 75 30 35

Kerusakan spermatozoa akan terjadi akibat adanya pengaruh kejutan dingin


(cold shock) yang dapat merusak membran plasma sel yang berakibat kematian
pada spermatozoa. Pada tabel 8 dan 9 dapat dilihat perubahan viabilitas dan
motilitas spermatozoa mulai dari semen segar, setelah ditambah pengencer, setelah
ekuilibrasi, dan setelah thawing. Pada semen beku dengan pengencer tris kuning
telur terlihat bahwa motilitas awal setelah pengenceran adalah 80%, setelah
equilibrasi 75%, setelah thawing 270C 45% dan thawing 370C 55%. Penurunan
motilitas terjadi kurang lebih sebesar 5%.
Semen beku dengan pengencer Na sitrat kuning telur terlihat bahwa
motilitas setelah pengenceran adalah 85%, setelah equilibrasi 75%, setelah thawing
270C 30% dan thawing 370C 35%. Penurunan motilitas terjadi hampir lebih dari
10%. Perbedaan motilitas setelah thawing dengaan air suhu 270C dan 370C tidak
memperlihatkan hasil yang terlalu signifikan.
Pada saat pembekuan, semen mengalami penurunan kualitas sekitar 10-40%
hingga 50% (Sorenson 1979). Untuk meminimalkan kerusakan sel dapat dilakukan
dengan menambahkan zat tertentu kedalam pengencer semen. Zat tersebut dikenal
dengan nama krioprotektan. Salah satu jenis krioprotektan yang sering digunakan
pada mamalia adalah gliserol. Gliserol dapat masuk ke dalam sel spermatozoa
untuk mengikat sebagian air bebas, sehingga kristal-kristal es yang terbentuk di
dalam medium pengencer pada waktu pembekuan dapat dicegah (Azizah dan
Arifiantini 2009). Penambahan dosis gliserol pada beberapa pengencer berbeda-
beda. Menurut Evan dan Maxwell (1987) untuk melakukan pembekuan semen
kambing standar penggunaan gliserol yang dianjurkan adalah 6% - 8%, jika kurang
dari itu, maka giserol tidak akan memberikan efek yang berarti, sedangkan jika
lebih tinggi akan menimbulkan efek toksik pada spermatozoa. Ditambahkan oleh
Toelihere (1993), kadar optimum gliserol untuk pengencer sitrat-kuning telur
berkisar antara 7.0 sampai 7.6% volume dan dalam pengencer susu sekitar 10%
Metode thawing semen beku sangat menentukan program IB karena
thawing akan mempengaruhi kualitas spermatozoa. Thawing menggunakan air
hangat pada suhu 35-36.5ºC menghasilkan pemulihan spermatozoa yang baik
dibandingkan dengan metode lainnya. Keberhasilan tinggi pada suhu ini dilihat dari
singkatnya suhu kritis yang dialami spermatozoa, sehingga meminimalisir
terjadinya kerusakan sperma (Statham 2015). Menurut Witarsa (2001), Semen
yang baik harus meminimalisir terjadinya kerusakan sperma minimal 40% post
thawing. Berdasarkan hasil diatas, maka semen yang masih dapat di proses lebih
lanjut adalah semen dengan pengencer Tris-KT-G.

DAFTAR PUSTAKA
[BSN] Badan Standarisasi Nasional. 2014. Standar Nasional Indonesia Semen Beku
– Bagian 3 : Kambing dan Domba. Jakarta(ID): BSN.
[Deptan] Departemen Pertanian. 2006. Petunjuk Teknis Pengawasan Mutu Semen
Sapi dan Kerbau. Jakarta(ID): Departemen Pertanian Direktorat Jenderal
Peternakan.
[Pusdatin] Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. 2015. Outlook Komoditas
Daging Sapi 2015 [Internet]. [diunduh 2016 Agus 1]. Tersedia pada:
http://epublikasi.setjen.pertanian.go.id/epublikasi/outlook/2015/Peternakan
/Outlook%20Daging%20Sapi%202015/files/assets/common/downloads/O
utlook%20Daging%20Sapi%202015.pdf
Aboagla EME, Terada T. 2004. Effects of egg yolk during the freezing step of
Affandhy LP, Situmorang P, Rasyid A, Pamungkas D. 2004. Uji fertilitas semen
cair pada induk sapi Peranakan Ongole pada kondisi peternakan rakyat.
Pros. Seminar Nasional Peternakan Dan Veteriner. Bogor, Jilid III.
Puslitbang Peternakan. Badan Litbang Pertanian. Departemen Pertanian.
Hal. 26-35.
Afri W, Saleh DM, Sugiyatno. 2013. Pengaruh umur pejantan dan frekuensi
penampungan terhadap volume dan motilitas semen segar sapi Simmental
di Balai Inseminasi Buatan Lembang. Jurnal Ilmiah Peternakan. 1(3): 947-
953.
Animals. 7thEd. Philadelphia: Lippincot Williams & Wilkins.
Arifiantini RI, Yusuf TL, Indah O. 2005. Kajian Banding Dua Teknik
Pengemasan Menggunakan Tiga Macam Pengencer Untuk Pembekuan
Semen Sapi Friesian Holstein (FH). Seminar Nasional Teknologi
Peternakan dan Veteriner. Bogor(ID): IPB.
Arifiantini RI. 2012. Teknik Koleksi dan Evaluasi Semen pada Hewan. Bogor (ID):
IPB Pr.
Azizah dan I. Arifiantini. 2009. Kualitas Semen Beku Kuda pada Pengencer Susu
Skim dengan Konsentrasi Gliserol yang Berbeda. J Vet Sci 10(2):63-70.
cryopreservation on the viability of goat spermatozoa. Theriogenology
62:1160-1172.
Daya Tahan Hidup Spermatozoa Semen Cair Sapi Simmental. Laporan
Evans G, Maxwell WMC. 1987. Salmon’s Artificial Insemination of Sheep and
Goat. Butterworth’s, London.
Feradis. 2010. Bioteknologi Reproduksi Pada Ternak. Bandung (ID): Alfabeta.
Frandson RD. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi IV. Yogyakarta (ID):
Gadjah Mada University Press
Garner DL, Hafez ESE. 2000. Spermatozoa and Seminal Plasma. In: Reproduction
in Farm Animal 7th Edition. Lippincott Williams and Wilkins. USA:
Baltimore. 96-109.
Gustari. 2011. Breeding Soundness Examination. Yogyakarta(ID): Kuliah
Pengantar FKH UGM
Hafez B, Hafez ESE. 2000. Reproductive Cycles dalam Reproduction in Farm
Kaiin EM, Ginting SS, Djuarsawidjaja M, Said S, Tappa B. 2005. Kualitas Sperma
Hasil Pemisahan yang Dibekukan Menggunakan Rak Dinamis dan Statis.
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005. Bogor(ID):
Universitas Djuanda.
Mauladi AH.2009. Suhu Tubuh, Frekuensi Jantung dan Nafas Induk Sapi Friesian
Holstein Bunting yang Divaksin dengan Vaksin Avian Influenza H5N1.
[skripsi]. Bogor(ID): Institut Pertanian Bogor.
Noran AM, Mukherjee TK. 1997. Physical traits versus the buk’s reproductive abilities.
AJAS. 10 (2):245 – 250.
Parsons G. 2017. Increasing Your Lamb Crop Series: Testing Rams for Breeding
Soundness. United States Lamb Resource Center.
Partodihardjo S. 1992. Ilmu Reproduksi Hewan, Jakarta(ID): Mutiara.
Pezzanite L, Bridges A, Neary M, Hutchens T. 2017. Breeding Soundness
Examinations of Rams and Bucks. Animal Science. Purdue University.
Rhoyan YH, Tita DL, Rangga SK. 2014. Semen Cair Dingin Domba Garut pada
Tiga Jenis Larutan Pengencer. Jurnal Ilmu Ternak. Vol 1 No 12: 64- 68
Rizal M, Herdis A B, Aku AS, Yulnawati. 2006. Peranan beberapa jenis gula dalam
meningkatkan kualitas semen beku domba Garut. JITV, 11(2), 123-130.
Rizal M, Solihati N, Idi R, Rasad SD, Fitriati M. 2009. Daya hidup spermatozoa
epididimis sapi Bali yang dipreservasikan pada suhu 3–5 °C dalam
pengencer tris dengan konsentrasi laktosa yang berbeda. JIPV. 14(2): 142–
149.
Salisbury GW, VanDemark NL, Lodge JR, Cragle RG. 1985. Inhibition of
spermatozoan metabolism by pCO 2, pH, K ion and antibacterial
compounds. American Journal of Physiology--Legacy Content, 198(3):659-
664.
Sarastina, Susilawati T, Ciptadi G. 2012. Analisa Beberapa Parameter Motilitas
Spermatozoa Pada Berbagai Bangsa Sapi Menggunakan Computer Assisted
Semen Analysis (Casa). J. Ternak Tropika Vol. 6. No.2: 1-12.
Soeroso, Duma Y. 2006. Hubungan Antara ingkar Skrotum dengan Karakteristik
Cairan dan Spermatozo dalamCauda Epididimis pada Sapi Bali.
J.Indon.Trop.Anim.Agric.31[4].
Solihati N & Kune P. 2009. Pengaruh Jenis Pengencer Terhadap Motilitas dan
Sorensen AM. 1979. Animal Reproduction principles and practice. McGraw-Hill.
USA
Srigandono B. 1996. Kamus Istilah Peternakan. Ed ke-2. Yogyakarta(ID):
Universitas Gajah Mada Press.
Sugoro L. 2009. Pemanfaatan inseminasi buatan untuk meningkatkan produktivitas
sapi. Bandung (ID): ITB Pr.
Suyadi TS, Isnaini N. 2004. Uji Pembekuan Semen Kambing Boer. Laporan
Penelitian. Kerjasama Dotjen Pertenakan–Fakultas Peternakan Universitas
Brawijaya. Malang.
Toelihere MR. 1993. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Bandung(ID): Angkasa
Widjaya N. 2011. Efek Penambahan Vitamin E dalam Pengencer Glukosa terhadap
Daya Tahap Hidup Spermatozoa Domba pada Suhu 5 °C. Sains Peternakan.
9 (1):25-31.