Anda di halaman 1dari 132

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

HUBUNGAN SELF REGULATED LEARNING DENGAN

KENAKALAN REMAJA

DI SMP KRISTEN HARAPAN 1 DENPASAR

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi

Disusun oleh:
Adisti Wastu Kirana Lembut
119114038

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI


FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2016
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

i
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

HALAMAN MOTTO

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu;


carilah, maka kamu akan mendapat;
ketolah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
Karena setiap orang yang meminta, menerima
dan setiap orang yang mencari, mendapat
dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”
(Matius 7:7-8)

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah


dalam segala hal keinginanmu kepada Allah
dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”
(Filipi 4:6)

iii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Skripsi ini saya persembahkan untuk

Yang Maha Kuasa, Tuhan Yesus Kristus

Kedua orangtua yang kusayang, ibu dan bapak

Para sahabat

iv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Pernyataan Keaslian Karya

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini

tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan

dalam daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 5 Desember 2016

Penulis,

Adisti Wastu Kirana Lembut

v
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

HUBUNGAN SELF REGULATED LEARNING DENGAN KENAKALAN


REMAJA
DI SMPK HARAPAN I DENPASAR

Adisti Wastu Kirana Lembut


ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan self regulated learning dengan
kenakalan remaja. Variabel self regulated learning terdiri dari tiga aspek, yaitu metakognitif,
motivasi, dan perilaku. Sedangkan kenakalan remaja terdiri dari dua golongan, yaitu kenakalan
yang tidak melanggar hukum dan kenakalan yang dianggap melanggar hukum. Subjek penelitian
ini berjumlah 240 orang siswa/siswi dengan menggunakan metode pengambilan sampel teknik
convenience sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala regulasi diri dan
skala kenakalan remaja yang dikembangkan oleh peneliti. Skala self regulated learning ini terdiri
dari 25 item dengan nilai reliabilitas alpha berstrata sebesar 0,828 (α s = 0,828), skala kenakalan
remaja terdiri dari 24 item dengan nilai reliabilitas berstrata sebesar 0,853 (α s = 0,853). Penelitian
ini merupakan penelitian kuantitatif dengan teknik Spearman Rho. Hasil uji hipotesis hubungan
self regulated learning dengan kenakalan remaja diperoleh nilai signifikansi sebesar -0,302 (p <
0,05). Hasil ini menunjukan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara self regulated
learning dengan kenakalan remaja.

Kata kunci: self regulated learning, remaja, kenakalan remaja

vi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

THE RELATION OF SELF REGULATED LEARNING WITH


JUVENILE DELINQUENCY IN HOPE JUNIOR HIGH SCHOOL
DENPASAR

Adisti Wastu Kirana Lembut


ABSTRACT

The purpose of this study was to understand the relation of self regulated learning with
juvenile delinquency. Self regulated learning has three aspects: metacognitive, motivation, and
behavior. While the juvenile delinquency consist of two categories: illegal deliquency and non
illegal deliquency. The subject of this study were 240 students, selected using convenience
sampling. Data collection was carried out by using the self regulated learning and juvenile
delinquency scales developed by researchers. The scale of self regulated learning consisted of 25
items with the reliability of alpha 0,828 (αs = 0,828), juvenile delinquency scale consisted of 24
item with reliability of alpha 0,853 (αs = 0,853). The research is quantitative research, spearman
rho. The results of the hypothesis relations of self regulated learning with juvenile delinquency
obtained value significance of -0,302 (p < 0,05). The results showed significant corelation
between self regulated learning with juvenile delinquency.

Keywords: self regulated learning, teenager, juvenile delinquency

vii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN


PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma
Nama : Adisti Wastu Kirana Lembut
NIM : 119114038

Demi membangun ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan


Universitas Sanata Dharma Yogyakarta karya ilmiah saya yang berjudul:
“HUBUNGAN SELF REGULATED LEARNING DENGAN
KENAKALAN REMAJA DI SMP KRISTEN I DENPASAR”
Berserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya
memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk
menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelola dalam bentuk
pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikan di
internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin
dari saya maupun memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan
nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta
Pada tanggal 5 Desember 2016
Yang menyatakan,

(Adisti Wastu Kirana Lembut)

viii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang selalu menyertai dan

membimbing dalam setiap proses pembuatan skripsi, sehingga sejak awal dapat

berjalan dengan baik dan pada akhirnya dapat terselesaikan dengan baik.

Meskipun tidak dipungkiri bahwa banyak hambatan dan kesulitan yang dialami

oleh penulis selama proses pembuatan skripsi. Salah satu tujuan dan penulisan

skripsi ini adalah untuk memenuhi syarat memperoleh gelar Sarjana Psikologi

(S.Psi.).

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan dapat

terselesaikan dengan baik tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak yang terlibat.

Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada

1. Bapak Dr. T. Priyono Widiyanto, M.Si., selaku Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma.

2. Bapak P. Eddy Suhartanto, M.Si., selaku Kaprodi Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma.

3. Bapak Prof. A. Supratiknya., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang

selalu memberi masukan dan wejangan ketika pertemuan bimbingan KRS

setiap awal semester.

4. Ibu Sylvia Carolina Maria Yuniati Murtisari, M.Si., selaku Dosen

Pembimbing Skripsi yang selalu membimbing dan memberikan semangat

dalam proses penulisan skripsi.

ix
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

5. Bapak Robertus Landung Eko Prihatmoko, M.Psi., selaku Dosen

Pembimbing Skripsi yang selalu membimbing, memberi semangat, memberi

saran serta solusi ketika penulis mengalami hambatan dalam penulisan

skripsi.

6. Seluruh dosen Fakultas Psikologi yang telah mengajarkan dan memberikan

ilmu serta pengalaman selama proses perkuliahan, sehingga penulis dapat

menerapkan ilmu-ilmu tersebut dalam penulisan skripsi ini.

7. Segenap karyawan Fakultas Psikologi (Mas Gandung, Bu Nanik, Mas Muji,

dan Pak Gi) yang telah melayani, memberikan berbagai informasi dan

membantu proses administrasi selama proses perkuliahan hingga

penyelesaian skripsi.

8. Ibu Yuli Arsini S.Pd., selaku kepala sekolah SMP Kristen I Harapan

Denpasar yang telah memberikan izin dan informasi untuk melakukan

penelitian sejak observasi hingga pengambilan data melalui kuisioner.

9. Teman-teman yang menjadi responden penelitian.

10. Keluarga tersayang; Ibu Ratih Purnawati, Bapak I Ketut Sudana Astawa

Lembut, dan Adik Ni Made Dinda Wastu Diyana Lembut yang selalu setia

mendoakan, memberikan nasihat, dan dukungan bagi penulis sehingga

skripsi ini dapat terselesaikan.

11. Keluarga besar Sibret Lembut dan keluarga besar Soekidjo Digdowiratmo

yang selalu mendoakan dan memberikan dukungan bagi penulis sehingga

skripsi ini dapat terselesaikan.

x
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

12. Saudara Kenny Sundoro Rahardjo yang selalu mendoakan, memberikan

dukungan dan semangat sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

13. Sahabat yang telah memberikan dukungan dan semangat: Putri Bunga, Lia

Erosvita, Maria Angelicha dan Tommy.

14. Sahabat yang selalu setia untuk menjadi teman berbagi dalam proses

pembuatan skripsi, berbagi suka dan duka sehingga penulis selalu mampu

untuk kuat dan tegar dalam menyelesaikan skripsi: Akwila, Mira Toby dan

Arinda.

15. Seluruh teman-teman angkatan 2011 yang telah berjuang bersama, selalu

mampu menguatkan satu sama lain selama masa kuliah aktif hingga masa

penyelesaian skripsi.

Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi

banyak pihak. Selain itu, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bahi pengembangan

wawasan dan ilmu pengetahuan.

xi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING .............................. i

HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. ii

HALAMAN MOTTO ......................................................................................... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................... iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................ v

ABSTRAK .......................................................................................................... vi

ABSTRACT ........................................................................................................ vii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH .......................viii

KATA PENGANTAR ........................................................................................ ix

DAFTAR ISI ....................................................................................................... xii

DAFTAR TABEL ...............................................................................................xvi

DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................xvii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1

A. Latar Belakang ...................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ................................................................................ 6

C. Tujuan Penelitian .................................................................................. 6

D. Manfaat Penelitian ................................................................................ 7

1. Manfaat Teoritis ............................................................................. 7

2. Manfaat Praktis .............................................................................. 7

xii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 9

A. Remaja .................................................................................................. 9

1. Pengertian ...................................................................................... 9

2. Batasan Usia .................................................................................. 10

3. Perkembangan Kognitif Remaja .................................................... 10

4. Perkembangan Sosial dan Emosional Remaja ............................... 14

5. Tugas Perkembangan Remaja ........................................................ 20

B. Kenakalan Remaja ................................................................................ 21

1. Pengertian ...................................................................................... 21

2. Faktor Penyebab Kenakalan Remaja ............................................. 22

3. Bentuk Kenakalan Remaja............................................................. 32

C. Self Regulated Learning ........................................................................ 36

1. Pengertian ...................................................................................... 36

2. Proses Self Regulated Learning ..................................................... 36

3. Aspek-aspek Self Regulated Learning ........................................... 39

4. Faktor-faktor yang Memengaruhi Self Regulated Learning .......... 41

D. Dinamika Hubungan Self Regulated Learning dengan Kenakalan

Remaja…………………………………………………………… ....... 44

E. Hipotesis ............................................................................................... 48

F. Kerangka Berpikir ................................................................................. 49

BAB III METODE PENELITIAN...................................................................... 50

A. Jenis Penelitian...................................................................................... 50

B. Identifikasi Variabel Penelitian............................................................. 50

xiii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

C. Definisi Operasional ............................................................................. 50

1. Self Regulated Learning................................................................. 50

2. Kenakalan Remaja ......................................................................... 51

D. Subjek Penelitian..................................................................................... 51

E. Metode dan Alat Pengambilan Data ....................................................... 52

F. Uji Coba Alat Ukur ................................................................................. 54

G. Validitas dan Reliabilitas ........................................................................ 54

1. Validitas ......................................................................................... 54

2. Seleksi Item.................................................................................... 55

3. Uji Reliabilitas ............................................................................... 58

H. Metode Analisis Data .............................................................................. 59

1. Uji Asumsi ........................................................................................ 59

1.1 Uji Normalitas ........................................................................... 59

1.2 Uji Linearitas ............................................................................. 59

2. Uji Hipotesis ..................................................................................... 60

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................... 61

A. Pelaksanaan Penelitian ............................................................................ 61

B. Deskripsi Subjek ..................................................................................... 61

C. Deskripsi Data Penelitian ........................................................................ 61

D. Analisis Data Penelitian .......................................................................... 63

1. Uji Asumsi ........................................................................................ 63

a. Uji Normalitas ............................................................................. 63

b. Uji Linearitas ............................................................................... 64

xiv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2. Uji Hipotesis ..................................................................................... 65

E. Pembahasan ............................................................................................. 66

BAB V KESIMPULAN ...................................................................................... 71

A. Kesimpulan ............................................................................................. 71

B. Keterbatasan Penelitian ........................................................................... 71

C. Saran ........................................................................................................ 72

1. Bagi Pihak Sekolah .......................................................................... 72

2. Bagi Subjek Penelitian ..................................................................... 72

3. Bagi Penelitian Selanjutnya ............................................................. 73

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 74

xv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Skor Jawaban ............................................................................... 52

Tabel 2 Proporsi Self Regulated Learning Sebelum Uji Coba ................. 53

Tabel 3 Proporsi Kenakalan Remaja Sebelum Uji Coba .......................... 54

Tabel 4 Proporsi Self Regulated Learning Setelah Uji Coba ................... 57

Tabel 5 Proporsi Kenakalan Remaja Setelah Uji Coba ............................ 58

Tabel 6 Identitas Subjek ........................................................................... 61

Tabel 7 Data Penelitian............................................................................. 62

Tabel 8 Hasil Uji Normalitas .................................................................... 63

Tabel 9 Uji Linearitas Data Self Regulated Learning dengan Kenakalan

Remaja ......................................................................................... 64

Tabel 10 Kriteria Koefiensi Kolerasi.......................................................... 65

Tabel 11 Uji Hipotesis ................................................................................ 66

xvi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Hasil Reliabilitas dan Seleksi Item ........................................... 78

Lampiran 2 Skala Final ................................................................................ 84

Lampiran 3 Hasil Uji Beda Mean (Uji-t) ..................................................... 92

Lampiran 4 Hasil Uji Normalitas ................................................................. 94

Lampiran 5 Hasil Uji Linearitas................................................................... 96

Lampiran 6 Uji Hipotesis ............................................................................. 98

Lampiran 7 Blueprint Rancangan Item Skala Regulasi Diri........................ 100

Lampiran 8 Blueprint Rancangan Item Skala Kenakalan Remaja ............... 104

Lampiran 9 Blueprint Skala Regulasi Diri ................................................... 107

Lampiran 10 Blueprint Skala Kenakalan Remaja .......................................... 111

xvii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

xviii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Fase remaja adalah fase perantara dari anak-anak menuju dewasa.

Santrock (2003) mendefinisikan masa remaja sebagai periode transisi

perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa yang

melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional.

Fase remaja dimulai sekitar usia 10 hingga 13 tahun dan berakhir pada usia

18 hingga 22 tahun. Pada fase remaja, biasanya seorang anak akan mengalami

suatu perubahan. Perubahan tersebut bukan hanya dari fisik namun juga dari

psikologisnya. Pada masa transisi ini kemungkinan dapat menimbulkan masa

krisis yang ditandai dengan kecenderungan munculnya kenakalan pada

remaja.

Menurut Santrock (2003) kenakalan remaja (juvenile delinquency)

mengacu pada suatu rentang yang luas, dari tingkah laku yang tidak dapat

diterima secara sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal.

Masalah kenakalan remaja bukan suatu yang timbul dalam lingkup yang

kecil, tetapi hampir terjadi baik di kota-kota besar maupun di kota-kota kecil.

Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan,

Ujung Pandang, tidak sedikit remaja yang melakukan tindakan yang

melanggar norma-norma sosial. Mereka tidak mau mengikuti aturan.

Melanggar aturan justru merupakan kebanggaan tersendiri diantara

kelompoknya (Dariyo, 2004).

1
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Berdasarkan data dari Mabes Polri dalam penyajian data informasi

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Republik Indonesia pada

tahun 2009, tingkat gangguan keamanan dan ketertiban nasional (Kamtibnas)

pelaku kecelakaan lalu lintas (Laka Lantas) berdasarkan laporan dari Mabes

Polri tahun 2008 memperlihatkan tingkat yang cukup memprihatinkan, yaitu

pelaku Laka Lantas profesi mahasiswa/pelajar menduduki peringkat ke dua

dengan jumlah pelaku sebesar 12.298 kejadian di bawah urutan profesi lain-

lain sebesar 37.764 kejadian. Begitu pula dengan kenakalan remaja yang

terjadi di Indonesia tercatat kenakalan remaja tertinggi tercatat di Provinsi

Jawa Barat sebesar 10 kejadian diikuti Provinsi Sulawesi Utara dan Sulawesi

Tenggara masing-masing sebesar 9 dan 4 kejadian. Selain itu gambaran

pelaku kriminalitas tahun 2008 ditandai kekhawatiran dengan meningkatnya

jumlah pelaku tindak kriminalitas yang masih berusia anak-anak dan remaja.

Terungkap pada tahun 2008 berdasarkan laporan Polri secara keseluruhan,

jumlah anak-anak dan remaja pelaku tindak kriminalitas sebanyak 3.280

orang, yang terdiri dari laki-laki sebanyak 2.797 orang dan perempuan

sebanyak 483 orang, meningkat sebesar 4,3 persen dibandingkan tahun 2007

yang sebesar 3.145 orang.

Kenakalan remaja mulai menjelma menjadi satu tindakan kriminal.

Seperti yang terjadi di Jakarta seorang anak berusia 15 tahun kedapatan

membawa parang saat hendak tawuran (Muchlisa Choiriah, 2016). Selain itu

kenakalan juga terjadi di Bandung. Seperti penuturan Kapolrestabes

Bandung, Kombes Angesta Romano Yoyol tingkat konsumsi minuman keras


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

di wilayahnya mengkhawatirkan. Sebab, dia kerap menemukan banyak anak-

anak menjadi peminum miras hingga mabuk, dan berkeliaran di jalanan pada

akhir pekan (Aryo Putranto Saptohutomo & Andrian Salam Wiyono, 2015).

Bali pun tak luput dari perilaku nakal remaja. Sebuah video perkelahian

dua gadis yang diunggah di media sosial Facebook membuat heboh netizen

(pengguna internet) hingga menjadi perbincangan hangat di kalangan

masyarakat (NIV & REZ, 2016). Setelah itu berselang sehari pasca video dua

gadis Bali berkelahi yang menjadi viral di media sosial Facebook, muncul

lagi video serupa yang diduga dilakukan oleh pelajar di Kota Denpasar.

Adalah video perkelahian berujung pengeroyokan oleh sejumlah pelajar pria

mengenakan seragam SMA terhadap seorang pelajar yang mengenakan

seragam serba putih (NVI & REZ, 2016).

Kenakalan remaja juga terjadi di Sekolah SMP Kristen 1 Harapan

Denpasar. Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan terhadap

pihak sekolah pada tanggal 10 hingga 15 Agustus 2015, peneliti mendapati

bahwa ada cukup banyak siswa yang datang terlambat ke sekolah, membolos

pada saat jam pelajaran berlangsung, dan tidak pekerjaan rumah (PR). Hasil

wawancara dengan pihak sekolah, beberapa siswa yang datang terlambat

sebagian mengaku disebabkan karena jalan macet, sebagian lagi disebabkan

karena orangtua terlambat mengantar mereka ke sekolah. Sedangkan siswa

yang kedapatan membolos pada saat jam pelajaran berlangsung disebabkan

karena mereka merasa bosan dan jenuh berada di kelas, biasanya mereka

pergi ke kantin untuk menghilangkan rasa bosan dan jenuhnya. Siswa juga
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

seringkali tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dengan berbagai alasan,

seperti lupa, soal terlalu sulit, dan memang malas mengerjakannya. Pihak

sekolah merasa jika para siswa kurang memiliki rasa tanggungjawab terhadap

tugas yang diberikan. Sebenarnya pihak sekolah sudah memiliki peraturan

yang harus ditaati oleh siswa, namun terkadang siswa mengabaikannya.

Pihak sekolah sudah melakukan tindakan untuk mengendalikan masalah

ini. Tindakan yang dilakukan oleh sekolah ialah memanggil dan menegur

siswa yang melakukan pelanggaran, menghukum siswa dengan

membersihkan toilet sekolah, memasang cctv dibeberapa sudut sekolah untuk

memantau kegiatan siswa, bahkan hingga memanggil orangtua siswa untuk

mengadakan pertemuan membahas kenakalan siswa, namun tidak semua

orangtua bersedia datang ke sekolah.

Jensen (dalam Sarwono, 2005) mengkategorikan kenakalan remaja ke

dalam empat kategori, yaitu kenakalan remaja yang menimbulkan korban

fisik pada orang lain, seperti perkelahian, perkosaan, perampokan,

pembunuhan dan lain-lain; kenakalan remaja yang menimbulkan korban

materi, seperti perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan dan lain-lain;

kenakalan remaja sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak lain, seperti

pelacuran dan penyalahgunaan obat; kenakalan remaja yang melawan status

misalnya mengingkari status sebagai pelajar dengan cara membolos,

mengingkari status orangtua dengan cara minggat dari rumah. Berdasarkan

empat kategori kenakalan remaja yang ada, maka diduga kenakalan remaja

yang dilakukan oleh siswa SMP Kristen Harapan 1 Denpasar termasuk


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

kenakalan remaja yang melawan status, yaitu datang terlambat ke sekolah,

membolos pada saat jam pelajaran berlangsung, dan tidak pekerjaan rumah

(PR).

Perilaku ketidakdisiplinan siswa di sekolah juga menjadi salah satu

bentuk kenakalan pada remaja yang melawan status. Hal ini sejalan dengan

penelitian Sutrisno (2009) yang mengatakan bahwa remaja kebanyakan

berperilaku sebagai siswa yang tidak disiplin. Hal ini ditunjukan oleh perilaku

remaja sehari-hari di sekolah, seperti membolos, datang terlambat, melalaikan

tugas, catatan tidak lengkap, tidak berseragam lengkap, malas mengikuti

pelajaran, acuh tak acuh pada jam pelajaran, merokok, tidak sopan,

mempengaruhi teman untuk melanggar disiplin, nongkrong di kantin.

Ketika remaja tidak disiplin, maka ia membutuhkan strategi belajar.

Salah satu strategi belajar yang diperlukan oleh remaja adalah self regulated

learning (SRL). Self regulated learning dapat didefinisikan sebagai suatu

proses di mana pelajar melakukan strategi dengan meregulasi kognisi,

metakognisi, dan motivasi. Straregi kognisi meliputi usaha mengingat

kembali dan melatih materi terus-menerus, elaborasi, dan strategi

mengorganisir materi. Strategi metakognisi meliputi merencanakan,

memonitor, dan mengevaluasi. Strategi motivasional meliputi nilai belajar

sebagai kebutuhan diri atau sisi intrinsik, melakukan penghargaan terhadap

diri sendiri, dan tetap bertahan ketika menghadapi kesulitan (Chin, 2004

dalam Kristiyani, 2016).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Remaja yang tidak mampu mengembangkan self regulated learning

dengan baik memiliki kecenderungan melakukan kenakalan. Hal ini

berdasarkan pada hasil observasi dan wawancara, di mana beberapa siswa

datang terlambat. Datang terlambat merupakan salah satu bentuk self

regulated learning yang rendah, terutama dalam strategi metakognisi. Strategi

metakognisi yang rendah dalam hal memonitor. Oleh karena hal tersebut,

maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Hubungan self

regulated learning dengan kenakalan remaja”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan di atas maka

diperoleh rumusan permasalahan, di antaranya mengenai “bagaimana

hubungan self regulated learning terhadap kenakalan remaja”. Untuk

menjawab rumusan masalah tersebut maka peneliti ingin melakukan

penelitian dengan mengambil judul “Hubungan Self Regulated Learning

dengan Kenakalan Remaja di SMP Kristen Harapan I Denpasar”.

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah

untuk mengetahui bagaimana hubungan self regulated learning dengan

kenakalan remaja.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memperoleh hasil dan memberikan

manfaat antara lain:

1. Manfaat Teoretis

Hasil penelitian diharapkan dapat menambah wawasan dan

pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan self regulated learning dan

kenakalan remaja di sekolah. Khusunya bagi psikologi perkembangan

dan psikologi sosial agar dapat lebih memahami bagaimana hubungan

self regulated learning terhadap kenakalan remaja. Penelitian ini juga

diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah bagi perkembangan

ilmu psikologi.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi remaja

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran

mengenai bagaimana self regulated learning yang baik, sehingga

dapat mengurangi perilaku kenakalan.

b. Bagi sekolah

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan

mendapatkan informasi tentang self regulated learning pada remaja,

sehingga dapat menekan perilaku kenakalan pada remaja di sekolah.

c. Bagi peneliti lain

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan atau data

awal untuk melakukan penelitian selanjutnya khususnya mengenai


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

kenakalan remaja, baik menggunakan variabel-variabel lain ataupun

menyempurnakan kekurangan yang terdapat pada penelitian ini.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Remaja

1. Pengertian

Santrock & Adelar (2003) mengatakan bahwa remaja (adolescence)

dapat diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak

dan masa dewasa yang mencangkup perubahan biologis, kognitif, dan

sosial-emosional. Fase remaja dimulai sekitar usia 10 hingga 13 tahun

dan berakhir pada usia 18 hingga 22 tahun. Pada fase remaja, biasanya

seorang anak akan mengalami suatu perubahan. Perubahan tersebut

bukan hanya dari fisik namun juga dari psikologisnya. Berk (2007)

mengatakan bahwa masa remaja adalah periode transisi antara masa

kanak-kanak dan dewasa. Para teoretikus awal memandang masa remaja

sebagai periode kekacauan dan ketertekanan biologis atau sepenuhnya

dipengaruhi oleh lingkungan sosial.

Perjalanan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa ditandai oleh

periode transisional panjang yang dikenal dengan masa remaja. Masa

remaja secara umum dianggap dimulai dengan pubertas, proses yang

mengarah kepada kematangan seksual. Masa remaja dimulai pada usia 11

atau 12 sampai masa remaja akhir atau awal usia dua puluhan, dan masa

tersebut membawa perubahan besar saling betautan dalam semua ranah

perkembangan (Papalia, 2008).

9
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

10

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa remaja

ialah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa.

2. Batasan Usia

Menurut Santrock (2003) fase remaja dimulai sekitar usia 10 tahun

hingga 13 tahun dan berakhir pada usia 18 hingga 22 tahun. Ia juga

membagi fase remaja menjadi dua, yaitu masa remaja awal menunjuk

kira-kira sama dengan masa sekolah menengah pertama dan mencangkup

kebanyakan perubahan pubertas, dan masa remaja akhir menunjuk kira-

kira setelah usia 15 tahun.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa batasan usia remaja

ialah mereka yang berusia 10 tahun hingga 13 tahun dan berakhir pada

usia 18 hingga 22 tahun. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil

batasan usia remaja dari usia 11 hingga 15 tahun.

3. Perkembangan Kognitif Remaja

Menurut Piaget (dalam Berk, 2007) di sekitar usia 11 tahun remaja

memasuki tahap operasional formal, sebuah tahap di mana mereka

mengembangkan kemampuan berpikir abstrak, sistematis, dan ilmiah.

Papalia (2008) mengatakan bahwa perkembangan ini memberikan cara

baru yang lebih fleksibel kepada mereka untuk mengolah informasi.

Mereka dapat menggunakan simbol untuk menyimbol, mereka dapat

menghargai lebih baik metafora dan alegori sehingga bisa menemukan


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

11

makna yang lebih dalam. Mereka dapat berpikir dalam rangka apa yang

mungkin akan terjadi, bukan hanya apa yang terjadi. Mereka dapat

membayangkan kemungkinan dan dapat meyusun dan menguji hipotesis.

Selain itu, mereka juga dapat mengintegerasikan apa yang telah mereka

pelajari dengan tantangan di masa mendatang dan membuat rencana

untuk masa datang.

Piaget (dalam Berk, 2007) percaya bahwa di masa remaja, anak

muda pertama-tama mampu melakukan penalaran hipotetis-deduktif.

Ketika dihadapkan pada masalah, mereka mulai membuat hipotesis atau

prediksi tentang variabel-variabel yang mungkin mempengaruhi sebuah

hasil yang kemudian menjadi dasar mereka menarik kesimpulan logis

dan teruji. Selanjutnya, mereka secara sistematis akan memisahkan dan

menggabungkan variabel-variabel untuk melihat kesimpulan.

Perkembangan kognitif remaja ditandai dengan pemikirannya yang

lebih abstrak, idealistis, dan logis daripada saat masih anak-anak. Piaget

meyakini munculnya suatu bentuk egosentrisme baru di mana remaja

sulit membedakan antara perspektif sendiri dan perspektif orang lain.

Piaget mengatakan bahwa di sini muncul dua citra keliru tentang

hubungan antara diri dan orang lain (Berk, 2007). Egosentrisme remaja

menggambarkan meningkatnya kesadaran diri remaja yang terwujud

pada keyakinan mereka bahwa orang lain memiliki perhatian amat besar,

sebesar perhatian mereka terhadap diri mereka dan terhadap perasaan

akan keunikan pribadi mereka (Santrock, 2003).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

12

David Elkind, 1978 (dalam Santrock, 2003) yakin bahwa

egosentrisme remaja dapat dibagi mejadi atas dua jenis berpikir sosial,

yaitu penonton imajiner (imaginary audience) dan dongeng pribadi

(personal fable). Penonton imajiner menggambarkan peningkatan

kesadaran remaja yang tampil pada keyakinan mereka bahwa orang lain

memiliki perhatian yang amat besar terhadap diri mereka, sebesar

perhatian mereka sendiri. Gejala penonton imajiner mencakup berbagai

perilaku untuk mendapatkan perhatian, keinginan agar kehadirannya

diperhatikan, disadari oleh orang lain, dan menjadi pusat perhatian.

Remaja ingin menghindari perilaku yang “salah” di mata orang lain,

terutama teman-temannya. Sehingga membuat mereka berperilaku

berlebihan agar diterima oleh teman-temannya baik cara berbicara,

berpakaian, dan berperilaku. Apabila remaja berada di tempat yang

“salah”, memiliki teman kelompok yang “nakal” maka ia cenderung

berbuat sesuai dengan ideologi kelompoknya tersebut tanpa merasa

bahwa ia akan mempertanggung jawabkan seluruh perbuatannya sendiri.

Dongeng pribadi memunculkan adanya anggapan kalau dirinya

mempunyai kebebalan terhadap hal-hal yang bersifat negatif dan

cenderung merugikan. Sedangkan dongeng pribadi adalah bagian

egosentrisme remaja berkenaan dengan perasaan keunikan pribadi yang

dimilikinya. Bahwa segala peristiwa, kejadian atau pengalaman buruk

mungkin terjadi pada orang lain, tetapi hal itu tidak mungkin terjadi pada

dirinya.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

13

Remaja menjalankan tugas-tugas kognitif secara lebih efektif

daripada sebelumnya. Akan tetapi dalam pengambilan keputusan sehari-

hari, mereka kerap kali berpikir tidak rasional. Remaja tidak

mengidentifikasi pro dan kontra mengenai setiap alternatif, menilai

kemungkinan berbagi hasil, mengevalusai pilihan mereka berdasarkan

pertimbangan apakah tujuan mereka terpenuhi dan jika tidak, belajar dari

kesalahan dan mengambil keputusan yang lebih baik di masa depan

(Berk, 2007). Selain itu, Jacobs & Klaczynski (2002, dalam Berk, 2007)

mengemukakan bahwa dalam mengambil keputusan, remaja lebih sering

daripada orang dewasa (yang juga mengalami kesulitan) beralih pada

putusan intuitif. Hal itu dikarenakan dalam banyak jenis pengalaman,

mereka belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk memprediksi

hasil-hasil yang mungkin muncul. Mereka juga menghadapi banyak

situasi kompleks yang melibatkan tujuan-tujuan yang saling bersaing. Di

samping itu, remaja jugaa sering merasa kewalahan ketika dihadapkan

dengan banyak sekali pilihan.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa remaja

akan mengalami perkembangan kognitif, yaitu muncul suatu bentuk

egosentrisme baru di mana remaja sulit membedakan antara perspektif

sendiri dan perspektif orang lain. Elkind membagi menjadi dua jenis

berpikir sosial, yaitu penonton imajiner (imaginary audience) dan

dongeng pribadi (personal fable). Dalam hal ini remaja memiliki

kencederungan untuk ingin diperhatikan oleh orang lain dan menjadi


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

14

pusat perhatian. Selain itu, remaja juga memiliki anggapan kalau dirinya

mempunyai kekebalan terhadap hal-hal yang bersifat negatif. Dalam

penelitian ini, peneliti mengambil teori Elkind.

4. Perkembangan Sosial dan Emosional Remaja

Masa remaja merupakan masa peluang sekaligus resiko. Para remaja

berada diantara kehidupan cinta, pekerjaan, dan partisipasi dalam

masyarakat dewasa. Belum lagi masa remaja adalah masa di mana para

remaja terlibat dalam perilaku yang penyempitan pandangan dan

membatasi pilihan mereka. Pencarian identitas sebagai konsepsi tentang

diri, penentuan tujuan, nilai, dan keyakinan yang dipegang teguh oleh

seorang remaja (Papalia, 2008).

Menurut Erikson (1968, dalam Papalia, 2008) tugas utama masa

remaja adalah memecahkan “krisis” identitas versus kebingungan

identitas, untuk dapat menjadi orang dewasa unik dengan pemahaman

akan diri yang utuh dan memahami peran nilai dalam masyarakat. Kroger

(1993, dalam Papalia, 2008) mengatakan bahwa remaja tidak membentuk

identitas mereka dengan meniru orang lain, sebagaimana yang dilakukan

anak yang lebih muda, tetapi dengan memodifikasi dan menyintensis

identifikasi lebih awal ke dalam struktur psikologi baru yang lebih besar.

Remaja juga dapat menunjukkan kebingungan dengan mundur ke masa

kanak-kanak untuk menghindari pemecahan konflik atau dengan


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

15

melibatkan diri mereka secara impulsif ke dalam serangkaian tindakan

buruk.

Erikson (1982, dalam Papalia, 2008) mengatakan bahwa remaja

yang berhasil mengatasi krisis tersebut dengan memuaskan

mengembangkan “moral” kesetiaan: mempertahankan loyalitas,

keyakinan atau perasaan dimiliki oleh yang tercinta atau kepada teman.

Kesetiaan dapat berarti identifikasi serangkaian nilai, ideologi, agama,

gerakan politik, pencarian kreatif, atau kelompok. Indentifikasi diri

muncul ketika anak muda lebih memilih nilai dan orang tempat dia

memberikan loyalitasnya, bukan sekedar mengikuti pilihan orang

tuanya. Kesetiaan merupakan perpanjangan dari rasa percaya (trust).

Pada masa bayi, mempercayai orangtua merupakan hal yang penting

untuk menekan ketidakpercayaan, pada masa remaja merupakan hal yang

penting untuk mempercayai diri sendiri.

Fuligni, Eccles, Barber, & Clement (2001, dalam Papalia, 2008)

mengatakan bahwa ketika remaja mendapatkan otonomi dan

mengembangkan hubungan keluarga yang lebih dewasa, para remaja

terus merujuk orangtua mereka demi kenyamanan, dukungan, dan saran.

Laursen, Coy, & Collins (1998, dalam Papalia, 2008) mengemukakan

bahwa konflik keluarga paling sering terjadi pada awal masa remaja

ketika emosi negatif mencapai puncaknya akan tetapi konflik semakin

intens pada pertengahan masa remaja.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

16

Fuligni & Eccles (1993, dalam Papalia, 2008) mengatakan bahwa

gaya pengasuhan yang sangat ketat dan otoriter mungkin tidak lagi sesuai

ketika anak memasuki masa remaja dan ingin diperlakukan lebih dewasa.

Ketika orangtua tidak menyesuaikan diri, seorang remaja mungkin

menolak pengaruh orangtua dan mencari dukungan serta persetujuan

teman sebaya, apapun risikonya.

Orangtua otoritatif akan bersikap tegas terhadap nilai penting

peraturan, norma, dan nilai tetapi bersedia mendengar, menjelaskan dan

bernegoisasi (Lamborn, Mounts, Steinberg, & Dornbusch, 1991, dalam

Papalia, 2008). Mereka melatih kontrol yang tepat terhadap perilaku anak

tetapi tidak mengatur pemahaman eksistensi diri sang anak (Steinberg &

Darling, 1994, dalam Papalia, 2008). Orangtua yang menunjukan

ketidaksetujuan kesalahan perilaku remaja akan lebih efektif memotivasi

mereka untuk berperilaku yang benar ketimbang orangtua yang

menghukum mereka dengan kejam (Krevans & Gibbs, 1996, dalam

Papalia, 2008).

Sekolah menawarkan peluang untuk belajar informasi, menguasai

keterampilan baru, dan menajamkan keterampilan yang sudah ada,

berpartisipasi dalam olahraga, seni dan aktivitas lain, mengeksporasi

pilihan pekerjaan, dan tempat berkumpul bersama teman. Sekolah juga

meluaskan horison intelektual dan sosial. Walaupun demikian, sebagian

remaja merasakan sekolah bukan sebagai peluang tetapi sebagai

rintangan di jalan menuju masa dewasa (Papalia, 2008). Linney &


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

17

Seidman (1989, dalam Papalia, 2008) mengungkapkan bahwa kualitas

sekolah sangat mempengaruhi prestasi sekolah siswa. Sekolah yang

bagus memiliki atmosfer yang teratur dan tidak oppressive; kepala

sekolah yang aktif dan energik; dan guru yang berpatisipasi dalam

pengambilan keputusan.

Remaja yang melewati perubangan fisik yang cepat mendapatkan

kenyamanan dengan bersama orang lain yang juga sedang melewati

perubahan yang sama. Penentangan remaja terhadap standar orang

dewasa dan otoritas orangtua menguatkankannya untuk merujuk pada

masukan dari teman yang berada di posisi yang sama. Kelompok teman

sebaya merupakan sumber afeksi, simpati, pemahaman, dan panduan

moral, tempat bereksperimen, dan setting untuk mendapatkan otonomi

dan independensi dari orangtua. Kelompok tersebut merupakan tempat

membentuk hubungan intim yang berfungsi sebagai “latihan” bagi

intimasi orang dewasa (Gecas & Seff, 1990; Buhrmester, 1996; Laursen,

1996, dalam Papalia, 2008).

Pengaruh teman sebaya mencapai puncaknya pada awal masa

remaja, biasanya pada usia 12 sampai 13 tahun dan menurun pada masa

remaja pertengahan serta akhir. Keterikatan kepada teman sebaya pada

masa remaja awal tidak menghasilkan masalah kecuali apabila

keterikatan tersebut terlalu kuat sampai si remaja bersedia melanggar

aturan rumah, tidak mengerjakan tugas sekolah, dan tidak


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

18

mengembangkan bakatnya sebagai usaha mendapat pengakuan teman

sebaya dan popularitas (Fuligni et al., 2001, dalam Papalia, 2008).

Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan

emosi yang tinggi. Pertumbuhan fisik, terutama organ-organ seksual

mempengaruhi berkembangnya emosi atau perasaan-perasaan dan

dorongan-dorongan baru yang dialami sebelumnya, seperti perasaan

cinta, rindu, dan keinginan untuk berkenalan lebih intim dengan lawan

jenis. Namun demikian kadang-kadang orang masih dapat mengontrol

keadaan dirinya sehingga emosi yang dialami tidak tercetus keluar

dengan perubahan atau tanda-tanda perilaku tersebut. Hal ini berkaitan

dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ekman dan Friesen (dalam

Walgito, 2003) yang dikenal dengan display rules, yaitu masking,

modulation, dan simulation. Masking adalah keadaan seseorang yang

dapat menyembunyikan atau dapat menutupi emosi alaminya. Emosi

yang dialaminya tidak tercetus keluar melalui ekspresi tingkah laku.

Contoh dari sikap masking tersebut adalah menutupi kesedihan,

mengendalikan amarah, tidak menampakkan kebahagiaannya.

Modulation adalah orang tidak dapat meredam secara tuntas mengenai

gejala kejasmaniannya, tetapi hanya dapat menguranginya. Contoh dari

sikap modulation adalah bersikap biasa jika keadaan jengkel, bersikap

cuek. Simulation adalah orang tidak mengalami emosi, tetapi ia seolah-

olah mengalami emosi dengan menampakkan gejala-gejala


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

19

kejasmaniannya. Contoh dari sikap simulation adalah sering

memberontak, meledakkan amarahnya, egois, bertindak kasar.

Menurut Gunarsa & Gunarsa (1981) mengatakan bahwa remaja

cenderung untuk menggabungkan diri dalam kelompok teman sebaya.

Kelompok sosial yang baru ini merupakan tempat yang aman bagi

mereka. Pengaruh kelompok ini bagi kehidupan mereka juga sangat kuat,

bahkan seringkali melebihi pengaruh keluarga. Kelompok remaja bersifat

positif dalam hal memberikan kesempatan yang luas bagi remaja untuk

melatih cara mereka bersikap, bertingkah laku dan melakukan hubungan

sosial. Namun, kelompok ini juga dapat bersifat negatif bila ikatan antar

mereka menjadi sangat kuat sehingga kelakuan mereka menjadi

overacting dan energi mereka disalurkan ke tujuan yang bersifat

merusak. Pada masa ini, juga berkembang sikap “conformity”, yaitu

kecenderungan untuk menyerah atau mengikuti opini, pendapat, nilai,

kebiasaan, kegemaran, atau keinginan orang lain. Peer group,

pembentukan kelompok membuat kelompok-kelompok yang sama

dengan karakteristik dirinya ingin menonjolkan kelompok mereka.

Keinginan untuk bisa sama dengan yang lain dan bisa diterima oleh suatu

kelompok cukup tinggi. Maka, tidak heran jika terkadang remaja akan

bersedia melakukan apapun selama ia bisa diterima oleh kelompok

tersebut. Karena bagi sebagian orang, mereka yang akan dikucilkan oleh

kelompok merupakan hal yang dapat menyebabkan stress, frustasi, dan

rasa sedih (Santrock, 2003).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

20

Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan

emosi yang tinggi. Mencapai kematangan emosional merupakan tugas

perkembangan yang sangat sulit bagi remaja. Proses pencapaiannya

sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial-emosional lingkungannya,

terutama lingkungan keluarga dan kelompok teman sebaya. Dalam

menghadapi ketidanyamanan emosional tersebut, tidak sedikit remaja

yang mereaksinya secara defensif, sebagai upaya untuk melindungi

kelemahan dirinya (Hurlock, 1955).

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa gaya

pengasuhan otoritatif baik pada masa remaja. Selain itu, kualitas sekolah

juga memperngaruhi prestasi siswa. Pada masa remaja, remaja memiliki

kecenderungan untuk menggabungkan diri pada kelompok teman

sebayanya. Dalam penelitian ini, peneliti ingin memfokuskan pada

remaja memiliki kecenderungan untuk menggabungkan diri pada

kelompok teman sebayanya.

5. Tugas Perkembangan Remaja

Menurut Havighurst (dalam Yusuf, 2006), remaja mempunyai tugas

perkembangan sebagai berikut:

a. Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman

sebaya, baik pria maupun wanita.

b. Mencapai peran sosial pria dan wanita.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

21

c. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara

efektif.

d. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung

jawab.

e. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang-orang

dewasa lainnya.

f. Mempersiapkan karier ekonomi.

g. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga.

h. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk

berperilaku mengembangkan ideologi.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tugas

perkembangan remaja ialah mencapai hubungan baru dan yang lebih

matang dengan teman sebaya, mencapai peran sosial, menerima keadaan

fisiknya, mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab, mandiri

secara emosional, mempersiapkan karir ekonomi, mempersiapkan

perkawinan dan keluarga, memperoleh nilai dan sistem etis sebagai

pegangan dalam mengembangkan ideologi. Dalam penelitian ini, peneliti

membatasi tugas perkembangan remaja pada mencapai hubungan baru

dan lebih matang dengan teman sebaya, serta mencapai perilaku sosial

yang bertanggung jawab.

B. Kenakalan Remaja

1. Pengertian
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

22

M. Gold dan J. Petronio (dalam Sarwono, 2005) mendifinisikan

penyimpangan perilaku remaja dalam arti kenakalan anak sebagai

tindakan oleh seorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar

hukum dan yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatannya

itu sempat diketahui oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukuman.

Menurut Santrock (2003) kenakalan remaja (juvenile delinquency)

mengacu pada suatu rentang yang luas, dari tingkah laku yang tidak

dapat diterima secara sosial (misalnya bersikap berlebihan di sekolah)

sampai pelanggaran status (seperti melarikan diri) hingga tindak kriminal

(misalnya pencurian).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kenakalan

remaja adalah suatu hal yang mengacu pada suatu rentang yang luas, dari

tingkah laku yang tidak dapat diterima secara sosial (misalnya bersikap

berlebihan di sekolah) sampai pelanggaran status (seperti melarikan diri)

hingga tindak kriminal (misalnya pencurian).

2. Faktor Penyebab Kenakalan Remaja

Remaja yang melakukan kenakalan pada umumnya kurang memiliki

kontrol diri atau justru menyalahgunakan kontrol diri tersebut dan suka

menegakan standar tingkah laku sendiri, disamping meremehkan

keberadaan orang lain. Kenakalan yang mereka lakukan itu pada

umumnya disertai unsur-unsur mental dengan motif-motif subjektif, yaitu

untuk mencapai satu obyek tertentu dengan disertai kekerasan dan agresi.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

23

Pada umumnya anak-anak muda tadi sangat egoistis, dan suka sekali

menyalahgunakan atau melebih-lebihkan harga dirinya (Kartono, 2007).

Berdasarkan penelitian Murtiyani (2011) pola asuh otoriter yang mana

orangtua tidak pernah berunding kepada anaknya untuk menentukan

peraturan dan orangtua memaksakan peraturan yang dibuatnya untuk

anak dapat menjadi salah satu faktor kenakalan remaja. Orangtua

menentukan peraturan pada anak dan tidak pernah melihat apakah anak

bersedia dan mau mengikuti apa yang telah dibuat oleh orangtua. Hal ini

memungkinkan remaja atau anak tidak diberi keempatan untuk bebas

bahkan menentang orangtua karena orangtua sangat mengekang remaja

atau anak, menyebabkan anak jarang keluar rumah atau jarang

berkomunikasi dengan dunia luar sehingga pada kemudian hari anak

akan mersa menikmati dunia luar dengan bebas.

Philip Graham (dalam Sarwono, 2005) mendasarkan teorinya pada

pengamatan empiris dari sudut kesehatan mental anak dan remaja. Ia

membagi faktor-faktor penyebab itu kedalam dua golongan, yaitu:

a. Faktor lingkungan:

1) Malnutrisi (kekurangan gizi).

2) Kemiskinan di kota- kota.

3) Gangguan di kota-kota besar.

4) Migrasi (urbanisasi, pengungsian karena perang, dan lain-lain).

5) Faktor sekolah (kesalahan mendidik, faktor kurikulum, dan lain-

lain).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

24

6) Keluarga yang tercerai-berai (perceraian, perpisahan yang

terlalu lama, dan lain-lain).

7) Gangguan dalam pengasuhan oleh keluarga:

i. Kematian orangtua.

ii. Orangtua sakit berat atau cacat.

iii. Hubungan antar keluarga tidak harmonis.

iv. Orangtua sakit jiwa.

v. Kesulitan dalam pengasuhan karena pengangguran,

kesulitan keuangan, tempat tinggal tidak memenuhi syarat-

syarat, dan lain-lain.

b. Faktor pribadi:

1) Faktor bakat yang mempengaruhi temperamen (menjadi

pemarah, hiperaktif, dan lain-lain)

2) Cacat tubuh

3) Ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri

Santrock (2007) menyebutkan ada beberapa faktor penyebab

kenakalan remaja, antara lain:

a. Identitas

Menurut teori perkembangan yang dikemukakan oleh Erik

Erikson (1968, dalam Santrock, 2007), masa remaja ada pada tahap

di mana krisis identitas versus difusi identitas harus diatasi. Erikson

percaya bahwa perubahan biologis berupa pubertas menjadi awal

dari perubahan yang terjadi bersamaan dalam harapan sosial yang


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

25

dimiliki keluarga, teman sebaya, dan sekolah terhadap remaja.

Perubahan biologis dan sosial memungkinkan terjadinya dua bentuk

integrasi terjadi pada kepribadian remaja, yaitu pertama

terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya dan

kedua tercapainya identitas peran, kurang lebih dengan cara

menggabungkan motivasi, nilai-nilai, kemampuan, dan gaya yang

dimiliki remaja dengan peran yang dituntut dari remaja.

Erikson percaya bahwa kenakalan terutama ditandai dengan

kegagalan remaja untuk mencapai integrasi yang kedua, yang

melibatkan berbagai aspek-aspek peran identitas. Remaja yang

memiliki masa balita, masa kanak-kanak, atau masa remaja yang

membatasi mereka dari berbagai peranan sosial yang dapat diterima

atau yang membuat mereka merasa bahwa mereka tidak mampu

mematuhi aturan yang dibebankan pada mereka mungkin akan

memilih perkembangan identitas yang negatif. Oleh karena itu, bagi

Erikson, kenakalan adalah suatu upaya untuk membentuk suatu

identitas, walaupun identias tersebut negatif.

b. Kontrol diri

Kenakalan remaja juga dapat digambarkan sebagai kegagalan

untuk mengembangkan kontrol diri yang cukup dalam hal tingkah

laku. Beberapa anak gagal dalam mengembangkan kontrol yang

esensial yang sudah dimiliki orang lain selama proses pertumbuhan.

Kebanyakan orang muda telah memperlajari perbedaan antara


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

26

tingkah laku yang dapat diterima dan tingkah laku yang tidak dapat

diterima, namun remaja yang melakukan kenakalan tidak mengenali

hal ini. Mereka mungkin gagal membedakan tingkah laku yang dapat

diterima dan yang tidak dapat diterima, atau mungkin sebenarnya

mereka sudah mengetahui perbedaan antara keduanya namun gagal

mengembangkan kontrol yang memadai dalam menggunakan

perbedaan itu untuk membimbing tingkah laku mereka. Oleh karena

itu, untuk memahami kenakalan remaja, kita haru menkaji berbagai

aspek yang berbeda dalam perkembangan kontrol diri, sebagai

contoh penundaan pemenuhan kebutuhan dan standar tingkah laku

yang ditentukan sendiri. Kegagalan menunda pemenuhan suatu

kebutuhan berhubungan dengan tingkah laku mencontek/curang dan

ketiadaan tanggung jawab sosial.

Remaja pelaku kenakalan juga mungkin saja mengembangkan

standar tingkah laku yang tidak memadai. Remaja yang melakukan

tindakan antisosial memerlukan pemikiran kritis terhadap dirinya

sendiri agar bisa meghambat kecenderungan untuk melakukan

tindakan yang melanggar hukum. Standar kritis terhadap diri sendiri

ini sangat dipengaruhi oleh model peran yang dimiliki oleh remaja.

Oleh sebab itu, remaja yang memiliki orangtua, guru, dan teman

sebaya yang menunjukan adanya standar kritis terhadap diri sendiri

biasanya mengambangkan kontrol diri yang diperlukan untuk

menahan diri dari tindakan melanggar hukum atau antisosial.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

27

Konsekuensi yang diharapkan muncul akibat suatu tindakan

negatif juga berpengaruh pada keputusan remaja untuk melakukan

atau menjauhi kenakalan. Bila remaja mengharapkan suatu

penghargaan atau reward atas kenakalannya, mereka akan cenderung

melakukan tindakan antisosial dibandingkan bila mereka

berpendapat bahwa kenakalan akan menghasilkan hukuman.

Apakah seorang remaja akan melakukan tindak kenakalan juga

diperngaruhi oleh kompetisi yang telah ia capai dalam berbagai

aspek kehidupan yang berbeda-beda. Orang-orang yang berprestasi

baik, aktif berpatisipasi di berbagai klub yang diterima oleh

masyarakat, atau memiliki kemampuan dibidang atletik cenderung

akan mengembangkan cara pandang yang positif terhadap diri

mereka sendiri dan menerima reinforcement atau penguat dari orang

lain karena tingkah laku mereka yang prososial. Namun demikian,

kebanyakan remaja yang melakukan kenakalan tidak banyak

memiliki kemampuan dalam berbagai kompetisi yang dapat

meningkatkan cara pandangnya terhadap dirinya sendiri. Tingkah

laku antisosial menjadi satu cara di mana mereka bisa menunjukan

kompetisi diri dan menerima penguatan dari lingkungan yang juga

terdiri dari pelaku kenakalan (Kazdin, 1995, dalam Santrock, 2007).

c. Proses keluarga

Terganggunya atau ketiadaan penerapan pemberian dukungan

keluarga dan praktek manajemen oleh orangtua secara konsisten


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

28

berhubungan dengan tingkah laku antisosial oleh anak-anak remaja

(Rosenbaum, 1989; Novy, et al., 1992; Moran, Chang, & Pettit,

1994, dalam Santrock, 2007). Selain itu, Offord & Boyle (1988,

dalam Santrock, 2007) mengatakan bahwa dukungan keluarga dan

praktek manajaeman seperti ini meliputi pengawasan keberadaaan

remaja, menerapkan disiplin yang efektif bagi tingkah laku

antisosial, menerapkan keterampilan pemecahan masalah yang

efektif, dan mendukung berkembanganya keterampilan prososial.

Orangtua yang memiliki remaja pelaku kenakalan biasanya tidak

terlatih untuk bersikap tidak mendukung tingkah laku antisosial

daripada orangtua yang memiliki remaja yang tidak melakukan

kenakalan. Pengawasan orangtua terhadap remaja terutama penting

dalam menentukan apakah remaja akan melakukan kenakalan atau

tidak. Perselisihan dalam keluarga serta penerapan disiplin yang

tidak konsisten dan tidak sesuai juga berhubungan dengan

kenakalan.

d. Kelas sosial/komunitas

McCord (1990, dalam Santrock, 2007) berpendapat bahwa

norma yang berlaku di antara teman-teman sebaya dan geng dari

kelas sosial yang lebih rendah adalah antisosial dan berlawanan

dengan tujuan dan norma masyarakat secara meluas. Terlibat dalam

suatu masalah atau menghindari masalah mejadi ciri yang mencolok

dalam kehidupan beberapa remaja yang datang dari kelas sosial yang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

29

lebih rendah (Miller, 1958, dalam Santrock 2007). Status dalam

kelompok teman sebaya dapat ditentukan dari seberapa sering

seorang remaja melakukan tindakan anti sosial dan tetap tidak

dipenjara. Karena remaja dari kelas sosial yang lebih rendah

memiliki kesempatan yang lebih terbatas untuk mengembangkan

keterampilan yang diterima oleh masyarakat, mereka mungkin saja

merasa bahwa bisa mendapatkan perhatian dan status dengan cara

melakukan tindakan antisosial.

Chesney-Lind (1989) dan Fegueira & McDonough (1992)

(dalam Santrock, 2007) menyatakan bahwa komunitas juga dapat

berperan serta dalam munculnya kenakalan. Masyarakat dengan

tingkat kriminalitas yang tinggi memungkinkan remaja mengamati

berbagai model yang melakukan aktivitas kriminal dan memperoleh

hasil dari atau penghargaan atas aktivitas kriminal mereka.

Masyarakat seperti ini sering kali ditandai dengan kemiskinan,

pengangguran, dan perasaan terisisih dari kaum kelas menengah.

Kualitas sekolah, pendanaan pendidikan, dan aktivitas lingkungan

yang terorganisir adalah faktor-faktor lain dalam masyarakat yang

juga berhubungan dengan kenakalan remaja. Bila dukungan keluarga

tidak memadai, maka dukungan dari masyarakat seperti ini akan

menjadi suatu hal yang penting dalam mencegah kenakalan.

Laird et al., 2005 (dalam Berk, 2007) mengatakan bahwa

tempramen, kecerdasan rendah, kinerja buruk di sekolah, penolakan


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

30

teman sebaya di masa kecil, dan hubungan dengan teman antisosial

terkait dengan kenakalan remaja. Salah satu temuan Capaldi et al., (2002)

dan Barnes et al., (2006) (dalam Berk, 2007) tentang remaja nakal adalah

keluarga mereka tidak hangat, penuh konflik, dan ditandai dengan

disiplin kasar dan tidak konsisten serta pengawasan rendah. Farrington,

(2004, dalam Berk, 2007) mengemukakan bahwa oleh karena transisi

pernikahan kerap kali menyebabkan perselisihan keluarga dan

tanggungunya pengasuhan, anak laki-laki yang mengalami perpisahan

dan perceraian orangtua sangat rentan menjadi remaja nakal.

Pengasuhan yang tidak efektif dapat menumbuhkan dan menopang

agresi anak. Dibanding anak perempuan, anak laki-laki lebih cenderung

menjadi sasaran amarah dan disiplin tidak konsisten karena mereka lebih

aktif dan implusif dan dengan demikian sulit dikendalikan. Bila anak-

anak memiliki karakteristik ini dengan sangat parah dan kemudian

mengalami pengasuhan tidak layak dan secara emosional negatif, agresi

meningkat selama masa kanak-kanak, mengakibatkan tindakan kekerasan

di masa remaja, dan tetap bertahan hingga masa dewasa (Berk, 2007).

Krevans & Gibbs (1996) dan Staub (1996) (dalam Papalia, 2008)

mengemukakan bahwa pada tahun-tahun awal, orangtua mulai

membentuk perilaku prososial atau antisosial dengan memenuhi

kebutuhan emosional dasar sang anak. Orangtua dari anak dengan

kenakalan kronis biasanya gagal menegakkan perilaku yang baik pada

awal masa kanak-kanak dan bersikap keras atau tidak konsisten, atau
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

31

kedua-duanya, dalam hal menghukum perilaku yang tidak patut.

Beberapa tahun kemudian orangtua tipe ini biasanya tidak terlibat secara

rapat dan positif dalam kehidupan anak mereka (G. R. Patterson,

DeBaryshe, & Ramsey, 1998, dalam Papalia, 2008). Anak-anak mungkin

mendapatkan imbalan dari perilaku antisosialnya ketika mereka

tertangkap, mereka mendapatkan perhatian atau menemukan jalan

mereka sendiri (Papalia, 2008).

Simons, Chao, et al. (2001, dalam Papalia, 2008) mengatakan bahwa

anak-anak “bermasalah” ini terus menerus mendapatkan pengasuhan

yang tidak efektif, yang sering kali mengarah kepada perilaku nakal pada

masa remaja dan berteman dengan teman sebaya yang berperilaku

menyimpang. Selain itu, Neiderhiser, Reiss, et al. (1999, dalam Papalia,

2008) menambahkan bahwa remaja antisosial cenderung memiliki

konflik dengan orangtua, yang biasanya disebabkan oleh faktor genetik.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kenakalan

dapat dikatakan sebagai upaya untuk membentuk suatu identitas

walaupun identitas tersebut negatif. Selain identitas, kontrol diri juga

menjadi faktor kenakalan remaja di mana mereka gagal mengembangkan

kontrol diri dalam hal tingkah laku mereka. Proses keluarga menjadi

faktor kenakalan remaja yang cukup besar. Hal ini meliputi ketidakadaan

penerapan dukungan keluarga dan praktek manajemen oleh orangtua

secara konsisten, kurangnya pengawasan terhadap keberadaan remaja,

dan menerapkan disiplin yang efektif. Keluarga yang tidak hangat dan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

32

penuh konflik dapat meyebabkan remaja melakukan perilaku nakal.

Kelas sosial/komunitas juga menjadi penyumbang faktor kenakalan

remaja. Kelas sosial yang rendah cenderung melakukan kenakalan karena

mereka memiliki kesempatan yang terbatas untuk mengembangkan

keterampilan mereka yang dapat diterima di masyarakat. Dalam

penelitian ini, peneliti membatasi faktor kenakalan remaja dalam hal

kontrol diri dan proses keluarga.

3. Bentuk Kenakalan Remaja

Jensen (1985, dalam Sarwono, 2005) membagi kenakalan menjadi

empat jenis. Pertama, kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada

orang lain, seperti perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan,

dan lain-lain. Kedua, kenakalan yang menimbulkan korban materi,

seperti perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan, dan lain-lain.

Ketiga, kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang

lain, seperti pelacuran, penyalahgunaan obat. Di Indonesia mungkin

dapat juga dimasukan hubungan seks sebelum menikah dalam jenis ini.

Keempat, kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status

anak sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orangtua

dengan cara minggat dari rumah atau membantah perintah mereka dan

sebagainya. Pada usia mereka, perilaku-perilaku mereka memang belum

melanggar hukum dalam arti yang sesungguhnya karena yang dilanggar


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

33

adalah status-status dalam lingkung primer (keluarga) dan sekunder

(sekolah) yang memang tidak diatur oleh hukum secara terinci.

Delinkuen merupakan produk konstitusi mental serta emosi yang

sangat labil dan defektif, sebagai akibat dari proses pengkondisian

lingkungan buruk terhadap pribadi anak, yang dilakukan oleh anak muda

tanggung usia, puber, dan adolesens (Kartono, 2007).

Adler (1952, dalam Kartono, 2007) menjabarkan bentuk-bentuk

perilaku delinkuen sebagai berikut:

a. Kebut-kebutan di jalanan yang mengganggu keamanan lalu lintas,

dan membahayakan jiwa sendiri serta orang lain.

b. Perilaku ugal-ugalan, berandalan, urakan, yang mengacaukan

ketentraman sekitar. Tingkah ini bersumber pada kelebihan energi

dan dorongan primitif yang tidak terkendali serta kesukaan menteror

lingkungan.

c. Perkelahian antar gang, antar kelompok, antar sekolah, antar suku

(tawuran), sehingga kadang-kadang membawa korban jiwa.

d. Membolos sekolah lalu bergelandangan sepanjang jalan, atau

bersembunyi di tempat-tempat terpencil sambil melakukan

eksperimen bermacam-macam kedurjanaan dan tindakan asusila.

e. Kriminalitas anak remaja seperti perbuatan mengancam, memeras,

mencuri dan pelanggaran lainnya.

f. Berpesta-pora, sambil mabuk-mabukan, melakukan hubungan seks

bebas.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

34

g. Perkosaan, agresivitas seksual, dan pembunuhan dengan motif

seksual.

h. Kecanduan dan ketagihan bahan narkotika (obat bius; drugs) yang

erat bergandengan dengan tindak kejahatan.

i. Perjudian dan bentuk-bentuk permainan lain dengan taruhan

sehingga mengakibatkan ekses kriminalitas.

j. Penyimpangan tingkah-tingkah laku disebabkan oleh kerusakan pada

karakter anak yang menuntut kompensasi, disebabkan adanya organ-

organ yang inferior.

Mulyono (1995) mengatakan bahwa pada dasarnya perilaku

kenakalan dapat di golongkan menjadi dua golongan, di antaranya

adalah:

a. Kenakalan remaja yang tidak digolongkan pada pelanggaran hukum,

antara lain:

1) Berbohong, memutar balikkan kenyataan dengan tujuan menipu

orang atau menutupi kesalahan.

2) Membolos, pergi meninggalkan sekolah tanpa sepengetahuan

pihak sekolah.

3) Kabur, meninggalkan rumah tanpa ijin orangtua atau menentang

keinginan orangtua.

4) Keluyuran, pergi sendiri maupun berkelompok tanpa tujuan, dan

mudah menimbulkan perbuatan iseng yang negatif.

5) Memiliki dan membawa benda yang membahayakan orang lain.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

35

6) Bergaul dengan teman yang berpengaruh buruk.

7) Berpesta pora semalam suntuk tanpa pengawasan.

8) Membaca buku-buku porno, melihat film porno dan kebiasaan

menggunakan bahasa yang tidak sopan.

9) Berpakaian tidak pantas.

b. Kenakalan remaja yang tergolong pelanggaran hukum, antara lain:

1) Berjudi dengan menggunakan uang dan taruhan dengan benda

lain.

2) Mencuri, mencopet, menjambret, merampas dengan atau tanpa

kekerasan.

3) Minum-minuman keras atau menghisap ganja sehingga merusak

diri.

4) Penggelapan barang.

5) Turut dalam pelacuran atau melacurkan diri baik dengan tujuan

kesulitan ekonomi maupun yang lainnya.

6) Penipuan dan pemalsuan.

7) Pelanggaran tata susila, menjual gambar-gambar porno,

pemerkosaan.

8) Tindakan-tindakan antisosial: perbuatan yang merugikan orang

lain.

9) Menyebabkan kematian orang lain, percobaan pembunuhan dan

turut dalam pembunuhan.

10) Pengguguran kandungan.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

36

11) Penganiayaan berat.

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas bahwa untuk

mendefinisikan bentuk perilaku kenakalan merupakan hal yang sulit

apakah tingkah laku seorang remaja semata-mata merupakan kenakalan

remaja atau hanya merupakan kelainan tingkah laku sesuai dengan tahap

perkembangan. Maka dalam hal ini peneliti membatasi bentuk perilaku

kenakalan yang dibagi menjadi dua golongan, yaitu kenakalan yang tidak

digolongkan pada pelanggaran hukum dan kebakalan yang tergolong

pelanggaran hukum.

C. Self Regulated Learning

1. Pengertian

Self regulated learning didefinisikan sebagai suatu proses di mana

pelajar melakukan strategi dengan meregulasi kognisi, metakognisi, dan

motivasi. Straregi kognisi meliputi usaha mengingat kembali dan melatih

materi terus-menerus, elaborasi, dan strategi mengorganisir materi.

Strategi metakognisi meliputi merencanakan, memonitor, dan

mengevaluasi. Strategi motivasional meliputi nilai belajar sebagai

kebutuhan diri atau sisi intrinsik, melakukan penghargaan terhadap diri

sendiri, dan tetap bertahan ketika menghadapi kesulitan (Chin, 2004,

dalam Kristiyani, 2016).

2. Proses Self Regulated Learning


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

37

Proses self regulated learning dilakukan agar seseorang atau

individu dapat mencapai tujuan yang diharapkannya. Dalam mencapai

suatu tujuan yang diharapkan seseorang perlu mengetahui kemampuan

fisik, kognitif, sosial, dan pengendalian emosi yang baik sehingga

membawa seseorang kepada regulasi diri yang baik. Miller & Brown

(dalam Neal & Carey, 2005) memformulasikan sebanyak tujuh tahap,

yaitu:

a. Receiving atau menerima informasi yang relevan, yaitu langkah awal

individu dalam menerima informasi dari berbagai sumber. Dengan

informasi-informasi tersebut, individu dapat mengetahui karakter

yang lebih khusus dari suatu masalah. Seperti kemungkinan adanya

hubungan dengan aspek lainnya.

b. Evaluating atau mengevaluasi. Setelah kita mendapatkan informasi,

langkah berikutnya adalah menyadari seberapa besar masalah

tersebut. Dalam proses evaluasi diri, individu menganalisis informasi

dengan membandingkan suatu masalah yang terdeteksi di luar diri

(eksternal) dengan pendapat pribadi (internal) yang tercipta dari

pengalaman yang sebelumnya yang serupa. Pendapat itu didasari

oleh harapan yang ideal yang diperoleh dari pengembangan individu

sepanjang hidupnya yang termasuk dalam proses pembelajaran.

c. Triggering atau membuat suatu perubahan. Sebagai akibat dari suatu

proses perbandingan dari hasil evaluasi sebelumnya, timbul perasaan

positif atau negatif. Individu menghindari sikap-sikap atau


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

38

pemikiran-pemikiran yang tidak sesuai dengan informasi yang

didapat dengan norma-norma yang ada. Semua reaksi yang ada pada

tahap ini yaitu disebut juga kecenderungan kearah perubahan.

d. Searching atau mencari solusi. Pada tahap sebelumnya proses

evaluasi menyebabkan reaksi-reaksi emosional dan sikap. Pada akhir

proses evaluasi tersebut menunjukkan pertentangan antara sikap

individu dalam memahami masalah. Pertentangan tersebut membuat

individu akhirnya menyadari beberapa jenis tindakan atau aksi untuk

mengurangi perbedaan yang terjadi. Kebutuhan untuk mengurangi

pertentangan dimulai dengan mencari jalan keluar dari permasalahan

yang dihadapi.

e. Formulating atau merancang suatu rencana, yaitu perencanaan

aspek-aspek pokok untuk meneruskan target atau tujuan seperti soal

waktu, aktivitas untuk pengembangan, tempat-tempat dan aspek

lainnya yang mampu mendukung efesien dan efektif.

f. Implementing atau menerapkan rencana, yaitu setelah semua

perencanaan telah teralisasi, berikutnya adalah secepatnya megarah

pada aksi-aksi atau melakukan tindakan-tindakan yang tepat yang

mengarah ke tujuan dan memodifikasi sikap sesuai dengan yang

diinginkan dalam proses.

g. Assessing atau mengukur efektivitas dari rencana yang telah dibuat.

Pengukuran ini dilakukan pada tahap akhir. Pengukuran tersebut

dapat membantu dalam menentukan dan menyadari apakah


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

39

perencanaan yang tidak direalisasikan itu sesuai dengan yang

diharapkan atau tidak serta apakah hasil yang didapat sesuai dengan

yang diharapkan.

Berdasarkan hasil uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa

proses self regulated learning terdiri dari receiving atau menerima,

evaluating atau mengevaluasi, triggering atau membuat suatu perubahan,

searching atau mencari solusi, formulating atau merancang suatu

rencana, implementing atau menerapkan rencana, assessing atau

mengukur efektivitas dari rencana yang telah dibuat.

3. Aspek-aspek Self Regulated Learning

Menurut Schunk dan Zimmerman (1998) menyatakan bahwa self

regulated learning mencakup tiga aspek, yaitu:

a. Metakognisi

Matlin (1998, dalam Schunk dan Zimmerman, 1998)

mengatakan bahwa metakognitif adalah pemahaman dan kesadaran

tentang proses kognitif atau pikiran tentang berpikir. Metakognitif

merupakan suatu proses penting. Hal ini disebabkan pengentahuan

seseorang tentang kognisinya dapat membimbing dirinya mengatur

atau menata peristiwa yang akan dihadapi dan memilih strategi yang

sesuai agar dapat meningkatkan kinerja kognitifnya ke depan. Hal

yang penting bagi individu yang melakukan regulasi diri adalah

kempampuan individu dalam merencanakan, mengorganisasi atau


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

40

mengatur, menginstruksikan diri, memonitor dan melakukan

evaluasi dalam aktivitas belajar.

b. Motivasi

Motivasi merupakan pendorong (drive) yang ada pada diri

individu yang mencakup persepsi terhadap efikasi diri, kompetensi

otonomi yang dimiliki dalam aktivitas belajar. Motivasi merupakan

fungsi dari kebutuhan dasar untuk mengontrol dan berkaitan dengan

perasaan kompetensi yang dimiliki setiap individu.

c. Perilaku

Perilaku merupakan upaya individu untuk mengatur diri,

menyeleksi, dan memanfaatkan lingkungan maupun menciptakan

lingkungan yang mendukung aktivitas belajar.

Berdasarkan penjelesan di atas dapat disimpulkan aspek self

regulated learning ialah metakognisi, motivasi, dan perilaku. Didalam

aspek metakognisi terdapat kempampuan individu dalam merencanakan,

mengorganisasi atau mengatur, menginstruksikan diri, memonitor dan

melakukan evaluasi dalam aktivitas belajar. Aspek motivasi mencakup

persepsi terhadap efikasi diri, kompetensi otonomi yang dimiliki dalam

aktivitas belajar. Motivasi merupakan fungsi dari kebutuhan dasar untuk

mengontrol dan berkaitan dengan perasaan kompetensi yang dimiliki

setiap individu. Aspek perilaku merupakan upaya individu untuk

mengatur diri, menyeleksi, dan memanfaatkan lingkungan maupun

menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas belajar. Dalam


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

41

penelitian ini, peneliti menggunakan aspek self regulated learning

sebagai dasar penelitian.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Self Regulated Learning

Menurut Zimmerman (1989, dalam Kristiyani, 2016), ada dua faktor

yang mempengaruhi perkembangan self regulated learning, yaitu:

a. Faktor internal

Berdasarkan perspektif kognitif, faktor-faktor internal yang

mempengaruhi perkembangan self regulated learning ialah pengaruh

personal dan pengaruh perilakuan. Pengaruh faktor personal

terhadap self regulated learning, yaitu pengetahuan siswa dapat

dibedakan menjadi pengetahuan deklaratif dan pengetahuan regulasi

diri. Pengetahuan deklaratif diorganisasikan berdasarkan struktur

verbal, urutan dan hirarkinya, sedangkan pengetahuan regulasi diri

berupa strategi belajar atau standar siswa. Proses metakognisi

meliputi perencanaan dan kontrol perilaku. Pembutan keputusan

metakognisi tergantung juga pada tujuan jangka panjang siswa.

Tujuan siswa dan penggunaan proses kontrol metakognitifnya secara

teoritis tergantung pada persepsi efikasi diri dan afeksi. Pengaruh

perilakuan terdiri dari tiga jenis respon siswa yang relevan dengan

self regulated learning, yaitu observasi diri, penilaian diri, dan reaksi

diri. Observasi diri merupakan respon siswa yang meliputi

pemantauan secara sistematis terhadap informasi mereka sendiri.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

42

Proses ini dapat menghasilkan informasi mengenai seberapa baik

seseorang mengalami kemajuan dalam mencapai tujuan. Observasi

diri dipengaruhi oleh beberapa proses personal seperti efikasi diri,

penetapan tujuan, dan perencanaan metakognisi. Penilaian diri

merupakan respon siswa yang meliputi secara sistematis

membandingkan performansinya dengan strandar atau tujuan yang

sudah ditetapkan, sedangkan reaksi diri meliputi beberapa proses diri

seperti penetapan tujuan, persepsi efikasi diri, dan perencanaan

metakognisi, di mana hubungan ketiganya bersifat timbal balik.

b. Faktor eksternal

Kendati bersifat individual, perkembangan self regulated

learning seorang siswa juga diperngaruhi oleh faktor-faktor di luar

dirinya. Faktor-faktor tersebut adalah faktor keluarga, faktor sekolah,

dan faktor teman sebaya. Pola asuh dan keterlibatan orangtua dalam

pendidikan terbukti mempengaruhi regulasi diri dalam bidang

akademik siswa. Pola asuh yang ideal dalam mendukung

perkembangan self regulated learning siswa adalah pola asuh

demokratis, sedangkan pola asuh permisif terbukti berkolerasi

negatif dengan regulasi diri di bidang akademik siswa. Pengasuhan

yang dilakukan oleh ayah dan ibu juga memiliki dampak yang

berbeda dalam jenis regulasi siswa. Keterlibatan orangtua dalam

pendidikan terbukti meningkatkan kemampuan regulasi siswa dalam

belajar (Abar, Carter, & Winsler, 2009, dalam Kristiyani, 2016).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

43

Dukungan orangtua juga sangat memengaruhi perkembangan self

regulated learning siswa. Semakin besar besar dukungan dari

orangtua yang dirasakan siswa, semakin besar pula kemungkinan

siswa tersebut melakukan belajar bedasar regulasi diri. Faktor

sekolah yang mempengaruhi self regulated learning adalah relasi

guru-siswa (Leutwyler & Merki, 2009, dalam Kristiyani, 2016),

dukungan otonomi guru (Leutwyler & Merki, 2009; Sierens, et al.,

2009, dalam Kristiyani, 2016), dan model pengajaran yang diberikan

guru (Vassallo, 2011, dalam Kristiyani, 2016). Guru memiliki

pengaruh besar pada perkembangan self regulated learning (Greene

& Azevedo, 2007, dalam Kristiyani, 2016). Dalam faktor teman

sabaya, Zimmerman dan Cleary (2006, dalam Kristiyani, 2016)

mengatakan bahwa pada masa remaja kepercayaan pada kemampuan

sendiri, yang merupakan bagian dari self regulated learning, sangat

dipengaruhi oleh perilaku atau umpan balik dari orang-orang penting

di sekitar siswa, seperti teman sebaya. Newman (2002, dalam

Kristiyani, 2016) menyatakan bahwa siswa yang memiliki self

regulated adalah siswa yang memiliki perasaan otonomi yang tinggi.

Tetapi hal ini bukan berarti mereka terisolasi dan tidak

membutuhkan bantuan orang lain, teman sebaya adalah orang-orang

yang dapat memanifestasikan kebutuhan ini.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa faktor self

regulated learning terbagi menjadi faktor internal dan faktor eksternal.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

44

Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan pada faktor internal, yaitu

pengaruh personal dan pengaruh perilakuan.

D. Dinamika Hubungan Self Regulated Learning dengan Kenakalan Remaja

Masa remaja adalah masa di mana seseorang lebih mementingkan

kehidupan sosialnya di luar ikatan sosialnya dalam keluarga, berpikir tentang

apa yang terjadi pada pikiran orang lain, emosi yang tinggi, serta mulai

melihat lebih dekat diri mereka sendiri untuk mendefinisikan bahwa diri

mereka berbeda. Mereka mudah menjadi tidak puas dengan diri mereka

sendiri, mengkritik sifat-sifat pribadi mereka, membandingkan diri mereka

dengan orang lain, dan mencoba mengubah seperti diri orang lain atau teman

lain. Pada fase remaja, biasanya seorang anak akan mengalami suatu

perubahan. Perubahan tersebut bukan hanya dari fisik namun juga dari

psikologisnya. Pada masa transisi ini kemungkinan dapat menimbulkan masa

krisis yang ditandai dengan kecenderungan munculnya kenakalan pada

remaja.

Menurut Santrock (2003) kenakalan remaja (juvenile delinquency)

mengacu pada suatu rentang yang luas, dari tingkah laku yang tidak dapat

diterima secara sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal. Perilaku

ketidakdisiplinan siswa di sekolah juga menjadi salah satu bentuk kenakalan

pada remaja yang melawan status. Hal ini sejalan dengan penelitian Sutrisno

(2009) yang mengatakan bahwa remaja kebanyakan berprilaku sebagai siswa

yang tidak disiplin. Hal ini ditunjukan oleh perilaku remaja sehari-hari di
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

45

sekolah, seperti membolos, datang terlambat, melalaikan tugas, catatan tidak

lengkap, tidak berseragam lengkap, malas mengikuti pelajaran, acuh tak acuh

pada jam pelajaran, merokok, tidak sopan, mempengaruhi teman untuk

melanggar disiplin, nongkrong di kantin.

Ketika remaja tidak disiplin, maka ia membutuhkan strategi belajar.

Salah satu strategi belajar yang diperlukan oleh remaja adalah self regulated

learning (SRL). Self regulated learning dapat didefinisikan sebagai suatu

proses di mana pelajar melakukan strategi dengan meregulasi kognisi,

metakognisi, dan motivasi. Straregi kognisi meliputi usaha mengingat

kembali dan melatih materi terus-menerus, elaborasi, dan strategi

mengorganisir materi. Strategi metakognisi meliputi merencanakan,

memonitor, dan mengevaluasi. Strategi motivasional meliputi nilai belajar

sebagai kebutuhan diri atau sisi intrinsik, melakukan penghargaan terhadap

diri sendiri, dan tetap bertahan ketika menghadapi kesulitan (Chin, 2004

dalam Kristiyani, 2016). Schunk dan Zimmerman (1998) mengatakan bahwa

self regulated learning yang terdiri dari tiga aspek, yaitu metakognitif,

motivasi, dan perilaku.

Pada aspek metakognitif, Matlin (1998) mengatakan bahwa metakognitif

adalah pemahaman dan kesadaran tentang proses kognitif atau pikiran tentang

berpikir. Metakognitif merupakan suatu proses penting. Hal ini disebabkan

pengentahuan seseorang tentang kognisinya dapat membimbing dirinya

mengatur atau menata peristiwa yang akan dihadapi dan memilih strategi

yang sesuai agar dapat meningkatkan kinerja kognitifnya ke depan.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

46

Sehubungan dengan itu, Zimmerman (1998) menyatakan bahwa hal yang

penting bagi individu yang melakukan regulasi diri adalah kempampuan

individu dalam merencanakan, mengorganisasi atau mengatur,

menginstruksikan diri, memonitor dan melakukan evaluasi dalam aktivitas

belajar. Apabila seorang remaja memiliki self regulated learning yang tinggi

akan maka ia mampu merencanakan kegiatan sehari-hari, mampu mengatur

diri, serta dapat memonitor kegiatannya, dan melakukan evaluasi

kegiatannya. Sebaliknya, apabila seorang remaja memiliki self regulated

learning yang rendah maka ia akan kesulitan untuk membuat suatu

perencanaan kegiatan sehari-hari, kesulitan mengatur diri, kesulitan

mengontrol kegiatannya, dan kesulitan dalam mengevaluasi kegiatan.

Pada aspek motivasi, Zimmerman (1998) mengatakan bahwa motivasi

merupakan pendorong (drive) yang ada pada diri individu yang mencakup

persepsi terhadap efikasi diri, kompetensi otonomi yang dimiliki dalam

aktivitas belajar. Motivasi merupakan fungsi dari kebutuhan dasar untuk

mengontrol dan berkaitan dengan perasaan kompetensi yang dimiliki setiap

individu. Apabila seorang remaja memiliki self regulated learning yang

tinggi maka ia merasa percaya bahwa dirinya mampu mengorganisasikan dan

memutuskan tindakan yang akan dilakukan dalam berbagai situasi. Selain itu,

ia mempunyai tujuan atau cita-cita yang ingin dicapai dengan melakukan

usaha tertentu. Sebaliknya, apabila seorang remaja memiliki self regulated

learning yang rendah maka ia akan merasa kurang percaya diri, ia tidak

memiliki tujuan atau cita-cita yang ingin dicapai.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

47

Pada aspek perilaku, Zimmerman dan Pons (1998) menyatakan bahwa

perilaku merupakan upaya individu untuk mengatur diri, menyeleksi, dan

memanfaatkan lingkungan maupun menciptakan lingkungan yang

mendukung aktivitas belajar. Apabila seorang remaja memiliki self regulated

learning yang tinggi maka ia mampu untuk melihat perilakunya sendiri

dengan memberikan perhatian atas kualitas pada perilaku yang sedang

dilakukannya. Selain itu, mereka juga mampu untuk mengevaluasi

perilakunya sendiri dengan membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Self regulated learning yang tinggi juga dapat dilihat dari bagaimana remaja

mampu untuk merespon secara postitif atau negatif perilakunya yang

bergantung pada standar personal dalam mengukur perilaku dengan

memberikan reward atau punishment. Apabila serorang remaja memiliki self

regulated learning yang rendah, maka ia merasa kurang mampu untuk

melakukan evaluasi diri dengan memberikan perhatian atas apa yang mereka

lakukan. Tambahan pula, remaja yang memiliki self regulated learning yang

rendah akan kesulitan merespon secara positif maupun negatif perilakunya.

Pada kenakalan remaja, self regulated learning memiliki pengaruh pada

remaja untuk mengatur diri, mengevaluasi diri, mengorganisasikan dan

memutuskan suatu tindakan, serta merespon secara positif maupun negatif

perilaku yang dilakukannya. Hal ini menentukan pengambilan keputusan

remaja untuk melakukan suatu tindakan. Remaja yang memiliki self regulated

learning yang tinggi akan mampu menyadari perilakunya dan mampu

mengatur dirinya sendiri, sehingga remaja dapat mengantisipasi terjadinya


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

48

kenakalan. Sebaliknya, remaja dengan tidak memiliki self regulated learning

yang baik cenderung kurang mampu menyadari perilakunya dan kurang

mampu mengatur dirinya sendiri, sehingga remaja melakukan kenakalan.

E. Hipotesis

Berdasdarkan uraian di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah ada

hubungan negatif antara self regulated learning dengan kenakalan remaja.

Apabila tingkat kecenderungan kenakalan tinggi, maka self regulated

learning rendah. Sebaliknya, jika tingkat kecenderungan kenakalan rendah,

maka self regulated learning tinggi.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

49

F. Kerangka Berpikir

Self Regulated Learning


(SRL)

Mampu mengatur strategi Kurang mampu mengatur


belajar strategi belajar

Kenakalan Rendah Kenakalan Tinggi

SRL Tinggi SLR Rendah


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitan kuantitatif dengan metode survei.

Penelitian survei digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang

populasi yang besar dengan menggunakan sampel yang relatif kecil. Desain

survey tergantung pada penggunaan jenis kuisoner (Creswell, 2012).

B. Indentifikasi Variabel Penelitian

1. Variabel bebas pada penelitian ini adalah self regulated learning.

2. Variabel terikat pada penelitian ini adalah kenakalan remaja.

C. Definisi Operasional

1. Self Regulated Learning

Self regulated learning didefinisikan sebagai suatu proses di mana

pelajar melakukan strategi dengan meregulasi kognisi, metakognisi, dan

motivasi. Self regulated learning memiliki tiga aspek, yaitu metakognisi,

motivasi, dan perilaku. Didalam aspek metakognisi terdapat

kempampuan individu dalam merencanakan, mengorganisasi atau

mengatur, menginstruksikan diri, memonitor dan melakukan evaluasi

dalam aktivitas belajar. Aspek motivasi mencakup persepsi terhadap

efikasi diri, kompetensi otonomi yang dimiliki dalam aktivitas belajar.

50
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

51

Motivasi merupakan fungsi dari kebutuhan dasar untuk mengontrol dan

berkaitan dengan perasaan kompetensi yang dimiliki setiap individu.

Aspek perilaku merupakan upaya individu untuk mengatur diri,

menyeleksi, dan memanfaatkan lingkungan maupun menciptakan

lingkungan yang mendukung aktivitas belajar.

2. Kenakalan remaja

Pada dasarnya prilaku kenakalan dapat di golongkan menjadi dua

golongan, yaitu kenakalan remaja yang tidak digolongkan pada

pelanggaran hukum dan kenakalan remaja yang tergolong pelanggaran

hukum.

D. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini diambil dengan teknik non probability

sampling, yaitu tidak semua anggota populasi memiliki kesempatan atau

pelurang yang sama untuk dipilih sebagai sampel (Siregar, 2013). Secara

khusus teknik pemilihan sampel yang digunakan adalah convenience

sampling. Menurut Somantri (2006) convenience sampling merupakan teknik

penarikan sampel yang dilakukan dengan alasan kemudahan atau kepraktisan

menurut peneliti.

Sasaran atau target dari penelitian ini ialah subjek merupakan siswa/siswi

Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan menempuh pendidikan di SMP

Kristen Harapan I Denpasar. Dengan jumlah sampel yang digunakan dalam

penelitian ini adalah sebesar 240 orang.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

52

E. Metode dan Alat Pengambilan Data

Metode yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini

adalah dalam bentuk skala, yaitu skala self regulated learning dan skala

kenakalan remaja.

Skala menggunakan metode summated rating yang merupakan

penskalaan model Likert. Model penskalaan ini merupakan metode

penskalaan sikap yang menggunakan distribusi respon sebagai dasar

penentuan nilai skalanya (Gable dalam Azwar, 2000).

Untuk melakukan penskalaan dengan metode ini, sejumlah pernyataan

sikap telah ditulis berdasarkan kaidah penulisan pernyataan dan didasarkan

pada rancangan skala yang telah ditetapkan. Subjek akan diminta untuk

menyatakan kesusuaian atau ketidaksesuaiannya terhadap isi pernyataan

dalam empat macam kategori jawaban, yaitu “sangat tidak setuju” (STS),

“tidak setuju” (TS), “setuju” (S), dan “sangat setuju” (SS). Rentang skor pada

setiap butir item adalah 1 sampai 4.

Tabel 1

Skor Jawaban

Pernyataan
Jawaban
Favorabel Unfavorable
STS (Sangat Tidak Setuju) 1 4
TS (Tidak Setuju) 2 3
S (Setuju) 3 2
SS (Sangat Setuju) 4 1
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

53

Skala self regulated learning terbagi dalam tiga aspek, yaitu aspek

metakognitif, aspek motivasi, dan aspek perilaku. Proporsi persebaran item

dalam setiap aspek dapat dilihat dalam tabel berikut ini.

Tabel 2

Proporsi Item pada Skala Self Regulated Learning Sebelum Uji Coba

Aspek Indikator Nomer Item Jumlah


F 2,12 4 item
Merencanakan
UF 9,10 (11.11%)
Mengorganisasi/ F 1,6 4 item
Metakognitif mengatur UF 3,11 (11.11%)
Menginstruksikan diri, F 7,8 4 item
memonitor &
UF 4,5 (11.11%)
melakukan evaluasi
Dorongan yang F 14,17,22 6 item
mencakup persepsi
UF 19,21,23 (16.67%)
Motivasi terhadap efikasi diri
F 13,16,20 6 item
Kompetensi otonomi
UF 15,18,24 (16.67%)
F 30,35 4 item
Mengatur diri
UF 25,28 (11.11%)
F 27,34 4 item
Menyeleksi
UF 29,33 (11.11%)
Perilaku
Menciptakan
F 26,36
lingkungan yang 4 item
mendukung aktivitas (11.11%)
UF 31,32
belajar
36
Jumlah
(100%)

Skala yang kedua adalah skala kenakalan remaja terdiri dari dua aspek,

yaitu kenakalan remaja yang tidak digolongkan pada pelanggaran hukum dan

kenakalan remaja yang tergolong pelanggaran hukum.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

54

Tabel 3

Proporsi Item pada Skala Kenakalan Remaja Sebelum Uji Coba

Aspek Nomer Item Jumlah


F 2,5,7,9,11,13,14
Tidak tergolong 14 item
pelanggaran hukum (50%)
UF 1,3,4,6,8,10,12

F 15,17,20,22,23,25,28
Tergolong 14 item
pelanggaran hukum (50%)
UF 16,18,19,21,24,26,27
28 item
Jumlah
(100%)

F. Uji Coba Alat Ukur

Sebelum melakukan penelitian, peneliti melakukan uji coba alat ukur.

Tujuannya adalah untuk menguji kesahihan alat ukur. Uji coba alat ukur

dilakukan pada Rabu, 26 Mei 2016 secara online. Lama proses uji coba alat

ukur adalah dua hari.

Jumlah subjek dalam uji coba alat ukur adalah 53 orang. Masing-masing

subjek diberi skala yang terdiri dari dua bagian, yaitu self regulated learning

(bagian I) dan kenakalan remaja (bagian II). Hasil yang diperoleh dari uji

coba ini adalah item-item yang memenuhi kriteria untuk menjadi alat ukur

yang sahih.

G. Validitas dan Reliabilitas

1. Validitas
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

55

Validitas adalah ketepatan dan kecermatan skala dalam menjalankan

fungsi ukurnya. Artinya, sejauh mana skala tersebut mampu mengukur

atribut yang akan diukur. Validitas yang digunakan peneliti adalah

validitas permukaan (face validity) yang dinyatakan berdasarkan format

penampilan tes, apabila penampilan tes telah menyakinkan dan

memberikan kesan mampu mengungkap atribut yang hendak diukur,

maka dapat dikatakan bahwa validitas muka telah terpenuhi. Kedua,

validitas yang bersifat logis (logical validity). Dalam validitas ini, setiap

aspek yang akan diungkapkan, ditetapkan lebih dahulu definisinya

sebagai pengukur apakah materi tiap item benar-benar tercakup di

dalamnya, maka jika item dipandang telah menampung materi didalam

definisi tertentu, berarti alat pengumpul data cukup valid (Hadari, 1985).

Validitas permukaan dan validitas logis dari skala ini diselidiki

dengan bantuan dosen pembimbing sebagai professional judgement

dengan cara melihat penampilan tes telah meyakinkan, memberikan

kesan mampu mengungkap atribut yang hendak diukur dan apakah item

dipandang telah menampung materi dalam definisi tertentu.

2. Seleksi Item

Seleksi item dilakukan setelah melakukan uji coba alat ukur. Seleksi

item dilakukan untuk melihat apakah item-item yang ada layak untuk

menjadi alat ukur penelitian atau tidak. Seleksi item dilakukan dengan

melihat corrected item-total correlation atau koefisiensi kolerasi item-


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

56

total (rix) yang dihitung menggunakan alat bantu program SPSS for

windows versi 16.

Berdasarkan koefisien korelasi item-toato bergerak dari nilai 0-1,00

dengan tanda positif dan negatif. Batasan kriteria seleksi item dengan

menggunakan koefisien korelasi item-total adalah rix ≥ 0,30. Oleh sebab

itu, item yang memiliki koefisien korelasi item-total lebih atau sama

dengan 0,30 dianggap memiliki daya diskriminasi yang baik. Sebaliknya

item yang memiliki koefisien korelasi item-total kurang dari 0,30

dianggap daya diskriminasinya rendah (Azwar, 2000).

Apabila item yang memiliki indeks diskriminasi ≥ 0,30 jumlahnya

melebihi jumlah item yang direncanakan untuk dijadikan skala, maka

kita dapat memilih item-item yang memiliki indeks daya diskriminasi

tertinggi. Sebaliknya apabila jumlah item yang lolos ternyata masih tidak

mencukupi jumlah yang di inginkan, kita dapat mempertimbangkan

untuk menurunkan sedikit batas kriteria 0,30 menjadi 0,25 misalnya

sehingga jumlah item yang di inginkan dapat tercapai. Apabila hal ini

tidak juga menolong, maka sangat mungkin kita harus merevisi seluruh

item-item baru sama sekali dan kemudian melakukan field testing

kembali karena menurunkan batas kriteria rix dibawah 0,20 sangat tidak

di sarankan (Azwar, 2000).

Berdasarkan analisis item pada skala self regulated learning didapat

25 item yang sahih dari 36 item yakni item 2, 3, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

57

13, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 25, 29, 31, 34, 35, dan 36. Dibawah ini

proporsi item yang sahih.

Tabel 4

Proporsi Item pada Skala Self Regulated Learning Setelah Uji Coba

Item yang
Aspek Indikator Nomer Item Jumlah
lolos
F 2,12 2 4 item
Merencanakan
UF 9,10 2 (16%)
Mengorganisasi/ F 6 1 3 item
Metakognitif mengatur UF 3,11 2 (12%)
Menginstruksikan F 7,8 2 3 item
diri, memonitor &
UF 5 1 (12%)
melakukan evaluasi
Dorongan yang F 17,22 2 5 item
mencakup persepsi
UF 19,21,23 3 (20%)
Motivasi terhadap efikasi diri
Kompetensi F 13,16,20 3 4 item
otonomi UF 18 1 (16%)
F 35 1 2 item
Mengatur diri
UF 25 1 (8%)
F 34 1 2 item
Menyeleksi
UF 29 1 (8%)
Perilaku
Menciptakan
F 36 1
lingkungan yang 2 item
mendukung aktivitas (8%)
UF 31 1
belajar
36
Jumlah
(100%)

Berdasarkan analisis item pada skala kenakalan remaja didapat 24

item yang sahih dari 28 item yakni item 1, 3, 4, 5, 6, 8, 9, 10, 11, 12, 13,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

58

14, 16, 17, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, dan 28. Di bawah ini

proporsi item yang sahih.

Tabel 5

Proporsi Item pada Skala Kenakalan Remaja Setelah Uji Coba

Aspek Nomer Item Item yang lolos Jumlah


Tidak tergolong F 5,9,11,13,14 5 12 item
pelanggaran hukum UF 1,3,4,6,8,10,12 7 (50%)

Tergolong F 17,20,22,23,25,28 6 12 item


pelanggaran hukum UF 16,19,21,24,26,27 6 (50%)
24 item
Jumlah
(100%)

3. Uji Reliabilitas

Reliabilitas merupakan konsistensi atau keterpercayaan hasil ukur

yang mengandung makna kecermatan suatu pengukuran (Azwar, 2000).

Alat ukur dianggap reliabel jika alat tersebut dapat mengukur gejala yang

sama dari waktu ke waktu dengan konsisten (Siregar, 2013). Koefisien

reliabilitas (rix) berada pada kisaran angka 0 sampai 1,00. Ketika

koefisien relibilitas semakin mendekati angka 1,00 maka semakin

reliabel pula alat ukurnya (Azwar, 2000). Uji reliabilitas dalam penelitian

ini menggunakan analisis pada nilai koefisien alpha cronbach. Alat ukur

dianggap reliabel ketika koefisien alpha cornbach menunjukan angka >

0,6 dan semakin baik ketika koefisien alpha cornbach mendekati 1,00

(Sujarweni & Endrayanto, 2012).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

59

Koefisien alpha cornbach dari skala self regulated learning setelah

uji coba adalah 0,758. Sedangkan koefien alpha cornbach dari skala

kenakalan remaja setelah uji coba adalah 0,807.

H. Metode Analisis Data

1. Uji Asumsi

Penelitian ini melakukan uji asumsi dengan tujuan untuk mengetahui

terpenuhi atau tidaknya korelasional yang digunakan untuk uji hipotesis.

Uji asumsi yang dilakukan adalah uji normalitas sebaran data dan

linearitas hubungan antar variabel.

1.1 Uji Normalitas

Penelitian ini melalukan uji normalitas dengan tujuan untuk

mengetahui apakah data penelitian berasal dari populasi yang

sebarannya normal. Hal ini dapat dilihat melalui data dengan nilai p

< 0,05 menunjukan bahwa data tersebut memiliki perbedaan yang

signifikan dengan data yang normal. Sebaliknya, apabila data yang

didapat memiliki nilai p > 0,05 menunjukan bahwa data tersebut

tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan data normal. Data

semacam ini yang merupakan data dengan sebaran yang normal

(Santoso, 2010). Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan

Komolgorov-Smirnov Test melalui SPSS for windows versi 16.

1.2 Uji Linearitas


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

60

Penelitian ini melaukan uji normalitas dengan maksud untuk

mengetahui hubungan antar kedua variabel yang hendak dianalisis

apakah mengikuti garis lurus atau tidak. peningkatan atau penurunan

ada suatu variable makan akan diikuti pula secara linear oleh

peningkatan atau penurunan kuantitas pada variabel lainnya

(Santoso, 2010). Pengujian linearitas dilakukan dengan uji linearitas

menggunakan alat bantu program SPSS for windows versi 16. Jika

data memenuhi syarat yaitu p < 0,05 maka data tersebut dapat

dikatakan linear.

2. Uji Hipotesis

Penelitian ini melakukan uji hipotesis dengan menggunakan korelasi

Product Moment Pearson untuk menguji hipotesis yang telah dijabarkan

sebelumnya, yaitu hubungan self regulated learning dengan kenakalan

remaja, apabila data yang dihasilkan berdistribusi normal. Sebaliknya,

apabila data yang dihasilkan berdistribusi tidak normal, maka pengujian

hipotesis dilakukan dengan menggunakan Sprearman Rho. Hal ini dapat

dilakukan karena teknik tersebut tidak mensyaratkan normalitas data

(Santoso, 2010). Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan program

SPSS for windows versi 16.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian dilakukan di SMPK. Harapan I Denpasar pada tanggal 11 Juni

2016. Pengambilan data untuk penelitian dilaksanakan di dalam ruang aula.

Sampel diambil secara acak dengan jumlah total subjek sebanyak 240 orang.

Proses pengambilan data penelitian dilakukan selama satu hari.

B. Deskripsi Subjek

Subjek penelitian adalah siswa kelas VII. Berdasdarkan hasil penyebaran

skala, didapatkan identitas subjek sebagai berikut:

Tabel 6
Identitas Subjek
Jumlah
No. Jenis Kelamin
Orang Persentase (%)
1 Laki-laki 102 42.5
2 Perempuan 138 57.5
Jumlah 240 100 %
Jumlah
No. Kelas
Orang Persentase (%)
1 A 26 10.8
2 B 1 0.4
3 G 30 12.5
4 H 37 15.4
5 I 35 14.6
6 J 40 16.7
7 K 28 11.7
8 L 43 17.9
Jumlah 240 100 %

61
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

62

C. Deskripsi Data Penelitian

Berikut ini data hasil penelitian yang dapat dilihat dalam tabel yang ada

dibawah ini:

Tabel 7
Data Penelitian

Skor Mean
Teoritis Empiris Sig.
Teoritis Empiris SD Hasil
Max Min Max Min Uji-t

62.5 77.88 6.653 0.000


SRL 100 25 94 58
Kenakalan 50 38.83 6.948 0.000
96 24 57 26
Remaja

Dari tabel data di atas diketahui self regulated learning subjek tergolong

tinggi. Hal ini dibuktikan dengan nilai mean empiriknya yaitu 77,88 yang

lebih tinggi dibandingkan nilai mean teoritiknya yaitu 62,5. Hasil uji t juga

menunjukan bahwa mean teoritik dan mean empirik self regulated learning

menunjukan taraf signifikansi yaitu p = 0,000 (p < 0,05) yang berarti bahwa

terdapat perbedaan yang signifikan. Standar deviasi self regulated learning

yaitu sebesar 6,653.

Berdasarkan tabel data di atas, dapat dilihat bahwa kenakalan subjek

tergolong rendah. Hal ini dibuktikan dengan nilai mean empiriknya yaitu

38,83 yang lebih rendah dibandingkan mean teoritiknya yaitu 50. Hasil uji t

juga menunjukan bahwa mean teoritik dan mean emprik kenakalan remaja

menunjukan taraf signifikansi yaitu p = 0,000 (p < 0,05) yang berarti bahwa
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

63

terdapat perbedaan yang signifikan. Standar deviasi kenakalan remaja yaitu

sebesar 6,948.

D. Analisis Data Penelitian

1. Uji Asumsi

a. Uji Normalitas

Uji normalitas merupakan analisis statistik yang pertama kali

dilakukan dalam rangka analisis data. Uji normalitas ini betujuan

untuk mengetahui apakah data self regulated learning dan kenakalan

remaja normal atau tidak. Uji normalitas dilakukan dengan

menggunakan program SPSS for windows versi 16.00 dengan

statistik uji explore. Pengambilan keputusan didasarkan pada besaran

probabilitas (p). Apabila p > 0.05 maka sebaran dikatakan normal,

namun sebaliknya jika p < 0.05 maka sebaran dikatakan tidak

normal.

Tabel 8

Hasil Uji Normalitas

Statistik Signifikansi Keterangan


SLR 0.058 0.929 Normal
Kenakalan Remaja 0.083 0.000 Tidak Normal

Berdasarkan hasil uji normalitas menunjukan bahwa variabel

self regulated learning memiliki taraf signifikansi sebesar 0,929 (p >

0,05). Hal ini menunjukan bahwa sebaran data pada variabel tersebut

memiliki data yang normal. Pada variabel kenakalan remaja


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

64

memiliki taraf signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Hal ini

menujukan bahwa sebaran data pada variabel tersebut memiliki data

yang tidak normal.

b. Uji Linearitas

Uji lineraritas dilakukan untuk mengetahui apakah hubungan

antara dua skor variabel self regulated learning dan kenakalan

remaja merupakan garis lurus atau tidak. Peningkatan atau

penurunan kuantitas pada suatu variabel maka akan diikuti pula

secara linear oleh peningkatan atau penurunan kuantitas pada

variabel lainnya (Santoso, 2010). Uji linearitas ini dilakukan dengan

melihat nilai p. Jika p < 0.05, maka data tersebut linear.

Tabel 9

Uji Linearitas Data Self Regulated Learning dengan

Kenakalan Remaja

F Sig.

Skor Self Regulated Learning dan (combined) 1.935 0.004


Kenakalan Remaja (between Linearity 27.467 0.000
groups) Deviation from
1.055 0.397
Linearity

Berdasarkan hasil pengujian tersebut, diperoleh nilai F sebesar

27,467 dengan taraf signifikansi sebesar 0,000. Hal ini menunjukan

bahwa terdapat hubungan yang linear antara self regulated learning

dengan kenakalan remaja karena memiliki nilai signifikansi lebih

kecil daripada 0,05.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

65

2. Uji Hipotesis

Penelitian ini melakukan uji hipotesis dengan menggunakan korelasi

Product-Moment Pearson untuk menguji hipotesis yang telah dijabarkan

sebelumnya, yaitu hubungan self regulated learning dan kenakalan

remaja, apabila data yang dihasilkan normal. Sebaliknya, apabila data

yang dihasilkan tidak normal, maka pengujian hipotesis dilakukan

dengan menggunakan Spearman Rho. Distribusi data dalam penelitian ini

bersifat tidak normal maka pengujian hipotesis dialakukan dengan

menggunakan Spearman Rho. Berikut merupakan kriteria koefisien

kolerasi menurut Sarwono (2006) yang digunakan dalam penelitian ini:

Tabel 10

Kriteria Koefiensi Kolerasi

Koefisien Kolerasi Kategori

0 Tidak Ada Kolerasi

0,00 – 0,25 Kolerasi Sangat Lemah

0,025 – 0,5 Kolerasi Cukup

0,5 – 0,75 Kolerasi Kuat

0,75 – 0,99 Kolerasi Sangat Kuat

1 Kolerasi Sempurna

Hasil uji korelasi antara self regulated learning dengan kenakalan

remaja adalah sebagai berikut:


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

66

Tabel 11

Uji Hipotesis

Korelasi p Sig. (1-tailed) r2


r = -0.302 < 0.05 0.000 0.091

Berdasarkan hasil pengujian dapat dilihat bahwa nilai pearson’s r

sebesar -0,302 dengan signifikan sebesar 0,000 (p < 0,05) yang diuji

menggunakan one-tailed test antara variabel self regulated learning dan

variabel kenakalan remaja. Berdasarkan hal ini maka dapat disimpulkan

bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan dengan kategori cukup

antara self regulated learning dan kenakalan remaja. Hal ini berarti

bahwa semakin tinggi self regulated learning, maka semakin rendah

perilaku kenakalan yang dilakukan oleh remaja. Begitu pula sebaliknya,

semakin rendah self regulated learning, maka semakin tinggi perilaku

nakal yang dilakukan oleh remaja.

E. Pembahasan

Penelitian ini dilakukan untuk meneliti hubungan antara self regulated

learning dengan kenakalan remaja. Pada uji korelasi antara self regulated

learning dan kenakalan remaja membuktikan bahwa terdapat hubungan

negatif yang signifikan dengan kategori cukup. Hal ini dapat dilihat melalui

hasil analisis data yang menunjukan koefisiensi korelasi r = -0,302 dengan

signifikansi 0,000 (p <0,5) yang diuji menggunakan one-tailed test. Hasil ini

menunjukan bahwa semakin tinggi self regulated learning, maka semakin


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

67

rendah perilaku kenakalan yang dilakukan oleh remaja. Begitu pula

sebaliknya, semakin rendah self regulated learning, maka semakin tinggi

perilaku nakal yang dilakukan oleh remaja. Hasil analisis ini membuktikan

bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima.

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan koefisiensi determinansi (r2)

sebesar 0.901 yang menunjukan bahwa self regulated learning memberi

sumbangan terhadap kecenderungan kenakalan remaja sebesar 9.01%. Hal ini

dapat disebabkan karena tingkat pendidikan yang belum cukup untuk

menangkap maksud item dalam kuesioner sehingga terjadi perbedaan

pemahaman oleh subjek. Selain itu, pemilihan kata atau kalimat pada

penulisan item kurang baik sehingga kurang dapat dipahami oleh subjek.

Sisanya sebesar 90.99% dipengaruhi oleh faktor lain. Santrock (2007)

mengatakan bahwa identitas, kontrol diri, proses keluarga, dan kelas sosial

dapat juga mempengaruhi kenakalan remaja.

Selain hal di atas, faktor lain yang mempengaruhi kenakalan remaja

dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Murtiyani (2011) di

RW V Kelurahan Sidokare Kecamatan Sidoarjo Kota, Kabupaten Sidoarjo

yang menemukan bahwa pola asuh berpengaruh terhadap kenakalan remaja,

yaitu pola asuh otoriter yang mana orangtua tidak pernah berunding kepada

anaknya untuk menentukan peraturan dan orangtua memaksakan peraturan

yang dibuatnya untuk anak. Dari pola asuh tersebut anak akan senantiasa

menuruti orangtua sewaktu dirumah dan anak akan melakukan suatu

kenakalan diluar rumah, karena anak beranggapan kalau dirinya bebas dan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

68

tidak ada yang mengaturnya di luar rumah. Anak akan melakukan suatu

perilaku menyimpang (kenakalan remaja) antara lain kebut-kebutan dijalan,

merokok, minum-minuman keras, dan lain sebagainya.

Selain itu, perilaku ketidakdisiplinan siswa di sekolah juga menjadi salah

satu faktor kenakalan pada remaja. Berdasarkan penelitian Sutrisno (2009)

yang mengatakan bahwa remaja kebanyakan berprilaku sebagai siswa yang

tidak disiplin. Hal ini ditunjukan oleh perilaku remaja sehari-hari di sekolah,

seperti membolos, datang terlambat, melalaikan tugas, catatan tidak lengkap,

tidak berseragam lengkap, malas mengikuti pelajaran, acuh tak acuh pada jam

pelajaran, merokok, tidak sopan, mempengaruhi teman untuk melanggar

disiplin, nongkrong di kantin. Hal ini sejalan dengan yang terjadi di Sekolah

SMPK 1 Harapan Denpasar. Berdasarkan observasi dan wawancara yang

dilakukan terhadap pihak sekolah, peneliti mendapati bahwa ada cukup

banyak siswa yang datang terlambat ke sekolah, membolos pada saat jam

pelajaran berlangsung, dan tidak pekerjaan rumah (PR). Sanksi sebagai usaha

menegakan disiplin di sekolah bukan merupakan pelanggaran hak asasi

manusia asalkan peraturan disiplin berserta sanksi sudah disosialisasikan

kepada siswa terlebih dahulu. Hal ini seiring dengan pihak sekolah yang telah

melakukan tindakan untuk mengendalikan masalah ini. Tindakan yang

dilakukan oleh sekolah ialah memanggil dan menegur siswa yang melakukan

pelanggaran, menghukum siswa dengan membersihkan toilet sekolah,

memasang cctv dibeberapa sudut sekolah untuk memantau kegiatan siswa,

bahkan hingga memanggil orangtua siswa untuk mengadakan pertemuan


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

69

membahas kenakalan siswa, namun tidak semua orangtua bersedia datang ke

sekolah. Tidak hanya itu, latar belakang mengapa siswa sering melakukan

pelanggaran disiplin di sekolah ditinjau dari konteks terjadinya perilaku siswa

tersebut berdasarkan penelitian Sutrisno (2009) ternyata disebabkan karena

mereka tidak bisa berkonsentrasi dalam belajar atau mengerjakan tugas-tugas

sekolah, sulit menangkap pelajaran, malas belajar, bosan dalam mengikuti

pelajaran, sulit memahami pelajaran, kesulitan belajar sendiri dirumah, dan

merasa kesulitan dalam mengatur waktu. Selain itu, di rumah mereka tidak

ada yang membantu bila mengalami kesulitan, kurang perhatian orangtua, dan

orangtua bercerai. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara dengan pihak

sekolah, beberapa siswa yang datang terlambat sebagian disebabkan karena

jalan macet, sebagian lagi disebabkan karena orangtua mereka terlambat

mengantar mereka ke sekolah. Sedangkan siswa yang kedapatan membolos

pada saat jam pelajaran berlangsung disebabkan karena mereka merasa bosan

dan jenuh berada di kelas, biasanya mereka pergi ke kantin untuk

menghilangkan rasa bosan dan jenuhnya. Siswa juga seringkali tidak

mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dengan berbagai alasan, seperti lupa, soal

terlalu sulit, dan memang malas mengerjakannya. Pihak sekolah merasa jika

para siswa kurang memiliki rasa tanggungjawab terhadap tugas yang

diberikan. Sebenarnya pihak sekolah sudah memiliki peraturan yang harus

ditaati oleh siswa, namun terkadang siswa mengabaikannya.

Pada penelitian ini juga melakukan analisis deskriptif dengan tujuan

untuk mengetahui masing-masing variabel. Pada variabel self regulated


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

70

learning memiliki mean empirik sebesar 77,88 yang lebih tinggi

dibandingkan niali mean teoritiknya yaitu 62,5. Hal ini berarti bahwa siswa/i

dalam penelitian ini self regulated learning yang tergolong tinggi. Semakin

efektif siswa dalam mengembangkan perencanaan strategi pengelolaan diri,

perilaku, dan lingkungannya maka semakin tinggi tingkat self regulated

learning siswa tersebut (Schunk dan Zimmerman, dalam Robbin, 1999).

Analisis deskriptif juga dilakukan pada variabel kenakalan remaja yang

memiliki mean empirik 38,83 yang lebih rendah dibandingkan mean

teoritiknya yaitu 50. Hal ini berarti bahwa siswa/i dalam penelitian ini

memiliki tingkat kenakalan yang tergolong rendah.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB V

KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Penelitian ini melakukan uji hipotesis dengan menggunakan teknik

Spearman Rho yang menunjukan koefiensi korelasi sebesar -0,302 (p < 0,05).

Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi self regulated

learning remaja, maka semakin rendah pula tingkat kenakalannya, dan begitu

juga sebaliknya. Hasil penelitian, self regulated learning memberi sumbangan

terhadap kenakalan remaja sebesar 9.01%. Sisanya sebesar 90.99%

dipengaruhi faktor lain.

B. Keterbatasan Penelitian

Berdasarkan kesimpulan yang telah dijabarkan sebelumnya, peneliti juga

perlu untuk menyampaikan beberapa keterbatasan dalam penelitian ini

sebagai berikut:

1. Pengambilan sampel kurang ideal. Peneliti menggunakan teknik

convenience sampling, peneliti tidak mempunyai pertimbangan lain

kecuali berdasarkan kemudahan saja. Seseorang diambil sebagai sampel

karena kebetulan orang tadi ada di situ atau kebetulan dia mengenal

orang tersebut, sehingga hasilnya kurang dapat diandalkan untuk

mencankup seluruh variasi dari masing-masing variabel penelitian.

71
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

72

2. Pemilihan subjek yang dinilai kurang memiliki tingkat pendidikan yang

cukup. Sehingga subjek kurang mampu untuk menangkap maksud item

dalam kuesioner sehingga terjadi perbedaan pemahaman oleh subjek.

3. Pemilihan kata atau kalimat pada penulisan item kurang baik sehingga

kurang dapat dipahami oleh subjek.

C. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan,

berikut adalah saran-saran yang dapat peneliti berikan:

1. Bagi Pihak Sekolah

Penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan negatif yang

signifikan dengan kategori cukup antara self regulated learning dan

kenakalan remaja. Maka dari itu diharapkan kepada pihak sekolah untuk

lebih meningkatkan sistem manajemen komunikasi antara pihak sekolah,

orangtua, dan siswa sehingga terjalin komunikasi yang baik guna

meningkatkan kerjasama.

2. Bagi Subjek Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa subjek dalam

penelitian ini memiliki self regulated learning yang tinggi dan kenakalan

yang rendah. berdasarkan hal ini maka diharapkan subjek penelitian

untuk tetap mempertahankannya sehingga dapat menekan terjadinya

perilaku nakal.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

73

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

3.1 Peneliti selanjutnya juga diharapkan dapat lebih cermat untuk

melakukan pemilihan kata dalam penyusunan alat ukur sehingga alat

ukur tersebut dapat memberikan stimulus yang lebih baik kepada

subjek sesuai dengan tujuan ukur agar tidak terjadi bias.

3.2 Sumbangan efektif dalam penelitian ini sebesar 9.01%. Bagi peneliti

selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian dengan melihat

faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kenakalan remaja di

antaranya, identitas, kontrol diri, proses keluarga, kelas sosial, dan

lain-lain.

3.3 Peneliti selanjutnya sekiranya juga dapat mengambil sampel yang

lebih ideal agar hasil penelitian dapat digeneralisasikan.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, S. (2000). Penyusunan skala psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Berk, L. E. (2007). Through the life span. Boston : Person Education.

Choiriah, M. (2016, Juni 6). Bawa parang saat tawuran, bocah 15 tahun ini

dibekuk polisi. Merdeka.com. Dipungut 20 Januari, 2017, dari

https://www.merdeka.com/peristiwa/bawa-parang-saat-tawuran-bocah-15-

tahun-ini-dibekuk-polisi.html.

Creswell, J. W. (2009/2012). Research design: Qualitative, quantitative, and

mixed methods approaches [Research design: Pendekatan kualitatif,

kuantitatif, dan mixed] (Achmad F., Trans). Ed. ke-3. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar.

Dariyo, A. (2004). Psikologi perkembangan remaja. Bogor: Ghalia Indonesia.

Ghufron & Rini. (2011). Teori-teori psikologi. Yogyakarta: AR-RUZZ Media.

Gunarso, J. D., & Singgih, D. G. (1981). Psikologi remaja. Jakarta: BPK Gunung

Mulia.

Hurlock, E. B. (1955). Adolescent development. New York: McGraw–Hill.

Kartono, K. (2007). Patologi sosial 2: Kenakalan remaja. Jakarta: Rajawali.

Kementrian Pemuda dan Olahraga. 2009. Penyajian Data dan Informasi

Kementrian Pemuda dan Olahraga. Dipungut 20 Januari, 2017, dari

http://www.kemenpora.go.id/pdf/PENYAJIAN%20DATA%20INFORMAS

I%20KEMENTERIAN%20PEMUDA%20DAN%20OLAHRAGA%20TA

HUN%202009.pdf.

74
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

75

Kristiyani, T. (2016). Self-regulated learning: konsep, implikasi, dan

tantangannya bagi siswa di Indonesia. Yogyakarta: Sanata Dharma

University Press.

Larry, A., Daniel H., & Ziegler, J. (1981). Personality theories: Basic

assumptions, reseacrh, and applications. London: McGraw-Hill

International Book.

Matlin, M. W. (1998). Cognition. Forth Worth: Harcourt Brace College.

Murtiyani, N. (2011). Hubungan pola asuh orangtua dengan kenakalan remaja di

RW V Kelurahan Sidokare Kecamatan Sidoarjo. Jurnal Keperawatan,

01(01).

Nawawi, H. (1985). Metode penelitian bidang sosial. Cetakan II. Yogyakarta:

Gajah Mada University Press.

Neal, D., & Carey, K. (2005). A follow-up psychometric analysis of the self-

regulation questionnaire. Psychology of Addictive Behaviors, 19(4), 414–

422.

NVI & REZ. (2016, November 1). Heboh Video Perkelahian Dua Gadis Bali.

Nusabali.com. Dipungut 20 Januari, 2017, dari

http://www.nusabali.com/berita/8516/heboh-video-perkelahian-dua-gadis-

bali.

NVI &REZ. (2016, November 2). Giliran Kekerasan Pelajar Pria Bikin Heboh.

Nusabali.com. Dipungut 20 Januari, 2017, dari

http://www.nusabali.com/berita/8537/giliran-kekerasan-pelajar-pria-bikin

heboh.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

76

Papalia, D. E., & Olds, S. W. (2008). Human development (Psikologi

Perkembangan): Bagian V sampai dengan IX (Ed. ke-9). Jakarta: Kencana.

Pervin, L. A., Cervone, D., & John, O. P. (2010). Psikologi kepribadian : teori

dan penelitian (Ed. ke- 9). Jakarta: Kencana.

Robbins, S. P. (1999). Organizational behavior: Concepts, controversies,

aplications. New Jersey: Prentice-Hall.

Santoso, A. (2010). Statistik untuk psikologi: Dari blog menjadi buku.

Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Santrock, J. W. (2003). Perkembangan remaja. Ed. ke-6. Jakarta: Erlangga.

Saptohutomo, A. P., & Adrian, S. M. (2015, November 6). Anak-anak di Kota

Kembang kini doyan tenggak miras. Merdeka.com. Dipungut 20 Januari,

2017, dari https://www.merdeka.com/peristiwa/anak-anak-di-kota-

kembang-kini-doyan-tenggak-miras.html.

Sarwono, J. (2006). Metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Yogyakarta:

Graha Ilmu.

Sarwono, S. W. (2005). Psikologi remaja. Jakarta: Rajawali.

Schunk, D. H., & Zimmerman, B. J. (1998). Self-regulated learning: from

teaching to self-reflective practice. New York: The Guilford Press.

Siregar, S. (2013). Metode penelitian kuantitatif. Jakarta: Pranada Media Group.

Soekanto, S. (1989). Remaja dan masalah-masalahnya. Jakarta: BPK Gunung

Mulia.

Somantri, A., & Muhidin, S. A. (2006). Aplikasi statistika dalam penelitian.

Bandung: Pustaka Setia.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

77

Sugiyono. (2011). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan kombinasi (mixed

methods). Bandung: Alfabeta.

Sujarweni, V. W., & Endrayanto, P. (2012). Statistika untuk penelitian.

Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sutrisno, H. (2009). Kasus Perilaku Pelanggaran Disiplin Siswa di Sekolah

Ditinjau dari Kerangka Teori Sosiologi Fungsionalisme. Jurnal Pendidikan

Inovatif, 4(2), 60-66.

Walgito, B. (2003). Psikologi sosial suatu pengantar. Yogyakarta: Fakultasi

Psikologi UGM.

Yusuf, S. (2006). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung: Remaja

Rosdakarya.

Zimmerman, B. J. (1998). A social cognitive view of self-reglated academic

learning. Journal of Educational Psychology. 81 (3), 329-339.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

78

Lampiran 1

Lampiran Hasil Reliabilitas dan Seleksi Item


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

79

A. Reliabilitas dan Korelasi Item Skala Regulasi Diri

1. Hasil Awal

Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items

.822 35

Item-Total Statistics

Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Alpha if Item
Item Deleted Item Deleted Total Correlation Deleted

item1 96.42 89.555 -.024 .827

item2 96.72 85.822 .269 .819

item3 96.47 82.792 .489 .812

item4 95.70 87.292 .221 .820

item5 96.06 84.862 .334 .817

item6 96.42 85.671 .297 .818

item7 95.70 85.484 .454 .815

item8 96.21 85.398 .266 .819

item9 97.06 84.285 .347 .816

item10 97.06 80.401 .579 .808

item11 96.36 80.696 .681 .806

item12 97.19 83.887 .426 .814

item13 95.81 84.579 .525 .813

item14 96.81 86.579 .213 .821

item15 96.77 89.294 -.005 .827

item16 96.43 82.327 .523 .811

item17 96.32 85.299 .384 .816

item19 96.21 84.014 .368 .816

item20 96.74 80.890 .465 .812


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

80

item21 95.98 86.442 .257 .819

item22 96.13 84.886 .365 .816

item23 95.96 85.229 .420 .815

item24 97.30 87.869 .145 .822

item25 96.30 83.330 .502 .812

item26 96.42 85.786 .199 .822

item27 96.91 88.818 -.001 .831

item28 96.13 86.848 .198 .821

item29 96.91 82.202 .552 .810

item30 96.79 86.360 .147 .825

item31 96.23 85.640 .252 .820

item32 96.43 86.366 .173 .823

item33 97.30 88.715 .023 .828

item34 97.47 83.177 .334 .817

item35 97.19 84.194 .291 .819

item36 96.94 81.939 .530 .810

2. Hasil Setelah Seleksi Item

Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items

.758 25

Item Statistics

Mean Std. Deviation N

item1 3.05 .485 240

item2 3.26 .587 240

item3 3.15 .732 240

item4 3.44 .610 240

item5 3.58 .543 240

item6 3.32 .685 240


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

81

item7 3.05 .710 240

item8 3.00 .706 240

item9 3.33 .569 240

item10 3.03 .696 240

item11 3.64 .489 240

item12 3.27 .624 240

item13 3.10 .535 240

item14 2.82 .951 240

item15 2.63 .933 240

item16 3.34 .627 240

item17 3.31 .604 240

item18 3.58 .543 240

item19 2.23 .663 240

item20 3.12 .906 240

item21 2.56 1.013 240

item22 3.32 .629 240

item23 2.42 .845 240

item24 2.98 .627 240

item25 3.33 .683 240

B. Reliabilitas dan Korelasi Item Total Skala Kenakalan Remaja

1. Hasil Awal

Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items

.853 28
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

82

Item-Total Statistics

Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Alpha if Item
Item Deleted Item Deleted Total Correlation Deleted

item1 51.34 75.575 .466 .846

item2 51.42 76.440 .243 .853

item3 51.55 76.176 .398 .848

item4 51.21 72.014 .689 .839

item5 51.08 72.725 .522 .843

item6 51.02 74.865 .411 .847

item7 49.64 84.004 -.385 .864

item8 49.58 85.555 -.567 .867

item9 50.91 72.741 .518 .844

item10 51.64 76.042 .479 .847

item11 51.81 73.925 .709 .841

item12 51.85 74.861 .662 .843

item13 50.70 73.830 .443 .846

item14 51.58 72.247 .594 .841

item15 50.94 77.247 .162 .857

item16 51.66 74.652 .399 .848

item17 51.43 74.250 .420 .847

item18 51.77 78.640 .094 .859

item19 51.85 77.169 .355 .849

item20 51.43 73.904 .391 .848

item21 51.26 75.352 .265 .854

item22 51.77 76.179 .375 .849

item23 51.36 72.042 .557 .842

item24 51.60 74.898 .539 .845

item25 52.04 77.537 .425 .849

item26 51.66 72.652 .552 .843

item27 51.74 75.083 .536 .845

item28 51.77 73.640 .648 .841


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

83

2. Hasil Setelah Seleksi Item

Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items

.807 24

Item Statistics

Mean Std. Deviation N

item1 1.92 .689 240

item2 1.59 .549 240

item3 1.81 .588 240

item4 1.72 .646 240

item5 2.08 .584 240

item6 1.49 .600 240

item7 1.87 .768 240

item8 1.58 .608 240

item9 1.44 .590 240

item10 1.41 .564 240

item11 2.28 .720 240

item12 1.40 .599 240

item13 1.95 .969 240

item14 1.59 .697 240

item15 1.51 .627 240

item16 1.21 .482 240

item17 2.06 1.100 240

item18 1.38 .558 240

item19 1.58 .693 240

item20 1.57 .723 240

item21 1.27 .547 240

item22 1.41 .818 240

item23 1.45 .598 240

item24 1.27 .545 240


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

84

Lampiran 2
Skala Final
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

85

SKALA PENELITIAN

HUBUNGAN REGULASI DIRI DENGAN KENAKALAN


REMAJA

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

2016
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

86

SKALA PENELITIAN

Salam sejahtera,

Saya Adisti Wastu Kirana Lembut adalah mahasiswi Fakultas Psikologi


Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Saya sedang mengadakan penelitian
untuk menyelesaikan skripsi. Berkaitan dengan itu, saya mengharap kesediaan
teman-teman untuk berpartisipasi dengan cara mengisi kuesioner ini.

Sebelum mengisi kuesioner ini saya harapkan teman-teman mengisi data


pribadi ada kolom yang tersedia. Data pribadi beserta hasil pengisian kuesioner ini
akan dijaga kerahasiaannya dan penggunaannya akan dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Perlu teman-teman ketahui, bahwa kuesioner ini terdiri dari 2 (dua) bagian.
Teman-teman diminta untuk teliti dalam setiap pengerjaannya. Dalam kuesioner
ini tidak ada jawaban yang salah. Semua jawaban adalah benar asalkan
sesuai dengan keadaan dan kenyataan yang teman-teman alami dan rasakan.

Saya sangat berterima kasih dan menghargai partisipasi teman-teman dalam


peneltian ini. Akhirnya semoga kita semua tetap dalam lindungan Tuhan Yang
Maha Esa.

Hormat saya,

Adisti Wastu Kirana Lembut

Nama/inisial :
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

87

Jenis kelamin : L/P*

Kelas :

Sekolah :

*coret yang tidak perlu

1. Apa saja kegiatanmu selain sekolah?

2. Pekerjaan orangtua:
a. Ayah :
b. Ibu :

3. Pendidikan orangtua:
a. Ayah :
b. Ibu :

4. Usia orangtua:
a. Ayah :
b. Ibu :

5. Keadaan ayah dan ibu bercerai atau tidak? Ya/Tidak

*coret yang tidak perlu


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

88

SKALA REGULASI DIRI

BAGIAN I:

Petunjuk Pengerjaan

1. Pada lembar-lembar berikutnya terdapat pernyataan-pernyataan.


2. Teman-teman diminta untuk menyatakan tanggapan terhadap pernyataan
tersebut, dengan cara memilih:
STS : (Sangat Tidak Setuju) jika merasa sangat tidak setuju dengan
pernyataan tersebut.
TS : (Tidak Setuju) jika merasa tidak setuju dengan pernyataan yang ada.
S : (Setuju) jika merasa setuju dengan pernyataan tersebut.
SS : (Sangat Setuju) jika merasa sangat menyetujui pernyataan yang ada.
3. Teman-teman bebas menentukan pilihan yang sesuai dengan keadaan diri teman-
teman.
4. Semua pilihan adalah benar selama itu sesuai dengan keadaan diri teman-teman.
5. Cara menyatakannya adalah dengan memberi tanda silang (X) pada tempat yang
telah tersedia.

Contoh:

No Pernyataan Skala
STS TS S SS
1. Saya adalah anak yang rajin.
X X

Periksa kembali jawaban teman-teman sebelum di kumpulkan.


Selamat mengerjakan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

89

Skala
No. Pernyataan
STS TS S SS
1 Saya selalu belajar meskipun tidak ada ulangan.
Saya akan tetap pergi dengan teman-teman
2
meskipun PR belum saya kerjakan.
Saya jarang menyisihkan waktu untuk quality
3
time dengan keluarga.
Saya akan pergi dengan teman-teman setelah
4
selesai menyelesaikan tugas dirumah.
5 Saya datang ke sekolah tepat waktu.
Saya selalu menyisihkan waktu untuk quality
6
time dengan keluarga.
7 Saya malas menulis jadwal kegiatan sehari-hari.
8 Saya hanya belajar ketika ada ulangan saja.
Saya akan tetap pergi dengan teman-teman
9
meskipun belum menyelesaikan tugas dirumah.
10 Saya selalu menulis jadwal kegiatan sehari-hari.
Saya selalu berjuang mendapatkan nilai yang baik
11
dalam ulangan.
Jika saya mendapat nilai ulangan yang jelek maka
12
saya akan menambah jam belajar.
13 Saya mampu menyelesaikan tugas tepat waktu.
Saya enggan berusaha mendapat nilai yang baik
14
dengan belajar.
15 Saya mengerjakan PR karena takut dihukum guru.
Saya berani menjadi diri sendiri tanpa takut
16
dianggap aneh oleh teman-teman.
17 Saya sering terlambat mengumpulkan tugas.
Saya mengerjakan PR karena itu adalah
18
kewajiban.
Saya membutuhkan bantuan orang lain ketika
19
mengerjakan tugas.
Pada malam hari saya malas menyiapkan buku-
20
buku untuk pelajaran besok.
Saya bergaul dengan siapa saja tanpa
21 mempertimbangkan dampak positif atau negatif
yang mungkin saya terima.
Saya membiarkan meja belajar berantakan ketika
22
saya akan belajar.
Saya lebih senang belajar sendiri daripada belajar
23
berkelompok.
Dirumah saya mengulang kembali pelajaran yang
24
telah diberikan di sekolah.
25 Saya merapikan meja belajar ketika akan belajar.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

90

SKALA KENAKALAN REMAJA

BAGIAN II:

Petunjuk Pengerjaan

1. Pada lembar-lembar berikutnya terdapat pernyataan-pernyataan.


2. Teman-teman diminta untuk menyatakan tanggapan terhadap pernyataan
tersebut, dengan cara memilih:
STS : (Sangat Tidak Setuju) jika merasa sangat tidak setuju dengan
pernyataan tersebut.
TS : (Tidak Setuju) jika merasa tidak setuju dengan pernyataan yang ada.
S : (Setuju) jika merasa setuju dengan pernyataan tersebut.
SS : (Sangat Setuju) jika merasa sangat menyetujui pernyataan yang ada.
3. Teman-teman bebas menentukan pilihan yang sesuai dengan keadaan diri teman-
teman.
4. Semua pilihan adalah benar selama itu sesuai dengan keadaan diri teman-teman.
5. Cara menyatakannya adalah dengan memberi tanda silang (X) pada tempat yang
telah tersedia.

Contoh:

Skala
No Pernyataan
STS TS S SS
1. Saya suka bolos X X

Periksa kembali jawaban teman-teman sebelum di kumpulkan.


Selamat mengerjakan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

91

Skala
No. Pernyataan
STS TS S SS
Saya tetap mendengarkan guru menjelaskan
1
pelajaran meskipun teman mengajak ngobrol.
2 Saya rajin mengikuti pelajaran hingga selesai.
3 Saya selalu jujur pada guru.
Saya lebih senang ngobrol dengan teman
4 daripada mendengarkan guru menjelaskan
pelajaran.
5 Saya selalu jujur pada teman saya.
6 Saya datang terlambat ke sekolah.
7 Saya pernah berbohong pada guru.
Saya menyelesaikan masalah dengan orangtua
8
secara baik-baik.
Saya malas memakai atribut sekolah dengan
9
lengkap.
Saya selalu memakai atribut sekolah dengan
10
lengkap.
11 Saya pernah membohongi teman saya.
12 Saya pernah bolos pada saat jam pelajaran.
Saya merasa malu ketika tertangkap basah
13
mengambil barang teman.
Saya pernah mengambil barang orang tanpa
14
izin.
Saya selalu menjalin hubungan yang baik
15
dengan teman.
16 Saya pernah minum minuman beralkohol.
17 Saya menghindari taruhan dengan teman.
Saya merasa biasa saja ketika tertangkap basah
18
mengambil barang teman.
19 Saya pernah taruhan dengan teman.
20 Saya selalu mematuhi peraturan lalu lintas.
21 Saya pernah ikut tawuran.
Saya menghindari minum minuman
22
beralkohol.
Saya meminta izin apabila meminjam barang
23
orang lain.
Saya suka ugal-ugalan ketika mengendarai
24
kendaraan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

92

Lampiran 3
Hasil Uji Beda Mean (Uji-t)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

93

Independent Samples Test

Levene's Test
for Equality of
Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence
Interval of the
Difference
Sig. (2- Mean Std. Error
F Sig. t df tailed) Difference Difference Lower Upper

Nilai Equal variances


2.305 .130 62.882 478 .000 39.046 .621 37.826 40.266
assumed

Equal variances
62.882 477.109 .000 39.046 .621 37.826 40.266
not assumed
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

94

Lampiran 4
Hasil Uji Normalitas
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

95

Tests of Normality
a
Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Regulasi Diri .058 240 .050 .991 240 .177

Kenakalan Remaja .083 240 .000 .973 240 .000

a. Lilliefors Significance Correction


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

96

Lampiran 5

Hasil Uji Linearitas


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

97

ANOVA Table

Sum of
Squares df Mean Square F Sig.

Regulasi Diri * Between Groups (Combined) 2299.827 30 76.661 1.935 .004


Kenakalan Remaja
Linearity 1088.223 1 1088.223 27.467 .000

Deviation from Linearity 1211.604 29 41.779 1.055 .397

Within Groups 8280.423 209 39.619

Total 10580.250 239

Measures of Association

R R Squared Eta Eta Squared

Regulasi Diri * Kenakalan


-.321 .103 .466 .217
Remaja
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

98

Lampiran 6

Hasil Uji Hipotesis


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

99

Correlations

Kenakalan
Regulasi Diri Remaja
**
Spearman's rho Regulasi Diri Correlation Coefficient 1.000 -.302

Sig. (1-tailed) . .000

N 240 240
**
Kenakalan Remaja Correlation Coefficient -.302 1.000

Sig. (1-tailed) .000 .

N 240 240

**. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

100

Lampiran 7

Blueprint Rancangan Item Skala Regulasi Diri


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

101

No. Aspek Indikator Item Favorable Item Unfavorable Jumlah


1. Metakognitif 1. Merencanakan 1.1.1 1.1.2 4 item
Saya selalu Saya malas (11.11%)
menulis jadwal menulis jadwal
kegiatan kegiatan sehari-
sehari-hari. hari.
1.1.3 1.1.4
Saya selalu Saya hanya
belajar belajar ketika ada
meskipun tidak ulangan saja.
ada ulangan.
2. Mengorganisasi/ 1.2.1 1.2.1 4 item
mengatur Saya akan pergi Saya akan tetap (11.11%)
dengan teman- pergi dengan
teman setelah teman-teman
selesai meskipun PR
mengerjakan PR. belum saya
1.2.3 kerjakan.
Saya akan pergi
dengan teman- 1.2.4
teman setelah Saya akan tetap
selesai pergi dengan
menyelesaikan teman-teman
tugas dirumah. meskipun belum
menyelesaikan
tugas dirumah.
3. Menginstruksikan 1.3.1 1.3.2 4 item
diri, memonitor & Saya selalu Saya jarang (11.11%)
melakukan evaluasi menyisihkan menyisihkan waktu
waktu untuk untuk quality time
quality time dengan keluarga.
dengan keluarga.
1.3.4
1.3.3 Saya sering
Saya datang ke terlambat datang ke
sekolah tepat sekolah.
waktu.
2. Motivasi 1. Dorongan yang 2.1.1 2.1.2 6 item
ada pada diri Saya mampu Saya sering (16.67%)
individu yang menyelesaikan terlambat
mencakup persepsi tugas tepat mengumpulkan
terhadap efikasi diri waktu. tugas.
2.1.3 2.1.4
Saya dapat Saya membutuhkan
mengerjakan bantuan orang lain
tugas tanpa ketika mengerjakan
bantuan orang tugas.
lain. 2.1.6
2.1.5 Saya mengerjakan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

102

Saya PR karena takut


mengerjakan PR dihukum guru.
karena itu adalah
kewajiban.

2. Kompetensi 2.2.1 2.2.2 6 item


otonomi Saya menjadi Saya berani (16.67%)
diri sendiri dan menjadi diri sendiri
tidak takut dicap tanpa takut
aneh oleh teman- dianggap aneh oleh
teman. teman-teman.

2.2.4
2.2.3 Saya malas
Jika saya menambah jam
mendapat nilai belajar meskipun
ulangan yang nilai ulangan jelek.
jelek maka saya
akan menambah 2.2.6
jam belajar. Saya enggan
2.2.5 berusaha mendapat
Saya selalu nilai yang baik
berjuang dengan belajar.
mendapatkan
nilai yang baik
dalam ulangan.
3. Perilaku 1. Mengatur diri 3.1.1 3.1.2 4 item
Dirumah saya Dirumah saya (11.11%)
mengulang malas mengulang
kembali kembali pelajaran
pelajaran yang yang telah
telah diberikan diberikan di
di sekolah. sekolah.

3.1.3 3.1.4
Pada malam hari Pada malam hari
saya selalu saya malas
menyiapkan menyiapkan buku-
buku-buku untuk buku untuk
pelajaran besok. pelajaran besok.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

103

2. Menyeleksi 3.2.1 3.2.2 4 item


Saya lebih Saya lebih senang (11.11%)
senang belajar belajar
sendiri daripada berkelompok
belajar daripada belajar
berkelompok. sendiri.

3.2.4
3.2.3 Saya bergaul
Saya menjadi dengan siapa saja
diri sendiri tanpa tanpa
takut dianggap mempertimbangkan
aneh oleh teman- dampak postifi dan
teman. negatif yang
mungkin saya
terima.
3. Memanfaatkan 3.3.1 3.3.2 4 item
lingkungan maupun Saya merasa Saya merasa (11.11%)
menciptakan bangga bersalah jika
lingkungan yang meskipun saya menyelesaikan
mendukung aktivitas menyelesaikan tugas dalam waktu
tugas dalam yang lama.
belajar waktu yang
lama. 3.3.4
Saya membiarkan
3.3.3 meja belajar
Saya merapikan berantakan ketika
meja belajar saya akan belajar.
ketika akan
belajar.
36 item
(100%)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

104

Lampiran 8

Blueprint Rancangan Item Skala Kenakalan Remaja


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

105

No. Aspek Item Favorable Item Unfavorable Jumlah


1. Tidak digolongkan 1. 2. 14 item
pada pelanggaran Saya pernah Saya selalu jujur (50%)
hukum berbohong pada guru. pada guru.
3. 4.
Saya pernah Saya selalu jujur
membohongi teman pada teman saya.
saya.
5. 6.
Saya pernah bolos Saya rajin mengikuti
pada saat jam pelajaran hingga
pelajaran. selesai.
7. 8.
Ketika saya memiliki Saya menyelesaikan
masalah dengan masalah dengan
orangtua, saya ingin orangtua secara
kabur dari rumah. baik-baik.
9.
Saya datang ke 10.
sekolah tepat waktu. Saya datang
11. terlambat ke
Saya lebih senang sekolah.
ngobrol dengan teman 12.
daripada Saya tetap
mendengarkan guru mendengarkan guru
menjelaskan pelajaran. menjelaskan
13. pelajaran meskipun
Saya malas memakai teman mengajak
atribut sekolah dengan ngobrol.
lengkap. 14.
Saya selalu memakai
atribut sekolah
dengan lengkap.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

106

2. Digolongkan pada 1. 2. 14 item


pelanggaran Saya pernah berkelahi Saya selalu menjalin (50%)
hukum dengan teman. hubungan yang baik
dengan teman.
3. 4.
Saya pernah taruhan Saya menghindari
dengan teman. taruhan dengan
5. teman.
Saya pernah 6.
mengambil barang Saya meminta izin
orang tanpa izin. apabila meminjam
barang orang lain.
7. 8.
Saya pernah minum Saya menghindari
minuman beralkohol. minum minuman
9. beralkohol.
Saya merasa biasa saja 10.
ketika tertangkap Saya merasa malu
basah mengambil ketika tertangkap
barang teman. basah mengambil
11. barang teman.
Saya suka ugal-ugalan 12.
ketika mengendarai Saya selalu
kendaraan. mematuhi peraturan
13. lalu lintas.
Saya pernah ikut 14.
tawuran. Saya menolak ajakan
teman untuk
tawuran.
28 item
(100%)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

107

Lampiran 9

Blueprint Skala Regulasi Diri


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

108

No. Aspek Indikator Item Favorable Item Jumlah


Unfavorable
1. Metakognitif 1. Merencanakan 1.1.1 1.1.2 4 item
Saya selalu Saya malas (16%)
menulis jadwal menulis jadwal
kegiatan sehari- kegiatan sehari-
hari. hari.
1.1.3 1.1.4
Saya selalu Saya hanya
belajar belajar ketika
meskipun tidak ada ulangan
ada ulangan. saja
2. 1.2.1 1.2.2 3 item
Mengorganisasi/menga Saya akan pergi Saya akan tetap (12%)
tur dengan teman- pergi dengan
teman setelah teman-teman
selesai meskipun PR
menyelesaikan belum saya
tugas dirumah. kerjakan.
1.2.3
Saya akan tetap
pergi dengan
teman-teman
meskipun
belum
menyelesaikan
tugas dirumah.
3. Menginstruksikan 1.3.1 1.3.2 3 item
diri, memonitor & Saya datang ke Saya jarang (12%)
melakukan evaluasi sekolah tepat menyisihkan
waktu. waktu untuk
1.3.3 quality time
Saya selalu dengan
menyisihkan keluarga.
waktu untuk
quality time
dengan
keluarga.
2. Motivasi 1. Dorongan yang ada 2.1.1 2.1.2 5 item
pada diri individu yang Saya mampu Saya sering (20%)
mencakup persepsi menyelesaikan terlambat
terhadap efikasi diri, tugas tepat mengumpulkan
waktu. tugas.
2.1.4
2.1.3 Saya
Saya membutuhkan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

109

mengerjakan bantuan orang


PR karena itu lain ketika
adalah mengerjakan
kewajiban. tugas.
2.1.6
Saya
mengerjakan
PR karena takut
dihukum guru.
2. Kompetensi 2.2.1 2.2.2 4 item
otonomi Saya selalu Saya enggan (16%)
berjuang berusaha
mendapatkan mendapat nilai
nilai yang baik yang baik
dalam ulangan. dengan belajar.

2.2.3
Jika saya
mendapat nilai
ulangan yang
jelek maka saya
akan menambah
jam belajar.
2.2.4
Saya menjadi
diri sendiri dan
tidak takut
dicap aneh oleh
teman-teman.
3. Perilaku 1. Mengatur diri 3.1.1Dirumah 3.1.2 2 item
saya mengulang Pada malam (8%)
kembali pelajaran hari saya malas
yang telah menyiapkan
diberikan di buku-buku
sekolah.
untuk pelajaran
besok.
2. Menyeleksi 3.2.1 3.2.2 2 item
Saya lebih Saya bergaul (8%)
senang belajar dengan siapa
sendiri daripada saja tanpa
belajar mempertimban
berkelompok. gkan dampak
postifi dan
negatif yang
mungkin saya
terima.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

110

3. Memanfaatkan 3.3.1 3.3.2 2 item


lingkungan maupun Saya merapikan Saya (8%)
menciptakan meja belajar membiarkan
lingkungan yang ketika akan meja belajar
mendukung aktivitas belajar. berantakan
belajar ketika saya
akan belajar.
25 item
(100%)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

111

Lampiran 10

Blueprint Skala Kenakalan Remaja


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

112

No. Aspek Item Favorable Item Unfavorable Jumlah


1. Tidak digolongkan 1. 2. 12 item
pada pelanggaran Saya pernah berbohong Saya selalu jujur (50%)
hukum pada guru. pada teman saya.
3. 4.
Saya pernah Saya rajin
membohongi teman mengikuti
saya. pelajaran hingga
selesai.
5. 6.
Saya pernah bolos pada Saya
saat jam pelajaran. menyelesaikan
7. masalah dengan
Saya lebih senang orangtua secara
ngobrol dengan teman baik-baik.
daripada mendengarkan 8.
guru menjelaskan Saya datang
pelajaran. terlambat ke
9. sekolah.
Saya malas memakai
atribut sekolah dengan 10.
lengkap. Saya tetap
mendengarkan guru
menjelaskan
pelajaran meskipun
teman mengajak
ngobrol.
11.
Saya selalu
memakai atribut
sekolah dengan
lengkap.
12.
Saya selalu jujur
pada guru.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

113

2. Digolongkan pada 1. 2. 12 item


pelanggaran Saya pernah taruhan Saya selalu (50%)
hukum dengan teman. menjalin hubungan
3. yang baik dengan
Saya pernah mengambil teman.
barang orang tanpa izin. 4.
5. Saya menghindari
Saya pernah minum taruhan dengan
minuman beralkohol. teman.
7. 6.
Saya merasa biasa saja Saya meminta izin
ketika tertangkap basah apabila meminjam
mengambil barang teman. barang orang lain.
9. 8.
Saya suka ugal-ugalan Saya menghindari
ketika mengendarai minum minuman
kendaraan. beralkohol.
10.
11. Saya merasa malu
Saya pernah ikut tawuran. ketika tertangkap
basah mengambil
barang teman.
12.
Saya selalu
mematuhi
peraturan lalu
lintas.
24 item
(100%)