Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

Disusun oleh :

Nama : Lela Marsela

Npm : E1G016002

Kelompok : 2 (Dua)

Hari/tanggal : Jumat/3 November 2017

Dosen : 1. Devi Silsia,Dra.,M.Si

2. Syafnil,Drs.,M.Si

3. Hasan B. Daulay, Drs., MS

Coass : 1. Monica A. Simanjuntak (E1G014066)

2. Rimma Sianturi (E1G014032)

Objek praktikum : HIDROLISIS KARBOHIDRAT

LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BENGKULU

2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Karbohidrat memegang peranan penting dalam alam karena merupakan
sumber energi utama bagi manusia dan hewan. Semua karbohidrat berasal dari
tumbuh-tumbuhan. Melalui fotosintesis, klorofil tanaman dengan bantuan sinar
matahari mampu membentuk karbohidrat dari karbondioksida (CO2) berasal dari
udara dan air (H2O) dari tanah. Karbohidrat yang dihasilkan adalah karbohidrat
sederhana glukosa. Di samping itu dihasilkan oksigen (O2) yang lepas di
udara.Produk yang dihasilkan terutama dalam bentuk gula sederhana yang mudah
larut dalam air dan mudah diangkut ke seluruh sel-sel guna penyediaan energi
(Patong, 2012).
Pati adalah polisakarida nutrien yang tersedia melimpah pada sel tumbuhan
dan beberapa mikroorganisme. Pati umumnya berbentuk granula dengan diameter
beberapa mikron.Pati merupakan karbohidrat yang tersebar dalam tanaman
terutama tanaman berklorofil. Bagi tanaman, pati merupakan cadangan makanan
yang terdapat pada biji, batang dan pada bagian umbi tanaman. Banyaknya
kandungan pati pada tanaman tergantung pada asal pati tersebut, misalnya pati
yang berasal dari biji beras mengandung pati 50–60% dan pati yang berasal dari
umbi singkong mengandung pati 80% (Winarno, 2002).
Maka penting bagi kita untuk mengetahui tentang karbohidrat dan hal-hal
yang berkaitan dengannya, oleh karena itu diadakan praktikum “hidrolisis
karbohidrat.”

1.2 Tujuan Praktikum


1. Mengidentifikasi hasil hidrolisis sukrosa.
2. Mengidentifikasi hasil hidrolisis amilum (pati).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Karbohidrat memegang peranan penting dalam alam karena merupakan


sumber energi utama bagi manusia dan hewan. Semua karbohidrat berasal dari
tumbuh-tumbuhan. Melalui fotosintesis, klorofil tanaman dengan bantuan sinar
matahari mampu membentuk karbohidrat dari karbondioksida (CO2) berasal dari
udara dan air (H2O) dari tanah. Karbohidrat yang dihasilkan adalah klarbohidrat
sederhana glukosa. Di samping itu dihasilkan oksigen (O2) yang lepas di udara.
Produk yang dihasilkan terutama dalam bentuk gula sederhana yang mudah larut
dalam air dan mudah diangkut ke seluruh sel-sel guna penyediaan energi.
Sebagian dari gula sederhana ini kemudian mengalami polimerisasi dan
membentuk polisakarida. Ada dua jenis polisakarida tumbuh-tumbuhan, yaitu pati
dan nonpati. Polisakarida non pati merupakan sumber utama serat
makananKarbohidrat terbagi menjadi beberapa bagian menurut panjang rantai
karbonnya. Monosakarida, disakarida dan polisakarida. Contoh dari monosakarida
adalah sukrosa. Sukrosa merupakan produksi akhir asimilasi karbon (C) pada
proses fotosintesis yang terjadi di daun dan bentuk karbohidrat yang mudah
ditransportasikan ke jaringan simpan atau sink tissues. Selain berfungsi dalam
penyediaan energi dan kerangka karbon, sukrosa juga berperan dalam pengaturan
ekspresi gen lainnya (Miswar, 2007).
Beberapa fungsi karbohidrat antara lain, sebagai sumber energi, melindungi
protein agar tidak terbakar sebagai penghasil energi, membantu metabolisme
lemak dan protein untuk mencegah terjadinya pemecahan protein secara berlebih,
serta untuk melancarkan pencernaan. Monosakarida stabil terhadap asam mineral
encer dan panas. Asam yang pekat akan menyebabkan dehidrasi menjadi furfural,
yaitu suatu turunan aldehid (Martoharsono, 1998).
Semua karbohidrat yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas akan
membentuk osazon bila dipanaskan bersama fenilhidrazina berlebih. Osazon yang
terjadi mempunyai bentuk kristal dan titik lebur yang khas bagi masing-masing
karbohidrat. Hal ini sangat penting karena dapat digunakan untuk
mengidentifikasi karbohidrat dan merupakan salah satu cara untuk membedakan
beberapa monosakarida, misalnya antara glukosa dan galaktosa yang terdapat
dalam urine wanita dalam masa menyusui (Poedjiadi dkk, 1994).
Pati merupakan cadangan karbohidrat pada tanaman berbentuk granula-
granula tak larut yang tersusun dari dua macam molekul polisakarida yaitu
amilosa dan amilopektin pada umumnya ditemukan pada umbi, akar dan biji.
Gula reduksiterutama dalam bentuk glukosa diperoleh dari hidrolisis pati oleh
enzim amilase yang terdapat pada kapang Rhizopus. Selain dari pati, glukosa
dapat diperoleh dari hidrolisis isoflavon glikosida oleh kapang Rhizopus
(Septiani, 2004).
Karbohidrat memiliki berbagai fungsi dalam tubuh makhluk hidup, terutama
sebagai bahan bakar (misalnya glukosa), cadangan makanan (misalnya pati pada
tumbuhan dan glikogen pada hewan) dan materi pembangun (misalnya selulosa
pada tumbuhan kitin pada hewan dan jamur). Pada proses fotosintesis,
tetumbuhan hijau mengubah karbon dioksida menjadi karbohidrat. Karbohidrat
yang dibangun oleh polihdroksi dan gugus aldehid disebut dengan aldosa,
sedangkan yang disusun oleh polihidroksi dan gugus keton dikenal dengan ketosa
(Suhartono, 1989).
BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


Alat : Bahan :
 Tabung reaksi  Larutan Sukrosa 1%
 Penjepit tabung reaksi  HCl pekat
 Rak tabung reaksi  Larutan Iodium
 Pipet ukur  Pereaksi Benedict
 Sikat tabung reaksi  NaOH 2%
 Kertas lakmus  HCl 2 N
 AlatPemanas  Larutan amilum 1%

3.2 Prosedur Kerja


A. Hidrolisis Sukrosa
1) Memasukkan 5 ml sukrosa 1% ke dalam tabung reaksi dan menambahkan 5
ml HCl pekat.
2) Mencampurkan dengan baik lalu memanaskan dalam penangas air selama 30
menit.
3) Setelah mendinginkan, menetralkan dangan NaOH 2% dan menguji dengan
kertas lakmus.
4) Selanjutnya menguji dengan Benedict, seliwanoff dan barfoed.
5) Menyimpulkan apa yang dihasilkan dari hidrolisis sukrosa.

B. Hidrolisis Pati
1) Memasukkan kedalam tabung reaksi 5 ml almilum 1%, kemudian
menambahkan 2,5 ml HCl.
2) Mencampurkan dengan baik, lalu memanaskan dalam penangas air mendidih.
3) Setelah 3 menit, menguji dengan iodium dengan mengambil 2 tetes larutan
menambahkan 2 tetes iodium dalam porselin tetes. Mencatat perubahan
warna yang terjadi.
4) Melakukan uji iodium selama 3 menit sampai hasil berwarna kuning pucat.
5) Melanjutkan hidrolisis selama 5 menit lagi.
6) Setelah mendinginkan ambil 2 ml larutan hasil hidrolisis, lalu menetralkan
dengan NaOH 2%. Menguji dengan kertas lakmus.
7) Kemudian menguji dengan Benedict.
8) Menyimpulkan apa yang dihasilkan dari hidrolisis pati.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN

A. Hidrolisis Sukrosa
Perlakuan Uji Hasil uji
5 mL sukrosa 1% Benedict Kertas lakmus merah
+ mL HCl pekat berubah jadi biru terjadi
perubahan warna merah
+ Pemanasan 30 menit
bata dengan endapan
hijau kebiruan
seliwanoff -

Barfoed -

Kesimpulan : mengandung gula pereduksi yang ditandai dengan berubah nya


warna menjadi merah bata dengan endapan bewarna hijau kebiruan
reaksi positif.

B. Hidrolisis Pati
Hidrolisis
Perlakuan Hasil Uji Iodium Hasil Hidrolisis
(menit)
3 Hijau lumut -

6 Hijau lumut -

5 ml amilum 1% 9 Hijau lumut -

+ 2,5 ml HCl 2 N 12 Hijau lumut -

+ Pemanasan 15 Hijau lumut -

18 Hijau lumut -

21 Hijau lumut -

Hasil akhir dengan uji benedict : tidak terjadi perubahan warna. Warnanya tetap
biru muda jadi larutan benedict mengandung
gula pereduksi/ reaksi positif.
BAB V

PEMBAHASAN

Pada praktikum yang berjudul Hidrolisis Karbohidrat dengan tujuan agar


praktikan dapat mengidentifikasi hasil hidrolisis sukrosa dan mengidentifikasi
hasil hidrolisis amilum (pati). Hidrolisis karbohidrat adalah reaksi kimia yang
memecahkan molekul air menjadi kation hidrogen sehingga dapat memecahkan
polimer karbohidrat. Pada percobaan ini praktikan menggunakan alat yaitu tabung
reaksi, penjepit tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipet ukur, sikat tabung reaksi,
kertas lakmus dan alat pemanas sedangkan bahan yaitu larutan sukrosa 1%, HCl
pekat, larutan iodium, pereaksi benedict, NaOH 2%, HCl 2 N serta larutan
amilum 1%. Pada percobaan hidrolisis sukrosa, uji seliwanoff dan uji barfoed
tidak dilakukan dikarenakan keterbatasan bahan.
Pada percobaan hidrolisis sukrosa dimana praktikan memasukkan 5 ml
sukrosa 1% kedalam tabung reaksi dan menambahkan 5 ml HCl pekat yang
kemudian praktikan mencampur dengan baik supaya larutan homogen sehingga
dapat dilakukan pemanasan dalam penangas air selamat 30 menit. Setelah
dilakukan pemanasan maka larutan didinginkan dan menetralkan larutan dengan
NaOH 2% yang selanjutnya diuji dengan benedict sehingga hasil percobaan yang
didapat bahwa kertas lakmus merah berubah jadi biru, terjadi perubahan warna
merah bata dengan endapan hijau kebiruan. Kesimpulan yang didapat dari
percobaan ini yaitu mengandung gula pereduksi yang ditandai dengan berubahnya
warna menjadi merah bata dengan endapan bewarna hijau kebiruan/reaksi positif.
Kesimpulan ini tidak sesuai dengan literatur (Rukmini, 2008) yang mengatakan
“gula pereduksi adalah gula yang mempunyai kemampuan untuk mereduksi. Hal
ini dikarenakan adanya gugus aldehid atau keton bebas. Contoh gula yang
termasuk dalam gula pereduksi adalah glukosa, manosa, fruktosa, laktosa, maltosa
dan lain-lain. Sedangkan yang termasuk dalam gula non reduksi adalah sukrosa.”
Perbedaan hasil uji kami dengan pernyataan pada literatur dapat terjadi
dikarenakan kemungkinan kesalahan pada saat melakukan percobaan tersebut.
Untuk hasil praktikum hidrolisis pati yaitu dengan mencampur 5
ml amilum 1% dengan2,5ml HCl kemudian mencampurnya dengan baik, lalu
memanaskan kemudian mengujinya setiap 3 menit sampai menit ke-21 dengan
Iodium dengan mengambil 2 tetes larutan dan menambahkan 2 tetes Iodium
dalam porselin tetes hingga menit ke-21. Hasil uji iodium ialah adanya endapan
bewarna hijau lumut, serta hasil hidrolisisnya ialah kertas lakmus berwarna merah
berubah menjadi biru. Menurut Lehninger (1982) hidrolisis pati akan terjadi pada
pemanasan dengan asam encer dimana berturut-turut akan dibentuk
amilodeksterin yang memberi warna biru dengan iodium, eritrodekstrin yang
memberi warna merah dengan iodium serta berturut-turut akan dibentuk
akroodekstrin, maltosa, dan glukosa yang tidakmemberi warna dengan iodium.
Jadi, hasil praktikum yang dihasilkan tidak sesuai dengan teori, kemungkinan
besar perbedaan ini terjadi karena berbedanya jenis pati yang digunakan dan
kemungkinan ada kesalahan dalam penentuan warna.
BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
1) Identifikasi hidrolisis sukrosa dapat dilakukan dengan uji Benedict yaitu
dengan perlakuan 5 ml sukrosa 1% ditambah dengan 5 ml HCl pekat dan
pemanasan selama 30 menit maka diperoleh hasil larutan berwarna kuning
bening dan terdapat gelembung.
2) Identifikasi hasil hidrolisis amilum (pati) dapat dilakukan dengan uji
iodium dengan perlakuan 5 ml amilum 1 % ditambah 2,5 ml HCL 2 N dan
dilakukan pemanasan maka diperoleh hasil hasil hidrolisis yang bersifat
basa denga pH 11 dengan warna hasil uji iodium adalah biru bening.

6.2 Saran
Untuk alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum hendaknya
dipersiapkan serta ditambah, agar setiap melakukan praktikum para praktikan
tidak kekurangan alat atau bahan.
JAWABAN PERTANYAAN

PERTANYAAN :
1. Apa kegunaan uji Benedict, Seliwanof dan barfoed dalam percobaan hidrolisis
sukrosa ini ?
2. Bagaimana cara mengetahui bahwa hidrolisis pati tlah sempurna ?
3. Mengapa larutan hasil hidrlisis harus dinetralkan terlebih dahulu ?

JAWABAN :
1. Uji benedict dalam uji sukrosa adalah sebagai bahan pelarut dan membandingkan
hasil atau warna dari hidrolisis sukrosa.
Uji seliwanof adalah untuk mengetahui bahwa sukrosa pati (amilum) adalah
positif, dimana sebelum dihidrolisis memberikan hasil negative.
Uji barfoed adalah untukmengetahui bahwa hasil uji sukrosa dan pati
menghasilkan glukosa.
2. Cara untuk mengetahuinya adalah dengan bahwa lrutan telah berwarna kuning
pucat dan pH lebih dari 7 atau basa.
3. Agar hasil setelah yang dinetralkan dapat di ukur dengan kertas lakmus dan
mendapatkan hasil yang sempurna
DAFTAR PUSTAKA

Lehninger, 1982. Penuntun Praktikum Biokimia. Makassar : Laboratorium


Terpadu Kesehatan Masyarakat Regional Indonesia Timur.
Universitas Hasanuddin.
Martoharsono, Soeharsono. 1998. Petunjuk Praktikum Kimia Dasar
II. Yogyakarta :Laboratorium Kimia Dasar FMIPA Universitas
Gadjah Mada.
Miswar et al, 2007. Uji Kualitatif Untuk Identifikasi Karbohidrat I dan II’.
Jakarta : Laboratorium Kimia Universitas Nasional.
Patong, A.R., dkk., 2012, Biokimia Dasar. Makassar : Lembah Harapan Press.
Poedjiadi, Anna., F.M. Titin. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : Indonesia
University Press.
Rukmini H.S. dan Nur M.A., 2008. Pengantar Kimia Buku Panduan Kuliah
Biokimia. Jakarta : Buku Kedoktern EGC.
Septiani Y., Purwoko T., Pangastuti A. 2004. Kadar Karbohidrat, Lemak, dan
Proteinpada Tumbuh-tumbuhan. Surakarta : Bioteknologi.
Suhartono. 1989. Enzim dan Bioteknologi. Bogor : Institut Pertanian Bogor.
Winarno, F.G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia

Anda mungkin juga menyukai