Anda di halaman 1dari 40

Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

STEP 3

1. Kenapa kesadaran pasien menurun, tampak sianosis, dan


tampak sesak?
Kesadaran menurun
Kesadaran penderita trauma dapat menurun sampai hilang atau koma bila penderita trauma
mengalami hipovolemia karena perdarahan berlebihan maka kemungkinan besar gagal otak
disebabkan oleh iskemia otak. Kesadaran yang terus menurun tanpa ada gangguan sirkulasi yang
pertama dicurigai adalah perdarahan intracranial yang meluas
Buku Ajar Ilmu Bedah ; R.Sjamsuhidajat & Wim de Jong

Akibat penurunan fungsi paru : menurunnya compliance paru yang mengalami


penumothoraks pertukaran udara tidak adekuat hipoxemia hipoksia Hipoksia yang
terus berlanjut kurangnya suplai O2 ke otak gangguan fungsi otak penurunan kesadaran
Akibat penurunan fungsi paru : menurunnya compliance paru yang mengalami
penumothoraks pertukaran udara tidak adekuat darah mengandung sedikit O2 pewarnaan
yang kebiruan pada darah tampak warna kebiruan pada kulit dan mukosa

Pusat kesadaran (GCS) ? Kesadaran merupakan fungsi utama susunan saraf pusat. Untuk
mempertahankan fungsi kesadaran yang baik, perlu suatu interaksi yang konstan dan efektif
antara hemisfer serebri yang intak dan formasio retikularis di batang otak. Gangguan pada
hemisfer serebri atau formasio retikularis dapat menimbulkan gangguan kesadaran.
Hemothorak  ada laserasi dithorak  menekan paru  sesak
Penyebab sesak lain  fail chest,
2. Kenapa dada asimetris dan suara napas didada kanan
menghilang?
Perkusi hipersonor
akumulasi udara dalam rongga pleura suara yang lebih nyaring saat perkusi / hipersonor (udara
merupakan penghantar gelombang suara yang baik)

Suara napas lemah sampai hilang


Suara napas adalah suara yang terdenger akibat udara yang keluar dan masuk paru saat bernapas.
Paru kolaps pertukaran udara tidak berjalan baik suara napas berkurang atau hilang.

3. Mengapa VS RR meningkat. Takipneu, hipotensi dan


takikardi serta GCS menurun?
Mengapa Pernapasan 50 Kali/Menit
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

- karena terjadi metabolisme jaringan hipoksik yang menghasilkan asam laktat yang
menyebabkan asidosis metabolic sehingga terjadi takipnoe
- pada trauma multiple, gagal nafas dapat pula terjadi bila trauma mengenai abdomen atas.
Cadangan nafas dapat menurun bila penderita telah menderita gangguan napas sebelum terjadi
trauma sehingga pertukaran gas tidak cukup. Gagal napas dapat terlihat jika frekuensi napas
dalam 1 menit mencapai 25-30 kali dengan isi alun napas < 4ml/kg dan curah jantung yang
rendah
Buku Ajar Ilmu Bedah ; R.Sjamsuhidajat & Wim de Jong
Mengapa Tekanan Darah 90/50 Mmhg
- Penurunan tekanan darah sistolik dianggap tanda khas syok hipovolemik. Sebelum terjadi
penurunan tekanan darah terjadi reaksi kompensasi tubuh untuk mempertahankan perfusi jaringan
organ vital
- Untuk mempertahankan perfusi jaringan supaya kebutuhan metabolit dan zat asam
jaringan dapat dipenuhi, diperlukan tekanan darah sekurang-kurangnya 70-80 mmHg. Tekanan
darah ini dapat dicapai dengan memperhatikan prinsip resusitasi ABC
- Karena kehilangan cairan intravaskuler terus menerus, maka tindakan kompensasi tidak
dapat mempertahankan tekanan darah yang memadai sehingga terjadi dekompensasi dengan
akibat penurunan tekanan darah secara tiba
Buku Ajar Ilmu Bedah ; R.Sjamsuhidajat & Wim de Jong
Mengapa Nadi 140 Kali/Menit
Cedera volume darah turun secra akut shg tekanan darah turun penigkatan detak jantung sbg
usaha menjaga otot jantung takikardia timbul gejala awal syok pelepasan katekolamin2
endogen tahanan pembuluh darah perifer meningkat meningkatkan tekanan darah diastole
dan mengurangi tekanan nadi

Sumber: ATLS

4. Mengapa akral dingin disertai pucat dan bagaimana


penatalaksanaan luka robek dan tulang tibia menonjol
keluar?
Syok hipovolemik disebut juga dengan syok preload yang ditandai dengan menurunnya volume
intravaskuler oleh karena perdarahan. Menurunnya volume intravaskuler menyebabkan
penurunan volume intraventrikel kiri pada akhir sistol yang akibatnya juga menyebabkan
menurunnya curah jantung (cardiac output). Bila volume intravaskular berkurang, tubuh akan
selalu berusaha untuk mempertahankan perfusi organ-organ vital (jantung dan otak) dengan
mengorbankan perfusi organ lain seperti ginjal, hati, dan kulit. Kulit dingin, pucat, dan vena
kulit kolaps akibat penurunan pengisian kapiler selalu berkaitan dengan berkurangnya perfusi
jaringan.

Akibat penurunan fungsi paru : menurunnya compliance paru yang mengalami pneumothoraks
pertukaran udara tidak adekuat  darah mengandung sedikit O2 pewarnaan yang kebiruan
pada darah  tampak warna kebiruan pada kulit dan mukosa
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

5. Mengapa dokter memberikan oksigen dengan face mask dan menghentikan perdarahan dengan
perban tekan?
- Cedera kepala
Curiga c-spine injury
- Trauma dikepalamengeluarkan darah
- Cedera thoraks (paling mengancam jiwa)
Trauma dada sebelah kananmemar di hemitoraks, simpletension pneumothoraks.Ini
diagnosanya simple pneumothoraks/tension pneumothoraks?
- Cedera di tibia
Derajat Kesadaran ditentukaan oleh integritas dari ” diffuse ascending reticular system ”.Batang
otak yang pada ujung rostal bersambung dengan otak dan ujung caudalnya bersambung
dengan medulla spinalis ,mudah terbentang dan teregang pada waktu kepala bergerak secara
cepat dan sekaligus secara mendadak . Secara cepat danmendadak itu dinamakan akselerasi.
Peregangan menurut poros batang otak ini bisa menimbulkan blokade itu berlangsung , otak
tidak mendapatkan ”input ”aferen , yang berarti bahwa kesadaran menurun sampai derajat
yang rendahh ( pingsan ) . Hilangnya blokade terhadap lintasan ascendens itu akan disusul
dengan pulihnya kesadaran.
( Neurologi klinis Dasar )
Hubungan dengan cedera kepala
Jika terjadi trauma kepala dengan kekuatan/gaya akeselereasi, deselerasi dan rotatorik
akanmenimbulkan lesi atau perdarahan di berbagai tempat sehingga timbul gejala deficit
neurologist berupa babinski yang positif dan GCS kurang dari 15 (Sindrom Otak Organik).
Dari trauma kepala tersebut juga bisa terjadi pergerakan, penekanan dan pengembangan gaya
kompresi yang destruktif sehingga otak akan membentang batang otak dengan sangat kuat dan
terjadi blokade reversible terhadap lintasan assendens retikularis difus serta berakibat otak tidak
mendapatkan input afferent yang akhirnya kesadaran hilang selama blockade tersebut
berlangsung. Dari trauma kepala tersebut juga bisa berdampak pada sistem tubuh yang lainnya.
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

Pengaruh fraktur
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

Tension pneumothoraks
Mekanisme ventil

Dari Paru-paru Udara terus masuk cavum Melalui


pleura tanpa bisa keluar luka di dinding dada

Tekanan cavum makin tinggi

Paru kolaps

Mediastinum terdorong ke sisi sehat

Berkurangnya aliran darah vena

Vena leher melebar


a. Open pneumothoraks

Luka pada dinding thoraks yg


diameter 2/3 diameter trakea

Udara cenderung masuk ke rongga dada melalui


lubang tersebut
(tahanan lebih kecil dibanding trakea)
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

a. Flail chest

Fraktur multipel iga yg segmental

Ada bagian dada yg terpisah

Pergerakan paradoksal

Nyeri Hebat

Malas Bernafas

Perberat Hipoksia

Simple Pneumothorax Open Pneumothorax Tension Pneumothorax

Patofisiologi Tekanan Udara dlm rongga Terjadi karena luka terbuka pada Terjadi karena mekanisme
pleura sedikit lebih tinggi dinding dada sehingga pada saat check valve yaitu pada saat
dibandingkan cavum inspirasiudara dapat keluar inspirasi udara masuk ke
pleura hemithoraks sisi melalui luka tersebut. cavum pleura, tapi pada saat
kontralateralnya, tetapi ekspirasi, udara dalam cavum
Pada saat inspirasi –mediastinum
tekanannya masih lebih pleura tidak dapat keluar.
normal ; pada saat ekspirasi-
rendah daripada tekanan Semakin lama udara di dalam
mediastinum bergeser
atmosfir cavum pleura semakin banyak
dan tekanan menjadi lebih
*Tidak ada mekanisme
tinggid drpd tknn atmosfer 
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

ventil menekan paru  atelectasis

*Tidak ada desakan


mediastinum

*Gangguan respirasi dan


ventilasi minimal

Yang bolong pleura


visceral, kecil. Saat
inspirasi udara terserap

Tanda *Keluhan : nyeri, batuk, Sama seperti pneumothoraks sesak hebat, takhipnoe,
sesak simpel sianosis, hemithoraks
tertinggal pd pernapasan
*PF : tertinggal waktu + terlihat adanya luka
respirasi, vesikuler menghisap pada dinding thoraks tanda-2 syok
melemah, hipersonor
(sucking chest wound) pelebaran vena jugularis
*Tidak terlihat pelebaran
trakhea terdorong ke sisi sehat
vena
> auskultasi : suara napas tak
*Trakhea ditengah
terdengar
*Tidak ada tanda-tanda
> perkusi : hipersonor
syok
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

Penanganan Needle Thoracosintesis

Water Sealed Drainage

6. Mengapa setelah dilakukan tindakan kondisi pasien makin


memburuk?
Diberi oksigen tapi tidak ada penatalaksanaan pneumothorak udah makin bertambah 
menambah parah
Harusnya dilakukan penatalaksanaan untuk pneumothorak dulu kemudian dilanjutkan pemberian
oksigen
Chest tube dilakukan karena ada indikasi jejas pada hemithorak kanan.

Terjadi trauma pada kepala  dapat menurunkan kesadaran


7. Primary survey thd pasien?
1. PROTEKSI DIRI
a. sarung tangan = 2 buah x 10
b. masker = 1 buah x 10
c. topi = 1 buah x 10

2. AIRWAY
a. cervical collar = 1 x 10 buah
b. masker oksigen (rebreathing) = 1 x 10 buah
c. OPA = 1 x 10 buah
d. Ujung suction (keras) = 1 x 10 buah
e. set intubasi / laringoskop = 1 x 10 buah
f. ETT no 7 = 1 x 10 buah
g. non-rebreathing mask / AMBUBAG = 10 buah
h. pulse oxymeter utk demo = 2 buah

3. BREATHING
a. iv catheter no 14 = 1 x 10 buah
b. kasa = 1 box, plester = 1 buah (10 set)
c. betadin + kapas (10 set)
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

d. doek lubang = 1 x 10 buah


e. chest tube no 28 = 10 x 1 buah
f. botol WSD (dengan selangnya) = 10 x 1 buah
g. stetoskop = 1 x 10 buah
h. spuit 10 cc = 1 x 10 buah
i. lidokain = 1 ampul x 10
j. gagang pisau no 4 = 1 x 10 buah
k. pisau no 18 = 1 x 10 buah
l. klem bengkok = 3 x 10 buah
m. pinset = 1 x 10 buah
n. needle holder / naald voeder = 1 x 10 buah
o. benang silk = 1 x 10 gulung

4. CIRCULATION
a. tensimeter
b. iv catheter no 16 = 2 x 10 buah
c. cairan RL 500 cc = 2 x 10 botol
d. transfusi set = 2 x 10 buah
e. kateter Foley 16 F + KY jelly = 1 x 10 buah
f. urine bag = 1 x 10 buah
g. aquadest 50 cc = 1 x 10 buah

5. DISABILITY
a. senter kecil 1 x 10 buah

6. EXPOSURE

7. BIDAI
a. tensocrepe 6’ = 1 x 10 buah
b. bidai 2 x 10 buah
c. perban tekan = 1 x 10 buah

8. LAIN-LAIN
a. Nasogastric tube no 16 F = 1 x 10 buah
Penderita tersebut mengalami trauma multipel dengan biomekanik trauma kecepatan tinggi akibat
kecelakaan kendaraan bermotor. Sebelum menangani penderita, penolong memakai alat-alat
proteksi diri, minimal :
1. sarung tangan
2. masker
3. topi

Tambahan (sebaiknya kalau ada)


4. kacamata goggle
5. apron / pelindung badan yang
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

6. sepatu tidak tembus air

Langkah pertama : penilaian jalan napas


1. Penderita multipel trauma kecepatan tinggi tidak sadar, kemungkinan mengalami trauma
pada tulang belakang leher dan saat ini kemungkinan juga ada gangguan jalan napas. Karenanya
segera fiksasi kepala agar tidak bergerak dan dalam posisi in-line (inline immobilization). Segera
panggil perawat untuk menggantikan memegang kepala dalam posisi inline, penolong memasang
semirigid cervical collar.
2. Lakukan pertolongan dasar untuk membuka jalan napas dengan manuver jaw-thrust, ini
tidak didapati lendir/darah. Ternyata jalan napas baik, penderita diberikan oksigen 10 liter
permenit melalui masker / face mask ( 2-6 liter) kanul
3. Pasang pulse oxymetri (bila ada), ternyata pulse oxymeteri 85%

Langkah kedua : penilaian pernapasan


1. Frekwensi napas 50 kali permenit / takhipnoe, berarti penderita mengalami masalah
dengan pernapasannya. Penolong berdiri disebelah kranial penderita, membuka baju penderita.
Pada inspeksi terlihat jejas pada hemithoraks kanan dan pergerakan hemithoraks kanan
tertinggal. Kesimpulan ada kelainan pada hemithoraks kanan.
2. Dilakukan auskultasi pada kedua hemithoraks, dimulai dari yang sehat (kiri lebih
dahulu), dibandingkan dengan yang sakit minimal pada 4 tempat yaitu kedua apex dan kedua
basal paru. Suara napas kiri vesikuler, kanan tidak terdengar. Kemungkinan terdapat
pneumothoraks atau hemothoraks.
3. Pneumo atau hemothoraks dibedakan dengan perkusi. Perkusi pada hemithoraks kiri
penderita ini sonor dan hemithoraks kanan hipersonor. Diagnosis: pneumothoraks. Bila ada
pneumothoraks harus dicari kemungkinan open dan tension pneumothorax karena kedua keadaan
tersebut mengancam nyawa penderita dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat.
4. Open pneumothorax ditandai dengan adanya luka menghisap (sucking chest wound).
Pada penderita ini tidak didapati luka mengisap.
5. Tension pneumothorax apabila didapati tanda-tanda desakan mediastinum : trakhea
terdorong ke sisi yang sehat dan pelebaran pembuluh darah vena leher. Untuk memeriksa leher
(trakhea dan pelebaran pembuluh darah), perawat diminta melakukan inline immobilisation
kembali dan dokter membuka semirigid cervical collar-nya. Trakhea pada penderita ini terdorong
kekiri dan pembuluh darah leher (vena jugularis eksterna) melebar. Diagnosis : tension
pneumothorax. Tension pneumothoraks ditangani dengan needle thoracocentesis pada sela iga 2
garis mid clavicula kanan (diatas iga ke tiga) untuk mengubah tension menjadi simple
pneumothorax. (iga kedua melekat pada angulus Ludovici). Setelah dilakukan needle
thoracocentesis, penderita merasa lega dan frekwensi pernapasan menjadi 30 kali permenit.
6. Untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura dan mengembangkan paru dipasang pipa
thoraks (thoracic tube) dan dihubungkan dengan botol WSD. Untuk memasang pipa thoraks,
dokter ganti sarung tangan steril dan melakukannya sesuai dengan prinsip-prinsip pembedahan.
Pemasangan pipa thoraks pada sela iga ke 5 didepan garis mid-axillaris dada kanan (antara garis
mid-axillaris dan axillaris anterior). Lapangan operasi ditutup dengan doek lubang dan dilakukan
anestesi infiltrasi dengan lidokain. Insisi dilakukan sampai menemukan tulang iga ke 6, luka
dilebarkan secara tumpul dengan klem. Setelah menembus rongga pleura, jari telunjuk tangan kiri
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

dimasukkan ke dalam rongga pleura untuk mencari apakah ada perlengketan. Pipa thoraks ukuran
28 atau 30 F dimasukkan ke arah cranio-posterior, semua lubang berada dalam rongga dada. Pipa
dihubungkan dengan botol WSD, dinilai: undulasi, darah/cairan, bubble. Pada penderita ini, harus
dicabut lebih dahulu needle thoracocentesis-nya agar WSD berfungsi. Undulasinya ada dan juga
keluar gelembung udara/bubbles, tidak ada darah. Frekwensi pernapasan menjadi 24 kali
permenit dan pulse oxymetri 93%.

Langkah ketiga : penilaian sirkulasi


Frekwensi nadi penderita 140 kali permenit, akral dingin dan pucat, ditambah dengan
tekanan darah menurun menandakan terjadinya shock (hemoragik). Tindakan : hentikan
perdarahan dan ganti cairan yang hilang, bila perlu dengan darah.
1. Tungkai yang mengucurkan darah dihentikan dengan perban tekan
2. Dipasang infus 2 jalur memakai kateter intravena besar (nomer 14 atau 16). Sebelum
diberikan cairan Ringer Laktat hangat (39 derajat Celcius), diambil contoh darah untuk
crossmatch.
3. Ringer laktat hangat diberikan 2000 ml (2 liter) dengan diguyur.
4. Dipasang kateter urin, dengan kateter Foley nomer 18 F dengan lebih dahulu memeriksa
adakah kontraindikasi pemasangan kateter, yaitu ruptur uretra. Tanda ruptur uretra antara lain
darah menetes di meatus, hematom pada perineum / skrotum dan pada colok dubur prostat
mengambang. Urin yang keluar dibuang lebih dahulu setelah dilihat apakah ada darah atau tidak
(ruptur ginjal / buli-buli?). Selanjutnya urin ditampung dalam urine bag dan dihitung jumlahnya
untuk mengetahui apakah perfusi / shock sudah teratasi atau belum.
Setelah infus masuk 2 liter, nadi menjadi 100 kali permenit, tekanan darah 100/70 mmHg, akral
mulai hangat. Urin sudah mulai produksi.

Langkah keempat : disability


Pemeriksaan disability bertujuan untuk mengetahui adakah cedera kepala mengancam
nyawa atau tidak dengan mengetahui GSC dan pupil. GCS rendah dan pupil anisokor
menandakan terjadinya cedera kepala berat yang memerlukan konsultasi dengan bedah saraf.
Pada penderita ini GCS : mata membuka bila dipanggil dan tertutup kembali E = 3, dapat
melokalisasi nyeri M = 5 dan bicara ngawur V = 3. GCS pada penderita ini 11. Pupil kanan lebih
besar dari kiri, reaksi cahaya lambat. Kesimpulan : terdapat gangguan pada disability dan perlu
konsul bedah saraf.

Langkah kelima : exposure


Dilakukan pemeriksaan thoraks dan abdomen kembali. Thoraks bagian belakang
diperiksa dengan melakukan log roll. Juga diperiksa pelvis apakah ada fraktur pelvis yang dapat
mengakibatkan syok hemoragik.

Tungkai yang fraktur diperiksa akralnya, apakah denyutan A dorsalis pedis ada dan kuat.
Lakukan re-alignment (ingat pelajaran trauma muskulo-skeletal), periksa kembali A dorsalis
pedis dan pasang bidai.
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

Cara transfer

1. Menghubungi dokter yang akan menerima penderita dan diyakinkan bahwa penderita akan
mendapatkan penanganan definitif
2. Melaporkan kepada dokter konsulen keadaan penderita :
a. biomekanik trauma
b. keadaan waktu masuk :
 jalan napas baik, sudah diberikan oksigen 10 liter / menit dengan face mask
 breathing : terdapat tension pneumothorax kanan, telah dilakukan needle thoracocentesis
dan dipasang WSD.
 circulation : hemoragik shock telah dipasang intravenous catheter no 16 pada lengan kanan
kiri dan diguyur Ringer Laktat hangat
 disability : GCS 11 dan pupil anisokor
c. keadaan sekarang :
 jalan napas baik, oksigen terpasang dengan face mask 10 liter permenit
 breathing : WSD berjalan baik, undulasi positif, bubbles masih ada, darah tidak ada. Paru
kanan mulai mengembang
 circulation : telah diberikan 2 liter RL dengan respons cepat
 disability : GCS masih 11 dan pupil anisikor
d. Hasil pemeriksaan penunjang

3. Menyiapkan ambulance resusitasi, dengan didampingi paramedis penderita dikirim ke rumah sakit
tujuan
4. Semua surat menyurat, hasil laboratorium dan foto dilampirkan

Initial assessment dan meliputi :

 Persiapan
 Triage
 Primary survey (ABCDE)
 Resusitasi terhadap fungsi vital
 Riwayat kejadian
 Secondary survey (evaluasi dari kepala- ujung kaki)
 Monitoring post resusitasi yang berkelanjutan
 Reevaluasi
 Perawatan definitive

Persiapan Di Rumah sakit

Rencana tambahan bagi pasien trauma sangatlah penting. Tiap rumah sakit harus memiliki Protokol
Trauma.

Triage

Merupakan kegiatan yang dilakukan pada setting prehospital, namun kadang-kadang dapat dilakukan
pada ED, jika :
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

 Fasilitas yang tidak mencukupi : pasien yang terlihat paling parah yang akan ditangani lebih dulu.
 Jika fasilitas sangat mencukupi : pasien yang paling potensial untuk diselamatkan yang akan
ditangani lebih dulu.
Primary Survey (ABCDE) dan Resusitasi

Selama dilakukannya Primary Survey, kondisi yang mengancam jiwa harus diidentifikasi dan ditangani
secara simultan. Ingat bahwa tindakan lanjutan yang logis harus disesuaikan dengan prioritas yang
didasari oleh pemeriksaan pasien secara keseluruhan.

Catatan : Prioritas penanganan pasien pediatri dasarnya sama dengan penanganan pada dewasa,
walaupun kuantitas darah, cairan, dan obat-obatan mungkin berbeda.

Pemeriksaan Jalan Nafas dengan kontrol Cervical Spine

 Pemeriksaan : Jalan nafas dan cari adanya :


1. Benda asing
2. Fraktur mandibula/facial
3. Fraktur trakeal/laryngeal
 Pemeriksaan singkat Untuk mencari Obstruksi jalan nafas
1. Stridor
2. Retraksi
3. Sianosis
 Manajemen : Pertahankan jalan nafas yang paten
1. Lakukan manuver ‘chin lift’ atau ‘jaw thrust’
2. bersihkan jalan nafas dari benda asing
3. Masukkan orofaringeal atau nasofaringeal airway
4. Pertahankan definitive airway
a. Intubasi orotracheal atau nasotrakeal
b. Needle cricothyrotomy dengan jet insufflation pada jalan nafas
c. Krikotirotomi dengan pembedahan
 Perhatian
1. asumsikan bahwa trauma cervical spine merupakan trauma multisistem, terutama dengan
gangguan kesadaran atau trauma tumpul diatas clavicula.
2. Tidak adanya defisit neurologik bukan berarti kita dapat mengeksklusi trauma pada servical
spine.
3. jangan lumpuhkan pasien sebelum memeriksa jalan nafas untuk mencari “difficult airway”
4. Penyebab cardiac arrest/serangan jantung selama atau sesaat setelah intubasi endotrakeal :
a. Oksigenasi yang inadekuat sebelum intubasi
b. Intubasi esophageal
c. Intubasi bronchial pada bagian mainstem atau cabang utamanya.
d. Tekanan ventilasi yang berlebihan menyebabkan memperlambat venous return.
e. Tekanan ventilasi yang berlebihan menyebabkan tension pneumothorax.
f. Emboli udara
g. Respon vasovagal
h. Alkalosis respiratori yang berlebihan.
Bernafas (Ventilasi dan pathway oksigenasi jalan nafas sendiri, tidak akan mendukung ventilasi yang
adekuat).

 Pemeriksaan
1. periksa bagian leher dan dada : pastikan immobilisasi leher dan kepala.
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

2. Tentukan laju nafas dan dalamnya pernafasan.


3. Inspeksi dan palpasi leher dan dada untuk mencari deviasi trakeal, gerakan dada yang
unilateral atau bilateral, penggunaan otot aksesorius, dan adanya tanda-tanda injury.
4. Auskultasi dada secara bilateral, basal dan apeknya.
5. Jika terdapat suara yang berbeda antara kedua sisi dada, maka perkusi dada untuk mengetahui
adanya ‘dullness’ atau ‘hiperresonan’ untuk menentukan adanya hemotorak atau
pneumothorax secara berturut-turut:
a. Tension pneumothorax
b. Flail chest dengan kontusio pulmonal Dapat mengganggu
c. Pneumothorax terbuka
pernafasan secara akut
d. Hemothorax massive
 Penatalaksanaan
1. Pasang pulse oksimetri pada pasien
2. Berikan oksigen konsentrasi tinggi
Catatan : FiO2> 0,85 tidak dapat dicapai dengan nasal prongs atau dengan face mask yang simple. Non-
rebreather mask dengan reservoir diperlukan untuk mencapai FiO2 100%.

3. Ventilasi dengan bag-valve mask


4. Ringankan keadaan tension pneumothorax dengan memasukkan jarum ukuran besar secara
cepat kedalam ICS 2 pada midklavikular line dari sisi paru yang terkena, kemudian diikuti
dengan pemasangan chest tube pada ICS 5 anterior dari mid aksilari line.
5. Tutup penumothorax yang terbuka dengan pelekat kassa steril, cukup besar untuk menutupi
tepi luka, dan lekatkan pada tiga sisi untuk menciptakan efek flutter-valve. Kemudian
masukkan chest tube pada sisi sisanya.
6. pasang peralatan monitoring end tidal CO2 (jika tersedia) pada endotrakeal tube.

Udara bebas - 21%


Nasal canule 2 liter/menit 24%
Nasal canule 6 liter/menit 44%
Rebreathing mask 6-10 liter/menit 35-60%
Non-rebreathing mask 8-12 liter/menit 80-90%

Perhatian

1. Membedakan gangguan pernafasan dengan airway compromised mungkin akan sulit, karena jika
gangguan pernafasan yang terjadi akibat pneumothorak atau tension pneumothorax namun
disalahartikan sebagai suatu masalah jalan nafas sehingga jika pasien diintubasi, keadaan pasien
akan semakin memburuk.
2. Intubasi dan ventilasi dapat menyebabkan terjadinya pneumothoraks; sehingga CXR harus
dilakukan segera setelah intubasi dan ventilasi.
3. jangan paksa pasien untuk berbaring pada trolley terutama bila pasien lebih nyaman untuk
bernafas pada posisi duduk.
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

Sirkulasi dengan Kontrol perdarahan

 Hipotensi setelah terjadi injury harus dipertimbangkan sebagai akibat hipovolemik sampai
terbukti tidak. Identifikasi sumber perdarahannya.
 Pemeriksaan cepat dan akurat terhadap status hemodinamik sangat penting. Elemen yang penting
a.l:
1. Tingkat kesadaran : Penurunan tekanan perfusi serebral dapat terjadi akibat hipovolemi.
2. Warna kulit : kulit kemerahan : jarang menandakan hipovolemia. wajah keabu-abuan/kelabu,
kulit ektremitas putih menunjukkan hipovolemi; bisaanya mengindikasikan kehilangan
volume darah setidaknya 30%.
3. Nadi
4. BP jika waktu mengijinkan
a. jika nadi pada radialis teraba, BP >80mmHg
b. Jika hanya ada di Carotid BP > 60 mmHg.
c. Periksa kualitas nadi; penuh dan cepat
d. Nadi irregular menandakan kemungkinan cardiac impairment
 Penatalaksanaan
1. tekan langsung daerah perdarahan eksternal
2. pasang jalur IV dengan ukuran 14G atau 16G
3. Darah untuk : GXM 4-6 unit darah, FBC, urea/elektrolit/kreatinin, profil koagulasi dan BGA
jika diperlukan
Catatan : Jika darah gol. O negatif tidak tersedia, gunakan tipe darah yang spesifik

4. berikan terapi cairan IV dengan kristaloid hangat (NS atau Hartmann’s) dan transfuse darah.
5. pasang monitor EKG :
a. Disrritmia, pertimbangkan tamponade jantung
b. Pulseless electrical activity : pertimbangkan tamponade jantung, tension
pneumothorax, hipovolemia
c. Bradikardi, konduksi abberant, ventricular ektopik,: pertimbangkan hipoksia,
hipoperfusi
6. Pasang kateter urin dan NGT kecuali ada kontraindikasi.
Catatan : output urin adalah indicator sensitive untuk mengetahui status volume tubuh. Kateter urin
merupakan kontra indikasi jika ada kecurigaan injury pada urethra, misal:

a. darah pada meatus uretra


b. Henatom skrotum
c. Prostate tidak bisa dipalpasi
Gastric tube diindikasikan untuk mengurangi distensi lambung dan menurunkan resiko
aspirasi. Darah pada cairan aspirasi lambung mungkin berarti :

a. darah orofaring yang tertelan


b. akibat tauma pemasangan NGT
c. injury pada GIT bagian atas
Jika ada epistaksis atau serebrospinal fluid rhinorrhea yang mengindikasikan adanya
fraktur cribriform plate, pasang NGT per oral daripada melalui nasal.

7. cegah hipotermi

 Perhatian:
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

1. hipotensi persisten pada pasien trauma bisaanya terjadi karena hipovolemi akibat perdarahan
yang terus-menerus.
2. pada lansia, anak-anak, atlet, dan pasien lain dengan kondisi medis kronik, tidak adanya respon
terhadap hilangnya volume merupakan keadaan yang bisa terjadi. Lansia mungkin tidak
menunjukkan takikardi saat kehilangan darah, lebih parah lagi pada pasien pengguna beta
blocker. Pasien anak yang resah akan sering menunjukkan tanda hipovolemi yang parah.
3. coba jangan memasukkan emergency suclavian line pada sisi yang sehat dari pasien trauma dada.
Jalur IV femoral dapat digunakan. Jika central line digunakan untuk resusitasi harus digunakan
jarum ukuran besar (>8Fr)

Disabilitas (Evaluasi Neurologik)

Cek tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil.

 Metode AVPUP
AAlert

V respon terhadap rangsang Vokal

P respon terhadap rangsang Pain

U Unresponsif

P ukuran dan reaksi Pupil

Catatan : GCS lebihdetil namun termasuk pada secondary survey; kecuali jika akan melakukan
intubasi maka pemeriksaan GCS harus dilakukan lebih dulu.

1. tentukan tingkat kesadaran dengan metode AVPUP


2. Periksa pupil untuk ukurannya, equalitas dan reaksinya.
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

Perhatian

Jangan anggap AMS hanya terjadi akibat trauma kepala saja, pertimbangkan :

1. Hipoksia
2. Syok
3. intoksikasi alcohol/obat
4. hipoglikemi
5. sebaliknya jangan anggap AMS terjadi akibat intoksikasi alkohol atau obat, dokter harus dapat
mengeksklusi adanya cedera kepala.

Kontrol terhadap paparan/lingkungan

Lepas semua pakain pasien, cegah hipotermi dengan memakaikan selimut dan atau cairan IV yang hangat,
berikan cahaya hangat.

 Monitoring nadi, BP, pulse oksimetri, EKG, dan output urin terus-menerus.
 Lakukan X ray
1. Lateral cervical spine
2. Dada AP
3. Pelvis AP

8. Secondary survey thd pasien?


Secodary Survey

 Evaluasi keseluruhan termasuk tanda vital, BP, nadi, respirasi dan temperature
 Dilakukan setelah primary survey, resusitasi, dan pemeriksaan ABC.
 Dapat disingkat menjadi ‘tubes and fingers in every orifice’
 Dimulai dengan anamnesa AMPLE :
A Alergi

M Medikasi yang dikonsumsi baru-baru ini

P Past illness (RPD)

L Last meal (makan terakhir)

E Event/environment yang terkait injury

Kepala dan Wajah

 Pemeriksaan
1. inspeksi adanya laserasi, kontusio dan trauma panas
2. Palpasi adanya fraktur
3. Evaluasi ulang pupil
4. Fungsi nervus cranial
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

5. Mata : perdarahan, penetrating injury, dislokasi lensa pemakaian contact lenses


6. Inspeksi telinga dan hidung untuk mencari CSF leakage
7. Inspeksi mulut untuk mencari perdarahan dan CSF
 Penatalaksanaan
1. Pertahankan airway
2. Kontrol perdarahan
3. Hindari brain injury sekunder
4. Lepaskan lensa kontak

Leher

 Pemeriksaan
1. Inspeksi : trauma tumpul dan tajam, deviasi trakea, penggunaan otot pernafasan tambahan
2. Palpasi : nyeri tekan, deformitas, pembengkakan, emfisema subkutaneus, deviasi trakea
3. Auskultasi : periksa ‘bruit’ pada arteri karotis
4. X ray lateral, cross-tabel cervical spine
 Penatalaksanaan
Pertahankan immobilisasi cervical spine in-line yang adekuat

Dada

 Pemeriksaan
1. Inspeksi : trauma tumpul dan tajam, penggunaan otot pernafasan tambahan, penyimpangan
pernafasan bilateral.
2. Auskultasi : nafas dan suara jantung
3. Perkusi : ‘dull’ atau resonan
4. Palpasi : trauma tumpul dan tajam, emfisema subkutan, nyeri tekan dan krepitasi.
 Penatalaksanaan
1. Pasang chest tube
2. dekompresi menggunakan jarum venule 14G pada ICS 2
3. tutup luka pada dada dengan benar
4. Lakukan CXR
Catatan : tidak direkomendasikan untuk melakukan Perikardiocentesis. Torakotomi pada
Emergency Room lebih diperlukan pada pasien tamponade jantung. Rata-rata keberhasilan pasien
dengan luka penetrasi pada dada abdomen, serta pada pasien yang baru mengalami serangan
jantung, juga pada pasien dengan trauma tumpul. Sehingga prosedur ini secara umum tidak
diindikasikan pada trauma tumpul.

Abdomen

 Pemeriksaan
1. inspeksi : trauma tumpul dantajam
2. Auskultasi : Bising usus
3. Perkusi : nyeri tekan
4. Palpasi
5. X ray Pelvis
 Penatalaksanaan
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

1. Pemeriksaan klinis pada trauma multiple bisaanya sering menghasilkan pemeriksaan abdomen
yang kurang terperinci. Sehingga diindikasikan pemeriksaan FAST (Focuses Assessment using
Sonography in Trauma), CT scan abdomen atau peritoneal lavage. Lihat Bab Trauma, abdominal.
2. Pindahkan pasien ke ruang operasi, jika diperlukan.

Pemeriksaan Perineal dan Rektum

 Evaluasi
1. Tonus sphincter ani
2. Darah pada rectal
3. Integritas dinding usus
4. Posisi prostate
5. Darah pada meatus urinary
6. Hematoma scrotum
 Pemeriksaan Perineal
1. kontusio, hematom
2. Laserasi
 Pemeriksaan Vagina
1. adanya perdarahan pada vaginma
2. Laserasi vagina
 Pemeriksaan Rektum
1. Perdarahan rectum
2. Tonus sphincter ani
3. integritas dinding usus
4. bony fragments
5. Posisi prostate
Punggung

 Logroll pasien untuk mengevaluasi :


1. Deformitas tulang
2. adanya trauma tajam atau tumpul
Ekstremitas

 Pemeriksaan
1. inspeksi : deformitas, perdarahan yang meluas
2. Palpasi : nyeri tekan, krepitasi, pergerakan abnormal
 Manajemen
1. Splinting fraktur yang tepat
2. hilangkan nyeri
3. Imunisasi tetanus
Neurologik

 Pemeriksaan : reevaluasi pupil dan tingkat kesadaran, skor GCS


1. Evaluasi Sensorimotor
2. Paralise
3. Parese
 Manajemen
Imobilisasi pasien secara adekuat
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

Perawatan Definitif/Pemindahan

 Jika trauma pada pasien membutuhkan penanganan yang lengkap, pindahkan pasien secepatnya.
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5
kepala thoraks abdomen Pelvis ekstremitas

Macam Komosio : Fraktur iga Perdarahan Keluarnya fractures


GCS ↓, Gaster, darah dari
gejala kelainan Flail Chest usus halus, saluran Dislocations
neurology (- (hip and
kolon kencing
). Kontusio paru spine)
Oedem Kembung
Pneumotoraks  nyeri hematuria
serebri : Compartment
pingsan seluruh syndromes
berjam-jam Pneumothorax abdomen
Kontusio : terbuka Bising
perdarahan usus
kecil Tension
menurun
jaringan pneumorothorax
otak
edema
edem Hemothorax
jaringan usus
kelainan Hemotoraks masif tekanan
neurology intra
(+), pingsan Cedera trakea dan abdomen
berhari-hari Bronkus meningkat
atau
berminggu-
minggu.
derajat ringan
(GCS 14-
15)
sedang
(GCS 9-13)
berat (GCS
3-8)
terapi Ringan Fail chest dan Pasang Pasang Reposisi
fraktur nasogastric kateter
asimtomatis, ventilasi adekuat, tube untuk foley Bidai
sadar, oksigen yang pemberian retrogade
neurologis amputasi
dilembabkan dan nutrisi
normal  resusitasi cairan
pulang 
diobservasi Open
selama 24 pneumothoraks
jam  nyeri Langkah awal
kepala, adalah menutup
penurunan luka dengan kasa
kesadaran, stril yang diplester
defisit hanya pada 3
neurologis sisinya saja
fokal  RS
Tension
sedang thorakosentesis
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

neurologis Hemothorak
12-24 jam selang dada
pertama  kaliber besar
CTscan
lanjutan penggantian
dalam 12-24 volume darah
jam

9. Penatalaksanan secara keseluruhan pada pasien tsb?


1. PROTEKSI DIRI
a. sarung tangan = 2 buah x 10
b. masker = 1 buah x 10
c. topi = 1 buah x 10

2. AIRWAY
a. cervical collar = 1 x 10 buah
b. masker oksigen (rebreathing) = 1 x 10 buah
c. OPA = 1 x 10 buah
d. Ujung suction (keras) = 1 x 10 buah
e. set intubasi / laringoskop = 1 x 10 buah
f. ETT no 7 = 1 x 10 buah
g. non-rebreathing mask / AMBUBAG = 10 buah
h. pulse oxymeter utk demo = 2 buah

3. BREATHING
a. iv catheter no 14 = 1 x 10 buah
b. kasa = 1 box, plester = 1 buah (10 set)
c. betadin + kapas (10 set)
d. doek lubang = 1 x 10 buah
e. chest tube no 28 = 10 x 1 buah
f. botol WSD (dengan selangnya) = 10 x 1 buah
g. stetoskop = 1 x 10 buah
h. spuit 10 cc = 1 x 10 buah
i. lidokain = 1 ampul x 10
j. gagang pisau no 4 = 1 x 10 buah
k. pisau no 18 = 1 x 10 buah
l. klem bengkok = 3 x 10 buah
m. pinset = 1 x 10 buah
n. needle holder / naald voeder = 1 x 10 buah
o. benang silk = 1 x 10 gulung
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

4. CIRCULATION
a. tensimeter
b. iv catheter no 16 = 2 x 10 buah
c. cairan RL 500 cc = 2 x 10 botol
d. transfusi set = 2 x 10 buah
e. kateter Foley 16 F + KY jelly = 1 x 10 buah
f. urine bag = 1 x 10 buah
g. aquadest 50 cc = 1 x 10 buah

5. DISABILITY
a. senter kecil 1 x 10 buah

6. EXPOSURE

7. BIDAI
a. tensocrepe 6’ = 1 x 10 buah
b. bidai 2 x 10 buah
c. perban tekan = 1 x 10 buah

8. LAIN-LAIN

a. Nasogastric tube no 16 F = 1 x 10 buah

Penderita tersebut mengalami trauma multipel dengan biomekanik trauma kecepatan tinggi
akibat kecelakaan kendaraan bermotor. Sebelum menangani penderita, penolong memakai
alat-alat proteksi diri, minimal :

2. sarung tangan
3. masker
4. topi

Tambahan (sebaiknya kalau ada)

5. kacamata goggle
6. apron / pelindung badan yang
7. sepatu tidak tembus air

Langkah pertama : penilaian jalan napas

1. Penderita multipel trauma kecepatan tinggi tidak sadar, kemungkinan mengalami trauma
pada tulang belakang leher dan saat ini kemungkinan juga ada gangguan jalan napas.
Karenanya segera fiksasi kepala agar tidak bergerak dan dalam posisi in-line (inline
immobilization). Segera panggil perawat untuk menggantikan memegang kepala dalam
posisi inline, penolong memasang semirigid cervical collar.
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

2. Lakukan pertolongan dasar untuk membuka jalan napas dengan manuver jaw-thrust, ini
tidak didapati lendir/darah. Ternyata jalan napas baik, penderita diberikan oksigen 10 liter
permenit melalui masker / face mask.
3. Pasang pulse oxymetri (bila ada), ternyata pulse oxymeteri 85%

Langkah kedua : penilaian pernapasan

1. Frekwensi napas 50 kali permenit / takhipnoe, berarti penderita mengalami masalah dengan
pernapasannya. Penolong berdiri disebelah kranial penderita, membuka baju penderita. Pada
inspeksi terlihat jejas pada hemithoraks kanan dan pergerakan hemithoraks kanan tertinggal.
Kesimpulan ada kelainan pada hemithoraks kanan.
2. Dilakukan auskultasi pada kedua hemithoraks, dimulai dari yang sehat (kiri lebih dahulu),
dibandingkan dengan yang sakit minimal pada 4 tempat yaitu kedua apex dan kedua basal
paru. Suara napas kiri vesikuler, kanan tidak terdengar. Kemungkinan terdapat
pneumothoraks atau hemothoraks.
3. Pneumo atau hemothoraks dibedakan dengan perkusi. Perkusi pada hemithoraks kiri
penderita ini sonor dan hemithoraks kanan hipersonor. Diagnosis: pneumothoraks. Bila ada
pneumothoraks harus dicari kemungkinan open dan tension pneumothorax karena kedua
keadaan tersebut mengancam nyawa penderita dan dapat menyebabkan kematian dalam
waktu singkat.
4. Open pneumothorax ditandai dengan adanya luka menghisap (sucking chest wound). Pada
penderita ini tidak didapati luka mengisap.
5. Tension pneumothorax apabila didapati tanda-tanda desakan mediastinum : trakhea
terdorong ke sisi yang sehat dan pelebaran pembuluh darah vena leher. Untuk memeriksa
leher (trakhea dan pelebaran pembuluh darah), perawat diminta melakukan inline
immobilisation kembali dan dokter membuka semirigid cervical collar-nya. Trakhea pada
penderita ini terdorong kekiri dan pembuluh darah leher (vena jugularis eksterna) melebar.
Diagnosis : tension pneumothorax. Tension pneumothoraks ditangani dengan needle
thoracocentesis pada sela iga 2 garis mid clavicula kanan (diatas iga ke tiga) untuk
mengubah tension menjadi simple pneumothorax. (iga kedua melekat pada angulus
Ludovici). Setelah dilakukan needle thoracocentesis, penderita merasa lega dan frekwensi
pernapasan menjadi 30 kali permenit.
6. Untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura dan mengembangkan paru dipasang pipa
thoraks (thoracic tube) dan dihubungkan dengan botol WSD. Untuk memasang pipa thoraks,
dokter ganti sarung tangan steril dan melakukannya sesuai dengan prinsip-prinsip
pembedahan. Pemasangan pipa thoraks pada sela iga ke 5 didepan garis mid-axillaris dada
kanan (antara garis mid-axillaris dan axillaris anterior). Lapangan operasi ditutup dengan
doek lubang dan dilakukan anestesi infiltrasi dengan lidokain. Insisi dilakukan sampai
menemukan tulang iga ke 6, luka dilebarkan secara tumpul dengan klem. Setelah menembus
rongga pleura, jari telunjuk tangan kiri dimasukkan ke dalam rongga pleura untuk mencari
apakah ada perlengketan. Pipa thoraks ukuran 28 atau 30 F dimasukkan ke arah cranio-
posterior, semua lubang berada dalam rongga dada. Pipa dihubungkan dengan botol WSD,
dinilai: undulasi, darah/cairan, bubble. Pada penderita ini, harus dicabut lebih dahulu needle
thoracocentesis-nya agar WSD berfungsi. Undulasinya ada dan juga keluar gelembung
udara/bubbles, tidak ada darah. Frekwensi pernapasan menjadi 24 kali permenit dan pulse
oxymetri 93%.

Langkah ketiga : penilaian sirkulasi


Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

Frekwensi nadi penderita 140 kali permenit, akral dingin dan pucat, ditambah dengan
tekanan darah menurun menandakan terjadinya shock (hemoragik). Tindakan : hentikan
perdarahan dan ganti cairan yang hilang, bila perlu dengan darah.

1. Tungkai yang mengucurkan darah dihentikan dengan perban tekan


2. Dipasang infus 2 jalur memakai kateter intravena besar (nomer 14 atau 16). Sebelum
diberikan cairan Ringer Laktat hangat (39 derajat Celcius), diambil contoh darah untuk
crossmatch.
3. Ringer laktat hangat diberikan 2000 ml (2 liter) dengan diguyur.
4. Dipasang kateter urin, dengan kateter Foley nomer 18 F dengan lebih dahulu memeriksa
adakah kontraindikasi pemasangan kateter, yaitu ruptur uretra. Tanda ruptur uretra antara
lain darah menetes di meatus, hematom pada perineum / skrotum dan pada colok dubur
prostat mengambang. Urin yang keluar dibuang lebih dahulu setelah dilihat apakah ada
darah atau tidak (ruptur ginjal / buli-buli?). Selanjutnya urin ditampung dalam urine bag dan
dihitung jumlahnya untuk mengetahui apakah perfusi / shock sudah teratasi atau belum.
Setelah infus masuk 2 liter, nadi menjadi 100 kali permenit, tekanan darah 100/70 mmHg,
akral mulai hangat. Urin sudah mulai produksi.

Langkah keempat : disability

Pemeriksaan disability bertujuan untuk mengetahui adakah cedera kepala mengancam


nyawa atau tidak dengan mengetahui GSC dan pupil. GCS rendah dan pupil anisokor
menandakan terjadinya cedera kepala berat yang memerlukan konsultasi dengan bedah
saraf. Pada penderita ini GCS : mata membuka bila dipanggil dan tertutup kembali E = 3,
dapat melokalisasi nyeri M = 5 dan bicara ngawur V = 3. GCS pada penderita ini 11. Pupil
kanan lebih besar dari kiri, reaksi cahaya lambat. Kesimpulan : terdapat gangguan pada
disability dan perlu konsul bedah saraf.

Langkah kelima : exposure

Dilakukan pemeriksaan thoraks dan abdomen kembali. Thoraks bagian belakang


diperiksa dengan melakukan log roll. Juga diperiksa pelvis apakah ada fraktur pelvis yang
dapat mengakibatkan syok hemoragik.

Tungkai yang fraktur diperiksa akralnya, apakah denyutan A dorsalis pedis ada dan kuat.
Lakukan re-alignment (ingat pelajaran trauma muskulo-skeletal), periksa kembali A dorsalis
pedis dan pasang bidai.

Pemeriksaan penunjang
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

1. Foto leher lateral (cross table)


2. Foto thoraks AP
3. (Foto cruris sinistra AP-lateral) : boleh juga dalam secondary survey nanti
4. (Foto pelvis AP) : tidak dilakukan karena tidak ada indikasi

Kesimpulan

Penderita trauma multipel terancam nyawanya dengan gangguan:

Airway : paten / baik

Breathing : terdapat tension pneumothorax kanan dan sudah dilakukan needle


thoracocentesis dan pemasangan WSD. Terdapat perbaikan.

Circulation : syok, sudah dipasang infus dan perdarahan dihentikan. Respons pemberian
cairan baik (rapid responder)

Disability : GCS 11, pupil an-isocor reaksi cahaya lambat. Terdapat CKS.

Saat ini penderita sudah stabil  dikirim ke rumah sakit/ bagian bedah (thoraks, orthopedi,
bedah saraf) , diiringi oleh paramedis yang terlatih

Cara transfer

1. Menghubungi dokter yang akan menerima penderita dan diyakinkan bahwa penderita akan
mendapatkan penanganan definitif
2. Melaporkan kepada dokter konsulen keadaan penderita :
d. biomekanik trauma
e. keadaan waktu masuk :
 jalan napas baik, sudah diberikan oksigen 10 liter / menit dengan face mask
 breathing : terdapat tension pneumothorax kanan, telah dilakukan needle thoracocentesis dan
dipasang WSD.
 circulation : hemoragik shock telah dipasang intravenous catheter no 16 pada lengan kanan
kiri dan diguyur Ringer Laktat hangat
 disability : GCS 11 dan pupil anisokor
f. keadaan sekarang :
 jalan napas baik, oksigen terpasang dengan face mask 10 liter permenit
 breathing : WSD berjalan baik, undulasi positif, bubbles masih ada, darah tidak ada. Paru
kanan mulai mengembang
 circulation : telah diberikan 2 liter RL dengan respons cepat
 disability : GCS masih 11 dan pupil anisikor
d. Hasil pemeriksaan penunjang

3. Menyiapkan ambulance resusitasi, dengan didampingi paramedis penderita dikirim ke


rumah sakit tujuan
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

4. Semua surat menyurat, hasil laboratorium dan foto dilampirkan

Initial assessment dan meliputi :

 Persiapan
 Triage
 Primary survey (ABCDE)
 Resusitasi terhadap fungsi vital
 Riwayat kejadian
 Secondary survey (evaluasi dari kepala- ujung kaki)
 Monitoring post resusitasi yang berkelanjutan
 Reevaluasi
 Perawatan definitive

Persiapan Di Rumah sakit

Rencana tambahan bagi pasien trauma sangatlah penting. Tiap rumah sakit harus memiliki
Protokol Trauma.

Triage

Merupakan kegiatan yang dilakukan pada setting prehospital, namun kadang-kadang dapat
dilakukan pada ED, jika :

 Fasilitas yang tidak mencukupi : pasien yang terlihat paling parah yang akan ditangani lebih
dulu.
 Jika fasilitas sangat mencukupi : pasien yang paling potensial untuk diselamatkan yang akan
ditangani lebih dulu.
Primary Survey (ABCDE) dan Resusitasi

Selama dilakukannya Primary Survey, kondisi yang mengancam jiwa harus diidentifikasi
dan ditangani secara simultan. Ingat bahwa tindakan lanjutan yang logis harus disesuaikan
dengan prioritas yang didasari oleh pemeriksaan pasien secara keseluruhan.

Catatan : Prioritas penanganan pasien pediatri dasarnya sama dengan penanganan pada
dewasa, walaupun kuantitas darah, cairan, dan obat-obatan mungkin berbeda.

Pemeriksaan Jalan Nafas dengan kontrol Cervical Spine

 Pemeriksaan : Jalan nafas dan cari adanya :


4. Benda asing
5. Fraktur mandibula/facial
6. Fraktur trakeal/laryngeal
 Pemeriksaan singkat Untuk mencari Obstruksi jalan nafas
4. Stridor
5. Retraksi
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

6. Sianosis
 Manajemen : Pertahankan jalan nafas yang paten
5. Lakukan manuver ‘chin lift’ atau ‘jaw thrust’
6. bersihkan jalan nafas dari benda asing
7. Masukkan orofaringeal atau nasofaringeal airway
8. Pertahankan definitive airway
d. Intubasi orotracheal atau nasotrakeal
e. Needle cricothyrotomy dengan jet insufflation pada jalan nafas
f. Krikotirotomi dengan pembedahan
 Perhatian
5. asumsikan bahwa trauma cervical spine merupakan trauma multisistem, terutama dengan
gangguan kesadaran atau trauma tumpul diatas clavicula.
6. Tidak adanya defisit neurologik bukan berarti kita dapat mengeksklusi trauma pada servical
spine.
7. jangan lumpuhkan pasien sebelum memeriksa jalan nafas untuk mencari “difficult airway”
8. Penyebab cardiac arrest/serangan jantung selama atau sesaat setelah intubasi endotrakeal :
a. Oksigenasi yang inadekuat sebelum intubasi
b. Intubasi esophageal
c. Intubasi bronchial pada bagian mainstem atau cabang utamanya.
d. Tekanan ventilasi yang berlebihan menyebabkan memperlambat venous return.
e. Tekanan ventilasi yang berlebihan menyebabkan tension pneumothorax.
f. Emboli udara
g. Respon vasovagal
h. Alkalosis respiratori yang berlebihan.
Bernafas (Ventilasi dan pathway oksigenasi jalan nafas sendiri, tidak akan mendukung
ventilasi yang adekuat).

 Pemeriksaan
6. periksa bagian leher dan dada : pastikan immobilisasi leher dan kepala.
7. Tentukan laju nafas dan dalamnya pernafasan.
8. Inspeksi dan palpasi leher dan dada untuk mencari deviasi trakeal, gerakan dada yang
unilateral atau bilateral, penggunaan otot aksesorius, dan adanya tanda-tanda injury.
9. Auskultasi dada secara bilateral, basal dan apeknya.
10. Jika terdapat suara yang berbeda antara kedua sisi dada, maka perkusi dada untuk
mengetahui adanya ‘dullness’ atau ‘hiperresonan’ untuk menentukan adanya hemotorak atau
pneumothorax secara berturut-turut:
a. Tension pneumothorax
b. Flail chest dengan kontusio pulmonal Dapat mengganggu
c. Pneumothorax terbuka
d. Hemothorax massive pernafasan secara akut
 Penatalaksanaan
7. Pasang pulse oksimetri pada pasien
8. Berikan oksigen konsentrasi tinggi
Catatan : FiO2> 0,85 tidak dapat dicapai dengan nasal prongs atau dengan face mask yang
simple. Non-rebreather mask dengan reservoir diperlukan untuk mencapai FiO2 100%.

9. Ventilasi dengan bag-valve mask


10. Ringankan keadaan tension pneumothorax dengan memasukkan jarum ukuran besar secara
cepat kedalam ICS 2 pada midklavikular line dari sisi paru yang terkena, kemudian diikuti
dengan pemasangan chest tube pada ICS 5 anterior dari mid aksilari line.
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

11. Tutup penumothorax yang terbuka dengan pelekat kassa steril, cukup besar untuk menutupi
tepi luka, dan lekatkan pada tiga sisi untuk menciptakan efek flutter-valve. Kemudian
masukkan chest tube pada sisi sisanya.
12. pasang peralatan monitoring end tidal CO2 (jika tersedia) pada endotrakeal tube.

Perhatian

4. Membedakan gangguan pernafasan dengan airway compromised mungkin akan sulit, karena
jika gangguan pernafasan yang terjadi akibat pneumothorak atau tension pneumothorax
namun disalahartikan sebagai suatu masalah jalan nafas sehingga jika pasien diintubasi,
keadaan pasien akan semakin memburuk.
5. Intubasi dan ventilasi dapat menyebabkan terjadinya pneumothoraks; sehingga CXR harus
dilakukan segera setelah intubasi dan ventilasi.
6. jangan paksa pasien untuk berbaring pada trolley terutama bila pasien lebih nyaman untuk
bernafas pada posisi duduk.

Sirkulasi dengan Kontrol perdarahan

 Hipotensi setelah terjadi injury harus dipertimbangkan sebagai akibat hipovolemik sampai
terbukti tidak. Identifikasi sumber perdarahannya.
 Pemeriksaan cepat dan akurat terhadap status hemodinamik sangat penting. Elemen yang
penting a.l:

Udara bebas - 21%


Nasal canule 2 24%
liter/menit
Nasal canule 6 44%
liter/menit
Rebreathing mask 6-10 35-
liter/menit 60%
Non-rebreathing mask 8-12 80-
liter/menit 90%
5. Tingkat kesadaran : Penurunan tekanan perfusi serebral dapat terjadi akibat hipovolemi.
6. Warna kulit : kulit kemerahan : jarang menandakan hipovolemia. wajah keabu-abuan/kelabu,
kulit ektremitas putih menunjukkan hipovolemi; bisaanya mengindikasikan kehilangan
volume darah setidaknya 30%.
7. Nadi
8. BP jika waktu mengijinkan
a. jika nadi pada radialis teraba, BP >80mmHg
b. Jika hanya ada di Carotid BP > 60 mmHg.
c. Periksa kualitas nadi; penuh dan cepat
d. Nadi irregular menandakan kemungkinan cardiac impairment
 Penatalaksanaan
8. tekan langsung daerah perdarahan eksternal
9. pasang jalur IV dengan ukuran 14G atau 16G
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

10. Darah untuk : GXM 4-6 unit darah, FBC, urea/elektrolit/kreatinin, profil koagulasi dan BGA
jika diperlukan
Catatan : Jika darah gol. O negatif tidak tersedia, gunakan tipe darah yang spesifik

11. berikan terapi cairan IV dengan kristaloid hangat (NS atau Hartmann’s) dan transfuse darah.
12. pasang monitor EKG :
a. Disrritmia, pertimbangkan tamponade jantung
b. Pulseless electrical activity : pertimbangkan tamponade jantung, tension pneumothorax,
hipovolemia
c. Bradikardi, konduksi abberant, ventricular ektopik,: pertimbangkan hipoksia, hipoperfusi
13. Pasang kateter urin dan NGT kecuali ada kontraindikasi.
Catatan : output urin adalah indicator sensitive untuk mengetahui status volume tubuh.
Kateter urin merupakan kontra indikasi jika ada kecurigaan injury pada urethra, misal:

a. darah pada meatus uretra


b. Henatom skrotum
c. Prostate tidak bisa dipalpasi
Gastric tube diindikasikan untuk mengurangi distensi lambung dan menurunkan resiko
aspirasi. Darah pada cairan aspirasi lambung mungkin berarti :

d. darah orofaring yang tertelan


e. akibat tauma pemasangan NGT
f. injury pada GIT bagian atas
Jika ada epistaksis atau serebrospinal fluid rhinorrhea yang mengindikasikan adanya fraktur
cribriform plate, pasang NGT per oral daripada melalui nasal.

14. cegah hipotermi

 Perhatian:
4. hipotensi persisten pada pasien trauma bisaanya terjadi karena hipovolemi akibat perdarahan
yang terus-menerus.
5. pada lansia, anak-anak, atlet, dan pasien lain dengan kondisi medis kronik, tidak adanya
respon terhadap hilangnya volume merupakan keadaan yang bisa terjadi. Lansia mungkin
tidak menunjukkan takikardi saat kehilangan darah, lebih parah lagi pada pasien pengguna
beta blocker. Pasien anak yang resah akan sering menunjukkan tanda hipovolemi yang
parah.
6. coba jangan memasukkan emergency suclavian line pada sisi yang sehat dari pasien trauma
dada. Jalur IV femoral dapat digunakan. Jika central line digunakan untuk resusitasi harus
digunakan jarum ukuran besar (>8Fr)
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

Disabilitas (Evaluasi Neurologik)

Cek tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil.

 Metode AVPUP
AAlert

V respon terhadap rangsang Vokal

P respon terhadap rangsang Pain

U Unresponsif

P ukuran dan reaksi Pupil

Catatan : GCS lebihdetil namun termasuk pada secondary survey; kecuali jika akan
melakukan intubasi maka pemeriksaan GCS harus dilakukan lebih dulu.

1. tentukan tingkat kesadaran dengan metode AVPUP


2. Periksa pupil untuk ukurannya, equalitas dan reaksinya.
Perhatian

Jangan anggap AMS hanya terjadi akibat trauma kepala saja, pertimbangkan :

6. Hipoksia
7. Syok
8. intoksikasi alcohol/obat
9. hipoglikemi
10. sebaliknya jangan anggap AMS terjadi akibat intoksikasi alkohol atau obat, dokter harus
dapat mengeksklusi adanya cedera kepala.
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

Kontrol terhadap paparan/lingkungan

Lepas semua pakain pasien, cegah hipotermi dengan memakaikan selimut dan atau cairan IV
yang hangat, berikan cahaya hangat.

 Monitoring nadi, BP, pulse oksimetri, EKG, dan output urin terus-menerus.
 Lakukan X ray
4. Lateral cervical spine
5. Dada AP
6. Pelvis AP
Secodary Survey

 Evaluasi keseluruhan termasuk tanda vital, BP, nadi, respirasi dan temperature
 Dilakukan setelah primary survey, resusitasi, dan pemeriksaan ABC.
 Dapat disingkat menjadi ‘tubes and fingers in every orifice’
 Dimulai dengan anamnesa AMPLE :
A Alergi

M Medikasi yang dikonsumsi baru-baru ini

P Past illness (RPD)

L Last meal (makan terakhir)

E Event/environment yang terkait injury

Kepala dan Wajah

 Pemeriksaan
8. inspeksi adanya laserasi, kontusio dan trauma panas
9. Palpasi adanya fraktur
10. Evaluasi ulang pupil
11. Fungsi nervus cranial
12. Mata : perdarahan, penetrating injury, dislokasi lensa pemakaian contact lenses
13. Inspeksi telinga dan hidung untuk mencari CSF leakage
14. Inspeksi mulut untuk mencari perdarahan dan CSF
 Penatalaksanaan
5. Pertahankan airway
6. Kontrol perdarahan
7. Hindari brain injury sekunder
8. Lepaskan lensa kontak

Leher

 Pemeriksaan
5. Inspeksi : trauma tumpul dan tajam, deviasi trakea, penggunaan otot pernafasan tambahan
6. Palpasi : nyeri tekan, deformitas, pembengkakan, emfisema subkutaneus, deviasi trakea
7. Auskultasi : periksa ‘bruit’ pada arteri karotis
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

8. X ray lateral, cross-tabel cervical spine


 Penatalaksanaan
Pertahankan immobilisasi cervical spine in-line yang adekuat

Dada

 Pemeriksaan
5. Inspeksi : trauma tumpul dan tajam, penggunaan otot pernafasan tambahan, penyimpangan
pernafasan bilateral.
6. Auskultasi : nafas dan suara jantung
7. Perkusi : ‘dull’ atau resonan
8. Palpasi : trauma tumpul dan tajam, emfisema subkutan, nyeri tekan dan krepitasi.
 Penatalaksanaan
5. Pasang chest tube
6. dekompresi menggunakan jarum venule 14G pada ICS 2
7. tutup luka pada dada dengan benar
8. Lakukan CXR
Catatan : tidak direkomendasikan untuk melakukan Perikardiocentesis. Torakotomi pada
Emergency Room lebih diperlukan pada pasien tamponade jantung. Rata-rata keberhasilan
pasien dengan luka penetrasi pada dada abdomen, serta pada pasien yang baru mengalami
serangan jantung, juga pada pasien dengan trauma tumpul. Sehingga prosedur ini secara
umum tidak diindikasikan pada trauma tumpul.

Abdomen

 Pemeriksaan
6. inspeksi : trauma tumpul dantajam
7. Auskultasi : Bising usus
8. Perkusi : nyeri tekan
9. Palpasi
10. X ray Pelvis
 Penatalaksanaan
3. Pemeriksaan klinis pada trauma multiple bisaanya sering menghasilkan pemeriksaan
abdomen yang kurang terperinci. Sehingga diindikasikan pemeriksaan FAST (Focuses
Assessment using Sonography in Trauma), CT scan abdomen atau peritoneal lavage. Lihat
Bab Trauma, abdominal.
4. Pindahkan pasien ke ruang operasi, jika diperlukan.

Pemeriksaan Perineal dan Rektum

 Evaluasi
7. Tonus sphincter ani
8. Darah pada rectal
9. Integritas dinding usus
10. Posisi prostate
11. Darah pada meatus urinary
12. Hematoma scrotum
 Pemeriksaan Perineal
3. kontusio, hematom
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

4. Laserasi
 Pemeriksaan Vagina
3. adanya perdarahan pada vaginma
4. Laserasi vagina
 Pemeriksaan Rektum
6. Perdarahan rectum
7. Tonus sphincter ani
8. integritas dinding usus
9. bony fragments
10. Posisi prostate
Punggung

 Logroll pasien untuk mengevaluasi :


3. Deformitas tulang
4. adanya trauma tajam atau tumpul
Ekstremitas

 Pemeriksaan
3. inspeksi : deformitas, perdarahan yang meluas
4. Palpasi : nyeri tekan, krepitasi, pergerakan abnormal
 Manajemen
4. Splinting fraktur yang tepat
5. hilangkan nyeri
6. Imunisasi tetanus
Neurologik

 Pemeriksaan : reevaluasi pupil dan tingkat kesadaran, skor GCS


4. Evaluasi Sensorimotor
5. Paralise
6. Parese
 Manajemen
Imobilisasi pasien secara adekuat

Perawatan Definitif/Pemindahan

 Jika trauma pada pasien membutuhkan penanganan yang lengkap, pindahkan pasien
secepatnya.
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5
kepala thoraks abdomen Pelvis

Macam Komosio : Fraktur iga Perdarahan Keluarnya


GCS ↓, Gaster, darah dari
ejala kelainan Flail Chest usus halus, saluran
neurology (-
kolon kencing
). Kontusio paru
Oedem Kembung
Pneumotoraks  nyeri hematuria
serebri :
pingsan seluruh
berjam-jam Pneumothorax abdomen
Kontusio : terbuka Bising
perdarahan usus
kecil Tension
menurun
jaringan pneumorothorax
otak
edema
edem Hemothorax
jaringan usus
kelainan Hemotoraks masif tekanan
neurology intra
(+), pingsan Cedera trakea dan abdomen
berhari-hari Bronkus meningkat
atau
berminggu-
minggu.
erajat ringan
(GCS 14-
15)
sedang
(GCS 9-13)
berat (GCS
3-8)
erapi Ringan Fail chest dan Pasang Pasang
fraktur nasogastric kateter
asimtomatis, ventilasi adekuat, tube untuk foley
sadar, oksigen yang pemberian retrogade
neurologis dilembabkan dan nutrisi
normal  resusitasi cairan
pulang 
diobservasi Open
selama 24 pneumothoraks
jam  nyeri Langkah awal
kepala, adalah menutup
penurunan luka dengan kasa
kesadaran, stril yang diplester
defisit hanya pada 3
neurologis sisinya saja
fokal  RS
Tension
sedang thorakosentesis
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

neurologis Hemothorak
12-24 jam selang dada
pertama  kaliber besar
CTscan
lanjutan penggantian
dalam 12-24 volume darah
jam

1. macam2 trauma thoraks ( trauma yg mengancam nyawa ) dan jelaskan !

2.3.1. KERUSAKAN FOKAL


2.3.1.1. Kontusio kortikal dan laserasi
Kontusio kortikal dan laserasi bisa terjadi di bawah atau berlawanan (counter-coup) pada sisi
yang terkena, tapi kebanyakan melibatkan lobus frontal dan temporal. Kontusio biasanya
terjadi multiple dan bilateral. Kontusio multiple tidak depresi pada tingkat kesadaran, tapi
hal ini dapat terjadi ketika perdarahan akibat kontusio memproduksi ruang yang
menyebabkan hematoma.

2.3.1.2. Hematoma intracranial


Perdarahan intracranial dapat terjadi baik di luar (ekstradural) maupun di dalam dura
(intradural). Lesi intradural biasanya terdiri dari campuran dari hematoma subdural dan
intraserebral, walaupun subdural murni juga terjadi. Kerusakan otak bisa disebabkan direk
atau indirek akibat herniasi tentorial atau tonsilar.

2.3.1.3. Intraserebral (Burst lobe)


Kontusio di lobus frontal dan temporal sering mengarah pada perdarahan di dalam
substansia otak, biasanya dihubungkan dengan hematoma subdural yang hebat.
“Burst Lobe” adalah definisi yang biasanya digunakan untuk menerangkan penampakan dari
hematoma intraserebral bercampur dengan jaringan otak yang nekrotik, ruptur keluar ke
ruang subdural.

2.3.1.4. Subdural
Pada beberapa pasien, dampaknya bisa mengakibatkan ruptur hubungan vena-vena dari
permukaan kortikal dengan sinus venosus, memproduksi hematoma subdural murni dengan
tidak adanya bukti mendasar adanya kontusio kortikal atau laserasi.

2.3.1.5. Ekstradural
Fraktur cranii merobek pembuluh darah meningeal tengah, mengalir ke dalam ruang
ekstradural. Hal ini biasanya terjadi pada regio temporal atau temporoparietal. Kadang-
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

kadang hematoma ekstradural terjadi akibat kerusakan sinus sagital atau transvesal.

2.3.1.6. Herniasi tentorial/tonsillar (sinonim: “cone”)


Tidak seperti tekanan intrakranial tinggi yang secara direk merusak jaringan neuronal, tapi
kerusakan otak terjadi sebagai akibat herniasi tentorial atau tonsillar.
Peningkatan tekanan intrakranial yang progresif karena hematoma supratentorial,
menyebabkan pergeseran garis tengah (mid line). Herniasi dari lobus temporal medial
sampai hiatus tentorial juga terjadi (herniasi tentorial lateral), menyebabkan kompresi dan
kerusakan otak tengah..
Herniasi tentorial lateral yang tidak terkontrol atau pembengkakan hemispheric bilateral
difus akan mengakibatkan herniasi tentrorial central.
Herniasi dari tonsil serebellar melalui foramen magnum (herniasi tonsillar) dan berikut
kompresi batang otak bawah bisa diikuti herniasi tentorial central atau yang jarang terjadi,
yaitu traumatik posterior dari fossa hematoma.

2.3.2. KERUSAKAN DIFUS


2.3.2.1. Diffused Axonal Injury (DAI)
Tekanan yang berkurang menyebabkan kerusakan mekanik akson secara cepat. Lebih dari
48 jam, kerusakan lebih lanjut terjadi melalui pelepasan neurotransmiter eksitotoksik yang
menyebabkan influís Ca 2+ ke dalam sel dan memacu kaskade fosfolipid. Kemungkinan
genetik diketahui dengan adanya gen APOE 4, dapat memainkan peranan dalam hal ini.
Tergantung dari tingkat keparahan dari luka, efek dapat bervariasi dari koma ringan sampai
kematian.
DAI terjadi pada 10-15% CKB. 60% DAI berakhir dengan kecacatan menetap dan
vegetative state, 35-50% berakhir dengan kematian. Dalam proses biomekanis, DAI terjadi
karena adanya proses deselerasi yang menyebabkan syringe trauma (tergunting) karena
adanya gaya yang simpang siur.
2.3.2.2. Iskemia serebral
Iskemia serebral umumnya terjadi setelah cedera kepala berat dan disebabkan baik karena
hipoksia atau perfusi serebral yang terganggu/rusak. Pada orang normal, tekanan darah yang
rendah tidak mengakibatkan rendahnya perfusi serebral karena adanya ”autoregulasi”,
terbukti adanya vasodilatasi serebral.
Setelah cedera kepala, bagaimanapun juga sistem autoregulasi sering tidak sempurna/cacat
dan hipotensi bisa menyebabkan efek yang drastis. Kelebihan glutamat dan akumulasi
radikal bebas juga bisa mengkontribusikan kerusakan neuronal. Penyebab lain iskemia
serebral adalah lesi massa yang menyebabkan herniasi tentorial, traksi atau perforasi
pembuluh darah, spasme arterial, dan kenaikan TIK karena edema otak.
Lokasi iskemia dapat terjadi pada korteks, hipokampus, ganglion basalis dan batang otak.
(4,5,6)

KLASIFIKASI CEDERA KEPALA


Cedera kepala dapat diklasifikasikan berdasarkan mekanisme, keparahan, dan morfologi
cedera.
a. Mekanisme : berdasarkan adanya penetrasi duramter.
Desi Ratna Ningsih, MODUL KGD LBM 5

* Trauma tumpul : - kecepatan tinggi (tabrakan).


- kecepatan rendah (terjatuh, dipukul)
* Trauma tembus (luka tembus peluru dan cedera tembus lainnya)

b. Keparahan cedera.
* Ringan : skala koma Glasgow (Glasgow Coma Scale, GCS) 14-15
* Sedang : GCS 9-13
* Berat : GCS 3-8

c. Morfologi
Fraktur tengkorak kraniium linear/stelatum; depresi/non depresi;
terbuka/tertutup
basis dengan/tanpa kebocoran cairan serebrospinal dengan/tanpa kelumpuhan
nervus VII
Lesi intracranial fokal epidural, subdural, intraserebral.
difus konkusi ringan, konkusi klasik, cedera
aksonal difus (2).

Tambahan !!

1. Anatomi dan fisiologi dari CSN


2. Mekanisme dari biomekanik trauma