Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM

ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA


“SISTEM PENCERNAAN DAN SISTEM PERNAPASAN”

OLEH :

KELOMPOK : V (LIMA)
KELAS : TRANSFER B 2017
PENANGGUNG JAWAB : WAHYUNIAL JANSISKA

LABORATORIUM FARMAKOLOGI
SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI MAKASSAR
MAKASSAR
2018
BAB I
PENDAHULUAN

I.2 Latar Belakang


Sebagai makhluk hidup kita pasti membutuhkan makanan dan
oksigen untuk terus hidup. Keduanya sangat penting bagi tubuh demi
menjalankan fungsi dan kerja Sistem pernapasan secara garis
besarnya terdiri dari paru-paru dan susunan saluran yang
menghubungkan paru-paru dengan yang lainnya, yaitu rongga hidung,
faring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus dan alveolus.
Metabolisme normal dalam sel-sel makhluk hidup memerlukan
oksigen dan karbon dioksida sebagai sisa metabolisme yang harus
dikeluarkan dari tubuh. Pertukaran gas O 2 dan CO2 dalam tubuh
makhluk hidup di sebut pernapasan atau respirasi. O 2 dapat keluar
masuk jaringan dengan cara difusi.
Pernapasan atau respirasi dapat dibedakan atas dua tahap. Tahap
pemasukan oksigen ke dalam dan mengeluarkan karbon dioksida
keluar tubuh melalui organ-organ pernapasan disebut respirasi
eksternal. Pengangkutan gas-gas pernapasan dari organ pernapasan
ke jaringan tubuh atau sebaliknya dilakukan oleh sistem respirasi.
Tahap berikutnya adalah pertukaran O2 dari cairan tubuh (darah)
dengan CO2 dari sel-sel dalam jaringan, disebut respirasi internal.
Selain pernafasan, hal yang terpenting bagi makhluk hidup
khususnya manusia yaitu sistem pencernaan yang mana dalam sistem
pencernaan ini merupakan suatu proses penghancuran makanan dan
sari makanan tersebut akan di serap oleh tubuh kita sebagai energi
dan sebagainya. Saluran pencernaan makanan terdiri dari mulut,
kerongkongan (esophagus), lambung, usus halus, usus besar, rektum
dan anus. Serta organ tambahan yang terdiri dari gigi, lidah, kelenjar
ludah, kandung empedu, hati, dan pankreas.
Adapun hubungan percobaan ini dalam bidang farmasi yaitu karena
dalam bidang farmasi juga memerlukan pengetahuan mengenai sistem
pencernaan dan sistem pernafasaan yang berhubungan dengan
pemberian obat dan mekanisme kerja obat tersebut terhadap organ
yang berperan dalam sistem pencernaan dan pernafasan tersebut.
I.2 Maksud dan Tujuan
I.2.2 Maksud Percobaan
Untuk mengetahui dan memahami anatomi dan fisiologi dari sistem
pencernaan dan sistem pernafasaan manusia.
II.2.2 Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui pengertian dari sistem pencernaan dan sistem
pernafasan, mengetahui fungsi dari alat-alat sistem pencernaan dan
sistem pernafasan, dan untuk mengetahui mekanisme sistem
pencernaan dan sistem pernafasan.
I.3 Prinsip Percobaan
Mengetahui bagian-bagian dari sistem pencernaan dan sistem
pernafasan serta mengetahui fungsi dari masing-masing bagian
tersebut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Sistem Pencernaan
II.1.1 Anatomi Sistem Pencernaan

Makhluk hidup memerlukan makanan untuk bertahan hidup.


Makanan merupakan sumber energi dan sumber bahan baku untuk
membangun tubuh. Sebelum dapat digunakan tubuh, makanan dicerna
dalam sistem pencernaan. Sistem pencernaan manusia terdiri atas
saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Sedangkan kelenjar
pencernaan meliputi kelenjar ludah, hati, kelenjar dinding lambung dan
pankreas. (Wasis dan Sugeng, 2008).
II.1.2 Bagian-bagian Sistem Pencernaan
Menurut Wasis dan Sugeng, 2008 bagian-bagian dari sistem
pencernaan adalah :

1. Rongga Mulut (Cavum Oris)


Rongga mulut dikelilingi oleh pipi kiri dan pipi kanan dan langit-langit
mulut. Dalam rongga mulut terdapat organ pencernaan lidah, gigi, dan
kelenjar ludah.
a. Lidah, berfungsi untuk memindahkan makanan, mendorong
makanan ke kerongkongan, membantu mengunyah makanan,
berbicara, mengenal bentuk makanan, dan mengecap makanan.
b. Gigi, berfungsi untuk mencerna makanan secara mekanis,
makanan mudah dicerna menjadi partikel yang lebih kecil dan
mudah ditelan.
c. Air ludah, berfungsi untuk membasahi rongga mulut dan
membasahi makanan.
2. Lambung (Ventrikulus)
Fungsi lambung adalah :
a. Menghasilkan pepsinogen. Pepsinogen merupakan bentuk yang
belum aktif dari pepsin, yaitu enzim untuk mencerna protein.
b. Menghasilkan Asam klorida (Hcl) yang berfungsi membunuh
mikroorganisme dalam makanan, menciptakan suasana asam
dalam lambung, dan mengaktifkan pepsinogen menjadi peptin.
3. Usus halus (Intestinum)
Usus halus terbagi menjadi 3 bagian, yaitu usus dua belas jari
(duodenum), usus kosong (jejunum), dan usus penyerapan (ileum).
a. Usus dua belas jari (duodenum), pada bagian ini bermuara saluran
dari kantong empedu dan pankreas. Kantong empedu berfungsi
menyimpan cairan empedu, Pankreas berfungsi menghasilkan
getah pamkreas yang mengandung enzim amilase, tripsin, dan
lipase. Amilase mengubah atau menguraikan zat tepung (amilum)
menjadi gula, tripsin menguraikan protein menjadi asam aminon
dan lipase mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
b. Usus kosong (jejunum), dindingnya menghasilkan enzim untuk
mencerna makanan secara kimiawi. Usus kosong merupakan
tempat pencernaan terakhir sebelum sari makanan diserap.
c. Usus penyerapan (ileum), permukaannya depenuhi jonjot-jonjot
usus atau vili yang berfungsi untuk memperluas bidang penyerapan
sehingga kemampuan menyerap makanan lebih besar.
4. Usus besar (Intestinum crasum)
Usus besar terletak diantara ileum dan anus. Fungsinya untuk
mengabsorbsi air dan mineral, tempat pembentukan vitamin K (dengan
bantuan bakteri E.Coli) serta melakukan gerakan peristaltik untuk
mendorong tinja menuju anus.
5. Rektum
Saluran dengan panjang 10 cm terbawah dari usus, dimulai pada kolon
sigmoid dan berakhir pada saluran anal, kira-kira panjangnya 3 cm.
Berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses.
6. Anus
Berfungsi sebagai tempat dibuangnya feses.
II.1.4 Mekanisme Pembentukan Asam Lambung
Sintesis asam lambung dimulai dari adanya makanan yang masuk
ke dalam lambung. Makanan merangsang pengeluaran hormon Gastrin
dari sel-sel. Proses ini terjadi di antrum yaitu daerah bawah lambung yang
dilapisi oleh lendir kental. Gastrin tersebut akan menuju ke sel ECL
(Enterochromaffin Like Cell), melalui pembuluh darah untuk merangsang
pengeluaran histamin dengan cara mengikat reseptor Cholecystokinin-B
(CCLE-B Reseptor). Sel ECL merupakan penampung histamin yang
terletak di daerah Fundus di lambung.
Histamin inilah yang akan merangsang sel parietal yang terdapat di
dinding lambung lambung untuk memperoduksi asam lambung. H 2O di
dalam sel parietal akan terurai menjadi H + dan OH -.
Hidroksida akan
berikatan dengan CO2 membentuk HCO3- akan dikeluarkan ke cairan
intestinal. Ion klorida dan Natrium disekresi secara aktif dari sitoplasma sel
parietal ke dalam lumen canaliculi. Peristiwa tersebut membuat potensial
negatif -40 mv sampai -70 mv di membran sel parietal yang menyebabkan
ion Potasium dan sejumlah kecil ion Natrum menyebar dari sitoplasma
menuju kedalam sel parietal canaliculi. HCO 3- yang dikeluarkan ke cairan
intestinal tadi akan bertukar dengan ion Cl -, pertukaran antara HCO3- dan
Cl- dibantu oleh antiport HCO3- / Cl-. Ion Cl- akan masuk kerongga lambung
melalui protein kanal Cl-, sementara ion H+ yang merupakan hasil disosiasi
air juga akan keluar ke rongga lambung bertukar dengan ion K + dengan
bantuan H+ / K+ ATPase (pompa proton). Pada saat yang sama, ion
Natrium secara aktif diserap kembali. Hal ini menunjukkan bahwa
sebgaian besar ion K+ dan Na+ yang tadi disekresikan menjadi kembali ke
sitoplasma. Di rongga lambung, ion H+ dan Cl- akan berinteraksi
membentuk asam lambung. pH terendah dari asam yang disekresikan
adalah 0,8, namun asam diencerkan dalam lumen perut sampai pH antara
1 dan 3. Selain histamin, perangsangan sel parietal untuk memperoduksi
asam lambung dapat dilakukan oleh gastrin tersebut secara langsung
tanpa melalui pengeluaran histamin, dan juga dapat dilakukan oleh sistem
saraf enterik yaitu saraf parasimpatis yang secara langsung merangsang
sel parietal di reseptor Muskarinik 3 (M3) atau melalui pengeluaran
histamin dengan merangsang reseptor Muskarinik 1 (M1) yang ada di sel
ECL.(Chusnul N.R, 2017).
II.1.4 Proses Pencernaan (kimiawi dan Fisika/mekanis)
Proses pencernaan makanan didalam tubuh ada dua macam, yaitu:
1. Pencernaan Kimiawi
Pencernaan kimiawi merupakan proses pemecahan makanan dari
molekul kompleks menjadi molekul-molekul yang sederhana dengan
bantuan getah pencernaan (enim) yang dihasilkan oleh kelenjar
pencernaan (Waluyo, 2016)
2. Pencernaan Mekanis
Pencernaan mekanis merupakan pemecahan atau penghancuran
makanan secara fisik dari zat makanan yang kasar menjadi zat
makanan yang lebih halus. Contohnya gigi memotong-motong dan
mengunyah makanan, gerak yang mendorong makanan dari
kerongkongan sampai ke usus (gerak peristaltik). (Waluyo, 2016)
II.1.5 Perjalanan Makanan Dari Mulut Sampai Defikasi
1. Rongga mulut
Makanan masuk ke dalam tubuh pertama kali melalui rongga mulut dan
dalam oleh mekanik yang tersusun atas struktur seperti tulang (dentin)
jaringan yang kuat pada tubuh, yaitu enamel. Selain secara mekanik,
termasuk ludah (saliva) yang mengandung enzim amilase
yangmengubah karbohidrat makanan menjadi maltosa dan dextrosa;
dan enzim lipase yang memecah lemak menjadi bentuk yang lebih
sederhana.
2. Faring
Faring tidak hanya merupakan bagian dari saluran pencernaan saja
juga merupakan bagian dari sistem respirasi. Faring dibagi menjadi 3
bagian yaitu nasofaring, orofaring, dan laringofaring. Orofaring dan
laringofaring terlibat dalam proses pencernaan. Untuk mencegah
masuknyamakanan ke dalam saluran nafas pada laringofaringtersjadi
kartilago elastis, yaitu epiglotis yang akan mencair saat ini akan
membuat rongga laring akan menutup dan masuk ke dalam esofagus.
3. Esophagus
Esofagus merupakan bahan bakul muskular yang akan dilalui makanan
yang masuk dari faring dan memiliki sfingter pada bagian atas dan
bawah. Sfingter atas mencegah kembalinya makanan ke faring,
sedangkan sfingter sebelah bawah Aktifkan makanan yang sudah
sampai ke gaster Kembali ke dalam esofagus.Makanan masuk melalui
esofagus menuju gaster dibantu dengan adanya gerakan peristaltik dan
gaya berat dari makanan itu sendiri, serta adanya relaksasi otot sfingter
bawah esofagus.

4. Lambung
Setelah masuk ke gaster terjadi pencernaan secara mekanik oleh gerak
otot-otot dinding gaster dan secara kimiawi oleh sekret yang
dikeluarkan oleh mukosa gaster. Mukosa gaster menghasilkan:
a. Asam hidroklorik yang digunakan sebagai anti kuman
b. Faktor intrinsik (oleh sel parietal pada fundus gaster) yang
mempertimbangkan dalam absorpsi vitamin B12
c. Pepsinogen yang bekerja memecah protein Lipase gastrik (oleh sel
chief pada fundus gaster) pekerjaan memecah lemak, meskipun tidak
melihat lipase pankreas.
d. Hormon gastrin (oleh sel G) yang bekerja memacu kerja enzim
pencernaan.
e. Histamin (oleh sel enterokromafin), endorfin, serotonin,
cholecystokinin, dan somatostatin (yang dihasilkan oleh sel
enteroendokrin gaster)
f. Mukus (oleh sel goblet) bersifat protektif terhadap mukosa lambung
Absorbsi juga terjadi pada lambung walau hanya sedikit, bahan yang
diabsorbsi pada lambung sangat baik lemak, seperti alkohol dan
beberapa jenis obat seperti aspirin dalam jumlah kecil. Setelah
makanan masuk ke dalam lambung, 1-2 jam kemudian campuran
makanan dengan sekret lambung berbentuk radiasi semi-cair yang
disebut dengan chymus dan masuk ke usus halus.
5. Usus halus
Usus halus terdiri dari 3 segmen, yaitu duodenum, jejunum, dan ileum,
berperan sangat penting pada proses pencernaan dan penyerapan.
Tampak muara dari ductus hepatopancreaticus yang mengalirkan
cairan empedu dan sekret dan enzim pencernaan yang dihasilkan
pankreas untuk membantu proses pencernaan makanan di dalam
duodenum. Chymus yang terbuat dari asam buatan menjadi lebih alkali
dengan tambahan empedu dari kantung empedu (vesica felea) dan
sekresi bikarbonat dari pankreas dan kelenjar Brunner pada duodenum
dinding duodenum dan membuat enzim bercinta dapat bekerja dengan
baik.
Proses kimiawi yang terjadi di dalam usus halus, antara lain:
a. Pemecah protein menjadi peptida dan asam amino oleh tripsin
aminopeptidase dan dipeptidase.
b. Lemak akan diemulsi oleh empedu kemudian dipecah menjadi asam
lemak dan monogliserida oleh pankreas lipase.
c. Pankreas amilase akan memecah karbohidrat kompleks (amilum)
menjadi oligosakarida, kemudian akan dipecah oleh dextrinase,
glukoamilase, maltase, sucrase, dan laktase. Laktase tidak ada pada
semua orang dewasa, tidak ada laktosa dicerna pada usus halus.
Selulosa juga tidak dicerna oleh usus halus karena selulosa tersusun
atas beta dan manusia tidak dapat berfungsi untuk memecah ikatan
beta glukosa. Mukosa usus halus tersusun atas epitel kolumner
dengan plica circulares dan apa yang terjadi dalam proses atau
transportasi aktif. Absorpsi pada usus halus paling banyak dilakukan
oleh jejunum, kecuali untuk zat besi (diabsorpsi padaduodenum),
vitamin B12 dan garam empedu (diabsorbsi pada ileum terminal),
udara dan lemak (diabsorpsi sempurna difusi pasif di Sepanjang
usus halus), sodium bikarbonat (diabsorpsi aktif transportasi aktif
bersama dan ko- transportasi asam amino), dan fruktosa (diabsorbsi
difusi terfasilitasi).
6. Usus besar
Usus besar dimulai dari caecum, kolon ascenden, usus besar
transversum, kolon turun, hingga sigmoid kolon. Setelah sekitar 90%
bagian makanan diabsorpsi pada usus halus, chymus yang akan
masuk ke usus besar. Elektrolit seperti natrium, magnesium, klorida
yang tidak diserap usus halus menjadi satu dalam makanan yang
tidak dicerna, seperti serat. Fungsi utama usus adalah mengabsorpsi
udara dan elektrolit dari chymus dan menjadi tempat penimbunan
bahan feses sampai dapat dikeluarkan. Setengah bagian usus
proksimal berhubungan dengan fungsi absorpsi, sedangkan
setengah bagian distal aman dengan fungsi penyimpanan.
a. Absorbsi pada usus besar
Sekitar 1500 mililiter chymus akan masuk ke dalam usus besar
setiap harinya. Udara dan elektrolit dalam chymus akan diabsorpsi
dalam usus besar hingga sisanya sekitar 100 mililiter cairan dan 1-
5 miliekuivalen dari masing-masing ion natrium dan klorida untuk
diekskresikan dalam tinja. Epitel-epitel usus besar memiliki taut
antar epitel yang jauh lebih kuat dapat mencegah difusi kembali
ion yang menyebabkan usus besar dapat mengabsorpsi ion
natrium melawan gradien konsentrasi yang lebih tinggi. Bagian
distal usus besar mensekresi ion bikarbonat yang secara
bersamaan mengabsorpsi ion klorida. Absorpsi ion natrium dan
klorida menciptakan gradien osmotik yang juga menyebabkan
penyerapan udara.
b. Penimbunan kotoran pada usus besar
Perjalanan chymus pada usus besar sampai ke rektum dan keluar
sebagai feses saat defekasi membutuhkan waktu sekitar 12-50
jam. Kolon melakukan gerakan mencampur (haustrasi). Haustrasi
bekerja untuk mengaduk dan memutar chymus agar semua bagian
feses bersentuhan dengan mukosa usus besar zat-zat terlarut
diabsorpsi hingga hanya mengandung 80 hingga 200 mililiter feses
yang dikeluarkan setiap hari. Dorongan dalam caecum dan kolon
asenden oleh gerakan haordination yang lambat tetapi
berlangsung persisten menggerakan chymus dan menjadikannya
kotoran dengan rupa lumpur setengah padat. Selain haustrasi, ada
pula gerakan dorongan (pergerakan massa) yang feses akan
mendorong massa untuk lebih menuruni usus besar. Pergerakan
massa pada kolon juga dapat terjadi setelah makan, hal ini terjadi
karena adanya regangan pada lambung dan duodenum
menyebabkan refleks gastrokolik dan refleks
c. Duodenokolik yang dijalarkan melalui sistem saraf otonom dan
menyebabkan gerakan pada usus besar. Iritasi dalam kolon juga
dapat mengajukan gerakan massa yang kuat. Bila gerakan massa
sudah mendorong kotoran ke dalam rektum, maka terjadi defekasi
dan menyebabkan refleks kontraksi rektum dan relaksasi
sfingterani. Hal ini dapat dicegah dengan adanya kontraksi dari
sfingterani internus dan eksternus. Sfingterani internus merupakan
otot polos dan bekerja di luar kesadaran, sedangkan sfingter dan
eksternus tersusun atas otot lurik dan bekerja di bawah kesadaran
berada pada kondisi yang memungkinkan untuk defekasi, maka
sfingterani eksternuslah yang membantu dalam proses menahan
keinginan untuk defekasi. kolon juga befungsi sebagai tempat
proses fermentasi dari makanan yang tidak dicerna oleh bakteri
usus. Bakteri usus mampu mencerna daftar kecil selulosa (serat)
menjadi asam lemak rantai pendek dan kemudian diserap secara
khusus pasif. Bakteri pada usus besar juga memproduksi vitamin
K, vitamin B12, tiamin, riboflavin, dan berbagai jenis gas yang
menyebabkan flatus di dalam usus besar, khususnya
karbondioksida, hidrogen, dan metana. Mukus yang menghasilkan
pada usus besar membantu menetralisir produk akhir asam dari
kerja
d. Defikasi
Defekasi merupakan proses dari seluruh badan makanan
ditimbulkan karena adanya refleks defekasi. Bila feses menembus
dinding rektum, maka plexus mienterikus pada mukosa rektum
akan menerima impuls untuk melakukan peristaltik di dalam usus
besar desenden, sigmoid, dan rektum dorongan feses ke arah
anus. Reflek ini disebut dengan refleks intrinsik. Ketika peristaltik
mendekati anus, plexus mienterikus akan dihambat menjadi
sfingterani internus akan relaksasi. Waktu sfingterani eksternus
yang bekerja di bawah kesadaran juga berelaksasi secara
sukarela, maka terjadilah defekasi. Refleks intrinsik saja cukup kuat
untuk merelaksasikan otot sfingterani. Ada refleks defekasi
parasimpatis yang melibatkan saraf spinalis segmen sakral dan
nervus pelvicus yang akan membantu refleks intrinsik untuk
merelaksasikan sfingter ani internus. Dengan adanya bantuan ini,
usaha dari feses ini dapat mengosongkan usus besar dari flexura
coli sinistra sampai ke anus. Beberapa hal yang dapat dibahas
dalam evaluasi defekasi yaitu frekuensi defekasi dan konsistensi
feses yang dikeluarkan. Frekuensi defekasi sangat oleh sistem
neuromuskular yang terlibat dalam proses defekasi. Sistem
neuromuskular ini akan berkembang sempurna hingga anak-anak
berusia 2-3 tahun, Bulan selama 2-3 tahun ini sudah anak memiliki
pengontrolan terhadap defekasi. Pada orang dewasa normal,
defekasi masih dapat dikatakan normal inspirasi berlangsung
dalam 3 kali sehari sampai 3 kali seminggu. Dengan bertambahnya
peristaltik akan menurun, akibatnya pada orang tua akan lebih
praktis konstipasi atau memiliki kotoran yang keras dikeluarkan.
Defekasi oleh beberapa faktor, antara lain: berumur, diet, cairan,
aktivitas, medikamentosa (obat-obatan), faktor psikologi, prosedur
diagnostik, anestesi dan pembedahan, dan gangguan saraf
sensorik dan motorik ( Ross dan Wilson, 2011)
II.1.6 Peran Organ Pencernaan Lain
1. Pankreas
Pancreas memilki peran penting dalam sistem pencernaan yaitu untuk
melindungi duodenum dengan cara menetralkan asam lambung.
2. Hati
Hati merupakan kelenjar terbesar didalam tubuh , beratnya sekitar 1-2,3
kg. Hati berada dibagian atas rongga abdomen yang menempati bagian
terbesar region hipokondiak. Hati memilki 4 lobus yaitu 2 lobus yang
berukuran paling besar dan jelasterlihat sedangkan lobus yang
berukuran kecil, berbentuk baji adalah lobus kiri. Dua lobus lainnya
adalah lobus kaudatus dan kuadratus.
Fungsi dari hati adalah metabolisme karbohidrat. Hati berperab penting
dalam mempertahankan kadar glukosa plasma.
3. Empedu
Empedu mengalirkan dari hati melalui duktus hepatic kiri dan kanan
yang selanjutnya bergabung membentuk duktus hepatikus umum.
Saluran ini kemudian bergabung dengan sebuah saluran yang berasal
dari kandung empedu untuk membentuk saluran empedu umum.
Empedu memilki fungsi penting yaityu:
a. Membantu pencernaan dan penyerapan lemak
b. Berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh terutama
hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan
kelebihan kolesterol.
Secara spesifik empedu berperan dalam berbagai proses yautu :
1) Garam empedu meningkatkabn kelarutan kolesterol, lemak dan
vitamin yang larut dalam lemak untuk membantu proses penyerapan
2) Garam empedu merangsang pelepasan air oleh usus besar untuk
membantu menggerajkan isinya
3) Bilirubin dibuang kedalam empedu sebagai limbah dari sel darah
merah yang dihancurkan
4) Obat dan limbah lainnya dibuang dalam empedu dan selanjutnya
dibuang dari tubuh
5) Berbagai protein yang berperan dalam fungsi empedu dibuang
didalam empedu.
4. Limfa
Limfa adalah organ dalam perut yang terletak pada perut bagian kiri
atas. Limfa berwarna coklat. meskipun didalam rongga perut, limfa tidak
berperan penting dalam sistem pencernaan. Fungsi limfa adalah :

a. Sebagai tempat cadangan darah


b. Menghancurkan sel darah merah yang sudah tua
c. Tempat penyimpanan sel monosit
5. Apendiks ( umbai cacing ) dan sekum
Didalam usus halus dan usus besar dibatasi oleh usus buntu ( sekum )
yang mempunyai katup untuk menjaga agar makanan yang masuk ke
usus besar tidak kembalui ke usus halus. Ujung dari usus buntu
terdapat umbai cacing( apendiks ) yang berfungsi mencegah infeksi.
Apendiktis merupakan peradangan pada umbai cacing (Sarwadi dan
Erfanto, 2014)
II.1.7 Penyerapan Karbohidrat ,Protein dan Lemak
1. Karbohidrat
Karbohidrat yang dimakan oleh manusia umumnya berupa nasi,
ternyata karbohidrat banyak mengandung glukosa, untuk mendapatkan
glukosa yang diserap oleh tubuh, karbohidrat akan menjalani proses
pencernaan. Pada proses pencernaan ini dihasilkan zat sisa yang
berupa feses,selanjutnya didefikasi melalui anus. Glukosa hasil
pencernaan diserap oleh tubuh selanjutnya diangkut oleh plasma darah
menuju sel/ jaringan. Didalam sel / jaringan glukosa dioksidasi melalui
peristiwa respirasia. Peristiwa respirasi dengan substrat glukosa akan
dihasilkan zat sisa yang berupa CO2 dan H2O.
2. Protein
Protein yang dikonsumsi oelh manusia umunya berasal dari lauk pauk
dan kacang–kacangan. Protein masuk kedalam tubuh akan
mengalkami proses penceranaan. Ini dihasilkan zat sisa yang berupa
feses, selanjutnya didefikasikan melaui anus. Asam amino hasil
pencernaan selanjunya akan ditransportasikan oleh plasma darah
melalui sistem sirkulasi menuju ke sel didalam sel jaringan asam amino
akan digunakan sel untuk pertumbuhan, perkembangan, dan
mensintesis enzim dan hormone. Jika jumlah asam amino berlebih,
sisanya akan dioksidasi melalui peristiwa respirasi untuk menghasilkan
energy. Respirasi dengan menggunkan substrat asam amino akan
menghasilkan zat sisa berupa senyawa CO2,NH3, dan NH4OH.
3. Lemak
Lemak yang dikonsumsi tubuh manusia , umunya berasal dari daging
telur, susu, dan kacang – kacangan. Lemak masuk kedalam tubuh akan
mengalami proses pencernaan dan berubah menjadi asam lemak dan
gliserol. Pada proses pencernaan dihasilkan zat sisa yang berupa
feses, selanjutnya didefikasikan melalui anus. Adsam lemak dan gliserol
diserap oleh tubuh melalui tahap reaksi penyabunan yang selanjutnya
akan diangkut oleh pembuluh getah bening dalam bentuk lemak menuju
kedaerah subkutan untuk disimpan sebagai cadangan
energy(Gunawan, 2008).

Sumber
Hasil Akhir Organ Absorpsi
Makanan
Monosakarida Dari epithelium vili dan dinding
Glukosa
Karbohidrat pembuluh darah masuk aliran
Laevulose
Galaktosa darah
Dari epithelium masuk
Protein Asam amino pembuluh darah dan aliran
darah
Gliserin dan Dari epiteliumj vili masuk
Lemak
asam lemak lakteral dan aliran limfa
(Evelyn,2011)
II.1.8 Enzim – Enzim Pada Pencernaan
1. Mulut
Terdapat beberapa enzim yaitu : Enzim ptialin berfungsi untuk
memcah amilum menjadi maltosa.
2. Lambung
a. Enzim pepsin berfungsi untuk mengubah protein menjadi pepton.
b. Enzim renin berfungsi untuk mengubah karsinogen menjadi kasein.
c. Enzim lipase berfungsi untuk mengubah trigliserida menjadi asam
lemah.
d. Asam klorida berfungsi untuk mengaktifkan enzim pepsinogen
menjadi pepsin.
3. Pankreas
a. Enzim amylase berfungsi untuk megubah amilum menjadi
maltose dan glukosa
b. Enzim lipase berfungsi untuk mengemulsi lemak menjadi asam
lemak dan gliserol
c. Enzim tripsin berfungsi untuk mengubah protein ( pepton) menjadi
polipeptida
d. Enzim disakarase berfungsi untuk mengubah disakarida menjadi
monosakarida
e. Enzim nuclease berfungsi untuk mengubah asam nukleat menjadi
nukleotida
4. Usus
a. Enzim laktase berfungsi untuk mengubah laktosa menjadi glukosa
dan galaktosa
b. Enzim maltase berfungsi untuk mengubah maltose menjadi
glukosa
c. Enzim sukrase berfungsi untuk mengubah sukrosa menjadi
glukosa dan sukrosa
d. Enzim erepsin berfungsi utnuk mengubah dipeptida menjadi asam
amino ( sarwadi dan Erfanto, 2014)
II.1.9 Proses Absorbsi Di Usus Halus
Absorpsi makanan yang telah dicernakan seluruhnya berlangsung
didalam usus halus melalui dua saluran yaitu pembuluh kapiler darah dan
saluran limfe divili disebelah dalam permukaan usus halus. Sebuah vilus
berisi lakteral , pembuluh darah, epithelium,dan jaringan otot yang diikat
bersama jaringan limfoid. Lakteral sentralis berakhir menjadi ujung buntu,
sedangkan jaringan otot datar melaluiny dan pembuluh kapiler darah
mengitarinya. Kemudian seluruhnya diselimuti membrane dasar dan
ditutupi epithelium. Karena keluar dari dinding usus, vili bersentuhan
dengan makanan cair atau kime, dan lemah diabsorpsi kedalam lakteral.
Lemak yang telah diabsorpsi kemudian berjalan melalui banyak pembuluh
limfe ke reseptakulum kili, dan dari saluran toraksika ke aliran darah.
Semua makanan yang telah dicerna langsung masuk kedalam pembuluh
kapiler darah di vili, dan oleh vena portal dibawah ke hati untuk mengalami
beberapa perubahan ( Evelyn, 2009)
II.1.10. Peran Insulin
Fungsi Insulin secara umum adalah untuk merangsang
peningkatan penyerapan glukosa plasma oleh sel tubuh, mengatur
keseimbangan glukosa darah dan mengubah kelebihan glukosa dalam
darah menjadi glikogen yang dismpan di hati dan otot. Pengaturan
dilakukan dengan cara menyimpan kelebihan glukosa dalam sel hati.
Kemudian glukosa ini dirombak atau dikonversi menjadi glikogen untuk
disimpan di sel hati. Insulin berfungsi juga sebagai pengatur metabolisme
lemak. (Mikrajuddin, dkk. 2008)
Peranan insulin dalam metabolisme adalah :
a. Meningkatkan pengangkutan glukosa
Mekanisme diawali dengan konsentrasi glukosa intrasel yang sangat
rendah jika dibandingkan dengan ekstrasel, proses ini dimulai ketika
insulin berikatan dengan reseptor yang ada pada membran sel target,
ikatan insulin dengan reseptor akan memberikan sinyal bagi
pengangkut glukosa untuk keluar dari depot intrasel menuju membran
sel, kemudian pengangkut glukosa akan berikatan dengan membran
dan akhirnya terjadi fusi/menyatu dengan membran plasma, kemudian
terjadi transport glukosa ekstrasel ke dalam sel, dan insulin
memisahkan diri dari reseptornya, pengangkut gukosa kembali masuk
ke dalam depot intrasel.

b. Meningkatkan glikolisis hepatik


Dengan cara menaikkan aktivitas dan jumlah beberapa enzim yang
penting, antara lain glukokinase, fosfofruktokinase dan piruvat kinase,
bertambahnya glikolisis akan meningkatkan penggunaan glukosa dan
dengan demikian secara tidak langsung menurunkan pelepasan
glukosa ke dalam plasma, di otot skeletal insulin meningkatkan aliran
masuk glukosa melalui pengangkut dan menaikkan kadar enzim
heksokinase II yang melakukan fosforilasi dan memulai metabolisme
glukosa.
c. Merangsang lipogenesis di jaringan adiposa
Dengan cara menyediakan astil co-A dan NADPH yang diperlukan bagi
sintesis asam lemak, mempertahankan kadar normal enzim asetil co-A
karboksilase yang mengkatalisis konversi asetil co-A menjadi malonil
co-A, menyediakan gliserol yang terlibat dalam sinstesis triasilgliserol.
d. Menurunkan Glukosa darah
Insulin juga berupaya untuk melawan hormon-hormon lain yang
menghambat kerja insulin tersebut, sehingga tercipta mekanisme
pengaturan kadar glukosa dalam darah.
e. Merangsang sintesis protein dan memperlambat penguraian
protein (Dawn B.M, dkk. 2009).
II.2 Sistem Pernapasan
Pernapasan merupakan proses ganda yaitu terjadinya pertukaran
gas didalam jaringan (pernapasan dalam), yang terjadi di paru-paru
disebut pernapasan luar (Irianto, 2013).

Gambar. 1.2 Sistem Pernapasan pada Manusia

II.2.1 Anatomi Pernafasan dan Fungsinya


II.2.1.1 Anatomi Pernapasan :
1. Rongga hidung
a. Hidung eksternal berbentuk pyramid disertai dengan suatu akar dan
dasar. Hdung eksternal tersusun dari kerangka kerja tulang, kartilago
hialin, dan jaringan fibroareolar.
1) Septum nasal membagi hidung menjadi sisi kiri dan sisi kanan
rongga nasal.
2) Naris eksternal dibatasi oleh kartilago nasal. Kartilago nasal lateral
terletak dibawa jembatan hidung sedangkan ala besar dan ala kecil
kartilago nasal mengelilingi nostril.
3) Tulang hidung yang terbagi atas ; tulang nasal (yang membentuk
hidung), vomer dan lempeng perpendiklar tulang etmoid
(pembentuk posterior septum nasal), lantai rongga nasal, langit-
langit rongga nasal, konka dan meatus superior, medial dan
inferior(merupakan jalan udara rongga nasal).
4) Empat pasang sinus paranasal (frontal, etmoid, maksilar dan
sfenoid) (Sloane, 2012)
b. Membrane mukosa nasal
Kulit pada bagian eksternal permukaan hidung yang mengandung
folikel rambut, keringat dan kelenjar sebasea, merentang sampai
vestibula sng terletsk dibawah nostril. Kulit dibagian dalam ini
mengandung rambut (vibrissea) yang berfungsi untuk menyaring
pertikel udara yang terhirup.
Dibagian rongga nasal yang lebih dalam, epitellium respiratorik
membentuk mukosa yang melapisi ruang nasal. Lapisan ini terdiri dari
apitelium bersilla dengan sel goblet yang terletak pada lapisan
jaringan ikat tervaskularisasi (Sloane, 2012)

2. Faring
Faring merupakan tabung muscular berukuran 12,5 cm yang me
bagian dasar tulang tengkorak sampai esophagus. Faring terdiri dari
nasofaring, orofaring dan laringofaring.
a. Nasofaring ; bagian posterior rongga nasal yang
b. Orofaring ; dipisahkan dari nasofaring oleh palatum
c. Laringofaring ; mengelilingi mulut esophagus dan laring, yang
d. merupakan gerbang untuk sistem respiratorik selanjutnya (Sloane,
2012).
3. Laring
Laring menghubungkan faring dengan trakea. Laring merupakan
tabung pendek berbentuk seperti kotak triangular dan ditopang oleh
sembilan kartilago, tiga berpasangan dan tiga tidak berpasangan.
a. Kartilago tidak berpasangan terdiri atas : kartilago tiroid (terletak
dibagian proksimal kelenjar tiroid), kartilago krikoid( cincin anterior
yang lebih kecil dan tebal, terletak dibaawah kartilago tiroid) dan
epiglottis (merupakan katup kartilago elstis yang melekat pada
tepian anterior kartilago tiroid. Epiglotis secara otomatis menutupi
mulut laring untuk mencegah masuknya makanan dan cairan)
b. Kartilago berpasangan terdiri dari ; Kartilago Aritenoid ( terletak
diatas dan di kedua sisi kartilago krikoid), Kartilago Kornikulata
(melekat pada bagian ujung kartilago arytenoid), dan Akrtilago
Kuneiform ( batangbatang kecil yang membantu menopang
jaringan lunak)
c. Dua pasang lipatan lateral membagi rongga laring
1) Pasangan bagian atas yaitu lipatan ventricular yang berfungsi
saat produksi suara
2) Pasangan bagian bawah yaitu pita suara sejati yang melekat
pada kartilago tiroid dan pada kartilago aritenoid seta krikoid.
Pembuka diantara kedua pita adalah glotis
(1) Saat bernafas, pita sauara terabduksi (tertarik membuka)
oleh otot laring, dan glottis berbentuk triangular
(2) Saat menelan, pita suara teraduksi ( tertarik menutup), dan
glottis membentuk celah sempit
(3) Maka, kontraksi oto rangka mengatur ukuran pembukaan
glottis dan derajat ketenganan pita saura yang diperlukan
untuk produksi saura.
4. Trakea
Trakea (pipa udara) merupakan tuba dengan panjang 10 cm sampai
12 cm dan diameter 2,5 cm serta terletak diatas permukaan anterior
esofagus. Trakea dapat tetap terbuka karena adanya 16 sampai 20
cincin kartilago berbentuk C. ujung posterior mulut cincin dihubungkan
oleh jaringan ikat dan otot sehingga memungkinkan ekspansi
esophagus. Trakea dilapisi apitelium respiratorik yang mengandung
banyak sel goblet.
5. Percabangan bronkus
a. Bronkus primer (utama) kanan berukuran lebih pendek, lebih tebal
dan lebih lurus dibandingkan bronkus primer kiri, karena arkus
aorta mebelokkan trakea bawah ke kanan. Objek asing yang
masuk ke dalam traakea kemungkinan ditempatkkan dalam
bronkus kanan.
b. Setiap bronkus primer bercabang 9 sampai 12 kali untuk
membentuk bronki sekunder dan tertier dengan diameter yang
semakin kecil. Saaat tuba semakin menyempit, batang atau
lempeng kartilago menganti cincin kartilago.
c. Bronki disebut ekstrapulmonar sampai memasuki paru-paru,
setelah itu disebut intrapulmonary.
d. Struktur mendasar dari kedua paru-paru adalah percabangan
brongkial yang selanjutnya: bronki, bronkiolus, bronkiolus terminal,
bronkiolus respiratorik, duktus alveolar, dan alveoli. Tidak ada
kartilago dalam bronkiolus, silla tetap ada sampai bronkiolus
respiratorik terkecil.
6. Paru-paru
Paru-paru adalah organ berbentuk pyramid seperti spon dan berisi
udara, terletak dalam rongga toraks.
a. Paru kanan memiliki tiga lobus, paru kiri memiliki dua lobus.
b. Setiap paru memiliki sebuah speks yang mencapai bagian atas iga
pertama, sebuah permukaan diafragmatik (bagian dasar) terletak
di atas diagfragma, sebuah permukaan mediastinal (medial) yang
terpisah dari paru lain oleh mediastinum, dan permukaan kostal
terletak di atas kerangka iga.
c. Permukaan mediastinal memiliki hilus (akar), tempat masuk dan
keluarnya darah bronki, pulmonary, dan bronkial dari paru.
Pleura adalah membrane penutup yang membungkus setiap paru.
a. Pleura parietal melapisi rongga toraks (kerangka, iga, diafragma,
mediastinum)
b. Pleura visceral melapisi paru dan bersambung dengan pleura
parietal di bagian bawah paru.
c. Rongga pleura (ruang intrapleural) adalah ruang potensial antara
pleura parietal dan visceral oleh sel-sel pleural sehingga paru-paru
dapat mengembang tanpa melakukan friksi.
d. Resesus pleura adalah area rongga pleura yang tidak berisi
jaringan paru. Area ini muncul saar pleura parietal bersilangan dari
satu permukaan ke permukaan lain. Saat napas, paru-paru
bergerak keluar masuk area ini. Resesus terbagi atas 2 yaitu ;
1) Resesus pleura kostomediastinal terletak di tepi anterior kedua
sisi pleura, tempat pleura parietal berbelok dari kerangka iga ke
permukaan lateral mediastinum
2) Resesus pleura kostodiafragmatik terletak di tepi posterior
kedua sisi pleura di antara diafragma dan permukaan kostal
(Sloane, 2012).
II.2.2 Fisiologi Pernafasan
Menurut Syaifuddin (2008), fungsi paru adalah tempat pertukaran gas
oksigen dan karbondioksida pada pernafasan melalui paru/pernafasan
eksterna. Tubuh melakukan usaha memenuhi kebutuhan O 2 untuk proses
metabolisme dan mengeluarkan CO2sebagai hasil metabolisme dengan
perantara organ paru dan saluran napas bersama kardiovaskuler
sehingga dihasilkan darah yang kaya oksigen. Terdapat 3 tahapan dalam
proses respirasi, yaitu:
1. Ventilasi
Proses keluar dan masuknya udara ke dalam paru, serta keluarnya
karbondioksida dari alveoli ke udara luar. Alveoli yang sudah
mengembang tidak dapat mengempis penuh karena masih adanya
udara yang tersisa didalam alveoli yang tidak dapat dikeluarkan
walaupun dengan ekspirasi kuat. Volume udara yang tersisa ini disebut
dengan volume residu. Volume ini penting karena menyediakan
O2dalam alveoli untuk menghasilkan darah (Guyton & Hall, 2008).
2. Difusi
Proses berpindahnya oksigen dari alveoli ke dalam darah, serta
keluarnya karbondioksida dari darah ke alveoli. Dalam keadaan
beristirahan normal, difusi dan keseimbangan antara O 2 di kapiler darah
paru dan alveolus berlangsung kira-kira 0,25 detik dari total waktu
kontak selama 0,75 detik. Hal ini menimbulkan kesan bahwa paru
normal memiliki cukup cadangan waktu difusi (Guyton & Hall, 2008).
3. Perfusi
Yaitu distribusi darah yang telah teroksigenasi di dalam paru untuk
dialirkan ke seluruh tubuh (Guyton & Hall, 2008).
II.2.2.1 Proses Pernapasan
1. Pernapasan Dada
Pernapasan yan menggunakan gerakan otot-otot antartulang rusuk.
Rongga dada membesar karena tulang dada dan tulang rusuk terangkat
akibat kontraksi otot-otot yang terdapat pada tulang–tulang rusuk. Paru-
paru turut mengembang, volumenya menjadi besar, sedangkan
tekanannya menjadi lebih kecil daripada tekanan udara luar. Dalam
keadaan demikian udara luar dapat masuk melalui batang tenggorok
(trakes) ke paru-paru (Irianto, 2013 ).
2. Penapasan Perut
Pernapasan yang menggunakan otot-otot diafragma. Otot-otot sekat
rongga dada berkontraksi sehingga diafragma yang semula cembung
menjadi agak rata, dengan demikian, paru-paru dapat mengembang ke
arah perut (abdomen). Pada waktu itu, rongga dada bertambah besar dan
udara terhirup masuk (Irianto, 2013 ).
II.2.2.2 Mekanisme Inspirasi Dan Ekspirasi

1. Mekanisme Inspirasi
Sebelum menarik napas (inspirasi) kedudukan diafragma melenkung
kearah rongga dada dan otot-ototnya dalam keadaan mengendur. Bila otot
diafragma berkontraksi, maka diafragmanya akan mendatar. Pada waktu
inspirasi maksimum, otot antar tulang rusuk berkontraksi sehingga tulang
rusuk terangkat . Keadaan ini akan menambah besarnya rongga dada.
Mendatarnya diafragma dan terangkatnya tulang rusuk, menyebabkan
rongga dada bertambah besar, diikuti mengembangnya paru-paru,
sehingga udara luar melalui hidung melalui batang tenggorok (bronkus),
kemudian masuk paru-paru (pulmonum) (Irianto, 2013 ).

2. Mekanisme Ekspirasi
Bila otot antartulang rusuk dan otot diafragma mengendur, maka
diafragma akan melengkung ke arah rongga dada lagi, dan tulang rusuk
akan kembali ke posisi semula. Kedua hal tersebut menyebabkan rongga
dada mengecil, akibatnya udara dalam paru-paru terdorong ke luar. Inilah
yang dimaksud dengan mekanisme ekspirasi(Irianto, 2013 ).
II.2.2.3.Volume Paru-Paru : (Asmadi, 2008)
1. Volume tidal (Tidal volume-TV)
2. Volume tidal adalah jumlah volume udara yang diinspirasi atau di
ekspirasi setiap kali bernafas normal, besarnya kira-kira 500ml pada
laki-laki dewasa.
3. Voleme cadangan inspirasi (Inspiratory reterve volume-IRV)
4. Volume cadangan inspirasi adalah volume udara ekstrak yang dapat
dinspirasi setelah dan diatas volume tidal normal bila dialirkan inspirasi
kuat, biasanya mencapai 300ml
5. Volume cadangan ekspirasi (Ekspiratory reterve volume-ERV)
6. Volume cadangan ekspirasi adalah volume udara ekstra maksimal
yang dapat diekstraksi tidak normal jumlah normalnya adalah sekitar
100ml.
7. Volume sisa (Residu volume-RV)
8. Volume sisa yaitu volume udara yang mengalir tetap berada dalam
paru-paru setelah ekspirasi maksimal jumlahnya ±1200ml.
II.2.2.4 Proses Pertukaran Gas (O2 dan CO2)
Oksigen yang diperlukan untuk oksidasi diambil dari udara yang kita
hirup pada waktu kita bernapas. Pada waktu bernapas udara masuk
melalu saluran pernapasan dan akhirnya masuk ke dalam alveolus.
Oksigen yang terdapat dalam alveolus berdifusi menembus dinding sel
alveolus. Akhirnya masuk ke dalam pembuluh darah dan diikat oleh
hemoglobin yang terdapat dalam darah menjadi oksihemoglobin.
Selanjutnya diedarkan oleh darah ke seluruh tubuh (Chalik, 2016).
Oksigennya dilepaskan ke dalam sel-sel tubuh sehingga
oksihemoglobin kembali menjadi hemoglobin. Karbondioksida yang
dihasilkan dari pernapasan diangkut oleh darah melalui pembuluh darah
yang akhirnya sampai pada alveolus Dari alveolus karbon dioksida
dikeluarkan melalui saluran pernapasan pada waktu kita mengeluarkan
napas (Chalik, 2016).
II.2.2.5 Bentuk dari Pernapasan
Menurut Chalik Raimundus (2016) bentuk pernapasan secara garis
besar dibagi 2 bagian yaitu:
1. Proses pernapasan pulmonal atau paru-paru (Respirasi external)
Pertukaran gas yang terjadi antara paru-paru dan darah. Pada
respirasi eksternal darah mengambil oksigen dan melepaskan karbon
dioksida.
a. Ventilasi pulmonar atau gerak pernapasan yang menukar udara
dalam alveoli dengan udara luar, apabila ventilasi kurang baik maka
pernapasan tidak baik atau terganggu.
b. Jumlah udara yang mencapai alveoli pada volume pernapasan
semenit 6 liter adalah 500 minus 150 ml kali 12 pernapasan/menit
atau 4,2 liter/menit.
c. Pernapasan yang cepat dan dangkal mengakibatkan ventilasi yang
lebih sedikit dari pada pernapasan lambat dan dalam pada volume
pernapasan semenit yang sama. Semua proses ini di atur sehingga
darah dari paru-paru menerima jumlah tepat CO 2 dan O2. Jika
gerak badan lebih banyak darah dari paru-paru membawa banyak
CO2 dan sentrasinya dalam darah arteri bertambah. Hal ini
merangsang pusat pernapasan dalam otak untuk memperbesar
kecepatan dan dalamnya pernapasan. Penambahan vertilasi yang
baik akan mengeluarkan CO2 dan memungut lebih banyak O2.

2. Pernapasan jaringan (Respirasi internal)


Pertukaran gas yang terjadi antara darah dan sel jaingan. Pada
respirasi internal darah melepaskan oksigen dan mengikat karbon
dioksida.
a. Ikatan O2 dan Hb dari jantung di pompa keseluruh tubuh. Setiap sel
mengambil O2 untuk proses metabolisme dan dan darah menerima
hasil buangan CO2 dari jaringan dan paru-paru keluar.
b. Darah merah (hemoglobin) yang banyak mengandung oksigen dari
seluruh tubuh masuk kedalam jaringan akhirnya mencapai kapiler,
darah mengeluarkan O2 kedalam jaringan, mengambil CO 2 untuk
dibawa ke paru-paru terjadi pernapasan eksternal.
II.2.2.6 Kelainan pada Sistem Pernapasan
1. Asma merupakan peradangan yang terjadi pada saluran pernapasan
yang disebabkan oleh hypersensitive bronkiolus. Orang yang
menderita penyakit ini akan mengalami kesulitan dalam bernapas.
Sebab, pada kondisi ini saluran pernapasan utama pada paru-paru
menyempit. Penyakit ini bisa disebabkan oleh alergi terhadap kondisi
lingkungan, seperti debu, bahan kimia, serbuk sari, jamur, suhu yang
dingin dan lain sebagainya
2. Sinusitis merupakan peradangan yang terjadi pada rongga hidung
bagian atas (sinus paranasalis). Penderita ditandai dengan hidung
mampet, ingus berbau warna kuning kehijauan, dan terasa sakit pada
daerah sinus yang terserang
3. Renitis merupakan peradangan yang terjadi pada rongga hidung, yang
dapat mengakibatkan rongga hidung membangkak. Bahkan apabila
sudah parah rongga hidung mengeluarkan lendir. Penyakit ini
disebabkan oleh alergi terhadap benda tertentu
4. Asfiksi merupakan gangguan pernapasan yang disebabkan adanya
gangguan pada proses pendistribusian oksigen ke seluruh sel-sel
tubuh. Penyebab dari penyakit inibisa disebabkan oleh cairan limfa
yang masuk ke alveolus karena infeksi Diplococcus pneumococcu.
Kondisi ini menyebabkan seseorang menderita penyakit pneumonia
5. Bronchitis merupakan perdangan yang terjadi pada tenggorokan yang
disebabkan oleh infeksi bakteri yang menimpa pada selaput epitel
bronkus. Gejala dari penyakit ini biasanya ditandai oleh batuk yang
dalam, dahak abu-abu kekuningan yang keluar dari paru-paru
6. Pneumonia merupakan peradangan pada paru-paru yang menginfeksi
dinding alveolus, yang bisa disebebkan oleh jamur, virus ataupun
bakteri. Ciri-ciri orang menderita penyakit ini ialah terhambatnya
oksigen untuk masuk ke dalam darah karena alveolus terisi nanah,
lendir, atau cairan yang lain (Sarwadi & Erfanto, 2014)
7. Tuberculosis (TBC) merupakan peradangan yang menyerang dinding
alveolus yang disebabkan adanya bintil-bintil pada dinding dalam
alveolus. Penyakit ini disebabkan karena adanya infeksi bakteri
mycobacterium tuberculosis pada jaringan paru-paru. Cara penularan
penyakit ini dpat melalui udara
8. Pleuris merupakan peradangan yang terjadi pada selaput pembungkus
paru-paru (pleura). Penyakit ini disebabkan oleh adanya infeksi pada
paru-paru ataupun infeksi pada organ yang dekat dengan paru-paru.
Peradangan ini dapat mneyebabkan pleura menghasilkan cairan yang
berlebih pada pleura yang dapat berakibat dada terasa sesak jika
bernafas
9. Emfisema merupakan gangguan saluran pernapasan karena susunan
dan fungsi alveolus yang tidak normal. Penyakit ini ditandai dengan
paru-paru yang tidak lentur lagi karena paru-paru terendam,
berkurangnya luas permukaan membrane pernapasan karena
terkikisnya sekat antar alveoli. Penderita penyakit ini akan mengalami
kesulitan bernapas karena udara yang dihirup sedikit (Sarwadi &
Erfanto, 2014).

BAB III
METODE KERJA
III.1 Alat Dan Bahan
III.1.1 Alat : Torso paru-paru/gambar organ pernapasan dan torso organ
ginja vinset pisau bedah.
III.1.2 Bahan : Kloroform, etanol 70% dan hewan coba mencit.
III.2 Cara Kerja
Amati torso paru paru dan torso organ ginjal, melakukan
pengamatan organ paru-paru dan ginjal pada hewat mencit dan
catat hasil pengamatan.
DAFTAR PUSTAKA
Asmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: EGC

Chalik Raimundus. 2016. Anatomi Fisiologi Manusia. Jakarta: Kementrian


Kesehatan Republik Indonesia.

Chusnul N.R. 2017. Proses Pembentukan / sintesis dan Pengeluaran /


Sekresi Asam Lambung Serta Obat Yang Berperan. EXCTeam;
Jakarta.

Dawn B. Marks, dkk. 2009. Biokimia Kedokteran Dasar. Penerbit


Kedokteran EGC; Jakarta

Evelyn C. Pearce. 2011. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis.


PT.Gramedia : Jakarta.

R.Gunawan susilowarna. 2008. Biologi untuk SMA/ MA kelas XI:


Grasindo: Jakarta

Guyton, A. C. dan Hall, J. C. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi III.
Jakarta: EGC

Irianto, koes. 2013. Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia untuk Paramedis.
Yrama Widdya. Bandung.

Mikrajuddin, dkk. 2008. IPA Terpadu SMP dan MTs Untuk Kelas IX
Semester 1. Erlangga; Jakarta.

Pearce, E. 2013. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis. CV Prima


Grafika : Jakarta.

Ross dan Wilson. 2011. Dasar- Dasar Anatomi dan Fisiologi. EGC: Jakarta

Sarwadi dan Erfanto. 2014. Buku Pintar Anatomi Tubuh Manusia. Jakarta:
Penerbit Dunia Cerdas.

Sherwood,L. 2011. Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem. EGC: Jakarta.

Sloane, E. 2012. Anatomi Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: Penerbit Buku


Kedokteran EGC.

Syaifuddin,.(2008). Anatomi Fisiologi Untuk mahasiswa Keperawatan.


Jakarta: EGC
Waris dan Sugeng Irianto. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam SMP dan MTS
Kelas VIII. PT Gramedia; Jakarta

Waluyo, Joko. 2016. Penuntun Praktikum Anatomi Fisiologi Manusia.


Jember; Universitas Jember