Anda di halaman 1dari 3

TRIAGE

1. Peneliti

Karen Hammad, Lingli Peng, Olga Anikeeva, Paul Arbon, Huiyun Du, Yinglan Li

2. Judul Jurnal

Emergency nurses knowledge and experience with triage process in Hunan


Province, China (Perawat Gawat Darurat, pengetahuan dan pengalaman dengan proses
triage di Provinsi Hunan, China)

3. Tujuan Jurnal

Tujuan dari jurnal ini adalah untuk mengidentifikasi status saat ini mengenai praktik
dan pengetahuan tentang triage diantara perawat emergency di Changsha, Provinsi Hunan,
China.

4. Metodologi

Sampel diambil dari 300 perawat emergensi yang diseleksi dari 13 dari rumah sakit
tersier di Changsha dan total 193 survei lengkap yang kembali. Partisipan termasuk perawat
yang terdaftar dengan pengalaman ED triage yang berusia 18 tahun ke atas. Partisipan
termasuk perawat junior (dengan Diploma atau Master Degree dan memiliki pengalman
kursng dari lima tahun), perawatsenior (dengan Diploma yang memiliki pengalaman di atas
lima tahun dan dengan Master Degree dengan pengalaman diatas satu tahun), kepala
perawat (berpengalaman untuk mengelola perawat di departemen mereka), Asosiasi
professor dan professor. Penelitian ini menggunakan survey mereka yang telah diadaptasi
dari Goransson. Survey dilakukan di Cina (Mandarin) dan membutuhkan waktu sekitar 20
menit untuk menyelesaikan pengisian kuisioner oleh partisipan. Survey didistribusikan pada
kepala perawat yang kemudian akan dibagikan kepada perawat yang memenuhi kriteria
seleksi. Perawat diminta utuk menyelesaikan survey dan mengembalikan melalui kotak tang
telah disediakan

5. Hasil

Mayoritas partisipan dari penelitian ini adalah wanita (97.4%) dan rentan usia
diantara 25 sampai 34 tahun. Mayoritas pertisipan adalah lulusan sarjana di keperawatan.
Lebih dari setengah partisipan (50.8%) melaporkan pernah mendapat pelatihan triage, yang
diberikan oleh pimpinan mereka (38.6%), oleh organisasi pendidikan (30.7%) atau ditempat
konferenai (26.1%). Sekitar setengah (53.2%) melaporkan menggunakan skala triage
formal, yang didominasi 4-tier (43%) atau 5-tier (34%)

6. Aplikasi

Sistim triase modern rumah sakit yang saat ini berkembang disusun sedemikian
rupa untuk membantu mengambil keputusan yang konsisten. Semua metode triase lima
level menetapkan petugas yang melaksanakan triase adalah perawat yang sudah terlatih.
Namun tidak menutup kemungkinan dokter terlatih yang melakukan triase untuk kondisi-
kondisi unit gawat darurat khusus (pusat rujukan nasional, pusat rujukan trauma). Meski
sudah ada petugas khusus triase, konsep triase harus dipahami oleh semua petugas medis
(dokter, perawat gawat darurat, dokter spesialis, dan dokter spesialis konsultan) dan non
medis (petugas keamanan, petugas administrasi, petugas porter), karena unit gawat
darurat adalah sebuah tim, dan kinerja tim yang menentukan efektivitas, efisiensi, dan
keberhasilan pertolongan medis.

Manajemen unit gawat darurat yang efisien membutuhkan satu tim yang
mampu mengidentifikasi kebutuhan pasien, menetapkan prioritas, memberikan
pengobatan, pemeriksaan, dan disposisi yang tepat sasaran. Semua target tersebut
harus dapat dilakukan dengan waktu yang sesuai, sehingga menghindari kejadian
pengobatan terlambat dan pasien terabaikan.

Di Indonesia belum ada kesepakatan tentang metode triase apa yang digunakan di
rumah sakit. Belum ditemukan adanya literatur nasional yang mengidentifikasi metode-
metode triase yang digunakan tiap-tiap unit gawat darurat di Indonesia. Secara empiris
penulis mengetahui bahwa pemahaman triase dalam pendidikan kesehatan sebagian
besar- kalau tidak bisa dikatakan seluruhnya- masih menggunakan konsep triase
bencana (triase merah,,kuning, hijau, dan hitam).

Beberapa rumah sakit yang mengikuti akreditasi internasional seperti Rumah


Sakit Pusat Nasional dr. Ciptomangunkusumo sudah mulai mencoba mengikuti
penerapan triase lima kategori di Instalasi Gawat Darurat. Konsep lima kategori di RSCM
merupakan penyesuaian dari konsep ATS. Banyak perbedaan pendapat antara petugas
medis di IGD RSCM ketika sistim ini diterapkan karena sebagian masih menganut paham
triase bencana

Selain belum kuat dari aspek sosialisasi dan pelatihan, pelaksanaan triase di
Indonesia juga masih lemah dari aspek ilmiah. Minimnya penelitian dan publikasi dibidang
gawat darurat dapat menyebabkan kerancuan dalam menerapkan metode triase, apakah
tetap menggunakan metode konvensional, menyadur sistim dari luar negeri setelah
dilakukan uji validasi dan uji reliabilitas, atau membuat sistim sendiri yang sesuai dengan
karakteristik pasien-pasien di Indonesia.

Beberapa karakteristik pasien di Indonesia yang berbeda dengan diluar negeri


antara lain di Indonesia kasus-kasus berat diantar ke IGD oleh keluarga atau
pendamping, bukan dengan ambulans medik, sehingga perlu ada evaluasi singkat
mengenai keluhan utama pasien atau mekanisme trauma, pasien yang datang ke IGD
memiliki komorbid lebih banyak, cara menyampaikan keluhan berbeda-beda tergantung
dari latar belakang budaya, serta banyak dijumpai kasus penyakit tropik dan infeksi
seperti demam berdarah dengue, demam typhoid, malaria, chikunguya, dan leptospirosis.