Anda di halaman 1dari 2

KONSEP DASAR GAWAT DARURAT

1. Peneliti

Katherine L. Forsyth, Hunter J. Hawthorne, BS, Nibras El-Sherif, MBBS, Rachelen S. Varghese,
MHA, Vickie K., DNP, RN, Jordyn Koenig dan Renaldo C. Blocker, PhD, Rochester, MN, Flint,
MI dan Ames, IA.

2. Judul Jurnal

Interruptions experienced by emergency nurses: implications for subjective and objective


measure of workload (Interupsi yang dialami oleh perawat darurat: implikasi untuk mengukur
beban kerja secara subjektif dan obyektif)

3. Tujuan Jurnal

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gangguan yang dialami oleh perawat
gawat darurat dan membangun validitas konvergensi 1 ukuran beban kerja objektif dengan
menghubungkan karakteristik gangguan untuk ukuran objektif dan subjektif dari beban kerja

4. Metodologi

Gangguan di dapat secara langsung di 8 atau 12 jam shift menggunakan instrument dari
penelitian sebelumnya Workflow Interruptions Tool (WIT). Data diambil untuk setiap interupsi
seperti tipe, prioritas dan lokasi dimana interupsi atau gangguan itu terjadi. Dari pertengahan
hingga akhir shift, instrument Surgery Task Load Index (SURG-TLX) dan Rapid Cognitive
Assessment Tool (RCAT) diberikan pada partisipan dan digunakan untuk mengukur beban
kerja secara subjektif dan objektif

5. Hasil

38 perawat gawat darurat diamati. Total terdapat 3,299 gangguan yang dicatat
mencapai 372.5 jam dan 38 shifts. Dengan rata-rata 85 interupsi per shift dan 8.7 interupsi tiap
jamnya. Durasi rata-rata per interupsi adaalah 13,0 detik. Berdasarkan jumlah pengalaman
interupsi yang diidentifikasi selama shift mengalami kenaikan beban kerja pada akhir shift. Juga
diidentifikasi terjadi kenaikan waktu reaksi selama tes RCAT dan kenaikan beban mental
selama akhir shift. Interupsi/ gangguan diamati selama seluruh durasi shift menemukan bahwa
mayoritas gangguan yang disebabkan oleh lingkungan yang memiliki prioritas rendah.
Intervensi ditargetkan untuk mengurangi prioritas yang rendah dan dapat membantu dalam
mengurangi dampak gangguan pada staf klinis dan perawatan pasien. Dan hasil menunjukkan
bahwa frekuensi interupsi dianggap dapat meningkatkan beban kerja perawat secara
keseluruhan

6. Aplikasi

Perawat bekerja selama 24 jam melayani pasien. Lokakarya PPNI tahun 1983
menyepakati tugas perawat berdasarkan fungsi perawat dalam memberikan asuhan
keperawatan adalah sebagai berikut: mengkaji kebutuhan pasien, merencanakan tindakan
keperawatan, melaksanakan rencana keperawatan, mengevaluasi hasil asuhan keperawatan,
mendokumentasikan proses keperawatan (Hidayat, 2009). Lumenta (1989), menegaskan
bahwa tugas utama dari perawat, yaitu memperhatikan kebutuhan pasien, merawat pasien
dengan penuh tanggung jawab dan memberikan pelayanan asuhan kepada individu atau
kelompok orang yang mengalami tekanan karena menderita sakit.

Keberhasilan suatu rumah sakit dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang


bermutu dan berkualitas salah satunya dipengaruhi oleh kinerja SDM (sumber daya manusia)
yaitu pegawai. Baik atau kurangnya hasil kerja atau kinerja seseorang dipengaruhi oleh
beberapa faktor, diantaranya: keterampilan, persepsi, peran, sikap, kepribadian, beban kerja,
motivasi kerja, kepuasan kerja, struktur organisasi, desain pekerjaan pengembangan karir,
kepemimpinan, serta sistem penghargaan (reward system).

Lebih ringkasnya, menurut Mangkunegara (2004), faktor yang mempengaruhi


pencapaian kinerja adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor motivasi (motivation). Hal
tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Hasmoko (2008) yang menunjukkan
bahwa ada pengaruh secara bersama-sama antara pengetahuan, sikap, motivasi, monitoring
dengan kinerja klinis perawat berdasarkan SPMKK (Sistem Pengembangan Manajemen Kinerja
Klinik).

Maka dari itu beban kerja yang meningkat saat perawat melakukan tugsnya dapat
mempengaruhi pemberian intervensi oleh perawat. Bsesar kemungkinan pelayanan yang
dibeikan oleh perawat kurang maksimal akibat bertambahnya beban kerja yang didaptkan
perawat selama jam kerjanya tersebut.