Anda di halaman 1dari 4

Pembahasan (Oleh Dhika Artasya Pratama)

Energi adalah suatu kemampuan untuk melakukan kerja. Dalam kehidupan sehari-hari
terdapat banyak bentuk energi, antara lain energi mekanik, energi kinetik, energi kimia,
energi listrik, energi cahaya, dll. Energi memenuhi seluruh prinsip termodinamika, salah
satunya dapat berubah ke bentuk yang lain. Dalam praktikum ini, dibuktikan bahwa dapat
terjadi perubahan bentuk energi dari kerja (W) menjadi panas.

Ultrasonic vibrator merupakan alat yang dapat memberikan getaran berupa aliran
gelombang ultrasonic pada objek dalam bejananya. Objek yang digunakan dalam percobaan
adalah air dan minyak goreng untuk mengetahui pengaruh dari penambahan kerja pada objek.
Sebelumnya bejana ultrasonic vibrator diisi air lalu objek yang digunakan untuk percobaan
diisi dalam labu erlenmeyer dan digantung pada clam di tengah bejana. Hal ini untuk
menghindari kerusakan pada alat apabila senyawa selain air langsung dituang dalam beajana.
Rangkaian tadi ditambahkan termometer untuk mengukur kenaikan suhu yang terjadi.

Pada pengamatan baik air dan minyak ternyata terdapat kenaikan temperatur setelah
sekian menit perendaman pada ultrasonic vibrator. Kenaikan temperatur ini disebabkan
gerakan gelombang dari ultrasonic vibrator dimana molekul-molekul air dan minyak selama
proses digerakkan oleh bejana yang memberikan gerakan vibrasi sehingga menyebabkan
kerja pada tiap molekul air dan minyak. Terjadinya kerja pada tiap molekul ini menyebabkan
penambahan energi kinetik yang hasilnya menyebabkan panas.

Hasil yang didapat dari perccobaan adalah perubahan suhu terhadap waktu pada air
dan minyak dalam ultrasonic vibrator. Pola kurva baik air maupun minyak adalah meningkat
seiring waktu meskipun terdapat jeda tiap penambahan temperaturnya. Apabila dibandingkan
antara kurva air dan kurva minyak, terdapat perbedaan kenaikan temperatur dimana
temperatur minyak lebih tinggi daripada temperatur air. Hal ini disebabkan oleh berberapa
faktor antara lain :

a. Kapasitas panas spesifik

Kapasitas panas spesifik adalah suatu besaran yang menunjukkan energi yang dibutuhkan
untuk menaikkan satu derajat temperatur pada satu satuan massa. Air dan minyak memiliki
perbedaan panas spesifik yang cukup tinggi, dimana air bernilai 4,18 J/gºC dan minyak
bernilai 1,91 J/gºC. Dari data tersebut disimpulkan bahwa air butuh lebih banyak energi untuk
tiap kenaikkan temperaturnya dibandingkan minyak, sehingga hasil akhir menyebabkan
minyak mengalami kenikan temperatur lebih tinggi.

b. Densitas

Densitas adalah satuan yang menunjukkan kerapatan dari molekul suatu senyawa. Air pada
suhu ruang memiliki densitas 0,997 g/ml sementra minyak pada suhu ruang memiliki densitas
pada kisaran 0,910 g/ml hingga 0,928 g/ml. Dari data tersebut, air memiliki kerapatan yang
lebih tinggi daripada minyak. Kerapatan ini berpengaruh dengan pergerakan molekul dimana
semakin rapat maka molekul semakin sulit untuk bervibrasi sehingga peningkatan energi
menjadi terhambat.
Kesimpulan

a. Terdapat berbagai jenis energi, antara lain energi mekanik, energi kinetik, energi
kimia, energi listrik, energi cahaya, dll.
b. Energi dapat berubah bentuk dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
c. Pada ultrasonic vibrator terdapat perubahan dari energi listrik, menjadi energi gerak
(kinetik), menjadi usaha/kerja, baru kemudian menjadi energi panas.
d. Kenaikan temperatur pada suatu unsur dipengaruhi berbagai faktor seperti panas
spesifik dan densitasnya.
Pembahasan (Oleh Dhika Artasya Pratama)

Pada suatu sistem, energi biasanya terdiri atas energi kinetik, energi potensial, energi
kalor/panas, dan kerja. Energi dalam merupakan total energi yang dikandung dalam sebuah
sistem dengan mengecualiakan energi kinetik dan energi potensial. Dalam percobaan ini,
dilakukan penentuan energi dalam menggunakan 2 pendekatan perhitungan yaitu
menggunakan persamaan kapasitas panas spesifik dan menggunakan konversi dari energi
listrik.

Metode percobaan yang digunakan pada dasarnya adalah mengubah energi listrik
yang tersambung pada suatu power supply menjadi energi panas pada suatu kalorimeter. Dari
rangkaian power supply dan kalorimeter tersebut diukur tegangan dan kuat arus serta
kenaikan tempaeratur pada kalorimeter. Percobaan menggunakan sistem tertutup dimana
tidak ada aliran massa yang keluar-masuk sistem sehingga berdasarkan Hukum
Termodinamika I, berlaku :

∆𝑈 = 𝑄 + 𝑊

Karena tidak terdapat kerja pada sistem, maka :

∆𝑈 = 𝑄

Perhitungan pertama didasarkan pada konversi energi listrik sementara perhitungan kedua
didasarkan mada kenaikan temperatur dan panas spesifik. Kedua data kemudian
dibandingkan dan dijelaskan asal perbedaannya.

Variabel yang digunakan adalah 12 volt dan 8 volt. Dari kedua variabel tersebut
didapatkan kenaikan temperatur yang berbeda pula dimana tegangan 12 volt memiliki
kenaikan temperatur yang lebih tinggi daripada 8 volt. Pendekatan pertama yang digunakan
adalah menggunakan rumus konversi energi listrik yaitu :

𝑄 = 𝑉. 𝐼. 𝑡

Diamana Q merupakan energi panas dalam joule, V merupakan tegangan dalam volt, I
merupakan kuat arus listrik dalam ampere, dan t merupakan waktu dalam sekon. Hasil kali
dari tegangan dan kuat arus memiliki satuan volt ampere (VA), satuan ini setara dengan joule
per sekon sehingga saat dikali dengan waktu proses akan diketahui jumlah energi yang
dikeluarkan oleh power supply selama proses.

Persamaan kedua yang digunakan adalah menggunakan kapasitas panas spesifik dan
perubahan temperatur, persamaan yang digunakan adalah :

𝑄 = 𝑚. 𝑐𝑝 . ∆𝑇

Dengan m merupakan massa dalam gram, cp merupakan kapasitas panas spesifik dalam
Joule/gram ºC, dan T merupakan perubahan temperatur dalam ºC. Hasil dari percobaan
berupa kenaikan temperatur, digunakan dalam menentukan nilai Q menggunakan persamaan
ini sehingga diperoleh nilai energi dalam yang ada pada sistem selama proses.
Secara teori, hasil dari kedua perhitungan tersebut harusnya hampir sama atau
mendekati dengan mengabaikan faktor penghambat. Namun pada data terdapat perbedaan
nilai yang cukup signifikan yang mungkin disebabkan oleh berberapa faktor, antara lain :

a. Kesalahan dalam pengukuran terutama pada penentuan temperatur sehingga data


tidak akurat dan hasil perhitungan menjadi salah.
b. Kondisi sistem yang tidak terisolasi sempurna, dimana saat percobaan masih terdapat
uap air yang keluar dari kalorimeter sehingga terdapat aliran energi yang terabaikan.
c. Hambatan elektrik, dapat mempegaruhi nilai akhir dari pengamatan.
d. Efisiensi konversi energi yang tidak sempurna.
e. Kesalahan perhitungan.

Kesimpulan

a. Energi dalam adalah total energi yang terkandung dalam suatu sistem.
b. Sistem diam seperti rangkaian kalorimeter memiliki nilai energi kinetik, energi
potensial, dan usaha sama dengan nol.
c. Pada rangkaian kalorimeter nilai energi dalam sama dengan nilai energi panas.
d. Energi listrik dapat dikonversi menjadi energi panas dan energi yang dikonversi
sebanding dengan yang terkonversi.
e. Perbedaan nilai energi dari sumber listrik yang mengalir dan energi yang diterima
dapat disebabkan berbagai faktor, baik dari segi pengambilan data maupun
perhitungan.