Anda di halaman 1dari 11

A.

Eksposur Risiko dan Pengendalian (Manajemen) Resiko

Pengendalian risiko mempunyai peranan penting dalam manajemen risiko. Eksposur terhadap resiko
yang tinggi, jika diimbangi dengan pengendalian risiko yang baik, akan mengurangi atau meminimalkan
risiko yang dihadapi oleh perusahaan, seperti yang ada pada tabel berikut.

Hasil Penilaian Predikat Risiko Risiko Inheren


Komposit Low Moderate High
Sistem Weak Low to Moderate to High
Pengendalian Moderate High
Risiko Acceptable Low Moderate High
Strong Low Moderate to High to
Low Moderate
Tabel di atas menunjukkan bahwa profil risiko ditentukan oleh dua hal:
1. Risiko inheren, dan
2. Sistem pengendalian risiko

Sebagai ilustrasi, misalkan ada perusahaan Indonesia yang bergerak di bidang konstruksi (kontraktor).
Perusahaan tersebut ditawari pekerjaan di Irak (tahun 2008, Irak masih di bawah pendudukan Amerika
Serikat, banyak serangan bom dari pemberontak). Bagaimana evaluasi eksposur risiko tersebut? Risiko
inheren yang dihadapi perusahaan tersebut, jika beroperasi di Irak, adalah sangat besar. Mereka bisa kena
serangan bom, baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena itu risiko inheren perusahaan tersebut
masuk dalam kolom high. Bagaimana dengan sistem pengendalian risikonya? Sebagai perusahaan
kontraktor yang tidak mempunyai pengalaman dalam perang atau menghadapi serangan bersenjata, sistem
pengendalian risiko perusahaan tersebut bisa dikatakan lemah (baris pertama).

Gabungan dari risiko inheren tinggi dengan sistem pengendalian risiko rendah menghasilkan profil
risiko yang tinggi. Untuk perusahaan tersebut, strategi yang optimal barangkali tidak mengambil tawaran
tersebut.

Sebagai ilustrasi lain, misal ada perusahaan keamanan profesional dari Amerika Serikat, yang juga
menyediakan jasa tentara bayaran. Perusahaan tersebut memperoleh tawaran pekerjaan di Irak. Bagaimana
evaluasi terhadap profil resiko tawaran tersebut? Sama seperti di atas, risiko ingeren yang dihadapi oleh
perusahaan tersebut sangat besar. Mereka bisa kena serangan bom setiap saat. Bagaimana dengan sistem
pengendalian resikonya? Karena perusahaan keamanan yang profesional, mempunyai tentara bayaran yang
terlatih, sistem pengendalian mereka terhadap resiko perang cukup baik. Misalkan sistem pengendalian
resiko mereka masuk dalam kategori strong (kuat). Gabungan dari risiko inheren yang tinggi dengan sistem
pengendalian risiko yang kuat adalah profil resiko moderate to high. Strategi yang optimal barangkali
adalah mengambil tawaran tersebut, dan memperoleh keuntungan dari tawaran tersebut. Risiko yang
dihadapi sangat tinggi, tetapi pengendalian risiko yang kuat bisa mengoptimalkan profil resiko yang
dihadapi.

B. Penghindaran Resiko

Jika memungkinkan, risiko yang tidak perlu, risiko yang bisa dihilangkan tanpa ada pengaruh negative
terhadap pencapaian tujuan, bisa dihindari. Misalkan saja perusahaan mempunyai dua pilihan untuk
gudangnya, satu di daerah rawan banjir, yang lainnya di daerah aman banjir. Jika segala sesuatunya sama
(misal harga sewanya sama), perusahaan seharusnya memilih Gudang yang di daerah aman banjir. Dalam
kebanyakan situasi, risiko tidak bisa dihindari. Perusahaan secara sengaja melakukan aktivitas bisnis
tertentu untuk memperoleh keuntungan. Dalam melakukan aktivitas bisnis tersebut, perusahaan
menghadapi risiko yang berkaitan dengan aktivitas tersebut. Karena itu risiko semacam itu tidak bisa
dihindari.

C. Risk Retention

Alternative lain dari manajemen risiko adalah perusahaan menanggung sendiri risiko yang muncul
(menahan risiko tersebut atau risk retention). Jika risiko benar-benar terjadi, perusahaan tersebut harus
menyediakan dana untuk menanggung resiko tersebut. Contoh taksi PT Kelana pada bagian awal
menunjukkan bahwa PT Kelana memilih untuk menahan resiko operasi kendaraannya. Dalam contoh
tersebut PT Kelana secara sadar merencanakan untuk menahan resiko tersebut.

1. Penahanan yang direncanakan dan yang tidak direncanakan


Penahanan resiko bisa terjadi secara terencana dan tidak terencana. Jika suatu perusahaan
mengevaluasi risiko-risiko yang ada, kemudian memutuskan untuk menahan sebagian atau
seluruh resiko, maka perusahaan tersebut menahan resiko dengan terencana. Pada situasi lain,
perusahaan tidak sadar akan adanya risiko yang dihadapinya. Perusahaan tidak melakukan apa-
apa. Dalam situasi tersebut perusahaan menahan risiko dengan tidak terencana. Sebagai contoh,
suatu perusahaan membuat produk tertentu. Tapi perusahaan tersebut tidak menyadari bahwa
produk tersebut bisa memunculkan resiko gugatan oleh konsumen terhadap perusahaan.
Perusahaan secara tidak terencana menahan risiko gugatan tersebut.
2. Pendanaan risiko yang ditahan
Risiko yang ditahan bisa didanai dan bisa juga tidak didanai. Jika perusahaan tidak menetapkan
pendanaan yang khusus ditujukan untuk mendanai resiko tertentu, jika resiko tersebut muncul,
maka risiko tersebut tidak didanai. Dalam beberapa situasi, alternative tersebut merupakan pilihan
yang masuk akal. Sebagai contoh, supermarket tidak mendanai resiko pencurian oleh pembeli
supermarket. Supermarket tersebut beranggapan bahwa pencurian oleh pembeli merupakan
bagian dari bisnis supermarket sehingga tidak perlu dibuat pendanaan yang khusus. Pencurian
tersebut bisa dimasukkan ke dalam biaya operasional. Tetapi jika kerugian yang timbul akibat
resiko tersebut sangat besar, maka perusahaan bisa mengalami kesulitan jika harus membiayai
kerugian tersebut.
Dalam situasi tersebut, perusahaan bisa mendanai risiko tersebut. Pendanaan bisa dilakukan
melalui beberapa cara, seperti menyisihkan dana cadangan, self insurance, dan captive insures.
 Dana cadangan
Perusahaan menyisihkan dana tertentu secara periodik yang ditujukan untuk membiayai
kerugian akibat dari risiko tertentu. Dalam contoh di bagian awal, PT Kelana
menyisihkan dana sebesar 1% dari pendapatan untuk membiayai kerugian akibat
kecelakaan mobil taksinya. Yang perlu diperhatikan adalah persoalan akuntansinya,
yaitu apakah memungkinkan atau tidak, jika memungkinkan bagaimana aturan dan
nama rekening untuk dana cadangan kerugian semacam itu. Perusahaan bisa juga
menyiapkan dana cadangan dalam bentuk memegang asset yang likuid (misal kas) yang
disiapkan untuk membiayai kerugian jika risiko terjadi. Perusahaan juga bisa
membangun akses ke pasar keuangan yang baik sehingga jika terjadi kerugian,
perusahaan bisa memperoleh dana dari pasar keuangan, meskipun biasanya bank tidak
memberikan pinjaman untuk kerugian akibat terjadinya risiko (misal akibat kebakaran).

 Self-insurance dan Captive Insurers


Pengelolaan dana cadangan bisa ditingkatkan lagi menjadi semacam asuransi untuk
internal perusahaan sendiri( self-insurance). Meskipun ada keberatan karena istilah self-
insurance di sini tidak mengindikasikan adanya transfer risiko ke pihak luar. Risiko
masih berada di perusahaan. Dengan self-insurance, perhitungan dilakukan lebih teliti
untuk menentukan berapa besarnya premi yang harus disisihkan, berapa besarnya
tanggungan yang bisa diberikan. Kerugian yang terjadi lebih besar dari tanggungan
maksimum. Bisa diallihkan ke pihak luar (misal diasuransikan). Self-insurance bisa
dilakukan jika (1) eksposur di perusahaan cukup besar, sehingga skala ekonomisnya
bisa tercapai, (2) risiko bisa diprediksi dengan baik.

Captive insurers dilakukan dengan mendirikan anak perusahaan asuransi yang menjadi
bagian dari perusahaan. Risiko dalam perusahaan bisa diasuransikan ke captive insurers
tersebut. Captive insurers tersebut juga bisa menjual asuransi ke pihak eksternal
(perusahaan lain). Timbul pertanyaan apakah manfaat captive insurers semacam itu,
karena resiko tidak ditransfer ke pihak luar? Risiko masih ditanggung sendiri oleh
perusahaannya. Ada beberapa alasan kenapa captive insurers menjadi menarik, di
antaranya: (1) di beberapa negara, perlakuan pajak sedemikian rupa sehingga
menguntungkan untuk membuat captive insurers (pajak bisa dibayarkan lebih keci), (2)
kontrak asuransi menjadi lebih fleksibel karena prkatis berurusan dengan pihak internal.
Kadang-kadang menajer captive insurers sekaligus menjadi manajer resiko perusahaan.
Dalam hal ini, asimetri informasi dan problem keagenan yang terjadi antara pihak
internal dengan eksternal bisa dihilangkan. Sebagai contoh, karena manajer resiko
sekaligus menjadi manajer captive insurers, maka premi yang dibayarkan tidak akan
lebih mahal dibandingkan dengan kalau memberi asuransi dari pihak luar.

D. Risk Transfer

Alternatif lain dari manajemen risiko adalah memindahkan risiko ke pihak lain (mentransfer risiko ke
pihak lain). Pihak lain tersebut biasanya mempunyai kemampuan yang lebih baik untuk mengendalikan
risiko, baik karena skala ekonomi yang lebih baik sehingga bisa mendiversifikasikan risiko yang lebih baik,
atau karena mempunyai keahlian untuk melakukan manajemen resiko lebih baik. Risk transfer bisa
dilakukan melalui berbagai cara:

1. Asuransi
2. Hedging
3. Incorporated (membentuk perseroan terbatas)
4. Teknik lainnya

1. Asuransi
Asuransi merupakan metode transfer risiko yang paling umum, khususnya untuk risiko murni
(pure risk). Asuransi adalah kontrak perjanjian antara yang diasuransikan (insured) dan
perusahaan asuransi (insurer), di mana insurer bersedia memberikan kompensasi atas kerugian
yang dialami pihak yang diasuransikan, dan pihak pengasuransi (insurer) memperoleh premi
asuransi sebagai balasannya.

Empat hal diperlukan dalam transaksi asuransi: (1) perjanjian kontrak, (2) pembayaran premi,
(3) tanggungan (benefit) yang dibayarkan jika terjadi kerugian seperti yang disebutkan dalam
kontrak, dan (4) penggabungan (pool) sumber daya oleh perusaaan asuransi yang diperlukan
untuk membayar tanggungan.

Bisnis asuransi didasarkan pada prinsip mengumpulkan (pool) sumber daya, bukannya
mengumpulkan risiko. Melalui premi yang diterima oleh perusahaan asuransi, perusahaan bisa
mengumpulkan sumber daya, sehingga bisa mempekecil probabilitas tidak bisa memenuhi
kewajibannya. Penggabungan risiko untuk memperkecil probabilitas ketidakmampuan
membayar kewajban mensyaratkan hubungan yang rendah (atau negatif) sehingga risiko
tersebut akan saling menghilangkan. Penggabungan risiko semacam itu merupakan prinsip
diversifikasi, bukannya asuransi.

Risiko yang bisa ditanggung oleh asuransi cukup beragam. Berikut ini beberapa contoh risiko-
risiko tersebut : (1) Risiko kecelakaan kerja (2) Risiko kematian, (3) Risiko tabungan tidak
terbayar oleh bank (asuransi deposito), (4) Risiko kebakaran atau kerusakan property.

2. Hedging
Hedging atau lindung nilai pada dasarnya mentransfer risiko kepada pihak lain yang lebih bisa
mengelola risiko lebih baik melalui transaksi instrumen keuangan. Sebagai contoh, perusahaan
Indonesia mempunyai kewajiban untuk membayar cicilan utang dalam dolar AS tiga bulan
mendatang. Perusahaan tersebut menghadapi risiko turunnya nilai rupiah terhadap AS , atau
naiknya nilai dolar AS terhadap rupiah. Jika hal tersebut terjadi, maka perusahaan tersebut
harus menyediakan rupiah yang lebih banyak, dan bisa menyebabkan perusahaan tersebut
mengalami kesulitan keuangan (ingat kasus perusahaan Indonesia yang mempunyai utang
dalam dolar, kemudian bangkrut ketika rupiah jatuh nilainya terhadap dolar pada saat krisis
ekonomi tahun 1997).
Untuk menghindari risiko turunnya nilai rupiah terhadap dolar, perusahaan tersebut bisa
melakukan hedging dengan beberapa cara, misal membeli kontrak forward $ atau future $
dengan posisi long. Forward $ atau futures $ merupakan instrumen keuangan yang dinamakan
instrumen derivatif. Struktur pay-off dan instrumen derivatif beli dolar forward atau futures $
long adalah sedemikian rupa jika rupiah melemah terhadap dolar maka pemilik kontrak tersebut
akan memperoleh keuntungan. Keuntungan tersebut bisa dipakai untuk mengkompensasi
kerugian dari posisi awalnya (kewajiban untuk menyediakan dolar tiga bulan mendatang).

Dengan demikian cara kerja hedging mirip dengan asuransi, yaitu jika kita rugi karena risiko
tertentu, kita memperoleh kompensasi dari kontrak lainnya. Jika di asuransi, asuransi diberikan
oleh perusahaan asuransi. Sedangkan untuk hedging dengan instrumen derivatif, kompensasi
diberikan oleh pihak lain (counter party) yang menjual kontrak derivatif tersebut.

3. Incorporated
Incorporated atau membentuk perseroan terbatas merupakan alternatif transfer risiko, karena
kewajiban pemegang saham dalam perseroan terbatas hanya terbatas pada modal yang
disetorkan. Kewajiban tersebut tidak akan sampai ke kekayaan pribadi. Secara efektif, sebagian
risiko perusahaan ditransfer ke pihak lain, dalam hal ini biasanya kreditur (pemegang utang).
Jika perusahaan bangkrut, maka pemegang saham dan pemegang utang akan menanggung
risiko bersama, meskipun dengan tingkatan yang berbeda. Pemegang utang biasanya
mempunyai prioritas yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemegang saham. Misalkan
perusahaan bangkrut, aset dijual, hasil penjualan aset tersebut akan diberikan ke pemegang
utang. Jika masih ada sisa, pemegang saham baru bisa memperoleh bagiannya. Tetapi
kewajiban pemegang saham tidak akan sampai pada harta pribadinya. Secara umum,
mekanisme semacam itu yang terjadi, meskipun dalam situasi khusus, kewajiban pemegang
saham bisa sampai ke kekayaan pribadinya.

4. Teknik Lainnya
Selain teknik transfer risiko yang disebutkan di atas, ada banyak teknik transfer risiko lainnya.
Berikut ini beberapa contoh bagaimana teknik transfer risiko bisa digunakan dalam situasi
tertentu. Misal perusahaan penjual komputer notebook ingin menghindari risiko perubahan
kurs. Biasanya komputer notebook diimpor atau banyak komponennya diimpor dari luar negeri.
Jika harga ditetapkan dalam rupiah, maka harga akan berfluktuasi mengikuti perubahan kurs.
Jika rupiah melemah terhadap dolar, maka harga notebook akan naik, dan sebaliknya. Fluktuasi
harga tersebut membuat ketidakpastian menjadi tinggi. Penjual komputer notebook biasanya
mentransfer risiko perubahan kurs ke pembeli dengan cara menetapkan harga notebook dalam
dolar AS, bukannya rupiah.

Contoh lain, misalnya PT. AAA memperoleh tender untuk membangun gedung tertentu.
Kemudian dia mensubkontrakkan pengerjaan listrik ke PT. BBB. PT. AAA bisa menyiapkan
kontrak yang mengatakan bahwa jika terjadi kerusakan atau kecelakaan yang berasal dari
listrik, maka PT. BBB yang akan menanggung risiko tersebut. Dalam hal ini risiko ditransfer
dari PT. AAA ke PT. BBB.

E. Keputusan Memilih Alternatif Manajemen Resiko

Secara umum jika risiko mempunyai frekuensi yang sering dengan severity yang rendah, maka
alternatif risiko ditahan merupakan alternatif yang paling optimal. Jika risiko mempunyai frekuensi yang
kecil tetapi mempunyai severity yang besar, maka alternatif ditransfer merupakan alternatif yang optimal.
Jika frekuensi dan severity tinggi, maka perusahaan bisa berpikir untuk menghindari risiko tersebut. Tabel
berikut ini meringkaskan alternatif risiko tersebut.

Frekuensi (probability) Severity (keseriusan) Teknik yang dipilih


Rendah Rendah Ditahan
Tinggi Rendah Ditahan
Rendah Tinggi Ditransfer
Tinggi Tinggi Dihindari

Beberapa ilustrasi bisa diberikan di sini. Risiko kecelakaan mobil dari persfektif individu mempunyai
ciri frekuensi rendah, dengan tingkat severity yang tinggi. Untuk resiko semacam itu, alternative ditransfer
merupakan alternative yang optimal. Karena itu akan lebih jika individu membeli asuransi kecelakaan
mobil dibandingkan menahan resiko tersebut. Resiko kebakaran atau terkena serangan badai mempunyai
ciri frekuensi rendah dengan severity yang tinggi. Untuk jenis resiko tersebut, alternative transfer resiko
merupakan alternative yang optimal.

Tentunya besar kecil severity dan frekuensi bersifat relative, tergantung dari sudut pandang tertentu.
Sebagai contoh, kerugian sebesar Rp 1 miliar bagi perusahaan kecil akan terlihat sangat besar, tapi bagi
perusahaan besar, angka tersebut merupakan angka yang kecil. Disamping itu, alternative-alternatif tersebut
tidak saling menghilangkan. Perusahaan bisa menggunakan kombinasi alternative risiko. Sebagai contoh,
perusahaan mengasuransikan kerugian dari kebakaran di atas angka Rp 1 miliah. Di bawah angka tersebut,
perusaahaan bersedia menanggung (menahan) resiko tersebut. Perusahaan berarti menggunakan alternative
menahan sekaligus mentransfer resiko.

Di samping itu, penggunaan alternative-alternatif tersebut perlu dilengkapi dengan pengendalian


resiko. Pengendalian resiko berkaitan dengan alternative-alternatif resiko. Pengendalian resiko yang baik
bisa memperkecil resiko, sehingga alternative menahan risiko menjadi lebih layak. Untuk altenatif
mentransfer resiko, pengendalian resiko bisa menurunkan harga yang dibayar untuk mentransfer resiko
tersebut. Sebagai contoh, perusahaan bisa mencoba mengendalikan resiko kebakaran bangunan dengan
jalan memasang alarm kebakaran dan tabung oemadam kebakaran di bangunan tersebut. Jika hal tersebut
dilakukan, premi untuk asuransi kebakaran bisa di turunkan.

F. Pengendalian Resiko

Untuk resiko yang tidak bisa dihindari, organisasi perlu melakukan pengendalian resiko. Dengan
menggunakan dua dimensi, probabilitas dan severity, pengendalian resiko bertujuan untuk mengurangi
probabilitas munculnya kejadian, mengurangi tingkat keseriusan (severity), atau keduanya. Agar bisa
mengendalikan resiko lebih baik, pemahaman terhadap karakteristik resiko diperlukan. Dalam upaya
memahami risiko tersebut ada beberapa teori yang ingin menelusuri penyebab munculnya resiko. Dua teori
tersebut yaitu:

1. Teori Domino (Heinrich, 1959)


Menurut teori ini, kecelakaan bisa dilihat sebagai urutan lima tahap seperti yang digambarkan
dalam kartu domino. Jika satu kartu jatuh, maka akan mendorong kartu berikutnya untuk ikut jatuh,
dan seterusnya sampai kartu terakhr domino jatuh. Ada lima tahap yang merupakan rangkaian
kecelakaan, yaitu:
a. Lingkungan social dan factor bawaan yang menyebabkan seseorang berprilaku tertentu
(misalnya mempunyai tempramen tinggi sehingga gampang marah).
b. Personal fault (kesalahan individu), di mana individu tersebut tidak mempunyai respon yang
tepat (benar) dalam situasi tertentu.
c. Unsafe act or physical hazard (tindakan yang berbahaya atau kondisi fisik yang berbahaya).
d. Kecelakaan
e. Cedera

Sebagai contoh adalah kecelakaan kerja yang dialami seseorang. Misalkan orang itu mempunyai
tempramen tinggi karena tumbuh dewasa di lingkungan keras (factor pertama). Kemudian orang
tersebut tidak suka mendengarkan saran orang lain atau tidak suak memperhatikan
kondisisekitarnya (factor kedua). Kemudian orang tersebut bekerja di lingkungan mesin atau
bangunan yang rentan terhadap munculnya risiko kecelakaan kerja (factor ketiga). Tiga factor
tersebut cukup potensial untuk memunculkan terjadinya kecelakaan. Misalnya kecelakaan terjadi
dan orang tersebut (dan barang kali orang lain di sekitarnya) mengalami cedera.

Penelitian oleh Heinrich menunjukan bahwa factor ketiga (tindakan yang berbahaya) menjadi
penyebab utama kecelakaan kerja (sekitar 88%). Beberapa contoh tindakan yang berbahaya adalah
bekerja tanpa menggunakan alat pengaman yang memadai (missal mengecat Gedung latai 14 tanpa
alat pelindung jika jatuh), teman kerja yang menggangu konsentrasi kerja, peralatan yang tidak
digunakan sebagaimana mestinya. Berdasarkan hasil tersebut, pengendalian resiko yang efektif
bisa dilakukan dengan memfokuskan pada factor ketiga (menghilangkan tindakan yang berbahaya,
menghilangkan kondisi fisik yang rentan terhadap resiko).

2. Rantai Risiko (Risk Chain)


Menurut Mekhofer, 1987 ,risiko yang muncul bias di pecah kedalam beberapa komponen
:
 Hazard (kondisi yang mendorong terjadinya risiko)
 Lingkungan di mana hazard tersebutberada
 Interaksi antara hazard dengan lingkungan
 Hasil dari interaksi
 Konsekuensi dari hasil tersebut
Sebagai contoh, di gudang yang banyak bahan mudah terbakar (missal kertas) terdapat
kompor dengan menggunakan minyak tanah. Gudang adalah lingkungannya, sedangkan
kompor tersebut adalah hazard. Kompor dengan menggunakan minyak tanah
meningkatkan resiko kebakaran (hazard). Interaksi antar gudang dengan kompor
didalamnya akan semakin meningkatkan resiko kebakaran, sehingga suatu saat terjadi
kebakaran (factor keempat). Konsekuensi dari kebakaran tersebut adalah kerugian yang
sangat signifikan

Dengan melihat komponen resiko tersebut, manajer resiko bias mnegatasi resiko malalui
cara menghilangkan hazard. Dalam contoh diatas, kompor minyak tanah bias di ganti
dengan kompor listrik. Lingkungan bias di buat lebih tahan terhadap munculnya resiko,
misalnya dengan menyingkirkan bahan-bahan yang mudah terbakar. Dengan kompor
listrik dan lingkungan yang bersih dari bahan yang mudah terbakar, interaksi antara
keduanya menjadi lebih kecil kemungkinan untuk terjadi. Konsekuensi dari hasil (
kebakaran dalam hal ini ) yang berupa kerugian bias dikurangi missal dengan membuat
tembok lebih tahan api., sehingga kebakaran pada ruang tersebut tidak akan mudah
menjalar keruang lainnya.

3. Fokus dan Timing PengendalianResiko


 Focus PengendalianResiko
Pengendalian resiko bisa difokuskan pada usaha mengurangi kemungkinan
(probability), munculnya resiko dan mengurangi keseriusan (severity), konsekuensi
resiko tersebut. Sebagai contoh mengganti kompor minyak tanah dengan kompor listrik
bisa mengurangi kemungkinan mengurangi resiko kebakaran. Memakai peralatan
pengaman selama bekerja bisa mengurangi resiko terjadinya kecelakaan kerja.

Sebaliknya, memasang alat pemadam kebakaran di gedung merupakan suatu usaha


untuk mengirangi keseriusan resiko. Perhatikan bahwa alat pemadam kebakaran tidak
mencegah terjadinya kebakaran, tetapi kebakaran bisa dengan cepat di padamkan,
sehingga kerugian akibat kebakaran tersebut bisa diminimalkan. Memasang
airbag (kantong udara) di mobil merupakan contoh untuk mengurangi severity
kecelakaan mobil. Perhatikan bahwa kantong udara tersebut tidak mencegah terjadinya
kecelakaan.

Pemisahan (separation) dan duplikasi (duplivation) merupakan dua bentuk umum


metode untuk mengurangi keseriusan resiko. Contoh pemisahan adalah menyebar
operasi perusahaan, sehingga jika terjadi kecelakan kerja, karyawan yang menjadi
korban akan terbatas. Contoh lain ,perusahaan mempunyai aturan direktur utama dan
wakil direktur tidak boleh berada pada satu pesawat terbang. Jika terjadi kecelakaan
pada salah satu pesawat terbang, maka yang lain masih bisa hidup dan menggantikan
yang lainnya. Duplikasi dilakukan dengan cara menyimpan produk yang serupa atau
mirip di temapat yang terpisah. Sebagai contoh, kita barangkali akan menyimpan
fike di bebrapa tempat, di hard-disk FC kita di kantor, di hard-disk note book kita , dan
flash disk atau CD. Jika salah satu file mengalami kerusakan atau serangan virus, file
di tempat lain masih bisa di selamatkan.

Tentunya kita bisa menggunakan metode untuk mengurangi kemungkinan munculnya


resiko dengan pengurangan severity secara bersamaan. Sebagai contoh, dokter ahli
bedah belajar metode baru dalam pembedahan yang lebih canggih dan lebih
aman.Dengan metode baru tersebut, dokter tersebut bisa mengurangi probabilitas
terkena risiko digugat akibat mal-praktik, dan juga sekaligus menurunkan severity
tuntutan jika risiko gugatan terjadi.

 Timing Pengendalian Risiko


Dari sisi timing (waktu), pengendalian risiko bisa dilakukan sebelum, selama, dan
sesudah resiko terjadi. Sebagai contoh, perusahaan bisa melakukan timing untuk
karyawanya mengenai peraturan, prosedur, dan teknik untuk menghindari kecelakaan
kerja. Karena aktifitas tersebut dilakukan sebelum terjadinya kecelakaan kerja, maka
aktivitas tersebut merupakan aktivitas sebelum resiko terjadi.

Pengendalian risiko juga bisa dilakukan pada saat terjadinya resik. Sebagai contoh,
kantong udara pada mobil secara otomatis akan mengembang jika terjadi kecelakaan.
Pengendalian resiko bisa juga di lakukan setelah resiko terjadi. Sebagai contoh,
perusahaan bisa mengelola analisisa dari bangunan yang terbakar, atau memperbaiki
mobil yang rusak karena kecelakaan kemudian bisa dijual lagi dengan harga yang lebih
tinggi. Jika hal semacam itu bisa dilakukan, maka kerugian bisa dikurangi.