Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH

MORFOLOGI TUMBUHAN

BAGAN (SKEMA) TATA LETAK DAUN PADA BATANG

OLEH

KELOMPOK 5

NAMA-NAMA KELOMPOK :

1. STEFANI SENDA

2. ERWINA E. DILLAK

3. MARIA GISELA. M. S. WALE

4. KRISTIANUS JIU

5. PAULINA A. NONI

6. JUAN C. R. WANGGE

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

KUPANG

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam suatu tumbuhan daun biasanya terdapat pada batang dan cabang-cabangnya.
Adapula daun-daun pada tumbuhan yang berjejal-jejal pada suatu bagian batang yaitu pada
pangkal batang atau pada ujung-ujungnya setiap tumbuhan memiliki sistem percabangan yang
berbeda-beda. Misalkan padaa pohon pepaya, pohon srikaya dan bunga soka. Dari ketiga jenis
tumbuhan tersebut terlihat jelas perbedaan sistem percabangan dan tata letak daun pada
batang.

Dari perbedaan tata letak daun inilah maka, setiap tumbuhan memiliki sistem
phylotaxis yang berbeda. Dari phylotaxis ini dapat ditentukan rumus daun serta diagram
duduk daun pada tumbuhan. Untuk tumbuhan yang sejenis (semua pohon pepaya) akan kita
dapati tata letak daun yang sama. Oleh karena itu kita dapat gunakan sebagai tanda pengenal
suatu tumbuhan.

Berdasarkan uraian diatas, makalah ini disusun untuk mengetahui bagan atau skema
tata letak daun pada tumbuhan dengan rumus daun tertentu.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang diambil adalah:

1.) Bagaimana menentukan bagan (skema) tata letak daun pada daun dengan rumus
tertentu?

1.3 Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana menentukan
bagan (skema) tata letak daun pada daun dengan rumus yang beragam.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Penertian Bagan (Skema) Tata Letak Daun

Daun-daun pada suatu tumbuhan biasanya terdapat pada batang atau cabangnya,
adakalanya daun-daun berjejal-jejal pada suatu bagian batang, yaitu pada pangkal dan bagian
ujungmya. Umumnya daun-daun pada batang terpisah-pisah dengan suatu jarak yang nyata.
Jika untuk mencapai daun yang tegak lurus dengan daun permulaan garis spiral mengelilingi
batang a kali, dan jumlah dau yang di lewati selama itu adalah b juga dinamakan rumus daun
atau disvergensi. Pecahan a/b selanjutnya dapat menunjukan sudut antara dua daun berturut-
turut jika diproyeksikan pada bidang datar. Jarak antara kedua daun pun tetap dan besarnya
adalah a/b x 3600 , yang disebut sudut disvergensi, didapati pecahan a/b terdiri dari berbagai
pecahan yaitu 1/2, 1/3, 2/5, 3/8, 5/13, dan seterusnya. Untuk menjelaskan tata letak daun dapat
dilakukan dengan menentukan bagan atau skema tata letak daun.

Dalam penentuan bagan (skema) tata letak daun, batang tumbuhan digambarkan
sebagai silinder dan pada batang digambar membujur garis ortostik-ortostiknya. Garis ortostik
adalah garis-garis tegak lurus (vertikal) yang menghubungkan dua daun pada batang. Pada
suatu tumbuhan garis-garis ortostik yang biasanya tampak lurus ke atas, dan dapat mengalami
perubahan-perubahan arahnya karena pengaruh macam-macam faktor. Perubahan sangat
karakteristik ialah ortostik menjadi garis spiral yang tampak melingkar batang pula. Dalam
keadaan yang demikian spiral genetik sukar ditentukan dan tampaknya letak daun pada batang
mengikuti ortostik yang telah berubah menjadi garis spiral tadi disebut spirostik. Bagian
tumbuhan yang letak daunnya cukup rapat, daunnya seaakan-akan mengikuti garis spiral ke
kiri dan ke kanan menghubungkan daun-daun ke arah samping mempunyai jarak terdekat
Dapat diengerti bahwa setiap daun mempunyai tentangga yang terdekat satu ke kiri dan
satunya ke kanan. Dari sudut situ pula tampak ada spiral ke kiri dan ke kanan. Garis-garis itu
disebut parastik..

2.2 Menentukan Bagan (Skema) Tata Letak Daun

Untuk keperluan membuat bagan tata letak daun pada batang, penulis mengambil
contoh daun dengan rumus 2/5. Maksud dari rumus 2/5 adalah angka 2 merupakan jumlah
spiral genetik (garis spiral melingkari batang sampai dua kali), sedangkan angak 5
menunjukan jumlah garis ortostik, dimana pada saat garis spiral genetik melingkari batang
sampai dua kali akan melewati 5 daun. Begitupun berlaku untuk daun dengan rumus 3/8,
5/13, dan seterusnya. Berikut ini cara menentukan bagan atau skema tata letak daun pada
batang:

1. Menggambar batang tumbuhan sebagai sebuah silinder

2. Menggambar garis – garis ortostik sesuai dengan rumus daun, misalnya pada daun
dengan rumus 2/5 di gambar 5 garis ortostik sesuai dengan nilai penyebut pada
rumus daun.

3. Menggambar daun – daun dalam penampang melintang pada setiap buku – buku
batang (selinder) , dengan membuat suatu garis spiral melingkar batang. Setiap daun
yang suda digambar diberi nomor urut sepanjang spiral genetiknya. Misalnya pada
daun dengan rumus 2/5 digunakan garis spiral melingakar batang sampai dua kali
sesuai jumlah pembilang pada rumus daun.
4. Pada gambar daun dengan rumus 2/5 akan terlihat bahwa daun-daun nomor 1 sejajar
dengan daun nomor 6 dan daun nomor 11 begitupun seterusnya setiap kali ditambah
lima. Demikian pula nomor 2 sejajar dengan nomor 7 dan daun nomor 12, setiap kali
di tambah lima. Daun-daun yang sejajar ini terletak pada garis ortostik yang sama.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dalam penentuan bagan (skema) tata letak daun, batang tumbuhan digambarkan
sebagai silinder dan pada batang digambar membujur garis ortostik-ortostiknya. Garis
ortostik adalah garis-garis tegak lurus (vertikal) yang menghubungkan dua daun pada
batang. . Berikut ini cara menentukan bagan atau skema tata letak daun pada batang:

1. Menggambar batang tumbuhan sebagai sebuah silinder

2. Menggambar garis – garis ortostik sesuai dengan rumus daun

3. Menggambar daun – daun dalam penampang melintang pada setiap buku – buku batang
(selinder) , dengan membuat suatu garis spiral melingkar batang.
DAFTAR PUSTAKA

Danong, Maria Teresia. 2013. Bahan Ajar Morfologi Tumbuhan. Kupang: Universitas PGRI

Tjitrosoepomo, Gembong. 2005. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University


Press.

http://guruiler.wordpress.com/2009/06/10/gambar- cara- menentukan- bagan-tata-


letak-daun/ di askes pada tanggal 15 maret 2017.