Anda di halaman 1dari 34

Paper Kelompok Dietetik Klinik

ZAT ANTINUTRISI PADA HEWAN

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 1

NURMAULIAH S O11114001
SUCI SULFIANI O11114002
LOLA ADRIANA N O11114003
MIRNA MUALIM O11114012
UTARI RESKI TARUKLINGGI O11114301
HANI DAMAYANTI O11114302
SURYADI PAPPA’ O11114502
RIRIAWAN D.A. MASALE O11114504
NUR FAATIMAH AZZAHRAH O11114506

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2018
ZAT ANTINUTRISI PADA HEWAN

Anti nutrisi merupakan zat yang dapat menghambat pertumbuhan,


perkembangan, kesehatan, tingkah laku atau penyebaran populasi organisme lain
(allelochemic). Kehadiran anti nutrisi pada tanaman umumnya terjadi karena
faktor dalam (intrinsic factor) yaitu suatu keadaan ketika tanaman tersebut secara
genetik mempunyai atau mampu memproduksi anti nutrisi tersebut dalam organ
tubuhnya (Widodo, 2006).
Zat anti nutrisi adalah zat- zat yang terkandung dalam bahan pakan yang
dapat menyebabkan gangguan seperti gangguan pencernaan dan syaraf serta
peredaran darah bahkan dapat menyebabkan kematian jika dikonsumsi baik dalam
jumlah sedikit ataupun banyak (Widodo, 2006).
Manusia memiliki banyak sumber makanan untuk menunjang
kehidupannya. Banyak jenis makanan berupa sayur-sayuran, buah-buahan,
daging, dan ikan. Manusia membutuhkan cukup nutrisi untuk mengoptimalkan
pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya. Banyak pemilik hewan yang
berpikiran sama terhadap hewan peliharan mereka untuk meningkatkan
kesejahteraan hidup hewan kesayangannya. Para pemilik hewan ini memberikan
apa saja yang dianggap bergizi pada hewan mereka. Namun, ada beberapa
makanan, yang biasa dimakan manusia, mengandung zat yang beracun bagi tubuh
hewan (Widodo, 2006).

MACAM-MACAM ZAT ANTINUTRISI


1. Phytat
Phytat merupakan salah satu non polysaccharida dari dinding tanaman
seperti silakat dan oksalat. Asam phytat termasuk chelat (senyawa pengikat
mineral) yang kuat yang bisa mengikat ion metal divalent membentuk phytat
komplek sehingga mineral tidak bisa diserap oleh tubuh. Mineral tersebut yaitu
Ca, Zn, Cu, Mg dan Fe. Pada sebagian besar cereal, 60-70 % phosphor terdapat
sebagai asam phytat, kecernaan molekul phytat sangat bervariasi dari 0-50 %
tergantung bahan pakan dan umur ternak. Ternak muda lebih rendah kemampuan
mencerna phytat, tetapi pada ternak dewasa 50%. Kecernaan phytat terjadi karena
adanya phytase tanaman atau sintetis phytase dari mikroba usus. Perlakuan panas
pada ransum seperti pelleting atau ekstrusi tidak terlihat memperbaiki kecernaan
pospor-phytat (Salasa, 2011).
Cara memecahkan masalah adanya P-phytat dalam ransum yaitu (Salasa,
2011):
 Penambahan phytase: kelemahan dari penambahan phytase ke dalam
ransum akan menambah biaya ransum dan phytase mudah rusak selama
proses pelleting. Sebagian besar phytase didenaturasi pada suhu 65°C.
Sebaiknya enzym phytase ditambahkan setelah proses pengolahan.
 Penambahan sumber pospor lainnya kedalam ransum seperti dicalcium
pospat. Sebagian besar cereal dan suplemen protein nabati relatif rendah
kandungan phytase kecuali dedak gandum, sedangkan biji yang
mengandung minyak kandungan phytat lebih tinggi.

2. Tannin
Tannin adalah senyawa phenolic yang larut dalam air. Dengan berat
molekul antara 500-3000 dapat mengendapkan protein dari larutan. Secara kimia
tannin sangat komplek dan biasanya dibagi kedalam dua grup, yaitu hydrolizable
tannin dan condensed tannin. Hydrolizable tannin mudah dihidrolisa secara kimia
atau oleh enzim dan terdapat di beberapa legume tropika seperti Acacia Spp.
Condensed tannin atau tannin terkondensasi paling banyak menyebar di tanaman
dan dianggap sebagai tannin tanaman. Sebagian besar biji legume mengandung
tannin terkondensasi terutama pada testanya. Warna testa makin gelap
menandakan kandungan tannin makain tinggi. Beberapa bahan pakan yang
digunakan dalam ransum ternak mengandung sejumlah condensed tannin seperti
biji sorgum, millet, rapeseed , fava bean dan beberap biji yang mengandung
minyak. Bungkil biji kapas mengandung tannin terkondensasi 1,6 % BK
sedangkan barley, triticale dan bungkil kedelai mengandung tannin 0,1 % BK.
Diantara bahan pakan ternak yang paling tinggi kandungan tannin terlihat pada
biji sorgum (Sorghum bicolor). Kandungan tannin pada varietas sorgum tannin
tinggi sebesar 2,7 dan 10,2 % catechin equivalent. Dari 24 varietas sorgum
kandungan tannin berkisar dari 0,05-3,67 % (catechin equivalent). Kandungan
tannin sorgum sering dihubungkan dengan warna kulit luar yang gelap. Peranan
tannin pada tanaman yaitu untuk melindungi biji dari predator burung, melindungi
perkecambahan setelah panen, melindungi dari jamur dan cuaca. Sorgum
bertannin tinggi bila digunakan pada ternak akan memperlihatkan penurunan
kecepatan pertumbuhan dan menurunkan efisiensi ransum pada broiler,
menurunkan produksi telur pada layer dan meningkatnya kejadian leg
abnormalitas. Cara mengatasi pengaruh dari tannin dalam ransum yaitu dengan
mensuplementasi DL-metionin dan suplementasi agen pengikat tannin, yaitu
gelatin, polyvinylpyrrolidone (PVP) dan polyethyleneglycol yang mempunyai
kemampuan mengikat dan merusak tannin. Selain itu kandungan tannin pada
bahan pakan dapat diturunkan dengan berbagai cara seperti perendaman,
perebusan, fermentasi, dan penyosohan kulit luar biji (Salasa, 2011).

3. Gossypol
Penggunaan bungkil biji kapuk (Cottonseed meal) pada hewan
monogastrik dibatasi oleh kandungan serat kasar dan senyawa toksik yaitu tannin
dan gossypol yaitu pigmen polyphenolic kuning. Konsentrasi gossypol dalam biji
bervariasi diantara spesies kapuk dan antara cultivarnya berkisar 0,3 dan 3,4 %.
Gossypol ditemukan dalam bentuk bebas, bentuk beracun dan bentuk ikatan yang
tidak toksik. Metode pengolahan biji kapuk menentukan kandungan gosipol
bebas. Kandungan gossipol bebas pada pengolahan menggunakan ekstrak pelarut
berkisar antara 0,1-0,5 % tetapi untuk proses expeller kandungan gossypol bebas
kira-kira 0,05 %. Seluruh biji mempunyai gossypol bentuk bebas. Broiler bisa
toleran sampai level gosipol bebas 100 ppm tanpa terlihat pengaruh merugikan
pada performan. Ransum layer mengandung < 50 ppm gossypol mencegah
terjadinya green discoloration pada kuning telur khususnya setelah penyimpanan
serta dapat menurunkan daya tetas dari telur fertile. Penambahan garam besi
(ferric sulphat) pada ransum yang biji kapuk dapat merusak gossypol yaitu dengan
mengikat grup reaktif gossipol dengan (Fe), dan kandungan protein ransum yang
tinggi juga dapat mencegah pengaruh merugikan dari gossypol (Salasa, 2011).
4. Saponin
Sebagian besar saponin ditemukan pada biji-bijian dan tanaman makanan
ternak seperti alfalfa, bunga matahari, kedelai, kacang tanah . Saponin umumnya
mempunyai karakteristik yaitu rasa pahit, sifat iritasi mucosal, sifat penyabunan,
dan sifat hemolitik dan sifat membentuk komplek dengan asam empedu dan
kolesterol. Saponin mempunyai efek menurunkan konsumsi ransum karena rasa
pahit dan terjadinya iritasi pada oral mucosa dan saluran pencernaan. Pada anak
ayam yang diberi 0,9 % triterpenoid saponin bisa menurunkan konsumsi ransum,
menurunkan pertambahan berat badan, menurunkan kecernaan lemak,
meningkatkan ekskresi cholesterol dan menurunkan absorpsi vitamin A dan D
(Salasa, 2011).

5. Mimosin
Tepung daun lamtoro (Leucaena leucocephala) kering sama dengan
tepung biji kapuk sebagai sumber protein. Penggunaan lamtoro bisa menekan
pertumbuhan broiler dan produksi telur pada layer. Nilai nutrisi yang rendah dari
lamtoro karena adanya mimosin. Lamtoro mengandung mimosin sebesar 3-5 %
BK, tetapi juga mengandung senyawa antinutrisi lain termasuk protease inhibitor,
tannin dan galactomannan. Karena adanya mimosin ini penggunaan lamtoro
dalam ransum non ruminansia sebesar 5-10 % tanpa menimbulkan gejala
toxicosis. Efek yang merugikan dari mimosin, yaitu menurunkan pertumbuhan
dan menurunkan produksi telur. Ayam muda lebih sensitif dari pada ayam dewasa
(Salasa, 2011).

6. Protease Inhibitor
Protease inhibitor adalah senyawa yang bisa menghambat trypsin dan
chymotripsin dan umumnya pada tanaman mengandung konsentrasi yang rendah
kecuali kedelai. Kedelai cenderung mengandung protease inhibitor tinggi dan
pada sereal lainnya rendah. Memakan kedelai mentah mengakibatkan
meningkatnya berat pankreas. Penghambatan aktivitas trypsin berpengaruh pada
pencernaan protein, karena tripsin adalah activator dari semua enzim yang
dikeluarkan oleh pankreas yaitu zymogen termasuk trypsinogen,
chymotripsinogen, proelastase dan carboxypeptidase. Pengaruh utama dari tripsin
inhibitor bukan menggangu pencernaaan protein tetapi sekresi berlebihan dari
pancreas (Salasa, 2011).
Cholecystokinin adalah peptide yang merangsang sekresi enzim pankreas
dikeluarkan oleh bagian proximal usus halus yang dikontrol oleh aktivitas umpan
balik negatif. Meningkatnya kadar tripsin di lumen usus akan menurunkan sekresi
cholecystokinin. Sekresi cholecystokinin oleh mucosa usus karena adanya monitor
peptide yaitu sebuah peptide yang disekresikan kedalam getah pankreas.
cholecystokinin berhenti. Adanya inhibitor trypsin dalam ransum, pankreas secara
terus menerus merangsang cholecystokinin sebab monitor peptide tidak dirusak
oleh trypsin. Kelebihan rangsangan ini menyebabkan terjadi hyperthrophy dan
hyperplasia dari pancreas yang terlihat dari berat pankreas meningkat. Protease
inhibitor mudah dinetralkan dengan pemanasan. Kerusakan ini tergantung dari
suhu, waktu pemanasan, ukuran partikel dan kandungan air. Pengolahan untuk
menetralkan trypsin inhibitor harus dipertimbangkan jangan sampai merusak nilai
nutrisi dari kedelai (Salasa, 2011).

7. Cyanogenic glycoside (Cyanogen)


Cyanogenic glycoside, cyanoglycosida atau cyanogen adalah senyawa
yang apabila diperlakukan asam dan diikuti dengan hidrolisis oleh enzim tertentu
akan melepaskan hydrogen cyanida (HCN). Cyanoglycosida terdapat lebih dari
2000 spesies tanaman. Singkong (cassava) adalah hasil panen utama yang
mengandung cyanogen dalam jumlah tinggi. Pengolahan singkong secara
tradisional yaitu umbi dipotong-potong dibawah air mengalir untuk mencuci
cyanogen. Alternatif lain yaitu umbi singkong dipotong-potong, dihancurkan dan
dikeringkan dibawah sinar matahari sampai HCN menguap. HCN setelah dilepas
dengan cepat diabsorpsi dari saluran gastro intestinal masuk ke dalam darah. Ion
Cianida (CN-) berikatan dengan Fe heme dan beraksi dengan ferric (oxidasi)
dalam mitokondria membentuk cytochrome oxidase di dalam mitokondria,
membentuk komplek stabil dan menahan jalur pernafasan. Akibatnya hemoglobin
tidak bisa melepas oxygen dalam system transport electron dan terjadi kematian
akibat hypoxia seluler (Salasa, 2011).
Beberapa cara mengurangi cyanogenic glycoside yaitu (Salasa, 2011):
 Proses pembuatan pati menghilangkan cyanogen.
 Pencacahan, dikeringkan atau sebelumnya disimpan lebih dulu dalam
keadaan basah bisa mengurangi 2/3 cyanogen dari segar.

8. Non- starch Polysaccharide


Non-starch polysaccharide (NSP) adalah karbohidrat komplek yang
terlihat di endosperm dinding sel dari biji cereal. Karbohidrat ini sukar dicerna
sehingga lolos dari saluran pencernaan dan mengikat air sehingga viscositas
cairan di saluran pencernaan tinggi. Viscositas di saluran pencernaan meningkat
menyebabkan transport nutrient menurun dan absorpsi menurun. Kedelai
mengandung NSP dalam bentuk oligosaccharide. Kedelai yang berasal dari
berbagai negara mengandung oligosaccharida berbeda-beda. Pengaruh negatif dari
NSP yaitu (Salasa, 2011):
 Excreta lengket dan kadar air tinggi sehingga menimbulkan masalah litter.
 Menurunkan energi tersedia pada burung.
 Mempengaruhi mikroflora di saluran pencernaan.

ZAT ANTINUTRISI PADA KUCING

1. Nasi
Nasi tidak baik bagi kucing karena pada nasi terdapat karbohidrat yang
tidak yang sulit dicerna oleh kucing. Karbohidrat memang baik sebagai sumber
tenaga tetapi karena kucing tidak mencernanya maka akan membuat kerja organ
dalam kucing harus bekerja lebih berat sehingga dapat menyebabkan penyakit
dalam seperti radang usus, masalah pencernaan, atau gagal ginjal.

2. Alpukat
Alpukat merupakan buah yang lezat dan bermanfaat bagi manusia, alpukat
ternyata tidak bagus untuk kesehatan kucing. Alpukat bisa menyebabkan
kerusakan kardiovaskular dan bahkan kematian akibat bengkak pada jantung. Ini
disebabkan pada pohon alpukat, buah, kulit, atau batang tanaman tersebut
semuanya mengandung racun bagi kucing. Dalam alpukat mengandung zat persin
yang bisa merusak otot jantung pada binatang. resiko yang sama juga dimiliki
oleh burung, kelinci, kuda, kedelai, domba dan kambing.

3. Kafein, kopi dan Coklat


Kafein berbahaya bagi kucing karena kafein akan merangsang sistem
saraf. Tumpahan kopi yang jatuh ke lantai mungkin menarik bagi kucing dan bisa
jadi kucing mulai menjilati tumpahan tersebut. Produk-produk yang mengandung
kafein ini ternyata mengandung zat yang disebut methylxanthines. Zat tersebut
ditemukan pada biji kakao yang merupakan cikal bakal pembuatan kopi, coklat
dan beberapa ekstrak yang berada di soda. Methylxanthines menyebabkan muntah
dan diare, terengah-engah, haus yang berlebihan dan buang air kecil, hiperaktif,
irama jantung yang abnormal, tremor, kejang dan bahkan kematian.
Coklat juga mengandung theobromine, teobromin adalah zat kimia yang
berbahaya bagi kucing dan anjing dalam jumlah yang cukup besar coklat bisa
membunuh binatang. Coklat dapat berbahaya bagi kucing dan bisa mengakibatkan
muntah, diare, dehidrasi, demam, denyut jantung tidak teratur, kejang, kram dan
bias menimbulkan kematian dalam waktu 24 jam jika kemasukkan coklat dalam
dosis tertentu. Coklat juga mengandung kafein yang memang berbahaya bagi
kucing dan bisa merangsang sistem saraf Perhatikan bahwa cokelat gelap lebih
berbahaya daripada cokelat susu. Putih coklat memiliki tingkat terendah dari
methylxanthines, sementara kue cokelat mengandung methylxanthines tertinggi

4. Bawang Merah, Bawang Putih dan Daun Bawang


Bawang yang sering digunakan manusia untuk bahan masakan ini ternyata
sangat berbahaya bagi kucing. Banyak yang mengira kucing tidak menyukai
bawang, kenyataanya banyak kucing yang memakan bawang di dapur. Bawang
merah maupun putih serta daun bawang dapat merusak sel-sel darah merah yang
pada akhirnya menyebabkan anemia pada kucing. Menurut Dr. Tina Wismer,
seorang direktur medis di ASPCA Animal Poison Control Center menyatakan
bahwa kucing sangat penasaran dengan bawang sehingga kadang dia
memakannya.
Meskipun keracunan yang diakibatkan bawang dipengaruhi oleh dosis banyaknya
bawang yang dimakan, mengenali reaksi keracunan bawang sangat baik untuk
mengurangi resiko kematian pada kucing. Gejala kucing keracunan bawang
diantaranya lesu dan nafsu makan berkurang.

5. Alkohol
Sulit mempercayai jika seseorang memberikan alkohol secara langsung
untuk kucing peliharaannya , sayangnya ada beberapa jenis makanan yang
mengandung alkohol yang banyak ketahui. Adonan ragi yang sering digunakan
untuk membuat roti dan pizza juga mengandung alkohol. Jika konsumsi makanan
tersebut berlebihan maka akan menyebabkan masalah bagi kucing. Minuman
beralkohol dan produk makanan yang mengandung alkohol dapat menyebabkan
sistem saraf pusat, kesulitan bernapas, tremor, keasaman darah yang abnormal,
koma dan bahkan kematian.

6. Ikan Mentah / Tulang Ikan


Seperti halnya telur mentah, daging dan ikan mentah dapat membuat
kucing keracunan. Menurut Dr. Wismer, ikan mentah bukanlah makanan kucing
yang baik. Ikan mentah justru mengandung senyawa yang memecah tiamin /
vitamin B1. Ketika kucing kehilangan vitamin B1 maka akan memiliki resiko
mengidap masalah neurologis yang serius. Meskipun sering ditemukan kucing
makan tulang ikan, namun itu adalah kehidupan kucing liar. Bagi kucing
peliharaan domestic, ada beberapa resiko yang mungkin terjadi ketika makan
tulang ikan. Resiko tersebut diantaranya tersedak tulang, cedera karena sempalan
tulang yang masuk ke saluran pencernaan dan berbagai resiko lainnya.

7. Jeruk
Batang, daun, kulit, buah dan biji tanaman jeruk yang mengandung
berbagai jumlah asam sitrat bukanlah makanan kucing yang baik, minyak esensial
yang dapat menyebabkan iritasi dan bahkan mungkin depresi sistem saraf pusat
jika tertelan dalam jumlah yang banyak.
8. Susu
Pada susu terdapat laktosa itu sejenis gula yang tidak dapat dicerna oleh
kucing. Pencernaan kucing terkenal buruk jika kucing kebanyakan mengkonsumsi
susu maka bisa menyebabkan diare. Karena memang secara alami susu bukanlah
makanan kucing. Jika ingin memberikan susu pada kucing berikanlah susu khusus
yang tidak mengandung laktosa.

9. Xylitol
Makanan manis biasanya mengandung banyak xylitol, yang mana
merupakan zat toksik bagi kucing. Xylitol terkandung dalam permen, permen
karet, bahan-bahan untuk membuat roti, dan kebanyakan makanan untuk diet
menggunakan xylitol sebagai pemanis. Xylitol dapat menyebabkan produksi
insulin dalam tubuh kucing meningkat dan menurunkan kadar gula darah dalam
tubuh kucing. Xylitol juga dapat menyebabkan kerusakan hati. Gejala yang
ditimbulkan meliputi muntah, lesu, kehilangan keseimbangan (kolaps karena
kadar gula dalam darahnya rendah), kejang. Kucing dapat kejang segera setelah
mengkonsumsi xylitol, dan dapat diikuti kerusakan hati beberapa hari kemudian.

10. Anggur dan Kismis


Anggur dan kismis biasanya diberikan sebagai treat untuk hewan
peliharaan, namun tidak untuk kucing Anggur dan kismis dapat menyebabkan
gagal ginjal pada kucing. Dalam jumlah kecil dapat membuat kucing sakit Gejala
keracunan yaitu muntah secara terus menerus dan hiperaktif.

11. Garam
Mengkonsusmsi garam dapat menyebabkan kucng merasa haus berlebihan
dan sering buang air kecil. Garam juga menyebabkan keracunan ion natrium pda
kucing. Gejala yang diakibatkan oleh garam diantaranya diare, muntah, depresi,
tremor, kejang bahkan kematian Juga diharapkan untuk tidak memberikan snack
asin seperti keripik kentang, popcorn asin dan snack lain yang mengandung garam
yang banyak.
12. Hati
Memakan hati dalam jumlah banyak dapat menyebabkan keracunan
vitamin A pada kucing. Mengakibatkan gangguan pada pertumbuhan tulang
seperti pertumbuhan tulang cacat, tumbuhnya tulang pada siku dan tulang
belakang, serta menyebabkan osteopososis. Keracunan vitamin A dapat
menyebabkan kematian.

13. Tomat Hijau


Tomat hijau biasanya terbawa pada makanan yang diberikan pada kucing
atau pada produk makanan yang mengandung tomat hijau. Pada tomat
mengandung alkaloid yang pahit dan beracun zat ini bisa menimbulkan penyakit
pencernaan pada kucing. Daun dan batang tomat juga berbahaya bagi kucing.
Tetapi tomat pada makanan kucing kemasan biasanya sudah matang dan
kandungannya bisa diterima oleh kucing.

ZAT ANTINUTRISI PADA ANJING

Beberapa istilah, seperti alergi makanan, hipersensitivitas makanan,


intoleransi nutrisi, digunakan untuk menggambarkan penyakit alergi yang umum
terjadi pada anjing dan kucing. Pada anjing, reaksi buruk terhadap makanan
(intoleransi nutrisi) adalah bentuk hipersensitifitas pada anjing yang paling umum
terjadi setelah alergi terhadap parasit kutu dan dermatitis atopik (reaksi alergi
terhadap alergen lingkungan). Alergi makanan menyumbang sekitar 10% dari
semua alergi yang terdapat pada anjing. Alergi makanan pada umumnya mencapai
20% yang menrupakan penyebab gatal dan luka pada anjing. Seluruh proses
hewan peliharaan menjadi peka terhadap agen tertentu dalam makanan dan
respons antibodi yang rumit dan berbeda-beda yang terjadi di saluran pencernaan
menyebabkan hal-hal seperti alergi, intoleransi nutrisi terjadi (Foster dan Smith,
2018).
1. Cokelat (Methylxanthines, Theobrimine, dan Caffeine)

Gambar 1. Dosis efek toxicitas cokelat pada anjing (Brant, 2001)


Coklat terbuat dari buah (biji) pohon kakao. Theobromine, komponen
coklat, adalah senyawa beracun pada anjing. Caffeine juga terdapat dalam coklat,
namun dalam jumlah yang jauh lebih kecil daripada Theobromine. Baik
Theobromine dan Kafein adalah anggota kelas obat yang disebut Methylxanines
(Triakoso, 2011). Jumlah relatif theobromine dan caffeine bervariasi dengan
bentuk coklat. Pada kebanyakan senyawa coklat, theobromine adalah komponen
beracun utama, sedangkan kandungan kafein terdapat dengan konsentrasi yang
jauh lebih rendah (Brant, 2001).
Methylxanthines bekerja sebagai penghambat kompetitif reseptor adenosin
seluler yang menyebabkan banyak tanda-tanda klinis yang terlihat pada hewan
dengan toksin-oksidasi methylxanthine, termasuk stimulasi sistem saraf pusat,
diuresis, dan takikardia. Methylxanthines juga menghambat reuptake kalsium
seluler, yang meningkatkan konsentrasi kalsium bebas dan meningkatkan
kontraktilitas otot jantung dan skeletal. Methylxanthines mungkin juga
menyebabkan efeknya dengan bersaing dengan reseptor benzodiazepin di dalam
sistem saraf pusat dan dengan menghambat fosfodiesterase, menghasilkan
peningkatan adenosin monofosfat siklik intraseluler (Brant, 2001).
Theobromine dan caffeine masing-masing memiliki 100 sampai 200 mg /
kg LD50, namun tanda klinis parah dan mengancam jiwa dapat terlihat jauh di
bawah dosis diatas. Berdasarkan data ASPCA Animal Poison Control Center
(APCC), tanda ringan terjadi pada hewan yang mengonsumsi 20 mg / kg
ofobromin dan kafein, tanda-tanda yang parah terlihat pada hewan yang
mengonsumsi 40-50 mg / kg, dan kejang terjadi pada dosis 60 mg / kg. Dengan
demikian, kurang dari 1 ons susu coklat / lb berpotensi mematikan anjing.
Methylxanthines dapat melewati plasenta dan masuk ke dalam kelenjar mammae,
sehingga fetus yang belum lahir atau menyusui dapat dipengaruhi oleh toksikologi
coklat (Brant, 2001).
Tanda klinis biasanya terjadi dalam waktu enam sampai 12 jam setelah zat
tersebut tertelan. Tanda awal meliputi polydypsia, muntah, diare, kembung, dan
gelisah. Tanda klinis berujung hiperaktif, poliuria, ataksia, tremor, dan kejang.
Efek lainnya meliputi takikardia, kontraksi ventrikel, takipnea, sianosis,
hipertensi, hipertermia, dan koma. Tanda umum, bradikardia dan hipotensi bisa
terjadi. Hipokalemia mungkin terjadi akibat proses toksikosis. Karena kandungan
lemaknya yang tinggi dari banyak produk coklat, pankreatitis berpotensi terjadi
pada rentang 24 sampai 72 jam setelah konsumsi. Kematian umumnya disebabkan
oleh aritmia jantung atau gagal pernapasan (Brant, 2001).

2. Susu sapi (Lactose)


Laktosa adalah protein susu dan intoleransi laktosa adalah intoleransi
makanan yang umum terjadi pada anjing dan kucing. Biasanya ketika anjing
dewasa mengonsumsi susu sapi akan berujung dengan kejadian diare. Jika susu
dikonsumsi, laktosa yang belum tercerna akan tersisa di dalam usus kecil dan
dapat menyebabkan gangguan pencernaan (Royal Canin, 2010).
Meskipun susu sapi bisa menjadi sumber nutrisi yang berguna untuk
anjing dan kucing berumur muda, namun susu sapi bukan bagian penting dari
makanan anak kucing atau anak anjing. Banyak anjing dan kucing tidak dapat
secara efisien mencerna gula alami dalam susu (laktosa) karena sistem pencernaan
mereka tidak menghasilkan cukup enzim pencernaan (laktase) yang diperlukan
untuk memecah laktosa selama pencernaan, yang akan menyebabkan gula laktosa
terakumulasi di usus. Jumlah enzim laktase (enzim yang mencerna laktosa) yang
dihasilkan oleh anak anjing atau anak kucing menurun secara substansial saat
mereka dewasa. Hal ini menandakan bisa saja jika anak anjing atau anak kucing
untuk menoleransi susu sapi dengan baik saat masih usia muda, namun intoleransi
dapat berkembang seiring bertambahnya usia, dikombinasikan dengan fakta
bahwa susu sapi memiliki kadar gula alami (laktosa) lebih tinggi daripada susu
yang dihasilkan oleh induk anjing (PFIAA, 2012). Tanda inteloransi laktosa yang
paling umum pada anjing adalah sakit perut, kembung, mual, muntah dan diare
yang merupakan indikasi yang cukup khas dari gangguan gastrointestinal.
Terkadang, seekor anjing akan minum air dalam jumlah berlebihan saat menderita
intoleransi laktosa, karena diare dan muntah yang terkait dengan kondisi tersebut
dapat menyebabkan dehidrasi dan akibatnya rasa haus (Petwave, 2015).

3. Tanaman Allium;Bawang putih, bawang merah, daun bawang


(Organosulfur)

Gambar 2. Genus tanaman Allium (Salgado et al., 2011)


Tanaman genus Allium meliputi bawang merah, bawang putih, dan daun
bawang bisa menjadi racun bagi anjing dan kucing. Namun, spesies Allium yang
relatif sedikit memiliki kepentingan toksikologi yang penting. Bawang
mengandung komponen beracun yang dapat merusak sel darah merah dan memicu
anemia hemolitik disertai pembentukan Heinz body pada eritrosit hewan seperti
sapi, kerbau, domba, kuda, anjing, dan kucing (Salgado et al., 2011).
Anjing dan kucing sangat rentan terhadap toksikosis bawang. Konsumsi
bawang minimal 15 sampai 30 g/kg pada anjing akan menyebabkan perubahan
hematologis yang penting secara klinis. Toksisitas bawang secara konsisten
dicatat pada hewan yang menelan lebih dari 0,5% bawang dibanding berat tubuh
mereka pada satu waktu Anjing dengan turunan eritrosit tinggi lebih rentan
terhadap efek hematologis bawang merah. Sifat ini relatif umum terjadi pada
anjing peranakan keturunan Jepang, seperti Akita inu dan Shiba inu (Cope 2005).
Spesies Allium mengandung bermacam-macam organosulfoksida,
terutama alk(en)yl cysteine sulfoxides. Di-propil-disulfida (H7C3S2C3H7) dan allyl
propylisulfide (H5C3S2C3H7) yang terkandung pada bawang merupakan penyebab
anemia hemolitik. Namun, baru-baru ini, senyawa pengoksidasi sulfur aktif yang
lebih aktif telah ditemukan dan diusulkan sebagai agen penyebab, baik pada
keracunan bawang merah maupun bawang putih. Sodium n-propylthiosulfate,
yang diisolasi dari bawang rebus, terbukti menyebabkan peningkatan
pembentukan Heinz body pada eritrosit dan anemia hemolitik pada anjing.
Asupan bawang merah menyebabkan haemolisis oksidatif yang dibuktikan
dengan produksi Heinz body. Heinz Body adalah inklusi eritrosit yang terbentuk
sebagai konsekuensi denaturasi oksidatif ireversibel hemoglobin. (Salgado et al.,
2011).
Bawang menyebabkan toksisitas dengan mengoksidasi protein pengangkut
oksigen yang disebut hemoglobin dalam sel darah merah. Saat teroksidasi,
hemoglobin membentuk rumpun yang juga tidak bisa membawa oksigen.
Gumpalan kecil ini, yang disebut Heinz body dapat dilihat pada sel darah merah
di bawah mikroskop dengan pewarnaan New Methylene Blue. Heinz body
biasanya tidak menimbulkan masalah yang mengancam nyawa; sel darah merah
masih bisa membawa oksigen, tetapi tidak efisien. Heinz body menyebabkan
masalah dengan mengurangi umur sel darah merah. Akibatnya adalah anemia.
Jika sejumlah besar bawang dimakan pada satu waktu, hewan peliharaan dapat
mengalami anemia tiba-tiba. Jika anjing atau kucing memakan sedikit bawang
setiap hari selama beberapa hari, anemia mungkin terjadi secara bertahap selama
beberapa minggu sampai berbulan-bulan (Salgado et al., 2011).
Mekanisme toksikologi utama senyawa organosulfur yang disebabkan
Allium adalah hemolisis oksidatif, yang terjadi ketika konsentrasi oksidan dalam
eritrosit melebihi kapasitas jalur metabolisme antioksidan. Diketahui bahwa
aktivitas antioksidan katalase pada eritrosit anjing rendah. N-propil disulfida dan
natrium n-propilthiosulfat adalah senyawa organosulfur yang sangat beracun yang
ada pada bawang. Yang pertama dapat menyebabkan penurunan aktivitas glukosa-
6-fosfat dehidrogenase (G6PD) yang nyata, sedangkan yang kedua dapat
meningkatkan konsentrasi methemoglobin dan jumlah Heinz body dalam
eritrosit, dan mengurangi konsentrasi glutathione pada eritrosi. Pada eritrosit,
G6PD mengoksidasi glutathione menjadi bentuk yang kecil melalui jalur pentosa
fosfat. Ketika aktivitas G6PD menurun, kandungan glutathione juga turun,
menyebabkan peningkatan kadar hidrogen peroksida. Akibatnya, hidrogen
peroksid mengoksidasi kelompok sulfhidril dari hemoglobin, menghasilkan
denaturasi hemoglobin (Salgado et al., 2011).
Pada anjing dan kucing, gejala klinis dari spesies Allium dapat muncul
dalam satu hari jika dikonsumsi/tertelan dalam jumlah yang banyak. Tanda klinis
yang sering muncul yakni depresi, hemoglobinuria, icterus, takipnea, takikardia,
kelemahan, olahraga intoleransi, dan sensitif terhadap dingin. Sakit perut dan
diare mungkin juga terjadi. Temuan patologi klinis secara konsisten terdapat
hemolisis intravaskular dan ekstravaskular, anemia Heinz body, eksentrositosis,
hemoglobinemia, hemoglobinuria, hiperbilirubinemia, methemoglobinemia, dan,
jika hewan bertahan cukup lama, dapat disertai dengan respon regeneratif (Cope,
2005)

4. Alvukat (Persin)
Gambar 3. Avocado (Cope, 2005)
Alpukat mengandung zat yang disebut persin yang dalam jumlah besar
mungkin beracun bagi anjing. Alpukat mengandung persin, yang bisa
menyebabkan mastitis, gagal jantung, dan kematian. Persin paling terkonsentrasi
di daun tanaman, tapi juga terdapat pada biji, batang, dan buah (Brant, 2018).
Anjing lebih tahan daripada hewan lain untuk persin, menurut dokter
hewan, tapi bukan berarti alpukat aman untuk anjing. Semua bagian tanaman
dapat menyebabkan muntah dan diare, dan alpukat sering tercantum di antara
sepuluh makanan teratas yang berbahaya bagi anjing. Alpukat jarang
menyebabkan penyakit serius pada hewan seperti anjing, namun bisa
menyebabkan sakit perut ringan (Brant, 2018).

5. Ragi dan Alkohol (Etanol)


Produk seperti makanan penutup yang mengandung alkohol atau adonan
yang mengandung ragi seringkali menyebabkan penyakit pada anjing. Adonan
ragi mentah bisa tertinggal dalam sistem pencernaan hewan peliharaan. Hal ini
dapat menyebabkan perut atau usus meregang terlalu banyak. Adonan ragi yang
belum terserap dalam usus menghasilkan etanol yang menyebabkan toksisitas
etanol pada hewan peliharaan begitu pula alkohol memiliki potensi menyebabkan
toksisitas etanol pada anjing (Keno dan Cathy, 2011; Ponce, 2010).
Etanol adalah depresan selektif Sisten Saraf Pusat (SSP) pada dosis rendah
dan depresan umum pada dosis tinggi. Awalnya, etanol menekan area otak yang
terlibat dengan fungsinya sebagai pusat integrasi. Tanda-tanda yang terkait
dengan kasus ringan sangat bervariasi, mulai dari perilaku energik atau hiperaktif.
Seiring level keracunan yang meningkat, kerusakan aktivitas neuronal yang
berurutan menyebabkan berbagai tanda termasuk kelesuan, disorientasi, dan
agresi. Meskipun jumlah etanol yang dapat dicerna oleh anjing dalam beberapa
kasus saat ini belum diketahui pasti, namun dosis yang berpotensi mengakibatkan
efek toksisitas telah diperkirakan. Kurang lebih sebanyak 375 mL vodka, atau
kira-kira 32 g/ kg ke atas adalah dosis mematikan yang telah dilaporkan pada
anjing (Keno dan Cathy, 2011).
Ragi dan minuman yang mengandung alkohol dapat menyebabkan
muntah, diare, dan gejala saraf seperti penurunan koordinasi, depresi sistem saraf
pusat, sulit bernafas, tremor, asam darah abnormal, koma dan bahkan kematian.
(Ponce, 2010).

6. Anggur dan kismis (mycotoxin, aspirin)

Gambar 4. Anggur (Cope, 2005)


Penelanan anggur atau kismis telah mengakibatkan penyakit gagal ginjal
anurik pada beberapa anjing. Kasus yang dilaporkan sampai saat ini ada pada
anjing. Tidak diketahui sebab pasti kenapa banyak anjing dapat menelan anggur
atau kismis dapat menyebabkan efek samping pada anjing jika dikonsumsi.
Kondisi tersebut belum di uji secara eksperimental, walaupun ekstrak kismis telah
terbukti menyebabkan kerusakan pada sel ginjal anjing in vitro (Branth, 2018).
Saat ini, tidak diketahui mekanisme toksisitas anggur dan kismis secara
pasti meskipun cedera primer tampak terjadi pada epitel tubulus ginjal proksimal.
Beberapa peneliti menduga bahwa mycotoxin, zat yang dihasilkan oleh jamur bisa
jadi penyebabnya. Beberapa menduga obat salisilat (sejenis aspirin) yang ada pada
anggur, sehingga terjadi penurunan aliran darah ke ginjal. Namun, belum ada agen
beracun pasti yang diketahui. Sejak saat ini belum diketahui mengapa buah ini
beracun, paparan apapun harus menjadi perhatian. Fenomena keracunan anggue
pertama kali diidentifikasi oleh Animal Poison Control Center (APCC) bekerja
sama dengan oleh American Society for the Prevention of Cruelty to Animals
(ASPCA). Sekitar 140 kasus ditemukan dalam satu tahun dari April 2003 sampai
April 2004, dengan 50 gejala penyakit dan tujuh kematian. Dalam beberapa kasus,
akumulasi pigmen coklat keemasan yang tidak teridentifikasi ditemukan di dalam
sel epitel ginjal (Yuill dan.Lee, 2011).
Anjing yang terkena dampak mengalami gagal ginjal anurik dalam waktu
72 jam setelah mengkonsumsi anggur atau kismis. Hubungan dosis-respons yang
jelas belum ditentukan, namun sesedikit 4-5 anggur dapat menyebabkan kematian
seekor anjing seberat 8,2 kg (Branth, 2018).
Sebagian besar anjing yang terkena dampak mengalami muntah dan / atau
diare dalam waktu 6-12 jam dari konsumsi anggur atau kismis. Tanda lainnya
termasuk kelesuan, anoreksia, sakit perut, kelemahan, dehidrasi, polidipsia, dan
tremor (menggigil). Tingkat kreatinin serum cenderung meningkat secara dini dan
tidak proporsional dibandingkan dengan kadar nitrogen urea serum. Gagal ginjal
Oligurik atau anurik berkembang dalam jarak 24-72 jam; Begitu gagal ginjal
anurik berkembang, kebanyakan anjing mati atau di-eutanasia. Transien
meningkatkan glukosa serum, enzim hati, enzim pankreas, kalsium serum, atau
fosfor serum berkembang pada beberapa anjing (Branth, 2018).

7. Kacang Macadamia

Gamabr 5. Kacang Macademia (Bothaa dan Penrith, 2011).


Kacang macadamia adalah buah dari pohon genus Macadamia, beberapa
jenis kacang macadamia mengandung kadar glikosida sianogenik, yang
memberikan rasa pahit dan tidak digunakan sebagai makanan. Anjing adalah satu-
satunya spesies di mana toksisitas kacang ini telah dilaporkan, dan reaksinya
tampak konsisten pada anjing yang telah memakan biji macadamia, dan
membuktikan bahwa ini bukan karena alergi. Dosis yang dibutuhkan untuk
menimbulkan efek toksisitas belum diketahui secara akurat, namun 5-40 kernel
mampu menimbulkan tanda klinis pada kisaran anjing yang kasusnya telah
dilaporkan. Tanda klinis muncul dalam waktu 12-24 jam setelah menelan kacang
dan ditandai oleh kelemahan oto posterior, paresis, dan tremor otot.
Pembengkakan dan nyeri pada anggota gerak belakang, termasuk persendian,
telah dilaporkan, dengan peningkatan parameter GGT, ALT dan AST pada anjing.
Efek ini mungkin sekunder akibat kesulitan lokomotor yang dialami dan tidak
dilaporkan dalam percobaan studi di mana keracunan macadamia diinduksi pada 4
anjing (Bothaa dan Penrith, 2011).
Beberapa anjing mengalami hipertermia, muntah, serta sakit perut dan
mukosa pucat setelah mengonsumsi kacang macadamia. Patologi klinis berada
dalam batas normal dalam studi eksperimental kecuali untuk peningkatan
sementara dalam serum trigliserida Anjing biasanya pulih dengan tidak lancar
dalam waktu 48 tahun jam atau kurang. Tidak ada lesi patologis yang dijelaskan.
Keracunan macadamia umumnya tidak biasa, 83 kasus dilaporkan di Queensland,
Australia, selama periode 5 tahun; Queensland adalah daerah utama untuk
budidaya macadamia dan anjing pertanian memiliki akses kke tempat budidaya.
Keracunan kacang Macadamia juga telah dilaporkan di Amerika Serikat (Bothaa
dan Penrith, 2011).

8. Xylitol
Xylitol adalah gula alkohol digunakan sebagai pemanis dalam banyak
produk, termasuk permen karet, permen, makanan panggang, pasta gigi dan lain-
lain. Mengonsumsi xylitol aman pada manusia, namun pada anjing dapat
menyebabkan terjadinya tanda-tanda klinis yang serius, bahkan mengancam jiwa.
Pada anjing Xylitol mampu menyebabkan hipoglikemia dan sebuah penelitian
baru-baru ini menemukan bahwa xylitol juga dapat menyebabkan nekrosis hati
akut. Anjing adalah satu-satunya spesies di mana toksikosis xylitol telah
dilaporkan (Dunayer,2006; Branth, 2018).
Xylitol ,enyebabkan pelepasan insulin pada sebagian besar spesies,
termasuk anjing yang dapat menyebabkan gagal hati. Kenaikan insulin
menyebabkan kadar gula menurun. Tanda awal toksikosis meliputi muntah,
kelesuan dan kehilangan koordinasi. Tanda bisa berkembang menjadi kolaps dan
kejang. Masalah hati bisa dideteksi dengan tes darah dalam beberapa hari (Ponce,
2010).
Dilaporkan pada anjing bahwa dosis diatas 0,5 g / kg xylitol dapat
menimbulkan hepatotoksik sedangkan xylito dengan dosis diatas 0,1 g/kg
berpotensi menimbulkan hipoglikemia (Dunayer, 2006).
Studi eksperimental pada tahun 1960an dan 1970an menunjukkan
perbedaan spesies sehubungan dengan efek pemberian xylitol pada tingkat insulin.
Pemberian xylitol telah terbukti menyebabkan peningkatan kadar insulin pada
anjing, kelinci, babun, sapi, dan kambing secara signifikan dibandingkan dengan
pemberian dosis glukosa yang setara pada manusia maupun hewan lain. Pada
anjing, konsumsi xylitol dapat menyebabkan peningkatan kadar insulin 2,5 sampai
7 kali lipat dibandingkan dengan hewan lain yang mengonsumsi glukosa dalam
jumlah yang sama (Dunayer,2006).
Ada dua mekanisme penyebab nekrosis hati yang diinduksi xylitol.
Metabolisme hati xylitol melalui jalur pentosa fosfat mengarah pada produksi zat
perantara terfosforilasi, yang terlibat dalam penipisan cadangan ATP, ADP, dan
cadangan fosfor anorganik seluler. Salah satu mekanisme dari nekrosis hati yakni
penipisan ATP dapat menyebabkan ketidakmampuan sel hati untuk melakukan
fungsi vital seluler, termasuk sintesis protein dan pemeliharaan integritas
membran, yang mengakibatkan nekrosis seluler. Mekanisme lain yakni bahwa
metabolisme xylitol menghasilkan konsentrasi tinggi dari nicotinamide adenine
dinucleotide, yang menghasilkan senyawa oksigen reaktif yang dapat merusak
selaput sel dan makromolekul, yang menyebabkan penurunan viabilitas hepatosit.
Kedua mekanisme tersebut dapat menyebabkan nekrosis hati akibat xylitol secara
independen atau bersamaan. Koagulopati yang berkembang pada anjing setelah
mengkonsumsi xylitol kemungkinan disebabkan oleh kegagalan hati akut,
koagulopati intravaskular diseminata, atau kombinasi keduanya (Dunayer,2006).
ZAT ANTINUTRISI PADA UNGGAS
Adapun beberapa contoh zat antinutrisi pada unggas ialah (Widodo, 2006):
1. Alkaloid
Alkaloid adalah senyawa yang mengandung substansi dasar nitrogen basa,
biasanya dalam bentuk cincin heterosiklik. Alkaloid terdistribusi secara luas pada
tanaman. Diperkirakan sekitar 15 – 20% vaskular tanaman mengandung alkaloid.
Banyak alkaloid merupakan turunan asam amino lisin, ornitin, fenilalanin, asam
nikotin, dan asam antranilat. Asam amino disintesis dalam tanaman dengan
proses dekarboksilasi menjadi amina, amina kemudian dirubah menjadi aldehida
oleh amina oksida. Alkaloid biasanya pahit dan sangat beracun. Tanaman yang
kaya akan alkaloid adalah apocynaceae, barberidaceae, liliaceae,
menispermaceae, papaveraceae, papilionaceae, ranunculaceae, rubiaceae, rutaceae
dan solanaceae. Sedangkan golongan yang mempunyai alkaloid sedang adalah
caricaceae, crassulaceae, erythroxylaceae dan rhamnaceae. Sedangkan yang tidak
mengandung alkaloid adalah labiatae dan salicaceae.

2. Glikosida
Glikosida adalah eter yang mengandung setengah karbohidrat dan
setengah non karbohidrat (aglikon) yang bergabung melalui ikatan eter. Glikosida
biasanya adalah substansi yang pahit. Sering kali aglikon dikeluarkan oleh aksi
enzimatis ketika jaringan tanaman mengalami luka. Klasifikasi glikosida lebih
lanjut adalah glukosida sianogenik, glukosida goitrogenik, glukosida coumarin,
glukosida steroid dan triterpenoid, glukosida nitropropanol, visin, glukosida
calsinogenik, karboksiatraktilosida, dan isoflavon.

3. Lemak
Sangat jarang lemak menyebabkan karacunan. Lemak yang beracun
meliputi asam erucic pada rapeseed, yang menyebabkan kerusakan miokardial
(myocardial lesions) pada tikus. Lemak lainnya yang beracun adalah asam lemak
siklopropenoid yang terdiri atas asam sterkulat dan asam malvalat pada biji kapas
yang menyebabkan albumin berwarna pink berkembang pada telur yang disimpan,
juga menyebabkan kokarsinogen.
4. Senyawa fenol
Fenol merupakan turunan dari fenilalanin atau tirosin pada pola atau jalur
asam sikimat. Beberapa di antaranya adalah asam kumarat, asam kafeat, asam
ferulat, asam protokatekuat, asam klorogenat dan asam kuinat. Asam-asam
tersebut didistribusikan secara meluas dalam tanaman, tetapi fungsinya masih
belum diketahui dengan jelas. Beberapa di antaranya mempunyai sifat-sifat
sebagai anti bakterial atau sebagai anti fungal dan bahkan mungkin mempunyai
tugas yang berhubungan dengan kekebalan tanaman terhadap penyakit tertentu.
Di samping itu banyak dihubungkan dengan komponen yang disebut sebagai
koumarin yang mempunyai cincin ganda yang juga dapat ditemukan dalam tubuh
tanaman. Komponen-komponen tersebut atau turunannya seringkali bersifat
racun terhadap ternak, sebagai contoh adalah dicoumarol yang dibentuk dari
koumarin pada daun semanggi selama penyimpanan. Koumarin kemungkinan
juga dibentuk oleh tanaman dalam respon terhadap serangan oleh parasit sehingga
tanaman menjadi kebal terhadap serangan tersebut.

5. Mikotoksin
Mikotoksin adalah hasil metabolisme jamur yang merupakan anti nutrisi
bagi hewan. Mikotoksin menyebabkan peristiwa penyakit pada peternakan
sedikitnya pada 25 kasus penyakit. Beberapa mikotoksin antara lain adalah
aflatoksin, fomopsin, tremorgen, T-2 toxin, citrinin, ochratoxin, sporidesmin dan
zearalenon. Mikotoksin menyebabkan penurunan kondisi seperti kematian akut
pada unggas (turkey X diseases) kanker hati pada ikan trout, lupinosis, fescue foot
pada sapi, keracunan sweet clover, facial eczema pada domba, ryegrass sraggers
dan ergotisme.

6. Asam sianida
Asam sianida merupakan anti nutrisi yang diperoleh dari hasil hidrolisis
senyawa glukosida sianogenik seperti linamarin, luteustralin dan durin. Salah satu
contoh hasil hidrolisis adalah pada linamarin dengan hasil hidrolisisnya berupa
D-glukosa + HCN + aseton dengan bantuan enzim linamerase. Lebih dari 100
jenis tanaman mempunyai kemampuan untuk memproduksi asam sianida. Jenis
tanaman tersebut antara lain famili rosaceae, posssifloraceae, leguminosae,
sapindaceae, dan gramineae. Sebetulnya pelepasan asam sianida pada tanaman
merupakan proteksi tanaman terhadap gangguan/kerusakan. Asam sianida hanya
dilepaskan apabila tanaman terluka. Tahap pertama dari proses degradasi adalah
lepasnya molekul gula (glukosa) yang dikatalis oleh enzim glukosidase.
Sianohidrin yang dihasilkan bisa berdissosiasi secara nonenzimatis untuk
melepaskan asam sianida dan sebuah aldehid atau keton, namun pada tanaman
reaksi ini biasanya dikatalis oleh enzim. Mekanisme sehingga asam sianida dapat
menghambat pernafasan sel adalah adanya penghambatan terhadap reaksi bolak-
balik pada enzim-enzim yang mengandung besi dalam status ferri (Fe3+) di dalam
sel. Enzim yang sangat peka terhadap inhibisi sianida ini adalah sitokrom
oksidase. Semua proses oksidasi dalam tubuh sangat bergantung pada aktivitas
enzim ini. Jika di dalam sel terjadi kompleks ikatan enzim sianida, maka proses
oksidasi akan terhambat, sehingga sel menderita kekurangan oksigen. Jika asam
sianida bereaksi dengan hemoglobin (Hb) akan membentuk cyano-Hb yang
menyebabkan darah tidak dapat membawa oksigen. Tambahan sianida dalam
darah yang mengelilingi komponen jenuh di eritrosit diidentifikasikan sebagai
methemoglobin. Kedua sebab inilah yang menyebabkan histotoxic-anoxia dengan
gejala klinis antara lain pernafasan cepat dan dalam.

7. Linamarin
Linamarin terdapat dalam tanaman Linum usitatissinum (linseed),
Phaseolus lunatus (Java bean), Trifolium repens (White clover), Lotus spp.
(lotus), Dimorphotheca spp. (cape marigolds) dan Manihot spp. (ubi kayu). Nama
linamarin diberikan karena serupa dengan yang diketemukan dalam tanaman rami
(Linum spp.) Bagian distal ubi (mengarah ke ujung) mengandung lebih banyak
linamarin dibandingkan dengan bagian proksimal (mengarah ke batang ubi).
Linamarin larut dalam air dan hanya dapat hancur oleh panas di atas suhu 150o C.
Daun ubi kayu mengandung linamarin sebesar 93 persen dari glikosida. Bila
senyawa ini dihidrolisis oleh asam atau enzim maka akan menghasilkan aseton +
glukosa + asam sianida.
8. Lotaustralin
Lotaustralin terdapat bersama linamarin dalam tanaman yang sama, tetapi
berbeda jumlahnya. Lotaustralin jauh lebih sedikit dibandingkan dengan
linamarin. Perbandingannya berkisar dari 3 sampai dengan 7 persen lotaustralin
berbanding 93 sampai dengan 97 persen linamarin. Lotaustralin antara lain
terdapat dalam tanaman Linum usitatissinum (linseed), Phaseolus lunatus (Java
bean), Trifolium repens (White clover), Lotus spp. (lotus), Dimorphotheca spp.
(cape marigolds) dan Manihot spp. (ubi kayu). Nama lotaustralin diberikan
karena serupa dengan yang diketemukan dalam tanaman lotus spp. Lotaustralin
larut dalam air dan hanya dapat hancur oleh panas di atas suhu 150o C. Daun ubi
kayu mengandung lotaustralin sebesar 7 persen dari glikosida. Bila senyawa ini
dihidrolisis oleh asam atau enzim maka akan menghasilkan metil etil keton +
glukosa + asam sianida.

ZAT ANTINUTRISI PADA RUMINANSIA

Selain memperhatikan kandungan gizinya, dalam memilih bahan pakan


perlu juga mempertimbangkan kandungan zat antinutrisi (racun) dalam bahan
pakan ternak tersebut. Zat-zat antinutrisi yang dapat membahayakan dan
mengganggu kesehatan ternak di antaranya adalah asam sianida, asam sitrat,
asam oksalat, gosipol, mimosin, coumarin, alfatoksin,alkaloid, dan tannin.
1. Asam sianida (HCN)

Asam sianida umumnya terdapat pada rumput budi daya, misalnya rumput
gajah, rumput benggala, rumput setaria, dan rumput brachiaria. Selain itu, asam
sianida juga terdapat pada tanaman leguminosa, seperti gamal dan tanaman
pangan, misalnya daun singkong. Secara umum keracunan HCN pada ternak
tergantung pada kadar HCN dalam pakan ternak, jumlah pakan yang dikonsumsi,
dan kondisi ternaknya. Pada kandungan asam sianida yang lebih dari 500 ppm,
sudah perlu diwaspadai. Level toksik HCN pada sapi dan kerbau 2,2 mg/kg bobot
badan, sedangkan pada kambing dan domba 2,4 mg/kg bobot badan. Cara
mengurangi pengaruh negatif HCN terhadap kesehatan ternak adalah dengan
menambah unsur sulfur (S) atau vitamin B-12 (Rianto dan Purbowati, 2009).
Sianida masuk ke dalam tubuh hewan melalui pernafasan, kulit, dan yang
paling banyak melalui saluran pencernaan. Pada ruminansia, absorbsinya paling
banyak terjadi di dalam rumen, sedangkan pada non-ruminansia, absorbsinya
terjadi pada ususnya. Absorbsi melalui kulit dapat terjadi bila sianida dalam
bentuk asam sianida, sedangkan uapnya akan terhisap oleh paru-paru (7) .
Kecepatan absorbsinya relatif lambat dan tergantung dari pH larutan tersebut .
Absorbsi sianida di dalam rumen terjadi sangat cepat. Dalam waktu 1 5 menit
hampir semua sianida di rumen telah diabsorbsi, dan dengan cepat juga sebagian
daripadanya mulai mengalami detoksifikasi (Bahri dan Tarmudji, 2005).
Australia grass, Common paspalum (Paspalum dilatatum poiret) atau
dalam istilah Indonesia : rumput australi, rumput dallies. Berasal dari Brazil,
Argentina, Uruguay (Amerika Selatan).

Paspalum dilatatum poiret


Kandungan protein kasar berkisar antara 13.4 -18.5%, lemak kasar 1.3-
2.4%, serat kasar 24.4-34.8% dan Beta-N 40.1-48.6%. Hijauan ini mempunyai
kecernaan BK sekitar 50-63%. Rumput dallis pernah dilaporkan memberikan
pengaruh yang berbahaya pada domba karena pengaruh dari cyanogenic
glucosides dalam rumput ini walaupun HCNnya relatif rendah (42 ppm).
Kelebihan konsumsi dapat mengakibatkan ternak mengalami diare (Ridla, 2003).

Gamal mempunyai kualitas yang bervariasi tergantung pada umur, bagian


tanaman, cuaca dan genotif. Kandungan proteinnya sekitar 18.8%, dimana
kandungan protein ini akan menurun dengan bertambahnya umur, namun
demikian kandungan serat kasarnya akan mengalami peningkatan. Palatabilitas
daun gamal merupakan masalah karena adanya kandungan antinutrisi flavano 1 –
3.5% dan total phenol sekitar 3-5% berdasarkan BK. Ruminansia yang tidak biasa
mengkonsumsi daun gamal umumnya tidak akan memakannnya untuk yang
pertama kali bila dicampurkan pada ransum. Dalam pemberiannya sebaiknya
dilayukan dulu. Kecernaan BK daun gamal adalah 48-77% (Ridla, 2003).
Suatu faktor pembatas dalam penggunaan ubi kayu adalah racun asam
sianida (HCN) yang terdapat dalam bentuk glikosida sianogenik. Dua macam
glikosida sianogenik dalam ubi kayu yaitu lanamarine (±95% dari bentuk
glikosida sianogenik) dan bentuk lotaustarin. Pada proses detoksifikasi asam
sianida dalam tubuh ternak diperlukan sulfur yang dapat dari asam amino tersebut
akan meningkat. Sulfur untuk detoksifikasi ini dapat juga berasal dari sulfur
inorganik. Penggunaan ubi kayu dalam ransum berdasarkan beberapa peneliti
untuk ungas 5-10%, babi 40-70% dan rumiansia 40-90%. Produksi ubi kayu segar
10-40 ton/ha/tahun. Dari tanaman ubi kayu, 10-40% terdiri dari daun. Sebanyak
75% dari protein daun adalah murni dan mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi.
Asam amino daun ubi kayu ternyata hampir sama dengan bungkil kedelai
walaupun jumlahnya berbeda. Daun ubi kayu defisien asam amino esensial yang
mengandung sulfur yaitu methionin dan sistin. Kelemahan lain adalah adanya
racun HCN dan kandungan serat kasar yang tinggi. Kandungan HCN pada daun
muda berkisar antara 427-542 mg/kg, sedangkan pada daun tua kandungannya
labih rendah yaitu berkisar antara 343 - 379 mg/kg (Ridla, 2003).

2. Asam sitrat
Asam sitrat terdapat pada hampir semua bahan pakan ternak, terutama
pada bagian daun tanaman makanan ternak. Pakan ternak yang mengandung asam
sitrat 2% sudah membahayakan bagi ternak. Batas toksisitas ternak ruminansia
terhadap asam sitrat adalah 1 g NO3/kg bobot badan (Rianto dan Purbowati,
2009).

3. Asam oksalat

Asam oksalat banyak dijumpai di dalam tanaman, termasuk tanaman


hijauan pakan ternak, terutama bagian daun. Salah satu hijauan pakan ternak yang
mengandung asam oksalat tinggi adalah rumput setaria sp (Rianto dan Purbowati,
2009).

4. Gosipol
Gosipol umumnya terdapat dalam biji-bijian, seperti biji kapas dan biji
kapuk. Selain itu, gosipol juga terdapat pada bagian tanaman, seperti batang,
daun, benang sari, dan kulit akar. Racun gosipol dapat dihilangkan dengan jalan
ekstraksi (isopropanol) (Rianto dan Purbowati, 2009).
5. Mimosin
Mimosin terutama terdapat pada daun dan biji lamtoro. Pemberian lamtoro
yang banyak dan terus-menerus dalam waktu yang lama dapat menimbulkan
keracunan dan gangguan kesehatan pada sapi. Pemberian lamtoro pada ternak
ruminansia sebaiknya dicampur dengan rumput atau hijauan lain. Disarankan
pemberian lamtoro tidak lebih dari 40% dari total ransum (Rianto dan Purbowati,
2009).

Lamtoro juga mengandung racun asam mimosin yang mempunyai efek


anti mitotic dan depilatory pada ternak. Sehingga daun lamtoro tidak aman
diberikan pada ternak non ruminansia pada level diatas 5%. Pada ruminansia
mimosin dapat diubah menjadi 3 hidroxy-4(H)-pyridone (DHP) bersifat
goitrogenik dan jika tidak didegradasi dapat menimbulkan rendahnya level
thyroxine dalam serum darah, ulceration dari oesophagus dan retikulorumen,
saliva berlebihan dan pertambahan bobot badan rendah, khususnya bila diberikan
lebih dari 30% dalam ransum. Walaupun demikian mikroba rumen dapat
menghilangkan racun mimosin dan DHP (Ridla, 2003).

6. Coumarin
Coumarin merupakan zat yang rasanya pahit dan terdapat pada tanaman,
terutama bagian daun dan batang. Salah satu tanaman pakan ternak yang
mengandung coumari adalah gliricidia (gamal). Coumarin dapat menjadi racun
bila berubah menjadi hidroksi coumarin atau dicoumarin. Efeknya pada ternak
adalah darah sukar membeku sehingga jika terjadi pendarahan dapat
mengakibatkan kematian (Rianto dan Purbowati, 2009).

7. Alfatoksin
Alfatoksin terutama terdapat pada bungkil kelapa dan singkong. Zat ini
dapat menimbulkan keracunan dan menurunkan produktivitas ternak. Keracunan
alfatoksin dapat dihindari dengan melakukan penyimpanan pakan yang baik
(Rianto dan Purbowati, 2009).

8. Alkaloid
Alkaloid merupakan karohidrat dengan sedikit unsur nitrogen. Zat ini
umumnya terdapat dalam umbi-umbian. Derajat keracunannya tergantung dari
macam alkaloidnya, konsentrasinya, dan ketahanan masing-masing jenis ternak.
Keracunan alkaloid dapat dihindarkan dengan cara memasak bahan pakan
sebelum diberikan kepada ternak (Rianto dan Purbowati, 2009).

9. Tannin

Tanin terdapat pada hijauan pakan ternak, seperti kaliandra, sorghum,


umbi, dan kacang-kacangan. Tanin dapat menimbulkan penurunan palatabilitas
dan penurunan pencernaan protein. Kadar tanin 0,3% dalam pakan ternak sudah
dapat menimbulkan gangguan tersebut (Rianto dan Purbowati, 2009).

Calliandra calothyrsus
Kaliandra merupakan tanaman yang sudah tersebar ke seluruh Indonesia.
Proteinnya cukup tinggi terutama daunnya yaitu sekitar 24%, sedangkan serat
kasarnya sekitar 27%. Umumnya tidak mengandung racun, kecuali adanya tannin
yang cukup tinggi yang bisa mencapai 11% (Ridla, 2003).

10. Anti Tripsin dan Anti Chimotripsin


Kandungan anti nutrisi dalam kecipir juga mirip dengan kedelai yaitu
mengandung anti tripsin dan anti chimotripsin yang dapat menghambat kerja
tripsin dan chimotripsin yang bersifat yang bersifat proteolitik. Untuk
menghilangkan zat anti nutrisi ini dapat dilakukan dengan : perendaman,
pengukusan/pemasakan atau penyanggraian/penggorengan tanpa minyak. Biji
kecipir dapat mengganti kacang kedelai dalam ransum ternak setelah dipanaskan
seperti tersebut di atas (Ridla, 2003).
DAFTAR PUSTAKA

Bahri, Sjamsul dan Bahri. 2005. Keracunan Sianida Pada Ternak dan Cara
Mengatasinya. Balai Penelitian Kesehatan Hewan : Bogor.
Bothaa, B.J. dan M-L Penrith. 2009. Potential plant poisonings in dogs and cats
in southern Africa. [review article]. Tydskr.S.Afr.vet.Ver (2009) 80(2): 63–
74
Brant, Sharon Gwaltney. 2001. Chocolate intoxication. USA : ASPCA Animal
Poison Control Center
Brant, Sharon Gwaltney. 2018 .Xylitol. Chicago : Toxicology Consultant,
Veterinary Information Network (VIN) and Adjunct Faculty, College of
Veterinary Medicine, University of Illinois
Brant, Sharon Gwaltney. 2018. Avocado. Chicago : Toxicology Consultant,
Veterinary Information Network (VIN) and Adjunct Faculty, College of
Veterinary Medicine, University of Illinois
Brant, Sharon Gwaltney. 2018. Raisins and Grapes. Chicago : Toxicology
Consultant, Veterinary Information Network (VIN) and Adjunct Faculty,
College of Veterinary Medicine, University of Illinois
Cope. 2015. Allium species poisoning in dogs and cats. Veterinary Medicine
journal, August 2005
Dunayer, Eric K. 2006. New findings on the effects of xylitol ingestion in dogs.
PEER-REVIEWED
Foster dan Smith. 2018. Food Allergies and Food Intolerance. Wisconsin :
Veterinary & Aquatic Services Department
Keno, Lisa A dan Cathy E. Langston. 2011. Treatment of accidental ethanol
intoxicationwith hemodialysis in a dog. Journal of Veterinary Emergency
and Critical Care, no, 1476-4431 jully 2011
Petwave. 2015. Symptoms of Lactose Intolerance in Dogs. [artikel].
(http://www.petwave. com/Dogs/Health/Lactose-
Intolerance/Symptoms.aspx, diakses tanggal 21 Februari 2018 pukul 20.25
WITA)
Ponce, Mirna P. 2010. Unsafe Foods for Your Pet. Los Angeles : Department of
Public Health Veterinary Public Health & Rabies Control
PPIA (Pet Food Industry Association of Australia). 2012.Feeding Milk to Pets
and Lactose Intolerance. (https://www.pfiaa.com.au/Feeding-Pets/Feeding-
Milk-to-Pets-and-Lactose-Intolerance.aspx, diakses pada tanggal 21
Februari 2018 pukul 23.45 WITA)
RajaPet. Makanan Manusia yang Boleh & Tidak Boleh Diberikan pada Kucing.
http://www.rajapetshop.com/en/news/MAKANAN-MANUSIA-YANG-
BOLEH-and-TIDAK-BOLEH-DIBERIKAN-PADA-KUCING. Diakses
pada tanggal 21 Februari 2018.
Ramco. 2017. Makanan yang Berbahaya Bagi kucing.
https://www.hewanpeliharaan.org/kucing/makanan-yang-berbahaya-bagi-
kucing/. Diakses pada tanggal 21 Februari 2018.
Rianto, Edy dan Endang Purbowati. 2009. Panduan Lengkap Sapi Potong.
Penebar Swadaya : Jakarta
Ridla, Muhammad. 2003. Pengetahuan Bahan Makanan Ternak. CV Nutri
Sejahtera : Bogor.
Royal Canin. 2010. Hypoallergenic. [artikel]. (http://www.royalcanin.in/content/
download/111552/1218109/file/Product%20Book%202010%20BD.pdf,
diakses pada tanggal 22 Februari 2018 pukul 05.45 WITA)
Salasa, Mokarom. 2011. Zat Antinutrisi Pada Bahan Pakan Ternak.
http://www.lembahgogoniti.com/artikel/29-pakan-kambing/89-zat-
antinutrisi-pada-bahan-pakan-ternak.pdf (online). Diakses pada tanggal 20
Februari 2018 pukul 22.32 WITA.
Salgado, BS., Monteiro LN, Rocha NS. 2011. Allium Species Poisoning In Dogs
And Cats. The Journal of Venomous Animals and Toxins including Tropical
Diseases 2011 volume 17 pages 4-11
Satwapedia. 2016. 18 Makanan Kucing Berbahaya.
https://www.satwapedia.com/18-makanan-kucing-berbahaya/. Diakses pada
tanggal 21 Februari 2018.
Triakoso, Nusdianto. 2011. Patologi Nutrisi. Surabaya : Ilmu Penyakit Non
Infeksius D3 FKH Unair
Widodo, Wahyu. 2006. Nutrisi dan Pakan Unggas Kontekstual.
E:\Basic\E_Book\Science\NUTRISI_DAN_PAKAN_UNGGAS_KONTEK
STUAL.pdf. diakses 16 Februari 2018.
Yuill Cheryl Yuill dan Justine A. Lee. 2011. Grape and Raisin Toxicity in Dogs.
Canada : Toronto Veterinary Emergency Hospital