Anda di halaman 1dari 30

KANTOR ADVOKAT dan KONSULTAN HUKUM

CGV LAWFIRM
Wisma GKBI Level 4, Jl. Jenderal Sudirman No.28 Jakarta Pusat, Indonesia

Kepada Yang Terhormat :


Majelis Hakim Pemeriksa Perkara Pidana
PDM-39 /JKT.PST/09/2015
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

NOTA PEMBELAAN (PLEDOI)


Dalam Perkara Tindak Pidana Umum : PDM-39 /JKT.PST/09/2015 atas Klien
kami
Nama lengkap : DANIEL ISHINAKA TAMURO
S.E.,M.M.
Tempat lahir : JAKARTA
Umur / tanggal Lahir : 36 tahun / 20 Oktober 1979
Jenis kelamin : Laki - Laki
Kebangsaan : Indonesia
Tempat tinggal : Jalan Teuku Umar No. 61, Menteng,
Jakarta Pusat
Agama : Kristen
Pekerjaan : Direktur Utama PT Suissindo Pandaga
Pendidikan : S-2

Atas Surat Tuntutan perkara tindak pidana penipuan dari Jaksa Penuntut Umum pada
Kejaksaan Agung Republik Indonesia No. Perkara : PDM-39 /JKT.PST/09/2015
Tertanggal 26 April 2009 di persidangan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat:

- Majelis Hakim Yang Terhormat;

- Jaksa Penuntut Umum Yang Terhormat;

- Dan Persidangan yang kami muliakan;


Dengan Hormat,

Kami yang bertanda tangan di bawah ini :

Sarah Viarose, S.H., L.LM.

I Gede Argatista Kusuma Pangaribuan, S.H., L.LM.

Chaulia Ibrahim Nasution, S.H.

Para Advokat pada kantor Advokat dan Konsultan Hukum “Chaulia, Gede, Viarose &
Partners”, berkantor di Wisma GKBI Level 4, Jl. Jenderal Sudirman No.28 Jakarta
Pusat, Indonesia yang dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama serta untuk
kepentingan hukum TERDAKWA: Daniel Ishinaka Tamuro Dengan ini, perkenankanlah
kami, untuk menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Majelis Hakim
yang telah memberikan kesempatan kepada kami, selaku Penasehat Hukum Terdakwa,
untuk menyusun, menandatangani, serta mengajukan Nota Pembelaan / Pledoi ini, yang
berkenaan dengan pengajuan Tuntutan Pidana oleh Jaksa Penuntut Umum terhadap Klien
kami, seperti tersebut di bawah ini :

TERDAKWA telah didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum sebagai berikut :

● Dakwaan Alternatif Kesatu sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam


Pasal 378 KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
● Dakwaan Alternatif Kedua sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal
372 KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

I. DASAR HUKUM PENGAJUAN PEMBELAAN / PLEDOI

- Bahwa Tuntutan Pidana dan Pledoi (Pembelaan) pada dasarnya merupakan suatu
rangkaian yang tidak terpisahkan dalam suatu proses pemeriksaan perkara pidana dan
sebenarnya dapatlah dikatakan Bahwa keberadaan tuntutan pidana yang diajukan oleh
Jaksa Penuntut Umum, saling berkaitan dengan Nota Pembelaan yang diajukan oleh
terdakwa atau Penasehat Hukum Terdakwa, karena tuntutan pidana yang diajukan oleh
Jaksa Penuntut Umum, maupun pembelaan yang diajukan oleh terdakwa atau Penasehat
Hukum Terdakwa, pada hakekatnya merupakan proses “dialogis jawab menjawab
terakhir” dalam suatu proses pemeriksaan suatu perkara pidana;

- Bahwa berdasarkan ketentuan hukum Acara Pidana Pasal 182 ayat (1) huruf b
KUHAP, maka kepada terdakwa dan atau Penasehat Hukum Terdakwa diberikan hak
untuk mengajukan Pledoi (Pembelaan) atas Tuntutan Pidana yang telah diajukan oleh
Jaksa Penuntut Umum ;

- Bahwa dalam kesempatan ini perlu kami tegaskan, karena pada hakekatnya
pengajuan Pledoi (Pembelaan) ini bukanlah bertujuan untuk melumpuhkan dakwaan dan
Tuntutan Pidana yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum, akan tetapi perbedaan
argumentasi, prinsip dan pandanganlah yang menimbulkan kesenjangan diantara kedua
misi yang diemban, namun kesemuanya itu bermuara pada kesamaan tujuan yaitu : usaha
dan upaya melakukan penegakan hukum serta keinginan untuk menemukan kebenaran
hukum;

- Bahwa berdasarkan uraian dan penjelasan yang telah kami sampaikan tersebut di
atas, dapatlah kiranya dijadikan sebagai suatu dasar hukum bagi terdakwa / Penasehat
Hukum Terdakwa dalam menyampaikan Pledoi (Pembelaan) ini

II. LATAR BELAKANG KASUS/PERMASALAHAN

- Bahwa sebelum kami mengadakan pembelaan dalam perkara ini, maka pada bagian
ini, kami terdakwa/ Penasehat Hukum Terdakwa terlebih dahulu menyampaikan dan
mengemukakan mengenai masalah dalam perkara ini, yaitu :

- Bahwa Terdakwa Daniel Ishinaka Tamuro adalah direktur utama dari PT Suissindo
Pandaga.

- Bahwa Pada tanggal 13 Oktober 2014, Anjani Pramitha telah mentransfer dana
investasi sejumlah USD 500.000 ke rekening PT Suissindo Pandaga

- Bahwa pada tanggal 8 Desember 2014 dan tanggal 27 Desember 2014, Anjani telah
melayangkan somasi sebanyak dua kali kepada PT Suissindo Pandaga yang pada intinya
Anjani Pramitha ingin meminta kembali dana investasinya sebesar USD 500.000 yang
sebelumnya telah ia transfer ke rekening PT Suissindo Pandaga
- Bahwa pada tanggal 16 Januari 2015 Daniel Ishinaka Tamuro bersama Indra Nurwanto
menemui ANJANI PRAMITHA di Kantor PT. Vaneta Pratiwi Investment di UOB Plaza
untuk membahas keberlanjutan investasi Anjani Pramitha bersama PT Suissindo Pandaga

- Bahwa pada pertemuan tersebut Anjani Pramitha bersikeras tidak mau melanjutkan
Investasi di PT Suissindo Pandaga, akhirnya antara Daniel Ishinaka Tamuro dan Anjani
Pramitha membuat kesepakatan mengenai pengembalian dana investasi terhitung 6
(enam) bulan sejak tanggal pertemuan tersebut (16 Januari 2015).

- Bahwa pada saat jatuh tempo waktu pengembalian dana investasi (16 Juli 2015)
telah terjadi keterlambatan pembayaran pengembalian dana investasi dari Daniel Ishinaka
Tamuro kepada Anjani Pramitha

- Bahwa keterlambatan pembayaran keuntungan tersebut bukanlah disebabkan


karena perbuatan sengaja melawan hukum yang dilakukan oleh terdakwa melainkan
karena kondisi keuangan perusahaan yang sedang bermasalah.

- Bahwa keuangan perusahaan PT Suissindo Pandaga bermasalah karena dana


perusahaan sebagian digunakan untuk pengembangan pembangunan perusahaan dimana
Perusahaan sedang melakukan perubahan bidang usaha dan pengembangan pembangunan
perusahaan PT Suissindo Pandaga tersebut telah mendapat pengesahan dari Dewan
Komisaris perusahaan.

III. FAKTA-FAKTA HUKUM DI DALAM PERSIDANGAN

- Bahwa benar terjadi perjanjian penanaman investasi antara terdakwa dan anjani

- Bahwa dengan adanya perjanjian tersebut, lahir perjanjian kedua yang


meghasilkan perjanjian pengembalian dana investasi dari Terdakwakepada Anjani

- Bahwa kami Terdakwa / Penasehat Hukum Terdakwa, hanya menitik beratkan


pada keterangan saksi yang mematahkan dan melemahkan dakwaan Jaksa Penuntut
Umum, diantaranya :

Saksi I :
Nama : Mbop Sa’adino

Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta/10 Juli 1990

Jenis Kelamin : Laki-laki

Pekerjaan : Sekertaris di PT. Suissindo Pandaga

Agama : Kristen

Alamat : Puri Cinere Blok A5 No. 23

Kewarganegaraan : Indonesia

Pendidikan : Diploma III

Saksi di bawah sumpah menerangkan :

● Benar saksi dalam keadaan sehat baik jasmani maupun rohani serta bersedia
untuk diperiksa serta akan memberikan keterangan serta jawaban yang
sebenarnya;
● Bahwa saksi mengetahui keterangannya diambil sehubungan dengan tindak
pidana penipuan dan penggelapan yang didakwakan kepada TERDAKWA;
● Bahwa benar saksi mengenal TERDAKWA;
● Bahwa saksi memiliki hubungan kerja dengan TERDAKWA;
● Bahwa saksi bekerja sebagai sekretaris di perusahaan TERDAKWA;
● Bahwa saksi megatakan sudah bekerja selama 2 tahun dengan TERDAKWA;
● Bahwa saksi mengatakan bertugas untuk mengarsip data pimpinan, surat yang
keluar masuk, serta mengatur jadwal dari TERDAKWA;
● Bahwa saksi mengatakan membuat surat perjanjian pengembalian hutang yang
akan dibawa TERDAKWA pada saat menemui Anjani pada tanggal 15 Januari
2015;
● Bahwa saksi mengatakan surat yang dibuat olehnya merupakan surat perjanjian
resmi kedua dari perusahaan dengan pihak Anjani;
● Bahwa saksi mengatakan setelah adanya hasil dari perjanjian kedua tersebut,
TERDAKWA banyak mengubah jadwalnya untuk mengadakan pertemuan-
pertemuan dengan calon investor lain untuk mencari dana tambahan;
● Bahwa saksi mengatakan bahwa dia mengetahui kegiatan Daniel, dan setau saksi
sebagai sekretaris pada kurun waktu TERDAKWA tidak dapat dihubungi karena
TERDAKWA banyak membuat janji dengan para calon investor lain;
● Bahwa saksi mengatakan selalu hadir dalam RUPS yang dilakukan oleh
perusahaan TERDAKWA karena saksi bertugas sebagai notulen RUPS;
● Bahwa saksi mengatakan bertugas untuk membuat notulensi rapat dan saksi
mengatakan tidak adanya RUPS maupun RUPS LB yang membahas mengenai
pembagian keuntungan saham;
● Bahwa saksi mengatakan TERDAKWA dan saksi Edy telah menyetujui
pembagian keuntungan sebesar 25% dari total saham kepada Anjani dan
menjadikan Anjani sebagai pemegang saham pengendali di PT Suissindo Pandaga
secara sirkuler;
● Bahwa saksi mengatakan sepengetahuan saksi sebagai sekretaris tidak ada upaya
lain yang dilakukan TERDAKWA selain mencari investor lain;
● Benar bahwa semua keterangan yang telah diberikan adalah benar.
Atas keterangan saksi tersebut dpat diketahui bahwa saksi adalah orang yang membuat
surat perjanjian pengembalian dana investasi sesuai suruhan Terdakwa pada tanggal 15
Januari 2015. Setelah adanya perjanjian tersebut, Terdakwa banyak mengubah jadwalnya
untuk mencari calon investor lain demi mengembalikan dana investasi milik Saksi Anjani
dan oleh karena itu juga Terdakwa menjadi sulit dihubungi. SakSi tersebut juga
menyatakan bahwa memang benar tidak ada RUPS dan/atau RUPS LB yang membahas
mengenai pembagian keuntungan saham kepada Anjani namun diluar RUPS dan/atau
RUPS LB tersebut sudah ada keputusan sirkuler antara para pemegang saham (yakni
Terdakwa dan Saksi Edy selaku Dewan Komisaris) PT Suissindo Pandaga terkait
pembagian keuntungan saham kepada Saksi Anjani dan menjadikan Saksi Anjani sebagai
Pemegang saham pengendali di PT Suissindo Pandaga. Terdakwa mengakui bahwa
memang terjadi keterlambatan pembayaran keuntungan kepada saksi, namun sama
sekali tidak ada unsur penipuan karena terdakwa berniat untuk membayarkan hanya saja
kondisi keuangan sedang tidak memungkinkan sehingga terjadi keterlambatan.

Saksi II :
Nama : Edy Yo

Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta/24 September 1984

Jenis Kelamin : Laki-laki

Pekerjaan : Dewan Komisaris PT. Suissindo Pandaga

Agama : Kristen Protestan,

Alamat : Jl Teluk Pucung Bekasi

Kewarganegaraan : Indonesia

Pendidikan : Strata II

Saksi di bawah sumpah menerangkan :

● Bahwa saksi dalam keadaan sehat jasmani dan rohani;


● Bahwa saksi mengatakan identitas sesuai dengan apa yang dikatakan Majelis
Hakim;
● Bahwa saksi menyatakan mengenal TERDAKWA, tidak memiliki hubungan
darah maupun semenda, dan memiliki hubungan pekerjaan dengan TERDAKWA,
yaitu sebagai Dewan Komisaris dengan TERDAKWA sebagai Direksi, serta
bersedia memberikan keterangan;
● Bahwa saksi menyatakan keterangan dan tanda tangan yang ada dalam Berita
Acara Penyidikan Pemeriksaan Saksi adalah miliknya dan tidak ada paksaan atau
tekanan dalam pengambilan keterangan dalam Berita Acara Pemeriksaan;
● Bahwa saksi mengatakan pada awalanya TERDAKWA menjelaskan kepada
saudara saksi bahwasannya, ada investor yang mau menginvestkan uangnya
sebesar 1 (satu) juta dolar amerika. lalu setelah itu saudara saksi berpikir bahwa
dengan keadaan PT Suissindo Pandaga yang masih baru berdiri, maka akan sangat
menguntungkan apabila Perusahaan tersebut mendapat suntikan dana sebesar 1
juta dollar amerika. oleh karena itu saudara saksi membuat surat persetujuan
dalam rangka mengizinkan investor baru masuk.;
● Bahwa saksi mengatakan tindakan TERDAKWA atas sepengetahuan dan
persetujuannya sebagai Dewan Komisaris;
● Bahwa saksi mengatakan Ia mengetahui adanya perjanjian pengembalian dana
investasi antara saudara TERDAKWA dan saudari Anjani;
● Bahwa saksi mengatakan Ia telah menasehati saudara TERDAKWA untuk
mencoba mencari dana tambahan dari pinjaman atau mencari dana-dana dari
investor lain dengan tujuan agar bisa dipersiapkan dana untuk dikembalikan
kepada saudari Anjani;
● Bahwa saksi mengatakan dalam pengawasan yang Ia lakukan memang Ia melihat
adanya usaha-usaha dari saudara TERDAKWA untuk mengembalikan dana
tersebut, seperti mencari dana-dana dari investor lain dan lalu mencoba
meminjam dana dari lembaga pembiayaan
● Bahwa saksi mengatakan dia mengetahui Somasi yang diberikan oleh saudari
Anjani kepada saudara TERDAKWA dan mengatakan bahwa RUPS tersebut
terjadi setelah ada somasi dari saudari Anjani;
● Bahwa saksi mengatakan ia mengetahui rencana TERDAKWA untuk menjadikan
saudari Anjani menjadi pemegang saham pengendali;
● Bahwa saksi mengatakan Ia mengetahui rencana TERDAKWA untuk menjadikan
saudari Anjani pemegang saham pengendali lewat keputusan sirkuler;
● Bahwa saksi mengatakan ia tidak mengetahui rencana kerja PT Suissindo
Pandaga dan cash flow yang diberikan kepada saudari Anjani oleh TERDAKWA;
● Bahwa saksi mengatakan Ia belum sempat melakukan audit terhadap setelah Ia
menandatangani surat persetujuan kepada TERDAKWA untuk menggunakan
dana sebesar USD 500.000;
Atas keterangan saksi, TERDAKWA membenarkan kesaksian saudara Edy Yo, yang
mana TERDAKWA melakukan tindakannya tersebut sudah sesuai menurut anggaran
dasar PT Suissindo Pandaga. Antara saksi dengan Terdakwa juga sudah ada keputusan
sirkuler mengenai masuknya dana investasi dari Saksi Anjanii serta pembagian
keuntungan sebesar 25% dari Total saham PT Suissindo Pandaga kepada saki Anjani dan
menjadikan Anjani sebagai pemegang saham pengendali di PT Suissindo Pandaga.
Menurut keteranga saksi juga TERDAKWA mengakui bahwa dia belum mengembalikan
uang investasi saudari Anjani sebesar Rp 500.000 walaupun telah dikirimkan Somasi
oleh saudari Anjani, namun hal tersebut terjadi sama sekali tidak dikarenakan ada
maksud untuk melakukan perbuatan melawan hukum.Uang Investasi sebesar USD
500.000 tersebut belum dikembalikan dikarenakan uang tersebut sudah terlanjur
digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan. selain itu Saksi telah menasihati
Terdakwa untuk segera megembalikan dana investasi milik saksi Anjani dan berdasarkan
pengawasan yang saksi lakukan TERDAKWA juga telah berusaha mengembalikan uang
investasi dari saudari Anjani tersebut dengan cara mencari investor-investor baru serta
mencari pinjaman dari lembaga-lembaga pembiayaan. Oleh karena itu harap menjadikan
maklum dan diminta pengertian dari Penuntut Umum serta dapat menjadi pertimbangan
Majelis Hakim.

Saksi IV

Nama : Jatu Kancana, SH., M.Kn

Tempat/Tanggal Lahir : Purworejo/21 Maret 1983

Jenis Kelamin : Laki-laki

Alamat : Jl. Rawa Pule 1 No. 1, Jakarta

Pekerjaan : Notaris,

Agama : Budha,

Kewarganegaraan : Indonesia

Pendidikan : Strata II

Saksi di bawah sumpah menerangkan bahwa :

● Bahwa saksi dalam keadaan sehat jasmani dan rohani


● Bahwa saksi mengatakan identitas sesuai dengan apa yang dikatakan majeis
hakim
● Bahwa saksi menyatakan mengenal TERDAKWA, tidak memiliki hubungan
darah maupun semenda, dan memiliki hubungan pekerjaan dengan TERDAKWA,
yaitu sebagai Notaris terhadap TERDAKWA sebagai klien, serta bersedia
memberikan keterangan;
● Bahwa saksi menyatakan keterangan dan tanda tangan yang ada dalam Berita
Acara Penyidikan Pemeriksaan Saksi adalah miliknya dan tidak ada paksaan atau
tekanan dalam pengambilan keterangan dalam Berita Acara Pemeriksaan;
● Bahwa saksi menyatakan akta tersebut merupakan akta notaril perubahan
Anggaran Dasar PT. Suisindo Pandaga yang memuat hasil dari RUPS pada
tanggal 9 Desember 2014 yang membahas perubahan maksud dan tujuan dari PT.
Suisindo Pandaga dari bidang usaha Konsultan Manajemen berubah menjadi Jasa
Multimedia.
● Bahwa saksi tidak tahu proses dan perkembangan perubahan Anggaran Dasar dari
PT. Suissindo Pandaga karena ia belum menerima surat notifikasi dari pihak PT.
Suisindo Pandaga ataupun dari pihak Kemenkumham setelah akta notaril
perubahan anggaran dasar berada pada pihak PT. Suissindo Pandaga tanggal 15
Desember 2014;

● Bahwa saksi menyatakan jangka waktu perubahan Anggaran Dasar harus


disampaikan ke Kemenkumham paling lambat 30 hari setelah di adakannya RUPS
dan harus menunggu persetujuan dari Kemenkumham terkait perubahan
Anggaran Dasar yang pada praktiknya yaitu paling lambat 30 hari setelah
dimintakan persetujuan;

● Bahwa saksi menyatakan ketentuan penyelenggaraan RUPS dari PT. Suisindo


Pandaga sudah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

● Bahwa saksi menyatakan peralihan bidang usaha PT.Suisindo Pandaga belum


mendapatkan izin dari KEMENKUMHAM;

● Bahwa saksi menyatakan tidak ada peraturan yang mengatur tentang boleh atau
tidaknya suatu perseroan beroperasi ketika belum mendapatkan persetujuan dari
KEMENKUMHAM mengenai perubahan anggaran dasar dan perubahan
anggaran dasar tidak mencabut status badan hukum suatu perseroan sehingga
menurut saksi perseroan dalam masa menunggu persetujuan dari kemenkumham
dapat beroperasi.
● Bahwa saksi menyatakan tidak ada nama Anjani Pramitha dalam struktur
permodalan di akta perubahan anggaran dasar.

Atas keterangan saksi tersebut, TERDAKWA telah melakukan upaya untuk


mengembalikan uang investasi dengan mengubah bidang usaha PT. Suissindo Pandaga.
Hal tersebut dapat dilihat bahwa memang saksi tersebut sendiri yang membuatkan akta
notaril perubahan Anggaran Dasar PT. Suisindo Pandaga pada tanggal 9 Desember 2014.
Bahwa atas keterangan saksi juga dapat ditemukan fakta bahwa suatu Perusahaan masih
dapat beroperasi walaupun belum mendapat pengesahan dari KEMENKUMHAM terkait
perubahan bidang usaha karena perubahan tersebut tidak serta merta mencabut status
badan hukum perusahaan terkait.

Keterangan Ahli :

Nama : Annisa Dwitazara S.H. L.L.M. P.h.D, Lahir di Jakarta 28 Agustus 1979,
Umur 36 tahun, Jenis Kelamin perempuan, Kewarganegaraan Indonesia, Agama Islam,
Pendidikan terakhir Doctoral, Pekerjaan Dosen Fakultas Hukum UI, ahli dalam bidang
Hukum Perdata, Alamat Jalan Cempaka Putih Tengah 27C.

Ahli dibawah sumpah di persidangan pada pokoknya menerangkan sebagai berikut :

● Benar bahwa ahli dalam keadaan sehat jasmani dan rohani menyatakan tidak
mengenal TERDAKWA, tidak memiliki hubungan darah maupun semenda, dan
tidak memiliki hubungan pekerjaan dengan TERDAKWA, serta bersedia
memberikan keterangan;
● Benar bahwa ahli menyatakan keterangan dan tanda tangan yang ada dalam Berita
Acara Penyidikan Pemeriksaan Ahli adalah miliknya dan tidak ada paksaan atau
tekanan dalam pengambilan keterangan dalam Berita Acara Pemeriksaan;
● Benar bahwa ahli mendapatkan gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum
Universitas Indonesia, Depok dengan peminatan Hukum Perdata. Ahli
melanjutkan studi Magister di Leiden Law School University Spesalitations on
Civil Law dan pendidikan terakhir ahli yaitu Doctor Hukum di Fakultas Hukum
Universitas Indonesia;
● Benar Bahwa ahli mengatakan disertasi ahli membahas mengenai “Beli Sewa
Sebagai Perjanjian Tak Bernama : Pandangan Masyarakat dan Sikap Mahkamah
Agung Indonesia dan ahli juga menulis beberapa jurnal seperti :Penerapan
Perjanjian Bersama dalam Pemutusan Hubungan Kerja, Perlindungan Hukum
bagi Kreditur pada Perjanjian Jaminan Fidusia dan Keberadaan Asas Pacta Sunt
Servanda dalam Perjanjian Internasional. ahli mengatakan masih ada lagi
beberapa jurnal yang ahli telah buat dan publikasi untuk khalayak masyarakat;
● Benar Bahwa ahli mengatakan bahwa perjanjian investasi yang hanya
disimpulkan secara semata dapat dikatakan sebagai perjanjian yang sah karena
suatu perjanjian yang terjadi, terbentuk, dan tersepakati oleh para pihak dapat
terjadi dalam beberapa cara diantaranya, dengan secara tegas yang dapat
dilakukan dengan mengucapkan kata atau tertulis, ataupun secara diam-diam, baik
melalui suatu sikap atau dengan isyarat. Ahli mengatakan bahwa Subekti
memberikan pengertian hal-hal yang selalu diperjanjikan menurut kebiasaan
dianggap secara diam-diam dimasukkan dalam perjanjian meskipun tidak dengan
tegas dinyatakan. Ahli mengatakan bahwa Yurisprudensi Mahkamah Agung
Republik Indonesia No. 1284/K/Pdt/1998 tertanggal 18 Desember 2000 yang
memberikan kaidah hukum mengenai perjanjian diam diam yaitu “Dibenarkan
adanya suatu perjanjian yang diucapkan saja atau perjanjan diam-diam atau silent
agreement artinya walaupun tidak ada suatu perjanjian namun kenyataan
peristiwa tersebut ada maka kenyataan tersebut disebut perjanjian diam-diam;
● benar Bahwa ahli mengatakan bahwa dasar untuk melayangkan sebuah somasi
adalah untuk memaksa pihak untuk memenuhi perjanjian, atau menuntut
pembatalan perjanjian dan atau penggantian kerugian. .ahli mengatakan bahwa
debitur berada dalam keadaan lalai setelah ada perintah/peringatan agar debitur
melaksanakan kewajiban perikatannya. Ahli mengatakan Perintah atau peringatan
(surat teguran) itu dalam doktrin dan yurisprudensi disebut “somasi“. Somasi
yang tidak dipenuhi –tanpa alsasan yang sah– membawa debitur berada dalam
keadaan lalai, dan sejak itu semua akibat kelalaian wanpestasi menjadi berlaku;
● benar Bahwa ahli mengatakan bahwa ia mengiyakan dan serta merta
menghapuskan perjanjian yang awal karena Novasi. novasi adalah perjanjian
antara debitur dengan kreditur dimana perikatan yang sudah ada dihapuskan dan
kemudian dibuat suatu perikatan yang baru. bentuk novasi berdasarkan kasus
pertanyaan tersebut adalah Debitur dan kreditur mengadakan perjanjian baru
sedangkan perjanjian yang lama dihapuskan, hal ini disebut novasi objektif;
● benar Bahwa ahli mengatakan apabila debitur tidak melakukan apa yang
diperjanjikan maka ia dikatakan wanprestasi. belum mengembalikan uang
perjanjian investasi adalah apa yang belum disanggupi dalam perjanjian tersebut
dan dapat dihukum untuk membayar ganti rugi, biaya dan bunga;
● benar Bahwa ahli mengiyakan dan mengatakan betul, mengapa dapat dikatakan
wanprestasi karena telah memenuhi salah satu unsur wanprestasi yaitu unsur tidak
melakukan apa yang disanggupi yang merupakan debitor tidak melaksanakan
prestasi sama sekali;
● benar Bahwa ahli mengatakan wanprestasi dan tindak pidana penipuan
mempunyai kemiripan. Namun untuk dapat membedakan apakah suatu perkara
dikatakan tindak pidana penipuan atau wanprestasi dapat dilihat dari tempus
delicti atau waktu perjanjian ditutup/kontrak ditutup/ perjanjian kontrak
ditandatangani.. Apabila setelah (post factum) perjanjian ditutup/ditandatangani
diketahui adanya tipu muslihat, rangkaian kebohongan atau keadaan palsu,
martabat dari salah satu pihak maka hal tersebut dikatakan sebagai wanprestasi.
Namun apabila sebelum perjanjian (ante factum) ditandatangani diketahui adanya
tipu muslihat, rangkaian kebohongan, martabat palsu dari salah satu pihak, maka
hal itu dikatakan sebagai tindak pidana penipuan.
Atas keterangan Ahli tersebut dapat kita asumsikan bahwa ada perjanjian Investasi antara
Terdakwa dengan saksi Anjani walaupun Draft Perjanjian Investasi tidak ditandatangani
keduabelah pihak. Bahwa somasi yang dilayangkan Anjani terhadap Terdakwa dilakukan
karena Saksi Anjani merasa Terdakwa sebagai debitur telah lalai dalam melaksanakan
prestasi pada perjanjian investasi diantara mereka. Bahwa diantara Terdakwa dan Anjani
telah terdapat suatu novasi objekti karena Anjani dan Terdakwa sudah sepakat untuk
membatalkan perjanjian investasi diantara mereka dan akibat dari hal tersebut mereka
membuat perjanjian baru mengenai pengembalian dana investasi. Bahwa pada perjanjian
pengembalian dana investasi Terdakwa telah lalai dalam mengembalikan dana investasi
tersebut kepada anjani dan oleh karena itu Terdawka harusnya dinyatakan telah
melakukan wanprestasi bukan tindak pidana penipuan sebagaimana yang diuraikan dalam
surat tuntutan oleh Penuntut Umum. Oleh karena itu perbuatan-perbuatan hukum antara
Terdakwa dengan Saksi Anjani merupakan perbuatan-perbuatan hukum dalam ranah
Hukum Perdata dan akibat hukum yang timbul adalah suatu wanprestasi dari Terdakwa
bukan merupakan suatu Tindak Pidana penipuan.

Keterangan TERDAKWA

Nama: Daniel Ishinaka Tamuro, S.E., 36 tahun, lahir di Jakarta, tanggal 20 Oktober
1979, pekerjaan Direktur Utama PT. SUISSINDO PANDAGA, Agama Kristen,
kewarganegaraan Indonesia.

Menerangkan :

● Benar bahwa terdakwa sewaktu diperiksa dalam keadaan sehat baik jasmani
maupun rohani dan bersedia untuk diperiksa serta akan memberikan keterangan
serta jawaban dengan sebenarnya.
● Benar bahwa terdakwa sewaktu diperiksa mengaku belum pernah dihukum.
● Benar bahwa terdakwa sewaktu diperiksa terdakwa didampingi penasehat hukum.
● Benar bahwa terdakwa mengerti alasan dilakukannya persidangan.
● Benar bahwa terdakwa kenal dengan Saksi Mbop, Edy Yonathan, Jatu Kancana.
● Benar bahwa terdakwa telah mendirikan PT. SUISSINDO PANDAGA dan
menjabat sebagai direktur Utama.
● Benar bahwa terdakwa tidak membenarkan BAP.
● Benar bahwa terdakwa sewaktu diperiksa menerangkan tidak pernah melakukan
Tindak Pidana yang disangkakan dan hanya menjalankan didasarkan pada hal-hal
yang sah dan dibenarkan baik secara profesi maupun secara hukum.
● Benar bahwa menurut terdakwa sewaktu diperiksa adalah sebagai Direktur Utama
PT. SUISSINDO PANDAGA.
● Benar bahwa terdakwa mengatakan mengajak saksi Anjani berinvestasi agar
menjaga hubungan baik dengan terdakwa dan sama-sama sukses.
● Benar bahwa terdakwa mengatakan perjanjian investasi tersebut adalah sebuah
keputusan bersama demi menjaga kelangsungan perusahaan.
● Benar bahwa terdakwa mengunjungi kantor saksi Anjani bersama saksi Indra,
terdakwa menyuruh saksi Indra mempresentasikan mengenai proyek-proyek
baru, target pemasaran di bidang usaha yang baru ini.
● Benar bahwa terdakwa mengatakan saksi Anjani tetap tidak mau melanjutkan
investasinya di PT. SUISSINDO PANDAGA.
● Benar bahwa terdakwa mengatakan saksi Anjani hanya ingin uangnya kembali,
maka dari itu terdakwa dan saksi Anjani membuat perjanjian baru, perjanjian
untuk pengembalian dana investasi dengan jangka waktu pengembalian selama 6
bulan dari perjanjian itu dibuat.
● Benar bahwa terdakwa mengatakan selama 6 bulan tersebut, terdakwa terus
berupaya mengembalikan dana tersebut. Tetapi pengembalian dana tersebut butuh
proses. terdakwa sampai meminjam uang ke orang tua dan teman-teman
terdakwa. Serta mengurus pergantian bidang usaha yang baru dari PT.
SUISSINDO PANDAGA.
● Benar bahwa terdakwa mengatakan butuh dana untuk Lorita TV, seperti
membayar dp-dp, menyewa studio meyewa peralatan-peralatan terkait dengan
Lorita TV tersebut. Jadi dana USD.500.000.00.- sudah terpakai sebagian.
● Benar bahwa terdakwa mengatakan terdapat beberapa hal yang terlupa untuk
disampaikan setelah pertemuan tersebut, tetapi hanya tinggal ada saksi Sabrina
disitu.jadi TERDAKWA menyampaikan kepada saksi Sabrina secara lisan.
● Benar bahwa terdakwa mengatakan sudah merencanakan RUPS tersebut dari
lama, tetapi pada saat ingin melakukan RUPS tersebut waktunya selalu tidak tepat
karena bentrok. Dan ternyata pas setelah menerima somasi baru sempat dilakukan
RUPS tersebut.
Atas keterangan saksi tersebut telah terbukti bahwa terdakwa adalah seorang yang
memiliki watak baik dan dikenal baik oleh masyarakat sebagai pengusaha yang tidak
pernah terbukti melakukan suatu tindak pidana sehingga terbukti bahwa terdakwa bukan
merupakan seorang penjahat. Terdakwa juga belum pernah melakukan tindak pidana
sebelumnya. Perjanjian investasi antara PT Suissindo Pandaga dengan Anjani Pramitha
juga dilakukan terdakwa sebagai kapasitasnya sebagai Direktur Utama PT Suissindo
Pandaga dan merupakan keputusan bersama dari perusahaan. Terdakwa juga telah
beritikad baik dengan mendatangi Anjani Pramitha dengan saksi Indra untuk
memperjelas perjanjian Investasi diantara mereka, lalu pada akhirnya saksi Anjani tetap
tidak mau melanjutkan perjanjian investasi dengan PT Suissindo Pandaga. Oleh karena
itu Terdakwa dengan Saksi Anjani membuat kesepakatan mengenai pengembalian dana
investasi. Selain itu juga terdakwa sudah melakukan upaya-upaya yang layak demi
mengembalikan dana investasi milik Anjani Pramitha. Disamping itu terdakwa juga telah
mengadakan RUPS LB untuk mengubah bidang usaha dari PT Suissindo Pandaga demi
kemajuan perusahaan agar dapat mengembalikan dana investasi saksi Anjani. Oleh
karena itu sangat kecil kemungkinan jika sampai terdakwa mempunyai niat untuk
melakukan penipuan atau penggelapan dari uang saksi Anjani.

I. ANALISIS FAKTA

Bahwa dari fakta-fakta persidangan yang telah kami uraikan di atas tadi, maka dapatlah
kami simpulkan sebagai berikut:

- Bahwa pada terdakwa terlambat melakukan pembayaran pengembalian dana


investasi yang disetor korban.

- Bahwa keterlambatan pembayaran pengembalian dana investasi bukanlah


disebabkan karena perbuatan sengaja melawan hukum yang dilakukan oleh terdakwa
melainkan karena kondisi keuangan perusahaan yang sedang bermasalah.

- Bahwa keuangan perusahaan PT Suissindo Pandaga bermasalah karena dana


perusahaan sebagian digunakan untuk pengembangan pembangunan perusahaan dimana
pengembangan pembangunan perusahaan PT Suissindo Pandaga tersebut dengan
sepengetahuan Dewan Komisaris dan Manager Keuangan perusahaan.

- Bahwa dikarenakan dalam situasi mendesak yaitu keuangan perusahaan, terdakwa


selaku Direktur PT. Sussindo Pandaga melakukan pengembangan pembangunan
perusahaan serta merealisasikan program “Lorita TV” yang di investasikan oleh korban.
- Bahwa atas persetujuan terdakwa dan korban lahirlah perjanjian pengembalian
dana investasi, yang dalam hal ini terdakwa tidak dapat mengembalikan dana tersebut
tepat waktu, maka dalam kasus ini terdakwa cedera janji/wanprestasi. namun menurut
kesaksian saksi-saksi dan terdakwa sendiri, terdakwa mengupayakan mencari bantuan
dan pinjaman untuk mengembalikan uang korban.

II. ANALISIS YURIDIS

Majelis Hakim dan Penasehat Hukum yang kami hormati,

Sidang Pengadilan yang kami muliakan.

- Bahwa kami, Terdakwa melalui Penasehat Hukum Terdakwa, dengan ini


menyatakan tidak sepaham dan tidak sependapat atas uraian pembuktian yang diajukan
oleh Jaksa Penunutut Umum, mengenai Tuntutan Pidana yang dituduhkan kepada
Terdakwa;

- Bahwa pada pembuktian hukum atas dakwaan yang diajukan oleh Jaksa Penunutut
Umum sangatlah memberatkan dan merugikan Terdakwa baik secara moril maupun
materiil, karena dari proses pembuktian dapat dibuktikan jika Terdakwa tidak melakukan
tindakan yang dapat memenuhi unsur-unsur pidana.

- Bahwa dalam pembuktian kami sangat keberatan dengan KETERANGAN


SAKSI YANG DIBACAKAN DI PERSIDANGAN dikarenakan menurut Pasal 185
KUHAP menyatakan “Keterangan Saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan
dalam sidang pengadilan”, sehingga keterangan Saksi yang demikian akan sangat
memberatkan bagi Terdakwa dan tidak dapat diyakini kebenarannya, sehingga mohon
diabaikan.

- Bahwa bilamana tuntutan Jaksa Penuntut Umum tetap dipaksakan, maka yang
terjadi adalah benturan-benturan pertimbangan hukum antara satu dengan yang lainnya,
dan dalam keadaan demikian, sudah barang tentu kebenaran materiil yang ingin
diperoleh, sangatlah jauh dari yang diharapkan, sebab kepentingan hukum bagi pencari
keadilan menjadi sirna karenanya;
- Bahwa sebagaimana yang didakwakan Penunutut Umum kepada Terdakwa,
dimana Terdakwa didakwa dengan dakwaan sebagai berikut;

● Dakwaan Kesatu sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378
KUHP.
● Dakwaan Kedua sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 372
KUHP.

- Selanjutnya apakah dakwaan alternatif Jaksa Penuntut Umum tersebut dapat


dibuktikan secara hukum, agar dapat diketahui bersalah atau tidaknya Terdakwa, maka
untuk itu akan terlebih dahulu dilakukan analisa hukum terhadap dakwaan Jaksa Penuntut
umum tersebut.

Untuk itu akan kami buktikan terlebih dahulu dakwaan kesatu.

Unsur-unsur dalam dakwaan kesatu :

Bahwa TERDAKWA didakwa dalam dakwaan Kesatu sebagaimana diatur dan diancam
pidana dalam Pasal 378 KUHP.

Unsur-unsur dalam dakwaan kedua:

Bahwa TERDAKWA didakwa dalam dakwaan Kesatu sebagaimana diatur dan diancam
pidana dalam Pasal 378 KUHP.

Adapun Unsur-unsurnya sebagai berikut :

● Barang siapa
● Dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara
melawan hukum
● Dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun
rangkaian kebohongan,
● Menggerakkan orang lain utnuk menyerahkan sesuatu kepadanya, atau supaya
memberi hutang maupun menghapus piutang.
Di dalam Surat Tuntutan, Penuntut Umum berpendapat bahwa Terdakwa telah memenuhi
unsur-unsur tindak pidana penipuan berdasarkan Pasal 378 KUHP tersebut di atas. namun
demikian, selaku Penasihat Hukum dari Terdakwa, kami memiliki pendapat yang berbeda
dengan Penuntut Umum, sebagaimana dijelaskan lebih lanjut di bawah ini:

UNSUR PERTAMA: UNSUR BARANG SIAPA TIDAK TERBUKTI

Barang siapa yang dimaksud sesuai dengan ketentuan umum Undang-undang No. 8 tahun
1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana atau KUHAP, adalah orang
perseorangan termasuk korporasi. Barang siapa sebagai subyek hukum yang mampu
bertangguang jawab dan dapat dipertanggunagjawabkan atas perbuatannya, yang dalam
perkara ini adalah TERDAKWA Daniel Ishinaka Tamuro dalam uraian uraian di dalam
surat dakwaan merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Daniel Ishinaka
Tamuro dalam posisinya sebagai direksi dari PT. Suissindo Pandaga sehingga
perbuatannya tersebut harus dipandang sebagai tindakan korporasi dan BUKAN
dilakukan oleh Terdakwa selaku Pribadi.

Menurut doktrin identification theory yang pada pokoknya menyatakan bahwa suatu
korporasi dapat dianggap melakukan tindak pidana secara langsung melalui orang orang
yang sangat berhubungan erat dengan korporasi itu sendiri. Menurut doktrin ini,
perusahaan merupakan suatu kesatuan buatan sehingga hanya dapat bertindak melalui
“agennya” yang dipandang sebagai directing mind alter ego. Perbuatan individu yang
diberi kewenangan untuk bertindak atas nama dan dilakukan untuk dan atas kepentingan
perusahaan adalah mens rea dari perusahaan dan bukan dari individu tersebut.

Merujuk kepada kutipan kutipan di atas, perlu diketahui bahwa terdakwa, selaku Direksi
memiliki tugas untuk bertindak mewakili untuk dan atas nama PT. Sussindo Pandaga
sebagaimana ditentukan dalam Pasal 98 ayat (1) Undang Undang No. 40 Tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas dan Anggaran Dasar PT. Sussindo Pandaga. Dalam hal ini,
apabila tindakan-tindakan tersebut (yaitu tindak pidana penipuan yang diduga merugikan
pihak lain) benar benar terjadi. Terdakwa pada dasarnya tidak memiliki kepentingan dan
tidak mendapatkan manfaat secara langsung atas tindakan tindakan tersebut karena pada
dasarnya, terdakwa tidak bertindak dalam kapasitasnya sebagai pribadi. Dengan
demikian, berdasarkan doktrin Identification Theory, perbuatan terdakwa yang diberi
kewenangan untuk bertindak atas nama dan dilakukan untuk dan atas nama kepentingan
korporasi adalah mens rea dari korporasi dan bukan terdakwa sendiri.

Apabila Penuntut Umum konsisten dengan pengertian dari istilah yang dirujuknya bahwa
“barangsiapa” adalah individu atau perorangan, maka Terdakwa tidak dapat
dipersalahkan atas suatu perbuatan yang dilakukan oleh suatu korporasi, in casu,
perbuatan yang dilakukan untuk dan atas nama sebagai korporasi.

Apabila Penuntut Umum ingin mendakwa Terdakwa secara pribadi atas tindakan yang
dilakukannya untuk dan atas nama korporasi di dalam persidangan, Penuntut Umum
harus membuktikan terlebih dahulu bahwa terdapat unsur meawan hukum di dalam
tindakan-tindakan yang dilakukan Terdakwa secara personal atau pribadi.

Dalam hukum pidana juga tidak berlaku asas vicarious liability atau memindahkan
tanggung jawab. Hal yang demikian berlaku dalam hukum perdata. Maka dari itu jika
ingin memidanakan seseorang atas kesalahan orang lain, itu bertentangan dengan asas
culpabilitas.

Akan tetapi, di dalam persidangan, Penuntut Umum telah gagal membuktikan bahwa
terdapat unsur melawan hukum di dalam tindakan-tindakan yang dilakukan Terdakwa
secara persona (atau pribadi). Bahkan, di dalam Surat Dakwaan, Penuntut Umum
menyatakan dan menguraikan bahwa tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Terdakwa
dilakukan dalam kapasitasnya sebagai Direktur Utama PT. Suissindo Pandaga dan
BUKAN dalam kapasitasnya sebagai pribadi.

UNSUR KEDUA: UNSUR DENGAN MAKSUD UNTUK MENGUNTUNGKAN


DIRI SENDIRI ATAU ORANG LAIN SECARA MELAWAN HUKUM TIDAK
TERBUKTI

a. Unsur Dengan Maksud


Untuk dapat membuktikan unsur “dengan maksud”, Penuntut Umum wajib untuk
membuktikan bahwa, dalam melakukan tindak pidana tersebut, Terdakwa tidak hanya
menghendaki (willen) dilakukannya tindakan tersebut, namun ia juga
menginsyafi/mengetahui (weten) bahwa tindakannya itu dilarang dan diancam pidana
oleh undang-undang (Prof. Dr. Jur. Andi Hamzah, Delik-delik Tertentu (Speciale
Delicten) di dalam KUHP, Jakarta: Sinar Grafika, 2012, halaman 145).

Namun demikian, dalam Perkara Pidana a quo, terlihat jelas bahwa unsur “dengan
maksud” tidak terpenuhi karena, sebagaimana telah diuraikan, seluruh aktivitas yang
dilakukan oleh Daniel Ishinaka Tamuro dilakukan atas perintah dan persetujuan dari
Organ Perusahaan. Maksud dari perbuatan terdakwa melakukan perjanjian Investasi
dengan Anjani Pramitha adalah murni perjanjian bisnis investasi semata, bukan
dimaksudkan untuk menipu Anjani Pramitha sebagaimana diatur dalam Pasal 378 KUHP
dan tindakan yang dilakukan Daniel Ishinaka Tamuro selaku Direktur Utama pada saat
itu bukan merupakan tindakan yang dilarang dan diancam pidana oleh peraturan
perundang-undangan manapun.
b. Unsur Menguntungkan Diri Sendiri atau Orang Lain Secara Melawan Hukum
Dengan dilekatkannya unsur “melawan hukum” di belakang unsur “menguntungkan diri
sendiri atau orang lain” maka perbuatan-perbuatan yang dapat mendatangkan
keuntungan secara sah bagi diri sendiri atau orang lain menjadi tidak dapat
dipidana.

Bahwa unsur menguntungkan merupakan unsur batin yang memberi arah pada perbuatan
menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan
atau kedudukannya. Perbuatan menyalahguanakan kewenangan dan sebagainya itu
ditujukan untuk menguntungkan dIrinya sendiri atau orang lain atau suatu korporasi.
(Nyoman Serikat Putra Jaya, S. H., M. H. , Tindak Pidana Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme di Indonesia, 2000 : 13).

Selanjutnya, Menurut Putusan Hoge Raad 27 Mei 1935 “Pelaku harus mempunyai
maksud untuk menguntungkan diri sendiri secara melawan hukum, dan adalah tidak
perlu adanya pihak lain yang dirugikan. Hakim tidak perlu menerapkan terhadap siapa
kerugian itu dibebankan.” Dalam hal ini kami sebagai Penasehat Hukum Terdakwa
melihat dalam Fakta-Fakta yang ada di persidangan sebelumnya, Penuntut Umum
TIDAK SAMA SEKALI dapat membuktikan perbuatan-perbuatan dari Terdakwa yang
dapat dianggap bahwa Terdakwa mempunyai maksud untuk menguntungkan dirinya
sendiri dalam melakukan hal sebagaimana yang dituntut oleh Penuntut Umum.
Unsur tujuan (doel) tidak berbeda artinya dengan maksud atau kesalahan sebagai maksud
(opset als oogmerek) atau kesengajaan dalam arti sempit seperti yang ada pada
pemerasan, pengancaman maupun penipuan (368, 369, 378 KUHP).

Penuntut umum dalam persidangan harus membuktikan bahwa pelaku mengetahui


perbuatannya itu untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dan harus dibuktikan
bahwa pelaku menghendaki memang perbuatannya itu untuk menguntungkan diri sendiri
atau orang lain. Dalam perkara a quo Daniel Ishinaka Tamuro mengadakan perjanjian
investasi dengan Anjani Pramitha dimaksudkan agar perjanjian tersebut dapat
menguntungkan kedua belah pihak bukan keuntungan demi Daniel Ishinaka Tamuro
semata. Berkaitan dengan perjanjian dalam bisinis memang sudah sepatutnya perjanjian
tersebut menghasilkan win-win solution terhadap para pihak di dalamnya dan hal tersebut
jugalah yang diterapkan Daniel Ishinaka Tamuro kepada Anjani Pramitha terbukti dari
perbuatan Daniel Ishinaka Tamuro yang mengirimkan Draft perjanjian investasi kepada
Anjani Pramitha agar perjanjian tersebut dapat disesuaikan dengan pihak Anjani
Pramitha.

Memperoleh suatu keuntungan atau menguntungkan artinya memperoleh atau menambah


kekayaan yang sudah ada.

Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan, unsur “dengan maksud


menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum” tidak terbukti
karena:

● Bahwa TERDAKWA tidak berniat untuk menguntungkan diri sendiri dengan


jalan menyalahgunakan kewenangannya sebagai direktur utama PT. Sussindo
Pandaga

● Bahwa perbuatan-perbuatan Terdakwa diketahui oleh saksi Eddy Yo selaku


Dewan Komisaris PT. Sussindo Pandaga.
● Bahwa TERDAKWA tidak dengan sengaja melakukan perbuatan melawan
hukum dengan melakukan pemerasan maupun penipuan untuk menguntungkan
dirinya sendiri atau orang lain atau korporasi.
Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan diatas, dapat dilihat secara
jelas bahwa perbuatan-perbuatan Terdakwa diketahui dan disetujui oleh Eddy Yo selaku
Dewan Komisaris yang mana hal tersebut merupakan legitimasi perbuatan-perbuatan
Terdakwa yang dilakukan secara sah tidak melawan hukum.

Kemudian, dari berbagai rumusan tindak pidana, Moeljatno menyimpulkan dan membagi

unsur melawan hukum menjadi 2 (dua) macam, yakni melawan hukum yang objektif dan

melawan hukum yang subjektif. Secara ringkas, melawan hukum yang objektif menurut

Moeljatno adalah melawan hukum yang berkaitan dengan perbuatannya sehingga

menjadikan perbuatan tersebut terlarang, apakah melawan hukum dijadikan unsur

tersendiri atau tidak. Sedangkan melawan hukum yang subjektif merupakan melawan

hukum yang berkaitan dengan segala sesuatu yang ada dalam diri pelaku, maksudnya

adalah suatu perbuatan baru akan menjadi terlarang apabila adanya niat yang buruk dari

pelaku perbuatan tersebut. Sifat melawan hukumnya tidak dinyatakan dari hal-hal lahir,

tetapi digantungkan kepada sikap bathin pelaku.

Pada Halaman 44 Surat Tuntutan, Penuntut umum menguraikan salah satu unsur
menguntungkan diri sendiri secara melawan hukum Terdakwa adalah tidak ada
RUPS atau RUPS LB yang menjadi dasar untuk membagikan keuntungan sebesar 25%
dari Total Saham PT Suissindo Pandaga kepada Anjani dan Menjadikan Anjani Sebagai
Pemegang saham pengendali di perusahaan Terdakwa. Padahal menurut Pasal 91 UU No.
40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) “Pemegang saham dapat juga
mengambil keputusan yang mengikat di luar RUPS dengan syarat semua
pemegang saham dengan hak suara menyetujui secara tertulis dengan
menandatangani usul yang bersangkutan.” Selanjutnya Fakta yang ada
dalam persidangan membuktikan bahwa sebelumnya telah ada persetujuan
sirkuler antara Para pemegang saham dari PT Suissindo Pandaga yakni
Terdakwa sendiri dan Edy yo sebagai Dewan Komisaris Perusahaan mengenai
masuknya dana investasi dari Anjani serta membagikan keuntungan sebesar 25%
dari Total Saham PT Suissindo Pandaga kepada Anjani dan Menjadikan Anjani Sebagai
Pemegang saham pengendali di perusahaan Terdakwa. Maka dari itu, kami selaku
penasehat hukum terdakwa melihat bahwa janji yang dikemukankan terdakwa mengenai
pembagian keuntungan sebesar 25% dari Total Saham PT Suissindo Pandaga kepada
Anjani dan Menjadikan Anjani Sebagai Pemegang saham pengendali di perusahaan
Terdakwa yang tidak didasarkan pada suatu RUPS atau RUPS LB bukanlah suatu bentuk
menguntungkan diri sendiri secara melawan hukum karena hal tersebut sudah sesuai
menurut ketentuan UUPT. Dalam hal ini Penuntut Umum kurang memahami ketentuan
perundang-undangan mengenai Perseroan Terbatas sehingga salah menafsirkan hal
tersebut sebagai bentuk unsur Dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri
secara melawan hukum daripada Terdakwa.
Sifat melawan hukum dalam arti formil jika yang melarang atau mencela adalah hukum
tertulis.

Bahwa dalam kasus ini, TERDAKWA:

● Tidak dapat mengembalikan uang investasi sesuai dengan yang tercantum dalam
perjanjian pengembalian dana investasi.
● Tidak dapat mengembalikan dana investasi yang menjadi hak korban, tanpa
didahului pemberitahuan yang jelas mengenai sebab-sebabnya.
● Keterlambatan pengembalian dana investasi keuntungan bukan merupakan
kesengajaan namun dikarenakan oleh suatu kondisi yang mendesak, oleh
karenanya tidak ada unsur kesengajaan dalam melakukan perbuatan melawan
hukum.

Dengan demikian unsur “yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang
lain secara melawan hukum” tidak terbukti.

UNSUR KETIGA: UNSUR DENGAN MEMAKAI NAMA PALSU ATAU


MARTABAT PALSU, DENGAN TIPU MUSLIHAT, ATAUPUN RANGKAIAN
KEBOHONGAN TIDAK TERBUKTI

Fakta dalam persidangan sudah jelas membuktikan bahwa Terdakwa tidak memakai
nama palsu ataupun martabat palsu dalam mengadakan perjanjian Investasi dengan
Anjani. Hal tersebut dapat dilihat dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) Terdakwa dan
juga Posisi Terdakwa sebagai Direktur Utama di PT Suissindo Pandaga menurut
Anggaran Dasar.
Selanjutnya dalam surat tuntutan, Penuntut Umum hanya menguraikan fakta-fakta
mengenai pemenuhan unsur “Rangkaian Kebohongan” dalam Pasal 378 KUHP. Di
dalam doktrin hukum yang telah kita ketahui bersama, rangkaian kebohongan
adalah serangkaian kata-kata yang isinya mengandung ketidakbenaran atau
tidak sesuai dengan kenyataan (vide R. Soesilo, KUHP Serta Komentar-
komentarnya Lengkap pasal demi Pasal, Bogor: Politea, 1996, halaman 261).
Selanjutnya, menurut yurisprudensi, rangkaian kebohongan adalah rangkaian
kata-kata yang dikatakan seseorang yang menimbulkan kesan seolah-olah
sesuai dengan kebenaran padahal fakta yang sebenarnya tidaklah demikian
(vide HR 19 Januari 1942).

Dalam surat tuntutan, Penuntut Umum menguraikan unsur rangkaian


kebohongan dari Terdakwa berdasarkan prospektus dari PT Suissindo Pandaga
yang pada intinya mengajak investor untuk menanamkan modal sebesar USD
100.000 dalam rangka pengembangan program media televisi yaitu “Lorita TV” dan
investor dijanjikan keuntungan sebesar 25% dari total saham PT Suissindo Pandaga dan
akan dijadikan pemegang saham pengendali pada PT Suissindo Pandaga. Kami selaku
penasehat hukum perlu mengklarifikasi bahwasanya apa yang ada dalam prospektus PT
Suissindo Pandaga tersebut bukanlah suatu kebohongan. Program media televisi “Lorita
TV” memang salah satu proyek yang dicanangkan dan akan dijalankan oleh PT Suissindo
Pandaga pada saat Perusahaan tersebut sudah mendapat pengesahan dari
KEMENKUMHAM terkait perubahan bidang usaha perusahaan menjadi bidang usaha
multimedia. Jadi proyek “Lorita TV” bukan merupakan proyek yang tidak nyata namun
merupakan proyek nyata yang akan ada dikemudian hari. Selanjutnya mengenai janji
untuk memberikan keuntungan sebesar 25% dari total saham PT Suissindo Pandaga dan
akan dijadikan pemegang saham pengendali pada PT Suissindo Pandaga adalah sesuatu
yang benar adanya karena saat Anjani mulai menyetujui kerjasama investasi dengan PT
Suissindo Pandaga, sebagaimana telah diurakian sebelumnya Terdakwa selaku Direktur
Utama PT tersebut telah mendapatkan persetujuan secara sirkuler dari para pemegang
saham Perusahaan untuk memasukan dana investasi dari Anjani serta membagikan
keuntungan sebesar 25% dari Total Saham PT Suissindo Pandaga kepada Anjani dan
Menjadikan Anjani Sebagai Pemegang saham pengendali di perusahaan Terdakwa. Jadi
perlu kami tekankan sekali lagi apa-apa yang tercantum dalam Prospektus PT Suissindo
Pandaga bukanlah merupakan suatu kebohongan.
Dalam surat tuntuan, Penuntut umum memperkuat unsur rangkaian kebohongan dengan
merujuk pada Alat Bukti Draft Perjanjian Kerjasama PT. Suissindo Pandaga dengan PT
Vaneta Pratiwi Investment, Namun pada faktanya dalam persidangan Draft Perjanjian
tersebut tidak ditandatangin oleh keduabelah pihak. Hal tersebut berarti Draft Perjanjian
itu sendir tidak menimbulkan hak dan kewajiban bagi keduabelah pihak serta tidak bisa
dijadikan dasar perjanjian yang mengikat bagi keduabelah pihak. Selanjutnya mengenai
janji untuk memberikan keuntungan sebesar 25% dari total saham PT Suissindo Pandaga
dan akan dijadikan pemegang saham pengendali pada PT Suissindo Pandaga dalam Draft
Perjanjian adalah sesuatu yang benar adanya karena saat Anjani mulai menyetujui
kerjasama investasi dengan PT Suissindo Pandaga, sebagaimana telah diurakian
sebelumnya Terdakwa selaku Direktur Utama PT tersebut telah mendapatkan persetujuan
secara sirkuler dari para pemegang saham Perusahaan untuk memasukan dana investasi
dari Anjani serta membagikan keuntungan sebesar 25% dari Total Saham PT Suissindo
Pandaga kepada Anjani dan Menjadikan Anjani Sebagai Pemegang saham pengendali di
perusahaan Terdakwa.

Selanjutnya untuk memperkuat unsur rangkaian kebohongan, Penuntut umum


menghadirkan saksi Ahli Keuangan ke persidangan yang pada intinya Ahli tersebut
menyatakan “target income yang dijanjikan dalam proyeksi cash flow 2015 PT Suissindo
Pandaga sebesar USD 1,073,456 (satu juta tujuh puluh tiga ribu empat ratus lima puluh
enam dollar Amerika) tidak mungkin tercapai, mengingat perusahaan juga sedang
mengalami kesulitan keuangan saat itu, yaitu mengalami kerugian sebesar Rp.
22.000.025.000 (dua puluh dua milyar dua puluh lima ribu rupiah)”. Kami selaku
penasehat hukum Terdakwa merasa keberatan atas kalimat kutipan pada surat tuntutan
diatas, Menurut kami pernyataan baik Ahli Keuangan maupun Penuntut Umum terlalu
Asumtif mengenai target income perusahaan. Pertama, dalam persidangan Ahli keuangan
hanya membuat perhitungan berdasarkan ROE (Return of Equity) yang dalam ilmu
ekonomi ROE tersebut adalah rasio profitabilitas dari sudut pandang investor, bukan dari
sudut pandang perusahaan. serta masih banyak faktor-faktor yang tidak diperhitungkan
dalam ROE sehingga perhitungan tersebut tidak bisa menjadi acuan yang valid untuk
menghitung target income dari PT Suissindo Pandaga.

UNSUR KEEMPAT: UNSUR MENGGERAKKAN ORANG LAIN UNTUK


MENYERAHKAN BARANG SESUATU KEPADANYA, ATAU SUPAYA
MEMBERI HUTANG MAUPUN MENGHAPUSKAN PIUTANG TIDAK
TERBUKTI
Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di dalam persidangan, unsur “menggerakkan
orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu, memberi hutang dan menghapuskan
piutang” tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. Berikut penjelasannya:
Unsur menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu tidak terbukti secara
sah dan meyakinkan. Dalam perbuatan menggerakan orang lain untuk menyerahkan
barang diisyaratkan adanya hubungan kausal antara alat penggerak dan penyerahan
barang. hal ini di pertegas oleh Hogeraad dalam aresset nya tanggal 25 Agustus 1923
(Soenarto Soerodibroto, 1992:242) Bahwa: “harus terdapat suatu hubungan sebab
musabab antara upaya yang digunakan dengan penyerahan yang dimaksud dari itu.
penyerahan suatu barang yang terjadi sebagai akibat penggunaan alat-alat penggerak
dipandang belum cukup terbukti tanpa menguraikan pengaruh yang ditimbulkan karena
dipergunakannya alat-alat tersebut menciptakan suatu situasi yang tepat untuk
menyesatkan seseorang yang normal, sehingga orang tersebut terpedaya karena nya, alat-
alat penggerak itu harus menimbulkan dorongan dalam jiwa seseorang sehingga orang
tersebut menyerahkan suatu barang.”
berangkat dari hal tersebut, apabila dikaitkan oleh surat tuntutan penuntut umum dan
keterangan-keterangan didalam persidangan, korban melaukan investasi dengan terdakwa
karena adanya prospektus dari PT Suissindo Pandaga yang pada intinya
mengajak investor untuk menanamkan modal sebesar USD 100.000 dalam
rangka pengembangan program media televisi yaitu “Lorita TV” dan investor dijanjikan
keuntungan sebesar 25% dari total saham PT Suissindo Pandaga dan akan dijadikan
pemegang saham pengendali pada PT Suissindo Pandaga. seperti yang telah kami
terangkan di unsur ke tiga penasehat bahwasanya apa yang ada dalam prospektus PT
Suissindo Pandaga tersebut bukanlah suatu kebohongan. sehingga alat penggerak tersebut
tidak dapat dijadikan suatu dasar korban tergerak untuk menyerahkan uang kepada
terdakwa dan menjadi dasar kepercayaan korban, karena menurut fakta dipersidangan
setelah menerima prospektus dari terdakwa korban melakukan Financial Due Diligence
(FDD). Hal tersebut merupakan kesepakatan antara korban dan terdakwa, dan terdakwa
pun tidak pernah menghalang-halangi jalan nya FDD tersebut di perusahaan milik
terdakwa yaitu PT. Sussindo Pandaga.
melihat fakta-fakta tersebut, kami selaku penasihat hukum terdakwa tidak melihat adanya
hubungan atau cara antara yang menggerakan dan alat penggeraknya dengan seseorang
yang tergerak karena hal tersebut, yang dalam kasus ini adalah terdakwa dan prospektus
PT. Sussindo Pandaga dengan korban.

TERBUKTI BAHWA PERISTIWA-PERISTIWA YANG DIURAIKAN DI


DALAM SURAT DAKWAAN BUKAN MERUPAKAN TINDAK PIDANA,
MELAINKAN PERISTIWA YANG TERMASUK KE DALAM RUANG
LINGKUP HUKUM PERDATA SEHINGGA PERISTIWA TERSEBUT
SEHARUSNYA DISELESAIKAN MELALUI MEKANISME HUKUM PERDATA

● Sesuai dengan penjelasan kami pada bagian Pendahuluan Nota Pembelaan


(Pledooi) ini, permasalahan yang berujung kepada Perkara Pidana a quo bermula
dari sengketa perdata antara Daniel dan Anjani terkait dengan Perjanjian
Pengembalian Dana Investasi. Sebagaimana kita ketahui bersama, suatu
perjanjian adalah hubungan keperdataan antara pihak-pihak yang terikat di
dalamnya. Apabila salah satu pihak melanggar janji yang disepakati di dalam
perjanjian, maka hal tersebut merupakan peristiwa cidera janji (wanprestasi).
Oleh karena itu, apabila Daniel benar telah melakukan ingkar janji terhadap
Perjanjian Pengembalian Dana Investasi yang mungkin mengakibatkan kerugian
terhadap Anjani, maka hal tersebut merupakan sengketa perdata yang
penyelesaiannya harus dilakukan melalui mekanisme hukum perdata dan tidak
termasuk lingkup permasalahan yang harus diselesaikan melalui hukum pidana.
● Sesuai penjelasan di atas, sengketa yang berasal dari kontrak/perjanjian
merupakan sengketa yang harus diselesaikan melalui upaya hukum perdata, bukan
pidana juga diterapkan secara konsisten oleh pengadilan di Indonesia, antara lain,
melalui putusan-putusan sebagai berikut:
(i) Putusan MARI No.39 K/Pid/1984 tanggal 28 Agustus 1984
“Hubungan hukum yang terjadi antara terdakwa dengan saksi merupakan
hubungan perdata dalam bentuk perjanjian jual beli dengan syarat pembayaran dalam
tempo 1 (satu) bulan, yang tidak dapat ditafsirkan sebagai tindak pidana penipuan ex
pasal 378 KUHP”
(ii) Putusan Pengadilan Negeri Garut No. 41/PID.B/2014/PN.Grt tanggal 2 Juli
2014
“Menimbang bahwa meskipun benar adanya bahwa telah terjadi suatu
perbuatan dimana terdakwa tidak melaksanakan kewajibannya untuk melakukan
pemayaran sejumlah utang kepada PT. Harta Dinata Abadi atas pengambilan
sejumlah perhiasan emas sehingga menimbulkan kerugian bagi pihak saksi korban,
namun kerugian tersebut lahir akibat dari adanya perikatan dalam lapangan hukum
perdata, sehingga harus dituntut pemenuhannya melalui jalur tuntutan perdata;
“Menimbang bahwa berdasarkan beberapa Yurisprudensi Mahkamah Agung
antara lain: No. 1060 K/Pid/1990, 411 K/Pid/1992 dan 449 K/Pid/2001 yang antara
lain isi pertimbangannya berisi bahwa jika dalam perbuatan yang dilakukan
mengandung hubungan hukum perjanjian maka perbuatan tersebut bukan
merupakan tindak pidana dan oleh karena itu terdakwa harus dilepaskan dari segala
tuntutan hukum;”
(iii) Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No. 550/Pid.B/2014/PN.Jkt.Sel
tanggal 29 Oktober 2014
“Menimbang, bahwa hubungan hukum antara TERDAKWA dan saksi
BUDIMAN berawal dari suatu perikatan/perjanjian pengikatan pengalihan hak atas
unit apartemen aquo yang dituangkan dalam perjanjian pengalihan atas unit
apartemen Senopati suites 6B. Bahwa dalam perjanjian tersebut telah diatur
mekanisme pembayaran, penyerahan unit dan pengalihan hak kepemilikannya antara
TERDAKWA dan saksi BUDIMAN, Majelis Hakim berpendapat perbuatan tersebut
tidak termasuk dalam lingkup tindak pidana yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut
Umum tetapi merupakan perbuatan yang diatur dalam ranah hukum perdata.”

Tidak pantasnya perkara a quo diselesaikan melalui jalur hukum pidana semakin terlihat
dari fakta-fakta yang diuraikan oleh Penuntut Umum di dalam Surat Tuntutan yang
sebagian besar merujuk kepada pasal/klausul yang diatur di dalam Draft Perjanjian
Investasi dan Perjanjian Pengembalian Dana Investasi dan terkait pelaksanaan kewajiban
Daniel berdasarkan Perjanjian Pengembalian Dana Investasi. Berikut kutipannya:
(i) Halaman 4 Surat Tuntutan
“...

III. PERMOHONAN
Berdasarkan seluruh penjelasan di atas dan fakta-fakta yang terungkap di dalam
persidangan, telah terbukti bahwa tidak terdapat satupun unsur di dalam Pasal 378 KUHP
yang dipenuhi oleh tindakan-tindakan Terdakwa yang tercantum di dalam Surat Dakwaan
maupun Surat Tuntutan. Selanjutnya, kami juga mohon pertimbangan Majelis Hakim
yang terhormat bahwa (i) Terdakwa selalu bersikap kooperatif dan sopan selama proses
pemeriksaan Perkara Pidana ini berlangsung, (ii) Terdakwa selalu datang lebih awal
untuk menghadiri seluruh proses persidangan tersebut, dan (iii) Terdakwa merupakan
sosok yang taat hukum dan tidak pernah dijatuhi pidana.

Dengan demikian, kami mohon agar Majelis Hakim yang terhormat untuk memutuskan
dan menetapkan Putusan Akhir sebagai berikut:

1. Menyatakan Terdakwa Daniel Ishinaka Tamuro tidak terbukti secara sah dan
meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana: “menguntungkan diri sendiri atau orang
lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan
tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk
menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang rnaupun
menghapuskan piutang” sebagaimana dimaksud di dalam Pasal 378 KUHP.

2. Membebaskan Terdakwa Daniel Ishinaka Tamuro dari Dakwaan Penuntut Umum;


atau melepaskan Terdakwa Daniel Ishinaka Tamuro dari segala tuntutan hukum;
atau menyatakan Surat Tuntutan Penuntut Umum tidak dapat diterima;
atau menyatakan Surat Dakwaan Penuntut Umum batal demi hukum;
atau setidak-tidaknya menyatakan Surat Dakwaan Penuntut Umum tidak dapat diterima;

3. Memulihkan segala hak, harkat, martabat, kemampuan dan kedudukan Terdakwa


Daniel Ishinaka Tamuro; dan

4. Membebankan biaya perkara ini kepada negara.

Atau

Apabila Majelis Hakim yang terhormat berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-
adilnya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku (ex aequo et bono).