Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian


Disiplin ilmu geokimia organik atau petroleum telah mengalami perkembangan
beberapa tahun belakangan. Geokimia organik yang diketahui saat ini bermula pada awal
tahun 1930-an yang merupakan hasil penelitian dari Triebs pada identifikasi porfirin
dalam crude oil. Dari penelitian ini, ia menyatakan bahwa terdapat kontribusi hewan
berupa material organik dalam crude oil. Pada akhir tahun 1960-an, Eglinton dan Calvin
mempunyai ide untuk menggunakan senyawa organik dalam fosil kimia atau biological
marker. Senyawa tersebut mempunyai precursor yang memiliki hubungan dan dapat
digunakan untuk menentukan keberadaan tipe spesifik material organik dalam sedimen,
batuan induk, crude oil atau sampel geologi lain.
Salah satu strategi yang penting dalam eksplorasi minyak bumi untuk mengurangi
tingkat kegagalan adalah dengan menggunakan data geokimia organik untuk eksplorasi
hidrokarbon. Aplikasi data geokimia organik yang paling utama adalah untuk
mengidentifikasi sumber material organik di dalam batuan sehingga dapat digunakan
untuk menafsirkan lingkungan pengendapan batuan sedimen. Pada saat ini fosil
geokimia (biomarker) merupakan komponen dari geokimia organik yang memegang
peranan penting di dalam eksplorasi hidrokarbon.
Biomarker juga merupakan indikator terbaik untuk mengenal kondisi perubahan
biologi, kimia, dan fisika terhadap organisme akibat perubahan yang signifikan oleh
panas selama proses pengendapan dan penimbunan sedimen berlangsung atau disebut
proses diagenesis, kematangan termal batuan induk dan minyak bumi (katagenesis), serta
derajat biodegradasi. Biomarker telah dibuktikan sangat berguna dalam memecahkan
variasi permasalahan eksplorasi.
1.2. Maksud dan Tujuan
Maksud dilakukannya penelitian untuk Tugas Akhir ini adalah untuk melakukan
analisa geokimia organik yang selanjutnya digunakan dalam mempelajari lingkungan
pengendapan batuan sedimen berdasarkan pada sebaran fosil geokimia daerah penelitian.
Sedangkan tujuan dilakukannya penelitian untuk Tugas Akhir ini adalah :
1. Menentukan biomarker berdasarkan analisis GC (Gas Chromatography) dan analisis
GC – MS (Gas Chromatography – Mass Spectrometry) dengan menggunakan m/z
217 dan m/z 191.
2. Menentukan asal sumber dari batuan induk berdasarkan analisis terhadap biomarker.
3. Menentukan lingkungan pengendapan batuan induk daerah penelitian.

1.3 Waktu dan Lokasi Penelitian

Kegiatan penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan, terhitung dari bulan
Januari– Februari 2017 bertempat di PT. PETROCHINA INDONESIA.
Data yang dipergunakan pada penelitian ini merupakan data dari sumur - sumur
pemboran yang berasal dari Cekungan “X”, Lapangan “Y”, Propinsi “Z”.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Biomarker Sebagai Indikator Lingkungan Pengendapan.


Istilah fosil geokimia pertama kali dicetuskan oleh Eglinton dan Calvin (1967)
untuk mendeskripsikan senyawa organik pada geosphere dimana rangka karbonnya
mempunyai hubungan dengan produk asalnya. Istilah-istilah lain seperti biological
markers, biomarkers juga digunakan untuk mendeskripsikan senyawa ini. Biomarker
sendiri (Eglinton et. al., 1964 ; Eglinton dan Calvin, 1967) adalah molekul fosil, yang
berarti suatu senyawa yang dihasilkan dari organisme hidup. Biomarker juga diartikan
sebagai senyawa organik komplek yang terdiri dari karbon, hidrogen, dan elemen lainnya,
yang dapat ditemukan di batuan sedimen dan hanya menunjukkan perubahan struktur
yang kecil atau tidak ada perubahan sama sekali dengan molekul organik asalnya pada
organisme hidup.
Keterdapatan biomarker pada suatu batuan dikarenakan struktur dasar dari
biomarker yang tersisa dalam batuan tersebut utuh dan lengkap meskipun telah melewati
proses sedimentasi dan diagenesis. Diagenesis sendiri mengacu kepada perubahan secara
biologi, fisika, dan kimia pada material organik dalam sedimen sebelum mengalami
perubahan signifikan yang disebabkan oleh pemanasan. Pada batuan sedimen yang telah
mengalami diagenesis, material organik akan terdiri dari kerogen, bitumen, dan jumlah
kecil dari gas hidrokarbon. Kerogen adalah adalah unsur utama organik dari batuan
sedimen yang tidak dapat larut dalam pelarut cair maupun pelarut organik biasa, yang
terdapat pada jenis batuan carbonaceous shale dan oil shale (Breger, 1961). Kerogen
terdiri atas campuran maseral, sedangkan maseral pengertiannya adalah sisa – sisa
material organik yang berbeda jenis dan dapat dikenali serta dibedakan dibawah
mikroskop berdasarkan morfologinya. (Stach et. al., 1982). Maseral dapat dianalogikan
seperti mineral dalam matriks batuan. Bitumen terdiri atas hidrokarbon in-situ dan
senyawa organik lain yang tersebar dalam batuan sedimen berbutir baik yang dapat
diekstraksi dengan pelarut organik. Biomarker ditemukan bebas pada bitumen dan
kerogen dalam batuan induk petroleum. Biomarker juga terdapat pada minyak (Crude
oils) yang bermigrasi dari batuan induk fine-grained menuju batuan reservoir. Istilah
petroleum mengacu kepada material cair, padat, dan gas yang komposisinya didominasi
oleh senyawa kimia dari karbon dan hidrogen, termasuk bitumen, gas hidrokarbon, dan
minyak.
Setelah mengalami proses diagenesis, maka material organik akan mengalami
proses yang dinamakan katagenesis, yaitu suatu proses dimana material organik
mengalami perubahan secara termal oleh penimbunan dan pemanasan pada range sekitar
50 – 150 oC dibawah kondisi yang membutuhkan waktu jutaan tahun. Selama katagenesis
biomarker mengalami perubahan struktur yang dapat digunakan untuk mengukur batas
pemanasan dari sedimen induknya.
Setelah katagenesis, maka proses yang selanjutnya terjadi adalah metagenesis,
yaitu dimana molekul organik mengalami perekahan menjadi gas pada range temperatur
150 – 200oC. Pada fase ini konsentrasi beberapa biomarker akan mengalami pengurangan
atau bahkan tidak ada sama sekali, hal ini dikarenakan ketidakstabilan biomarker di
bawah kondisi ini. Tapi hanya beberapa biomarker saja yang berkurang atau hilang sama
sekali, sedangkan sebagian besar biomarker mempunyai resistansi yang tinggi terhadap
biodegradasi, oleh karena itu biomarker sangat baik digunakan untuk tool dari analisis
geokimia dan aplikasi untuk arkeologi.
Penjelasan tentang keterkaitan antara input material biologi dan lingkungan
pengendapan dengan beberapa biomarker yang biasa ditemukan dalam batuan induk
ataupun minyak bumi, telah disimpulkan oleh Volkman (1988), dengan diasumsikan
bahwa biomarker tersebut merupakan senyawa yang dominan dalam setiap sampel.
Walaupun tabel tersebut memuat indikator input material biologi dan lingkungan
pengendapan namun dalam penarikan kesimpulan korelasi, material sumber, dan
lingkungan pengendapan harus tetap memperhatikan informasi geokimia yang tersedia,
seperti data isotop, data biomarker lainnya, dan data - data pendukung (Peters and
Moldowan, 1993).
SENYAWA BIOMARKER SIKLIK
Senyawa Sumber Lingkungan Referensi
Biologi Pengendapan
n - Alkana
C15, C19 Alga, Bakteri Danau, Gelpi et. al.,1970
Marine Tissot and Welte, 1984
C27, C29, C31 Tumbuhan tingkat Terestrial Tissot and Welte, 1984
tinggi
Pr / Ph (Tinggi) Alga Oksidasi Didyk et. al., 1978
Pr / Ph (Rendah) Reduksi Ten Haven et. al., 1985
Tumbuhan
SENYAWA BIOMARKER ASIKLIK
Sterana
C27 (Dominan) Alga Marin Huang et al., 1986
C29 (Dominan) Tumbuhan Darat Volkman, 1986 ; 1994
4-metilsterana Dinoflagelata Danau, Marin Brasel et al., 1986
Wolf et al., 1986
Diasterana Alga, tumbuhan Lempung Rubinstein et al., 1975
Dinosterana Dinoflagelata Marin Summons et al., 1987
Terpana
17α - Hopana Bakteri Reduksi s/d Moldowan et al., 1992
Oksidasi
18α – Oleanana Tumbuhan tingkat Terestrial Ekweozor et al., 1979
tinggi Grantham et al., 1983
Bikadinana Tumbuhan tingkat Terestrial Grantham et al., 1983
tinggi Van Aarsen et al., 1990

Tabel jenis – jenis biomarker siklik dan asiklik yang dijadikan sebagai indikator
input biologi dan lingkungan pengendapan (Volkman, 1988).

2.2. Jenis – Jenis Biomarker dan Kegunaannya.


Biomarker yang biasanya terdapat pada fossil fuel adalah alkana, isoprenoid
hidrokarbon, variasi cabang hidrokarbon, substitute cycloheksana, bicycloalkana,
diterpanes, triterpanes, dan sterane. Senyawa lain yang juga biasa digunakan sebagai
biomarker yaitu asam lemak, sterol, alkohol, dan porfirin. Dibawah ini hanya beberapa
biomarker saja yang akan diuraikan secara umum.
Alkana dan n – Alkana biasa ditemukan pada crude oil dengan hanya
menggunakan analisis mass spectrometry (O’Neal dan Hood, 1956) tetapi penyebarannya
sebagai biomarker merupakan hasil dari kandungan konsentrasi relatif tinggi pada
beberapa sampel geokimia, dan mudah untuk dideteksi menggunakan gas kromatografi
tanpa perlu membutuhkan peralatan GC – MS. Distribusi n – Alkana digunakan untuk
beberapa tujuan termasuk didalamnya adalah menentukan sumber dan kematangan dari
batuan induk. n – Alkana tersebar secara luas pada tanaman yang bervariasi dan
organisme lain yang biasanya merupakan kelas penghasil biomarker. Beberapa senyawa
merupakan turunan dari asam lemak alifatis, ester, dan alkohol (Tissot and Welte, 1984),
yang mungkin mengalami defungsionalisasi selama proses pengendapan dan diagenesis
material organik yang menghasilkan n-alkana dengan memberikan karakteristik asal
senyawa itu (Bray and Evans, 1961). Distribusi n – Alkana dengan keunggulan alkana
nomor karbon ganjil dibandingkan alkana nomor karbon genap pada range C25 – C35 dari
daerah gas cromatogram, menunjukkan bahwa ada kaitan dengan tumbuhan tingkat tinggi
yang mengandung lilin (Eglinton dan Hamilton, 1963). Untuk hal yang sama, n-alkana
yang bersumber dari alga memperlihatkan dominasi kisaran C15 – C17, hal ini
menunjukkan indikasi lingkungan marin dan danau. Jumlah relatif n – Alkana dengan
nomor karbon ganjil atau genap, atau CPI digunakan untuk mendapatkan informasi
tentang kematangan relatif dari minyak dan ekstraknya (Cooper dan Bray, 1963).
Asiklik isoprenoida, istilah isoprenoida dalam geokimia dideskripsikan sebagai
molekul jenuh rantai lurus dan bercabang dengan gugus metil (CH 3) pada posisi nomor
atom karbon setiap kelipatan empat. Tiga tipe hubungan utama dari jenis ini telah
ditemukan pada crude oil dan ekstrak batuan induk. Yang paling banyak ditemukan
adalah isoprenoida dengan hubungan head – to – tail, dan yang termasuk didalamnya
adalah farnesane (C15), pristana (C19), phytana (C20) dan homolog lain hingga C40 dan
kemungkinan C45 (Albaiges, 1981). Isoprenoida seperti squalana (Gardner dan
Whitehead, 1972), perhydro – β – carotene (Murphy et. Al., 1967) dan lycopene (Kimble
et. Al., 1974) mempunyai tipe hubungan tail – to – tail pada seri hubungan head – to –
tail. Tipe ketiga isoprenoida yang ditemukan pada bakteri thermophilic (De Rosa et. Al.,
1977) dan crude oil (Moldowan dan Seifert, 1979) adalah hubungan head – to – head dan
anggota dari seri ini pada range C 32 – C40. Isoprenoida dapat dengan mudah dideteksi
dengan menggunakan GC sama seperti n – Alkana, isoprenoida telah secara luas
digunakan pada studi fossil fuel untuk beberapa tujuan termasuk studi karakteristik dan
korelasi (Jackson et. Al., 1975 ; Illich, 1983) dan untuk mendapatkan informasi tentang
lingkungan pengendapannya (Dydik et. Al.,1978).
Rasio pristana terhadap phytana telah digunakan selama beberapa tahun sebagai
indikator lingkungan pengendapan. Hal ini dikemukakan oleh Brooks et. Al. (1969) dan
kemudian dikembangkan oleh Powell dan McKirdy (1973). Dasar pemikirannya bahwa
pristana dibentuk dari phytol melalui reaksi oksidasi yang bervariasi dan dekarboksilasi.
Sedangkan phytana dibentuk melalui hidrogenasi dan dehidrasi dari phytol. Sumber dari
phytol adalah rantai samping dari klorofil dan pembentukan dari pristana terjadi pada
lingkungan oksidasi seperti swampy peat bogs, sedangkan pembentukan phytana terjadi
pada lingkungan tipe reduksi. Apabila sampel dengan rasio Pr/Ph < 1 maka hal itu berarti
sampel itu terbentuk di lingkungan oksidasi sedangkan Pr/Ph > 1 pada lingkungan
reduksi.
Terpana, diyakini bahwa sebagian besar prekursor molekul ini yang terdapat
dalam minyak bumi dan sedimen adalah bakteri (prokaryotik) (Ourisson et. al., 1982).
Beberapa senyawa homolog yang merupakan bagian dari senyawa terpana adalah
trisiklik, tetrasiklik, dan pentasiklik (misalnya hopana).
Trisiklik terpana saat ini diasumsikan mempunyai peran yang penting pada
geokimia dan studi petroleum. Banyak crude oils dan ekstrak batuan induk mengandung
seri homolog dari trisiklik terpana pada range C19H34 hingga C45H86 (Moldowan et. Al.,
1983) yang tinggi. Kisaran C19 – C30 sering ditemukan dalam perconto minyak bumi dan
ekstraks sedimen. Penemuan trisklik terpana pada ekstraks batuan tasmanite
mengindikasikan keterkaitan dengan prekursor alga. Kelimpahan yang besar seri C20
trisiklik terpana mengindikasikan keterkaitan dengan prekursor tumbuhan asal terestrial,
terutama gymnosperm (Noble, 1986). Pada perconto yang berkaitan dengan prekursor
material karbonat, ditunjukkan dengan rendahnya konsentrasi trisklik terpana di atas C 26
bila dibandingkan dengan lingkungan pengendapan lainnya yang mempunyai konsentrasi
yang sama – sama seri homolog C 26 – C30 dan C19 – C25 (Peters dan Moldowan, 1994).
Variasi dalam distribusi relatif dari tiap komponen individu pada seri – serinya yang
ditentukan melalui GC – MS dan MID menjamin bahwa senyawa ini berguna untuk
korelasi.
Pentasiklik terpana adalah kelas dari triterpana yang mempunyai dampak besar
terhadap geokimia petroleum, terutama struktur hopana. Pentasiklik terpana yang
memiliki struktur hopana terdistribusi secara luas diantara bakteri dan cyanobakteri (blue
– green alga) dan juga ditemukan pada beberapa tanaman tingkat tinggi seperti fern.
Senyawa dengan struktur ini bisa digunakan untuk memberikan informasi dalam
menentukan tingkat kematangan batuan induk. Selain hopana, senyawa penting lainnya
yang termasuk dalam kelompok pentasiklik terpana adalah moretana, oleanana, dan
bikadinana.
Biomarker juga mempunyai kekuatan yang lebih dalam menyediakan informasi
detail pada sumber, lingkungan pengendapan, dan kematangan thermal dari batuan induk
melebihi analisis yang biasanya digunakan seperti bulk parameters. Sebagai contoh, bulk
parameters digunakan untuk membatasi beberapa family minyak pada cekungan.
Sedangkan analisis biomarker pada minyak yang telah dipilih digunakan untuk
menentukan variasi fasies organik pada batuan induk untuk setiap family, hasilnya akan
dapat dikenali daerah subgroup minyak. Kegunaan lain dari biomarker adalah untuk
mengkorelasikan dan menjelaskan tingkat kematangan thermal dari minyak yang
terbiodegradasi.
Setelah dilakukan korelasi maka akan dapat dianalisis mengenai sumber atau
input biologi dari senyawa yang didapatkan dari batuan induk, hal ini untuk mengetahui
dimana dahulunya batuan induk tersebut terbentuk, berdasarkan senyawa kimia yang
terdapat dalam batuan induk. Setelah diketahui mengenai dimana batuan tersebut
terbentuk maka akan dapat ditentukan lingkungan pengendapannya.

BAB III
METODE PENELITIAN
Untuk membantu dalam penelitian Tugas Akhir ini maka dilakukan pembagian
tahapan pengerjaan penelitian yang meliputi :
1. Tahap Persiapan Penelitian,
2. Tahap Pengerjaan Penelitian,
3. Tahap Penyusunan Laporan Hasil Penelitian,
4. Tahap Penyajian Hasil Penelitian.

3.1. Tahap Persiapan Penelitian.


Hal – hal yang dilakukan pada tahap ini adalah pembuatan proposal usulan
penelitian serta mengurus masalah perijinan pelaksanaan penelitian pada tempat yang
dituju. Selain hal – hal tersebut dilakukan juga studi pustaka diantaranya melakukan
pengkajian materi penelitian dengan memanfaatkan literatur yang ada seperti textbook,
diktat, ataupun laporan hasil penelitian.

3.2. Tahap Pelaksanaan Penelitian.


Pelaksanaan penelitian terhadap perconto batuan induk akan dilakukan melalui
beberapa tahapan yaitu preparasi perconto batuan, analisis, dan pengolahan data. Tahapan
preparasi meliputi ekstraksi dan fraksionasi. Sedangkan tahapan analisis meliputi analisis
Gas kromatografi (GC) dan Gas kromatografi – Mass Spektrometri (GC – MS).
Gas kromatografi adalah teknik analisis yang digunakan untuk pemisahan
senyawa berdasarkan pada kandungan volatilnya. Melalui gas kromatografi kita akan
mendapatkan informasi kualitatif maupun kuantitatif dari tiap senyawa individu yang
terdapat pada sampel. Parameter Biomarker dari pengukuran GC meliputi :
o Pr / Ph : Pristana / Phytana
o Pr / nC17 : Pristana / nC17
o Ph / nC18 : Phytana / nC18
o CPI : Carbon Prefensi Index
Gambar Skema Sistem Gas Kromatografi
Analisis GC – MS yang biasa digunakan untuk mengevalausi biomarker memiliki
enam tahapan yaitu :
1. Pemisahan senyawa melalui gas kromatografi,
2. Pemindahan senyawa yang telah dipisahkan menuju ruang ionisasi spektrometer
massa,
3. Proses ionisasi,
4. Proses analisis massa,
5. Mendeteksi ion melalui elektron multiplier,
6. Akuisisi, pemrosesan, dan menampilkan hasil data pada komputer.
Sedangkan parameter biomarker dari pengukuran GC – MS yaitu :
Biomarker Terpana (m/z 191)
o Ts / (Tm + Ts) : 18α(H), 21β(H) trisnorneohopana (Ts) / 18 α(H), 21β(H)
trisnorneohopana (Ts) + 17α(H), 21β(H) trisnohorpana (Tm)
o Ol / H : 18α(H) – Oleanana / 17α(H), 21β(H) – Hopana
o M/H : 17β(H),21α(H) – Moretana / 17α(H), 21β(H) – Hopana
o 31 / H : 17α(H),21β(H)–30–homohopana (22S) / 17α(H),21β(H)–
hopana
o 31S / R : 17α(H),21β(H)–30–homohopana (22S) / 17α(H),21β(H)–
30–homohopana (22S), 17α(H),21β(H)–30–homohopana (22R)
o Bik / H : Total Bikadina / C30 hopana
Biomarker Sterana (m/z 217)
o ββ/αα+ββ : C29-5α(H), 14α(H), 17α(H) – sterana
o % C27 : 14α(H), 17α(H) – kolestana (20R)
o %C28 : 14α(H), 17α(H) – ergostana (20R)
o %C29 : 14α(H), 17α(H) – etilkolestana (20R)

3.3. Tahap Penyusunan Laporan Penelitian


Tahap penyusunan laporan penelitian ini direncanakan pada bulan Maret – April
2017.

3.4. Tahap Penyajian Hasil Penelitian


Penyajian hasil penelitian akan disajikan dalam bentuk laporan tertulis dan
presentasi.

DAFTAR PUSTAKA
Tissot. B.P., and Welte. D.H., Petroleum Formation and Occurrence, A New Approach to
Oil and Gas Exploration, Springer-Verlag, Berlin Heidelberg, New York,
1978.
Philp, R.P., Fossil Fuel Biomarkers, Applications and Spectra, Elsevier, Amsterdam -
Oxford – New York – Tokyo, 1985.

Peters, Kenneth. E., and Moldowan, J. Michael., The Biomarker Guide, Interpreting
Molecullar Fossils in Petroleum and Ancient Sediments, Prentice Hall,
Englewood Cliffs, New Jersey, 1993.

A. Ramadhan, Welly., Interpretasi lingkungan Pengendapan Batuan Sedimen Formasi


Talang Akar Di Cekungan Sumatera Selatan Berdasarkan Sebaran Fosil
Geokimia , Laporan Kerja Praktek Jurusan Geologi Universitas Padjadjaran,
Jatinangor, 2005

Keterangan
Warna Merah : Pengetahuan

Warna Hijau : Ilmu Pengetahuan

Penentuan Lingkungan Pengendapan Batuan Induk Formasi “X”


Berdasarkan Sebaran Fosil Geokimia
Usulan Penelitian Skripsi

Tugas Akhir (TA)

Oleh:
Gilang Suryawan
270110150124

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS TEKNIK GEOOGI

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

JATINANGOR
2017

Anda mungkin juga menyukai