Anda di halaman 1dari 6

2.2.

Uraian Bahan
2.2.1 Amonia
Nama Resmi : Amonia
Nama Latin : Ammonia

Struktur Kimia :
Pemerian : Cairan, jernih, tidak berwarna, berbau khas, menusuk
kuat, dan bobot jenis kurang dari 0,90.
Kelarutan : Mudah larut dalam air (Depkes RI, 1979).
BM : 17,03
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat pada suhu tidak lebih dari 25º.
(Kemenkes RI, 2014).
2.2.2 Asam Asetat
Nama Resmi : Asam Asetat
Nama Latin : Acetic Acid

Struktur Kimia :
Pemerian : Cairan, jernih tidak berwana, bau khas, menusuk dan
rasa asam yang tajam.
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, dengan etanol dan
dengan gliserol.
BM : 60,05
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
(Kemenkes RI, 2014).
2.2.3. Asam klorida
Nama Resmi : Asam Klorida
Nama Latin : Hydrochloride acid
Struktur Kimia : H- Cl
Pemerian : Cairan tidak berwarna, berasap, berbau merangsang. Jika di
encerkandengan 2 bagian volume air, asap hilang. Bobot jenis kurang
1,18
Indikasi : Zat pereaksi
BM : 36,46
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
(Kemenkes RI, 2014).
2.2.4. Aquadest
Nama Resmi : Aqua Destilata
Nama Lain : Dihidrogen Monoksida
Struktur Kimia : H2O

Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak berasa.


Kelarutan :-
Indikasi : Pelarut
Berat Molekul : 18,02
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
(Depkes RI, 1979).
2.2.5. Etanol
Nama Resmi : Etanol
Nama Latin : Aetanolium
Struktur Kimia :

Pemerian : Cairan mudah menguap, jernih, tidak berwarna; bau khas


dan menyebabkan rasa terbakar pada lidah. Mudah menguap walaupun
pada suhu rendah dan mendidih pada suhu 78º, mudah terbakar.
Kelarutan : Bercampur dengan air dan praktis bercampur dengan semua pelarut
organik
BM : 46,07
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, jauh dari api.
(Kemenkes RI, 2014).

2.2.6 Rhodamin B
Nama Resmi : Rhodamin B
Nama Latin : Rhodamine B
Struktur Kimia :

Pemerian : Hablur hijau atau serbuk ungu kemerahan.


Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, menghasilkan larutan merah kebiruan dan
berfluoresensi kuat jika diencerkan. Sangat mudah larut dengan etanol,
sukar larut dalam asam encer dan larutan alkali. Larutan dalam asam kuat
membentuk senyawa dengan kompleks antimoni merah muda yang larut
dalam isopropyl eter.
BM : 479,02
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
(Depkes RI, 1995).
I. PROSEDUR PENETAPAN KADAR
3.1. Ammonia
Masukkan dengan cepat sejumlah zat ke dalam wadah bertutup, berdinding tebal (dapat
digunakan botol tahan tekanan) hingga tinggi cairan lebih kurang 20 cm, tutup. Kemudian
dinginkan wadah dan isi hingga suhu 10º atau lebih rendah. Timbang saksama labu Erlenmeyer
125 ml bersumbat kaca yang berisi 35,0 ml asam sulfat 1 N LV. Masukkan pipet ukur ke dalam
amonia yang telah didinginkan, biarkan cairan naik ke dalam pipet tanpa dihisap, angkat pipet dan
bersihkan cairan yang menempel dan buang 1 ml larutan pertama. Letakkan ujung pipet tepat
diatas permukaan asam sulfat 1 N dalam labu Erlenmeyer dan alirkan lebih kurang 2 ml ke dalam
labu. Tutup labu, campur dan timbang kembali untuk memperoleh bobot contoh. Titrasi kelebihan
asam dengan natrium hidroksida 1 N LV menggunakan indikator merah metil LP. Lakukan
penetapan blangko seperti tertera pada Titrasi residual dalam Titrimetri (Kemenkes RI, 2014).
1.2 Asam Asetat
Timbang saksama lebih kurang 6 ml zat dalam labu bersumbat kaca yang telah ditara.
Tambahkan 40 ml air dan titrasi dengan natrium hidroksida 1 N LV menggunakan indikator
Fenolftalein LP (Kemenkes RI, 2014).
1.3 Asam Klorida
Timbang saksama lebih kurang 3 ml zat, di dalam labu bersumbat kaca berisi lebih kurang
20 ml air, yang telah ditara. Encerkan dengan lebih kurang 25 ml air, titrasi dengan natrium
hidroksida 1 N LV menggunakan indikator merah metil LP (Kemenkes RI, 2014)
1.4 Etanol
Keasaman Pada 50 ml zat dalam labu bersumbat kaca, tambahkan 50 ml air yang baru
dididihkan. Tambahkan fenolftalein LP dan titrasi dengan natrium hidroksida 0,020 N sampai
terjadi warna merah muda yang stabil selama 30 detik: diperlukan tidak lebih dari 0,90 ml natrium
hidroksida 0,020 N untuk menetralkan (Kemenkes RI, 2014).
VI. CARA KERJA
6.1 Preparasi Sampel
1 gram sampel
lipstik  Dimasukkan ke dalam Erlenmeyer

Larutan Ammonia 2%

 Dipipet sebanyak 10 ml
 Ditambahkan ke Erlenmeyer
 Dibiarkan selama semalaman

Hasil

Larutan

 Disaring filtratnya dengan menggunakan kertas saring


whatman
 Dipindahkan ke dalam gelas kimia
 Dipanaskan diatas hot plate
Residu dari penguapan

 Dilarutkan dengan 10 ml air yang mengandung asam


(larutan dibuat dengan mencampurkan 10 ml air dengan
asam asetat 10%)

Hasil

Larutan asam

 Dimasukkan benang wol sepanjang 15 cm


 Didihkan selama 10 menit
 Ditunggu sampai pewarna mewarnai benang wol
 Diangkat benang wol
 Di cuci dengan aquadest
Larutan Basa

 Disiapkan (larutan amonia yang dilarutkan dengan alkohol


70%)
 Dimasukkan benang wol

Hasil

6.2 Pembuatan Seri Kadar Rhodamin B


Baku Rhodamin B
 Dilarutkan dengan HCl
 Dibuat seri kadar dengan konsentrasi 1; 2; 3; 4; 5 ppm

Hasil

6.3 Penetapan Kadar Rhodamin B dengan Spektrofotometri UV-Vis


(λ 557 nm)
Larutan seri kadar
 Dimasukkan ke dalam kuvet spektrofotometer UV-Vis
 Dibaca absorbansinya
Sampel

 Dimasukkan kedalam kuvet Spektrofotometer UV-Vis


 Dibaca absorbansinya
 Dihitung kadar Rhodamin B menggunakan kurva kalibrasi

Hasil