Anda di halaman 1dari 12

Soil improvement ( Perbaikan Tanah )

Teknik perbaikan tanah melibatkan perubahan karakteristik tanah dengan tindakan fisik,
seperti getaran, atau dengan inklusi atau pencampuran di tanah bahan yang lebih kuat.
Tujuan dari proses ini adalah sebagai berikut:

1. meningkatkan kapasitas bantalan beban dan / atau kekuatan geser,


2. mengurangi permukiman mutlak dan diferensial atau dalam kasus tertentu,
mempercepatnya,
3. untuk mengurangi atau menghilangkan risiko pencairan jika terjadi gempa bumi atau
getaran besar.

Ruang lingkup penerapan berbagai teknik bergantung terutama pada jenis dan gradasi
tanah yang memerlukan peningkatan.

A. PERBAIKAN DAYA DUKUNG TANAH DENGAN METODA


DYNAMIC COMPACTION & DYNAMIC REPLACEMENT
( Pemadatan dan penggantian yang dinamis )

Metode ini memungkinkan perawatan tanah pada kedalaman, melalui aksi permukaan. Konsolidasi
dinamis memberikan pemadatan tanah granular longgar.

Prinsipnya terdiri dari menjatuhkan, di musim gugur yang berulang, berat beberapa ton dari
ketinggian beberapa sepuluh meter atau lebih.

Di tanah liat, batu ditempatkan di seberang lokasi di bawah massa, membuat penggantian dinamis
menjadi efektif.
Kilang migas dan derivatifnya seperti halnya kilang petrokimia/refinery banyak dibangun didaerah
remote ataupun onshore yang rata-rata kondisi daya dukung tanah alaminya kurang bagus. Daya
dukung tanah yang cukup kuat diperlukan untuk menempatkan pondasi dari equipment-equipment
yang cukup banyak jumlahnya. Dan seperti kita ketahui juga, banyak metode untuk meningkatkan
kualitas daya dukung tanah/tapak pada suatu proyek.

Faktor keekonomian dan penghematan waktu, sedikit banyak menentukan metoda perbaikan tanah
yang akan dipilih, tentunya disamping faktor-faktor lain yang situasional. Dari berbagai pengalaman
lapangan dan engineering yang pernah saya geluti, beberapa metode perbaikan tanah dapat
dilaksanakan sekaligus/sinergikal pada suatu tapak proyek.

Dalam artikel bagian 1 ini, saya akan menyajikan metoda-metoda perbaikan daya dukung tanah yang
dapat dilakukan pada suatu waktu tertentu secara berkesinambungan. Metoda tersebut adalah
Dynamic Compaction/DC (Pemadatan Dinamis) dan Dynamic Replacement/DR. Untuk metoda DR ini
bisa juga disebut metoda kolom batu (Stone Column), nanti akan saya uraikan lebih lanjut.

Metoda DC/DR ini ditemukan oleh Menard (France, 1960). Metoda ini bisa menghemat biaya dalam
mensubtitusi penggunaan pile (tiang pancang) menjadi pondasi dangkal hingga penanggungan
beban tertentu sesuai peningkatan kapasitas daya dukung tanah. Di negara kita Indonesia, mungkin
metoda ini belum banyak diketahui. Tetapi seiring dengan mudahnya informasi yang didapat dan
faktor komparasi dengan metode konvesional lainnya yang dikenal, saya yakin kedepannya metoda
ini bisa jadi pilihan yang patut dipertimbangkan.Terutama untuk kondisi lahan di Sumatera dan
Kalimantan serta Sulawesi. Dimana yang saya tahu, pembukaan lahan untuk eksplorasi dan
pembuatan kilang pengolahan masih mengandalkan teknik pemadatan pola konvensional.

Sedangkan tulisan di bagian 2 nanti akan membahas pelaksanaan Pilot Test dan perhitungan
kekuatan daya dukung tanah setelah pelaksanaan metoda DC dan DR.

1. Metoda Dynamic Compaction (DC)

Secara garis besar, pengertian DC adalah suatu metoda peningkatan kondisi tanah yang dapat
diterapkan pada tanah yang kering, basah/lembab dan jenuh (saturated). Metoda ini bisa juga
diterapkan pada tanah jenuh dengan kandungan butiran halus mencapai hingga 30%. Target DC
dicapai dengan menjatuhkan beban (pounder) dari suatu ketinggian tertentu ke atas permukaan
tanah yang akan dipadatkan. Proses pemadatan ini berlangsung pada sekian banyak jatuhan pada
lahan yang dituju.

a. Prinsip Dasar Peningkatan Tanah

Mengapa bisa terjadi pemadatan hanya dengan menjatuhkan beban? Pounder/beban yang
dijatuhkan pada ketinggian yang sudah ditetapkan akan memberikan impact energy (energy
benturan). Energi benturan ini menciptakan getaran dan mengatur ulang partikel-partikel tanah
yang ada dan mendorong keluar gas dan air terkandung didalam partikel didalam tanah asal. Hal ini
dapat meningkatkan kepadatan tanah lunak. Metoda DC ini selain dapat diterapkan pada kondisi
tanah diatas, dapat juga secara terbatas, -berdasarkan hasil soil investigation tentunya-, pada kondisi
tanah kepasiran, lapisan tanah berbatu lepas, atau tanah hasil pembuangan.

Perilaku tanah setelah diterapkannya metoda DC ini bisa berbeda secara signifikan tergantung
kondisi tanah, seperti apakah tanah tersebut adalah tanah jenuh (saturated soil) ataupun tanah tidak
jenuh (non saturated soil). Dalam halnya tanah tidak jenuh, efek benturan yang muncul adalah
seperti halnya kita melakukan Proctor Compaction Test di laboratorium mekanika tanah.
Sedangkan jika kondisi tanah jenuh, akan terjadi berbagai bentuk gelombang benturan yang
berpusat pada pusat jatuhan beban. Gambar dibawah ini akan bisa memberikan gambaran tentang
gelombang benturan yang dimaksud.

P wave atau gelombang tekan akan merombak struktur partikel tanah akibat Push-Pull Motion dan
meningkatkan tekanan pori. Sedangkan S wave atau gelombang geser memainkan peran menyusun
ulang kepadatan partikel meskipun kecepatan gelombang cukup pelan. Adapun Rayleigh wave
adalah ringkasan dari gelombang geser dan gelombang permukaan yang tersebar dekat dengan
permukaan tanah. Sehingga akibat adanya berbagai macam gelombang yang tercipta oleh karena
beban benturan pounder, akan menghasilkan tekanan tarik dibawah tanah, berujung pada retak
tarik dalam bentuk radial (seperti gambar diatas) pada pusat beban benturan. Retak tarik ini
membuat jalur aliran yang berguna untuk mengeluarkan tekanan pori yang berlebihan dan
membuang air pori dalam tanah jenuh. Hal inilah yang berujung pada peningkatan kapasitas daya
dukung tanah.

Illustrasi diatas adalah perilaku partikel tanah secara mikroskopik selama pemadatan berlangsung
dan setelahnya.

Bagaimana dengan penurunan permukaan tanah? Penurunan tanah tergantung dari pada jenis
tanah dan energi jatuhan/pemadatan yang tercipta. Namun biasanya berkisar 3-8 % dari ketebalan
tanah asal alami, sedangkan untuk reklamasi lahan buangan sekitar 20-30 %. Tekanan pori yang
berlebih terjadi karena jatuhan beban bisa saja masih terjadi bahkan setelah proses jatuhan itu
selesai. Namun tingkat disipasi (penghamburan/penghilangan) tekanan pori berlebih ini sangat
singkat jika dibandingkan dengan metoda pemadatan statis seperti halnya metoda pre-loading.

b. Karateristik Metoda DC

1. Pekerjaan terapan yang cepat dengan tahapan sederhana, penghematan biaya dan sangat
dimungkinkan pelaksanaannya dengan pekerjaan lain pada saat yang sama.

2. Meskipun tergantung dari jenis tanah, kelangsungan pekerjaan lain diatas tanah setelah
peningkatan terjadi sangatlah diijinkan.

3. Dapat diterapkan pada berbagai jenis tanah termasuk jenis tanah hasil
bongkaran/pembuangan, pasir tanah kepasiran (dredging soil), tanah halus, lumpur buangan
maupun hasil pengeboran atau bentonit.

4. Kualitas kerja dapat dikontrol dan hasil yang baik.

5. Tidak bermasalah terhadap lapisan batuan dibawahnya.

6. Tidak memerlukan material khusus.


B. Stone columns ( Kolom batu )

Proses kolom batu adalah perpanjangan vibroflotasi untuk tanah yang mengandung lapisan silty
atau clayey, partikel-partikelnya tidak dapat diatur ulang oleh getaran. Kolom batu memungkinkan
perlakuan jenis tanah ini melalui penggabungan bahan granular (kadang-kadang disebut pemberat)
yang dipadatkan dari bawah ke atas. Kolom ini juga bisa berupa beton atau dibuat dari mortar.
Mereka juga berfungsi sebagai saluran pembuangan dan memungkinkan konsolidasi tanah
disekitarnya dipercepat. Di daerah seismik, mereka bisa mengurangi risiko pencairan tanah.

Metoda DR ini adalah lanjutan dari metoda DC dan biasanya dilaksanakan pada tanah dengan
kandungan lempung dan lapisan lanau sangat tebal serta diketahui dengan metoda DC tidaklah
cukup untuk meningkatkan daya dukung tanah pada kondisi tanah tersebut seperti yang ditargetkan.
Seperti kita ketahui, setelah pounder dijatuhkan berkali-kali akan terbentuk suatu kawah yang
disebut crater. Dalam penerapan metoda DR, crater yang tercipta akan diisi dengan batuan/material
non plastis (berdasarkan pengujian ASTM D 4318), atau batuan alam yang ada dilokasi tanah lunak.
Crater akan terus diisi batuan dengan berulang kali melakukan jatuhan pounder (tamping) hingga
kedalaman yang diinginkan ataupun berhenti ketika crater yang terbentuk sudah tidak bisa lagi
melesak lebih dalam.

a. Prinsip Dasar DR

Secara prinsip, metoda pelaksanaan pada awal pekerjaan sama dengan metoda DC tetapi ada
tahapan kerja yang berkelanjutan yaitu pengisian material kasar kedalam crater yang terbentuk
akibat tamping. Material yang diisikan terus menerus akan membentuk pola seperti kolom
batu, maka dari itulah metoda DR ini dapat pula disebutkan metoda kolom batu. Pada saat
batuan kedalam crater ataupun granular soil (seperti gravel ukuran tertentu misalnya), area
tekanan pada tanah lunak didistribusikan ke kolom batu (stone column/pillar). Sehingga tanah
lunak memadat dan menghasilkan daya dukung yang ditargetkan. Penerapan DR ini
berdasarkan data tanah (hasil dari soil investigation report) yang dilanjutkan pada tahapan
experiment lapangan (seperti halnya uji trial and error) serta dilakukan dengan interval tertentu
berdasarkan rumus yang tertulis berikut ini.
b. Karateristik Metoda DR

1. Sementara kolom DR terbentuk dengan mengisikan material non plastis (batuan pecah, gravel),
terjadi kontraksi dilapisan tanah lunak sekeliling kolom DR. Yang menyebabkan tekanan pori
berlebih terlepas terus menerus. Proses ini pada dasarnya sama dengan dengan teknik
konsolidasi tanah dengan metode pre-loading, hanya saja konsolidasi tersebut terjadi lebih cepat
sekaligus menaikkan daya dukung tanah.

2. Tahanan geser lebih besar terjadi didalam kolom DR dan kekuatan tanah diantara kolom DR
meningkat secara signifikan.

3. Pada saat kolom DR terbentuk didalam tanah setelah proses dilakukan, komposisi kandungan
tanah akan berubah. Pengertiannya yaitu lapisan tanah terdiri dari batuan dan tanah asal yang
mana partikel awal menjadi tersusun ulang. Dalam hal ini tekanan tanah sebagian besar
diakomodasi oleh kolom DR sedangkan tanah asal hanya menderita tekanan lebih kecil.

Gambar illustrasi metoda DR:

Contoh foto pelaksanaan DR dilapangan:


Gambar dibawah adalah contoh crane lengkap dengan pounder (beban).

Gambar dibawah adalah kondisi lapangan seelah dilaksanakan DC dan DR. Crater yang tercipta harus
ditutup dengan urugan/backfill hingga ketinggian level yang disyaratkan dalam Plot Plan.

Contoh hasil tamping dan bentuk crater yang tercipta (cukup besar ukurannya sekitar 2 x 2 m):

C. Vertical drains ( Saluran air vertikal )

Saluran vertikal digunakan untuk memperbaiki tanah halus jenuh. Teknik ini terdiri dari
menggerakkan saluran air prefabrikasi secara vertikal ke tanah, mengikuti grid biasa. Ketika tanah
dimuat, saluran pembuangan membantu evakuasi air pori ke permukaan, memungkinkan
konsolidasi tanah dengan cepat. Biaya tambahan disediakan dengan pengisian pra-pemuatan, atau
dengan metode lainnya.

Preloading dan vertical drain pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kekuatan geser pada
tanah, mengurangi kompresibilitas/kemampumampatan tanah, dan mencegah penurunan
(settlement) yang besar serta kemungkinan kerusakan pada struktur bangunan. Preloading dan
vertical drain umumnya digunakan pada tanah dengan daya dukung yang rendah seperti pada tanah
lempung lembek dan tanah organik. Jenis tanah tersebut biasanya memiliki ciri seperti berikut :
kadar air yang ekstrim, kompresibilitas yang besar, dan koefisien permeabilitas yang kecil. Pada
prinsipnya teknik preloading menggunakan vertical drains merupakan metode perkuatan tanah
dengan cara mengurangi kadar air dalam tanah (dewatering). Biasanya waktu konsolidasi yang
dibutuhkan untuk jenis tanah seperti ini memakan waktu yang lama meski dengan menggunakan
beban tambahan yang besar, sehingga teknik preloading mungkin kurang cocok untuk jadwal
kontruksi yang mepet. Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

(preloading of subsoil)

Jika beban sementara melebihi beban akhir konstruksi maka kelebihan beban tersebut mengacu
kepada beban tambahan (surcharge), dimana dengan menggunakan beban tambahan sementara
(surcharge) yang melebihi beban kerja, tanah akan berada pada kondisi overconsolidated dan
secondary compression untuk tanah overconsolidated akan jauh lebih kecil daripada tanah dengan
normally consolidated. Hal ini akan menguntungkan perencanaan tanah selanjutnya (Chu et all.,
2004).
Dari grafik di atas, dapat dilihat settlement yang terjadi akibat adanya beban tambahan (surcharge)
lebih besar daripada beban rencana (design load) pada selang waktu yang sama. Selain dengan
menggunakan teknik preloading dan menggunakan beban tambahan sementara (surcharge),
peningkatan mutu tanah dapat juga dilakukan dengan menggunakan vertical drains, selain itu waktu
konsolidasi pun juga semakin singkat sebab aliran drainase yang terjadi bukan hanya ke arah vertikal
tapi juga ke arah horizontal. Drain-drain vertikal tersebut dapat diisi dengan dengan pasir atau bahan
lain yang memiliki permeabilitas besar. Untuk saat ini pengembangannya pun sudah beragam, ada
juga yang menggunakan prefabricated vertical drain, berupa bahan geotekstil atau bahan sintetis
sejenisnya.

Perkembangan vertical drains sendiri sudah dimulai sejak tahun 1925, dimana D.J.Moran seorang
insinyur berkebangsaan Amerika memperkenalkan pemakaian drainase dari kolom-kolom pasir
untuk stabilitas tanah pada kedalaman yang besar. Kemudian untuk pertama kalinya instalasi
drainase ini digunakan di California dan seiring dengan berjalannya waktu, tipe drainase ini dikenal
dengan istilah drainase vertikal (vertical drain). Pada tahun 1936, diperkenalkan sistem drainase
menggunakan bahan sintetis oleh Kjellman di Swedia. Setelah di tes di beberapa tempat pada tahun
1937 dengan bahan cardboard, lantas mendapat sambutan yang hangat oleh para ilmuwan. Sejak
saat itu, pengembangan vertical drain dilanjutkan dengan berbagai macam bahan.

Dengan digunakannya prefabricated vertical drains, waktu yang dibutuhkan untuk konsolidasi
melalui teknik preloading pun menjadi semakin singkat dan penurunan/settlement yang terjadi juga
dapat direduksi. Bahkan proses installasi nya pun saat ini sudah semakin berkembang dimana
prefabricated vertical drain dapat mencapai kedalaman 60 m dengan laju 1 m/dt.

Prinsip Vertical Drains

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa tanah lempung lunak memiliki permeabilitas yang
rendah, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan konsolidasi. Untuk
mempersingkat waktu konsolidasi tersebut, drainase vertikal (vertical drains) dikombinasikan
dengan teknik preloading. Vertical drain tersebut sebenarnya merupakan jalur drainase buatan yang
dimasukkan kedalam lapisan lempung. Dengan kombinasi preloading, air pori diperas keluar selama
konsolidasi dan mengalir lebih cepat pada arah horizontal daripada arah vertikal. Selanjutnya, air
pori tersebut mengalir sepanjang jalur drainase vertikal yang telah diinstalasi. Oleh karena itu,
vertical drain berfungsi untuk memperpendek jalur drainase dan sekaligus mempercepat proses
konsolidasi.

(preloading dengan vertical drains)


Metode tradisional yang digunakan dalam pemasangan vertical drains ini yaitu dengan membut
lobang bor pada lapisan lempung dan mengisi kembali dengan pasir yang bergradasi sesuai titik.
Ukuran diameternya sekitar 200 - 600 mm dengan panjang saluran sedalam lebih dari 5 meter.
Karena tujuannya untuk memperpendek panjang lintasan pengaliran, maka jarak antar drainase
merupakan hal yang terpenting.

Berikut adalah berbagai tipe vertical drains dengan masing-masing metode instalasinya :

1. Sand drain, metode penginstalan dengan cara penumbukan (driven or vibratory


displacement type)
Pembuatan drainase pasir dengan metode ini digunakan secara luas karena biayanya relatif
murah, hanya saja metode seperti ini dapat merusak struktur tanah atau bahkan
mengurangi kuat geser tanah.

2. Sand drain, metode penginstalan dengan cara hollow stem continious-flight auger (low
displacement)
Pembuatan drainase pasir dengan metode ini memakai auger melayang menerus dengan
diameter 30 - 50 cm berjarak 2-5 m. Gangguan yang dihadapi biasanya lebih ke arah
rancangan drainase itu sendiri, bagaimana caranya agar drainase yang dibuat memiliki
kapasitas penyaluran air yang baik. Untuk itu, gradasi pasir harus sesuai dengan keperluan.

3. Sand drain, metode penginstalan dengan cara jetted (non-displacement)


Metode dengan semprotan air (jetted) akan memakan waktu yang cukup lama khususnya
untuk menembus lapisan berbutir kasar. Kedalam untuk drainase tipe ini umumnya kecil dari
30 m.
4. Prefabricated sand drain, metode penginstalan dengan cara tumbukan, getaran, auger
melayang,pengeboran
Yang membedakan penggunaan drainase pasir prefabricated yaitu penggunaan bahan kain
berisi material filter, lalu dimasukkan kedalam lubang drainase yang dibuat sebelumnya
apakah itu dengan pengeboran atau cara lainnya.

5. Prefabricated band shaped drains, metode penginstalan dengan driven atau vibratory
closed-end mandrel
Istilah lain yang biasanya digunakan untuk tipe ini yaitu prefabricated vertical drain (PVD),
umumnya berbentuk pita (band-shaped) dengan sebuah inti plastik beralur yang dibungkus
dengan selubung filterterbuat dari kertas atau atau susunan platik tak beranyam (non woven
plastic fabric). Ukuran yang biasa digunakan yaitu lebar 10 cm dan tebal 0.4 cm. Biasanya
gangguan yang disebabkan oleh penggunaan sistem drainase dengan PVD ini lebih kecil
dibanding dengan sistem drainase pasir konvensional.

Alat yang biasanya digunakan untuk membuat lubang drainase dengan PVD ini bernama
'stitcher', seperti yang dapat dilihat dibawah ini.

Adapun beberapa langkah pengerjaan yang dilakukan untuk perbaikan tanah menggunakan vertical
drains, sebagai berikut:

- Uji laboratorium terhadap sampel tanah yang diambil dari titik pengamatan di lapangan
menggunakan alat sondir
- Perencanaan vertical drains dengan menggunakan data yang diperoleh dari uji laboratorium,
seperti Indeks pemampatan (Cc) dan Koefisien konsolidasi (Ch). Lalu ditentukan diameter
drainase, jarak, dan kedalamannya.
- Analisa stabilitas tanah dan settlement/penurunan

Saat ini penggunaan vertical drain juga masih terus dalam pengembangan dan pemahaman secara
lebih dalam lagi.
D. Vibroflottation

Vibroflotasi (kadang-kadang disebut vibrocompaction) diterapkan pada tanah granular dan non-
koheren, seperti pasir dan kerikil. Getaran menginduksi pencairan sesaat dari tanah di sekitar
vibrator. Dalam kasus ini, kekuatan intergranular untuk sementara dibatalkan, dan butir-butirnya
disusun kembali dalam pola yang lebih kompak yang menawarkan karakteristik yang lebih baik.

Teknik ini sering digunakan pada pekerjaan besar untuk densifikasi pengisian hidrolik untuk
reklamasi ..

E. Inclusions

Teknik ini dirancang untuk memberikan dukungan struktural pada semua tanah yang dapat
dikompres. Proses ini memungkinkan pengurangan permukiman dalam batas yang dapat diterima.

Inklusi umumnya vertikal dan disusun dalam grid biasa. Mereka harus menampilkan karakteristik
deformasi dan kekakuan yang sesuai untuk tanah disekitarnya dan strukturnya harus didukung.
Metode yang berbeda dapat digunakan (pengeboran dengan atau tanpa perpindahan, mengemudi,
bergetar) dan berbagai tipe pengisian (pemberat, kerikil, pencampuran tanah semen dan semua
jenis mortar atau beton) dapat digunakan untuk membangun sistem pondasi superfisial dengan
biaya minimal. bila dibandingkan dengan sistem yayasan yang dalam.