Anda di halaman 1dari 7

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

HIPERBILIRUBIN

Untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners Departemen Pediatrik


di Ruang Perinatologi IRNA IV RS dr. Saiful Anwar Malang

Oleh :
Kelompok 1:
Fiddiyah Galuh A. 170070301111090
Hadyarani Wulan 170070301111098
Mala Rozaqo Tio P 170070301111077
Adelita Dwi Aprilia 170070301111060

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : Hiperbilirubin

Sasaran : Ibu dari anak yang di rawat di Ruang Perinatologi dan keluarganya

Tempat : Ruang Perinatologi RSSA

Hari/Tanggal : Kamis, 11 januari 2018

Pukul : 10.00 – 10.30 WIB

1. Latar Belakang
Hiperbilirubin merupakan keadaan dimana kadar bilirubin serum total yang lebih dari
10 % pada minggu pertama dimana ditandai dengan ikterus pada kulit dan sklera.
Hiperbilirubinemia neonatal terjadi pada lebih dari 60% neonatus yang dilahirkan dengan
usia kehamilan tidak normal (pre-term) dan neonatus yang dilahirkan dengan usia
kehamilan normal (term), dan mencapai puncaknya pada 3-5 hari setelah lahir dan
biasanya sembuh setelah 2 minggu. Ikterik (kuning) pada bayi umumnya ditemukan pada
wajah bayi, yang kemudian menyebar ke truncus dan ekstremitas ketika konsentrasi
bilirubin serum meningkat. Karena kebanyakan bayi baru lahir dikeluarkan dari rumah
sakit bersama ibunya setelah 1 – 2 hari setelah lahir, maka penyakit kuning mungkin
tidak terlihat pada saat dikeluarkan dari rumah sakit. Walaupun biasanya merupakan
kondisi yang ringan, namun hiperbilirubinemia jika parah terkait dengan letargi, menyusui
yang buruk, cengeng, sering menangis keras, demam, dan apneu. Akibat terburuk
adalah terjadinya kernikterus yang merupakan kerusakan otak irreversible yang terkait
dengan staining ganglia basal. Untuk itu, perlu penanganan yang tepat dan pengetahuan
tentang hiperbilirubinemia.

2. Tujuan instruksional
a. Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit, ibu bayi dan keluarga dapat
memahami tentang hiperbilirubin
b. Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan,audiens dapat:
1. Menjelaskan pengertian Hiperbilirubin
2. Menjelaskan penyebab Hiperbilirubin
3. Menjelaskan tanda dan gejala Hiperbilirubin
4. Menjelaskan penatalaksanaan Hiperbilirubin

3. Sub Pokok Bahasan


1. Pengertian Hiperbilirubin
2. Penyebab Hiperbilirubin
3. Tanda Dan Gejala Hiperbilirubin
4. Penatalaksanaan Hiperbilirubin
4. Metode :

1. Ceramah

2. Diskusi.

5. Media / Alat :

1. PPT

2. Leaflet

6. Setting tempat

Keterangan :

: Moderator : Failitator : Audience

: Penyuluh : observer

7. Kegiatan Penyuluhan
Tahap Waktu Kegiatan Perawat Kegiatan Klien Metode Media
Pendahuluan 5 menit 1. Memberi salam 1. Menjawab Ceramah -
2. Memperkenalkan diri dan salam dan
menjelaskan kontrak waktu 2. Mendengarka Tanya
3. Menjelaskan tujuan penyuluhan n dan Jawab
dan pokok materi yang akan memperhatika
disampaikan n
4. Menggali pengetahuan audiens 3. Menjawab
tentang perawatan mata dan pertanyaan
mulut bayi
Penyajian 11 Menjelaskan materi: 1. Mendengarka Ceramah LCD
menit 1. Pengertian Hiperbilirubin n dan dan dan
2. Penyebab Hiperbilirubin memperhatika Tanya leaflet
3. Tanda Dan Gejala n Jawab
Hiperbilirubin 2. Mengajukan
4. Penatalaksanaan
pertanyaan
Hiperbilirubin

Penutup 10 1. Penegasan materi 1. Menjawab Diskusi


menit 2. Meminta peserta untuk pertanyaan tanya
menjelaskan kembali materi yang yang diberikan jawab
telah disampaikan dengan oleh penyuluh
singkat menggunakan bahasa 2. Membalas
peserta sendiri salam
3. Memberikan pertanyaan kepada
peserta tentang materi yang telah
disampaikan
4. Menutup acara dan
mengucapkan salam

8. Evaluasi
a. Evaluasi struktur
o Jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan penyuluhan minimal 5 orang
o Penyuluhan menggunakan leaflet
o Penyelenggaraan penyuluhan dilakukan di Ruang perinatology RSSA
o Pengorganisasian dan persiapan kegiatan penyuluhan dilakukan pada hari
sebelumnya
b. Evaluasi proses
o Penyaji mampu menguasai materi penyuluhan yang diberikan
o Peserta mendengarkan ceramah dengan baik dan berkonsentrasi terhadap
materi yang disampaikan oleh pemberi penyuluhan
o Peserta tidak meninggalkan tempat sebelum kegiatan penyuluhan selesai
dilaksanakan
c. Evaluasi hasil
o Post penyuluhan
Sebanyak lebih dari 75% peserta mampu menjawab pertanyaan dari penyaji
9. Materi
(terlampir)
10. Pengorganisasian
Moderator& Fasilitator : Hadyarani Wulan dan Mala Rozaqo
Penyaji : Adelita Dwi A
Observer : Fiddiyah Galuh A.

LAMPIRAN MATERI PENYULUHAN


HIPERBILIRUBIN

1. DEFINISI
Hiperbilirubinemia adalah peningkatan kadar bilirubin serum yang dihubungkan
dengan hemolisis sel darah merah dari bilirubin yang tidak terkonjugasi dari usus kecil,
yang ditandai dengan jaundice pada kulit, sclera mukosa, dan urine (Dwienda & Liva ,
2012). Menurut Wong (2009) hiperbilirubinemia adalah bayi dismatur lebih sering
menderita hiperbilirubinemia dibanding bayi yang bertanya sesuai engan masa
kehamilan. Berat hati bayi dismatur kurang dibandingkan bayi biasa, mungkin
disebabkan gangguan pertumbuhan hati

2. KLASIFIKASI HIPERBILIRUBUN
Hiperbilirubin pada bayi dapat bersifat ikterus fisiologis yaitu terjadi pada bayi baru lahir
setelah 24 jam pertama. Sedangkan, ikterus non fisiologis terjadi sebelum bayi berumur
24 jam (Rustam, 2010). Terdapat beberapa klasifikasi hiperbilirubin, diantaranya adalah:
a. Bilirubin tidak terkonjugasi atau bilirubin indirek (bilirubin bebas) yaitu bilirubin tidak
larut dalam air, berikatan dengan albumin untuk transport dan komponen bebas larut
dalam lemak serta bersifat toksik untuk otak karena bisa melewati sawar darah otak.
b. Bilirubin terkonjugasi atau bilirubin direk (bilirubin terikat) yaitu bilirubin larut dalam air
dan tidak toksik untuk otak.

3. PENYEBAB HIPERBILIRUBIN
Etiologi terjadinya hiperbilirubin pada bayi, dapat dipengaruhi oleh bebrapa faktor, yaitu:
a. Asupan Cairan ASI
Ikterus lebih sering terjadi pada bayi yang memperoleh ASI disbanding bayi yang
memperoleh susu formula. Ada dua macam jaundice yang dapat terjadi sehubungan
dengan ASI Breastfeeding jaundice (5-10% bayi baru lahir) danBreastmilk jaundice
(1% bayi baru lahir)
b. Infeksi atau kerusakan hati dapat memperngaruhi produksi bilirubin di dalam hati.
c. Gangguan fungsi hati ; defisiensi glukoronil transferase, obstruksi empedu/atresia
biliary (Rustam, 2010)

4. MANIFESTASI KLINIS
Ketika kadar bilirubin meningkat di dalam darah, maka wanra kuning atau ikterus
pada bayi akan muncul yang diawali adanya ikterus di kepala kemudian turun ke lengan,
badan, dan akhirnya kaki. Jka kadar bilirubin sudah cukup tinggi, bayi akan tampak
kuning hingga bawah lutut serta telapak tangan (Betz, & Linda, 2009)
CARA PEMERIKSAAN WARNA KUNING
Pemeriksaat Ikterus pada bayi dilakukan dengan menekan jari pada kulit yang akan
diamati dan sebaiknya dilakukan di bawah cahaya atau sinar matahari.

5. PENATALAKSANAAN HIPERBILIRUBIN
Terdapat beberapa penanganan yang dapat dilakukan oleh ibu pada bayinya,
diantaranya adalah:
a. Penanganan dirumah
- Berikan ASI yang cukup, yaitu 8-12 kali/hari
- Lakukan penyinaran oleh sinar matahari di pagi hari (berjemur) (Rustam, 2010)
b. Penanganan Kuning/Jaundice
Segera hubungi dokter bila bayi tampak kuning:
- Timbul dalam 24 jam pertama kelahiran
- Kuning menetap >8 hari pada bayi cukup bulan >2 minggu pada bayi premature
- Pada observasi di rumah bayi tampak kuning sudah menyebar sampai ke
lutut/siku atau lebih.
- Feses bayi berwarna pucat atau keabu-abuan (Wong, 2009)

c. Segera bawa bayi ke unit gawat darurat di Rumah Sakit terdekat


- Jika bayi tampak sakit (menolak untuk minum, tidur berlebihan, atau lengan dan
kaki lemas
- Jika bayi tampak mengalami kesulitan bernapas
- Jika suhu tubuh bayi >37,50C (Dwienda & Liva ,2012)

6. PENCEGAHAN BILIRUBIN
Terdapat beberapa pencegahan yang dapat dilakukan oleh orang tua agar bayi tidak
mengalami hiperbilirubin, diantaranya adalah:
a. Tidak memberikan cairan tambahan secara rutin, seperti air pada bayi yang
mendapat ASI dan tidak mengalami dehidrasi
b. Sering menyusui bayinya minimal 8-12 kali/hari
c. Menunjang bakteri flora normal
d. Merangsang aktivitas usus halus
e. Mencegah sedini mungkin infeksi pada janin dan kekurangan oksigen pada janin di
dalam rahim dan setelah lahir. (Dwienda & Liva ,2012)

DAFTAR PUSTAKA
Wong. 2009. Nursing Care of Infants Children. Mosby Year Boodc Philadelphia.
Rustam M. 2010. Sinopsis Obstetric, Obstetric Fisiologi Obstetris Patologi. Jilid I, Edisi 2.
Editor Delilutan DSOG.
Betz, & Linda. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri edisi 5. Ahli bahasa, Eny Meiliya
Editor edisi bahasa Indonesia, Egi Komara Yudha. Jakarta : EGC
Dwienda O. & Liva M. 2012. Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi/Balita dan Anak Prasekolah
untuk Bidan ed 1. Yogyakarta : ECG