Anda di halaman 1dari 18

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA KASUS KHUSUS :

POST PARTUM BLUES

DI SUSUN OLEH :

KELOMPOK II
KURNIA HARIANI
NAZAMUDIN
RISKA WIJAYANTI
SYAHRONI SAJALI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MATARAM

JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM B

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas
Keperawatan Jiwa 2 dengan judul “Asuhan Keperawatan Jiwa Kasus Khusus : Post
Partum Blues”. Kami berterima kasih kepada Ibu Ni Made Sumartyawati,
S.Kp.,M.Kep Selaku pembimbing yang telah memberikan arahan kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam
makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami
berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami
buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa
saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Mataram, Mei 2018

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Saat ini dalam setiap menit, setiap hari, seorang ibu meninggal
disebabkan oleh komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan, kematian,
persalinan dan nifas. Organisasi Kesehatan dunia ( WHO ) melaporkan bahwa
kematian ibu diperkirakan sebanyak 500.000 kematian disetiap tahun
diantaranya 99% di negara berkembang. Indikator derajat kesehatan dan
kesejahteraan masyarakat adalah menurunkan angka kematian maternal dan
perinatal. Di Indonesia angka kematian maternal dan perinatal masih tinngi.

Angka kejadian baby blues atau postpartum blues di Asia cukup tinggi
dan bervariasi antara 26-85%, sedangkan di Indonesia angka kejadian baby
blues atau postpartum blues antara 50-70% dari wanita pasca persalinan
(Munawaroh, 2008).

Di Indonesia, angka kejadian postpartum blues antara 50-70% wanita


pasca persalinan semula diperkirakan angka kejadiannya rendah dibandingkan
Negara-negara lain, hal ini disebabkan oleh budaya dan sifat orang Indonesia
yang cenderung lebih sabar dan dapat menerima apa yang dialaminya, baik itu
peristiwa yang menyenangkan maupun yang menyedihkan.

Dan dari beberapa penelitian yang telah dilakukan di Jakarta,


Yogyakarta dan Surabaya, ditemukan bahwa angka kejadiannya 11-30 %, suatu
jumlah yang tidak sedikit dan tidak mungkin dibiarkan begitu saja (Sylvia :
2006).
Sudah menjadi kodrat seorang wanita untuk mengandung kemudian
melahirkan, yang tentunya akan sangat menentukan kehidupan selanjutnya.
Kehamilan dan kelahiran anak adalah proses fisiologis, namun wanita
mempunyai risiko terhadap kesehatan fisik maupun mental selama dalam proses
reproduksi tersebut. Kesehatan reproduksi ini tidak hanya sehat secara fisik
tetapi juga meliputi sehat mental dan sosial, tidak hanya bebas dari penyakit
atau gangguan proses reproduksi (Munawaroh, 2008).
Banyak orang menganggap bahwa kehamilan adalah kodrati yang harus
dilalui dan peristiwa alamiah yang wajar tapi bagi wanita yang mengalami hal
tersebut dapat menjadi episode yang dramatis dan traumatis yang sangat
menentukan kehidupannya dimasa datang. Hal tersebut menyebabkan ibu
mengalami stress diiringi perasaan sedih dan takut sehingga mempengaruhi
emosional dan sensivitas ibu pasca melahirkan. ( Suherni et all, 2009 )
Gangguan-gangguan psikologis yang muncul akan mengurangi
kebahagiaan yang dirasakan dan sedikit banyak mempengaruhi hubungan anak-
ibu dikemudian hari. Hal ini bisa muncul dalam durasi yang sangat singkat atau
berupa serangan yang sangat berat selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun
lamanya (Purwanto, 2007).
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana konsep teori post partum blues?
2. Bagaimana asuhan keperawatan jiwa pada Klien dengan post partum
blues?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui bagaimana konsep teori post partum blues
2. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan post partum
blues

BAB II

TINJAUN PUSTAKA

A. DEFINISI POST PARTUM BLUES


Post-partum blues sendiri sudah dikenal sejak lama. Savage pada tahun
1875 telah menulis referensi di literature kedokteran mengenai suatu keadaan
disforia ringan pasca-salin yang disebut sebagai ‘milk fever ‘ karena gejala
disforia tersebut muncul bersamaan dengan laktasi. Dewasa ini, post-partum
blues (PPB) atau sering juga disebut maternity blues atau baby blues
dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan afek ringan yang sering tampak
dalam minggu pertama setelah persalinan atau pada saat fase taking in,
cenderung akan memburuk pada hari ketiga sampai kelima dan berlangsung
dalam rentang waktu 14 hari atau dua minggu pasca persalinan. Baby blues
adalah suatu gangguan psikologis sementara yang ditandai dengan
memuncaknya emosi pada minggu pertama setelah melahirkan. (Siti saleha,
2009 : 48).
Menurut Cunningham ( 2006 ), baby blue adalah gangguan suasan hati
yang berlangsung selam 3-6 hari pasca melahirkan. (Ade benih nirwana,
2011 : 63). Baby blues adalah keadaan di mana seorang ibu mengalami
perasaan tidak nyaman (kesedihan atau kemurungan)/gangguan suasana hati
setelah persalinan, yang berkaitan dengan hubungannya dengan si bayi, atau
pun dengan dirinya sendiri. Ketika plasenta dikeluarkan pada saat persalinan,
terjadi perubahan hormon yang melibatkan endorphin, progesteron, dan
estrogen dalam tubuh Ibu, yang dapat mempengaruhi kondisi fisik, mental
dan emosional Ibu.

B. ADAPTASI PSIKOLOGIS IBU


Satu atau dua hari postpartum, ibu cenderung pasif dan tergantung. Ia
hanya menuruti nasehat, ragu-ragu dalam membuat keputusan, masih
berfokus untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, masih menggebu
membicarakan pengalaman persalinan. Periode ini diuraikan oleh Reva Rubin
terjadi dalam tiga tahap :
1. Taking in
a. Periode ini terjadi 1-2 hari sesudah melahirkan. Ibu pada umumnya
pasif dan tergantung, perhatiannya tertuju pada kekhawatiran akan
tubuhnya.
b. Ibu akan mengulang-ulang pengalamnnya waktu bersalin dan
melahirkan
c. Tidur tanpa gangguan sangat penting untuk mencegah gangguan
tidur
d. Peningkatan nutrisi mungkin dibutuhkan karena selera makan ibu
biasanya bertambah. Nafsu makan yang berkurang menandakan
proses pengembalian kondisi ibu tidak berlangung normal
2. Taking hold
a. Berlangsung 2-4 hari postpartum. Ibu menjadi perhatian pada
kemampuannya menjadi orang tua yang sukses dan meningkatkan
tanggung jawab terhadap janin
b. Perhatian teehadap fungsi-fungsi tubuh (misalnya : eliminasi)
c. Ibu berusaha keras untuk menguasai keterampilan untuk merawat
bayi, misalnya menggendong dam menyusui. Ibu agak sensitive dan
merasa tidak mahir dalam melakukan hal tersebut, sehingga
cenderung menerima nasihat dari bidan karena ia terbuka untuk
menerima pengetahuan dan kritikan yang bersifat pribadi

3. Letting go
a. Terjadi setelah ibu pulang kerumah dan sangat berpengaruh
terhadap waktu dan perhatian yang diberikan oleh keluarga
b. Ibu mengambil tangguang jawab terhadap perawatan bayi. Ia
harus beradaptasi dengan kebutuhan bayi yang sangat
tergantung, yang menyebabkan berkurangnya hak ibu dalam
kebebasan dan berhubungan sosial
c. Pada periode ini umumnya terjadi depresi postpartum
(Bahiyatun, 2009 : 64-65)
C. ETIOLOGI
1. Faktor hormonal berupa perubahan kadar esterogen, progeteron,
prolaktin dan estriol yang terlalu rendah. Kadar esterogen turun secara
bermakna setelah melahirkan, ternyata esterogen memiliki efek supresi
aktifitas enzim nonadrenalin maupun serotin yang berperan dalam
suasana hati dan depresi.
2. Ketidaknyamanan fisik yang dialami wanita menimbulkan gangguan
pada emotional seperti payudara bengkak, nyeri jahitan, rasa mules.
3. Ketidakmampuan beradaptasi terhadap perubahan fisik dan emosional
yang kompleks
4. Faktor umur dan paritas (jumlah anak)
5. Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan
6. Latar belakang psikososial wanita yang bersangkutan seperti tingkat
pendidikan, status perkawinan, kehamilan yang tidak diinginkan, riwayat
gangguan kejiwaan sebelumnya, sosial ekonomi
7. Kecukupan dukungan dari lingkungannya ( suami, keluarga dan reman ).
Apakah suami mendukung kehamilan ini, apakah suami mengerti
perasaan istri, apakah suami/keluarga/teman memberikan dukungan fisik
dan moril misalnya dengan membantu pekerjaan rumah tangga,
membantu mengurus bayi, mendengarkan keluh kesah ibu
8. Stress dalam keluarga missal faktor ekonomi memburuk, peroalan
dengan uami, problem dengan mertua atau orang tua
9. Stress yang dialami wanita itu sendiri misalnya ASI tidak keluar, frustasi
karena bayi tidak mau tidur, nangis dan gumoh, stress melihat bayi sakit,
rasa bosan dengan hidup yang dijalani
10. Kelelahan pasca melahirkan
11. Perubahan peran yang diambil ibu. Sebelumnya ibu adalah seorang istri
tetapi sekarang sekaligus berperan sebagai ibu dengan bayi yang sangat
tergantung padanya
12. Rasa memiliki bayi yang terlalu dalam sehingga timbul rasa takut yang
berlebihan akan kehilangan bayinya
13. Problem anak, setelah kelahiran bayi, kemungkinan timbul rasa cemburu
dari anak sebelumnya sehingga hal tersebut cukup menggangu emosional
ibu. ( Suherni ett all, 2009 : 93-94 )
D. PATHWAYS

 Faktor psikologi ibu


 Faktor keluarga
 Faktor sosek rendah
E.
 Konflik peran
 Faktor Hormonal
 Faktor Bayi
 Faktor penyakit psikologis

Post partum blues

Perubahan psikologi

Sensitivitas
Penambahan keluarga baru

Perubahan emosi

Kebutuhan bertambah

menangis

Penambahan pola peran

gangguan pola tidur

Ansietas Copping t\ efektif


F. TANDA DAN GEJALA
1. Reaksi depresi/sedih
2. Sering menangis
3. Mudah tersinggung (iritabilitas)
4. Cemas
5. Labilitas perasaan
6. Cenderung menyalahkan diri sendiri
7. Gangguan tidur dan gangguan nafsu makan
8. Kelelahan
9. Mudah sedih
10. Cepat marah
11. Mood mudah berubah, cepat menjadi sedih dan cepat pula menjadi
marah
12. Perasaan terjebak, marah kepada pasangan dan bayinya
13. Perasaan bersalah
14. Sangat pelupa
(Suherni ett all. 2009 : 91)

G. PENATALAKSANAAN

Adapun langkah-langkah untuk mengatasi baby blues ini yaitu sebagai


berikut :

1. Komunikasikan segala permasalahan atau hal lain yang ingin


diungkapkan
2. Bicarakan rasa cemas yang dialami
3. Bersikap tulus ikhlas dalam menerima aktivitas dan peran baru
setelah melahirkan
4. Bersikap fleksibel dan tidak terlalu perfeksionis dalam mengurus
bayi atau rumah tangga
5. Belajar tenang dan menarik nafa panjang dan meditasi
6. Kebutuhan istirahat yang cukup, tidurlah ketika bayi tidur
7. Berolahraga ringan
8. Bergabung dengan kelompok ibu-ibu baru
9. Dukungan tenaga kesehatan
10. Dukungan suami, keluarga, teman, teman sesama ibu
11. Konultasikan pada dokter atau orang yang professional, agar dapat
meminimalisir factor resipko lainnya dan membantu melakukan
pengawasan
( Suherni ett all, 2009 : 95 )

Beberapa cara peningkatan support mental yang dapat dilakukan keluarga


diantaranya :

1. Sekali-kali ibu meminta suami untuk membantu dalam mengerjakan


pekerjaan rumah seperti : membantu mengurus bayinya, memasak,
menyiapkan susu dll.
2. Memanggil orangtua ibu bayi agar bisa menemani ibu dalam
menghadapi kesibukan merawat bayi
3. Suami seharusnya tahu permasalahan yang dihadapi istrinya dan
lebih perhatian terhadap istrinya
4. Menyiapkan mental dalam menghadapi anak pertama yang akan
lahir
5. Memperbanyak dukungan dari suami
6. Suami menggantikan peran isteri ketika isteri kelelahan
7. Ibu dianjurkan sering sharing dengan teman-temannya yang baru
saja melahirkan
8. Bayi menggunakan pampers untuk meringankan kerja ibu
9. Mengganti suasana, dengan bersosialisasi
10. Suami sering menemani isteri dalam mengurus bayinya

( http://www.ibudanbalita.com/pojokcerdas/depresi-pasca-melahirkan-

dan-baby-blues/5 )

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Diluar negri skrining untuk mendeteksi gangguan mood/depresi sudah
merupakan acuan pelayanan pasca persalinan yang rutin dilakukan. Untuk
melakukan skrining ini dapat dipergunakan alat bantu berupa Edineburgh Postnatal
Depression Scale (EDPS) yaitu kuesioner yang dengan validita yang teruji yang
dapat mengukur intensitas perubahan suasana depresi selam 7 hari pasca persalinan.
Pertanyaan-pertanyaan berhubungan dengan labilitas perasaan, kecemasan, perasaan
bersalah serta mencakup hal-hal yang terdapat pada postpartum blues atau baby
blues. Kuesioner ini terdiri dari 10 pertanyaan dimana setiap pertanyaan memiliki 4
pilihan jawaban yang mempunyai nilai skor dam harus dip[ilih satu sesuai dengan
gradasi perasaan yang dirasakan ibu pasca salin aat ini. Pertanyaan harus dijawab
sendiri oleh ibu dan rat-rata dapat diselesaiakan dalam waktu 5 menit. Alat ini juga
telah diuji validitasinya di beberapa Negara seperti Belanda, Swedia, Australia,
Italia, dan Indonesia. Edinburgh Postnatal Depression Scale dapat dipergunakan
dalam minggu pertama pasca salin dan bila hasilnya meragukan dpat diulangi
pengisiannya 2 minggu kemudian. (Suherni ett all, 2009 : 96)

I. PENCEGAHAN

Berikut ini beberapa kiat yang mungkin dapat mengurangi resiko baby blues :

1. Pelajari diri sendiri


Pelajari dan mencari informasi mengenai depresi post partum, sehingga
Anda sadar terhadap kondisi ini. Apabila terjadi, maka Anda akan segera
mendapatkan bantuan secepatnya
2. Tidur dan makan yang cukup
Diet nutrisi cukup penting untuk keehatan, lakukan usaha yang terbaik
dengan makan dan tidur yang cukup. Keduanta penting selama periode
postpartum dan kehamilan
3. Olahraga
Olahraga adalah kunci untuk mengurangi emosi postpartum. Lakukan
peregangan selama 15 menit dengan berjalan setiap hari, sehingga
membuat anda merasa lebih baik dan menguasai emosi berlebihan dalam
diri Anda

4. Hindari perubahan hidup sebelum atau sesudah melahirkan


Jika memungkinkan, hindari membuat keputusan besar seperti membeli
rumah atau pindah kerja, sebelum atau setelah melahirkan. Tetaplah
hidup secera sederhana dan menghindari stress, sehingga dapat segera
dan lebih mudah menyembuhkan postpartum yang diderita.
5. Beritahukan perasaan Anda
Jangan takut untuk berbicara dan mengeskpresikan perasaan yang Anda
inginkan dan butuhkan demi kenyamanan Anda sendiri. Jika memiliki
masalah dan merasa tidak nyaman terhadap sesuatu, segera beritahukan
pada pasangan atau orang terdekat
6. Dukungan keluarga dan orang lain diperlukan.
Dukungan dari keluarga atau orang yang Anda cintai selama melahirkan
sangat diperlukan. Certiakan pada pasangan atau orang tua Anda, atau
siapa saja yang bersedia menjadi pendengar yang baik. Yakinkan diri
Anda, bahwa meraka akan selalu berada disisi Anda setiap mengalami
kesulitan
7. Persiapkan diri dengan baik
Persiapan sebelum melahirkan sangatlah diperlukan. Ikutlah kelas senam
hamil yang sangat membantu serta buku atau artikel lainnya yang Anda
perlukan. Kelas senam hamil akan sangat membantu Anda dalam
mengetahui berbagai informasi yang diperlukan, sehingga nantinya Anda
tak akan terkejut setelah keluar dari kamar bersalin. Jika Anda tahu apa
yang diinginkan, pengalaman traumatis saat melahirkan akan dapat
dihindari
8. Lakukan pekerjaan rumah tangga
Pekerjaan rumah tangga setidaknya dapat membantu Anda melupakan
gejolak perasaan yang terjadi selama periode postpartum. Kondisi Anda
yang belum stabil bias Anda curahkan dengan memasak atau
membersihkan rumah. Mintalah dukunga dari keluarga dan lingkungan
Anda, meski pembantu rumah tangga Anda telah melakukan segalanya

9. Dukungan emosional
Dukungan emosi dari lingkungan dan juga keluarga akan membantu
Anda dalam mengatasi rasa frustasi yang menjalar. Ceritakan kepada
mereka bagaimana perasaan serta perubahan kehidupan Anda, hingga
Anda merasa lebih baik
10. Dukungan kelompok depresi post partum
Dukungan terbaik dating dari orang-orang yang ikut mengalami dan
merasakan hal yang sama dengan Anda. Carilah informai menganai
adanya kelompok depresi postpartum yang bias Anda ikuti, sehingga
Anda tidak merasa sendirian menghadapi persoalan ini.
(Siti saleha, 2009 : 67-69)
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM BLUES

A. PENGKAJIAN
Pengenalan gejala mood merupakan hal yang penting untuk
dilakukan oleh perawat perinatal. Rencana keperawatan harus
merefleksikan respons perilaku yang diharapkan dari gangguan tertentu.
Rencana individu didasarkan pada karakteristik wanita dan keadaannya
yang spesifik. Suami atau pasangan wanita tersebut juga dapat mengalami
gangguan emosional akibat perilaku wanita tersebut.
Pengkajian klien post-partum blues menurut Bobak ( 2004 ) dapat
dilakukan pada pasien dalam beradaptasi menjadi orang baru.
Pengkajiannya meliputi :

1. Identitas klien
Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan,
alamat, medical record, dan lain-lain.
2. Dampak pengalaman melahirkan ;
Banyak ibu memperlihatkan suatu kebutuhan untuk
memeriksa proses kelahiran itu sendiri dan melihat kembali perilaku
mereka saat hamil dalam upaya retropeksi diri (Kondrat, 1987).
Selama hamil ibu dan pasangannya mungkin telah membuat suatu
rencana tertentu tentang kelahiran anak mereka, hal-hal yang
mencakup kelahiran pervaginam dan beberapa intervensi medis.
Apabila pengalaman mereka dalam persalinan sangat berbeda dari
yang diharapkan ( misalnya induksi, anastesi epidural, kelahiran
sesar ), orang tua bisa merasa kecewa karena tidak bisa mencapai
yang telah direncanakan sebelumnya. Apa yang dirasakan orang tua
tentang pengalaman melahirkan sudah pasti akan mempengaruhi
adaptasi mereka untuk menjadi orang tua.
3. Citra diri ibu
Suatu pengkajian penting mengenai konsep diri. Citra tubuh
dan seksualitas ibu. Bagaimana perasaan ibu baru tentang diri dan
tubuhnya selama masa nifas dapat mempengaruhi perilaku dan
adaptasinya dalam menjadi orangtua. Konsep diri dan citra tubuh ibu
juga dapat mempengaruhi seksualitasnya. Perasaan-perasaan yang
berkaitan dengan penyesuaian perilaku seksual setelah seringkali
menimbulkan kekahwatiran pada orang tua baru. Ibu yang
melahirkan bisa merasa enggan untuk memulai hubungan seksual
karena merasa takut nyeri atau takut bahwa hubungan seksual akan
menganggu penyembuhan jaringan perineum.
4. Interaksi Orang Tua – Bayi
Suatu pengkajian pada masa nifas yang menyeluruh meliputi
evvaluasi interaksi orang tua dengan bayi baru. Respon orang tua
terhadap kelahiran anak meliputi perilaku adaptif dan perilaku
maladaptive. Baik ibu maupun ayah menunjukan kedua jenis
perilaku. Banyak orang tua baru mengalami kesulitan untuk menjadi
orang tua sampai akhirnya keterampilan mereka membaik. Kualitas
keibuan ataau kebapaan pada perilaku orang tua membantu
perawatan dan perlindungan anak. Tanda-tanda yang menunjukan
ada atau tidaknya kualitas ini, terlihat segera setelah ibu melahirkan,
saat orang tua bereaksi terhadap bayi baru lahir dan melanjutkan
proses untuk menegakkan hubungan mereka.
5. Perilaku Adaptif dan Perilaku Maladaptif
Perilaku adaptif berasal dari penerimaan dan persepsi
realistis orang tua terhadap kebutuhan bayinya yang baru lahir
dengan keterbatasan kemampuan mereka, respon social yang tidak
matur, dan ketidakberdayaannya. Orang tua menunjukan perilaku
yang adaptif ketika mereka merasakan suka cita karena kehadiran
bayinya dank arena tugas-tugas yang diselesaikan untuk dan
bersama anaknya, saat mereka memahami yang dikatakan bayinya
melalui ekspresi emosi yang diperlihatkan bayi dan kemudian
menenangkan bayinya dan ketika mereka dapat membaca gerakan
bayi dan dapat merasa tingkat kelelahan bayi.
Perilaku maladaptif terlihat ketika respon orangtua tidak
sesuai dengan kebutuhan bayinya. Mereka tidak dapat merasakan
kesenangan dari kontak fisik dengan anak mereka. Bayi-bayi ini
cendrung akan dapat diperlakukan kasar. Orang tua tidak merasa
teratrik untuk melihat anaknya. Tugas merawat anak seperti
memandikan atau menganti pakaian dipandang sebagai sesuatu yang
menyebalkan. Orang tua tidak mampu membedakan cara berespon
terhadap tanda yang disampaikan oleh bayi, seperti rasa lapar, lelah
keinginan untuk berbicara dan kebutuhan untuk dipeluk dan
melakukan kontak mata, tampaknya sukar bagi mereka untuk
menerima anaknya sebagai anak yang sehat dan gembira.
6. Struktur dan Fungsi Keluarga
Komponen penting lain dalam pengkajian pasa pasien post
aprtum blues ialah melihat komposisi dan fungsi keluarga.
Penyesuaian seorang wanita terhadap perannya sebagai ibu sangat
dipengaruhi oleh hubungannya dengan pasangannya, ibunya dengan
keluarga lain, dan anak-anak lain. Perawat/bidan dapat membantu
meringankan tugas ibu baru yang akan pulang dengan mengkaji
kemungkinan konflik yang bisa terjadi diantara anggota keluarga
dan membantu ibu merencanakan strategi untuk mengatasi masalah
tersebut sebelum keluar dari rumah sakit.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Koping individu tidak efektif
2. Ansietas
3. Gangguan pola tidur
4.
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
No. Diagnose Tujuan dan Intervensi
keperawatan kriteria hasil
1. Koping individu tidak NOC
efektif · Decision making
Definisi ·: Role inhasmet
Ketidakmampuan untuk
· Sosial support
membentuk penilaian
valid tentang stressor, Kriteria hasil :
ketidakadekuatan 1. Mengidentifikasi

pilihan pola koping yang

respon yang dilakukan efektif

dan/atau ketidak 2. Mengungkapkan

mampuan untuk secara verbal

menggunakan sumber tentang kopIng

daya yang tersedia yang efektif


3. Mengatakan
Faktor Yang penurunan stress
Berhubungan : 4. Klien
1. Gangguan dalam mengatakan
pola penilaian telah menerima
ancaman, melepas tentang
tekanan keadaannya
2. Gangguan dalam 5. Mampu
pola melepaskan mengidentifikasi
tekanan / ketegangan strategi tentang
3. Perbedaan gender koping
dalam srategi koping
4. Derajad ancaman
yang tinggi
5. Ketidakmampuan
untuk mengubah
energi yang adaptif
6. Sumber yang
tersedia tidak
adekuat
7. Dukungan sosial
yang tidak adekuat
yang diciptakan oleh
karekteristik
hubungan
8. Tingkat percaya diri
yang tidak adekuat
dalam kemampuan
mengatasi masalah
9. Tingkat persepsi
kontrol yang tidak
adekuat
10. Ketidakadekuatan
kesempatan untuk
bersiap terhadap
stressor
11. Krisis maturasi,
Krisis situasi, Ragu