Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tulang merupakan alat penopang dan sebagai pelindung pada tubuh. Tanpa
tulang tubuh tidak akan tegak berdiri. Fungsi tulang dapat diklasifikasikan
sebagai aspek mekanikal maupun aspek fisiologikal.

Dari aspek mekanikal, tulang membina rangka tubuh badan dan memberikan
sokongan yang kokoh terhadap tubuh. Sedangkan dari dari aspek fisiologikal
tulang melindungi organ-organ dalam seperti jantung, paru-paru dan lainnya.
Tulang juga menghasilkan sel darah merah, sel darah putih dan plasma. Selain itu
tulang sebagai tempat penyimpanan kalsium, fosfat, dan garam magnesium.

Namun karena tulang bersifat relatif rapuh, pada keadaan tertentu tulang dapat
mengalami patah, sehingga menyebabkan gangguan fungsi tulang terutama pada
pergerakan. Salah satunya adalah fraktur yang terjadi pada tulang radius-ulna,
yaitu Fraktur Antebrachi.

Tulang lengan bawah terdiri dari radius dan ulna. Oleh karena pembentuakan
tulang lengan bawah yang dihubungkan kuat oleh membrane interosseous,
sehingga fraktur salah satu tulang tersebut akan menyebabkan dislokasi pada
tulang lainnya. Umumnya fraktur pada radius ulna terjadi pada bagian tengah,
jarang terjadi fraktur pada salah satu tulang tapi tidak menyebabkan dislokasi
pada tulang lainnya.

Fisioterapi merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan


pada suatu individu atau kelompok untuk mengenbangkan, memelihara dan
memulihkan gerak dan fungsi sepanjang daur kehidupan dengan menggunakan
penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapi, dan
mekanis), pelatihan fungsi dan komunikasi (SK Menkes. No.376, 2007). Oleh
karena itu penulis menganggap perlu untuk mengangkat permasalahan pada kasus
post op fraktur radius sebagai studi khusus pada Stase Radiologi Program Studi
Profesi Fisioterapi Universitas Udayana.
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Anatomi Fisiologi Tulang Lengan

Lengan atas tersusun dari tulang lengan atas, tulang lengan bawah, dan tulang
tangan (Sloane 2003).Fungsi tulang adalah sebagai kerangka tubuh, yang
menyokong dan memberi bentuk tubuh,untuk memberikan suatu sistem
pengungkit, yang digerakan oleh kerja otot-otot yang melekat pada tulang
tersebut, sebagai reservoir kalsium, fosfor, natrium dan elemen-elemen lain, untuk
menghasilkan sel-sel darah merah dan putih dan trombosit dalam sumsum merah
tulang tertentu. (Watson, 2002)

2.1.1 Anatomi Tulang Radius Ulna

Gambar 1. Tulang Radius-Ulna


Adalah ulna sisi medial dan tulang radius disisi lateral (sisi ibu jari)
yang di hubungkan dengan suatu jaringan ikat fleksibel, membrane
interoseus.
a. Ulna
Ulna atau tulang hasta adalah tulang panjang berbentuk prisma yang
terletak sebelah medial lengan bawah, sejajar dengan jari kelingking
arah ke siku mempunyai taju yang disebut prosesus olekrani, gunanya
ialah tempat melekatnya otot dan menjaga agar siku tidak membengkok
kebelakang. Terdapat dua ekstremitas.

Ekstremitas proksima ulnaris, mempunyai insisura semilunaris,


persendian dengan trokhlea humeri, dibelakang ujung terdapat benjolan
yang disebut olekranon.Pada tepi distal dari insisura semilunaris ulna
terdapat prosesus koroideus ulna, bagian distal terdapat tuberositas ulna
tempat melekatnya M. brakialis, bagian lateral terdapat insisura radialis
ulna yang berhubungan dengan karpi ulnaris.

Ekstremitas distalis ulna, yaitu kapitulum ulna yang mempunyai


prosessus stiloideus ulnae.Pada permukaan dorsalis tempat melekatnya
tendo M. ekstensor karpi ulnaris yaitu sulkus M. ekstensor karpi ulnaris.

b. Radius
Radius atau tulang pengumpil, letaknya bagian lateral, sejajar
dengan ibu jari. Di bagian yang berhubungan humerus dataran sendinya
berbentuk bundar yang memungkinkan lengan bawah dapat berputar
atau telungkup.Terdapat dua ujung (ekstremitas).

Ekstremitas proksilis, yang lebih kecil, terdapat pada kaput radii


yang terletak melintang sebelah atas dan mempunyai persendian dengan
humeri.Sirkumferensia artikularis yang merupakan lingkaran yang
menjadi tepi kapitulum radii dipisahkan dengan insisura radialis
ulna.Kapitulum radii dipisahkan oleh kolumna radii dari korpus radii,
bagian medial kolumna radii terdapat tuberositas radii tempat
melekatnya M. biseps brakhii.Korpus radii berbentuk prisma
mempunyai tiga permukaan (fasies).
Ekstremitas distalis radii, yang lebih besar dan agak rata daripada
bagian dorsalis, terdapat alur (sulkus) M. ekstensor karpi radialis.Di
sebelah lateral sulkus M. ekstensor kommunis dan diatara kedua sulkus
ini terdapat sulkus M. ekstensor polisis longus.Sebelah lateralis
ekstremitas lateralis radii terdapat tonjolan yang disebut prosesus
stiloideus radii, bagian medial ditemukan insisura ulnaris radii untuk
persendian dengan kapitulum.

2.1.2 Pergerakan pergelangan tangan dan gerakan

Pergerakan pergelangan tangan, gerakannya adalah sebagai berikut :

1. Flexi – 800
2. Ekstensi – 700
3. Deviasi Ulna / Medial – 300
4. Deviasi Radial / Lateral – 200
5. Pronasi – 900
6. Supinasi - 90

Derajat deviasi ulna > deviasi radial karena permukaan articular distal dari
radius lebih kaku dan ligamen bag.dorsal lebih lentur dari ligamen bagian
Palmar. Pergerakan barisan tulang carpal pada radius dan lig.triangulare
adalah pergeseran.

1. flexi ke arah palmar  os carpal bergerak ke arah dorsal


2. abduksi radial os carpal bag. proximal bergeser ke arah ulnar.
3. otot – otot flexor ulna bekerja pada deviasi ulna sendi pergelangan
tangan
4. 2 buah otot extensor radial (m. extensor carpi radialis longus dan brevis)
bekerja untuk menyeimbangkan deviasi ulna. Jika otot extensor
paralisis, tenaga otot flexor terpengaruh juga menjadi lemah, karena
tidak adanya gerakan sinergis
Gambar 2.
Fleksi dan Ekstensi Pergelangan
Tangan

2.2 Definisi Fraktur Radial Ulna

Fraktur adalah diskontinuitas atau kepatahan tulang baik bersifat terbuka atau
tertutup. Fraktur radius ulna merupakan kondisi terputusnya kontinuitas tulang
dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, yang dapat diabsorbsi (Sjamsuhidajat,
20015).

Fraktur radial ulna adalah terputusnya kontinuitas tulang radius ulna, fraktus
radius ulna terbuka maupun tertutup akibat kecelakaan lalu lintas harus selalu
diperhatikan terutama pada fraktur terbuka akan terkontaminasi oleh
mikroorganisme yang dapat menimbulkan infeksi (Smeltzer, 2001).

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan
yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa (Smeltzer & Bare, 2002). Trauma
yang menyebabkan tulang patah dapat berubah trauma langsung (Smeltzer &
Bare, 2002), misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah
tulang radius dan ulna, dan dapat berubah trauma tidak langsung (LeMone &
Burke, 1996), misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan
tulangklavikula atau radius distal patah.
2.3 Etiologi dan Klasifikasi
2.3.1 Etiologi
Pada fraktur antebrachii 1/3 distal sinistra terjadi karena adanya trauma dan
penekanan pada lengan bawah bagian kiri akibat benturan dengan benda yang
keras secara langsung (Thomas, et all. 2011).

Fraktur antebrachii 1/3 proximal sinistra disebabkan karena adanya trauma


pada lengan bawah kiri akibat benturan dengan benda yang keras, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Dalam kasus fraktur antebrachii 1/3 proxima
sinistra, tindakan yang biasa dilakukan untuk operasi antar fragmen adalah
dengan reduksi terbuka atau operasi. Ini dilakukan karena pada kasus ini
memerlukan pemasangan internal fiksasi untuk mencegah pergeseran antar
fragmen pada waktu proses penyembuhan tulang. Pada operasi ini dilakukan
incise untuk pemasangan internal fiksasi yang dapat berupa plate and screw
sehingga akan terjadi pada kulit, jaringan lunak, dan luka pada otot yang
menyebabkan terjadinya oedema, nyeri, keterbatasan lingkup gerak sendi serta
gangguanfungsional.

2.3.2 Klasifikasi
Terdapat 4 klasifikasi yang khas dari fraktur antebrachii antara lain (A, Mark,
Mahode, Albertus, Aging, et all. 2011):

1. Fraktur/Dislokasi Galeazzi
Fraktur sepertiga distal radius disertai dislokasi sendi radius ulna distal. Saat
klien jatuh dengan tangan terbuka yang menahan badan, terjadi pula rotasi lengan
bawah dalam posisi pronasi waktu menahan berat badan yang memberi gaya
supinasi.

Gambar 3. Fraktur Galeazzi


2. Fraktur/dislokasi Montegia
Fraktur sepertiga tengah atau proksimal ulna disertai dislokasi caput radii.
Caput radii dapat bergeser ke anterior, posterior, atau lateral, dan pada beberapa
keadaan baik radius maupun ulna dapat mengalami fraktur. Terjadi karena trauma
langsung dan karena hiperpronasi dengan tangan dalam keadaan outstretched
(sendi siku dalam posisi ekstensi dan lengan bawah dalam posisi supinasi).

Gambar 4. Fraktur Montegia

3. Fraktur Colles
Deformitas pada fraktur ini berbentuk seperti sendok makan (dinner fork
deformity). Klien terjatuh dalam keadaan tangan terbuka dan pronasi, tubuh
beserta lengan berputar ke dalam (endorotasi). Tangan terbuka terfiksasi di tanah
berputar keluar (eksorotasi supinasi). Fraktur ini sering ditemukan pada orang
dewasa di atas usia 50 tahun dan lebih sering terjadi pada wanita daripada pria.

Gambar 5. Posisi Tangan Fraktur Colles Gambar 6. Fraktur Colles


1. Fraktur Smith
Fraktur dislokasi ke arah anterior (volar), karena itu sering disebut reverse
colles fracture. Klien jatuh dengan tangan menahan badan sedang posisi tangan
dalam keadaan volar fleksi pada pergelangan tangan dan pronasi.

Gambar 7. Posisi Tangan Fraktur Smith Gambar 7. Fraktur Smith

2.4 Patofisiologi

Fraktur kaput ulna sering terjadi akibat jatuh dan tangan menyangga dengan
siku ekstensi. Bila terkumpul banyak darah dalam sendi siku (hemarthosis) harus
diaspirasi untuk mengurangi nyeri dan memungkinkan gerakan awal.

Bila fraktur mengalami pergeseran dilakukan pembedahan dengan eksisi


kaput radii bila perlu. Paska operasi lengan dimobilisasi dengan bebat gips
posterior dan sling. Fraktur pada batang radius dan ulna (pada batang lengan
bawah) biasanya terjadi pada anak-anak. Baik radius maupun ulna keduanya
dapat mengalami patah. Pada setiap ketinggian, biasanya akan mengalami
pergeseran bila kedua tulang patah.

Dengan adanya fraktur dapat menyebabkan atau menimbulkan kerusakan


pada beberapa bagian. Kerusakan pada periosteum dan sumsum tulang dapat
mengakibatkan keluarnya sumsum tulang terutama pada tulang panjang. Sumsum
kuning yang keluar akibat fraktur terbuka masuk ke dalam pembuluh darah dan
mengikuti aliran darah sehingga mengakibatkan emboli lemak. Apabila emboli
lemak ini sampai pada pembuluh darah yang sempit dimana diameter emboli
lebih besar daripada diameter pembuluh darah maka akan terjadi hambatan aliran
darah yang mengakibatkan perubahan perfusi jaringan.

Kerusakan pada otot atau jaringan lunak dapat menimbulkan nyeri yang hebat
karena adanya spasme otot di sekitarnya. Sedangkan kerusakan pada tulang itu
sendiri mengakibatkan perubahan sumsum tulang (fragmentasi tulang) dan dapat
menekan persyaratan di daerah tulang yang fraktur sehingga menimbulkan
gangguan syaraf ditandai dengan kesemutan, rasa baal dan kelemahan.

2.5 Manifestasi Klinis


Manifestasi klinis fraktur radius-ulna hampir sama dengan manifestai klinis
fraktur umum tulang panjang, seperti (Muttaqin, 2008):

1. Nyeri
2. Hilangnya fungsi ekstremitas
3. Deformitas
4. Pemendekan ekstremitas atas karena kontraksi otot yang melekat di atas
dan di bawah tempat fraktur
5. Krepitasi
6. Pembengkakan
7. Perubahan warna lokal pada kulit. Hal tersebut terjadi akibat trauma dan
perdarahan pada fraktur. Tanda ini dapat terjadi beberapa jam atau
beberapa hari setelah cedera.
Manifestasi klinis berdasarkan klasifikasi fraktur antebrachi adalah sebagai
berikut:

1. Fraktur Galeazzi
Fraktur Galeazzi jauh lebih sering terjadi daripada fraktur Monteggia.
Ujung bagian bawah ulna yang menonjol merupakan tanda yang
mencolok.

Gambaran klinisnya bergantung pada derajat dislokasi fragmen


fraktur. Bila ringan, nyeri dan tegang hanya dirasakan pada daerah fraktur;
bila berat, biasanya terjadi pemendekan lengan bawah.

Tampak tangan bagian distal dalam posisi angulasi ke dorsal. Pada


pergelangan tangan dapat diraba tonjolan ujung distal ulna.

2. Fraktur Montegia
Klien biasanya mengeluh nyeri dan bengkak pada lengan bawah serta
datang dengan tangan dalam posisi fleksi dan pronasi (Muttaqin, 2008):

3. Fraktur Colles
Pada klien dengan sedikit deformitas mungkin hanya terdapat nyeri
tekan lokal dan nyeri bila pergelangan tangan digerakkan.

Selain itu juga didapatkan kekakuan, gerakan yang bebas terbatas, dan
pembengkakan di daerah yang terkena.

4. Fraktur Smith
Pada fraktur ini ditemukan deformitas dengan fragmen distal
mengalami pergeseran ke volar dan garis fraktur tidak melalui persendian.

Ada riwayat trauma dengan pembengkakan pergelangan tangan pada


orang yang berusia lebih dari 50 tahun, nyeri, dan deformitas berbentuk
garpu. Gambaran ini terjadi karena adanya angulasi dan pergeseran ke
dorsal, deviasi radial, supinasi dan impaksi ke arah proksimal.
2.6 Pemeriksaan Diagnostik
2.6.1 Pemeriksaan Radiologi
1. Sinar X
Pemeriksaan sinar-x penting untuk mengevaluasi kelainan
muskuloskeletal. Sinar-x menggambarkan kepadatan tulang, tekstur,
erosi, dan perubahan hubungan tulang. Sinar-x multiple diperlukan untuk
pengkajian paripurna struktur yang sedang diperiksa. SInar-x korteks
tulang dapat menunjukkan adanya pelebaran, penyempitan, dan tanda
iregularitas. Sinar-x sendi dapat menunjukkan adanya cairan, iregularitas,
penyempitan, dan perubahan struktur sendi. Pemeriksaan sinar-x tulang
tidak memerlukan persiapan khusus bagi pasien, tetapi perawat perlu
menjelaskan tujuan dan prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan
kepada pasien.
2. CT-Scan
Prosedur ini menunjukkan rincian bidang tertentu dari tulang yang
sakit dan dapat memperlihatkan cedera ligament atau tendon.
Pemeriksaan ini digunakan untuk mengidentifikasi lokasi dan panjangnya
patah tulang di daerah yang sulit dievaluasi, misalnya asetabulum.
Pemeriksaan dilakukan dengan atau tanpa zat kontras dan berlangsung
sekitar 1 jam. Pasien perlu diberi penjelasan bahwa akan terdengar suara
mesin CT scan, dan bunyi ini tidak berbahaya sehingga pasien tidak
merasa takut saat pemeriksaan dilakukan.
3. Elektromiografi (EMG)
Pemeriksaan ini memberi informasi mengenai potensi listrik otot
dan sarafnya. Tujuan prosedur ini adalah menentukan setiap abnormalitas
fungsi unit. Pasien perlu dijelaskan bahwa prosedur ini dapat
menimbulkan rasa tidak nyaman karena jarum elektrode masuk ke otot.
4. Artroskopi
Artroskopi merupakan prosedur endoskopis yang memungkinkan
pandangan langsung ke dalam sendi. Prosedur ini dilakukan di mara
operasi dalam kondisi streil dan perlu injeksi anastesi lokal atau anastesi
umum. Jarum dengan lubang besar dimasukkan dan sendi diregangkan
dengan memasukkan cairan salin. Artroskop kemudian dimasukkan.
Struktur sendi, sinovium, dan permukaan sendi dapat dilihat melalui
artroskop. Setelah prosedur dilakukan, luka ditutup dengan balutan steril.
Sendi dibalut dengan balutan tekan untuk menghindari terjadinya
pembengkakan. Jika perlu, kompres dengan es untuk mengurangi edema
dan rasa tidak nyaman. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah infeksi,
hemartrosis, tromboflebitis, bengkak sendi, dan penyembuhan luka yang
lama.
5. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI adalah teknik pencitraan khusus yang non-invasif,
menggunakan medan magnet, gelombamg radio, dan computer untuk
melihat abnormalitas berupa penyempitan jaringan lunak, seperti otot,
tendon, dan tulang rawan. Oleh karena yang digunakan elektromagnetit,
pasien yang mengenakan implan logam, brace, atau pacemaker tidak
dapat menjalani pemeriksaan ini. Perhiasan harus dilepas. Pasien yang
menderita klaustrofobia biasanya tidak mampu menghadapi ruangan
tertutup pada peralatan MRI tanpa penerangan.
6. USG
Prosedur USG dilakukan untuk mendeteksi gangguan pada jaringan
lunak (adanya massa, dna lain-lain). Pemeriksaan USG menggunakan
sistem gelombang suara yang menghasilkan gambaran jaringan yang
diperiksa. Kulit di atas jaringan yang akan diperiksa diolesi gel untuk
memudahkan gerakan alat. USG tidak memerlukan persiapan khusus dan
perawatan khusus setelah pemeriksaan.
7. Angiografi
Angiografi pemeriksaan struktur vaskular. Arteriografi adalah
pemeriksaan sistem arteri. Suatu bahan kontras radioopaque diinjeksikan
ke dalam arteri tertentu, dan alirannya difoto dengan sinar-X. Prosedur
ini sangat bermanfaat untuk mengkaji perfusi arteri dan untuk tingkat
amputasi yang dilakukan. Setelah dilakukan prosedur ini, pasien
dibiarkan berbaring selama 12-24 jam untuk mencegah perdarahan pada
tempat penusukan arteri. Perawat memenatau tanda vital, tempat
penusukan (adanya pembengkakan, perdarahan, dan hematoma), dan
ekstremitas bagian distal untuk menilai apakah sirkulasinya adekuat.
8. Artrografi
Penyuntikan bahan radioopaque atau udara ke dalam rongga sendi untuk
melihat struktur jaringan lunak dan kontur sendi. Sendi diletakkan dalam
kisaran pergerakannya sambil diambil gambar sinar-x serial. Artrogram
sangat berguna untuk mengidentifikasi adanya robekan akut atau kronis
kapsul sendi atau ligament penyangga lutut, bahu, tumit, pinggul, dan
pergerakan tangan. Jika terdapat robekan, bahan kontras akan mengalami
kebocoran keluar dari sendi dan akan terlihat melalui sinar-x. Setelah
dialkukan artrogram, sendi diimobilisasi selama 12-24 jam dan diberi
balutan tekan elastis.

2.6.2 Pemeriksaan Laboratorium


1. Hitung darah lengkap, Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau
menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada
trauma multipel). Peningkatan jumlah SDP adalah respons stress normal
setelah trauma.
2. Hb bila kurang dari 10 mg % menandakan anemia dan jumlah leukosit
bila lebih dari 10.000/mm3 menandakan adanya infeksi.
3. Kreatinin: trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens dan
ginjal.
4. Profil koagulasi: perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi
multipel, atau cedera hati.
DAFTAR PUSTAKA

Budisasmita, Faisal. 2015. Fraktur Radius Ulna.


Bulechek, Gloria M dkk. 2013. Nursing Intervetion Classification (NIC) Ed.6.
Amerika: Libarary of Congress Cataloging in publication data
Helmi zairin noor. 2013. Buku ajar gangguan musculoskeletal. Jakarta: salemba
medika.
Herdman, T.H & Kamitsuru, S.2014. Nursing diagnoses definition and classification
2015-2017.Oxford: Wiley Blackwell
Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran (3 ed., Vol. Jilid 2). Jakarta: Media
Aesculapius.
Muttaqin, A. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta:
EGC.
Moorhead,Sue dkk. 2013. Nursing Outcome Classification (NOC) Ed.5.Amerika:
Libarary of Congress Cataloging in publication data.
Suratun, & SKM, dkk. 2006. Seri Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta: EGC.
Suratun, Heryati, dkk. 2008. Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal: Seri Asuhan
Keperawatan. Jakarta: EGC.
Suratun, & SKM, dkk. 2008. Klien Dengan Gangguan Sistem Muskuloskeletal : Seri
Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.