Anda di halaman 1dari 22

PERBEDAAN ANTARA PENGGUNAAN JOINT PROTECTION DENGAN

LATIHAN PENGUATAN OTOT BERUPA SENAM LUTUT TERHADAP


PENGURANGAN INTENSITAS NYERI PADA PASIEN
OSTEOARTHRITIS KNEE

Disusun Oleh :

Asri Diah Kusumawati (P27228015 071)

Lisa Eka Indriyani (P27228015 093)

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

Menyelesaikan Tugas Mata Kuliah Persiapan Praktik Klinik II

PROGRAM STUDI D-IV OKUPASI TERAPI

JURUSAN OKUPASI TERAPI

POLITEKNIK KEMENTERIAN KESEHATAN SURAKARTA

TAHUN 2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Bangsa Indonesia sedang giat melaksanakan pembangunan di
segala bidang, salah satunya pembangunan di bidang kesehatan.
Pembanguna kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap orang agar
terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Perubahan yang
terjadi antara lainadanya transisi demografi dan transisi epidemiologi.
Transisi demografi merupakan perubahan pola / struktur penduduk yang
ditandai dengan semakin banyaknya warga lanjut usia (lansia) karena
meningkatnya Umur Harapan Hidup (UHH). Data badan pusat statistik
menunjukkan bahwa penduduk lanjut usia di indonesia pada tahun 2000
sebanyak 14.439.967 jiwa (7,18 %) menjadi 18,4 juta jiwa (8,4%) pada
tahun 2005 selanjutnya pada 2010 meningkat menjadi 23.992.553 jiwa
(9,77%). Dan pada 2020 diperkirakan jumlah lanjut usia mencapai
28.822.879 jiwa (11,34%). Transisi epidemiologi terjadi karena
pemerintah berhasil menekan angka penyakit infeksi, namun di sisi lain
penyakit yang berkaitan dengan faktor penuaanpun meningkat, seiring
dengan semakin banyaknya proporsi warga lansia di Indonesia (Eka,
2007).
Osteoartritis merupakan salah satu penyakit sendi yang mengiringi
proses penuaan paling banyak ditemukan di dunia, termasuk di Indonesia.
Penyakit ini menyebabkan nyeri dan disabilitas pada penderita
sehinggamengganggu aktivitas sehari-hari yang menempati urutan kedua
sebagai penyebab ketidakmampuan fisik di dunia. Secara keseluruhan,
sekitar 10 –15% orang dewasa lebih dari 60 tahun menderita OA. Dampak
ekonomi, psikologi dan sosial dari OA sangat besar, tidak hanya untuk
penderita, tetapi juga keluarga dan lingkungan (Wibowo, 2003).
Osteoarthritis disini merupakan suatu patologi yang mengenai
kartilago hialin dari sendi lutut, dimana terjadi ketidak seimbangan antara
regenerasi dengan degenerasi maka akan terjadi pelunakan, perpecahan
dan pengelupasan lapisan rawan sendi yang disebut sebagai corpus libera
yang dapat menimbulkan nyeri dan penguncian ketika sendi bergerak.
Imobilisasi yangterjadi karena menyeri mengakibatkan kaku sehingga
mikrosirkulasi menurun, kadar sinovial menurun dan elastisitas jaringan
lunak juga menurun. Terbentuknya osteofit akan mengiritasi membran
sinovial dimana terdapat banyak saraf-saraf reseptor nyeri dan kemudian
akan menimbulkan penumpukan cairan sendi atau hidrops. Pembebanan
yang terus menerus mengakibatkan inflamasi dan penebalan subchndral,
serta adanya penyempitan celah sendi membuat permukaan sendi tidak
beraturan sehingga dapat menyebabkan instabilitas. Pada kapsul ligamen
sendi akanterjadi iritasi dan pemendekan, hal ini disebabkan karena
imobilisasi dan kelenturan jaringan kolagen yang berkurang, kemudian
terjadi kontraktur jaringan ikat maupun kapsul sendi sehingga pergerakan
semangkin lama semangkin sempit. Menurunnya fleksibilitas kapsul
ligamen tersebut akanmenyebabkan hipomobilitas dari sistem ligamen.
Karena fungsi dari ligament berkurang menyebabkan kerja otot menjadi
berlebihan, sehingga kontraksi terus menerus ini akan menyebabkan
penekanan pada pembuluh darah sehingga terjadi vasokontriksi dan
ischemik yang akan menimbulkan spasme otot pes anserinus, tightness
otot tonik dan kelemahan otot pasic yaitu otot quadricep (Hakim, 2009).
Berdasarkan Homenklatur ARA (American Rheumatism
Association),osteoartritis diklasifikasikan sebagai berikut : Primary
osteoartritis atau osteoartritis primer yang penyebabnya tidak diketahui
atau herediter biasanya terjadi karena proses penuaan dan Secondary
osteoarthrosis atau osteoartritis sekunder yang diketahui penyebabnya
seperti : kongenital, penyakit metabolik, trauma akut atau kronik,
peradangan dan endokrin . Osteartritis akan menyebabkan keterbatasan
aktivitas berdasarkan International Classification of Functioning,
Disability and Health (ICF) seperti : jongkok, berlutut, dari posisi duduk
ke berdiri, mempertahankan posisi berjongkok beberapa saat,
mempertahankan posisi berlutut beberapa saat, mengambil benda di bawah
sambil menekuk lutut, memakai sepatu atau alas kaki sambil berdiri satu
kaki, melepas sepatu atau alas kaki sambil berdiri satu kaki dan
membersihkan rumah serta aktifitas olahraga seperti : berlari dan
melompat, dan aktifitas bepergian seperti : berjalan dipermukaan berbeda,
menggunakan transportasi pribadi dan menggunakan transportasi umum.
Dan salah satu pelayanan kesehatan yang ikut berperan dalam rehabilitasi
penyakit ini adalah okupasi terapi dimana okupasi terapi adalah
suatubentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu maupun
kelompok untuk memulihkan, memelihara dan mengembangkan fungsi
gerak tubuh sepanjang daur kehidupan dengan penanganan secara manual,
peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektro terapiotis dan mekanisme),
pelatihan fungsi dan komuikasi (KepMenkes RI No.1363 Tahun 2001Pasal
1 Ayat1).
B. Identifikasi masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, dapat
disimpulkanbahwa banyaknya masalah yang timbul pada kasus
osteoarthritis antara lain nyeri pada sendi yang timbul karena berbagai
faktor antara lain micro fraktur di tulang persendian, iritasi saraf, tekanan
pada ligamen, kongesti pembuluh darah balik dan tegangan otot. Selain
nyeri masalah lain yangjuga sering ditemui adalah keterbatasan gerak,
instabilitas dan kelemahanotot sehingga menurunkan kemampuan
fungsional dalam keseharian sering ditemukan keluhan-keluhan seperti :
saat jongkok, berjalan lama,berdiri lama, perubahan posisi duduk keberdiri
atau sebaliknya, tidak bisamenumpu satu kaki, berlutut, susah mengambil
atau meletakkan benda dibawah seperti ketika menurunkan wadah air ke
tanah sambil menekuk lutut,memakai atau melepaskan sepatu sambil
berdiri satu kaki danmembersihkan rumah.
Pada osteoartritis tibiofemoral keluhan timbul saat sendi
lututbergerak dan posisi menumpu berat badan, terdapat proses
degradasi,reparasi dan inflamasi yang terjadi dalam jaringan ikat. lapisan
rawan,sinovium dan tulang subchondral sebagai berikut: degradasi tulang
rawansendi, yang timbul sebagai akibat dan ketidakseimbangan antara
regenerasi dan degenerasi rawan sendi melalui beberapa tahap yaitu
fibrasi, pelunakan,perpecahan, dan pengelupasan lapisan rawan sendi.
Proses ini dapat berlangsung cepat dan lambat. Akhirnya permukaan sendi
menjadi botak tanpa lapisan rawan sendi. Osteofit, bersama timbulnya
degenerasi tulangrawan sendi. Selanjutnya diikuti reparasi tulang rawan
sendi. Reparasiberupa pembentukan osteofit ditulang subchondral.
Sklerosis subchondral,pada tulang subchondral terjadi reparasi berupa
sklerosis. Sinovitis adalahinflamasi dan sinovium yang terjadi akibat
proses sekunder degenerasi danfragmentasi dimana dapat meningkatkan
cairan sendi. Cairan lutut yangmengandung bermacam-macam enzim akan
tertekan kedalam celah-celahrawan, ini akan mempercepat proses
pengrusakan tulang rawan (Parjoto,2000).
Dengan adanya perubahan-perubahan tersebut, sifat-sifat
biomekanistulang rawan sendi akan berubah, sehingga akan menyebabkan
tulang rawansendi rentan terhadap beban yang biasa sehingga
menyebabkan menurunnyakemampuan fungsional. Maka tujuan dari
penatalaksanaan osteoarthritis sendi lutut adalah untuk mencegah atau
menahan kerusakan yang lebih lanjut pada sendi lutut, untuk mengatasi
nyeri dan kaku sendi gunamempertahankan mobilitas dan meningkatkan
kemampuan fungsional sehari-hari. Intervensi yang digunakan penulis
pada kasus ini adalah Joint Protection dan latian penguatan otot dengan
cara senam lutut untuk mengurangi intensitas nyeri dengan alat ukur
intensitas nyeri VAS scale. Pada kasus osteoarthritis tibiofemoral joint
peneliti melakukan pemeriksaan dari awal sampai akhir dengan antara
lain: assesment, pemeriksaan fisik, pemeriksaan khusus sampai evaluasi.
Dengan demikian sampel yang didapat benar-benar yang mengalami kasus
osteoarthritis tibiofemoral joint dengan kondisi mengeluhkan nyeri dan
menimbulkan gangguankemampuan fungsional. Dalam penelitian ini akan
dibagi menjadi duakelompok, yang mana satu kelompok akan diberi
intevensi dengan JPT sedangkan kelompok kedua diberi intervensi dengan
Latihan penguatan otot berupa senam otot.

C. Pembatasan masalah
Berdasarkan pemaparan indentifikasi masalah diatas maka terdapat
pembatasan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengukur pengurangan intensitas nyeri pada pasien osteoarthritis
setelah mendapatkan intervensi
2. Perbedaan pemberian metode Joint Protection dan latihan pengutan
otot berupa senam otot terhadap pengurangan intensitas nyeri pada
aktivitas memakai alas kaki pada pasien osteoarthritis.
D. Tujuan
1. Tujuan umum
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Perbedaan
pemberian metode JPT dan latihan penguatan berupa senam otot
terhadap pengurangan intensitas nyeri terhadap pasien osteoarthritis.
2. Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui efektivitas pemberian metode JPT terhadap
pengurangan intensitas nyeri pasien dengan osteoarthritis
2. Untuk mengetahui efektivitas pemberian metode Latihan
penguatan otot berupa senam lutut terhadap pengurangan intenstias
nyeri pada pasien dengan ostearthritis.
3. Untuk mengetahui gambaran intensitas nyeri pada pasien dengan
pasien dengan gangguan osteoarthritis.

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Kajian Teori
1. Pengertian Osteoathritis
Osteoartritis adalah gangguan pada sendi yang bergerak
(Price dan Wilson, 2013). Disebut juga penyakit sendi degeneratif,
merupakan ganguan sendi yang tersering. Kelainan ini sering
menjadi bagian dari proses penuaan dan merupakan penyebab
penting cacat fisik pada orang berusia di atas 65 tahun (Robbins,
2007). Sendi yang paling sering terserang oleh osteoarthritis adalah
sendi-sendi yang harus memikul beban tubuh, antara lain lutut,
panggul, vertebra lumbal dan sevikal, dan sendi-sendi pada jari
(Price dan Wilson, 2013). Penyakit ini bersifat kronik, berjalan
progresif lambat, tidak meradang, dan ditandai oleh adanya
deteriorasi dan abrasi rawan sendi dan adanya pembentukan tulang
baru pada permukaan persendian. Osteoarthritis adalah bentuk
arthritis yang paling umum, dengan jumlah pasiennya sedikit
melampaui separuh jumlah pasien arthritis. Gangguan ini sedikit
lebih banyak pada perempuan daripada laki-laki (Price dan Wilson,
2013). Hal yang sama juga ditemukan dalam penelitian Zhang Fu-
qiang et al. (2009) di Fuzhou yang menunjukkan peningkatan
prevalensi lebih 9 tinggi pada perempuan jika dibandingkan
dengan laki-laki yaitu sebesar 35,87%.
Berdasarkan patogenesisnya OA dibedakan menjadi OA
primer dan OA sekunder. OA primer disebut juga OA idiopatik
adalah OA yang kausanya tidak diketahui dan tidak ada
hubungannya dengan penyakit sistemik maupun proses perubahan
lokal pada sendi. OA sekunder adalah OA yang didasari oleh
adanya perubahan degeneratif yang terjadi pada sendi yang sudah
mengalami deformitas, atau degenerasi sendi yang terjadi dalam
konteks metabolik tertentu (Robbins, 2007). Selain dari jenis
osteoarthritis yang lazim, ada beberapa varian lain. OA peradangan
erosif terutama menyerang sendi pada jari-jari dan berhubungan
dengan episode peradangan akut yang menimbulkan deformitas
dan alkilosis. Hiperostosis alkilosis menimbulkan penulangan
vertebra (Price dan Wilson, 2013).
2. Pengertian Nyeri
Nyeri adalah suatu sensasi yang disebabkan karena
rusaknya jaringan, bisa dikulit sampai jaringan yang paling dalam.
International Association for the Study of Pain, mendefinisikan
nyeri sebagai suatu pengalaman sensori dan emosional yang tidak
menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau
potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian dimana
terjadi kerusakan. Pada umumnya orang mempersepsikan bahwa
nyeri adalah fenomena yang murni tanpa mempertimbangkan
bahwa nyeri juga mempengaruhi homeostatis tubuh yang akan
menimbulkan stres untuk memulihkan homeostasis tersebut
(Melzack, 2009).
Menurut Darmojo (2006), berdasarkan pada sifatnya nyeri
dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Nyeri tajam merupakan perasaan yang menyengat, rangsangannya
sangat cepat dijalarkan ke pusa, biasanya terdapat di kulit dan tidak
terus menerus.
b. Nyeri tumpul merupakan rasa sakit di kulit sampai jaringan yang
lebih dalam, terasa menyebab dan lambat dijalarkan ke pusat dan
sifatnya terus menerus.
Sedangkan menurut derajatnya, nyeri dibagi dua, yaitu :
a. Nyeri akut adalah nyeri dengan onset segera dan durasi yang
terbatas, memiliki hubungan temporal dan kausal dengan adanya
cedera atau penyakit.
b. Nyeri kronik adalah nyeri yang bertahan untuk periode waktu yang
lama. Nyeri kronik adalah nyeri yang terus ada meskipun telah
terjadi proses penyembuhan dan sering sekali tidak diketahui
penyebabnya yang pasti.
3. Joint Protection dan Senam Lutut
a. Joint Protection (JPT)
Merupakan proses mempengaruhi artritis dengan cara
modifikasi perilaku dan adaptasi lingkungan yang bertujuan
untuk mengurangi tekanan (stress) & nyeri, mengurangi
inflamasi serta mempertahankan struktur sendi. Hammond, et al
2002 mengatakan joint protection (JPT) bertujuan untuk
mengurangi rasa sakit, cacat dan meningkatkan fungsi melalui
penggunaan pendekatan ergonomis seperti mengubah pola
gerakan, modifikasi tugas dan lingkungan, dan penggunaan alat
bantu. Pasien dibantu untuk memahami bagaimana ketegangan
pada sendi ketika melakukan kegiatan sehari-hari dapat
berkontribusi pada nyeri sendi dan berpotensi meningkatkan
deformitas sendi.

b. Senam Lutut
Senam lansia merupakan suatu latihan fisik yang
mempunyai pengaruh yang baik untuk meningkatkan
kemampuan otot sendi. Kemampuan otot sendi apabila sering
dilatih atau digerakkan maka cairan sinovial pada sendi akan
meningkat. Cairan sinovial ini berfungsi sebagai pelumas dalam
sendi. Peningkatan cairan sinovial ini dapat mengurangi resiko
cidera sendi pada lansia (Taslim, 2001). Senam lansia juga dapat
memberikan kebugaran tubuh dan meningkatkan daya tahan
tubuh (Ambar, 2009). Gangguan pada sistem muskuloskeletal
dapat memberikan dampak immobilitas fisik pada lansia. Untuk
mencegah immobilitas fisik pada lansia, lansia dianjurkan untuk
melakukan aktivitas fisik seperti senam lansia, berjalan dan lain-
lain. Aktivitas fisik dapat memberikan pengaruh yang baik bagi
kesehatan tubuh pada lansia salah satunya adalah melatih
kemampuan otot sendi pada lansia agar tidak terjadi kekakuan
sendi (Martono, 2009).

B. Penelitian Yang Relevan


Penelitian yang dilakukan oleh Sharon Alzner, MPT Zacharia
Isaac, MD (2008) dengan judul Joint protection program for the lower
limb terhadap pasien athritis mampu menghindari overloading sendi /
jaringan yang rentan, mencegah keseleo dan strain berulang, mengurangi
rasa sakit, nyeri dan peradangan.
Studi literature terhadap 7 artikel sistematika review dan 2 meta-
analisis tentang efektivitas strengthening exercise dan aerobik pada OA
lutut di Tokyo, dikatakan bahwa latihan peregangan otot dan latihan
aerobik efektif menurunkan nyeri dan meningkatkan fungsi fisik pada
pasien OA lutut derajat ringan sampai sedang. Jadi dapat dikatakan bahwa
nyeri pada pasien OA lutut derajat I dan II dapat dikurangi dengan
melakukan exercise seperti ROM (fleksi extensi lutut), strengthening
exercise dan aerobik.

C. Kerangka Berpikir

OA

Primer Sekunder Senam Lutut


JPT

lemah otot
permasalahan

Peningkatan Nyeri Dan Penurunan Mengurangi Menguatkan


kemampuan fungsional Nyeri Otot

Mengukur Intensitas Nyeri dengan


VAS scale

Menurunkan Menurunkan
D. Hipotesis Intensitas Nyeri Intensitas Nyeri
1. Ada pengaruh pemberian teknik Joint Protection dan Aktivitas
latihan penguatan Otot berupa senam lutut terhadap pengurangan
intensitas nyeri saat memakai alas kaki pada pasien Osteoartritis
Lutut
2. Ada pengaruh pemberian teknik Joint Protection terhadap
pengurangan intensitas nyeri saat memakai alas kaki pada pasien
Osteoartritis Lutut
3. Ada pengaruh pemberian Aktivitas latihan penguatan Otot berupa
senam lutut terhadap pengurangan intensitas nyeri saat memakai
alas kaki pada pasien Osteoartritis Lutut.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode
pre-eksperimental design one group pretest dan posttest. Pre-
eksperimental design adalah salah satu bentuk desin penelitian
eksperiment yang memanipulasi variabel bebas ikut berpengaruh terhadap
terbentuknya variabel terikat. Rancangan pre-eksperimental digunakan
untuk mendapatkan informasi awal terhadap rumusan masalah yang ada
dalam penelitian (Faisal, 1982). Dalam penelitian ini ingin menguji
hipotesis dalam rangka mencari perbedaan antara pemberian teknik Joint
Protection dan Aktivitas latihan penguatan Otot berupa senam lutut
terhadap pengurangan intensitas nyeri pada pasien Osteoartritis Lutut
B. Sample Kasus Yang Dipilih
Pada penelitian ini menggunakan 2 pasien dengan osteoathritis
lutut. Salah satu pasien diberi intervensi menggunakan JPT dan satunya
lagi diberi intervensi dengan aktivitas penguatan otot dengan senam lutut.
1. Kasus yang menggunakan Joint Protection (JPT)
Pasien berinisial Ny. S berusia 42 tahun yang beralamatkan
Cikalan, Gawanan, Colomadu, Karanganyar di diagnosis
osteoarthritis. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan pada
penampilan Ny. S terlihat cukup bersih dan rapi. Kedua ekstremitas
atas dan bawah lengkap dan masih berfungsi, namun untuk ekstremitas
bawah sebelah kiri ada pembengkakan pada area lutut dan pada area
tersebut telihat berwarna kecoklatan. Ny. S sangat aktif dalam
berkomunikasi, ramah, dan terbuka. Ny. S juga mampu
mengekspresikan perasaannya secara tepat sesuai dengan apa yang
diceritakan. Dalam mobilitas, pasien terlihat tidak seimbang dan
telapak kaki kiri saat berjalan jinjit, pasien lebih menitik beratkan
tubuhnya pada sisi kanan dibandingkan sisi kiri sehingga saat berjalan
menjadi timpang. Pasien mengaku cepat merasakan lelah jika
beraktivitas terlalu banyak.
Aset yang dimiliki Ny. S adalah kedua ekstremitas atas dan bawah
lengkap dan masih berfungsi, sangat aktif dalam berkomunikasi,
ramah, dan terbuka, juga mampu mengekspresikan perasaannya secara
tepat sesuai dengan apa yang diceritakan, kognitif baik terlihat dari
mampu menyebutkan nama, umur, kapan dan bagaimana penyakit
bermula, dan ma mpu mengkomprehensikan instruksi verbal pasien.
Limitasi yang dimiliki Ny. S adalah mobilitas untuk berjalan
kurang seimbang sehingga saat berjalan menjadi timpang dan
terkadang harus menggunakan kruk, kaki sebelah kiri saat berjalan
jinjit, untuk naik turun tangga, berjalan kekamar mandi dan dapur
berpegangan pada tembok, cepat merasakan lelah jika beraktivitas
terlalu banyak, masih sering merasakan nyeri sedang pada lutut
sebelah kiri dan masih ada bengkak, hanya mampu melakukan
gerakan kearah fleksi knee 15° dan ekstensi knee 60°, aktivitas sehari-
hari seperti memasak, mencuci baju, mencuci piring, aktivitas
toileting khususnya saat buang air besar masih terganggu sehingga
sering meminta bantuan kepada suami atau anaknya.
2. Kasus yang menggunakan aktivitas penguatan otot dengan senam lutut
Pasien berinisal Ny. M berumur 45 tahun berjenis kelamin
perempuan. Sisi dominan kanan. Pasien tinggal di Teras, Boyolali. Saat
ini pasien tinggal bersama suami dan dua anaknya.
Berdasarkan data Subjektif dan Objektif dapat diketahui aset pasien
antara lain mampu mobilitas secara mandiri, mampu mengontrol BAB
dan BAK secara mandiri. Sudah mampu berjalan dengan mandiri
meski harus perlahan lahan. Komunikasi pasien sangat baik, ia mampu
berbicara dengan jelas dan sosial interaksi pasien tidak ada gangguan,
pasien mampu bersikap ramah dan sopan kepada terapis.
Berdasarkan Data Subjektif dan Objektif dapat diketahui limitasi
pasien antara lain merasa nyeri dan kaku yang timbul saat naik turun
tangga, saat perubahan posisi. Pasien kesulitan dalam aktivitas yang
melibatkan gerakan dari posisi duduk ke berdiri dan sebaliknya
C. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan
wawancara mendalam, observasi dan test dengan instrumen terstandar.
Wawancara mendalam digunakan saat interview mengenai riwayat kondisi
pasien dan kemampuan pasien saat melakukan aktivitas sehari hari.
Observasi dilakukan saat melihat kemampuan fisik, gaya berbicara pasien.
Test dengan instrumen terstandar menggunakan VAS scale yaitu untuk
mengetahui tingkat intensitas nyeri.
D. Analisa Data
1. Pasien menggunakan JPT
Dari hasil pemeriksaan VAS scale pada tanggal yang sama ( 20
Februari 2018 ) didapat nilai 6 (data terlampir) yang berarti pasien
mengalami nyeri sedang pada saat melakukan aktivitas. Untuk
reevaluasi data objektif menggunakan pemeriksaan VAS scale
dilakukan pada tanggal 10 April 2018 didapat nilai 5 (data
terlampir), yang berarti mengalami penurunan tingkat nyeri.
2. Pasien dengan latihan penguatan otot berupa senam lutut
Dari hasil pemeriksaan VAS scale pada tanggal yang sama ( 20
Februari 2018 ) didapat nilai 5 (data terlampir) yang berarti pasien
mengalami nyeri sedang pada saat melakukan aktivitas. Untuk
reevaluasi data objektif menggunakan pemeriksaan VAS scale
dilakukan pada tanggal 10 April 2018 didapat nilai 4 (data
terlampir), yang berarti mengalami penurunan tingkat nyeri dengan
interpretasi kurang nyeri.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data Hasil Penelitian


1. Deskripsi Data
Dalam data yang terdapat penelitian ini diperoleh dari hasil
observasi dan wawancara mengenai riwayat kondisi pasien saat ini, dan
dengan menggunakan hasil form terstandar menggunakan VAS. Pada
deskripsi data ini menjelaskan perbedaan metode Joint Protection dan
latihan penguatan otot berupa senam lutut. Kasus yang dipilih dalam
penelitian ini memiliki beberapa kemiripan dan kriteria. Kasus yang
diambil yaitu pasien berinisial Ny. S berusia 42 tahun yang
beralamatkan di Cikalan, Gawanan, Colomadu yang diagnosis
Osteoarthritis pada lutut bagian kiri. Sebelumnya pekerjaan Ny. S
adalah kasir pada sebuah ruko, namun setelah sakit yang di alami beliau
memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan membuka toko
kelontong namun karna penyakit osteoarthritis pada lutut nya, toko
tersebut hanya bertahan 6 bulan. Sisi dominan Ny. S adalah kanan dan
didiagnosis medis osteoarthritis lutut. Pasien yang kedua yaitu pasien
berinisal Ny. M berumur 45 tahun berjenis kelamin perempuan. Sisi
dominan pasien adalah kanan. Pasien tinggal di teras, boyolali. Saat ini
pasien tinggal bersama suami dan dua anaknya. Persamaan kedua
pasien terletak pada letak osteoarthritis yang dialami yaitu di lutut,
kedua pasien berjenis kelamin perempuan, serta tidak memiliki kausatif
yang menyebabkan osteoarthritis. Dalam penelitian ini menggunakan
metode yang berbeda, pada kasus pertama menggunakan metode joint
protection, hasil pemeriksaan yang menggunakan VAS sebelum
intervensi memperoleh skor 6 yang berarti pasien mengalami nyeri
sedang, kemudian setelah diberikan intervensi memperoleh skor 5 yang
juga berarti pasien mengalami nyeri sedang . Selanjutnya, pada kasus
kedua menggunakan metode latihan penguatan otot berupa senam lutut
juga menggunakan pemeriksaan VAS sebelum dilakukan intervensi
memperoleh skor 5 yang berarti pasien mengalami nyeri yang sedang
kemudian setelah diberikan intervensi memperoleh skor 4 yang berarti
pasien mengalami kurang nyeri.
B. PEMBAHASAN
Berdasarkan dekripsi data yang telah dijabarkan diatas kasus
pertama menggunakan teknik joint protection , hasil pemeriksaan
menggunakan VAS sebelum intervensi memperoleh skor 6 kemudian
setelah diberikan intervensi memperoleh skor 5. Selanjutnya, pada kasus
kedua menggunakan teknik latihan penguatan otot berupa senam lutut
yang menggunakan pemeriksaan VAS sebelum dilakukan intervensi
mendapatkan skor 5 kemudian setelah diberikan intervensi memperoleh
skor 4 . hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan teknik Joint
Protection dan latihan penguatan otot berupa senam otot menghasilkan
penurunan intensitas nyeri saat melakukan aktifitas pada pasien
osteoarthtritis. Dalam hasil pemeriksaan yang menggunakan VAS yang
dilakukan dengan 2 teknik tersebut terdapat pengurangan intensitas nyeri
pada hasil VAS dengan latihan penguatan otot berupa senam lutut
memperoleh hasil lebih tinggi.
Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Jun
Iwamoto, Yoshihiro Sato, Tsuyoshi Takeda, and Hideo Matsumot tahun
2011 dengan judul “Effectiveness of exercise for osteoarthritis of the knee:
A review of the literature” bennell et al mengungkapkan bahwa latihan
aerobik tampaknya lebih efektif untuk hasil fungsional dalam jangka
panjang di pasien dengan OA. Sebaliknya, Brosseau et al telah
melaporkan bahwa latihan aerobik secara umum lebih bermanfaat bagi
pasien OA daripada tidak berolahraga sama sekali, dan lebih superior atau
setara dengan latihan penguatan. Namun, Roddy et al menunjukkan bahwa
latihan aerobik yang dilakukan dirumah dapat mengurangi rasa sakit dan
kecacatan dalam kasus OA lutut dan tidak ada perbedaan signifikan dalam
efek antara dua jenis latihan. Meskipun masih tetap kontroversial
mengenai jenis program latihan yang mungkin lebih efektif untuk
pengobatan OA lutut, garis bukti ini menunjukkan efek menguntungkan
jangka pendek dari penguatan otot dan latihan aerobik pada rasa sakit,
kekuatan otot. dan fungsi fisik pada pasien dengan OA ringan hingga
sedang lutut.
Penelitian tentang hal serupa juga dilakukan di Bangladesh yang
bertujuan untuk mengetahui efek quadriceps strengthening exercise
terhadap penurunan nyeri pasien OA lutut. Didapatkan hasil bahwa
quadriceps strengthening exercise ini sangat bermanfaat untuk
menurunkan nyeri. Latihan penguatan otot quadriceps adalah penting
untuk meningkatkan kekuatan otot quadriceps yang berguna untuk
menyangga beban tubuh sehingga meringankan beban penekanan pada
tulang rawan sendi lutut. Quadriceps strengthening exercise pada pasien
OA lutut menjadi salah satu terapi non farmakologi yang
direkomendasikan.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode JPT
dan latihan penguatan otot dengan senam lutut terhadap penurunan
intensitas nyeri pada pasien osteoarthrithis lutut. Sampel terdiri atas 2
orang pasien osteoarthrithis Lutut. Karasteristik pasien berdasarkan usia
42 tahun dan 45 tahun dan keduanya berjenis kelamin wanita.
Tingkat intensitas nyeri lutut sampel sebelum dan sesudah
intervensi diukur dengan menggunakan VAS scale. Berdasarkan hasil pre-
test yang dilakukan didapatkan skor VAS 6 pada pasien A dan skor 5 pada
pasien B. Sedangkan hasil post-test diperoleh penurunan tingkat intensitas
nyeri dari nilai 6 menjadi nilai 5 pada pasien A dan nilai 5 menjadi nilai 4
yaitu dari nyeri sedang ke nyeri kurang pada pasien B. hal ini
menunjukkan bahwa keduanya mengalami peningkatan, tetapi latihan
penguatan otot dengan senam lutut mengalami peningkatan lebih tinggi
dan sudah sesuai dengan jurnal yang telah dipaparkan.
Tetapi beberapa hal diatas dipengaruhi juga oleh faktor external
seperti kondisi awal pasien, yang terlihat bahwa pasien A memiliki
kesulitan dalam mobilitas karena lutut keduanya sudah terserang
osteoarthritis, selain itu juga dipengaruhi motivasi dari dalam diri pasien.

B. Saran
Saran untuk penelitian selanjutnya adalah sebagai berikut:
1. Memperpanjang waktu penelitian, sehingga perubahan yang
terjadi lebih terlihat signifikan.
2. Mencari sampel yang homogen berdasarkan penyebab
osteoarthritis dan metode metode yang digunakan sehingga hasil
yang didapatkan dapat menggambarkan penurunan intensitas
nyeri dan dapat dikategorikan berdasarkan level-level tertentu.
3. Waktu pemberian terapi yang dilakukan lebih teratur dan lebih
terfokus pada setiap metode sehingga dapat mendapatkan hasil
yang lebih efektif dalam melakukan perbandingan pada setiap
metode.
DAFTAR PUSTAKA

Bennell K, Hinman R. Exercise as a treatment for osteoarthritis. Curr Opin


Rheumatol.2005;17:634–640.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16093845 diakses pada
tanggal 20 April 2018 pada pukul 19:20

Brosseau L, MacLeay L, Robinson V, Wells G, Tugwell P. Intensity of exercise for


the treatment of osteoarthritis. Cochrane Database Syst Rev.
2003:CD004259. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12804510
diakses pada tanggal 27 Maret 2018 pada pukul 21:00

Roddy E, Zhang W, Doherty M. Aerobic walking or strengthening exercise for


osteoarthritis of the knee? A systematic review. Ann Rheum Dis.
2005;64:544–548. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15769914
diakses pada tanggal 30 April 2018 pada pukul 13:00

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15769914 diakses pada tanggal 30 April


2018 pada pukul 16:15

Hammond A, Jeffreson P, Jones N, Gallagher J, Jones T. Clinical Applicability of


an Educational-Behavioural Joint Protection Programme for People
with Rheumatoid Arthritis. The British Journal of Occupational
Therapy. 2002;65:405–412.

https://media.neliti.com/media/publications/181740-ID-efektivitas-latihan-lutut-
terhadap-penur.pdf diakses pada tanggal 4 Mei 2018 pada pukul
20:58

Shakoor, N., et al. (2008). Pain and its relationship with muscle strength and
proprioception in knee OA: Results of an 8-week home exercise
pilot study. J Musculoskelet Neuronal Interact 2008; 8(1):35-42.
http://www. ismni.org/jmni/pdf/31/16SHAKOOR.pdf

Walid, CM, et al. (2012). Effect of Quadriceps Strengthening Exercise on


Reduction of Pain in Knee Osteoarthritis. Bangladesh Medical
Journal. 2012. Volume 41 nomor 3.

Ambardini, R.L. (2013). Peran latihan fisik dalam manajemen terpadu


osteoartritis. http://staff.uny.ac.id/sites
LAMPIRAN