Anda di halaman 1dari 3

Asidi dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang

berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang

bersifat netral. Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-

senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam. Sedangkan alkalimetri

meruapakan penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku

basa (Gandjar, 2007).

Analisa volumetri merupakan salah satu metode analisa kuantitatif, yang sangat penting

penggunaannya dalam menentukan konsentrasi zat yang ada dalam larutan. Keberhasilan analisa

volumetri ini sangat ditentukan oleh adanya indikator yang tepat sehingga mampu menunjukkan

titik akhir titrasi yang tepat. Titik akhir titrasi asam basa dapat ditentukan dengan indikator asam

basa (Underwood, 1983). Indikator yang digunakan harus memberikan perubahan warna yang

nampak di sekitar pH titik ekivalen titrasi yang dilakukan, sehingga titik akhirnya masih jatuh

pada kisaran perubahan pH indikator tersebut. (Harjanti, 2008).

Pada analisis titrimetri atau volumetrik, untuk mengetahui saat reaksi sempurna dapat

dipergunakan suatu zat yang disebut indikator. Indikator umumnya adalah senyawa yang

berwarna, dimana senyawa tersebut akan berubah warnanya dengan adanya perubahan pH.

Indikator dapat menanggapi munculnya kelebihan titran dengan adanya perubahan warna.

Indikator berubah warna karena system kromofornya diubah oleh reaksi asam basa. Metil jingga

merupakan senyawa azo yang berbentuk kristal berwarna kuning kemerahan, lebih larut dalam

air panas dan larut dalam alkohol. Metil jingga sering digunakan sebagai indicator dalam titrasi

asam basa. Metil jingga mempunyai trayek pH 3,1 – 4,4 dan pKa 3,46 , berwarna merah dalam

keadaan asam dan berwarna kuning dalam keadaan basa. Metil jingga digunakan untuk

mentitrasi asam mineral dan basa kuat, menentukan alkalinitas dari air tetapi tidak dapat
digunakan untuk asam organik. Metil jingga merupakan asam berbasa satu, netral secara

kelistrikan, tetapi mempunyai muatan positif maupun negatif (Suirta, 2010).

Titrasi adalah suatu proses atau prosedur dalam analisis volumetrik dimana suatu titran

atau larutan standar (yang telah diketahui konsentrasinya) diteteskan melalui buret ke larutan

yang dapat bereaksi yang dengannya (belum diketahui konsentrasinya) hingga tercapai titik

ekuivalen atau titik akhir. Titik akhir titrasi asam basa dapat ditentukan dengan indikator asam

basa (Underwood, 1983). Indikator yang digunakan harus memberikan perubahan warna yang

nampak di sekitar pH titik ekivalen titrasi yang dilakukan, sehingga titik akhirnya masih jatuh

pada kisaran perubahan pH indikator tersebut. (Ika, 2009).

Asam salisilat merupakan senyawa yang berkhasiat sebagai fungisidal dan bakteriostatis

lemah. Asam salisilat bekerja keratolitis sehingga digunakan dalam sediaan obat luar terhadap

infeksi jamur yang ringan. Asam salisilat bersifat sukar larut dalam air. Apabila asam salisilat

diformulasikan sebagai sediaan topical (Astuti dkk, 2007).

Menurut Arrhenius, asam adalah zat yang dalam air melepakan ion H+, sedangkan basa

adalah zat yang dalam air melepaskan ion OH–. Lewis mendefinisikan : Asam adalah senyawa

kimia yang bertindak sebagai penerima pasangan elektron. Basa adalah senyawa kimia yang

bertindak sebagai pemberi pasangan elektron. Menurut Bronsted dan Lowry, asam adalah spesi

yang memberi proton, sedangkan basa adalah spesi yang menerima proton pada suatu reaksi

pemindahan proton (Arian,2012).


DAFTAR PUSTAKA

 Astuti, Y.S., dkk, 2007, Pengaruh Konsentrasi Adaps Lanae Dalam Dasar Salep Cold
Cream Terhadap Pelepasan Asam Salisilat, Pharmacy, Vol. 05, Universitas
Muhammadiyah Purwokerto.
 Dirjen POM, 1979, Farmakope Indonesia edisi III, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
 Dirjen POM, 1995, Farmakope Indonesia edisi IV, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
 Gandjar, I.G & Rohman.A., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
 Harjanti, R.S., Pemungutan Kurkumin dari Kunyit (Curcuma domestica val.) dan
Pemakaiannya Sebagai Indikator Analisis Volumetri, Jurnal Rekayasa Proses, Vol. 2,
No. 2, Yogyakarta.
 Ika, Dani, 2009, Alat Otomatisasi Pengukur Kadar Vitamin C Dengan Metode Titrasi
Asam Basa, Jurnal Neutrino, Vol. 1, No. 2.
 Nugroho & Darmono, 2008, Efektivitas Pengawetan Kayu Terhadap Serangan Rayap
Menggunakan Campuran Boraks Dengan Asam Borat, Jurnal Teknik Sipil, Vol 1. No.2,
Universitas negeri Yogyakarta, Yogyakarta.
 Suirta, I W., 2010, Sintesis Senyawa Orto-Fenizalo-2-Naftol Sebagai Indikator Dalam
Titrasi, Jurnal Kimia, Vol. 4, Universitas Udayana.