Anda di halaman 1dari 17

KUALITAS PELAPORAN KEUANGAN DAN PERAN

AUDITOR EKSTERNAL DALAM GCG


“ KASUS PT. TELKOM “
Makalah
diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Corporate Governance oleh
dosen pengampu Juwenah, SE., M.Acc., AK.

Disusun Oleh :

Faza Ikhwan Nur Hakim (115040159)

Silvia Sari (115040170)

Devi Riska Puspitasari (115040174)

Ajeng Nafi Nurhasanah (115040182)

Akuntansi 3-F

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI
CIREBON
2017

1
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr. wb

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah dengan judul
“Kualitas Pelaporan Keuangan dan Peran Audit Eksternal dalam GCG”
dengan tepat waktu dalam memenuhi persyaratan tugas mata kuliah Manajemen
Strategi secara efektif dan efesien.

Terima kasih penulis ucapkan kepada yang terhormat Ibu Juwenah, SE.,
M.Acc.,AK. atas bimbingan dalam menyelesaikan makalah serta semua pihak yang
telah membantu memberikan informasi mengenai materi kualitas pelaporan
keuangan dan peran audit eksternal dalam gcg.

Terlepas dari itu semua, karya sederhana ini tentu tidak luput dari
kelemahan dan kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran
sebagai motivasi menyusun makalah yang lebih baik lagi. Mudah-mudahan karya
tulis ini bermanfaat dan berperan positif.

Wassalamu’alaikum wr. wb

Cirebon, November 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................i
DAFTAR ISI ...................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah............................................................................1
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................2
1.3 Tujuan .......................................................................................................2
1.4 Manfaat .....................................................................................................3
1.5 Metode Penulisan.......................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Kualitas Pelaporan Keuangan.....................................................................4
2.2 Tujuan Pelaporan Keuangan.......................................................................5
2.3 Peranan GCG terhadap Kualitas Pelaporan Keuangan dan Kepercayaan
Investor
...................................................................................................................
6
2.4 Peran Auditor Eksternal Dalam GCG
...................................................................................................................
6
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan....................................................................................................13
3.2 Saran..........................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Globalisasi pasar keuangan yang terjadi saat ini menuntut perusahaan
untuk menyajikan pelaporan keuangan yang dapat memberikan informasi
yang dibutuhkan pengguna. Dari pelaporan keuangan suatu perusahaan, maka
kondisi finansial dan ekonomi perusahaan dapat diketahui. Status ekonomi dan
finansial tersebut memiliki peran penting pada corporate governance dan
kesinambungan akuntansi. Pelaporan keuangan perusahaan merupakan hasil dari
proses akuntansi perusahaan dan sistem pelaporan eksternal yang mengukur dan
secara rutin mengungkapkan hasil auditan, data kuantitatif terkait dengan posisi
keuangan dan performa perusahaan.
Tujuan pelaporan keuangan tidak terbatas pada isi dari laporan keuangan
tetapi juga pada media pelaporan lainnya. Cakupan pelaporan keuangan lebih
luas dibandingkan dengan laporan keuangan. FASB menyatakan bahwa
pelaporan keuangan mencakup tidak hanya laporan keuangan tetapi juga media
pelaporan informasi lainnya, yang berkaitan langsung atau tidak langsung
dengan informasi yang disediakan oleh sistem akuntansi, yaitu informasi tentang
sumber-sumber ekonomi, hutang, laba periodik, dan lain-lain.
Pelaporan keuangan yang baik adalah pelaporan keuangan yang
memenuhi tujuan dari pelaporan tersebut. Selain itu karakteristik kualitatif atas
pelaporan keuangan yang baik telah ditetapkan dalam SFAC No. 8. Pelaporan
keuangan yang baik mencakup pelaporan yang relevan dan terpercaya.
Pengungkapan dalam pelaporan keuangan merupakan mekanisme yang paling
efisien dan efektif untuk mendorong manajer dalam pengelolaan perusahaan.
Manager akan termotivasi untuk mengelola perusahaan lebih baik jika informasi
dalam pelaporan keuangan memiliki kualitas yang lebih baik. Pelaporan
keuangan yang berkualitas dapat membantu promosi perusahaan pada pasar
modal yang efisien. Informasi yang tersedia pada pelaporan keuangan perusahaan
akan digunakan oleh shareholder, investor, kreditur, dan orang lain yang terkait

1
dengan maksud agar dapat mengenal lebih jauh profil dan kondisi perusahaan.
Selain itu, dari pelaporan keuangan maka ada atau tidaknya fraud atau
kecurangan dalam operasi perusahaan akan dapat diketahui.
Perpaduan antara ketiga faktor-faktor tersebut akan mengarahkan pada
keandalan pelaporan keuangan yang lebih baik. Peran penting dari fungsi audit
internal pada proses pelaporan keuangan yang dapat meningkatkan kualitas
pelaporan keuangan. Fungsi audit internal berfungsi untuk mengawasi
manajemen bersama dengan komite audit. Audit eksternal juga merupakan salah
satu kunci mekanisme corporate governance bersama dengan komite audit,
fungsi audit internal dan manajemen. Auditor eksternal memiliki peran dalam
penilaian dan pemberian opini terhadap penyajian laporan keuangan dan
kelangsungan hidup perusahaan. Opini auditor eksternal sangat dibutuhkan
oleh pengguna laporan keuangan untuk pengambilan keputusan. Pengguna
laporan keuangan ini terutama adalah investor yang membutuhkan pengambilan
keputusan investasi yang baik.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun latar belakang masalah yang sudah diuraikan di atas, maka penulis
merumuskan masalah sebagai berikut :
a. Bagaimanakah pelaporan keuangan dalam Good Corporate Governance
(GCG) ?
b. Bagaimanakah peran audit eksternal dalam Good Corporate Governance
(GCG) ?

1.3 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan dari makalah ini, sebagai berikut :
a. Untuk memenuhi tugas matakuliah corporate governance
b. Untuk mengetahui kualitas pelaporan keuangan yang baik dalam GCG
c. Untuk mengetahui peran audit eksternal dalam GCG

1.4 Manfaat Penelitian


Adapun manfaat dari penulisan makalah ini sebagai berikut:
a. Bagi Pembaca
Makalah ini bisa menjadi wacana, sumber informasi, dan pengetahuan
(wawasan) bagi pembaca. Sehingga pembaca lebih mengerti tentang pembahasan

2
mengenai kualitas pelaporan keuangan dan peran audit ekternal dalam gcg pada
makalah tersebut.
Pemilik perusahaan diharapkan dapat mengambil informasi dari makalah ini.
Serta dapat mengevaluasi dan menentukan kebijakan perusahaan yang lebih baik,
agar dapat mencapai tujuan perusahaan tersebut.
b. Bagi Penulis
Penulis lebih mengetahui dan memperdalam mengenai kualitas pelaporan
keuangan dan peran audit eksternal dalam gcg melalui sumber – sumber referensi,
serta dapat menghasilkan karya tulis, yaitu makalah.

1.5 Metode Penulisan


Metode yang digunakan dalam karya tulis ini adalah Metode Pustaka, yaitu
metode yang dilakukan dengan mempelajari dan mengumpulkan data dari pustaka
yang berhubungan dengan alat, baik berupa buku maupun informasi di internet.
Penulis menggunakan metode ini karena jauh lebih praktis, efektif dan efisien,
serta sangat mudah untuk mencari bahan dan data-data tentang topik ataupun
materi yang akan digunakan untuk karya tulis ini.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kualitas Pelaporan Keuangan


Informasi akuntansi keuangan adalah produk akuntansi perusahaan dan

3
sistem pelaporan eksternal yang mengukur dan secara rutin mengungkapkan hasil
audit, data kuantitatif yang berhubungan dengan posisi keuangan dan
pelaksanaan perusahaan. Pengungkapan adalah mekanisme yang paling efisien
dan efektif untuk mendorong manajer untuk melakukan pengelolaan yang lebih
baik.
Chariri dan Ghozali (2007) menyatakan bahwa pelaporan keuangan
meliputi laporan keuangan, informasi pelengkap, dan media pelaporan lainnya,
sedangkan laporan keuangan hanya mencakup neraca, laporan laba/rugi,
laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, dan catatan atas laporan keuangan.
Hal itu berarti pelaporan keuangan memiliki cakupan yang lebih luas
dibandingkan dengan laporan keuangan.
Pelaporan keuangan yang baik menggambarkan capital market yang
efisien dan fair. Informasi yang disajikan dalam pelaporan keuangan dapat
memberikan pemahaman yang lebih baik bagi pengguna pelaporan keuangan.
Manajemen dapat menyampaikan informasi yang sesuai dengan peraturan atau
kebiasaan yang dianggap berguna untuk pihak eksternal, atau dapat juga
mengungkapkan secara sukarela. Informasi yang dikomunikasikan selain dengan
menggunakan laporan. Tujuan pelaporan keuangan antara lain (Statement of
Financial Accounting Concept Nomor 1 dalam Chariri dan Ghozali, 2007):
a. Memberikan informasi yang bermanfaat bagi investor, kreditor, dan pemakai
lainnya untuk mengambil keputusan investasi dan kredit,
b. Memberikan informasi untuk membantu investor, kreditor, dan pemakai
lainnya untuk menilai jumlah, pengakuan, dan ketidakpastian tentang
penerimaan kas bersih perusahaan,
c. Memberikan informasi tentang sumber–sumber ekonomi perusahaan serta
klaim terhadap sumber–sumber ekonomi tersebut,
d. Menyediakan informasi tentang hasil usaha perusahaan selama satu periode,
e. Menyediakan informasi tentang cara perusahaan memperoleh dan
membelanjakan kas, pinjaman dan pembayaran kembali pinjaman, dan
transaksi modal, serta faktor lain yang memengaruhi likuiditas dan
solvabilitas perusahaan,
f. Menyediakan informasi tentang cara manajemen mempertanggungjawabkan
pengelolaan kepada pemilik (pemegang saham) atas pemakaian sumberdaya
ekonomi yang dipercayakan,

4
g. Menyediakan informasi yang bermanfaat bagi direktur dan manajer sesuai
kepentingan pemilik.

2.2 Tujuan Pelaporan Keuangan


Tujuan pelaporan keuangan adalah untuk keputusan investasi sehingga
harus menyajikan informasi yang berguna, komprehensif dan dapat dipahami oleh
mereka yang berpengetahuan mengenai aktivitas ekonomi. Pelaporan keuangan
harus menyajikan informasi yang dapat membantu investor, kreditor, calon
investor-kreditor potensial serta pemakai lainnya. Tujuan pelaporan keuangan
dibuat untuk diarahkan pada kebutuhan pemakai yang dapat memahami secara
lengkap serangkaian laporan keuangan atau secara alternatif, pada kebutuhan para
ahli yang diminta pemakai yang sederhana untuk memberikan saran-saran pada
mereka. Yang menjadi sasaran pelaporan keuangan, terutama untuk tujuan umum
bagi para pemakai pihak luar perusahaan, yaitu investor, kreditor, calon investor-
kreditor potensial serta pihak lain yang berkepentingan. Ini dikarenakan pihak
luar, tidak mempunyai akses secara langsung ke dalam perusahaan untuk
mendapatkan informasi yang dibutuhkan, sedangkan manajemen perusahaan
jarang mengkomunikasikannya.Oleh karena itu, informasinya diarahkan untuk
menggambarkan kemampuan atau kinerja perusahaan yang dapat dipakai sebagai
dasar pengambilan keputusan investasi dan kredit.Sehingga, tujuan pelaporan
keuangan tidak hanya dibatasi pada informasi dalam laporan keuangan saja,
melainkan termasuk juga informasi keuangan lainnya dan informasi non
keuangan.

2.3 Peranan GCG terhadap Kualitas Pelaporan Keuangan dan Kepercayaan


Investor
Pelaporan keuangan yang berkualitas memiliki peranan yang besar, GCG
berperan membantu perusahaan menyajikan pelaporan keuangan yang berkualitas.
Dengan melihat pelaporan keuangan, investor dapat mengambil keputusan untuk
berinvestasi atau tidak. GCG merupakan suatu proses serta struktur yang
digunakan untuk mengarahkan sekaligus mengelola bisnis dan urusan perusahaan
ke arah peningkatan pertumbuhan bisnis dan akuntabilitas perusahaan. Adapun
tujuan akhirnya adalah menaikkan nilai saham dalam jangka panjang tetapi tetap
memperhatikan berbagai kepentingan para stakeholder lainnya. Selain itu,

5
perhatian yang diberikan investor terhadap GCG sama besarnya dengan perhatian
terhadap kinerja keuangan perusahaan, karena dengan adanya tata kelola
perusahaan yang baik, maka perusahaan akan memiliki kinerja keuangan yang
baik pula.

2.4 Peran Auditor Eksternal Dalam GCG


Audit eksternal adalah audit terpisah dari perusahaan yang disewa oleh
perusahaan untuk memastikan bahwa laporan keuangan perusahaan yang disusun
telah mengikuti prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Auditor eksternal
adalah orang yang melakukan audit eksternal pada sebuah organisasi/perusahaan.
Audit eksternal pada perusahaan dilakukan dengan mengecek dokumen-dokumen
dan catatan-catatan serta peralatan elektronik dan pengendalian komputer. Peran
utama eksternal auditor adalah untuk memberikan pendapat apakah laporan
keuangan bebas dari salah saji material. Eksternal auditor mereview prosedur
pengendalian teknologi informasi saat menilai pengendalian internal
keseluruhan. Eksternal auditor ini mempunyai independensi dari perusahaan
yang diaudit. Eksternal auditor bertanggungjawab atas opini terhadap
pemeriksaan Laporan Keuangan dan Laporan Manajemen lainnya yang
dipersiapkan Direksi, yang menjadi dasar bagi stakeholders dalam menilai
kondisi perusahaan.
Auditor eksternal dan auditor internal memiliki perbedaan dalam hal-hal
berikut ini :
1. Perbedaan Misi
Tanggungjawab utama auditor eksternal adalah memberikan opini atas
kewajaran pelaporan keuangan organisasi. Mereka juga menilai apakah laporan
keuangan organisasi disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang
diterima secara umum, diterapkan secara konsisten dari periode ke periode, dan
seterusnya. Sementara itu, tanggungjawab utama auditor internal tidak
terbatas pada pengendalian internal berkaitan dengan tujuan reliabilitas
pelaporan keuangan saja, namun juga melakukan evaluasi desain dan
implementasi pengendalian internal, manajemen risiko, dan governance dalam
pemastian pencapaian tujuan organisasi.

6
2. Perbedaan Organisasional
Auditor Internal merupakan bagian integral dari organisasi di mana klien
utama mereka adalah manajemen dan dewan direksi dan dewan komisaris,
termasuk komite-komite yang ada. Biasanya auditor internal merupakan
karyawan organisasi yang bersangkutan. Sebaliknya, auditor eksternal
merupakan pihak ketiga alias bukan bagian dari organisasi. Mereka melakukan
penugasan berdasarkan kontrak yang diatur dengan ketentuan perundang-
udangan maupun standar profesional yang berlaku untuk auditor eksternal.
3. Perbedaan Fokus dan Orientasi
Auditor internal lebih berorientasi ke masa depan, yaitu kejadian-kejadian
yang diperkirakan akan terjadi serta bagaimana organisasi bersiap terhadap segala
kemungkinan pencapaian tujuannya. Sedangkan auditor eksternal terutama
berfokus pada akurasi dan bisa dipahaminya kejadian-kejadian historis
sebagaimana terefleksikan pada laporan keuangan organisasi.
4. Perbedaan Timing
Auditor internal melakukan review terhadap aktivitas organisasi secara
berkelanjutan, sedangkan auditor eksternal biasanya melakukan secara
periodik/tahunan.
Opini yang dikeluarkan auditor eksternal berguna untuk memastikan apakah
pelaporan keuangan yang disajikan oleh entitas telah sesuai dengan standar
yang berlaku umum. Selain itu, auditor eksternal dapat memberikan penilaian
apakah laporan keuangan disajikan bebas dari salah saji material. Dengan
sifatnya yang independen, auditor eksternal dapat memperbesar peluang untuk
meningkatkan kualitas pelaporan keuangan.

Dalam hubungan dengan Eksternal Auditor, Perusahaan menetapkan


kebijakan-kebijakan sebagai berikut:
a) RUPS berwenang menunjuk auditor eksternal dari calon yang diajukan oleh
Komisaris berdasarkan usulan dari Komite Audit (apabila ada);
b) Komite Audit (apabila ada) melalui Komisaris wajib menyampaikan kepada
RUPS alasan pencalonan tersebut dan besarnya honorarium yang diusulkan
untuk auditor eksternal;

7
c) Auditor Eksternal harus bebas dari pengaruh Komisaris, Direksi maupun pihak
yang berkepentingan di Perusahaan;
d) Perusahaan wajib menyediakan semua catatan akuntansi dan data penunjang
yang diperlukan sehingga memungkinkan auditor eksternal memberikan
pendapatnya tentang kewajaran dan kesesuaian laporan keuangan perusahaan
dengan standar laporan keuangan Indonesia.
e) Terhadap Auditor Eksternal yang melakukan audit atas laporan keuangan, perlu
diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Dewan Komisaris wajib menyampaikan kepada RUPS menyangkut alasan
pencalonan dan besarnya honorarium/imbal jasa yang diusulkan untuk
Auditor Eksternal Perseroan.
2. Direksi dapat mengusulkan calon-calon Auditor Eksternal kepada Pemegang
Saham melalui Dewan Komisaris.
Auditor Eksternal melakukan audit terhadap laporan keuangan Perseroan
untuk memberikan pendapat atas kewajaran penyajian laporan keuangan
secara independen dan profesional.
4. Auditor Eksternal menyampaikan laporan hasil audit kepada Direksi dan
Dewan Komisaris secara tepat waktu.

KASUS PT TELKOM Tbk.

PT Telkom adalah perusahaan informasi dan telekomunikasi serta penyedia


jasa dan jaringan telekomunikasi secara lengkap di Indonesia. PT Telkom
mengklaim bahwa dirinya sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar di
Indonesia, dengan jumlah pelanggan telepon tetap sebanyak 15 juta dan pelanggan
telepon seluler sebanyak 104 juta.
PT Telkom merupakan salah satu BUMN yang sahamnya dimiliki oleh
pemerintah Indonesia (52,47% dan 47,53% dimiliki oleh public, Bank of New
York, dan investor dalam Neegeri). Selai itu PT Telkom juga merupakan
pemegang saham mayoritas di 13 anak perusahaan termasuk PT Telekomunikasi
Seluler (Telkomsel).

8
Cikal bakal PT Telkom bermula dari didirikannya sebuah badan usaha
swasta penyedia layanan pos dan telegraf pada tahun 1882. Layanan komunikasi
tersebut dikonsolidasikan oleh pemerintah hindia Belada ke dalam jawatan post
telgraf (PTT). Namun sebelum tahun 1882, pada tanggal 23 Oktober 1856 telah
dimulai pengoperasian layanan jasa telegraf elektromagnetik pertama yang
menghubungkan Jakarta dengan Bogor. Momen itulah yang dijadikan sebagai hari
lahir PT Telkom tepatnya pada tahun 2008.
PT Telkom awalnya memiliki reputasi yang baik di Bursa Efek Jakarta
(BEJ) dan New York Stock Exchange. Namun dengan berjalannya waktu , pada
tahun 2002 PT TELKOM mengalami masalah yaitu masalah mekanisme tender
untuk mengaudit keuangannya. Untuk mengaudit pembukuan PT telkom tahun
2002 perusahaan menunjuk KAP Eddy Pianto sementara untuk PT Telkomsel
ditunjuk KAP Hadi Sutanto.
KAP Hadi Sutanto dan Rekan merupakan KAP yang mendapatkan
kepercayaan untuk mengaudit PT Telkomsel yaitu sebuah anak perusahaan dari
PT Telkom. KAP HS dan Rekan dalam perjalanannya mengundurkan diri untuk
mengaudit PT Telkomsel. Hal itu dimaksudkan unuk menghindari kerugian yang
akan dialami di kemudian hari, bila akan berafiliasi dengan KAP Edi Pianto dan
Rekan. Adapun alasan Pengunduran diri KAP HS, yaitu :
a) KAP HS tidak mau berafiliasi dengan KAP EP
b) KAP HS meragukan kelayakan hak praktek KAP EP dihadapan BAPEPAM
AS
c) KAP HS mengetahui SEC (Security Exchange Commision) tidak mengakui
keberadaan KAP EP berkaitan dengan keraguannya atas kompetensi dan
independensi yang dimiliki oleh para auditornya.
d) KAP HS ketika mengaudit PT Telkomsel meminta izin untuk melihat 20-F
seluruhnya terlebih dahulu. Permintaan tersebut ditolak oleh PT Telkom karena
waktunya yang sangat krusial serta tidak ada hubungannya dengan KAP HS,
dan juga segera dilaporkan ke SEC.
Sedangkan KAP EP dan Rekan adalah KAP yang ditunjuk untuk melakukan
audit dan konsolidasi pada PT Telkom. KAP EP adalah KAP yang melanjutkan
audit PT Telkomsel setelah ditinggal oleh KAP HS.

9
Kasus audit PT Telkom berawal dari kesalahan interprestasi uang dilakukan
oleh KAP Haryanto Sahari dan Rekan terhadap PT Telkom, PT Telkomsel dan
United State Securities an Exchange Commisions mengenai ketentuan standar
audit Amerika. Audit PT Telkomsel harus mengikuti standar audit Amerika
dengan merujuk pada peraturan SEC Karena PT Telkomsel membuka bursa di
NYSE. Aturan SEC yang harus dijalani adalah:
a) Filing F-20 yaitu form laporan keuangan dan laporan manajemen dengan
KAP yang terpercaya.
b) Kewajiban untuk menyampaikan laporan keuangan yang telah di audit oleh
auditor independen secara berkala setiap tahun.
Karena waktunya sangat terbatas KAP EP meminta hasil audit yang dahulu
pernah dilakukan oleh KAP HS, tetapi KAP HS menolak unuk memberitahu hasil
audit yang pernah dilakukannya. KAP Eddy Pianto pada awalnya berhak
melakukan pekerjaan audit atas nama Grant Thornton berdasarkan engagement
latter yang telah ditandatangani sebelum tanggal withdrawal agreement tersebut.
Namun untuk memahami US GASS dan GAAP dalam rangka filin form 20-F,
KAP Eddy Pianto meminta bantuan dari Mark Iwan, certified Public Accountant
independen yang bukan merupakan partner dari Grant Thornton untuk memberi
pelatihan dan konsultasi.
Penolakan tersebut telah menyebabkan perdagangan saham PT Telkom yang
tercatat di New York Stock Exchange dalam bentuk IDR dihentikan sementara.
Harga saham PT Telkom di Bursa Efek Jakarta turun secara drastis dari harga
penutupan sehari sebelumnya, serta memberikan pengaruh yang cukup signifikan
terhadap penurunan Indeks Harga Gabungan (IHG). Adapun masalah yang timbul,
yaitu :
a) Masalah muncul pada saat laporan audit (konsolidasi) tentang total kinerja PT
Telkom yang di audit oleh KAP Eddy Pianto ditolak oleh PwC
(Pricewaterhouse Coopers). Alasannya adalah lembaga itu tidak mau
berasosiasi dengan pekerjaan KAP Eddy Pianto. Sikap itu dilakukan untuk
menghindari kerugian di kemudian hari.
b) KAP HS dan rekan mencoba untuk menyesatkan dan merugikan para
pemegang saham dari perseroan induk maupun anak perusahaan yakni
TELKOM dan TELKOMSEL.

10
c) KAP HS dan KAP EP melanggar peraturan BAPEPAM tentang persaingan
yang tidak sehat antara sesama auditor.
d) Tindakan yang dilakukan oleh KAP HS yaitu tidak mengizinkan KAP EP
untuk memakai acuannya sehingga KAP EP harus memulainya lagi dari awal
tanpa mengetahui dokumen-dokumen apa saja yang pernah di audit.

Adapun sanksi terhadap KAP Eddy Pianto dan Rekan, yaitu BAPEPAM
mewajibkan KAP Eddy Pianto, Partner KAP Eddy Pianto untuk tidak melakukan
kegiatan usaha di pasar modal terhitung sejak tanggal 16 Juni 2003 sampai
diputuskan lebih lanjut oleh BAPEPAM. Alasannya, karena laporan keuangan
konsolidasi PT Telkom tahun Buku 2002 ditolak oleh SEC.
Sedangkan sanksi terhadap KAP HS dan Rekan, yaitu KAP HS harus
membayar denda sebesar Rp 20 milyar ke Kas Negara dengan Undang-Undang
paksa sebesar Rp 10 juta per hari. Denda tersebut harus dibayar maksimal 30 hari
setelah pemberitahuan keputusan dari KPPU (Komisi Pengawas Persaingan
Usaha). Sanksi ini dikenakan karena KAP HS dan Rekan terbukti bersalah dan
mengakibatkan rusaknya kualitas audit KAP Eddy Pianto atas Laporan Keuangan
Konsolidasi PT Telkom tahun buku 2002.
Analisis Kasus
Dalam kasus tersebut dikatakan bahwa KAP Hadi Sutanto dikenakan sanksi
dengan membayar sebesar Rp 20 milyar ke kas Negara karena terbukti bersalah
dan mengakibatkan rusaknya kualitas audit KAP Eddy Pianto atas Laporan
Keuangan Konsolidasi PT Telkom tahun buku 2002. Karena rusaknya kualitas
audit KAP Eddy Pianto tersebut sanksi yang diberikan oleh BAPEPAN terhadap
KAP Eddy Pianto dan rekan yaitu untuk tidak melakukan kegiatan usaha di pasar
modal terhitung sejak tanggal 16 Juni 2003 sampai diputuskan lebih lanjut oleh
BAPEPAM. Sanksi tersebut diberikan karena laporan keuangan konsolidasi PT
Telkom tahun Buku 2002 ditolak oleh SEC.
Dari kasus tersebut terlihat bahwa antara KAP Hadi Sutanto beserta rekan
dan KAP Edi Pianto beserta Rekan tidak menjalin hubungan yang baik diantara
kedua belah pihak tersebut. Seharusnya sesama Kantor Akuntan Publik perlu
bekerja sama dan saling mendukung dalam menjalankan tugas sebagai seorang
auditor sehingga dengan saling adanya kerjasama diantara kedua belah pihak,

11
maka akan dapat menciptakan kualitas laporan keuangan yang handal. Selain itu,
para auditor juga hendaknya menjaga profesionalitas agar reputasi saham di pasar
tetap baik. Dimana profesionalitias seorang auditor tersebut dalam menjalankan
tugasnya merupakan asset penting yang harus dimiliki.
1. Perusahaan dan KAP seharusnya menjalankan tugas sesuai dengan aturan yang
telah ditetapkan.
2. Sesama Kantor Akuntan Publik perlu bekerja sama dan saling mendukung
dalam menjalankan tugas sebagai seorang Auditor.
3. Para Audtor hendaknya menjaga profesionalitas atau kinerja kerjanya supaya
reputasi saham di pasar tetap baik.
4. Professionalitas seorang auditor dalam menjalankan tugasnya merupakan asset
penting yang harus dimiliki.

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Tata Kelola Perusahaan yang baik (GCG) dalam organisasi Perusahaan
berlandaskan pada komitmen untuk menciptakan Perusahaan yang transparan,
dapat dipertanggung jawabkan (accountable), dan terpercaya melalui manajemen
bisnis yang dapat dipertanggung jawabkan. Transparansi dan keadilan tata kelola
Perusahaan yang baik, Telkom mengelola komunikasi dan pengungkapan
Perusahaan sesuai Kebijakan Direksi. Kebijakan yang berisi prosedur
pengendalian keterbukaan Perusahaan (disclosure control procedure) yang
bertujuan agar Perusahaan mampu memberikan keyakinan bahwa seluruh
informasi yang diungkapkan kepada para pemegang saham, pemangku
kepentingan dan otoritas pasar modal telah dikumpulkan, diperiksa, dicatat,
diproses, diikhtisarkan, dan disampaikan secara akurat, tepat waktu, memenuhi

12
prinsip perlakuan seimbang dan adil, prinsip kehati-hatian dan prinsip
keterbukaan penuh sesuai dengan peraturan pasar modal. Dalam kerangka kerja,
terintegrasi dengan beberapa system pengelolaan yang menjadi prasyarat atau
bagian yang tidak dapat dipisahkan dari penerapan GCG di Perusahaan, tidak lain
adalah untuk menjamin dan memastikan dicapainya penerapan GCG yang efektif
sampai pada tingkat operasional yaitu memastikan bahwa setiap transaksi, baik
transaksi internal maupun eksternal. Dalam kerangka kerja Telkom bahwa
keberhasilan Perseroan sangat didukung oleh terbentuknya nilai-nilai inti dan
budaya Perusahaan serta mampu menerapkan GCG, untuk itu Telkom
membangun kerangka GCG dan Roadmap untuk memastikan bahwa penerapan
GCG disusun berdasarkan kesepahaman bersama antara manajemen dengan
seluruh elemen Perusahaan serta terinternalisasi dalam menjalankan usaha
Perusahaan berdasarkan 4 (empat) pilar utama

3.2 Saran
Sebaiknya perusahaan dapat mengusahakan agar pelaporan keuangannya
berkualitas dan peran auditor eksternal dalam good corporate governance dapat
meningkatkan kinerja perusahaan serta kepercayaan dari investor semakin
meningkat. Selain itu, peran eksternal auditor sangat penting dalam pengawasan
pelaporan keuangan yang berkualitas. Sehingga pelaporan keuangan tersebut
dinyatakan secara transparan, wajar, akuntabilitas, dan tepat waktu sesuai dengan
prinsip – prinsip good corporate governance.

13
DAFTAR PUSTAKA

FCGI. 2001. Corporate Governance: Tata Kelola Perusahaan Edisi Ketiga.


Jakarta: Erlangga

Ghozali dan Chairi. 2007. Teori Akuntansi. Semarang: Badan Penerbit Undip
http://www. knkg-indonesia.com/ (Diakses tanggal 25 November 2017)
http://www.pt telkom.com/ (Diakses tanggal 25 November 2017)

14