Anda di halaman 1dari 25

Mata Kuliah : Teknologi Kontrasepsi

Dosen : Prof. Dr. dr. H. M. Tahir Abdullah, M. Sc., MSPH

METODE KALENDER, SUHU BASAL DAN LENDIR SERVIKS

OLEH : KELOMPOK 2

1. DEBORA SELIN (K01217)


2. JUMIATI (K012171074)
3. UMRATUN HAYATI (K012171124)

DEPARTEMEN KESEHATAN REPRODUKSI


PRODI MAGISTER KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYRAKAT
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017

1|Page
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ................................................................................................. i


KATA PENGANTAR ................................................................................................. ii
DAFTAR lSI ............................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
A. Latar Belakang ......................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................................... 2
C. Tujuan ...................................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................. 3
A. Metode Kalender (Pantang berkala) ......................................................................... 3
B. Metode Suhu Basal ................................................................................................... 7
C. Metode Lendir Serviks ........................................................................................... 11
BAB IV PENUTUP ................................................................................................... 18
A. Kesimpulan ............................................................................................................ 18
B. Saran ....................................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA

2|Page
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat
dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah Mata
Kuliah Teknologi Kontrasepsi dengan tema “Metode Kalender, Suhu Basal dan
Lendir Serviks “.

Makalah ini berisi tentang tinjauan umum tentang metode kalender, suhu basal
dan lender serviks serta kelebuhan dan kekurangan setiap metode tersebut.

Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini, tentunya masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang
sifatnya membangun sangat kami harapkan guna kesempurnaan pada
makalah-makalah selanjutnya.

Demikian makalah ini dibuat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca.

Makassar, 17 Februari 2018

Penulis

3|Page
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara garis besar masalah pokok dibidang kependudukan yang
dihadapi Indonesia adalah jumlah pertumbuhan penduduk yang besar
dengan laju pertumbuhan penduduk yang relatif masih tinggi, penyebaran
penduduk yang tidak merata, struktur umur muda, dan kualitas penduduk
yang masih harus ditingkatkan (Winjosastro, 1999 dalam Arliana, 2013).
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) peningkatan jumlah penduduk
telah terjadi di Indonesia setiap tahunnya. Jumlah penduduk Indonesia
pada tahun 2010 adalah 237.641.326 jiwa dan jumlah tersebut diprediksi
akan meningkat setiap tahunnya.
Tingginya tingkat pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh tiga faktor
utama yaitu fertilitas, mortalitas dan migrasi (Grestasari, 2014). Untuk
mengatur laju pertumbuhan penduduk, sejak tahun 1953 mulai dikenal
program keluarga berencana di Indonesia. Program keluarga berencana
dimaksudkan untuk mengatur jumlah dan waktu kehamilan dengan metode
kontrasepsi (Trisnawarman dan Erlysa, 2007).
Penggunaan metode atau alat kontrasepsi bagi setiap pasangan harus
mempertimbangkan kerasionalan, efisiensi dan efektifitas metode atau alat
kontrasepsi yang akan digunakan. Penggunaan metode atau alat
kontrasepsi hendaknya dilakukan secara sukarela tanpa adanya unsur
paksaan yang didasarkan pada pertimbangan secara rasional dari sudut
tujuan atau teknis penggunaan, kondisi kesehatan medis, kondisi sosial
ekonomi, pengaruh metode terhadap fungsi reproduksi sekaligus terhadap
kesejahteraan (Trisnawarman & Erlysa, 2007, Komblinsky, dkk, 1997).

Secara umum, kontrasepsi terbagi menjadi dua macam yaitu


kontrasepsi alami dan kontrasepsi intervensi. Setiap metode tersebut

4|Page
memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga tidak dapat
ditetapkan metode mana yang lebih efektif. Namun, dari segi keamanan
yaitu tanpa efek samping metode kontrasepsi alami dinilai lebih aman dan
tanpa efek samping karena tidak adanya intervensi yang diberikan. Metode
kontrasepsi alami dapat dilakukan dengan cara mengetahui masa subur
wanita. Masa subur adalah suatu masa atau waktu dalam siklus
menstruasi, yang menunjukkan bahwa sel telur matang siap dibuahi. Jika
terjadi pertemuan antara sperma dan sel telur saat itu, maka akan terjadilah
kehamilan. Pengetahuan akan masa subur diperlukan untuk mencegah
(menunda) kehamilan, serta membantu merencanakan jenis kelamin anak.
Untuk memperkirakan masa subur dapat diketahui dengan beberapa
metode. Diantaranya adalah metode kalender atau pantang berkala, suhu
basal, perubahan serviks dan lendir serviks.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari metode pantang berkala atau kalender ?
2. Apakah pengertian dari metode suhu basal ?
3. Apakah pengertian dari metode lender serviks ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari metode pantang berkala atau
kalender
2. Untuk mengetahui pengertian dari metode suhu basal
3. Untuk mengetahui pengertian dari metode lender serviks

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

5|Page
A. METODE KALENDER (PANTANG BERKALA)
1. Pengertian
Metode kalender atau pantang berkala adalah metode kontrasepsi
sederhana yang dilakukan oleh pasangna suami istri dengan tidak
melakukan senggama atau hubungan seksual pada masa subur atau
ovulasi.
2. Manfaat
Adapun manfaat dari metode ini adalah :
a. Kontrasepsi
1. Dapat digunakan untuk menghindari kehamilan ataupun bagi
pasangan yang menginginkan kehamilan
2. Tidak ada resiko kesehatan yang berhubungan kontrasepsi
3. Tidak ada efek samping sistemik
4. Maurah atau tanpa biaya
b. Nonkontrasepsi
1. Meningkatkan keterlibatan suami dalam keluarga berencana
2. Menambah pengetahuan tentang system reproduksi oleh
suami/istri
3. Memungkinkan mengeratkan relasi/hubungan melalui
peningkatan kominikasi antara pasangan suami istri
3. Keuntungan
Metode kalender atau pantang berkala mempunyai keuntungan sebagai
berikut:
1. Metode kalender atau pantang berkala lebih sederhana
2. Dapat digunakan oleh setiap wanita yang sehat
3. Tidak menganggu pada saat berhubungan seksual
4. Tidak membutuhkan alat atau pemeriksaan khusus dalam
pelaksananaanya

6|Page
5. Kontrasepsi dengan mengguanakan metode kalender dapat
menghindari resiko kesehatan yang berhubungan dengan
kontrasepsi
6. Tidak memerlukan biaya
7. Tidak memerlukan tempat pelayanan kontrasepsi
4. Keterbatasan
Sebagai metode alami, metode pantang berkala ini juga memilki dan
keterbatasan antara lain:
1. Memerlukan kerjasama yang baik antara pasangan suami dan istri
2. Harus ada motivasi dan disiplin pasangan dalam menjalankannya
3. Pasangan suami istri tidak dapat melakukan hubungan seksual
setiap saat
4. Pasangan suami istri harus tahu masa subur dan masa tidak subur
5. Harus mengamati siklus menstruasi minimal enam kali siklus
6. Siklus menstruasi yang tidak teratur menjadi penghambat
7. Lebih efektif bila dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain
5. Efektifitas
Metode kalender atau pantang berkala akan lebih efektif jika dilakukan
dengan baik dan benar. Sebelum menggunakan metode ini pasangan
suami istri harus mengetahui masa subur.
Masa subur setiap wanita ada yang tidak sama, oleh karena itu
diperlukan pengamatan minimal enam kali siklus menstruasi. Selain itu
metode ini juga akan efektif bila digunakan dengan metode kontrasepsi
lain. Berdasarkan penelitian dr Johnson dkk metode kalender akan
efektif tiga kali lipat bila dikombinasikan dengan metode simptothermal.
Angka kegagalan penggunaan metode kalender adalah 14 per 100
wanita per tahun.
Ada beberapa factor Penyebab Metode Kalender tidak efektif
antara lain:

7|Page
a. Penentuan masa tidak subur tidak didasarkan pada kemampuan
hidup sel sperma dalam saluran reproduksi (sperma mampu
bertahan selama 3 hari)
b. Masih ada anggapan bahwa perdarahan yang datang bersamaan
dengan ovulasi, diinterpretasikan sebagai menstruasi. Hal ini
menyebabkan perhitungan masa subur sebelum dan setelah ovulasi
menjadi tidak tepat
c. Penentuan masa subur tidak didasarkan pada siklus menstruasi
sendiri
d. Kurangnya pemahaman tentang hubungan masa subur atau ovulasi
dengan perubahan enis mucus atau lendir yang serviks yang
menyertainya.
e. Anggapan bahwa hari pertama menstruasi dihitung dari berakhirnya
perdarahan menstruasi. Hal ini menyebabkan penentuan masa tidak
subur menjadi tidak tepat
6. Pelaksanaan
Hal yang perlu diperhatikan pada siklus menstruasi wanita sehat ada 3
tahapan yaitu:
1. Pre ovulatory infertility phase (masa tidak subur sebelum ovulasi)
2. Fertility phase (masa subur)
3. Post ovulatory infertility phase (masa tidak subur setelah ovulasi)
Perhitungan masa subur akan efektif bila sikus menstruasinya normal
yaitu 21-35 hari. Pemantauan jumlah hari pada setiap menstruasinya
dilakukan minimal enam kali siklus berturut-turut. Kemudian hitung
periode masa subur dengan melihat data yang telah dicatat.

1. Bila haid teratur (28 hari)

8|Page
Hari pertama dalam siklus haid dihitung sebagai hati ke-1 dan masa
subur adalah hari ke-12 sampai hari ke-16
Contoh:
Seorang istri mendapat haid mulai 10 Februari, dihitung sebagai kari
ke-1. Maka hari ke-12 jatuh pada tanggal 21 Februari dan hari ke-16
pada tanggal 25 Februari. Jadi masa yaitu sejak tanggal 21 Februari
sampai 25 Februari. Sehingga masa ini merupakan masa pantang
untuk melakukan sanggama. Apabila ingin melakukan hubungan
seksual di masa subur harus menggunakan kontrasepsi lain.
2. Bila haid tidak teratur
Jumlah hari terpendek dalam 6 kali siklus haid dikurangi 18.
Hitungan ini menentukan hari pertama masa subur. Jumlah hari
terpanjang selama 6 siklus haid dikurangi 11.
Rumus:
a. Hari pertama masa subur = jumlah hari terpendek-18
b. Hari terakhir masa subur = jumlah hari terpanjang-11
Contoh :
Seorang istri mendapat haid dengan sklus terpendek adalah 25 hari
dan siklus terpanjang 31 hari
Langkah 1 : 25-18 = 7
Langkah 2 : 33-11 = 22
Jadi masa suburnya adalah mulai hari ke-7 samapi hari ke-22.
Sehingga masa ini pasangan suami istri tidak boleh melakukan
sanggama. Apabila ingin melakukan sanggama harus
menggunakan kontrasepsi lain.

B. METODE SUHU BASAL


1. Pengertian

9|Page
Metode suhu basal adalah suhu badan saat kita beristrahat (tidak
setelah atau sedang melakukan kegiatan). Pengukuran suhu basal
dilakukan pada pagi hari segera setelah bangun tidur dan sebelum
melakukan aktifitas lainnya. Ibu dapat mengenali masa subur ibu
dengan mengukur suhu badan secara teliti menggunakan thermometer
khusus yang bisa mencatat perubahan suhu 0,1 0C untuk mendeteksi
bahkan suatu perubahan kecil suhu tubuh.
Pencatatan suhu basal adalah untuk mengetahui kapan terjadinya
masa subur atau ovulasi. Suhu basal tubuh diukur dengan alat yang
berupa thermometer basal. Thermometer basal ini dapat digunakan
secara oral, axilla atau melalui anus dan ditempatkan pada lokasi serta
waktu yang sama selama 5 menit.
Suhu normal tubuh sekitar 360C-370C. pada waktu ovulasi suhu akan
turun terlebih dahulu dan naik menjadi 37-38 derajat kemudian tidak
akan kembali pada suhu 36 derajat Celcius. Pada saat itulah terjadi
masa subur atau ovulasi paa seorabg wanita. Kondisi kenaikan suhu
tubuh ini akan terjadi sekitar 3-4 hari, kemudian akan turun kembali
sekitar 2 derajat dan akhirnya kembali pada suhu tubuh normal sebelum
menstruasi. Hal ini terjadi karena produksi progesterone menurun.
Apabila grafik (hasil catatan suhu tubuh) tidak terjadi kenaikan suhu
tubuh, kemungkinan tidak terjadi masa subur atau ovulasi. Hal ini terjadi
dikarenakan tidak adanya korpus luteum yang memproduksi
progesterone. Begitu sebaliknya jika terjadi kenaikan suhu tubuh dan
terus berlangsung setelah masa subur atau ovulasi kemungkinan terjadi
kehamilan. Karena bila sel telur atau ovum berhasil dibuahi maka
korpus luteum akan terus memproduksi hormone progesterone.
Akibatnya suhu tubuh tetap tingggi.

10 | P a g e
2. Manfaat
Adapun manfaat dari metode suhu basal antara lain:
a. Metode suhu basal bermanfaat bagi pasangan yang menginginkan
kehamilan
b. Serta beranfaat bagi pasangan yang menginginkan menghindari
atau mencegah kehamilan
3. Efektifitas
Metode suhu basal akan efektif bila dilakukan dengan benar konsisten.
Suhu basal dipantau dan dicatat selama beberapa bulan berturut-turut
dan dianggap akurat bila terdeteksi pada saat ovulasi. Tingkat
keefektifan metode suhu tubuh basal sekitar 80% atau 20-30 kehamilan
per 100 wanita per tahun. Metode suhu basal tubuh akan jauh lebih,
efektif apabila dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain seperti
kondom, spermisida, metode kalender atau pantang berkala.
Faktor-faktor yang mempengaruhi metode suhu basal antara lain:

11 | P a g e
a. Penyakit
b. Gangguan tidur
c. Merokok atau minum alcohol
d. Stress
e. Penggunaan selimut elektrik
4. Keuntungan
Keuntungan dari penggunaan metode suhu basal tubuh antara lain:
a. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pada pasangan suami
istri tentang masa subur atau ovulasi
b. Membantu wanita yang mengalami siklus haid tidak teratur
mendeteksi masa subur atau ovulasi
c. Dapat digunakan sebagai kontrasepsi ataupun meningkatkan
kesempatan untuk hamil
d. Membantu menunjukkan perubahan tubuh lain pada saat
mengalami masa subur atau ovulasi seperti perubahan lendir serviks
e. Metode suhu basal tubuh yang mengendalikan adalah wanita itu
sendiri
5. Keterbatasan
Sebagai metode KBA, suhu basal tubuh memiliki keterbatasan sebagai
berikut:
a. Membutuhkan motivasi dari pasangan suami istri
b. Memerlukan konseling dan KIE dari tenaga medis
c. Suhu basal tubuh dapat dipengaruhi oleh penyakit gangguan tidur,
merokok, alcohol, stress, penggunaan narkoba maupun selimut
eletrik
d. Pengukuran suhu tubuh harus dilakukan pada waktu yang sama
e. Tidak mendeteksi awal masa subur
f. Membutuhkan masa pantang yang lama

12 | P a g e
6. Petunjuk Bagi Pengguna Metode Basal Tubuh
Aturan perubahan Suhu atau temperature adalah sebagai berikut:
a. Suhu diukur pada waktu yang hamper sama setiap pagi (sebelum
bangun dari tempat tidur)
b. Catat suhu ibu pada kartu yang disediakan suhu
c. Gunakan catatan suhu pada kartu tersebut 10 hari pertama dari
siklus haid ibu untuk menentukan suhu tertinggi dari suhu yang
normal dan rendah
d. Abaikan setiap suhu tinggi yang disebabkan oleh demam atau
gangguan lain
e. Tarik garik pada 0,5 derajat Celcius-0,1 derajat Celcius diatas suhu
tertinggi dari suhu q0 hari tersebut. Garis ini disebut garis pelindung
(cover line) atau garis suhu
f. Masa tak subur mulai pada sore setelah hari ketiga berturut-turut
suhu tubuh berada diatas garis pelindung atau suhu basal
g. Hari pantang berkala untuk sanggama dilakukan sejak hari pertama
haid hingga sore ketiga kenaikan suhu secara berurutan suhu basal
tubuh (setelah masuk periode masa tak subur)
h. Masa pantang untuk sanggama pada metode suhu basal tubuh lebih
panjang dari metode ovulasi billings.
i. Jika salah satu dari 3 suhu berada dibawah garis pelindung (cover
line) selama 3 hari berturut-turut suhu tercatat diatas garis pelindung
sebelum mulai sanggama

C. METODE LENDIR SERVIKS


Metode lendir serviks atau yang lebih dikenal metode Ovulasi Billings
(MBO) merupakan metode yang paling efektif. Di Indonesia dengan surat
dari BKKBN pusat ke BKKBN propinsi dengan SK 6668/K.S.002/E2/90

13 | P a g e
pada tanggal 28 Desember 1990 metode ovulasi Billings (MBO) sudah
diterima sebagai salah satu Metode KB Mandiri.
1. Pengertian
Metode lendir serviks atau metode ovulasi merupakan metode keluarga
berencana alamiah (KBA) dengan cara mengenali masa subur dari
siklus menstruasi dengan mengamati lendir serviks dan perubahan rasa
pada vulva menjelang hari ovulasi. Lendir serviks adalah lendir yang
dihasilkan oleh aktifitas biosintesis sel sekretori serviks dan
mengandung tiga komponen penting yaitu:
1. Molekul lendir
2. Air
3. Senyawa kimia dan biokimia (natrium klorida, rantai protein, enzim,
dll)
Lendir atau mukosa serviks ini tidak hanya dihasilkan oleh sel leher
rahim tetapi juga oleh sel-sel vagina. Dalam vagina terdapat sel
intermediet yang mampu berperan terhadap adanya lendir pada masa
subur atau ovulasi.
Ovulasi adalah pelepasan sel telur atau ovum yang matang dari
ovarium. Pada saat menjelang ovulasi lendir leher rahim akan mengalir
dari vagina bila wanita sedang berdiri atau berjalan. Ovulasi hanya
terjadi satu hari disetiap siklus dan sel telur akan hidup 12-24 jam
kecuali dibuahi oleh sperma. Oleh karena itu lendir pada masa subur
berperan menjaga kelangsungan hidup sperma selama 3- 5 hari.
Pengamatan lendir dapat dilakukan dengan:

a. Merasakan perubahan rasa pada vulva sepanjang hari


b. Melihat langsung lendir pada waktu tertentu
Pada malam harinya hasil pengamatan ini harus dicatat. Catatan ini
menunjukkan pola kesuburan dan pola ketidaksuburan. Pola subur

14 | P a g e
adalah pola yang terus berubah sedangkan pola tidak subur adalah pola
yang sama sekali tidak berubah. Kedua pola ini mengikuti hormon yang
mengontrol kelangsungan hidup sperma dan konsepesi. Dengan
demikian akan memberikan informasi yang bisa diandalkan untuk
mendapatkan kehamilan atau menunda kehamilan.

2. Manfaat
Untuk mencegah kehamilan yaitu dengan berpantang senggama pada
masa subur selain itu metode ini juga bermanfaat bagi wanita yang
menginginkan kehamilan.
3. Efektifitas
Keberhasilan metode ovulasi Billings ini tergantung pada instruksi yang
tepat, pemahaman yang benar, keakuratan dalam dalam pengamatan
dan pencatatan lendir serviks serta motivasi dan kerjasama dari
pasangan dalam mengaplikasikannya. Angka kegagalan dari metode
lendir serviks sekitar 3-4 perempuan per tahun. Teori lain juga
mengatakan apabila petunjuk metode lendir serviks atau ovulasi Billings
ini digunakan dengan benar maka keberhasilan dalam mencegah
kehamilan 99%.

15 | P a g e
4. Keuntungan
Metode lendir serviks memiliki keuntungan antara lain:
1. Mudah digunakan
2. Tidak memerlukan biaya
3. Metode lendir serviks merupakan metode keluarga berencana alami
yang mengamati tanda-tanda kesuburan
5. Kekurangan
Sebagai metode KB alami, metode lendir serviks ini memiliki
kekurangan antara lain:
1. Tidak efektif bila digunakan sendiri sebaiknya dikombinasikan
dengan metode kontrasepsi lain seerti metode Simptothermal
2. Tidak cocok untuk wanita yang tidak menyukai menyentuh alat
kelaminnya
3. Wanita yang memiliki infeksi saluran reproduksi dapat mengaburkan
tanda-tanda kesuburan
4. Wanita yang menghasilkan lendir sedikit
Hal yang mempengaruhi pola lendir serviks pada wanita dapat
dipengaruhi oleh:
1. Menyusui
2. Operasi serviks dengan cryoherapie atau electro-cautery
3. Penggunaan produk kesehatan waniita yang dimasukka dalam alat
reproduksi
4. Premenapause
5. Penggunaan kontrasepsi hormonal termasuk kontrasepsi dadurat
6. Spermisida
7. Infeksi PMS (penyakit menular seksual) dan Terkena vaginitis
6. Petunjuk penggunaan bagi klien
Petunjuk bagi pengguna metode ovulasi sebagai berikut:

16 | P a g e
1. Cara mengenali masa subur dengan memantau lendir serviks yang
keluar dari vagina
2. Pengamatan dilakukan sepanjang hari dan dicatat pada, malam
harinya
3. Periks lendir dengan jari tangan atau diluar vagina dan perhatikan
perubahan perasaan kering-basah. Tidak dianjurkan untuk periksa
ke dalam vagina
4. Pengguna metode ovulasi harus mengenali pola kesuburan dan pola
ketidaksuburan
5. Selama hari kering setelah menstruasi senggama tergolong aman
dilakukan selang satu malam (atur selang-selang). Hal ini dilakukan
untuk menghindari agar ibu tidak bingung dengan cairan sperma dan
lendir
6. Lendir basah, jernih, licin dan elastic menunjukkan masa subur
(pantang untuk bersenggama). Sedangkan lendir kental, keruh,
kekuningan dan lengket menunjukkan masa tidak subur
7. Berikan tanda (x) pada hari terakhir adanya lendir bening, licin, dan
elastic. Ini merupakan hari puncak dalam periode subur (fase paling
subur)
8. Pantang senggama dilanjutkan hingga tiga hari setelah puncak
subur. Hal ini untuk menghindari terjadinya pembuahan

17 | P a g e
9. Periode tidak subur dimulai pada hari kering lendir, empat hari

setelah puncak hai subur sehingga senggama dapat dilakukan


hingga datang haid berikutnya.

18 | P a g e
Lendir serviks saat ovulasi (Gbr. 1 & 2)

Perbedaan Lendir serviks saat masa subur dan


bukan masa subur (Gbr. 3)

Metode kolaborasi 19 | P a g e
( MetodeLendir serviks & Sistem Kalender)
(Gbr. 4)
Contoh kode yang dipakai untuk mencatat kesuburan

1. Gunakan tanda * atau warna merah untuk menandakan perdarahan


(haid)
2. Gunakan huruf K atau warna kuning untuk menandakan perasaan
kering
3. Gunakan huruf S atau warna hijau untuk memperlihatkan lendir
subur yang basah, jernih, licin dan mulur
4. Gunakan huruf TS atau warna biru untuk memperlihatkan lendir tidak
subur yang kental, putih, keruh dan lengket

20 | P a g e
21 | P a g e
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Masa subur adalah suatu masa atau waktu dalam siklus menstruasi, yang
menunjukkan bahwa sel telur matang siap dibuahi. Jika terjadi pertemuan
antara sperma dan sel telur saat itu, maka akan terjadilah kehamilan. Untuk
mengetahui masa subur seorang wanita, dapat diprediksi dengan tiga
metode yaitu :
1. Metode kalender atau pantang berkala adalah metode kontrasepsi
sederhana yang dilakukan oleh pasangan suami istri dengan tidak
melakukan senggama atau hubungan seksual pada masa subur atau
ovulasi.
2. Metode suhu basal adalah suhu badan saat kita beristrahat (tidak
setelah atau sedang melakukan kegiatan).
3. Metode lendir serviks atau metode ovulasi merupakan metode keluarga
berencana alamiah (KBA) dengan cara mengenali masa subur dari
siklus menstruasi dengan mengamati lendir serviks dan perubahan rasa
pada vulva menjelang hari ovulasi
B. Saran
Penggunaan alat kontrasepsi adalah bukan satu-satunya cara untuk
mencegah atau menunda kehamilan. Namun dapat juga dilakukan dengan
tidak melakukan hubungan seksual oleh pasangan suami istri selama masa
subur istri. Namun, penerapan metode tersebut pada masyarakat masih
sangat rendah dikarenakan masih banyak masyarakat yang belum
memahami metode tersebut dan merasa metode tersebut “ribet”. Oleh
karena itu kegiatan promosi kesehatan mengenai cara mengetahui masa
subur wanita harus digiatkan lagi seperti melalui penyuluhan, penyebaran
informasi melalui media ataupun face to face dengan petugas kesehatan.

22 | P a g e
23 | P a g e
REFERENSI

Arliana Wa Ode Dita, 2013. Faktor Yang berhubungan dengan penggunaan


metode kontrasepsi hormonal pada akseptor KB di Kelurahan pasarwajo
kecamatan pasarwajo kabupaten buton Sulawesi tenggara.

BPS 2010. Penduduk Indonesia menurut provinsi tahun 2010.


http://www.bps.go.id

Grestasari Luluk Erdika, 2014. Hubungan antara tingkat pendidikan,


pengetahuan dan usia ibu PUS dengan pemilihan jenis kontrasepsi di desa
jetak kecamatan sidoharjo kabupaten sragen. Skripsi. Universitas
muhammdiyah Surakarta.

http://ilmu-pasti-pengungkap-kebenaran.blogspot.co.id/2012/07/makalah-
metode-lendir-serviks-metode_1008.html

http://stannytuasela.blogspot.co.id/2014/05/makalah-kb-alamiah-
sederhana.html

https://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:4WW_n_yOwqIJ:h
ttps://ryogustyamaya.files.wordpress.com/2011/09/kelompok-4_metode-
kontrasepsi-alamiah-lendir-serviks.doc+&cd=7&hl=en&ct=clnk&gl=id

Komblinsky, dkk, 1997. Kesehatan Wanita Sebuah Perspektif Global. Gadjah


Mada University Press. Yogyakarta

Nina Siti Mulyani, Mega Rinawati. Keluarga Berencana Dan Alat Kontrasepsi,
Naha Medika, 2013

Pedak Mustamir, 2011. Petunjuk lengkap dan praktis KB alami. Laksanan.


Jogjakarta

24 | P a g e
Saifuddin, Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2010

Trisnawarman Dedi dan Erlysa Winny, 2007. Sistem penunjang keputusan


pemiliha metode kontrasepsi. Gematika jurnal anajemen informatika, volume 9
No. 1

25 | P a g e