Anda di halaman 1dari 3

Analisa

1.UNI NRZ
Dari tabel 2.1 di atas terlihat bahwa pada UNI - NRZ hasil sinyal mempunyai
bentuk sinyal yang relatif sama serta tegangan yang hampir sama pula. Pada
tabel diatas juga dapat diketahui bahwa perbedaan frekuensi sinyal tidak
berpengaruh terhadap amplitudo sinyal.
2. BIP NRZ
Tabel 2.2 di atas sinyal keluaran BIP-NRZ untuk beberapa variasi frekuensi
mempunyai bentuk dan tegangan yang hampir sama pada dasarnya. Dari hasil
pengamatan juga diketahui bahwa bentuk sinyal keluaran decoder sama dengan
sinyal masukan encoder.
3.UNI RZ
Pada tabel 2.3 merupakan proses pembentukan sinyal keluaran UNI-RZ I/P, TP1,
TP2, TP3, TP4 dan Data O/P dengan menggunakan variasi clock 1 KHz. Sinyal
RZ ini terpengaruh dengan clock, sinyal akan berubah tiap transisi clock.
4. UNI RZ 2 MASUKAN
Tabel 2.4 berbeda dengan tabel sebelumnya hal ini terjadi karena pada tabel ini
mempunyai dua sinyal input. Sinyal ini digunakan untuk memperkuat sinyal
masukan. Hal ini bisa digunakan apabila sinyal clock input tidak tepat dua kali
sinyal data.
5.BIP RZ
Pada Tabel 2.5 diatas merupakan data percobaan BIP-RZ dengan menggunakan
1 sinyal masukan. Dengan variasi frekuensi sinyal clock yaitu 2 KHz, dapat
diamati untuk keluaran masing-masing BIP-RZ I/P, TP1, TP2, TP3, TP4 dan
DATA O/P mempunyai bentuk sinyal yang hampir sama.
6.BIP RZ 2 MASUKAN
Pada Tabel 2.6 sinyal ini digunakan untuk memperkuat sinyal masukan. Dari
hasil pengamatan juga diketahui bahwa bentuk sinyal keluaran decoder sama
dengan sinyal masukan dari encoder.
7. AMI
Pada Tabel 2.7 diatas merupakan data hasil percobaan AMI dengan satu sinyal
masukan. Digunakan sinyal input yaitu 100Hz. Dapat diamati bentuk sinyal

61
62

keluaran CLK I/P, AMI I/P, TP1, TP2, TP3, TP4 dan Data O/P mempunyai bentuk
yang hampir sama. Dalam gambar ditunjukkan tidak adanya komponen DC pada
AMI line code encoding ini.
8. AMI 2 MASUKAN
Tabel diatas adalah percobaan AMI dengan menggunakan 2 sinyal input. Hampir
sama dengan penjelasan sebelumnya, digunakan 2 sinyal untuk memperkuat
masukan. Dalam hasil percobaan tidak menunjukkan adanya komponen DC.
9.MANCHESTER
Pada tabel 2.9 dapat diketahui bahwa perbedaan frekuensi sinyal tidak
berpengaruh terhadap amplitudo sinyal.
10.MANCHESTER
Pada tabel 2.10 dapat diketahui bahwa perbedaan frekuensi sinyal tidak
berpengaruh terhadap amplitudo sinyal.

Kesimpulan
1. Sistem kerja dari sebuah decoder yaitu untuk mengembalikan sinyal output
encoding menjadi sinyal inputan encoding semula.
2. Pada UNI-NRZ ini berlaku : Bit “1” dinyatakan oleh “high signal” selama
periode bit, sedangkan bit "0" dinyatakan oleh “low signal” selama periode
bit.
3. Level sinyal yang digunakan untuk unipolar : menggunakan level +v dan 0 ,
sedangkan pada bipolar menggunakan level +v, 0, dan -v.
4. Pada Line Code Encoding Non Return to Zero tidak terpengaruhi oleh
clock, transisi sinyal hanya dipengaruhi sinyal inputan, karena pada NRZ
memenuhi 1 prioda bit, sedangkan Return to Zero, sinyal keluaran
dipengaruhi pula oleh sinyal clock.
5. Pada AMI Bit "0" dinyatakan sebagai level nol sedangkan Bit "1"
dinyatakan oleh level positif dan negatif yang bergantian.
6. Karakteristik Manchester coding adalah recovery mudah dan mempunyai
bandwidth yang lebar.
7. Pada Machester, Bit “1” dinyatakan oleh pulsa yang setengah priode
pertamanya memiliki level high dan setengah periode sisanya memiliki
63

level low.
8. Pada Machester, Bit “0” dinyatakan oleh pulsa yang setengah periode
pertamanya memiliki level low dan setengah periode sisanya memiliki level
high.