Anda di halaman 1dari 20

Tugas II IPA SMP/MTS Kelas IX

Nama : Puja Asni Wahyu

Nim : 15033010

Kelompok : 10 (Sepuluh)

Prodi : Pendidikan Fisika B

Sistem Reproduksi Hewan dan Tumbuhan


A. Sistem Reproduksi Pada Tumbuhan

1. Reproduksi Vegetatif

Reproduksi secara vegetatif diartikan sebagai pembentukan individu baru tanpa adanya
peleburan antara gamet jantan dan betina. Reproduksi secara vegetatif dibagi menjadi dua,
yaitu reproduksi vegetatif alami dan reproduksi vegetatif buatan.

a. Reproduksi Vegetatif Alami

Ada bermacam-macam cara perkembangbiakan vegetatif alami, antara lain :

1) Tunas

Tunas dapat tumbuh melalui pangkal batang, akar, atau daun. Pohon tersebut
tumbuh di dekat induknya. Tunas yang tumbuh pada akar dan daun disebut tunas adventif.
Contoh : pisang, cocor bebek.

2) Umbi akar
Umbi akar berguna untuk menyimpan cadangan makanan. Umbi akar tidak
berkuncup, tidak berdaun, tidak bermata tunas, dan tidak berbuku-buku. Tumbuhan yang
berkembang biak dengan umbi akar adalah bunga dahlia dan wortel. Sisa batang pada
pangkal umbi dapat memunculkan tunas. Akar tunas baru akan tumbuh dari bagian sisa
batang jika umbi akar tersebut ditanam.

3) Umbi batang

Kentang, talas, dan ubi jalar merupakan contoh tumbuhan yang berkembang biak
dengan umbi batang. Umbi batang sesungguhnya merupakan batang yang tumbuh
menggembung di dalam tanah. Umbi batang berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan.
Tumbuhan baru akan tumbuh dari mata tunas yang terletak di lekukan pada permukaan umbi
tersebut.

4) Umbi lapis

Bawang merah adalah contoh tumbuhan yang berkembang biak dengan umbi lapis.
Umbi lapis adalah daun yang berlapis-lapis membentuk umbi, dan di tengahnya tumbuh
tunas. Daun tersebut tersusun berdekatan dan tumbuh pada permukaan atas ruas. Umbi lapis
dari tunas terluar akan tumbuh membentuk tunas baru (siung).

5) Spora
Bentuk spora seperti biji, tetapi sangat kecil. Spora hanya dapat dilihat menggunakan
mikroskop, tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Spora dibentuk di dalam kotak spora
(sporangium). Tumbuhan paku adalah contoh tumbuhan yang berkembang biak dengan spora.
Spora mudah diterbangkan angin karena ringan. Sporangium pada tumbuhan paku terletak di
bagian belakang daun. Amatilah bagian belakang daun tanaman paku.

Selain tumbuhan paku, jamur dan lumut juga berkembang biak dengan spora. Jamur
adalah tumbuhan yang tidak memiliki klorofil (zat hijau daun). Kita dapat menemukan jamur
di tempat-tempat yang lembab. Makanan yang sudah basi biasanya ditumbuhi jamur.
Sporangium jamur berisi spora yang sangat banyak.

Kotak spora akan pecah jika spora telah masak. Selanjutnya, spora yang telah masak
ini akan keluar dan diterbangkan angin. Jika spora jatuh di tempat yang sesuai, spora akan
tumbuh menjadi tumbuhan baru.

6) Membelah diri

Tumbuhan yang berkembang biak dengan membelah diri adalah tumbuhan tingkat
rendah seperti ganggang. Ganggang membelah sel tubuhnya menjadi dua. Masing-masing sel
ini akan membelah lagi ketika dewasa.

7) Akar tinggal (Rhizoma)

Rhizoma adalah batang yang tebal dan tumbuh mendatar di dalam tanah. Pernahkah
kamu melihat tumbuhan jahe? Jahe berkembang biak dengan akar tinggal atau rhizoma.
Rhizoma berfungsi sebagai cadangan makanan bagi tumbuhan. Rhizoma dapat mempunyai
ciri-ciri berikut.

a) Bentuknya berbulu-bulu seperti batang dan terdapat kuncup di bagian ujungnya.

b) Bersisik, di setiap sisik ketiak terdapat tunas.


8) Geragih (Stolon)

Geragih adalah batang yang menjalar di atas permukaan tanah. Tunas pada buku-buku
batang yang menjalar di atas tanah tersebut dapat tumbuh menjadi tumbuhan baru. Tumbuhan
baru tersebut tidak bergantung pada induknya, meskipun tetap bersatu dengan induknya.
Arbei, semanggi, dan pegagan berkembang biak dengan geragih di permukaan tanah. Selain
arbei, juga ada semanggi dan pegagan. Rumput teki berkembang biak dengan geragih yang
tumbuh di dalam tanah.

b. Reproduksi Vegetatif Buatan

Perkembangbiakan tumbuhan dengan vegetatif buatan diupayakan manusia untuk


memperoleh jenis tumbuhan baru. Tumbuhan baru tersebut diharapkan memberikan hasil
yang lebih.

1) Cangkok

Tumbuhan yang dapat dicangkok adalah tumbuhan dikotil. Di antaranya seperti


mangga, jeruk, dan jambu. Hasil cangkokan yang sudah ditumbuhi akar kemudian
dipotong tepat di bawah pembungkus cangkokan. Jangan menanam hasil cangkokan
langsung di tanah terbuka. Tanamlah cangkokan di wadah persemaian. Selanjutnya,
letakkan di tempat yang teduh sekitar dua bulan. Setelah itu, hasil cangkokan dapat
diambil dari wadah persemaian. Selanjutnya, dipindahkan ke tanah terbuka.
2) Setek

Setek dilakukan dengan menanam bagian tumbuhan tanpa menunggu


tumbuhnya akar baru. Ada dua macam setek, yaitu setek batang dan setek daun.

a) Setek batang
Tumbuhan yang berkembang biak dengan setek batang adalah ketela pohon,
mawar, dan tebu. Tumbuhan yang akan disetek harus memiliki bakal tunas.
b) Setek daun
Tumbuhan yang dapat disetek daunnya adalah cocor bebek dan sri rejeki.
Daun yang hendak disetek harus berwarna hijau segar dan cukup tua. Berikut ini
adalah langkah-langkah yang dilakukan untuk menyetek daun.
i. Letakkan daun yang akan disetek di permukaan tanah. Tanah yang
digunakan hendaknya tanah yang subur.
ii. Setelah beberapa hari, pada bagian lekukan-lekukan daun akan tumbuh
tunas dan akar. Tunas tersebut akan menjadi tanaman baru.
iii. Selanjutnya, tanaman baru tersebut dipindahkan ke wadah lain (pot)
3) Okulasi

Okulasi dilakukan dengan cara menempelkan tunas tumbuhan ke tunas tumbuhan


yang lain. Masing-masing tunas memiliki sifat unggul yang berbeda. Tumbuhan yang
dapat dikembangbiakkan dengan okulasi adalah mangga dan jeruk.

4) Merunduk

Tumbuhan yang dapat dikembangbiakkan dengan merunduk adalah tebu, apel, dan
melati. Tumbuhan yang dikembangbiakkan dengan merunduk harus mempunyai batang yang
panjang dan lentur. Cabang tumbuhan yang akan dikembangbiakkan, kemudian disentuhkan
ke tanah.

Mengembangbiakkan tanaman dengan cara merunduk dilakukan dengan langkah berikut.

i. Keratlah sedikit batang tanaman yang akan dikembang-biakkan.


ii. Rundukkan atau lengkungkan batang tersebut ke tanah.
iii. Timbunlah bagian yang dikerat tersebut dengan tanah.
iv. Siramlah tanah tersebut secara teratur agar selalu lembap.
v. Akar akan tumbuh dari batang yang ditimbun. Akar yang tumbuh tersebut
akan tumbuh menjadi tanaman baru.

5) Mengenten
Mengenten dilakukan dengan menyambung dua tanaman yang berbeda. Akan tetapi,
masih satu jenis. Bagian ujung tanaman dipotong, kemudian disambung dengan tumbuhan
lainnya. Tumbuhan sejenis yang digunakan untuk menyambung harus memiliki kualitas yang
lebih baik. Tumbuhan yang dapat dikembangbiakkan dengan cara mengenten adalah jeruk,
jambu, dan durian.

Keuntungan dan kerugian reproduksi vegetatif buatan

Cara ini memberikan beberapa keuntungan antara lain:

i. Sifat tanaman baru akan sama persis dengan sifat tanaman induk.

ii. Cepat menghasilkan buah.

Disamping itu ada pula beberapa kerugian, antara lain:

i. Tanaman yang berasal dari stek ataupun mencangkok umumnya mempunyai sistem
perakaran yang kurang kuat.

ii. Perkembangbiakan secara vegetatif dapat menghasilkan sedikit keturunan.

iii. Bila tanaman hasil reproduksi vegetatif dipotong ranting-rantingnya maka dapat
menyebabkan menurun pertumbuhannya.

2. REPRODUKSI GENERATIF

Proses reproduksi generatif adalah perkembangbiakan secara seksual yaitu


memerlukan gamet jantan dan betina. Proses reproduksi tumbuhan berbiji diawali oleh proses
penyerbukan dan dilanjutkan dengan proses pembuahan. Dari proses pembuahan inilah
dihasilkan buah dan/atau biji tumbuhan. Dari biji tumbuhan inilah akan tumbuh - tumbuhan -
baru.

1. Penyerbukan pada tumbuhan biji terbuka (gymnospermae)


Adalah menempelnya serbuk sari ke mikrofil (liang bakal biji). Dan terjadi pembuahan
tunggal. Alat reproduksi gymnospermae berupa strobilus jantan dan strobilus betina.
Proses penyerbukan pada gymnospermae umumnya dibantu oleh angin. Contoh
tumbuhan berbiji terbuka ini antara lain : Melinjo, pinus, damar, pakis haji dan cycas.

2. Penyerbukan pada tumbuhan biji tertutup (angiospermae)


Adalah menempelnya serbuk sari ke kepala putik dan terjadi pembuahan ganda.

Alat perkembangbiakan angiospermae adalah bunga. Bunga meliputi berdasarkan perhiasan


bunga dan alat kelamin bunga.

a. Perhiasan bunga meliputi kelopak dan mahkota bunga.

b. Alat kelamin bunga (alat perkembangbiakan)

Bagian sebelah dalam dari lingkaran perhiasan bunga adalah alat kelamin bunga.
Bagian alat kelamin bunga terdiri dari benang sari sebagai alat pembiakan jantan dan putik
sebagai alat pembiakan betina. Benang sari berada pada lingkaran sebelah luar dari putik.

PENYERBUKAN

Penyerbukan atau polinasi merupakan proses awal sebelum terjadinya pembuahan.


Pada angiospermae, penyerbukan adalah proses melekatnya serbuk sari di kepala putik,
sedangkan pada gymnospermae merupakan peristiwa melekatnya serbuk sari pada bala biji.

1. Macam-macam penyerbukan

Macam penyerbukan dapat dibedakan berdasarkan asal serbuk sari dan faktor yang
membantu proses penyerbukan.

a. Penyerbukan berdasarkan asal serbuk sari


Serbuk sari dapat berasal dari beberapa sumber. Berdasarkan asal serbuk sari,
penyerbukan pada tumbuhan dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu sebagai
berikut :
1) Otogami
Otogami merupakan proses penyerbukan oleh serbuk sari yang berasal dari bunga yang
sama (satu bunga). Pada saat otogami, dapat saja terjadi beberapa gangguan yang
menghalangi pertemuan antara serbuk sari dan putik. Berikut ini beberapa istilah atau
bentuk gangguan yang menghalangi penyerbukan.

i. Protandri, yaitu peristiwa serbuk sari yang matang lebih dulu dari pada putik

ii. Protagini, yaitu peristiwa putik yang matang lebih dulu daripada serbuk sari

iii. Serbuk sari tidak dapat sampai di kepala putik

2) Geistonogami

Geistonogami merupakan proses penyerbukan oleh serbuk sari yang berasal dari bunga
lain, tetapi masih dalam satu individu. Geistonogami disebut juga penyerbukan
tetangga.

3) Alogami

Alogami atau xenogami merupakan proses penyerbukan oleh serbuk sari yang berasal
dari individu lain, namun masih dalam satu jenis. Alogami disebut juga penyerbukan
silang.

4) Penyerbukan bastar (hibridogami)

Penyerbukan bastar terjadi jika serbuk sari berasal dari bunga pada tumbuhan lain yang
berbeda jenisnya, atau sekurang-kurangnya mempunyai satu sifat berbeda.

Macam bastar :

i. Bastar antar kultivar (varietas). Contohnya antara mangga golek dengan mangga
gadung.

ii. Bastar antar jenis (spesies). Contoh antara mangga dengan kweni.

iii. Bastar antar mangga (genus). Contoh cabai dengan terong.

b. Penyerbukan berdasarkan faktor penyebab sampainya serbuk sari di kepala putik,

penyerbukan dapat dibedakan sebagai berikut:

1) Anemogami

Anemogami adalah penyerbukan dengan bantuan angin. Anemogami terjadi pada


tumbuhan yang memiliki bunga dengan ciri-ciri: bunga berukuran kecil; tidak mempunyai
mahkota bunga atau mahkota bunganya berukuran kecil, mahkota bunga tidak berrvarna
menarik atau berwarna seperti daun; tidak mempunyai kelenjar madu; tangkai bunga
panjang. bunga terletak jauh di atas daun; serbuk sari kecil, sangat banyak, dan ringan
sehingga mudah diterbangkan angin; kedudukan benang sari bergantungan, serbuk sarinya
berhamburan jika digoyang; kepala putik besar, berbulu, tangkai putik terjulur ke luar,
kepala putik menyembul keluar dari bunga sehingga mudah menangkap serbuk sari.
Anemogami clapat terjadi pada rumputrumputan, padi, dan jagung.

2) Hidrogami

Hidrogami adalah penyerbukan dengan bantuan air. Hidrogami dapat terjadi pada
Hydrilla sp, eceng gondok, dan teratai. Penyerbukan dengan bantuan air akan terjadi jika
tubuh tanarnan terendam dalam air.

3) Zoidiogami

Zoidiogami adalah penyerbukan dengan bantuan hewan. Zoidiogami terjadi pada


tumbuhan yang memiliki bunga dengan ciri-ciri: bunga berukuran besar; mahkota bunga
berwarna mencolok dengan aroma khas; memiliki kelenjar madu; serbuk sari bersifat lengket
(mudah melekat). Zoidiogami dapat terjadi pada jambu, mangga, jeruk, dan pepaya.
Zoidiogami dibedakan berdasarkan jenis hewan yang membantu penyerbukan.

 Entomogami (penyerbukan dengan bantuan serangga, antara lain lalat, kumbang, dan
lebah)

 Malakogami (penyerbukan dengan bantuan siput/bekicot), dan kiropterogani


(penyerbukan dengan bantuan kelelawar).

 Penyerbukan dengan bantuan manusia (antropogami), sampainya serbuk sari ke


kepala putik dengan bantuan manusia. Hal ini terjadi karena tidak ada perantara yang
membantu penyerbukan. Penyerbukan ini dapat terjadi pada vanili dan beberapa jenis
anggrek. Penyerbukan ini dilakukan untuk mendapatkan jenis bibit baru yang unggul.

2. Proses penyerbukan dan pembuahan

Butir serbuk/serbuk sari → menempel pada kepala putik → membentuk buluh serbuk (2 inti,
inti vegetatif dan inti generatif) berjalan ke arah mikropil (pintu kandung lembaga) → inti
generatif membelah → 2 inti sperma → sampai di mikropil, inti vegetatif mati → satu inti
sperma membuahi sel telur → embrio. Satu inti sperma lain membuahi inti kandung
lembaga → endosperma(makanan cadangan bagi embrio).

Karena pembuahannya berlangsung dua kali maka pembuahan pada Angiospermae disebut
pembuahan ganda.
Embrio pada tumbuhan berbiji tertentu dapat terbentuk karena beberapa sebab yaitu :

a. Melalui peleburan sperma dan ovum (amfimiksis)

b. Tidak melalui peleburan sperma dan ovum (apomiksis), yang dapat dibedakan atas:

1) Apogami : embrio yang terbentuk berasal dari kandung lembaga. Misalnya : dari sinergid
dan antipoda.

2) Partenogenesis : embrio terbentuk dari sel telur yang tidak dibuahi.

3) Embrio adventif : merupakan embrio yang terbentuk dari sel nuselus, yaitu bagian
selain kandung lembaga.

Apomiksis dan amfimiksis dapat terjadi bersamaan, maka akan terbentuk lebih dari satu
embrio dalam satu biji, disebut poliembrioni. Peristiwa ini sering dijumpai pada nangka,
jeruk dan mangga.

3. Penyebab kegagalan dalam penyerbukan

Kadang-kadang terjadi kegagalan penyerbukan dan pada beberapa jenis tumbuhan tidak
mungkin terjadi autogami. Penyebabnya adalah sebagai berikut:

a. Dikogami : Bila waktu masaknya putik dan serbuk sari tidak bersamaan, hal ini
disebabkan karena:

 Serbuk sari masak lebih dahulu daripada putiknya (protandri). Contoh : seledri,
bawang Bombay, jagung

 Putik masak lebih dahulu daripada serbuk sari (protogini).

b. Didesious : Bila pada satu spesies, alat kelamin jantan dan betinanya terpisah. Contohnya
salak dan melinjo(Gnetum Arremon)
c. Heterostili : Bila panjang antara tangkai benang sari dan tangkai putik tidak sama
danberbeda jauh.
Contoh : kopi, kina dan kaca piring.

d. Herkogami : Bila bentuk bunga tidak memungkinkan serbuk sari jatuh ke kepala putik.

Contoh : vanili
B. sistem Reproduksi pada Hewan

1. REPRODUKSI PADA INVERTEBRATA

a. Reproduksi Aseksual (Vegetatif)

Reproduksi yang terjadi tanpa proses peleburan sel gamet. Individu baru muncul dari
bagian tubuh induk. Beberapa hewan melakukan reproduksi aseksual, karena bagian dari
siklus hidupnya, dan beberapa karena pengaruh lingkungan yang ekstreme. Sifat individu
yang terbentuk dari reproduksi aseksual adalah 100% mirip dengan induk. Oleh karena itu,
terdapat sedikit variasi genetik yang ditemukan pada individu hasil reproduksi ini.

Macam-macam reproduksi aseksual antara lain sebagai berikut :

a) Membelah Diri
Reproduksi dengan cara membelah diri hanya terjadi pada protozoa (hewan bersel
satu), misalnya Amoeba, Paramaecium, dan Euglena.

Proses pembelahan diawali dengan proses pembelahan inti sel menjadi dua, kemudian
diikuti pembelahan sitoplasma menjadi dua bagian yang masing-masing menyelubungi
masing-masing nukleus tersebut. Selanjutnya, bagian tengah sitoplasma menyempit dan
diikuti pemisahan yang membentuk dua individu. Pada saat keadaan lingkungan kurang
menguntungkan, Amoeba akan melindungi diri dengan membentuk kista yang berdinding
sangat kuat.
Di dalam kista tersebut, Amoeba membelah diri berulang-ulang menghasilkan banyak
individu baru dengan ukuran yang lebih kecil. Ketika kondisi lingkungan membaik, dinding
kista akan pecah dan individu-individu baru akan keluar, tumbuh dan berkembang menjadi
Amoeba dewasa.

b) Fragmentasi
Fragmentasi adalah perkembangbiakan dengan memotong bagian tubuh, kemudian
potongan tubuh tersebut tumbuh menjadi individu baru. Hewan yang melakukan reproduksi
secara fragmentasi adalah cacing Planaria. Cacing Planaria mempunyai daya regenerasi yang
sangat tinggi. Seekor cacing Planaria yang dipotong menjadi dua bagian, masing-masing
potongan akan tumbuh dan berkembang menjadi dua ekor cacing Planaria.

Gambar Fragmentasi pada Cacing Planaria

c) Pembentukan Tunas

Gambar Hydra sp bertunas


Tunas adalah cara perkembangbiakan di mana individu baru merupakan bagian tubuh
dari induk yang terlepas kemudian tumbuh. contoh Hewan yang berkembang biak dengan
membentuk tunas ialah Hydra sp. Individu baru Hydra terbentuk dari bagian tubuh Hydra
dewasa. Setelah cukup besar, tunas akan melepaskan diri dari tubuh induknya. Hewan lain
yang melakukan reproduksi dengan tunas misalnya ubur-ubur, hewan karang, dan anemon
laut.
d) Sporulasi (Pembentukan Spora)
Gambar Sporozoa (Plasmodium sp)
Penyebab Penyakit Malaria

Sporulasi adalah proses pembelahan berganda (pembelahan multipel) yang


menghasilkan spora. Hewan yang melakukan reproduksi dengan sporulasi adalah
Plasmodium sp. Plamodium adalah protozoa bersel satu yang dikenal sebagai penyebab
penyakit malaria. Dalam siklus hidupnya, plasmodium mengalami dua fase, yaitu fase
generatif dan fase vegetatif. Fase generatif berlangsung di dalam tubuh nyamuk Anopheles
betina, sedangkan fase vegetatif berlangsung di dalam tubuh penderita penyakit malaria.

b. Reproduksi Seksual (Generatif)

Pada reproduksi seksual tidak selalu terjadi pembuahan, namun kadang-kadang dapat
terbentuk individu baru tanpa adanya pembuahan, sehingga reproduksi secara kawin pada
hewan invertebrata dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Tanpa pembuahan, yaitu pada peristiwa partenogenesis, sel telur tanpa dibuahi dapat
tumbuh menjadi individu baru. Misalnya pada lebah jantan dan semut jantan.
2. Dengan pembuahan, dapat dibedakan atas konjugasi dan anisogami.
a) Konjugasi, ini terjadi pada invertebrata yang belum jelas alat reproduksinya
misalnya Paramecium.
b) Anisogami, yaitu peleburan dua asel kelamin yang tidak sama besarnya,
misalnya peleburan mikrogamet dan makrogamet pada Plasmodium, dan
peleburan sperma dengan ovum di dalam rahim.

Pembiakan seksual lainnya dapat kita temukan pada:

1. Hydra
Selain berkembang biak secara aseksual (bertunas) Hydra juga dapat berkembang
biak secara seksual. Perkembangbiakan secara seksual dilakukan dengan pembentukan testis
dan ovarium, yang terdapat pada satu tubuh (hermafrodit). Alat tersebut masing-masing
menghasilkan spermatozoid dun ovum. Hasil pembuahannya adalah zigot yang selanjutnya
akan berkembang menjadi hewan baru.

2. Cacing pita
Tubuh cacing pita terdiri atas segmen-segmen yang disebut proglotid. Pada setiap
proglotid terdapat ovarium yang menghasilkan ovum dan testis yang menghasilkan sel
sperma. Bila sel telur dan sel sperma sudah masak, maka terjadilah pembuahan didalam
proglotid yang menghasilkan zigot.
3. Cacing tanah
Dalam tubuh cacing tanah terdapat beberapa segmen yang kulitnya menebal disebut
klitelum. Dalam segmen tersebut terdapat testis yang membentuk spermatozoid, dan ovarium
yang membentuk ovum. Walaupun ovum dan spermatozoid terdapat dalam satu tubuh, cacing
tanah tidak pernah mengadakan pembuahan sendiri, tetapi melakukan perkawinan dengan
mempertukarkan spermatozoid (perkawinan silang).
4. Serangga

Pada beberapa jenis serangga, misalnya lebah madu (Apis indica), terdapat koloni
yang terdiri atas ratu yang fertil, pejantan fertil dan mati setelah kawin, dan pekerja yang
mandul (steril). Pada waktu kawin, sperma dari jantan disimpan dalam kantung sperma di
induk betina. Sperma ini merupakan cadangan sperma selama ratu hidup. Bila telur yang
telah matang dibuahi oleh sperma, telur tersebut akan berkembang menjadi calon ratu, calon
pekerja atau prajurit, sedangkan yang tidak dibuahi (partenogenesis) akan berkembang
menjadi pejantan. Lebah pekerja dan prajurit menjadi mandul (streril) karena pengaruh
lingkungan, yaitu kurang makan.

2. REPRODUKSI PADA VERTEBRATA


Vertebrata (hewan bertulang belakang) hanya dapat berkembangbiak secara Seksual
(Generatif). Reproduksi atau perkembangbiakan secara generatif melibatkan peleburan
(fertilisasi) dua macam sel gamet, sperma (gamet jantan) dan ovum (gamet betina). Individu
yang terbentuk akan mewarisi kedua sifat induk yang akan memunculkan sifat yang
menonjol. Kombinasi genetik pada reproduksi seksual meningkatkan variasi genetik pada
tingkat spesies. Reproduksi seksual menghasilkan individu baru yang tidak sama persis
dengan induk. Berdasarkan tempat bertemunya sel gamet, reproduksi dibedakan menjadi;

a. Fertilisasi Internal

Peleburan sel gamet jantan dan sel gamet betina terjadi di dalam tubuh hewan betina.
Pada mekanisme ini hewan akan dilengkapi dengan alat kopulasi. Alat kopulasi ini akan
membantu menghantarkan pertemuan sel gamet. Penis merupakan alat kopulasi pada
beberapa jantan, dan vagina alat kopulasi pada hewan betina. Hewan jantan melepaskan
berjuta-juta sel gamet melalui alat kopulasi ke dalam alat reproduksi betina. Kemudian sel-sel
sperma ini akan “berlari” mencari keberadaan ovum, hanya satu sperma yang dapat
membuahi satu telur.

Berdasarkan cara perkembangan embrio dibedakan menjadi:

1) Bertelur (OVIPAR)

Embrio akan berkembang di luar tubuh induk dengan struktur yang bercangkang. Telur
embrio akan dikeluarkan dari tubuh induk. Cangkang ini tersusun atas zat kapur yang
melindungi telur embrio dari kehilangan air. Berkembang diluar tubuh tidak mennghalangi
perkembangan embrio. Telur embrio telah dilengkapi dengan kantung kuning (yolksacs) yang
merupakan nutrisi untuk menyuplai perkembangan embrio selama di dalam cangkang.
Hewan memiliki waktu yang bervariasi dalam perkembangan embrionya, hal ini dapat
ditujukan dengan ukuran telurnya. Semakin besar ukuran telur maka kantung kuning semakin
besar, artinya perkembangan embrio semakin lama. Dibutuhkan panas dalam proses
pertumbuhan embrio di dalam cangkang, oleh karena itu, induk akan melakukan suatu cara
untuk menghangatkan anaknya di dalam telur. Beberapa induk mengerami telurnya (ayam,
burung, unggas lainnya) dan beberapa menguburnya di dalam pasir atau tumpukan serah-
serah daun (penyu, ular, dll). Beberapa induk akan menunggu sampai anaknya menetas, dan
ada yang meninggalkan anaknya.

2) Melahirkan (VIVIPAR)

Embrio berkembang di dalam tubuh induk betina (rahim). Embrio akan mendapat
suplai makanan dari pembuluh darah induk melalui hubungan plasenta. Embrio akan
berkembang di dalam rahim induk betina dalam masa mengandung yang waktunya sangat
bervariasi pada tiap-tiap hewan.
Contoh: sebagian besar mamalia, termasuk manusia.

3) Bertelur melahirkan (OVOVIVIPAR)


Suatu kombinasi antara bertelur dengan melahirkan. Pada perkembangan ini, embrio
disimpan dalam telur tak bercangkang di dalam tubuh. Telur-telur ini dilengkapi dengan
kantung kuning untuk menyuplai perkembangan embrio. Sampai waktu yang ditentukan,
telur-telur ini pecah di dalam tubuh induk betina, dan keluar dari tubuh betina. Contoh:
beberapa reptil (kadal, dll).

b. Fertilisasi Eksternal

Peleburan sel gamet jantan (sperma) dan sel gamet betina (ovum) yang terjadi di luar
tubuh. Hewan jantan akan merangsang hewan betina untuk menyemprotkan ovum, sedang
hewan jantan akan melepaskan sel spermanya di wilayah yang berair. Diperlukan media air
untuk memperantai pertemuan kedua sel gamet ini. Oleh karena itu, peleburan macam ini
biasanya terjadi pada hewan-hewan di lingkungan akuatik, seperti ikan dan katak. Selain itu,
wilayah berair akan melindungi telur-telur embrio dalam masa perkembangannya, hal ini
dikarenakan telur embrio yang terbentuk tidak memiliki cangkang dan memerlukan kadar
kelembapan yang tinggi. Jika telur-telur ini dipindahkan ke wilayah yang kering (daratan)
maka menyebabkan telur-telur ini mengering dan akan merusak perkembangan embrio. Pada
beberapa hewan air, telur akan berkembang menjadi bentuk larva bersilia yang akan
mengembara menempel di dasar perairan membentuk koloni baru, atau fase sesil (menempel
didasar perairan) untuk perkembangan vegetatif. Contohnya ditemukan pada spons, ubur-
ubur, dll.

1.Reproduksi Ikan

Ikan merupakan kelompok hewan ovipar, ikan betina dan ikan jantan tidak memiliki
alat kelamin luar. Ikan betina tidak mengeluarkan telur yang bercangkang, namun
mengeluarkan ovum yang tidak akan berkembang lebih lanjut apabila tidak dibuahi oleh
sperma. Ovum tersebut dikeluarkan dari ovarium melalui oviduk dan dikeluarkan melalui
kloaka. Saat akan bertelur, ikan betina mencari tempat yang rimbun olehtumbuhan air atau
diantara bebatuan di dalam air.
Bersamaan dengan itu, ikan jantan juga mengeluarkan sperma dar testis yang
disalurkan melalui saluran urogenital (saluran kemih sekaligus saluran sperma) dan keluar
melalui kloaka, sehingga terjadifertilisasi di dalam air (fertilisasi eksternal). Peristiwa ini
terus berlangsung sampai ratusan ovum yang dibuahi melekat pada tumbuhan air atau pada
celah-celah batu.
Telur-telur yang telah dibuahi tampak seperti bulatan-bulatan kecil berwarna putih.
Telur-telur ini akan menetas dalam waktu 24 – 40 jam.
Anak ikan yang baru menetas akan mendapat makanan pertamanya dari sisa kuning
telurnya, yang tampak seperti gumpalan di dalam perutnya yang masih jernih. Dari
sedemikian banyaknya anak ikan, hanya beberapa saja yang dapat bertahan hidup.

2. Reproduksi Amfibi (Amphibia)


Kelompok amfibi, misalnya katak, merupakan jenis hewan ovipar. Katak jantan dan
katak betina tidak memiliki alat kelamin luar. Pembuahan katak terjadi di luar tubuh. Pada
saat kawin, katak jantan dan katak betina akan melakukan ampleksus, yaitu katak jantan akan
menempel pada punggung katak betina dan menekan perut katak betina. Kemudian katak
betina akan mengeluarkan ovum ke dalam air. Setiap ovum yang dikeluarkan diselaputi oleh
selaput telur (membran vitelin). Sebelumnya, ovum katak yang telah matang dan berjumlah
sepasang ditampung oleh suatu corong. Perjalanan ovum dilanjutkan melalui oviduk.
Dekat pangkal oviduk pada katak betina dewasa, terdapat saluran yang menggembung yang
disebut kantung telur (uterus). Oviduk katak betina terpisah dengan ureter. Oviduk nya
berkelok-kelok dan bermuara di kloaka.
Segera setelah katak betina mengeluarkan ovum, katak jantan juga akan menyusul
mengeluarkan sperma. Sperma dihasilkan oleh testis yang berjumlah sepasang dan disalurkan
ke dalam vas deferens. Vas deferens katak jantan bersatu dengan ureter. Dari vas deferens
sperma lalu bermura di kloaka. Setelah terjadi fertilisasi eksternal, ovum akan diselimuti
cairan kental sehingga kelompok telur tersebut berbentuk gumpalan telur.
Gumpalan telur yang telah dibuahi kemudian berkembang menjadi berudu. Berudu
awal yang keluar dari gumpalan telur bernapas dengan insang dan melekat pada tumbuhan air
dengan alat hisap.
Makanannya berupa fitoplankton sehingga berudu tahap awal merupakan herbivora.
Berudu awal kemudian berkembang dari herbivora menjadi karnivora atau insektivora
(pemakan serangga). Bersamaan dengan itu mulai terbentuk lubang hidung dan paru-paru,
serta celah-celah insang mulai tertutup. Selanjutnya celah insang digantikan dengan anggota
gerak depan.
Setelah 3 bulan sejak terjadi fertilisasi, mulailah terjadi metamorfosis. Anggota gerak
depan menjadi sempurna. Anak katak mulai berani mucul ke permukaan air, sehingga paru-
parunya mulai berfungsi. Pada saat itu, anak katak bernapas dengan dua organ, yaitu insang
dan paru-paru. Kelak fungsi insang berkurang dan menghilang, sedangkan ekor makin
memendek hingga akhirnya lenyap. Pada saat itulah metamorfosis katak selesai.

3.Reproduksi Reptil (Reptilia)


Kelompok reptil seperti kadal, ular dan kura-kura merupakan hewan-hewan yang
fertilisasinya terjadi di dalam tubuh (fertilisasi internal). Umumnya reptil bersifat ovipar,
namun ada juga reptil yang bersifat ovovivipar, seperti ular garter dan kadal. Telur ular garter
atau kadal akan menetas di dalam tubuh induk betinanya. Namun makanannya diperoleh dari
cadangan makanan yang ada dalam telur. Reptil betina menghasilkan ovum di dalam
ovarium. Ovum kemudian bergerak di sepanjang oviduk menuju kloaka. Reptil jantan
menghasilkan sperma di dalam testis. Sperma bergerak di sepanjang saluran yang langsung
berhubungan dengan testis, yaitu epididimis. Dari epididimis sperma bergerak menuju vas
deferens dan berakhir di hemipenis. Hemipenis merupakan dua penis yang dihubungkan oleh
satu testis yang dapat dibolak-balik seperti jari-jari pada sarung tangan karet. Pada saat
kelompok hewan reptil mengadakan kopulasi, hanya satu hemipenis saja yang dimasukkan ke
dalam saluran kelamin betina.
Ovum reptil betina yang telah dibuahi sperma akan melalui oviduk dan pada saat
melalui oviduk, ovum yang telah dibuahi akan dikelilingi oleh cangkang yang tahan air. Hal
ini akan mengatasi persoalan setelah telur diletakkan dalam lingkungan basah. Pada
kebanyakan jenis reptil, telur ditanam dalam tempat yang hangat dan ditinggalkan oleh
induknya. Dalam telur terdapat persediaan kuning telur yang berlimpah.
Hewan reptil seperti kadal, iguana laut, beberapa ular dan kura-kura serta berbagai
jenis buaya melewatkan sebagian besar hidupnya di dalam air. Namun mereka akan kembali
ke daratan ketika meletakkan telurnya.

4. Reproduksi Burung (Aves)


Kelompok burung merupakan hewan ovipar. Walaupun kelompok buruk tidak
memiliki alat kelamin luar, fertilisasi tetap terjadi di dalam tubuh. Hal ini dilakukan dengan
cara saling menempelkan kloaka.
Pada burung betina hanya ada satu ovarium, yaitu ovarium kiri. Ovarium kanan tidak
tumbuh sempurna dan tetap kecil yang disebut rudimenter. Ovarium dilekati oleh suatu
corong penerima ovum yang dilanjutkan oleh oviduk. Ujung oviduk membesar menjadi
uterus yang bermuara pada kloaka. Pada burung jantan terdapat sepasang testis yang
berhimpit dengan ureter dan bermuara di kloaka.
Fertilisasi akan berlangsung di daerah ujung oviduk pada saat sperma masuk ke dalam
oviduk. Ovum yang telah dibuahi akan bergerak mendekati kloaka. Saat perjalanan menuju
kloaka di daerah oviduk, ovum yang telah dibuahi sperma akan dikelilingi oleh materi
cangkang berupa zat kapur.
Telur dapat menetas apabila dierami oleh induknya. Suhu tubuh induk akan
membantu pertumbuhan embrio menjadi anak burung. Anak burung menetas dengan
memecah kulit telur dengan menggunakan paruhnya. Anak burung yang baru menetas masih
tertutup matanya dan belum dapat mencari makan sendiri, serta perlu dibesarkan dalam
sarang.

5.Reproduksi Mamalia (Mammalia)


Semua jenis mamalia, misalnya sapi, kambing dan marmut merupakan hewan vivipar
(kecuali Platypus). Mamalia jantan dan betina memiliki alat kelamin luar, sehingga
pembuahannya bersifat internal. Sebelum terjadi pembuahan internal, mamalia jantan
mengawini mamalia betina dengan cara memasukkan alat kelamin jantan (penis) ke dalam
liang alat kelamin betina (vagina).
Ovarium menghasilkan ovum yang kemudian bergerak di sepanjang oviduk menuju
uterus. Setelah uterus, terdapat serviks (liang rahim) yang berakhir pada vagina.
Testis berisi sperma, berjumlah sepasang dan terletak dalam skrotum. Sperma yang
dihasilkan testis disalurkan melalui vas deferens yang bersatu dengan ureter. Pada pangkal
ureter juga bermuara saluran prostat dari kelenjar prostat. Kelenjar prostat menghasilkan
cairan yang merupakan media tempat hidup sperma.
Sperma yang telah masuk ke dalam serviks akan bergerak menuju uterus dan oviduk
untuk mencari ovum. Ovum yang telah dibuahi sperma akan membentuk zigot yang
selanjutnya akan menempel pada dinding uterus. Zigot akan berkembang menjadi embrio dan
fetus. Selama proses pertumbuhan dan perkembangan zigot menjadi fetus, zigot
membutuhkan banyak zat makanan dan oksigen yang diperoleh dari uterus induk dengan
perantara plasenta (ari-ari) dan tali pusar.

Daftar Rujukan :

Sukis Wariyono. 2008. Mari Belajar Ilmu Alam Sekitar 3: Panduan Belajar IPA Terpadu
untuk Kelas IX SMP/ MTs. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

Dewi Ganawati. 2008. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam: Terpadu dan Kontekstual IX
untuk SMP/ MTs. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional