Anda di halaman 1dari 15

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Varicella zoster virus (VZV) atau human herpes virus III(HHV III) termasuk dalam

grup virus herpes.Seperti virus herpes yang lain,VZV bisa menyebabkan rekurensi

infeksi.Selepas virus masuk ke dalam badan dan menyebabkan infeksi primer,VZV akan

menjadi latent dalam neuron ganglion sensoris terutama ganglion dorsal dari saraf spinal dan

ganglion extramedular dari saraf cranial. Reaktivasi dari virus yang latent ini mudah terpicu

oleh penurunan sistem imun.Reaktivasi ini akan menyebabkan terjadinya herpes

zoster.Konsep ini ditemukan oleh Garland pada tahun 1943Insidensi CMT kurang dari 2%

dan diyakini disebabkan oleh trauma lokal pada jaringan lunak leher sebelum atau selama

persalinan, khususnya pada persalinan dengan presentasi bokong dan persalinan sulit yang

dibantu dengan forceps. Sedangkan, pada orang dewasa, setiap abnormalitas atau trauma

tulang servikal bisa menyebabkan tortikolis termasuk trauma minor (tegangan/regangan),

fraktur, dislokasi, dan subluxasi, sering menyebabkan spasme dari otot leher.2

Herpes zoster muncul sebagai clustered lesi vesikuler pada satu atau lebih dermatom

saraf unilateral.Pada anak gejala prodromal jarang terjadi.Gejala prodromal dapat terjadi

setelah 14-15 hari masa inkubasi. Gejala yang pertama muncul biasanya

demam,menggigil,nyeri kepala,mual dan malaise.

Kemudian disertai dengan sakit seperti terbakar,hiperesthesias,itching dan pruritus.

Pasien akan merasa sangat kesakitan pada daerah sepanjang saraf yang dilalui oleh virus

iaitu seperti ditusuk,kesemutan, mati rasa dan gatal.Erupsi biasanya pada satu sisi daerah

punggung,kepala dan leher adalah yang paling sering terserang.Saraf yang sering terkena

ialah saraf thorakal( >50%), trigeminal (10-20%) lumbosacral dan cervikal (10-20%).
Herpes zoster bukan merupakan masalah besar jika terkena pada anak yang sehat

karena ia bisa sembuh sendiri dan durasinya biasanya lebih pendek.Jika terkena pada anak

imunokompromais lesinya lebih berat dan bisa melibatkan lebih banyak dermatome.Risiko

untuk menjadi disseminata viseral lebih tinggi hingga menyebabkan morbiditas dan

mortalitas yang signifikan..


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi1,2

Herpes zoster adalah penyakit virus yang ditandai dengan ruam kulit yang nyeri

dengan gelembung berisi cairan di daerah yang terbatas pada satu sisi tubuh, sering berada

dalam sebuah garis. Infeksi awal dengan virus varicella zoster (VZV) menyebabkan penyakit

akut (jangka pendek) yaitu cacar air yang umumnya terjadi pada anak-anak dan orang muda.

Setelah episode cacar air sembuh, virus ini tidak hilang seluruhnya dari tubuh tetapi dapat

menyebabkan penyakit herpes zoster yaitu penyakit dengan gejala yang sangat berbeda

beberapa tahun setelah infeksi awal. Meskipun memiliki kesamaan nama, herpes zoster

bukan penyakit yang sama seperti herpes simpleks, walaupun demikian, keduanya yaitu virus

varicella zoster dan herpes simpleks virus meemilik subfamili virus yang sama

(Alphaherpesvirinae).

2.2 Epidemiologi3

Insiden terjadinya herpes zoster meningkat sesuai dengan pertambahan umur dan biasanya

jarang mengenai anak-anak. Insiden herpes zoster berdasarkan usia yaitu sejak lahir - 9 tahun

: 0,74 / 1000 ; usia 10 – 19 tahun :1,38 / 1000 ; usia 20 – 29 tahun : 2,58 / 1000. Di Amerika,

herpes zoster jarang terjadi pada anak-anak, dimana lebih dari 66 % mengenai usia lebih dari

50 tahun, kurang dari 10% mengenai usia dibawah 20 tahun dan 25% mengenai usia kurang

dari 15 tahun. Walaupun herpes zoster merupakan penyakit yang sering dijumpai pada orang

dewasa, namun herpes zoster dapat juga terjadi pada bayi yang baru lahir apabila ibunya

menderita herpes zoster pada masa kehamilan. Dari hasil penelitian, ditemukan sekitar 3%
herpes zoster pada anak, biasanya ditemukan pada anak - anak yang imunokompromis dan

menderita penyakit keganasan

2.3 Etiologi2

Penyebab herpes zoster adalah virus DNA dan morfologi identical dengan herpes simplex.

Virus yang diisolasi dari vesikel cacar air atau penderita zoster memperlihatkan tidak

adanya perbedaan yang bermakna pada tingkat DNA. Inokulasi cairan vesikel zoster pada

anak-anak menimbulkan cacar air.Kontak anak-anak semacam itu seringkali menyebabkan

varicella yang khas.Anak-anak yang telah sembuh dari infeksi virus zoster yang terinduksi

bersifat lebih resisten terhadap varicella.

Pasien yang tidak pernah terinfeksi varicella,atau yang terdedah kepada penderita herpes

zoster kemungkinan besar untuk terkena varicella.Seseorang yang terexpose kepada

varicella bisa menjadi herpes zoster atau terexpose kepada pasien yang menghidap herpers

zoster bisa terkena infeksi ulang dari herpes.Imunitas silang dipercayai muncul diantara

dua penyakit ini.

Infant yang terinfeksi sebelum umur 2 bulan beresiko tinggi untuk terkena herpes zoster

selepas beberapa lama fase latent.Virus penyebab herpes zoster akan menjadi latent selepas

serangan varicella selama beberapa tahun. Trauma atau operasi mungkin bisa memicu

terjadinya erupsi.
Group : Group I (dsDNA)

Familli : Herpesviridae

Subfamily: Alphaherpesvirinae

Genus : Varicellovirus

Species : Human herpesvirus 3 (HHV-3)

2.4 Patofisiologi4,5

VZV adalah virus yang sangat kontagius, ditularkan dari orang ke orang melalui kontak

lansung atau infeksi droplet.VZV memasuki tubuh hos melalui saluran pernafasan atas atau

orofaring.Infeksi VZV dimulai daripada inokulasi pada permukaan mukosa saluran

pernafasan dengan droplet yang mengandungi partikel VZV atau pada awal fase

erupsi.Infeksi congenital boleh juga terjadi yang akan mempengaruhi ibu dan anak yang

akan dilahirkan.

VZV mempunyai masa inkubasi 10-21 hari yang bisa muncul 4-6 hari setelah

terpajan.Individu yang terjangkit akan menjadi sangat kontagius 2 hari sebelum kelainan

kulit muncul.Pada waktu inkubasi,virus akan masuk ke dalam kelenjar limfe dan pembuluh

darah.Ini dikenali sebagai viremia primer.Kemudian akan berkembang biak di sel


retikuloendothelial. Menyebar melalui pembuluh darah ( viremia sekunder) dan menyebar

ke seluruh tubuh terutama kulit dan mukosa.Pada periode ini timbul demam dan malaise.

Kemudian secara hematogen atau transpor neuronal retrograd menjadi laten dalam sel

ganglion. Virus dapat menetap di ganglion tersebut selama hidup pejamu sampai terjadi

reaktivasi.Selama masa laten virus dapat bereplikasi tetapi dalam jumlah sedikit karena

dapat diatasi oleh imunitas pejamu sehingga tidak menimbulkan gejala klinis.

Penyebab reaktivasi mungkin berhubungan dengan keadaan imunosupresi, terutama

menurunnya imunitas spesifik terhadap HHV. Diduga imunitas selular lebih berperan dalam

mempertahankan latensi. Pada saat reaktivasi,virus bermultiplikasi sehingga terjadi reaksi

radang dan merusak ganglion sensoris.Virus kemudian menyebar ke sumsum tulang serta

batang otak dan melalui saraf sensoris sampai ke kulit yang dilalui dermatome itu sehingga

menimbulkan gejala klinis. Pada pasien imunokompromais kerana terdapat defisiensi

imunitas seluler maka reaktivasi sering berulang.

2.5 Manifestasi Klinis5,6

Herpes zoster pada anak-anak jarang didahului gejala prodormal. Gejala

prodormal yang dapat dijumpai yaitu nyeri radikuler, parestesia, malese, nyeri kepala dan

demam, biasanya terjadi 1-3 minggu sebelum timbul ruam dikulit. Lesi kulit yang khas dari

herpes zoster yaitu lokalisasinya biasanya unilateral dan jarang melewatii garis tengah tubuh.

Lokasi yang sering dijumpai yaitu pada dermatom T3 hingga L2 dan nervus ke V dan VII.

Lesi awal berupa makula dan papula yang eritematous, kemudian dalam waktu 12 - 24

jam akan berkembang menjadi vesikel dan akan berlanjut menjadi pustula pada hari ke 3 - 4

dan akhirnya pada hari ke 7 - 10 akan terbentuk krusta dan dapat sembuh tanpa parut, kecuali
terjadi infeksi sekunder bakterial. Pada pasien imunokompromais dapat terjadi herpes zoster

desiminata dan dapat mengenai alat visceral seperti paru, hati, otak dan disseminated

intravascular coagulophaty (DIC) sehingga dapat berakibat fatal. Lesi pada kulitnya biasanya

sembuh lebih lama dan dapat mengalami nekrosis, hemoragik dan dapat terbentuk parut.

Perkembangan ruam herpes zoster

Hari 1 Hari 2 Hari 5 Hari 6

2.6 Diagnosis 7,8

Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan diantaranya isolasi virus (3-5 hari),

PCR, ELISA, teknik imunofluorensi Fluorosecent Antibody to Membrane Antigen (FAMA),

yang merupakan baku emasnya.

1. Tzancksmear

- Preparat diambil dari discraping dasar vesikel yang masih baru, kemudian diwarnai

dengan pewarnaan yaitu hematoxylin-eosin, Giemsa’s, Wright’s, toluidine blue

ataupun Papanicolaou’s. Dengan menggunakan mikroskop cahaya akan dijumpai

multinucleated giant cells.

- Pemeriksaan ini sensitifitasnya sekitar 84%.

- Test ini tidak dapat membedakan antara virus varicella zoster dengan herpes
simpleks virus.

2. Direct fluorescent assay (DFA)

- Preparat diambil dari scraping dasar vesikel tetapi apabila sudah berbentuk krusta

pemeriksaan dengan DFA kurang sensitif.

- Hasil pemeriksaan cepat.

- Membutuhkan mikroskop fluorescaence.

- Test ini dapat menemukan antigen virus varicella zoster.

- Pemeriksaan ini dapat membedakan antara VZV dengan herpes simpleks virus

3. Polymerase chain reaction (PCR)

- Pemeriksaan dengan metode ini sangat cepat dan sangat sensitif.

- Dengan metode ini dapat digunakan berbagai jenis preparat seperti scraping dasar

vesikel dan apabila sudah berbentuk krusta dapat juga digunakan sebagai preparat,

dan CSF.

- Sensitifitasnya berkisar 97 - 100%.

- Test ini dapat menemukan nucleic acid dari virus varicella zoster.

4. Biopsi kulit

Hasil pemeriksaan histopatologis : tampak vesikel intraepidermal dengan degenerasi

sel epidermal dan acantholysis. Pada dermis bagian atas dijumpai adanya lymphocytic

infiltrat.

2.7 Penatalaksanaan6

1.Acyclovir

Ringan : oral 5x800mg/hari selama 7-10 hari


Berat : IV 500mg/m2/8jam @ 10mg/kgBB/8 jam 7-10 hari.

2. Foskarnet IV

Pada pasien HIV yang memerlukan pengobatan lama mungkin timbul resistensi terhadap

asiklovir.Jadi diberikan foskarnet dengan dosis 40mg/kgBB/8jam

3. Simtomatik

4. Rasa gatal dikurangi dengan kompres dingin,mandi secara teratur atau pemberian

antihistamin.

5. Antibiotik untuk infeksi sekunder.

2.8 Pencegahan7,8,9

1. Ibu hamil perlu diperiksa status imunitasnya baik sebelum hamil atau pada tiga bulan

pertama kehamilan.Pencegahan dilakukan dengan menyuntikkan VZIG (Varicella Zoster

Imunoglobulin) atau dengan obat antivirus yaitu asiklovir dalam 2-3 hari setelah ibu hamil

kontak dengan penderita cacar air.

2. Bila ibu terkena cacar dalam 7 hari sebelum melahirkan hingga 3 hari setelahnya, bayi

haruslah diberi VZIG karena ia belum memiliki kekebalan terhadap cacar air. Juga,

diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder.

3. VZIG diberikan pada;

 Anak dengan imunokompromais

 Neonatus yang terdedah pada maternal varicella

 Infant yang terdedah pada orang dengan varicella

Dosis: 125unit/kg(max 625unit) im dalam 96 jam setelah terpapar.


4. Lesi jangan digaruk dan pastikan tidak ditutup.

5. Vaksin Varricella The American Academy of Pediatrics (AAP) dan the Centers for

Disease Control and Prevention (CDC) menganjurkan bahawa anak-anak mendapatkan 2

dosis vaksin varicella.Dosis pertama pada umur 12- 15 bulan dan dosis kedua pada umur 4-

6 tahun.

Vaksin ini tidak diberikan pada:

1. Ibu hamil tidak bisa diberikan vaksin ini.Wanita yang menerima vaksin ini terpaksa

menunggu sekurang-kurangnya 1 bulan sebelum diperbolehkan hamil.

2. Anak-anak yang sistem imunnya lemah karena HIV, kanker atau transplantasi organ.

3. Anak-anak yang alergi pada antibiotik neomicin atau gelatin.

4. Anak-anak yang dalam pengobatan aspirin atau salisilat tidak boleh diberikan vaksin

ini karena risiko mendapat Reye`s syndrome.

5. Anak-anak yang dalam pengobatan steroid sepatutnya konsul ke dokter kapan bisa

mendapatkan vaksin varicella.

Efek samping:

1. Panas

2. Sakit atau bengkak pada tempat suntikan

3. Rash.

2.9 Prognosa6

Herpes zoster bukan merupakan masalah besar jika terkena pada anak yang sehat karena

ia bisa sembuh sendiri dan durasinya biasanya lebih pendek.Jika terkena pada anak
imunokompromais lesinya lebih berat dan bisa melibatkan lebih banyak dermatome.Risiko

untuk menjadi disseminata viseral lebih tinggi hingga menyebabkan morbiditas dan

mortalitas yang signifikan.Herpes zoster mungkin merupakan gejala yang pertama muncul

pada pasien HIV yang sebelum ini pernah terkena varicella.


BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Herpes zoster adalah penyakit virus yang ditandai dengan ruam kulit yang nyeri dengan

gelembung berisi cairan di daerah yang terbatas pada satu sisi tubuh Insiden terjadinya herpes

zoster meningkat sesuai dengan pertambahan umur dan biasanya jarang mengenai anak-anak.

Insiden herpes zoster berdasarkan usia yaitu sejak lahir - 9 tahun : 0,74 / 1000 ; usia 10 – 19

tahun :1,38 / 1000 ; usia 20 – 29 tahun : 2,58 / 1000 Herpes zoster pada anak-anak jarang

didahului gejala prodormal. Gejala prodormal yang dapat dijumpai yaitu nyeri radikuler,

parestesia, malese, nyeri kepala dan demam, biasanya terjadi 1-3 minggu sebelum timbul

ruam dikulit. Lesi kulit yang khas dari herpes zoster yaitu lokalisasinya biasanya unilateral

dan jarang melewatii garis tengah tubuh. Lokasi yang sering dijumpai yaitu pada dermatom

T3 hingga L2 dan nervus ke V dan VII. Lesi awal berupa makula dan papula yang

eritematous, kemudian dalam waktu 12 - 24 jam akan berkembang menjadi vesikel dan akan

berlanjut menjadi pustula pada hari ke 3 - 4 dan akhirnya pada hari ke 7 - 10 akan terbentuk

krusta dan dapat sembuh tanpa parut, kecuali terjadi infeksi sekunder bacterial. Herpes zoster

bukan merupakan masalah besar jika terkena pada anak yang sehat karena ia bisa sembuh

sendiri dan durasinya biasanya lebih pendek.Jika terkena pada anak imunokompromais

lesinya lebih berat dan bisa melibatkan lebih banyak dermatome.Risiko untuk menjadi

disseminata viseral lebih tinggi hingga menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang

signifikan.Herpes zoster mungkin merupakan gejala yang pertama muncul pada pasien HIV

yang sebelum ini pernah terkena varicella.


DAFTAR PUSTAKA

1. Handbook of Pediatric Eye and Systemic Disease pg 514-519 By Kenneth Weston

Wright, Peter H. Spiegel, Lisa S. Thompson 2014

2. Textbook of Pediatric Dermatology pg 337-33 By John Harper, Arnold P. Oranje,

Neil S. Prose 2014

3. Color atlas & synopsis of pediatric dermatology pg564-565 By Kay Shou-Mei Kane,

Jen Bissonette Ryder, Jennifer Bissonette, Richard Allen Johnson, Howard P.

Baden, Alexis Stratigos 2015

4. illustrated textbook of Pediatrics pg 232By Tom Lissauer,Graham Clayden 2016

5. Mikrobiology Kedokteran pg 422-426 By Jawetz,Melnick and Adelberg

6. Infeksi Kulit pada Bayi dan Anak pg 30-33 FKUI 2015

7. Current Diagnosis and Treatment Pediatric 2014 By William W.Hay.Jr.,Myron

J.Levin,Judith M.Sondheimer,Robin R.Deterding

8. Nelson Text book of paediatrics, 17th edition. Philadelphia: 2014 By Behrman RE,

Kliegman RM, Jensen HB

9. Manual of neonatal care 5th edition 2014 pg 279-281By John P.Cloherty,Eric

C,Eichenwald,Ann R.Stark
Bagian Ilmu Kesehatan Anak REFERAT
FK Universitas Alkhairaat Palu, Juli 2017
Rumah Sakit Umum Anutapura

HERPES ZOOSTER

Disusunoleh:
Moh faisal SY Intam
(11 16 77714 110)

PEMBIMBING:
dr. Nurhaedah Tangim, Sp. A

Disusununtuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik


Bagian Ilmu Kesehatan Anak

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS AL-KHAIRAAT
PALU
2017
HALAMAN PENGESAHAN

Nama : Moh Faisal SY Intam


No. Stambuk : 11 16 777 14 110
Fakultas : Kedokteran
Program Studi : Pendidikan Dokter
Universitas : Alkhairaat
JudulRefleksi : Herpes zooster
Bagian : IlmuKesehatanAnak

Bagian Ilmu KesehatanAnak


RSU ANUTAPURA Palu
Program Studi Pendidikan Dokter
Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Palu, juli 2017

Pembimbing Mahasiswa

dr. NurhaedahTangim, Sp. A Moh Faisal SY IntamS.ked