Anda di halaman 1dari 21

ARTIKEL

MENANAMKAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA MATA PELAJARAN

BAHASA INGGRIS MELALUI METODE WISATA UNTUK

MENINGKATKAN JIWA NASIONALISME PADA SISWA

SMA NEGERI 3 BAUBAU

OLEH:

DEDY MBOLOSI, S.Pd


NIP. 19820816 200904 1 001

SMA NEGERI 3 BAUBAU


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kurikulum pendidikan di Indonesia kini sedang gencar menitikberatkan
pada pendidikan karakter. Hal ini menjadi satu titik terang bagi pendidikan untuk
lebih memiliki karakter pada setiap individunya. Munculnya kurikulum
pendidikan karakter yang selalu diintegrasikan ke dalam setiap mata pelajaran
tentunya tak lepas dari berbagai permasalahan. Keprihatinan pemerintah akan
karakter anak bangsa yang telah mengindikasikan kerusakan menjadi faktor utama
diadakannya kurikulum ini.
Rasa nasionalisme anak-anak bangsa yang semakin mengalami penurunan
menjadi sorotan tersendiri. Dengan adanya pendidikan karakter diharapkan
mampu mengembalikan rasa nasionalisme pada diri peserta didik.
Rohman (2012: 1) menyatakan sebagai berikut.
Atas situasi, sikap, perilaku sosial anak-anak, remaja, generasi muda
sekarang, sebagian orang tua menilai terjadinya kemerosotan atau
degradasi sikap atau nilai-nilai budaya bangsa. Mereka menghendaki
adanya sikap dan perilaku anak-anak yang lebih berkarakter, kejujuran,
memiliki integritas yang merupakan cerminan budaya bangsa, dan
bertindak sopan santun dan ramah tamah dalam pergaulan keseharian.
Selain itu diharapakan pula generasi muda tetap memiliki sikap mental
dan semangat juang yang menjunjung tinggi etika, moral, dan
melaksanakan ajaran agama.

Degradasi karakter pada generasi muda telah berimbas pada menurunnya


rasa nasionalisme. Kecenderungan yang terjadi saat ini adalah tidak mengertinya
generasi muda tentang sulitnya merebut kemerdekaan dari penjajah. Mereka
seolah acuh tak acuh akan perjuangan pahlawan dengan tidak memahami hakikat
bangsanya sendiri. Salah satu hakikat manusia sebagai makhluk yang berbangsa
dan bernegara adalah mencintai bangsa dan negaranya sendiri. Sebagai warga
negara yang baik tak seharusnya memiliki satu alasan pun untuk tidak mencintai
bangsanya. Bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia merupakan salah satu
contoh ringan dalam upaya bela negara.
Bangsa Indonesia yang kaya budaya tidak memiliki kepercayaan diri
terhadap kebudayaan lokalnya, bahkan memilih melebur dengan budaya global.
Hal ini menyebabkan Indonesia semakin kehilangan jati dirinya sehingga hanya
menjadi kumpulan orang-orang yang tak lagi memiliki akar kebudayaan lokal.
Padahal Indonesia memiliki kearifan lokal dan nilai-nilai khas yang dapat
dijadikan pijakan untuk hidup bernegara. Indonesia dengan kebhinekaan dan
kebesaran nusantaranya kini kesulitan mengahadapi gejolak-gejolak yang terjadi
di masyarakat. Indonesia ibarat tidak memiliki landasan nilai-nilai kearifan lokal
untuk menyelesaikan berbagai masalah. Indikator yang dapat terlihat dari uraian
tersebut adalah pemuda sekarang ini seakan-akan terombang-ambing oleh arus
globalisasi dan cenderung melupakan nilai luhur kebudayaan bangsa.
Realita pada zaman ini yang semakin menuntut adanya globalisasi telah
mengikis rasa cinta tanah air pada sebagian besar individu di Indonesia. Kita
memang tidak diperbolehkan untuk menarik diri dari globalisasi karena ketika kita
menghindari globalisasi kita akan menjadi bangsa yang tertinggal. Sejatinya
globalisasi bisa menjadi jalan yang terbuka lebar untuk setiap bangsa
memperkenalkan identitas dan membanggakannya di kancah internasional. Pada
mata pelajaran bahasa Inggris untuk siswa tidak akan pernah mengurangi rasa
nasionalisme bagi para generasi muda penerus bangsa akan tetapi bahasa Inggris
justru dapat menjadi bahan dasar untuk bersaing di dunia global.
Berangkat dari latar belakang tersebut penulis tertarik untuk menyusun
karya ilmiah dengan judul “Menanamkan Pendidikan Karakter pada Mata
Pelajaran Bahasa Inggris Melalui Metode Wisata Untuk meningkatkan Jiwa
Nasionalisme Pada Siswa SMA Negeri 3 Baubau”.

B. Perumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan karya ini adalah: Bagaimana
menanamakan pendidikan karakter pada mata pelajaran bahasa inggris melalui
metode wisata untuk meningkatkan jiwa nasionalisme siswa di SMA Negeri 3
Baubau?
C. Tujuan
Tujuan penulisan karya ini adalah untuk lebih menanamakan pendidikan
karakter pada mata pelajaran bahasa inggris melalui metode wisata untuk
meningkatkan jiwa nasionalisme siswa di SMA Negeri 3 Baubau.

D. Manfaat
Manfaat yang diharapkan dalam penulisan karya ini adalah siswa dapat
lebih menanamakan pendidikan karakter pada mata pelajaran bahasa inggris
melalui metode wisata dalam meningkatkan jiwa nasionalismenya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter merupakan sebuah istilah yang semakin hari semakin
mendapat pengakuan dari masyarakat Indonesia. Terlebih dengan dirasakannya
berbagai ketimpangan hasil pendidikan dilihat dari perilaku lulusan pendidikan
formal saat ini.
Definisi pendidikan karakter, yaitu:
1. Megawangi (dalam Kesuma, 2011), “sebuah usaha sadar untuk
mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak
dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga
mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada
lingkungannya.”
2. Gaffar (dalam Kesuma, 2011), “sebuah proses transformasi nilai-
nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian
seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang
itu.”

Pada saat ini kita merasakan bahwa pendidikan hanya mampu


menghasilkan dan menampilkan banyak orang pandai tetapi bermasalah dengan
hati nuraninya. Oleh karena itu pengembangan jati diri atau karakter individu
harus dibangun, dibentuk, ditempa, dikembangkan, dan dimantapkan melalui
kebiasaan-kebiasaan yang baik sehingga muncul hasrat untuk berubah dalam diri
siswa. Kebiasaan-kebiasaan baik ini sudah diintegrasikan oleh pendidik dalam
semua mata pelajaran terutama Pendidikan Agama dan Pendidikan
Kewarganegaraan. Namun yang paling penting adalah pembiasaan yang dilakukan
pendidik di lingkungan sekolah.
Pendidikan karakter bagi bangsa yang kehilangan jati dirinya memang
sangat diperlukan. Pendidikan karakter dikembangkan untuk menguatkan identitas
bangsa dan mencegah gejolak permasalahan di tanah air yang kian mengaburkan
semangat nasionalisme. Untuk menciptakan pemuda pelajar yang memiliki
karakter mulia diperlukan upaya dan kerjasama yang sinergis antara orang tua,
sekolah, dan masyarakat.
Suyanto (2011: 32) menyatakan bahwa:
Pendidikan karakter itu sebaiknya diajarkan secara sistematis dalam
model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling
the good, dan acting the good. Knowing the good mudah diajarkan sebab
pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus
ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan
mencintai kebajikan menjadi engine yang bisa membuat orang senantiasa
mau berbuat suatu kebaikan, sehingga tumbuh kesadaran bahwa orang
mau melakukan perilaku kebajikan karena cinta dengan perilaku
kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, acting the good itu
akan berubah menjadi kebiasaan.

Kesuma (2011: 5) menuliskan tujuan pendidikan karakter, yaitu:


1. Memfasilitasi penguatan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga
terwujud dalam perilaku anak, baik ketika proses sekolah maupun setelah
proses sekolah (setelah lulus dari sekolah). Penguatan dan pengembangan
memiliki makna bahwa pendidikan dalam seting sekolah bukanlah suatu
dogmatisasi nilai kepada peserta didik untuk memahami dan merefleksi
bagaimana suatu nilai menjadi penting untuk diwujudkan dalam perilaku
keseharian manusia, termasuk bagi anak. Penguatan juga mengarahkan proses
pendidikan pada proses pembiasaan yang disertai oleh logika dan refleksi
terhadap proses dan dampak dari proses pembiasaan yang dilakukan oleh
sekolah baik dalam seting kelas maupun sekolah.
2. Mengoreksi perilaku peserta didik yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai
yang dikembangkan oleh sekolah. Tujuan ini memiliki makna bahwa
pendidikan karakter memiliki sasaran untuk meluruskan berbagai perilaku
anak yang negatif menjadi positif. Proses pelurusan yang dimaknai
pengkoreksian perilaku dipahami sebagai proses yang pedagogis, bukan suatu
pemaksaan atau pengkondisian yang tidak mendidik. Proses pedagogis dalam
pengkoreksian perilaku negatif diarahkan pada pola pikir anak, kemudian
dibarengi dengan keteladanan lingkungan sekolah dan rumah, dan proses
pembiasaan berdasarkan tingkat dan jenjang sekolahnya.
3. Membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dalam
memerankan tanggung jawab pendidikan karakter secara bersama. Tujuan ini
memiliki makna bahwa proses pendidikan karakter di sekolah harus
dihubungkan dengan proses pendidikan di keluarga. Jika saja pendidikan
karakter di sekolah hanya bertumpu pada interaksi antara peserta didik dan
guru di kelas dan sekolah, maka pencapaian berbagai karakter yang
diharapkan akan sangat sulit diwujudkan. Mengapa demikian? Karena
penguatan perilaku merupakan suatu hal yang menyeluruh (holistik) bukan
suatu cuplikan dari rentangan waktu yang dimiliki oleh anak. Dalam setiap
menit dan detik interaksi anak dengan lingkungannya dapat dipastikan akan
terjadi proses mempengaruhi perilaku anak.

B. Pendidikan Karakter di Sekolah


Pendidikan karakter merupakan aspek yang penting bagi generasi penerus.
Seorang individu tidak cukup hanya diberi bekal pembelajaran dalam hal
intelektual belaka tetapi juga harus diberi hal dalam segi moral dan spiritualnya,
seharusnya pendidikan karakter harus diberi seiring dengan perkembangan
intelektualnya yang dalam hal ini harus dimulai sejak dini khususnya
dilembaga pendidikan. (Rukiyanto, 2009) Pendidikan karakter di sekolah dapat
dimulai dengan memberikan contoh yang dapat dijadikan teladan bagi murid
dengan diiringi pemberian pembelajaran seperti keagamaan dan kewarganegaraan
sehingga dapat membentuk individu yang berjiwa sosial, berpikir kritis, memiliki
dan mengembangkan cita-cita luhur, mencintai dan menghormati orang lain, serta
adil dalam segala hal.
Lahirnya pendidikan karakter bisa dikatakan sebagai sebuah usaha untuk
menghidupkan spiritual yang ideal. Foersterseorang ilmuan pernah mengatakan
bahwa tujuan utama dari pendidikan adalah untuk membentuk karakter karena
karakter merupakan suatu evaluasi seorang pribadi atau individu serta karakter
pun dapat memberi kesatuan atas kekuatan dalam mengambil sikap di setiap
situasi. Pendidikan karakter pun dapat dijadikan sebagai strategi untuk mengatasi
pengalaman yang selalu berubah sehingga mampu membentuk identitas yang
kokoh dari setiap individu dalam hal ini dapat dilihat bahwa tujuan pendidikan
karakter ialah untuk membentuk sikap yang dapat membawa kita kearah
kemajuan tanpa harus bertentangan dengan norma yang berlaku. Pendidikan
karakter pun dijadikan sebagai wahana sosialisasi karakter yang patut dimiliki
setiap individu agar menjadikan mereka sebagai individu yang bermanfaat seluas-
luasnya bagi lingkungan sekitar. (Sunarti, 2005).
Pendidikan karakter bagi individu bertujuan agar:
1. Mengetahui berbagai karakter baik manusia.
2. Dapat mengartikan dan menjelaskan berbagai karakter.
3. Menunjukkan contoh perilaku berkarakter dalam kehidupan sehari-hari.
4. Memahami sisi baik menjalankan perilaku berkarakter.

C. Metode Wisata
Salah satu cara untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme anak didik adalah
melalui berwisata. Dengan memperkenalkan keindahan alam dan keunikan
budaya Indonesia, hal ini dapat mengugah rasa keingintahuan siswa sekaligus
membangkitkan rasa bangga terhadap negara.
Selain itu, guru juga bisa mengadakan acara karyawisata ke tempat-tempat
bersejarah seperti museum dan monumen perjuangan. Seperti pepatah yang
mengatakan bahwa ‘Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai
sejarahnya’, maka berwisata ke museum menjadi pilihan yang tepat. Museum tak
hanya membantu mengenalkan sejarah bangsa tetapi juga beragam informasi yang
inspiratif bagi siswa untuk menumbuhkan rasa nasionalisme.

D. Nasionalisme
Beberapa pengertian nasionalisme dari berbagai sumber:
1. Smith (2012: 11) mengungkapkan bahwa.
Nasionalisme adalah suatu gerakan ideologis untuk mencapai dan
mempertahankan otonomi, kesatuan, dan identitas bagi suatu populasi, yang
sejumlah anggotanya bertekad untuk membentuk suatu ‘bangsa’ yang aktual atau
‘bangsa’ yang potensial.
2. Sumarmi (2006: 20) menyatakan bahwa.
Nasionalisme berasal dari kata nasional (bahasa Belanda, national) yang
berarti paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negara sendiri atau
kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial
mempertahankan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bersama-sama.
Nasionalisme merupakan suatu konsep penting yang harus tetap
dipertahankan untuk menjaga agar suatu bangsa tetap berdiri dengan kokoh dalam
kerangka sejarah pendahulunya. Dengan semangat nasionalisme yang tinggi maka
eksistensi suatu negara akan selalu terjaga dari segala ancaman, baik ancaman
secara internal maupun eksternal.
Cinta tanah air atau bela negara adalah tekad, sikap, dan tindakan warga
negara yang teratur, meyeluruh, terpadu, dan berlanjut yang dilandasi oleh
kecintaan pada tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia.
Berkeyakinan akan kesaktian Pancasila sebagai ideologi negara dan kerelaan
untuk berkorban guna meniadakan setiap ancaman baik dari luar maupun dalam
negeri yang membahayakan keutuhan NKRI.
Semangat kebangsaan atau nasionalisme telah dibuktikan dengan
keberhasilan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Nilai
semangat nasionalisme harus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi penerus
bangsa agar mampu mempertahankan kemerdekaan serta mengisinya.
Setiap negara di dunia pasti mempunyai jiwa nasionalisme. Hal yang
membedakan nasionalisme antar negara terletak pada falsafah negaranya atau
kepribadian bangsa. Untuk di Negara Kesatuan Republik Indonesia nasionalisme
yang diterapkan adalah Nasionalisme Pancasila yakni nasionalisme yang dijiwai
oleh nilai-nilai Pancasila. Nasionalisme ini mengajarkan kepada masyarakat
Indonesia untuk tidak mengagung-agungkan bangsanya sendiri serta tidak
merendahkan bangsa lain.
Pancasila merupakan kristalisasi nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa
Indonesia yang diyakini kebenarannya dan menimbulkan tekad untuk
mewujudkan dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Kristalisasi yang
dimaksud adalah nilai-nilai yang terdapat pada Pancasila. Maka Pancasilalah yang
menjadi dasar pendidikan nasional di Indonesia.
Sebuah fakta nasionalisme diungkap secara mengejutkan oleh Ihsan
(2009: 158) yang menyatakan.
Wacana ekonomi politik saat ini disesaki oleh “perselingkuhan”
perusahaan-perusahaan transnasional, seperti Freeport, Newmont, dan
ExxonMobil, dengan negara. Keterlibatan perusahaan asing dalam
proyek perekonomian nasional, oleh sebagian pengamat dan politisi,
dianggap sebagai monumen tergadainya rasa kebangsaan
(nasionalisme). Dan seperti sebuah orkestra, isu nasionalisme pun
menjadi komoditas kritik bersama yang ditujukan kepada pemerintahan
SBY.

Sebuah kritik yang cukup pedas tersebut telah menggambarkan sisi lain
dari nasionalisme di tingkat pemerintahan. Kata “tergadainya rasa kebangsaan
(nasionalisme)” yang dilontarkan seharusnya menjadi bahan evaluasi terhadap
pemerintah sendiri. Indonesia memang belum bisa “berdiri sendiri” dalam
perekonomian namun hal ini hanya masalah ketersediaan SDM yang tidak
difasilitasi dan diberi kesempatan mengembangkan perekonomian. Sesungguhnya
putra-putra bangsa adalah manusia-manusia berkompeten yang sanggup
membenahi negara tetapi mereka tidak pernah diberi kesempatan. Tidak sedikit
putra Indonesia hidup di luar negeri dengan kecerdasannya dan menjadi orang
yang terhormat. Hal ini menjadi bukti konkrit bahwa Indonesia sebenarnya
mampu menjadi negara maju asalkan putra-putra bangsa yang berprestasi dan
berkarakter diberi kesempatan.
BAB III
PEMBAHASAN

Guru sebagai seorang pendidik di sekolah mempunyai peran penting untuk


membentuk karakter peserta didik. Melalui figur seorang guru yang dicintai
muridnya maka itu menjadi jalan yang mudah untuk menanamkan dan
menumbuhkan rasa nasionalisme pada diri setiap peserta didik. Khusus untuk
guru di tingkat Sekolah Dasar ini menjadi hal yang mutlak dilakukan mengingat
pentingnya kesadaran berbangsa dan bernegara yang harus ditanamkan sejak
dini. Kita sebagai pendidik merupakan ujung tombak di lapangan dalam
mewujudkan pribadi siswa yang mantap dan memiliki rasa nasionalisme tinggi.
Pendidik juga harus senantiasa berperan aktif melalui berbagai upaya yang dapat
menggugah kembali semangat nasionalisme pemuda pelajar yang mulai luntur
tergerus arus globalisasi.
Peran guru dalam proses internalisasi nilai-nilai positif di dalam diri siswa
tidak bisa digantikan oleh media pendidikan secanggih apapun. Oleh karena itu,
mengembalikan jati diri siswa memerlukan keteladanan yang hanya ditemukan
pada pribadi guru. Dalam menjalani amanah sebagai khalifah di muka bumi kita
hendaknya mampu memberikan teladan yang baik untuk dicontoh peserta didik.
Tanpa peranan guru pendidikan karakter dan pengembalian jati diri siswa tidak
akan berhasil dengan baik.
Berbagai upaya yang dapat ditempuh pendidik dalam menanamkan rasa
nasionalisme pada siswa, yaitu:
1. Penguatan peran pendidik dan peserta didik agar terjalin sinergi antara
implementasi kegiatan transfer ilmu yang tetap mengedepankan kualitas
dengan terwujudnya peserta didik yang bermoral dan memegang teguh
semangat nasionalisme. Penguatan nasionalisme harus dimulai dengan
mengembalikan jati diri pelajar agar terbentuk pribadi yang mantap dan
berakhlak mulia. Jati diri dapat memancar dan tumbuh dengan mengenali diri
sendiri dan menemukan kembali jati diri kita sebagai pendidik dan peserta
didik. Membangun jati diri adalah membangun karakter. Dalam membangun
karakter dapat dilakukan dengan menanamkan kebiasaan (habituation)
tentang hal yang baik sehingga siswa mwnjadi paham (domain kognitif),
menanamkan tata nilai serta menanamkan mana yang boleh dan mana yang
tidak (domain afektif), mampu melakukan (domain psikomotor) dan
memberikan teladan hidup (living model).
2. Dalam setiap kegiatan pembelajarannya pendidik harus senantiasa
menanamkan dan menumbuhkan sikap mencintai dan bangga terhadap tanah
air. Pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam
pergaulan sehari-hari, mengembangkan dan melestarikan budaya dan
kesenian daerah dan menanamkan rasa bangga terhadap produk dalam negeri
dibandingkan dengan produk luar negeri diharapkan akan mampu
membangkitkan rasa bangga terhadap bangsa Indonesia yang pada akhirnya
muncul semangat nasionalisme pada siswa untuk tetap menjaga keutuhan
NKRI.
3. Senantiasa mengimplementasikan nilai-nilai luhur agama dan nilai-nilai dan
nilai-nilai Pancasila di setiap kegiatan pembelajarannya.
4. Membiasakan kegiatan upacara bendera untuk membangkitkan semangat
nasionalisme. Di tengah perkembangan zaman yang semakin serba modern
dan menggerus nilai-nilai budaya bangsa nampaknya kegiatan upacara
bendera masih relevan untuk dilaksanakan dalam rangka membentuk karakter
pribadi siswa yang tangguh, disiplin, dan bertanggung jawab. Sebagaimana
kita ketahui bahwa pelaksanaan upacara bendera adalah bagian dari
pembinaan mental, fisik, dan disiplin yang harus terus dilakukan dalam
kehidupan sekolah. Sekolah sebagai wahana “transfer of value” harus dapat
menciptakan nilai-nilai positif. Hal tersebut bisa dilakukan dengan penciptaan
suasana kegiatan belajar mengajar yang serba tertib, tertib di kelas, tertib di
lapangan dan lingkungan sekolah, serta tertib pengaturan dan penggunaan
waktu (tertib waktu).
5. Mengoptimalkan kegiatan pengembangan diri. Kegiatan ini merupakan
kegiatan di luar jam pelajaran sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah.
Kegiatan ini dapat dilakukan melalui layanan Bimbingan Konseling (BK) dan
kegiatan ekstrakurikuler. Layanan BK dapat dioptimalkan komunikasi yang
interaktif antara guru, siswa, orang tua siswa sehingga dapat mengantisipasi
hal-hal yang tidak diiinginkan dari pengaruh buruk lingkungan. Kegiatan
ekstrakurikuler diharapkan dapat menyalurkan minat, bakat, kemandirian,
kemampuan bermasyarakat, beragama, dan memecahkan masalah.
Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragamannya, mulai
dari keanekaragaman suku bangsa, budaya, agama, bahasa, adat, kuliner, pakaian
bahkan tempat tinggal. Zamrud Khatulistiwa memang julukan yang tepat bagi
Negara yang mempunyai lebih dari dua ratus juta jiwa penduduk ini, karena selain
Indonesia memiliki letak astronomis di garis 0 derajat (0º) atau garis Khatulistiwa,
Indonesia juga memiliki banyak panorama yang tak di ragukan lagi keindahannya.
Masyarakat yang terdiri dari beraneka ragam suku bangsa dan agama juga
merupakan daya tarik tersendiri bagi Negara Indonesia. Indonesia merupakan
satu-satunya Negara yang memiliki jumlah suku bangsa terbanyak di dunia. Tak
heran jika bahasa daerah di Indonesia pun banyak jumlahnya, itu karena faktor
banyaknya jumlah suku bangsa tersebut. Selain beberapa hal di atas, Indonesia
juga merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, julukan ini memang sangat
pantas bagi Indonesia yang memiliki lebih dari lima belas ribu pulau,
sebagaimana yang diinformasikan oleh Departemen Dalam Negeri Republik
Indonesia bahwa Indonesia memiliki jumlah pulau sebanyak 17.504 pulau, yang
terdiri dari 7.870 pulau yang bernama dan 9.634 pulau yang tak bernama.
Setiap pulau memiliki potensi masing-masing, baik dalam hal pertanian,
perikanan, perkebunan, pertambangan, bahkan potensi pariwisata. Potensi
pariwisata yang dimiliki oleh suatu daerah atau provinsi pun belum seutuhnya
mendapatkan perhatian dari pemerintah. Padahal, jika pemerintah Indonesia mau
mencurahkan sedikit saja perhatian mereka terhadap potensi tersebut, maka
sebenarnya Pemerintah bisa mendapatkan banyak hal positif. Mulai dari
pemasukan daerah, dengan banyaknya kunjungan wisatawan, baik wisatawan
domestik maupun wisatawan mancanegara. Lalu pariwisata di daerah tersebut bisa
lebih dikenal oleh banyak orang atau bahkan perusahaan sehingga menimbulkan
banyak keinginan para pengusaha untuk meraup keuntungan di sana dengan
menanamkan modalnya dan mendirikan tempat-tempat atau fasilitas yang
sekiranya belum dibangun di sana, seperti tempat penginapan (hotel, villa,
cottage), rumah makan, tempat hiburan, maupun berbagai fasilitas lainnya, atau
setidaknya dengan terwujudnya pariwisata di daerah tersebut, hal itu akan
membantu para penduduk yang tinggal di sekitarnya, untuk mendapatkan
pekerjaan dan memanfaatkan tempat pariwisata tersebut sebagai ladang mereka
untuk mencari rezeki, sehingga akan mengurangi jumlah pengangguran yang
terdapat di daerah tersebut serta akan menghasilkan kehidupan masyarakat yang
sejahtera, makmur dan sentosa.
Masalah tentang ketidakpedulian Pemerintah dan Masyarakat terhadap
negara, timbul akibat kurangnya jiwa nasionalisme dan kecintaan kepada negara.
Maka dari itu, sulit rasanya jika kita ingin Tanah air kita Indonesia menjadi
sebuah negara yang maju dan mandiri, karena kita saja sebagai warga negara
belum bisa mencintai negara kita dengan seutuhnya. Hal ini akan terus merambah
kepada generasi muda Indonesia. Jiwa nasionalisme harus ditanamkan kepada
para siswa ketika mereka menginjak usia sekolah. Karena ketika mereka berada di
usia sekolah, sebenarnya itu adalah masa yang tepat untuk menanamkan jiwa
nasionalisme dan rasa kecintaan mereka pada negara. Karena pada masa tersebut,
mereka mendapatkan banyak perhatian dari para guru dan orang tua mereka serta
adanya dukungan, rasa persamaan dan solidaritas yang tinggi antara sesama
pelajar yang dapat memotivasi para generasi muda untuk lebih mencintai negara.
Sekolah merupakan tempat yang sangat mendukung terwujudnya hal tersebut.
Sekolah dapat memberikan mereka banyak motivasi dengan segala komponen,
pengetahuan dan fasilitator yang ada di dalamnya.
Jiwa nasionalisme dan kecintaan pada negara memang dapat tumbuh
disebabkan oleh beberapa faktor. Khususnya bagi para generasi muda Indonesia,
maka sekolah merupakan tempat yang paling tepat untuk mewujudkan hal
tersebut. Di lingkungan sekolah terdapat banyak fasilitator yang dapat menunjang
para siswa untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme mereka. Guru sebagai
fasilitator utama dalam hal ini.
Guru adalah orang yang dihormati oleh para siswa, selain orang tua
mereka yang berada di rumah. Maka, banyak pernyataan yang mengatakan bahwa
Guru adalah Orang tua di sekolah. Dengan segala kesabaran dan tanggung jawab,
Guru selalu membimbing dan mendidik para siswanya dan senantiasa menjadi
panutan bagi mereka. Maka dari itu, Guru mempunyai peran penting dalam
mewujudkan dan menumbuhkan jiwa nasionalisme dan kecintaan siswa terhadap
negara. Guru dituntut untuk dapat memberikan dan mengeluarkan segala
kreativitasnya. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh seorang guru untuk
menumbuhkan jiwa nasonalisme siswa. Salah satu diantaranya dengan
memberikan dan mengajarkan mereka tentang pengetahuan pariwisata dan
pemahamannya.
Guru dapat menjadikan pengetahuan pariwisata sebagai cara untuk
menumbuhkan jiwa nasionalisme siswa karena dengan pengetahuan pariwisata,
siswa dapat mengetahui segala potensi pariwisata yang dimiliki oleh negaranya.
Segala keindahan alam dan keanekaragaman yang dimiliki Indonesia, dapat
menimbulkan kebanggaan tersendiri bagi para siswa. Rasa kepemilikan terhadap
negara pun akan timbul, sehingga dapat menumbuhkan jiwa nasionalisme dan
kecintaan kepada negara yang begitu besar. Selain pengetahuan pariwisata yang
harus mereka ketahui, guru juga diharapkan untuk memberikan informasi tentang
pengembangan potensi yang terdapat di daerah pariwisata tersebut, karena banyak
potensi-potensi pariwisata yang dapat dikembangkan apabila ditangani secara
serius, khususnya potensi pariwisata yang berada di daerah-daerah yang belum
pernah terekspose sama sekali oleh publik, baik dalam maupun luar negeri.
Seyogyanya para guru dapat menggali keinginan siswa untuk peduli kepada
potensi pariwisata yang berada di daerahnya.
Banyak cara yang dapat dilakukan oleh seorang guru untuk menumbuhkan
jiwa nasionalisme dan kecintaan siswanya pada negara melalui pengetahuan
pariwisata. Seperti mengenalkan berbagai keindahan alam Indonesia dan
menceritakan segala kelebihan Indonesia dalam bidang pariwisata, hal ini dapat
dilakukan oleh guru untuk menggugah keingintahuan mereka dan membangkitkan
rasa kebanggaan dan kepemilikan mereka terhadap negara. Misalnya, seorang
guru dalam jam pelajarannya, tentang Indonesia, ataupun di luar jam pelajaran,
seperti dalam Organisasi. Guru dapat memberikan segala informasi atau pelajaran
tentang Indonesia, yang belum mereka ketahui, khususnya dalam bidang
Pariwisata, seperti Pulau Komodo yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur
yang pada saat ini merupakan salah satu destinasi pariwisata di daerah timur
Indonesia yang sedang banyak dibicarakan, baik oleh wisatawan domestik
maupun mancanegara. Kelebihan pulau Komodo, selain hewan Komodo itu
sendiri yang merupakan salah satu reptil purbakala yang masih hidup sampai saat
ini dengan habitat aslinya yang masih terjaga, keindahan alam yang ditawarkan di
Pulau Komodo pun bisa dijadikan alasan mengapa para wisatawan berkunjung ke
pulau ini. Kawasan perairan yang berada di sekitar pulau komodo pun sangat
menakjubkan, mulai dari pemandangan pantai yang menyejukkan mata hingga
pemandangan ekosistem bawah laut yang kaya dan masih terjaga secara alami.
Berbagai macam jenis terumbu karang hidup subur dan menjadi tempat hidup
sekian banyak spesies ikan sekaligus penyedia sistem penunjang kehidupan air
laut. Banyak penyelam telah menyaksikan kehidupan bawah laut perairan pulau
Komodo yang mempesona dan menyimpan berjuta potensi keanekaragaman
hayati. Dengan demikian, sangat layak kiranya Taman Nasional Pulau Komodo
diangkat menjadi salah satu dari 7 Keajaiban Alam (7 Wonders Of Nature),
bersanding dengan beragam keajaiban dunia lainnya yang mengagumkan.
Selain pulau Komodo, guru juga bisa memberikan contoh daerah
pariwisata lainnya, agar pikiran siswa lebih terbuka tentang pengetahuan
pariwisata Indonesia, seperti Gunung Bromo. Gunung Bromo merupakan salah
satu tujuan wisata di Jawa Timur. Tempat wisata alam ini terletak di Taman
Nasional Bromo Tengger Semeru di timur kota Malang, Jawa Timur.
Pengunjungnya bukan hanya wisatawan lokal, bahkan banyak yang berasal dari
luar negeri. Dengan pemandangan yang khas membuat Bromo layak menjadi
tujuan wisata. Banyak keistimewaan yang terdapat di Gunung Bromo, mulai dari
momen menunggu matahari terbit di pagi hari, indahnya kawah Gunung Bromo
yang berasap, luasnya lautan pasir yang mencapai 10 km2 yang dapat dinikmati
dengan cara berkuda, serta dahsyatnya pemandangan gunung-gunung yang ada di
kawasan ini, antara lain Gunung Bromo, Gunung Batok, atau Gunung semeru
yang merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa. Benar-benar merupakan suatu
pemandangan yang sangat langka dan luar biasa yang dapat dinikmati oleh para
wisatawan. Masih banyak daerah di Indonesia yang memiliki potensi pariwisata,
sebut saja Taman Nasional Bunaken di Sulawesi Utara, Raja Ampat di Irian Jaya
Barat, Danau Toba di Sumatera Utara, Pantai Parangtritis di DI. Yogyakarta,
Candi Borobudur di Jawa Tengah, Candi Prambanan di Yogyakarta, Gunung
Rinjani di Nusa Tenggara Barat, Danau Singkarak di Sumatera Barat, Gunung
Tangkuban Perahu di Jawa Barat dan masih banyak lagi tempat pariwisata lainnya
di Indonesia.
Dengan adanya rasa kebanggaan, kecintaan, kepemilikan akan negara serta
kepedulian terhadap negara untuk mengembangkan potensi pariwisata, maka
sebenarnya jiwa nasionalisme para siswa tumbuh dengan tanpa mereka sadari.
Sehingga ketika mereka mempunyai bekal yang mereka dapat dari para guru
mereka tentang kepedulian dan kecintaan kepada negara, mereka akan mampu
untuk mengelola potensi pariwisata yang berada di daerahnya. Dan potensi itu
akan semakin berkembang jika pada kemudian hari mereka tamat dari sekolah,
mereka mau berkomitmen untuk lebih mengembangkan sektor pariwisata di
daerahnya sebagai bukti jiwa nasionalisme, kecintaan serta pengabdian mereka
kepada negara. Contohnya, seperti apa yang diinformasikan oleh Tanjungpinang
Pos melalui Website resminya tentang “Para Pelajar kota Tanjungpinang yang
berpotensi kembangkan Pariwisata”. Para pelajar tersebut diundang untuk
menghadiri acara Open House yang digelar oleh Universitas Bunda Mulia (UBM)
Jakarta di Hotel Comfort Tanjungpinang Rabu (14/9) malam. Melihat banyak
potensi pelajar-pelajar kota Tanjungpinang dalam segi Pariwisata, UBM pada
acara itu mengangkat tema “Discover The Beauty of Indonesia”. Sedikitnya
siswa-siswi dari enam sekolah yaitu SMAN 1, SMAN 2, SMA Santa Maria, SMK
Pembangunan, SMKN 1, SMA Pelita Nusantara mengikuti serangkaian acara
yang mengupas tentang pengetahuan pariwisata di Tanjungpinang. Menurut Robet
salah seorang Koordinator Marketing Executive UBM mengatakan bahwa kota
Tanjungpinang adalah kota yang sedang berkembang, khususnya dari segi
Pariwisata. Untuk itu ia mengharapkan yang memajukan pariwisata Kota
Gurindam ini (julukan kota Tanjungpinang) adalah putera-puteri daerah dari
Tanjungpinang. “Sayang sekali jika kota Tanjungpinang yang memiliki potensi
pariwisata ini dikelola oleh orang lain, alangkah baiknya yang membuat
pariwisata kita berkembang adalah putera-puteri daerah” sambungnya.
Dalam pengembangan bahasa Inggris di SMA Negeri 3 Baubau, peserta
didik juga diberikan ekstrakurikuler seperti mengunjungi tempat-tempat wisata
yang berada di Kota Baubau. Kota Baubau adalah sebuah kota di Pulau Buton,
Provinsi Sulawesi Tenggara yang memiliki panorama alam yang indah dan
mempesona. Di tempat ini Anda dapat menikmati tempat-tempat Wisata Paling
Menarik yang akan membuat Anda nyaman dan tenang saat berlibur.Kota Baubau
dapat dikatakan sebagai Kota Wisata karena ditempat ini banyak ditemui Tempat
Wisata Menarik dan Indah dengan pemandangan yang sangat menakjubkan. Kota
Baubau banyak menawarkan banyak tempat wisata menarik seperti Menikmati
keindahan Pantai Nirwana, Pantai Lakeba dengan pemandanganya yang sangat
mempesona, Gua Lakasa yang memiliki stalaknit dan stalaktit yang sangat indah
terbentuk sejak ribuan tahun yang lalu atau mengunjungi Air Terjun
Samparona dengan airnya yang jernih serta pemandangan hijau disekitarnya.

Mengingat kota Baubau sebagai destinasi wisata, para peserta didik


diharapkan dapat berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris pada wisatawan
asing yang berkunjung ke Kota Baubau sebagai salah satu bentuk aktualisasi
pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dan menjadi pengalaman belajar yang
membanggakan bagi peserta didik.

Dengan diberikannya Pengetahuan Pariwisata dan Pengembangan


Potensinya kepada para pelajar, setidaknya mereka tahu akan kekayaan yang
dimiliki oleh negara ini. Dengan kesadaran akan kekayaaan yang dimiliki oleh
negara ini, maka seharusnya mereka sebagai generasi muda penerus bangsa,
senantiasa menjaga dan mencintai alam Indonesia dan melestarikan segala
keindahannya dan bagi mereka yang memiliki potensi untuk mengembangkan
pariwisata di daerahnya seperti apa yang dirasakan oleh para pelajar kota
Tanjungpinang, maka hal itu lebih baik. Dan memang sudah sewajarnya itu
dilakukan oleh para pelajar Indonesia, karena dengan jiwa mereka yang masih
sangat muda dan enerjik memungkinkan mereka untuk aktif dalam hal
pengembangan pariwisata ini. Segala kampanye bisa saja dilakukan oleh para
pelajar sebagai bukti kecintaan mereka kepada negara. Apalagi di zaman modern
seperti ini sangat mudah bagi mereka untuk setidaknya turut mempromosikan
pariwisata Indonesia kepada khalayak dunia. Mereka dapat menggunakan dunia
maya atau Internet sebagai fasilitatornya. Dengan adanya kesadaran seperti ini,
maka jiwa nasionalisme mereka pun bangkit seiring dengan bangkitnya kesadaran
mereka. Negara ini sangat butuh peran generasi muda yang aktif, peduli, dan
berjiwa nasionalisme tinggi. Bukan generasi muda yang anarkis, egois, dan tidak
bermoral yang pada akhirnya hanya bisa melakukan kegiatan yang merugikan dan
bahkan memalukan. Seperti tawuran antar sesama pelajar, maupun demonstrasi
mahasiswa yang tidak berdasarkan atas tujuan yang baik. Maka dari itu, peran
guru di sekolah dinilai sangat penting untuk dapat menumbuhkan jiwa
nasionalisme dan kecintaan siswa pada negara, dan Pengetahuan Pariwisata
merupakan salah satu diantara banyak cara yang dapat mewujudkan hal tersebut.
Mari kita tanamkan jiwa nasionalisme dan kecintaan kita pada negara, karena
kalau bukan kita yang mencintai negeri ini dengan sepenuh hati, siapa lagi?
BAB IV
KESIMPULAN

Pendidikan karakter merupakan kurikulum implisit yang sangat penting


untuk dilakukan oleh guru guna membentuk pribadi siswa yang baik. Guru
merupakan tokoh utama di sekolah dalam membentuk karakter tersebut.
Keteladanan dan pembiasaan bisa menjadi jembatan yang ampuh untuk
mewujudkan cita-cita pendidikan karakter.
Memudarnya rasa nasionalisme yang akhir-akhir ini semakin jelas terlihat
menjadi salah satu dampak menurunnya karakter anak-anak bangsa. Penanaman
nasionalisme dalam bingkai pendidikan karakter akan mengembalikan kecintaan
putra-putri bangsa terhadap tanah airnya. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk
menanamkan rasa nasionalisme terutama pada siswa Sekolah Menengah Atas.
Cara yang dapat ditempuh, yaitu melalui metode wisata.
Hal-hal yang bisa ditempuh pendidik untuk menanamkan rasa
nasionalisme pada siswa yaitu dengan membangun sinergi antara pendidik dan
peserta didik yang tetap mengedepankan kualitas peserta didik untuk membentuk
moral, menanamkan dan menumbuhkan rasa nasionalisme dalam setiap kegiatan
pembelajaran, serta mengimplementasikan nilai-nilai dalam kegiatan
pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA

Anonym. 2018. Cara Terbaik Menanamkan Nasionalisme Kepada Murid.


(online), ( http://guraru.org/guru-berbagi/cara-menanamkan-jiwa-
nasionalisme/. diakses 8 Februari 2018)

Kansil, C.S.T., dan Kansil, Christine S.T. 2011. Empat Pilar Berbangsa dan
Bernegara. Jakarta: Rineka Cipta.

Kesuma, Dharma, dkk. 2011. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di
Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Pawiti, Sri. 2012. Bahan Ajar Pengantar Pendidikan.

Rohman, Muhammad. 2012. Kurikulum Berkarakter. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Kusuma, Doni. 2007. Pendidikan Karakter. Jakarta: Grasindo.

Rukiyanto, Agus. 2009. Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Kanisius.

Smith, Anthony D. 2012. Nasionalisme Teori Ideologi Sejarah. Jakarta: Erlangga.

Sumarmi. 2006. Citra Pendidikan Kewarganegaraan. Klaten: Sekawan.

Sunarti, Euis. 2005. Menggali Kekuatan Cerita. Jakarta: Elek Media Komputindo.

Suyanto. 2011. Pendidikan Karakter dalam Perspektif Teori dan Praktik.


Yogyakarta: UNY Press.

Tanty Erlianingsih. 2012. Menumbuhkan Semangat Nasionalisme dalam Bingkai


Pendidikan Karakter (online), (http://www.lazuardibirru.org/gurupencerah
/kolom-gurupencerah/menumbuhkan-semangat-nasionalisme-dalam-
bingkai-pendidikan-karakter/, diakses 8 Februari 2018)