Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN

PERKEMBANGAN BIJI, INDUKSI KALUS, DAN INDUKSI TUNAS

Disusun Oleh :
Tsalis Habiburahman 15308141013
Nicolas Ega Wida Is Winata 15308141034

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupakan salah satu kacang sayur yang
digemari masyarakat karena menjadi salah satu sumber protein nabati. Pada tahun 2014
produktivitas buncis mengalami penurunan dikarenakan minimnya lahan produksi dan
industri benih buncis.
Teknik budidaya tanaman dengan menggunakan metode konvensional dalam
medium tanah atau pasir seringkali menghadapi kendala teknis, lingkungan maupun
waktu. Kendala lain yang juga sering muncul adalah gangguan alam, baik yang
disebabkan oleh jasad hidup, misalnya hama dan penyakit, maupun cekaman
lingkungan yang dapat mengganggu keberhasilan perbanyakan tanaman. Kebutuhan
akan bibit tanaman dalam jumlah besar, berkualitas, bebas hama dan penyakit serta
harus tersedia dalam waktu singkat seringkali tidak dapat dipenuhi dengan
menggunakan metode konvensional baik secara generatif maupun vegetatif.
Kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuh-kembangkan bagian
tanaman baik berupa sel, jaringan, atau organ dalam kondisi aseptik in vitro. Teknik ini
dicirikan oleh kondisi kultur yang aseptik, penggunaan media kultur buatan dengan
kandungan nutrisi lengkap dan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh), serta kondisi ruang kultur
dan pencahayaannya terkontrol.
Banyak eksplan yang dapat digunakan untuk induksi kalus. Eksplan tersebut
dapat berasal dari akar, batang, daun, bunga, maupun polen. Asal eksplan akan
menentukan pertumbuhan kalus karena memerlukan proses pembelahan sel yang tidak
akan terdiferensiasi menjadi organ. Hormon tumbuhan atau zat pengatur tumbuh yang
ditambahkan di dalam media untuk menginduksi kalus sangat bervariasi tergantung
genotipe eksplan yang digunakan serta hormon yang sudah ada di dalam tanaman induk
(endogeneous hormone). Kalus dapat diinduksi dengan penambahan hanya auksin,
hanya sitokinin, atau campuran auksin dan sitokinin dalam perbandingan tertentu.
Penggunaan kultur jaringan mempunyai kelebihan, yaitu mampu memproduksi
bibit yang seragam dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang relatif singkat. Kultur
jaringan sering dijadikan salah satu solusi sebagai metode perbanyakan tanaman dan
juga dapat digunakan sebagai suatu metode penyimpanan plasma nutfah yang tidak
membutuhkan tempat yang besar. Keberhasilan dari kultur jaringan sangat bergantung
dari ketepatan konsentrasi nutrisi yang berada di dalam media kultur. Ketepatan
konsentrasi ini menyangkut pada ketersediaan nutrisi bagi eksplan tanaman. Kelebihan
nutrisi dari tanaman akan menyebabkan tanaman mengalami keracunan unsur hara.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara menghasilkan kalus dari bagian tanaman (eksplan) yang
ditumbuhkan pada media kultur jaringan.
2. Bagaimana cara menghasilkan tunas dari bagian tanaman (eksplan) yang
ditumbuhkan pada media kultur jaringan.

C. Tujuan
1. Mengetahui cara menghasilkan kalus dari bagian tanaman (eksplan) yang
ditumbuhkan pada media kultur jaringan.
2. Mengetahui cara menghasilkan tunas dari bagian tanaman (eksplan) yang
ditumbuhkan pada media kultur jaringan.
BAB II
TINJUAN PUSTAKA

Kultur kalus merupakan kultur sekumpulan sel yang tidak terorganisir, yang
bertujuan untuk memperoleh kalus dari eksplan yang diisolasi dan ditumbuhkan dalam
lingkungan terkendali. Adapun manfaat dari kultur kalus ini yaitu sebagai sumber sel-
sel untuk protoplasma, model dalam rekayasa genetika contohnya kultur sel tembakau,
perlakuan mutagen kimia, studi hubungan host-patogen dalam fitopatologi, untuk
produksi bahan-bahan sekunder.
Pertumbuhan kalus pada setiap bagian berbeda respon pertumbuhannya, oleh
karena itu di perlukan zat pengatur tumbuh untuk memperlancar pertumbuhan kalus.
Golongan ZPT yang sering di gunakan adalah auksin dan sitokinin. Auksin mempunyai
peran ganda tergantung pada konsentrasi, struktur kimia dan jaringan tanaman yang di
beri perlakukan. Penggunaan auksin sendiri sebenarnya bertujuan untuk menginduksi
pertumbuhan kalus, kultur suspensi, dan akar yaitu dengan merangsang pembelahan
dan perkembangan sel dalam kambium (Rozaliana, 2013).
Pemberian auksin pada medium padat pada umumnya adalah berdampak dapat
menginduksi kalus embriogenetik. Sedangkan penamabahan sitokinin pada medium
padat akan menyebabkan poliferasi kalus embriogenetik.
Dalam kultur kalus, turunan dari hormon auksin yang paling sering di gunakan
adalah 2,4-D. hal ini mempertimbangkan kestabilan dari hormon tersebut dalam media.
2,4-D di nilai stabil karena tidak mudah terurai oleh enzim-enzim yang dikeluarkan
oleh sel tanaman ataupun akibat pemanasan pada proses sterilisasi pada autoclave
(Gunawan, 1988).
2,4-D memiliki sifat lebih stabil karena tidak mudah terurai oleh enzim-enzim
yang dikeluarkan oleh sel tanaman ataupun oleh pemanasan pada proses sterilisasi,
selain itu golongan auksin berfungsi untuk merangsang pertumbuhan kalus, suspensi
sel dan organ (Gunawan, 1988). Pemberian sitokinin dalam kultur kalus berperan
penting dalam memicu pembelahan dan pemanjangan sel (Indah dan Ermavitalini,
2013).
Sitokinin BA atau BAP sering digunakan untuk perbanyakan tanaman karena
didegradasi lambat dan tidak kehilangan daya aktifnya walaupun telah diautoklaf.
Selain itu ZPT tersebut memiliki efektivitas untuk perbanyakan tunas cukup tinggi,
mudah didapat, dan relatif murah bila dibandingkan kinetin (Srivastava & Banerjee
2008, Yusnita, 2003). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Srivastava &
Banerjee (2008) pada tunas aksilar dari jarak pagar yang menghasilkan tunas yang lebih
banyak pada perlakuan BA yang dikombinasikan dengan IBA yang rendah.
Konsentrasi rendah BA (0,5 mg/l) dan IBA (0,5 mg/l) sangat penting untuk diferensiasi
tunas pucuk pada regenerasi planlet dari kalus jarak pagar, sedangkan konsentrasi yang
lebih tinggi pada BA (1 mg/l) dan IBA (1 mg/l) sangat penting bagi pemanjangan tunas
(Kaewpoo & Te-chato 2009).
Skoog dan Miller dalam Kamada dan Harada (1979), yang pertama kali
mendemonstrasikan tentang interaksi antara auksin dan sitokinin dalam medium
dimana merupakan faktor penting dalam organogenesis kultur jaringan tembakau. Bila
auksin lebih rendah dari sitokinin akan menginduksi tunas dan bila sebaliknya maka
akan membentuk akar. Kemudian untuk menghasilkan kalus memerlukan konsentrasi
yang seimbang antara auksin dan sitokinin.
Martin, (2004) yang menggunakan eksplan internodul batang dari
Andrographis paniculata (Burm. F.) yaitu eksplant terbentuk kalus pada kombinasi
10,74 uM NAA dengan 0,44 dan 2,22 uM BAP. Kemudian membentuk tunas pada 0,44
uM BAP.
Penggunaan zat pengatur tumbuh dalam kultur jaringan tanaman sangat penting,
yaitu untuk merangsang pertumbuhan tunas, akar, kalus, atau embriogenesis somatik.
Penggunaan zat pengatur tumbuh di dalam kultur jaringan tergantung pada tujuan atau
arah pertumbuhan tanaman yang diinginkan (Zaer dan Mapes, 1982). Menurut Lestari
(2011), penggunaan auksin dan sitokinin pada konsentrasi yang tepat, akan memacu
organogenesis dalam pembentukan tunas. Benzyl Amino Purin (BAP) merupakan salah
satu zat pengatur tumbuh yang biasa digunakan untuk memacu pembentukan tunas
dengan daya aktivitas yang kuat untuk mendorong proses pembelahan sel (George dan
Sherrington, 1984).
BAB III
METODE

A. Waktu dan Tempat


Waktu Pelaksanaan : Selasa, 27 Maret 2018 dan 3 April 2018
Tempat Pelaksanaan : Laboratorium Kultur Jaringan Biolog, FMIPA, UNY

B. Alat dan Bahan


Alat :
• Clean Bench with UV lamp (BI-124/JICA)
• Petridish steril
• Pinset panjang dan pendek steril
• Scalpel steril
• Erlenmeyer kosong steril
• Gelas ukur
• Lampu spirtus

Bahan :
• Alkohol 70%
• Larutan formalin 10%
• Larutan sublimat 40 mg/100 ml aquadest
• Larutan kloroks 10% + Tween 20 sebanyak 2 tetes
• Larutan PVP (Polyvinil Pyrolidon) 50 mg/100 ml aquadest + Ascorbic acid
(Vitamin C) 50 mg
• Air aquadest steril
• Media MS
• Eksplan : Biji dan batang buncis
C. Cara Kerja
1. Perkembangan biji
Pertama biji buncis disterilisasi didalam LAF kemudian menyiapkan
peralatan steril didalam LAF dan media tanam berupa agar kosong. Setelah siap
biji buncis ditanam kedalam media sebanyak 4 biji secara merata. Selanjutnya
simpan dan amati secara berkala.

2. Induksi Kalus
Ambil eksplan dari perkembangan biji buncis yang telah ditanam pada
praktikum sebelumnya. Batang dipotong dengan panjang 1 cm sebanyak 3
potong. Eksplan batang ditanam pada media NP dan 2,4 D secara merata.
Simpan di rak penyimpanan, selanjutnya amati dan catat secara berkala.

3. Induksi Tunas
Ambil eksplan dari perkembangan biji buncis yang telah ditanam pada
praktikum sebelumnya. Batang dipotong dengan panjang 1 cm sebanyak 3
potong. Eksplan batang ditanam pada media NP dan BA secara merata. Simpan
di rak penyimpanan, selanjutnya amati dan catat secara berkala.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
No. Objek Hasil Gambar

Biji dapat tumbuh


Biji buncis
membentuk akar, batang,
1. ditumbuhkan pada
dan daun, serta tidak
media Agar kosong
terkontaminasi

Eksplan batang buncis


Tidak tumbuh kalus dan
2. ditumbuhkan pada
terjadi kontaminasi
media NP + 2,4-D

Eksplan batang dan


daun buncis Tidak tumbuh tunas dan
3.
ditumbuhkan pada terjadi kontaminasi
media NP + BA
B. Pembahasan
1. Perkembangan Biji
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil yaitu
tumbuhnya kecambah dari biji buncis yang ditanam di media agar kosong
dengan terbentuk akar, batang dan daun. Selain itu juga tidak terjadinya
kontaminasi pada media maupun eksplan yang ditanaman. Biji buncis dapat
berkecambah dan tumbuh dengan baik dikarenakan pada media tanam
mengandung nutrien yang dibutuhkan tanaman untuk cadangan makanan.
Disisi lain pada praktikum perkembangan biji buncis ini tidak terjadi
kontaminasi, hal ini dapat diketahui bahwa pada proses penanaman eksplan
hingga selesai sterilisasi eksplan dan media masih tetap terjaga sehingga tidak
terjadi kontaminasi.
Media yang digunakan yaitu agar kosong yang hanya terisi dari MS +
(makro nutrien dan mikro nutrien) tanpa tambahan zat pengatur tumbuh (ZPT).
Hal ini dikarenakan perkembangan biji buncis ini tidak menjadi yang
diutamakan dalam praktikum kali ini, serta untuk menghemat bahan atau biaya
dalam praktikum ini.

2. Induksi Kalus
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, terdapat
kontaminasi. Pada media tanam terkontaminasi cendawan. Kontaminasi yang
disebabkan oleh jamur ekternal bukan dari eksplan yang digunakan namun
lebih berasal dari spora jamur yang berasal dari lingkungan tempat inkubasi
eksplan yang mungkin kurang steril.
Kontaminasi bisa terjadi kemungkinan disebabkan karena kurang
sempurnanya sterilisasi pada saat proses penanaman eksplan dalam laminator.
Penyebab lain adalah pemotongan jaringan yang kurang hati-hati
mengakibatkan kerusakan. Sel-sel tersebut dapat juga mati karena pengaruh
panas dari alat-alat yang digunakan pada waktu pemotongan atau penanaman
eksplan (Hartati, 2013).
Kontaminasi oleh cendawan dicirikan dengan adanya hifa putih yang
tumbuh pada media kultur dari eksplan. Kondisi media kultur yang lembab dan
banyak mengandung nutrisi menyebabkan pertumbuhan cendawan cepat.
Cendawan yang menyerang eksplan lama-kelamaan akan menutupi eksplan,
yang akhirnya dapat menyebabkan kematian pada eksplan (Widyawati, 2015).
Bila pada eksplan tidak terjadi kontaminasi, maka media yang ditambah
dengan 2,4-D akan menumbuhkan kalus. Awal pertumbuhan kalus ditandai
dengan pembengkakan eksplan dan diikuti dengan munculnya kalus yang
nampak putih di ujung dan tepi eksplan. Pembentukan kalus pada ujung eksplan
menurut Astutik (2007) dalam Wahyuningtyas (2014), diawali dengan
membesarnya sel-sel epidermis bagian atas kemudian sel-sel tersebut
membelah menajadi dua. Ketika tanaman dilukai maka kalus akan terbentuk
akibat selnya mengalami kerusakan dan terjadi autolisis (pemecahan), dan dari
sel yang rusak tersebut dihasilkan senyawa-senyawa yang merangsang
pembelahan sel di lapisan berikutnya sehingga terbentuk gumpalan sel-sel yang
terdiferensiasi.
Kalus terbentuk melalui tiga tahapan. Dodds dan Roberts (1985)
mengemukakan bahwa tiga tahapan tersebut meliputi induksi, pembelahan sel
dan diferensiasi sel. Suryowinoto (1996) menyatakan bahwa terbentuknya
kalus pada eksplan adalah dikarenakan sel-sel yang kontak dengan medium
terdorong menjadi meristematik. Sel-sel yang bersifat meristematik ini
selanjutnya aktif membelah dan memperbanyak diri.
Awal pertumbuhan kalus ditandai dengan pembengkakan eksplan,
pembengkakan pada eksplan menandakan bahwa eksplan sudah merespon
media yang diberikan. Media tersebut diserap eksplan sebagai nutrisi untuk
pertumbuhan kalus yang selanjutnya akan ditandai dengan tahapan proliferasi
(perbanyakan sel). Pembentukan kalus tidak terlepas dari pembelahan,
pembesaran dan pemanjangan sel. 2,4-D merupakan auksin yang berperan
dalam pembelahan, pembesaran dan pemanjangan sel sebagai akibat ion
organik dan molekul anorganik masuk ke dalam sel. Menurut Campbell (2005)
pompa proton yang terletak di dalam membran plasma memainkan peranan
dalam respons pertumbuhan dari sel-sel terhadap auksin.

3. Induksi Tunas
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, terdapat
kontaminasi. Pada media tanam terkontaminasi cendawan. Kontaminan pada
eksplan berupa cendawan yang diduga berasal dari permukaan eksplan serta
dalam jaringan tanaman itu sendiri (endofit). Cendawan endofit adalah
cendawan yang mengoloni jaringan tumbuhan sehat tanpa menimbulkan gejala
penyakit (Ramdan et al. 2013).
Kontaminasi oleh cendawan internal disebabkan karena eksplan/bahan
tanam berupa batang dan daun buncis sudah membawa cendawan di dalam
jaringan daun tersebut, dimana biasanya cendawan yang berada dibagian dalam
jaringan tanaman sulit dikendalikan/dihilangkan dengan menggunakan metode
sterilisasi yang digunakan.
Menurut Gunawan (1988) dan Hu dan Wang (1983), kontaminasi
merupakan faktor pembatas dalam keberhasilan kultur jaringan yang dapat
berasal dari (1) bahan tanaman baik eksternal maupun internal, (2) organisme
kecil yang masuk ke dalam media, (3) botol kultur dan peralatan yang kurang
steril, (4) lingkungan kerja dan ruang kultur, dan (5) kecerobohan dalam
pelaksanaan.
Bila pada eksplan tidak terjadi kontaminasi, maka media yang ditambah
dengan BA akan menumbuhkan tunas. Bahan tanaman yang berhasil tumbuh
tunasnya berhasil pula tumbuh akarnya. Menurut Pertamawati (2003), daun
muda atau pucuk merupakan tempat sintesis auksin yang dapat mendorong
pertumbuhan akar. Selanjutnya akar merupakan tempat sintesis sitokinin yang
dapat mendorong pertumbuhan tunas.
Menurut Hu dan Wang (1983), George dan Sherington (1993), pada
kultur jaringan, sitokinin berperan dalam mendorong pembelahan sel atau
jaringan yang digunakan sebagai eksplan dan merangsang perkembangan
pucuk-pucuk tunas. Dalam perbanyakan in vitro, sitokinin digunakan untuk
mengatasi dormansi apikal dan mempertinggi percabangan tunas lateral dari
ketiak daun.
Hasil penelitian Wang dan Huang (1975) serta Roca et al. (1978)
mengungkapkan bahwa ketepatan ZPT yang ditambahkan sangat penting
dalam organogenesis, karena akan terjadi interaksi antara ZPT yang digunakan
dengan zat-zat endogen yang terdapat dalam jaringan tumbuhan. Bila tunas
tumbuh /muncul pada media dengan konsentrasi sitokinin rendah (BAP atau
2-ip) berarti ada kemungkinan sudah terdapat sitokinin endogen yang
mencukupi, sehingga tidak diperlukan penambahan sitokinin dari luar.
Terbentuknya tunas menunjukkan keberhasilan regenerasi eskplan yang
diinokulasi pada media kultur jaringan. Keberhasilan pembentukan tunas
dalam kultur jaringan bergantung pada berbagai faktor, antara lain media
tumbuh, jenis dan kondisi fisiologis eksplan, serta zat pengatur tumbuh yang
digunakan (Lestari, 2011).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan berikut :
Dapat diketahui bahwa perkecambahan biji buncis pada media agar
kosong bertumbuh dengan baik, dapat dilihat tumbuhnya akar, batang dan daun
serta tidak terjadi kontaminasi pada eksplan dan media yang digunakan.
Pembentukan kalus dapat dilakukan dengan menambahkan hormon
auksin kedalam media penanaman, dan pembentukan tunas dapat dilakukan
dengan cara menambahkan hormone sitokinin kedalam media.
Kontaminasi merupakan faktor pembatas dalam keberhasilan kultur
jaringan yang dapat berasal dari (1) bahan tanaman baik eksternal maupun
internal, (2) organisme kecil yang masuk ke dalam media, (3) botol kultur dan
peralatan yang kurang steril, (4) lingkungan kerja dan ruang kultur, dan (5)
kecerobohan dalam pelaksanaan.

2. Saran
Perlu adanya pengulangan terhadap tiap perlakuan hal ini dapat
dilakukan dengan maksud bila terjadi kontaminasi praktikan tetap
mendapatkan hasil dari pengulangan yang dilakukan. Ketelitian dalam
menstrilisasi eksplan dan media harus di ditingkatkan, praktikan juga harus
lebih berhati-hati dan lebih fokus agar tidak terjadi kontaminasi.
DAFTAR PUSTAKA
Astutik, S. 2007. Pengaruh varietas kedelai (Glycine max) terhadap pertmbuhan kalus
dan kandungan senyawa isoflavon (Daidzein dan Genisten). Skripsi tidak
diterbitkan. Malang. Jurusan Biologi Fakultas Sains dan IPA Universitas Islam
Malang
Campbell, Neil A. 2005. Biologi Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga
Dodds, J.H. and Roberts, L. W. 1985. Experiments in Plant Tissue Culture. Cambridge :
Cambridge University Press.

George EF, Sherrington PD. 1984. Plant Propagation by Tissue Culture, Handbook and
Directory of Comercial Laboratories. Basingstoke (GB): Easter Pr.

Gunawan LW. 1988. Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan. Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Institut Pertanian Bogor. Hal
152.

Hartati, Yunita. 2013. Produksi Tunas Tumbuhan Kebiul Eksplan asal Embrio pada
Berbagai Komposisi Hormon secara In Vitro Dan Implementasinya Sebagai Bahan
Life Skill Pada Pembelajaran Biologi. Thesis. Bengkulu: Program Pascasarjana S2
Pendidikan IPA Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu

Hu, C.Y. and P.J. Wang. 1983. Meristem Shoot Tip and Bud Cultures. In D.A. Evans,
W.R.Sharp P.V. Ammirato and Y. Yamada (Eds). Hand Book of Plant Cell
Culture. Vol 1. Technologies for Propagation and Breeding. Mac. Millan Publ. Co.
N.Y. p. 177-227.

Indah PN and D Ermavitalini. 2013. Induksi Kalus Daun Nyamplung (Calophyllum


inophyllum Linn.) pada Beberapa Kombinasi Konsentrasi 6-Benzyla-minopurine
(BAP) dan 2,4-Dichloro-phenoxyacetic Acid (2,4-D). Jurnal Sains dan Seni
Pomits. 2: 1-6.

Kaewpoo M, Te-chato S. 2009. Influence of explant types and plant growth regulators
on multiple shoot formation from Jatropha curacas. Science Asia 35: 353-357
Kamada, H. and H. Harada. 1979. Influence of Several Growth Regulators and Amino
Acid In vitro Organogensesis of Torenia fournieri. Lind. J. Exper. Bot. 30(114):
27-36.
Lestari, E. G. 2011. Peranan zat pengatur tumbuh dalam perbanyakan tanaman melalui
kultur jaringan. Jur Agro Biogen. 7(1): 63-68.

Martin K.P 2004. Plant Regeneration Protocol of Medicinaly Important Andrographis


paniculata (Burm.F.) Wallich Ex Nees Via Somatic Embriogenesis. In Vitro Cell.
Dev. Biol. Plant 40.204-209. March-April 2004.
Ramdan EP, Widodo, Tondok ET, Wiyono S, Hidayat SH. 2013. Cendawan endofit
nonpatogen asal tanaman cabai dan potensinya sebagai agens pemacu
pertumbuhan. J Fitopatol Indones 9(5): 139-144

Roca, W.M, N.O. Espinoza, M.R. Roca, and J.E. Bryan. 1978. Tissue Culture Methods
for the Rapid Propagation of Potatoes. Amer. Pot. J. 55:691-701

Rozaliana, dkk. 2013. Pengaruh α-Benzil Amino Purina Dan α-Asam Asetat Naftalena
Terhadap Pembentukan Tunas Tanaman Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Secara
In-Vitro. Jurnal Online Agroekoteknologi Vol.1, No.3, Juni 2013. ISSN No. 2337-
6597, hal 626-636
Suryowinoto, M. 1996. Pemuliaan Tanaman Secara In Vitro. Yogyakarta : Kanisius

Srivastava S, Banerjee M. 2008. In vitro clonal propagation of physic nut (Jatropha


curcas L.): influence of additive. IJIB 3(1): 73-79

Wahyuningtyas, Luluk (2014) Induksi kalus akasia (Acacia mangium) dengan


penambahan kombinasi 2,4-D dan BAP pada media MS. Thesis. Malang:
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim

Wang, P.J. and L.C. Huang. 1975. Callus Cultures from Potato Tissue and Exclusion of
Potato Virus X, from Plants Regenerated from Shoot Tips. Can J. Pot. 53:2565-
2567

Widyawati, Hanindya. 2015. Induksi Pertunasan In Vitro pada Jaringan Pucuk Apikal
Tanaman Kurma (Phoenix dactylifera L.) cv. Barhee. Skripsi. Bogor : Departemen
Biologi Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor

Yusnita. 2003. Kultur Jaringan Tanaman: Cara Memperbanyak Tanaman secara


Efisien. Jakarta: Agromedia Pustaka.
Zaer JB, Mapes MO. 1982. Action of growth regeneration. Bul Tissue Cultu Forest.
1 : 231-235.
LAMPIRAN

Gambar 2. Gambar 3. Gambar 4.


Gambar 1.
Bahan : larutan Bahan : eklsplan Bahan : media
Bahan : biji buncis
clorox tanaman buncis NP+2,4-D

Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8.


Gambar 5.
Bahan : biji buncis Proses : penanaman Proses : penanaman
Bahan : media
biji buncis eksplan
NP+BA

Gambar 10. Gambar 11.


Gambar 9. Hasil : Eksplan Hasil : Eksplan
Hasil : biji buncis batang buncis batang dan daun
yang tumbuh ditumbuhkan pada buncis ditumbuhkan
media NP + 2,4-D pada media NP + BA
terjadi terjadi kontaminasi
kontaminasi