Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH FARMAKOLOGI

“OBAT BATUK KERING (ANTITUSIF)”

Disusun Oleh :

1. Annisa Maulafadila (P27220016151)


2. Dewi Wahyuningtyas (P27220016157)
3. Galuh Anggraini (P27220016168)
4. Muhammad Adib S (P27220016174)
5. Virchanisa Sahra A (P27220016187)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURAKARTA

SURAKARTA
2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Undang
– Undang No. 23 tahun 1992). Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya
pembangunan nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan
kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar terwujud derajat
kesehatan masyarakat yang optimal. Upaya masyarakat untuk mengobati dirinya
sendiri dikenal dengan istilah swamedikasi. Swamedikasi biasanya dilakukan
untuk mengatasi keluhankeluhan dan penyakit ringan yang banyak dialami
masyarakat, seperti batuk.

Batuk menjadi tidak fisiologis bila dirasakan sebagai gangguan. Batuk


semacam itu sering kali merupakan tanda suatu penyakit di dalam atau diluar paru
dan kadang-kadang merupakan gejala dini suatu penyakit. Batuk mungkin sangat
berarti pada penularan penyakit melalui udara ( air borne infection ). Batuk
merupakan salah satu gejala penyakit saluran nafas disamping sesak, mengi, dan
sakit dada.

Tetapi, batuk juga bisa sebagai penyebab penyakit ataupun memang penyakit
yang disebabkan oleh virus. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman dan
pengetahuan yang benar mengenai penggunaan jenis obat batuk terhadap jenis
batuk yang diderita. Karena, diketahui bahwa obat batuk tidak bisa disamaratakan
untuk semua jenis batuk.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang tersebut dapat dirumuskan

1
1. Apa saja contoh obat antitusif?
2. Berapa dosis obat antitusif?
3. Apa saja kontra indikasi dari obat antitusif?
4. Apa saja efek samping yang ditimbulkan dari obat antitusif?

C. Tujuan Penulisan
1. Dapat mengidentifikasi contoh obat antitusif.
2. Dapat mengidentifikasikan dosis dari pemberian obat antitusif.
3. Dapat mengidentifikasikan kontra indikasi dari obat antitusif.
4. Dapat mengidentifikasikan efek samping yang ditimbulkan dari obat antitusif.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Batuk

Batuk bukanlah merupakan penyakit, mekanisme batuk timbul oleh karena


paru-paru mendapatkan agen pembawa penyakit masuk ke dalamnya sehingga
menimbulkan batuk untuk mengeluarkan agen tersebut. Batuk dapat juga
menimbulkan berbagai macam komplikasi seperti pneumotoraks,
pneumomediastinum, sakit kepala, pingsan, herniasi diskus, hernia inguinalis,
patah tulang iga, perdarahan subkonjungtiva, dan inkontinensia urin.Batuk
merupakan refleks fisiologis kompleks yang melindungi paru dari trauma
mekanik, kimia dan suhu. Batuk juga merupakan mekanisme pertahanan paru
yang alamiah untuk menjaga agar jalan nafas tetap bersih dan terbuka dengan
jalan :
1. Mencegah masuknya benda asing ke saluran nafas.

2. Mengeluarkan benda asing atau sekret yang abnormal dari dalam saluran nafas.

Batuk menjadi tidak fisiologis bila dirasakan sebagai gangguan. Batuk


semacam itu sering kali merupakan tanda suatu penyakit di dalam atau diluar paru
dan kadang-kadang merupakan gejala dini suatu penyakit. Batuk mungkin sangat
berarti pada penularan penyakit melalui udara ( air borne infection ). Batuk
merupakan salah satu gejala penyakit saluran nafas disamping sesak, mengi, dan
sakit dada. Sering kali batuk merupakan masalah yang dihadapi para dokter dalam
pekerjaannya sehari-hari. Penyebabnya amat beragam dan pengenalan
patofisiologi batuk akan sangat membantu dalam menegakkan diagnosis dan
penanggulangan penderita batuk.

3
B. Pembagian Batuk

Berdasarkan produktivitasnya, batuk dapat dibedakan menjadi menjadi 2


jenis, yaitu batuk berdahak (batuk produktif) dan batuk kering (batuk non
produktif).
1. Batuk berdahak (batuk produktif)
Batuk berdahak ditandai dengan adanya dahak pada tenggorokan. Batuk
berdahak dapat terjadi karena adanya infeksi pada saluran nafas, seperti influenza,
bronchitis, radang paru, dan sebagainya. Selain itu batuk berdahak terjadi karena
saluran nafas peka terhadap paparan debu, polusi udara, asap rokok, lembab yang
berlebihan dan sebagainya.
2. Batuk kering (batuk non produktif)
Batuk yang ditandai dengan tidak adanya sekresi dahak dalam saluran nafas,
suaranya nyaring dan menyebabkan timbulnya rasa sakit pada tenggorokan. Batuk
kering dapat disebabkan karena adanya infeksi virus pada saluran nafas, adanya
faktor-faktor alergi (seperti debu, asap rokok dan perubahan suhu) dan efek
samping dari obat (misalnya penggunaan obat antihipertensi kaptopril).

C. Penyebab Batuk
Batuk dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain :
1. Infeksi
Produksi dahak yang sangat banyak karena infeksi saluran pernapasan. Misal
flu, bronkhitis, dan penyakit yang cukup serius meskipun agak jarang yaitu
pneumonia, TBC dan kanker paru-paru.

2. Alergi
Masuknya benda asing secara tidak sengaja ke dalam saluran pernapasan .
Misalnya debu, asap, cairan dan makanan
Mengalirnya cairan hidung ke arah tenggorokan dan masuk ke saluran
pernapasan. Misalnya rinitis alergika, batuk pilek. Dan Penyempitan saluran
pernapasan misal pada asma.

4
D. Pengobatan Batuk
Pengobatan batuk dapat dilakkan dengan 3 cara yaitu dengan obat
antitusif,ekspektoran,dan mukolitika. Tergantung dengan jenis batuknya.
a. Obat antitusif
Obat antitusif berfungsi menghambat atau menekan batuk dengan menekan
pusat batuk serta meningkatkan ambang rangsang sehingga akan mengurangi
iritasi. Secara umum berdasarkan tempat kerja obat, antitusif dibagi atas antitusif
yang bekerja di perifer dan antitusif yang bekerja di sentral. Antitusif yang
bekerja di sentral dibagi atas golongan narkotik dan nonnarkotik. Contoh :
Kodein, DMP, Noskapin dan Uap Menthol.
b. Ekspektoran
Obat ini digunakan untuk meningkatkan sekresi mukus di saluran napas
sehingga bermanfaat untuk mengurangi iritasi dan batuknya akan berkurang
dengan sendirinya. Contoh : Amonium klorida, potasium sitrat, guaifenesin dan
gliseril guaiakolat.
c. Mukolitika
Infeksi pernapasan menyebabkan munculnya mukus yg bersifat purulen atau
menyebabkan infeksi, oleh karena itu harus segera dikeluarkan secara alamiah.
Obat golongan ini berkhasiat melarutkan dan mengencerkan dahak yg kental
sehingga lebih mudah dikeluarkan melalui batuk dan sering digunakan pada
penderita Bronkhitis. Contoh : Asetilsistein , Bromheksin.

5
BAB III

PEMBAHASAN

A. Contoh Obat Antitusif


1. Keodein
Alkaloida candu ini memiliki sifat menyerupai morfin, tetapi efek analgetis
dan meredakan batuknya jauh lebih lemah, begitu pula efek depresinya terhadap
pernapasan. Obat ini banyak digunakan sebagai pereda batuk dan penghilang rasa
sakit, biasanya dikombinasi dengan asetosal yang memberikan efek potensiasi.
2. Noskapin
Alkaloida candu alamiah ini tidak memiliki rumus fenantren, seperti kodein
dan morfin, melainkan termasuk dalam kelompok benzilisokinolin seperti
alkaloda candu lainnya (papaverin dan tebain). Efek meredakan batuknya tidak
sekuat kodein, tetapi tidak mengakibatkan depresi pernapasan atau obstipasi,
sedangkan efk sedatifnya dapat diabaikan. Risiko adiksinya ringan sekali. Berkat
sifat baik ini, kini obat ini banyak digunakan dalam berbagai sediaan obat batuk
popular.
Noskapin tidak bersifat analgetis dan merupakan pembebas histamine yang
kuat dengan efek bronchokonstriksi dan hipotensi (selewat) pada dosis besar.
3. Dekstrometofan
Derivat-fenantren ini (1953) berkhasiat menekan batuk, yang sama kuatnya
dengan kodein, tetapi bertahan lebih lama dan tidak bersifat analgetis, sedative,
sembelit, atau adiktif. Mekanisme kerjanya berdasarkan peningkatan ambang
pusat batuk di otak. Pada peyalahgunaan dengan dosis tinggi dapat terjadi efek
stimulasi SP.

B. Dosis Obat Antitusif


Dosis antara satu obat dengan obat lainnya akan berbeda,begitu juga dengan
dosis untuk anak-anak juga akan berbeda dengan dosis untuk orang dewasa.
berikut adalah dosis obat-obat antitusif :

6
1. Keodein

Usia Dosis
2-6 tahun 2.5-5 mg/oral setiap jam
6-12 tahun 5-10 mg/oral setiap 4-6 jam
Dewasa 15 mg/oral setiap jam
Lansia 10 mg/oral setiap 6 jam

2. Noskapin

Usia Dosis
Anak-anak 7.5-15 mg/oral setiap 3-4 jam
Dewasa 15-30 mg/oral setiap 4-6 jam

3. Dekstrometofan

Usia Dosis
2-6 tahun 8 mg/oral
6-12 tahun 15 mg/oral
Dewasa 10-20 mg/oral

C. Kontra Indikasi
Kontra indikasi adalah situasi di mana aplikasi obat atau terapi tertentu tidak
dianjurkan, karena dapat meningkatkan risiko terhadap pasien. Kontra indikasi
dari obat antitusif sebagai berikut :
1. Asma bronkial
2. Emfisema paru-paru
3. Trauma kepala
4. Tekanan intrakranial yang meninggi
5. alkoholisme akut
6. pasca operasi saluran empedu

7
D. Efek Samping
Efek samping obat adalah suatu reaksi yang tidak diharapkan dan berbahaya
yang diakibatkan oleh suatu pengobatan. Efek samping dari obat antitusif ada
yang ringan sampai yang berat contohnya seperti dapat menimbulkan
ketergantungan, mual, muntah, indiosinkrasi, pusing, sembelit, depresi pernafasan
terutama pada penderita asma, depresi jantung dan shock, mengantuk, pusing,
nyeri kepala.

8
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Batuk bukanlah merupakan penyakit, mekanisme batuk timbul oleh karena
paru-paru mendapatkan agen pembawa penyakit masuk ke dalamnya sehingga
menimbulkan batuk untuk mengeluarkan agen tersebut.

Batuk dibedakan menjadi dua jenis yaitu batuk berdahak dan batuk kering
yang cara pengobatannya juga berbeda. Batuk berdahak menggunakan obat
ekspektoran atau mukolitika,sedangkan batuk kering menggunakan obat antitusif.
Contoh dari obat atntitusif adalah keodein,noskapin,dan deksometrofan.
Dengan dosis obat keodein untuk usia 2-6 tahun adalah 2.5-5 mg/oral setiap
jam,usia 6-12 tahun adalah 5-10 mg/oral setiap 4-6 jam,usia dewasa 15 mg/oral
setiap jam,dan usia lansia adalah 10 mg/oral setiap 6 jam. Dosis obat noskapin
untuk usia anak-anak yaitu 7.5-15 mg/oral setiap 3-4 jam dan untuk usia dewasa
15-30 mg/oral setiap 4-6 jam. Dosis obat deksometrofan yaitu 2-6 tahun 8
mg/oral,usia 6-12 tahun 10 mg/oral,dan untuk usia dewasa 10-20 mg/oral.
Kontra indikasi obat antitusif adalah asma bronkial,emfisema paru-
paru,trauma kepala,tekanan intrakranial yang meninggi,alkoholisme akut,dan
pasca operasi saluran empedu.
Efek samping dari obat antitusif adalah menimbulkan ketergantungan, mual,
muntah, indiosinkrasi, pusing, sembelit, depresi pernafasan terutama pada
penderita asma, depresi jantung dan shock, mengantuk, pusing, nyeri kepala.

9
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1979, Farmakope Indonesia, edisi III, Departemen Kesehatan


Republik Indonesia, Jakarta.
Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, edisi IV, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta, 298
Tjay, Tan Hoan dan Rahardja, Kirana. (2007). Obat-Obat Penting. Edisi
Keenam. Jakarta : Penerbit PT Elex Media Komputindo. Hal.638-639.

10