Anda di halaman 1dari 35

ANALISIS ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

KETIDAKEFEKTIFAN BERSIHAN JALAN NAFAS DI INSTALASI


GAWAT DARURAT (IGD) RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO

KARYA ILMIAH AKHIR NERS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ners

Disusun Oleh:

NUZULIA HANA FATMALA, S. Kep


A31600905

KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
GOMBONG
2017

i
ii
iii
iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis hanturkan kehadirat Alloh SWT karena atas limpahan
karunia dan Rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Akhir dengan
judul : “Analisis Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Ketidakefektifan
Bersihan Jalan Nafas Di Instalasi Gawat Darurat (Igd) RSUD Prof. Dr. Margono
Soekarjo Purwokerto”
Karya Tulis Akhir ini disusun sebagai dasar untuk memenuhi syarat
memperoleh gelar profesi di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES)
Muhammadiyah Gombong. Selama proses penulisan karya tulis akhir ini, penulis
banyak mendapat bimbingan, dorongan, serta bantuan dari berbagai pihak. Untuk
itu pada kesempatan ini perkenankanlah penulis dengan segala kerendahan hati
dan penuh rasa syukur menyampaikan terima kasih yang setulusnya kepada :
1. Herniyatun, M. Kep. Sp. Mat selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Muhammadiyah Gombong.
2. Isma Yuniar, M. Kep. selaku Ketua Program Studi Profesi Ners Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong.
3. Putra Agina S, S. Kep. Ns.,M. Kep. selaku Pembimbing akademik yang
telah memberikan bimbingan, saran, dan masukan dalam pembuatan karya
tulis akhir ini.
4. Darono, S. Kep. Ns selaku Penguji klinik yang telah memberikan saran
dan masukan kepada penulis dalam penyelesaian karya tulis ini.
5. Seluruh dosen dan staff karyawan Program Studi Keperawatan STIKes
Muhammadiyah Gombong yang telah membantu dalam penyusunan karya
tulis ini.
6. Orang tua dan keluarga yang telah memberikan dukungan baik secara
moril ataupun materil dalam penyusunan karya tulis ini.
7. Teman-teman seperjuangan mahasiswa Program Studi Profesi Ners
Keperawatan tahun akademik 2016-2017 yang selalu memberikan
semangat.

v
8. Pasien dan keluarga pasien yang telah bersedia bekerja sama sehingga
karya ilmiah akhir ners ini terbentuk.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan
Karya Tulis Akhir ini, oleh karena itu peneliti berterimakasih atas segala saran
dan masukan yang diberikan demi perbaikan karya tulis ini.

Gombong, 15 Agustus 2017


Penulis,

vi
vii
Program Studi Profesi Ners
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong
KTAN, Agustus 2017

Nuzulia Hana Fatmala1), Putra Agina2), Darono3)

“ANALISIS ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


KETIDAKEFEKTIFAN BERSIHAN JALAN NAFAS DI INSTALASI GAWAT
DARURAT (IGD) RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO”

xv + 52 halaman + 1 tabel + 2 gambar + 4 lampiran

ABSTRAK
Latar belakang : Tuberculosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang
disebabkan bakteri mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyerang berbagai organ,
terutama paru-paru. Tindakan keperawatan untuk mempertahankan dan meningkatkan
pengembangan paru meliputi tindakan invasif dan non invasif. salah satu tindakan non
invasif yaitu pemberian posisi semi fowler.
Tujuan umum : Menjelaskan asuhan keperawatan yang diberikan pada klien dengan
ketidakefektifan bersihan jalan nafas pada pasien tuberkulosis paru.
Metode: Karya tulis ilmiah ini merupakan analisis dari 5 asuhan keperawatan pada
pasien dengan masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas dengan cara
pengkajian perumusan masalah, analisa data, intervensi, implementasi dan evaluasi.
Hasil analisis : Masalah keperawatan yang diambil penulis yaitu ketidakefektifan
bersihan jalan nafas. Setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan pemberian posisi
semi fowler dan setelah diobservasi selama 7 jam di instalasi gawat darurat RSUD Prof.
Dr. Margono Soekarjo Purwokerto didapatkan hasil frekuensi pernafasan sebelum
dilakukan posisi semi fowler berkisar antara 28-34x /menit. kemudian, frekuensi
pernafasan setelah dilakukan pemberian posisi semi fowler yaitu menjadi 24-32x/menit.
Kesimpulan : Pemberian posisi semi fowler terbukti efektif untuk membantu
mengurangi kesulitan bernafas dan mengurangi ketidaknyamanan pasien karena sesak
nafas di bandingkan dengan posisi berbaring (lying flat).

Kata Kunci : ketidakefektifan bersihan jalan nafas, semi fowler, tuberculosis paru.

1) Mahasiswa Profesi Ners STIKES Muhammadiyah Gombong


2) Dosen Pembimbing I Program Studi Profesi Ners STIKES Muhammadiyah Gombong
3) Pembimbing Klinik RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

viii
Profession Ners Program
Muhammadiyah Health Science Institute of Gombong
KTAN, August 2017

Nuzulia Hana Fatmala1), Putra Agina2), Darono3)

ANALYSIS ON NURSING CARE OF PATIENTS WITH INEFFECTIVENESS


CLEAVAGE ROAD BREATH AT INSTALLATION EMERGENCIES (IGD)
PROVINCIAL HOSPITAL PROF. DR. MARGONO SOEKARJO

xv + 52 pages + 1 table + 2 figures + 4 appendices

ABSTRACT
Background : Background: Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by
the bacterium mycobacterium tuberculosis, which can invade a variety of organs,
especially the lungs. Nursing actions to maintain and improve the development of
the lungs include invasive and non invasive action. One of the act of noninvasive
that give the spring fowler.
Objective : Describes the nursing care given to clients with ineffectiveness
cleavage way breath on pulmonary tuberculosis patients.
Method:This scientific paper is an analysis of 5 nursing care in patients with
ineffectiveness cleavage road breath nursing problems by means of problem
formulation, data analysis, intervention, implementation and evaluation.
Results of analysis: Nursing problems taken by the author of ineffective
clearance of the airway. After the action of nursing by giving semi fowler position
and after observation for 7 hours at emergency department of RSUD Prof. Dr.
Margono Soekarjo Purwokerto got the result of breathing frequency before done
semi fowler position ranged between 28-34x / minute. Then, the frequency of
breathing after the giving of semi-fowler position is to be 24-32x / minute.
Conclusion: The provision of semi-fowler position proved effective to help
reduce breathing difficulties and reduce patient discomfort due to shortness of
breath compared with lying flat position.

Keywords: ineffective airway clearance, semi fowler, pulmonary tuberculosis.

1) Student of Muhammadiyah Health Science Institute of Gombong


2) Research Consultant1 Muhammadiyah Health Science Institute of Gombong
3) Clinical Consultant2 RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

ix
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i

HALAMAN PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME .............................. ii

HALAMAN PERNYATAAN .......................................................................... iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................ iv

HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING .............................................. v

KATA PENGANTAR ...................................................................................... vi

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ................................................. viii

ABSTRAK ........................................................................................................ ix

ABSTRAC ......................................................................................................... x

DAFTAR ISI ..................................................................................................... xi

DAFTAR TABEL .............................................................................................xiii

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xiv

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .................................................................................1


B. Tujuan...............................................................................................5
C. Manfaat.............................................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep dasar masalah keperawatan .................................................7


B. Tuberculosis .....................................................................................8
C. Posisi semi fowler ............................................................................16

x
D. Asuhan keperawatan berdasarkan teori ............................................16
BAB III LAPORAN MANAJEMEN KASUS KELOLAAN

A. Profil ahan praktik


1. Visi, Misi dan Motto Rumah Sakit .............................................. 24
2. Gambaran ruangan tempat praktek ............................................. 24
3. Jumlah Kasus di Ruang IGD ....................................................... 25
4. Pelayanan dan penanganan penyakit di ruang IGD ..................... 25
B. Ringkasan proses asuhan keperawatan ...............................................27
BAB IV HASIL ANALISIS & PEMBAHASAN

A. Analisis karakteristik klien / pasien ................................................... 43


B. Analisis masalah keperawatan ........................................................... 44
C. Analisis intervensi .............................................................................. 45
D. Inovasi tindakan keperawatan ........................................................... 47
E. Keterbatasan karya tulis akhir ners .................................................... 50
BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan......................................................................................... 51
B. Saran ................................................................................................... 52
DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

xi
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Intervensi Keperawatan.......................................................................21


Tabel 4.1 Distribusi frekuensi Distribusi frekuensi hasil sebelum dan sesudah
dilakukan tindakan posisi semi fowler ............................................ ..47

xii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Pathway tuberculosis paru ........................................................... 13


Gambar 3. 1 Alur pelayanan unit gawat darurat ................................................ 26

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 SOP posisi semi fowler


Lampiran 2 Resume Keperawatan
Lampiran 3 Jurnal
Lampiran 4 Lembar bimbingan

xiv
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuberculosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang
disebabkan bakteri mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyerang
berbagai organ, terutama paru-paru. Penyakit ini bila tidak diobati atau
pengobatannya tidak tuntas dapat menimbulkan kompilkasi berbahaya
hingga kematian. Tuberculosis paru (TB paru) diperkirakan sudah ada di
dunia sejak 5000 tahun sebelum masehi, namun kemajuan dalam penemuan
dan pengendalian penyakit TB baru terjadi dalam 2 abad terakhir (Pusat
Data dan Informasi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2015).
WHO menyatakan bahwa TB merupakan kedaruratan global bagi
kemanusiaan. Walaupun strategi pengobatan jangka pendek dengan
pengawasan langsung (Directly Observed Treatment Short-course, DOTS)
telah terbukti sangat efektif untuk pengendalian TB, tetapi beban penyakit
TB di masyarakat masih sangat tinggi. Dengan berbagai kemajuan yang
dicapai sejak tahun 2003, diperkirakan masih terdapat sekitar 9,5 juta kasus
baru TB, dan sekitar 0,5 juta orang meninggal akibat TB di seluruh dunia.
Selain itu, pengendalian TB mendapat tantangan baru seperti ko-infeksi TB
atau HIV, TB yang resisten obat dan tantangan lainnya dengan tingkat
kompleksitas yang makin tinggi (Pusat Data dan Informasi Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia, 2015).
WHO menyatakan bahwa sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi
kuman TB. Setiap tahunnya diseluruh dunia didapatkan sekitar 4 (empat)
juta penderita baru TB menular, ditambah dengan jumlah yang sama TB
yang tidak menular dan sekitar 3 (tiga) juta meninggal setiap tahunnya. Dari
seluruh kematian yang dapat dicegah, 25% diantaranya disebabkan oleh
tuberculosis. Saat ini di Negara maju diperkirakan setiap tahun terdapat 10-
20 kasus baru setiap 100.000 penduduk dengan kematian 1-5 per 100.000
penduduk sedang di Negara berkembang angkanya masih tinggi. Di Afrika
2

setiap tahun muncul 165 penderita tuberculosis paru menular setiap 100.000
penduduk (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2015).
Masalah kesehatan paru masyarakat di Indonesia memerlukan
perhatian, karena sampai dengan 2014 lalu, Indonesia menjadi negara kedua
terbesar penderita tuberculosis(TB) setelah India. Lima negara terbesar di
dunia sebagai penyumbang penderita TB terbanyak, selain Indonesia dan
India, yakni Cina, Nigeria dan Pakistan. Dalam laporan WHO tahun 2013
diperkirakan terdapat 8,6 juta kasus TB pada tahun 2012 dimana 1,1 juta
orang (13%) diantaranya adalah pasien HIV positif. Sekitar 75% dari pasien
tersebut berada di wilayah afrika. Pada tahun 2012 diperkirakan proporsi
kasus TB anak diantara seluruh kasus TB secara global mencapai 6% atau
550.000 pasien TB anak pertahun, atau sekitar 8% dari total kematian yang
disebabkan oleh TB (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2015).
Berdasarkan data di WHO Global Report (2014), angka insiden TB di
Indonesia tahun 2014 mencapai 183/100.000 penduduk, menurun sekitar 10
persen dari 206/100.000 penduduk jika dibanding tahun 1990. Sedangkan
angka prevelensi (jumlah orang yang hidup dengan penyakit tertentu dalam
jangka waktu tertentu) TB adalah 272/100.000 penduduk, menurun 33%
dari baseline sebesar 442/100.000 penduduk, dan angka mortalitas
(kematian) TB adalah 25/100.000 peduduk atau turun sebesar 49 persen dari
53/100.000 pada tahun 1990.
Hasil survei prevelensi TB 2013 hingga 2014 pada populasi yang
berusia 15 tahun ke atas di Indonesia, menghasilkan prevelensi TB untuk
semua umur per 100.000 penduduk adalah 660. Diperkirakan, terdapat 1,6
juta orang penderita, dengan pengobatan TB paru BTA positif minimal 85%
sebesar 90%. Sasaran strategi nasional pengendalian TB hingga tahun 2019,
menurunkan prevelensi TB dari 297 per 100.000 penduduk pada tahun 2013
menjadi 245/100.000 penduduk pada 2019 mendatang. Penyakit TB paru
merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan
saluran pernafasan pada semua kelompok usia serta nomor satu untuk
golongan penyakit infeksi. Korban meninggal akibat TB paru di Indonesia
3

diperkirakan sebanyak 61.000 kematian tiap tahunnya (Kementrian


Kesehatan Republik Indonesia, 2015).
Terdapat beberapa indikator yang digunakan untuk menilai tingkat
keberhasilan program pengendalian TB, yang terutama adalah indikator
penemuan kasus, indikator pengobatan dan angka keberhasilan pengobatan
TB. Pada kasus TB yang telah ditemukan , selanjutnya akan mendapatkan
layanan pengobatan selama enam bulan. Terdapat dua indikator utama untuk
mengevaluasi keberhasilan pengobatan, yaitu angka kesembuhan dan angka
keberhasilan pengobatan TB (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia,
2015). Menurut Muttaqin (2008) penularan utama penyakit TB adalah oleh
bakteri yang terdapat dalam droplet yang dikeluarkan penderita sewaktu
batuk, bersin, bahkan berbicara. Tuberculosis paru di tandai dengan gejala:
batuk berturut-turut sampai 2 minggu lebih, demam, flu, keringat malam,
anoreksia, penurunan berat badan, batuk darah atau dahak, sesak nafas dan
nyeri dada.
Pernafasan dapat berubah karena kondisi atau penyakit yang
mengubah struktur dan fungsi paru. Otot-otot pernafasan, ruang pleura, dan
alveoli sangat penting untuk ventilasi, perfusi, dan pertukaran gas
pernafasan. Kerja pernafasan ditentukan oleh tahanan jalan nafas,
keberadaan ekspansi yang aktif, dan pengguanaan otot-otot bantu
pernafasan (Potter & Perry,2010). Gambaran mekanisme gangguan oksigen
pada penyakit Tuberkulosis Paru (TB Paru) dapat disebabkan karena kuman
penyebab TB paru mycrobacterium tuberculosis masuk dalam saluran
pernafasan. Kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui udara yaitu
melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman- kuman tuberkel yang
berasal dari orang yang terinfeksi. Setelah mycrobacterium tuberculosi
berada pada ruang alveolus biasanya dibagian bawah lobus atas paru atau
bagian atas lobus bawah. Basil tuberkel ini akan menimbulkan reaksi
peradangan pada saluran pernafasan dan menyebabkan gangguan penafasan
pada TB Paru (Price & Wilson, 2006 ). Pada penyakit TB paru yang ringan
(baru tumbuh) belum dirasakan adanya sesak nafas. Sesak nafas akan
4

ditemukan pada penyakit TB paru yang sudah lanjut, dimana infiltrasinya


sudah meliputi setengah bagian paru-paru (Setiati, dkk, 2014).
Proses pemenuhan oksigen dilakukan dengan cara pemberian oksigen
melalui saluran pernafasan, membebaskan saluran pernafasan dari sumbatan
yang menghalangi masuknya oksigen, memulihkan dan memperbaiki organ
pernafasan agar berfungsi secara normal (Hidayat, 2012). Tindakan
keperawatan untuk mempertahankan dan meningkatkan pengembangan paru
meliputi tindakan invasif dan non invasif. Tindakan invasif dengan
pemberian OAT dengan kombinasi beberapa jenis obat dalam jumlah cukup
dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Tindakan non invasif
meliputi pemberian oksigenasi, pemberian latihan nafas dalam dan batuk
efektif, pemberian posisi semi fowler (Price & Wilson, 2006). Pasien tidak
selalu memperhatikan tentang adanya posisi pengaturan posisi yang dapat
menurunkan kerja frekuensi napasnya. Sehingga mereka tidak menyadari
seberapa penting akan posisi yang tepat akan berpengaruh terhadap proses
penyembuhan penyakit (Perry dan Potter, 2006).
Metode yang sederhana dan efektif untuk mengurangi resiko
penurunan pengembangan dinding dada yaitu dengan pengaturan posisi saat
istirahat. Posisi yang paling efektif adalah memberikan posisi semi fowler
dengan derajat kemiringan 30-45°. Posisi semi fowler pada pasien TB paru
telah dilakukan sebagai salah satu cara untuk mengurangi sesak nafas.
Tujuan dari tindakan ini adalah untuk menurunkan konsumsi O2 dan
menormalkan ekspansi paru yang maksimal, serta mempertahankan
kenyamanan (Majampoh, dkk, 2013).
Menurut Supadi, dkk (2008) mengatakan bahwa posisi semi fowler
membuat oksigen di dalam paru-paru semakin meningkat sehingga
memperingan sesak nafas. Posisi ini akan mengurangi kerusakan membrane
alveolus akibat tertimbunnya cairan. Hal tersebut dipengaruhi oleh gaya
gravitasi sehingga O2 delivery menjadi optimal. Sedangkan menurut Safitri,
dkk (2008), posisi yang paling efektif bagi pasien dengan penyakit
kardiopulmonari adalah posisi semi fowler dimana kepala dan tubuh
5

dinaikan dengan derajat kemiringan 45°, yaitu dengan menggunakan gaya


gravitasi untuk membantu pengembangan paru dan mengurangi tekanan dari
abdomen ke diafragma. Sesak nafas akan berkurang dan akhirnya perbaikan
kondisi pasien lebih cepat
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Majampoh
(2013) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh pemberian posisi semi
fowler terhadap kestabilan pola nafas pada pasien TB paru di Irina C5
RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado. Kemudian, berdasarkan jumlah
pasien tuberculosis paru yang di dapatkan di Instalasi Gawat Darurat RSUD
Prof.dr.Margono Soekarjo pada bulan Agustus 2016 sampai April 2017
sejumlah 253 orang. Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk
membuat Karya Tulis Akhir yang berjudul “Analisis Asuhan Keperawatan
pada Pasien dengan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas di Intalasi Gawat
Darurat di RSUD Prof.dr. Margono Soekarjo”.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan dari penulisan karya tulis akhir ini adalah untuk
menjelaskan asuhan keperawatan yang diberikan pada klien dengan
Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas pada Pasien Tuberkulosis Paru.
2. Tujuan Khusus
a. Memaparkan hasil pengkajian pada pasien dengan masalah
keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas
b. Memaparkan hasil diagnosa keperawatan pada pasien dengan
masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas
c. Memaparkan hasil intervensi keperawatan pada pasien dengan
masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas.
d. Memaparkan hasil implementasi keperawatan pada pasien dengan
dengan masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas.
e. Memaparkan hasil evaluasi keperawatan pada pasien dengan
dengan masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas.
6

f. Memaparkan hasil analisis inovasi keperawatan pada pasien


dengan masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas.

C. Manfaat
1. Manfaat Keilmuan
a. Manfaat untuk penulis
Melatih kemampuan penulis untuk menerapkan ilmu pengetahuan
yang sudah diajarkan oleh institusi serta dapat melatih pola pikir
penulis dalam menganalisis asuhan keperawatan pada pasien dengan
masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas pada
pasien tuberkulosis paru.
b. Manfaat untuk institusi pendidikan
Sebagai referensi untuk mahasiswa dengan melakukan Asuhan
keperawatan pada pasien dengan masalah keperawatan
ketidakefektifan bersihan jalan nafas pada pasien tuberkulosis paru.
2. Manfaat aplikatif
a. Manfaat untuk pasien dan keluarga
Dapat menambah pengetahuan serta wawasan pasien dan keluarga
tentang cara menangani pasien dengan masalah keperawatan
ketidakefektifan bersihan jalan nafas.
b. Manfaat untuk instansi kesehatan
Dapat menambah ilmu pengetahuan cara menangani dengan masalah
keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas.
3. Manfaat metodologis
Sebagai acuan penyusunan metodologi penelitian bagi para peneliti
tentang penyusunan karya tulis ilmiah akhir ners.
DAFTAR PUSTAKA

Aru W, Sudoyo, et al. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 2 Edisi
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta.
Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan
Dasar Klien. Jakarta : Salemba Medika.

Bulechek, G, et al. 2016. Nursing Interventions Classification (NIC) 6th edition.


Singapura : MC Mocomedia
Burhan M, dkk. 2015. pengaruh pemberian posisi semi fowler pada respiratory
rate pada pasien tuberculosis paru di RSUD pekalongan. diakses tanggal 22
April 2017
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2008). Pedoman Nasional
Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta.

Hidayat, A. A. 2009. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep dan


Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Innes, J.A., Reid, P.T., (2010). Tuberkulosis. Respiratory Disease. Dalam: Boon
N.A., Davidson’s Principle & Practice of Medicine. 20th ed. Churchill
Livingstone Elsvier: 695-702.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2015. Pusat Data dan Informasi. Di
unduh dari http://www.depkes.go.id pada tanggal 06 Agustus 2017 pukul
08.20 WIB
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2016. Pusat Data dan Informasi. Di
unduh dari http://www.depkes.go.id pada tanggal 25 juli 2017 pukul 10.20
WIB
Laily Wahyu Dian. Karakteristik pasien tuberculosis paru di puskesmas tuminting
manado Jurnal Kedokteran Komunitas dan Tropik : Volume 3 Nomor 1
Februari 2015. diakses tanggal 02 Agustus 2017
Majampoh, dkk. 2013. Pengaruh Pemberian Posisi Semi Fowler Terhadap
Kestabilan Pola Nafas Pada Pasien TB Paru di Irina C5 RSUP Prof. Dr.
Kandou Manado. Jurnal Keperawatan. Volume 3 No 1. Diakses tanggal 28
Juli 2017.
Moorhead, S, et al. 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC) 5th Edition.
Singapura : MC Mocomedia.
Muttaqin, A. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Pernafasan.
Jakarta : Salemba Medika
Nurarif, dkk. 2013. Aplikasi NANDA NIC NOC. Yogyakarta : Media Action
Publishing
Price, A. S dan Wilson, L.M. 2006. Patofisiologi Konsep Proses-proses Penyakit.
Jakarta: EGC
Price, S.A, dan Wilson, L.M. 2012. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakitnya. Edisi 6. Jakarta: EGC.

PDPI. (2012). Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Tuberkulosis. Jakarta :


Depkes RI.

Potter, A.P, dan Perry, A.G.. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan:
Konsep, Proses dan Praktek Volume 2 Edisi 4. Jakarta: EGC.
Perry, dan Anne Griffin. 2005. Buku Saku Keterampilan & Prosedur Dasar.
Jakarta : EGC.

Rizkiyani Indri. 2008. faktor- faktor yang mempengaruhi tuberculosis paru.


diakses pada tanggal 03 agustus 2017

Safitri R, dkk. 2011. Kefektifan Pemberian Posisi Semi Fowler Terhadap


Penurunan Sesak Nafas pada Pasien Asma di Ruang Rawat Inap Kelas III
RSUD dr. Moewardi Surakarta, Gaster Vol.8. Diakses pada tanggal 16 April
2017.
Setiati, et al. 2014. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid 1 edisi VI. Departemen
Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta.
Sigalingging, Ganda. et al. 2012. Kebutuhan dasar manusia : buku panduan
laboratorium. Jakarta : EGC.
Somantri, Irman.2007. Keperawatan Medikal Bedah Asuhan Keperawatan pada
Pasien dengan Gangguan Sistem Pernafasan. Jakarta : Salemba Medika

Supadi, E.N dan Mamnuah.2008. Hubungan Analisa Posisi Tidur Semi Fowler
dengan Kualitas Tidur Pada Pasien Gagal Jantung di RSU Banyumas, Jawa
Tengah. Jurnal Kebidanan dan Keperawatan. Volume 4, No.2
Taufiq A., (2009). Tuberkulosis Paru. Dalam : Laporan Pendek Kepaniteraan
Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat. 1-4.

T. Heather. Herdman, et al. Nanda International Inc. Nursing Diagnosis :


definition & Classification 2015-2017. Jakarta : EGC.

Tarwoto, Wartonah. 2006. Kebutuhan dasar manusia dan Proses keperawatan.


Edisi ketiga. Jakarta : Salemba medika.
WHO. 2014. Global Tuberkulosis Report 2014. www.who.int/tb/data. diunduh
tanggal 26 maret 2017 pukul 19.20 WIB.

Wijaya, A.S. 2013. Keperawatan Medikal Bedah. Nuha Medika. Jakarta.

Widoyono. 2011. Penyakit Tropis Epidemiologi,Penularan,Pencegahan dan


Pemberantasannya. Semarang : Erlangga.
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

POSISI SEMI FOWLER

A. Pengertian
Posisi semi fowler adalah posisi dengan meninggikan kepala dan tubuh 45-
65° di atas tempat tidur. Posisi ini biasanya diterapkan pada pasien yang
mengalami sesak nafas dan sulit bernafas (Ganda, 2012).

B. Tujuan
Tujuan pemberian posisi semi fowler menurut (Ganda, 2012).
1. Melonggarkan saluran pernafasan
2. Memberikan kenyamanan pada pasien

C. Alat dan Bahan


1. Tempat tidur
2. Bantal 2-5 buah
3. Sandaran punggung jika ada
4. Gulungan handuk

D. Prosedur kerja
1. Bawa alat ke dekat pasien
2. Cuci tangan
3. Anjurkan pasien menekuk lutut sebelum kepala dinaikan
4. Naikan kepala tempat tidur 45-65° jika tersedia functional bad
5. Letakkan bantal di punggung pasien jika functional bed tidak tersedia
6. Topang kepala pasien dengan bantal kecil dan lembut
7. Berikan bantal pada daerah punggung bawah , tungkai bawah mulai
dari lutut hingga tumit kaki, telapak kaki, dan kedua tangan pasien jika
pasien dalam keadaan lemah
8. Observasi tingkat kenyamanan pasien terhadap posisi dan ekspresi
pasien
9. Cuci tangan
10. Dokumentasikan tindakan, meliputi jenis posisi, kenyamanan pasien
dan keadaan umum pasien.