Anda di halaman 1dari 18

BAB I

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Masalah Franchise atau yang sering dikenal dengan waralaba adalah hak-hak
untuk menjual produk atau jasa maupun layanan. Menurut pemerintah Indonesia,
waralaba merupakan perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak untuk
memanfaatkan atau menggunakan hak dari kekayaan intelektual. Franchise pada
hakekatnya adalah sebuah konsep pemasaran dalam memperluas jaringan usaha
secara tepat. Dengan demikian, franchise bukanlah sebuah alternatif bisnis
melainkan salah satu cara yang sama kuatnya, sama strategisnya dengan cara
konvensional dalam mengembangkan usaha. Sistem bisnis franchise memiliki
banyak kelebihan, seperti halnya pada pendanaan, sumber daya manusia (SDM),
manajemen dan tingkat kesulitan dalam pemasaran kecuali jika pemilik usaha
tersebut mau berbagi dengan pihak lain. Di Indonesia, sistem bisnis franchise
sangat diminati oleh pebisnis franchise asing dimana mereka memberikan izin
kepada pengusaha lokal untuk mengelola franchise asing tersebut dan tentunya
akan berakibat menimbulkan saingan yang berat bagi pengusaha kecil lokal yang
bergerak di bidang usaha bisnis.
Bisnis franchise juga dikenal dengan jalur distribusinya yang sangat efektif untuk
mendekatkan produk kepada konsumennya melalui tangan-tangan franchisee. Satu
hal yang menarik dari bisnis franchise yang semakin kesini semakin maju adalah
banyaknya bisnis atau usaha yang ditawarkan kepada para konsuen dengan
berbagai jenis produk barang maupun jasa. Begitu menarik dan
menguntungkannya jenis bisnis franchise ini, maka pemerintah berkepentingan
pula untuk mengembangkan bisnis di Inonesia guna terciptanya iklim kemitraan
usaha melalui pemanfaatan lisensi sistem bisnis franchise. Di Indonesia, kini
mulai banyak menjual aneka makanan dan minuman modern yang pemasarannya
dilakukan di pusat-pusat pertokoan atau di pinggir-pinggir jalan perkotaan yang
sangat mudah dijangkau oleh masyarakat. Beberapa contoh bisnis franchise yang
sangat mudah ditemukan tersebut, yaitu Pizza Hut, Mc. Donal, Dunkin’ donuts,
Rocket Chiken dan lain-lain.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana budaya bisnis keluarga?
2. Bagaimana peran dan hubungan bisnis keluarga?
3. Bagaimana ciri khusus manajemen perusahaan keluarga?
4. Bagaimana proses suksesi kepemimpinan?
5. Bagaimana konsep franchise?
6. Bagaimana kelebihan dan kekurangan franchise?
7. Bagaimana mengevaluasi kesempatan usaha franchise?
8. Bagaimana sudut pandang franchisor?
9. Bagaimana memahami hubungan franchisor dan franchise?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui budaya bisnis keluarga.
2. Untuk mengetahui peran dan hubungan bisnis keluarga.
3. Untuk mengetahui ciri khusus manajemen perusahaan keluarga.
4. Untuk mengetahui proses suksesi kepemimpinan.
5. Untuk mengetahui konsep franchise.
6. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan franchise.
7. Untuk mengevaluasi kesempatan usaha franchise.
8. Untuk mengetahui sudut pandang franchisor.
9. Untuk memahami hubungan franchisor dan franchise.
BAB II
Pembahasan
2.1 Budaya Bisnis Keluarga
Family business (bisnis keluarga) merupakan salah satu bentuk bisnis yang
melibatkan sebagian anggota keluarga di dalam kepemilikan atau operasi bisnis.
Batasan lain tentang perusahaan diberikan oleh John L. Ward dan Craig E. Arnoff.
Menurutnya, suatu perusahaan dinamakan perusahaan keluarga apabila terdiri dari
dua atau lebih anggota keluarga yang mengawasi keuangan perusahaan. Sedangkan
menurut Robert G. Donnelley dalam bukunya “The Fanily Business” suatu organisasi
dinamakan perusahaan keluarga apabila paling sedikit ada keterlibatan dua generasi
dalam keluarga itu dan mereka mempengaruhi kebijakan perusahaan.
Jadi dapat disimpulkan bisnis keluarga merupakan salah satu bentuk bisnis yang
melibatkan sebagian anggota keluarga di dalam kepemilikan atau operasi bisnis.
Budaya Bisnis Keluarga
Sebuah bisnis keluarga banyak ynag akhirnya gagal karena manajemen yang tidak
profesional dan tidak memiliki landasan budaya perusahaan yang kuat. Seperti
organisasi lainnya, bisnis keluarga mengembangkan cara tertentu dalam menjalankan
usahanya yang memberikan keunikan tersendiri pada perusahaan. Pola perilaku yang
khusus dan unik akan membentuk budaya perusahaan. Budaya perusahaan yaitu pola
perilaku dan keyakinan yang membentuk karakteristik perusahaan
(Longenecker,2001).

Pola-pola Budaya

Budaya perusahaan meliputi banyak tingkah laku dan keyakinan yang berbeda-beda.
Budaya perusahaan akan menjelaskan cara berfungsinya suatu perusahaan. W.Gibb
Dyer dalam Longenecker (2001), telah mengidentifikasi suatu tatanan pola budaya
yang mempergunakan tiga fase perusahaan keluarga yaitu; bisnis sesungguhnya,
keluarga dan pemerintah. Pola bisnis, pola keluarga dan pola pemerintah membentuk
konfigurasi budaya secara keseluruhan sebagai budaya perusahaan keluarga.

Contoh pola bisnis adalah sistem keyakinan dan perilaku perusahaan yang berkaitan
dengan kualitas produk yang dihasilkan. Pimpinan memberikan pengertian kepada
seluruh karyawan agar selalu menjaga kualitas produk dan menjaga hubungan baik
dengan konsumen. Karyawan memandang hal ini sebagai nilai-nilai budaya bisnis.
Melalui keputusan dan praktek perusahaan yang menempatkan prioritas utama pada
pelayanan konsumen, pimpinan bisnis keluarga dapat membangun pola bisnis
berdasarkan komitmen yang kuat untuk memproduksi produk yang berkualitas tinggi.

Contoh Budaya Bisnis Keluarga :

Sukses berkat filosofi bambu

Kita semua tahu dan melihat bahwa sebagian besar warga keturunan etnis
Tionghoa pandai dalam menjalankan usaha bisnisnya. Dan bila mereka
berkecimpung dalam dunia pendidikan sebagian besar mendapat prestasi yang
bagus, seperti menjadi juara dalam ajang lomba sains internasional. Bagaimana hal
itu bisa terjadi? cap sukses yang ditujukan kepada mereka memang cukup beralasan,
walaupun hal tersebut tidak dapat digeneralisasi. Bila kita mengenal ajaran budaya
leluhur mereka yaitu ajaran Konfusionis bahwa “orang yang terhormat adalah orang
yang terpelajar” maka bila dikaitkan dengan bisnis yang dijalankan mereka
mempraktekkannya untuk hidup berdisiplin.

Bisnis keluarga etnis Tionghoa yang sukses tidak terlepas dari prinsip berdagang
yang diterapkan sejak mereka masih kecil. Sejak anak-anak mereka terbiasa terlibat
dalam usaha keluarga, contohnya membantu orang tua menjadi kasir di toko,
sehingga naluri bisnis sudah terlihat sejak kecil.

Keluarga etnis Tionghoa juga menerapkan filosofi bambu. Bambu adalah pohon
yang memiliki daya tahan hidup tinggi karena mampu bertahan dalam 4 musim
berbeda dan mudah tumbuh di mana saja. Inti dari filosofi ini diterapkan dalam
budaya bisnis mereka dengan kedisiplinan, kemampuan bersosialisasi, serta
kreativitas yang tinggi. Maka tidak mengherankan bahwa bisnis keluarga yang
dirintis dari bawah akhirnya akan sukses.

Tentunya dari keturunan etnis manapun dapat mengambil contoh serta menerapkan
budaya dan filosofi bisnis tersebut.
2.2 Peran Keluarga dan Hubungannya
Keluarga dan bisnis adalah dua hal yang berbeda, namun dalam perusahaan keluarga
mereka menjadi satu. Keluarga dan bisnis muncul dengan alasan yang berbeda.
Fungsi pokok keluarga berhubungan dengan perhatian dan pendidikan anggota
keluarga, sedangkan bisnis berkaitan dengan produksi dan distribusi barang atau jasa.
Tujuan keluarga adalah pemberian kesempatan dan penghargaan yang sama bagi
setiap anggota keluarga, bisnis bertujuan mendapat keuntungan dan kesejahteraan
dalam hidup.

Maju atau mundurnya perusahaan kelaurga sangat ditentukan oleh keterbukaan dan
kekompakan seluruh elemen yang terkait. Keterbukaan itu menyangkut
bidang financial, sumber daya manusia, kompleksitas permasalahan, keinginan untuk
maju dan segala macam permasalahan yang dihadapi serta tantangan maupun
ancaman yang terjadi. Sekitar 90% perusahaan besar di dunia masih saling
berhubungan saudara, di Indonesia sekitar 70% kekuatan ekonominya dikendalikan
oleh perusahaan keluarga. Sebagai contoh, misalnya Grup Lippo masih ada
kekerabatan dengan Grup Panin karena bos Lippo ternyata adalah saudara ipar bos
Panin Grup. Lippo juga memiliki kaitan dengan Grup Mayapada dan Grup Prasidha,
karena hubungan menantu dan mertua. dan bos Mayapada memiliki besan dengan
pemilik Prasidha Grup. Maka ketiga perusahaan ini saling terkait.

Sampai saat ini masih ada perbedaan pendapat apakah berbisnis dengan pasangan
menguntungkan atau tidak. Di satu sisi bisnis dengan pasangan dapat berjalan lancar
karena ada saling percaya (trust), memiliki misi dan visi yang relatif sama dan saluran
komunikasi lebih lancar.

Di sisi lain, melakukan bisnis dengan pasangan sering dipersepsikan sebagai bisnis
yang kurang profesional, karena ada percampuran antara kepentingan pribadi dan
kepentingan bisnis. Hubungan pribadi dan bisnis tidak dapat dipisahkan, dan laporan
keuangan keluarga dapat bercampur dengan laporan keuangan perusahaan.
Gambar di bawah ini menunjukkan cara-cara terlibatnya pribadi sebagai anggota
keluarga, karyawan, pemilik bisnis, dan kombinasi dari ketiganya.

Model tiga lingkaran dalam bisnis keluarga (Longenecker,2001)

Keterangan:

1. Keluarga
2. Pemilik bisnis keluarga
3. Bisnis keluarga
4. Seseorang yang memiliki bagian bisnis tapi bekerja di tempat lain (tidak terlibat
dalam bisnis keluarga)
5. Anggota keluarga yang menjadi karyawan dan memiliki bagian kepemilikan dalam
bisnis keluarga.
6. Anggota keluarga yang bekerja di perusahaan keluarga, namun tidak mempunyai hak
kepemilikan perusahaan.
7. Kelompok keluarga yang menjadi karyawan sekaligus pemilik bisnis keluarga.

Hubungan diantara anggota keluarga dalam bisnis bersifat lebih sensitif daripada
hubungan antara para karyawan yang tidak memiliki hubungan sama sekali. Sebagai
contoh, pendisiplinan karyawan yang sering datang terlambat akan lebih bermasalah
jika karyawan itu juga merupakan anggota keluarga.
2.3 Ciri Khusus Manajemen Perusahaan Keluarga
Kompleksitas hubungan dalam perusahaan keluarga memerlukan manajemen yang
terbuka, artinya manajemen yang dikelola secara profesional. Manajemen yang baik
diperlukan untuk kesuksesan tiap bisnis. Praktek manajemen bisnis keluarga yang
baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Merangsang pemikiran dan pemahaman strategi bisnis yang baru
2. Merekrut dan mempertahankan manajer non keluarga yang baik
3. Menciptakan organisasi yang fleksibel dan inovatif
4. Menciptakan dan melindungi modal
5. Menyiapkan pengganti kepemimpinan (suksesi)

Salah satu permasalahan umum yang dihadapi ketika perusahaan keluarga


berkembang adalah menentukan gaya bisnis apa yang sebaiknya diterapkan dalam
manajemennya. Ketika perusahaan masih dalam taraf kecil, manajemen keluarga
masih dapat digunakan. Tetapi makin besar perkembangan usahanya, gaya
manajemen tentunya harus berubah karena kemungkinan tidak lagi mampu jika hanya
anggota keluarga yang mengelola.

Ciri negatif yang harus dihindari oleh perusahaan keluarga antara lain:
1. Kurang formalitas
2. Pemisahan urusan personal bisnis yang tidak jelas
3. Kepemimpinan ganda
4. Hubungan interpersonal yang emosional.
Dalam bisnis keluarga, sikap-sikap jujur, ulet dan tidak serakah akan membawa
pada perkembangan yang baik. Sifat jujur diperlukan agar orang tetap percaya
dengan setiap perkataan dan perbuatannya. Sikap ulet dapat mendorong seseorang
untuk maju dan tidak gagal. Sikap tidak serakah mencegah seorang pengusaha
tidak fokus dalam melakukan ekspansi usahanya.
Manajemen keuangan bukan sekedar bagaimana memanajemen uang kas. Tapi
lebih dari itu, manajemen keuangan adalah bagaimana perusahaan mengelola
kekayaan untuk menghasilkan keuntungan dan memanfaatkan sumber-sumber
modal untuk membiayai usaha. Meski sederhana, bisnis keluarga pun perlu
menerapkan prinsip-prinsip manajemen keuangan.
2.4 Proses Suksesi Kepemimpinan
Banyak pakar ekonomi berpendapat bahwa perusahaan keluarga tidak akan bisa
bertahan lama sampai generasi ketiga. Ada pula pameo yang berkembang dalam
masyarakat bahwa “generasi pertama membangun bisnis, generasi kedua menikmati,
dan generasi ketiga menghancurkan”. Namun hal itu dibantah oleh Syukur Pujiadi,
pendiri Grup Jayakarta, sebuah kelompok perusahaan yang bergerak dalam bidang
properti. Ia telah menekuni bisnis properti selama kurang lebih 40 tahun, dan
merupakan salah satu pengusaha yang mampu bertahan dari krisis moneter (krismon)
Tahun 1998 lalu.

Banyak bisnis keluarga yang akhirnya goyah karena para penerusnya tidak akur,
namun Grup Jayakarta yang kini dikelola oleh kelima anaknya justru makin berkibar.
Menurut salah satu menantu Pujiadi, wibawa orang tua dan rasa hormat para ipar
kepada orangtuanya menciptakan iklim yang sejuk di lingkungan mereka dan setiap
perbedaan selalu diselesaikan dengan mencari jalan keluar yang terbaik bagi
semuanya. Di kalangan para pengusaha, Pujiadi dikenal sebagai salah seorang
pengusaha yang mampu mencetak kader. Bisnis keluarga yang gagal untuk tumbuh
disebabkan oleh tidak adanya perencanaan jangka pendek (short term) maupun
perencanaan jangka panjang (long term). Tidak sedikit perusahaan yang hancur
karena “gagal dalam proses suksesi”. Berdasarkan penelitian sangat jarang para
pengusaha tersebut mempersiapkan generasi pengganti, sehingga bila tiba-tiba
pemilik (owner) tidak dapat menjalankan aktivitasnya maka akan terjadi “perebutan”
perusahaan. Untuk itulah diperlukan perencanaan secara matang dan menyiapkan
berbagai alternatif solusi.
Tahap-tahap dalam Proses Suksesi

Fase-fase di dalam proses berpindahnya kepemimpinan dari orang tua ke anak


dalam bisnis keluarga terdiri dari beberapa tahapan, yaitu;

 Tahap prabisnis , dalam tahap pertama ini, orang tua memperkenalkan


anaknya atau seorang pengganti pada bisnis keluarga. Langkah ini dilakukan
untuk membentuk fondasi bagi tahap selanjutnya.
 Tahap pengenalan, tahap dua ini orang tua mengenalkan anaknya pada orang-
orang tertentu yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung dengan
perusahaan dan aspek bisnis lainnya, misalnya pihak bank sebagai pemberi
modal.
 Tahap pengenalan fungsi, pada tahap ini anak-anak dapat mengembangkan
pengalamannya dengan orang-orang yang bekerja di perusahaan, seperti dari
organisasi lainnya.
 Tahap pelaksanaan fungsi, dimulai ketika seorang pengganti potensial telah
menjadi karyawan tetap.
 Tahap pengembangan fungsi, posisi pada tahap ini melibatkan pengarahan
kerja orang lain, tetapi tidak mengelola keseluruhan perusahaan dan bertugas
sebagai pengamat.
 Tahap pergantian awal, dalam tahap ini pengganti orang tua disebut presiden
atau general manager bisnis. Di dalam perusahaan ia bertindak sebagai kepala
bisnis, namun orang tua masih berperan di belakang layar.
 Tahap kedewasaan pengganti, tahap ini dicapai ketika proses transisi
dilengkapi. Pengganti memimpin perusahaan sesuai dengan jabatan yang ada
padanya. Pada umumnya tahap ini dimulai dua atau tiga tahun setelah
pengganti tersebut mendapat jabatan.

2.5 Konsep Franchise


Waralaba (Inggris: Franchising;Prancis: Franchise) untuk kejujuran atau kebebasan)
adalah hak-hak untuk menjual suatu produk atau jasa maupun layanan. Sedangkan
menurut versi pemerintah Indonesia, yang dimaksud dengan waralaba adalah
perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau
menggunakan hak dari kekayaan intelektual (HAKI) atau pertemuan dari ciri khas
usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang
ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau
penjualanbarang dan jasa.
Sedangkan menurut Asosiasi Franchise Indonesia, yang dimaksud dengan Waralaba
ialah: Suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, dimana
pemilik merek (franchisor) memberikan hak kepada individu atauperusahaan untuk
melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur dan cara-cara yang telah
ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu.
Definisi Franchasing menurut Hisrich-Peter (1995:513)
Adalah sebagai pelimpahan dari pabrikan atau distributor suatu produk atau jasa yang
diberikan kepada agen-agen lokal atau pengecer dengan membayar sejumlah royalti.
Definisi Franchasing menurut Bygrave (1994:353)
Adalah sebuah peluang bisnis dimana pemilik,produsen atau distributor sebagai
franchisor dari barang dan jasa atau merek tertentu memberi hak kepada individu atau
franchising untuk menjadi agen lokal dari barang dan jasa dan sebagai imbalannya
menerima pembayaran atau royalti yang telah ditetapkan.

2.5.1 Perbedaan Antara Franchisor dan franchise :


1. Franchisor atau pemberi waralaba, adalah badan usaha atau perorangan yang
memberikan hak kepada pihak lain untuk memanfaatkan dan atau
menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas
usaha yang dimilikinya.
2. Franchisee atau penerima waralaba, adalah badan usaha atau perorangan yang
diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan
intelektual atau penemuan atau ciri khas yang dimiliki pemberi waralaba.

2.5.2 Pelaksanaan Franchise


1. Perlu ada kontrak antara Franchisor dan franchisee.
2. Dibuat format kontrak mencakup rencana pemasaran,prosedure aliran
dokumen,pelaksanaan bantuan.dan usaha pengembangan bisnis.
3. Kontrak franchising disebut license agreement atau franmchising contract.
2.5.3 Produk apa yang dapat dijadikan Franchise
1. Barang/jasa yang telah mempunyai pasaran luas dan citra unggul.
2. Formula paten atau desain tertentu
3. Nama dagang atau merek dagang.
4. Konsultan manajemen keuangan /pengawasan
5. Promosi advertising dan pembelian
6. Kantor Pusat Pelayanan

2.5.4 Jenis waralaba (Franchise)


Waralaba dapat dibagi menjadi dua:
a. Waralaba luar negeri, cenderung lebih disukai karena sistemnya lebih jelas,
merek sudah diterima diberbagai dunia, dan dirasakan lebih bergengsi.
b. Waralaba dalam negeri, juga menjadi salah satu pilihan investasi untuk orang-
orang yang ingin cepat menjadi pengusaha tetapi tidak memiliki pengetahuan
cukup piranti awal dan kelanjutan usaha ini yang disediakan oleh pemilik
waralaba.
2.5.5 Biaya waralaba
Biaya waralaba meliputi:
a. Ongkos awal, dimulai dari Rp. 10 juta hingga Rp. 1 miliar. Biaya ini meliputi
pengeluaran yang dikeluarkan oleh pemilik waralaba untuk membuat tempat
usaha sesuai dengan spesifikasi franchisor dan ongkos penggunaan HAKI.
b. Ongkos royalti, dibayarkan pemegang waralaba setiap bulan dari laba
operasional. Besarnya ongkos royalti berkisar dari 5-15 persen dari penghasilan
kotor. Ongkos royalti yang layak adalah 10 persen. Lebih dari 10 persen biasanya
adalah biaya yang dikeluarkan untuk pemasaran yang perlu
dipertanggungjawabkan.

2.5.6 Tingkat pengembalian


Tingkat pengembalian yang layak dari sebuah waralaba adalah minimum 15
persen dari nilai.
2.6 Kelebihan dan Kekurangan Franchise
2.6.1 Kelebihan Waralaba (Franchise)
Resiko yang ditanggung tidak sebesar memulai usaha baru dari awal.
Produk yang ditawarkan telah memasuki pasaran luas dan diterima umum.
Memiliki keahlian manajemen .
Memberikan pelatihan dibidang akunting,personalia,marketing dan produksi.
Kelengkapan modal melingkupi fasilitas perlengkapan,tata letak ,kontrol
persediaan .
Pengetahuan tentang pasar bagus ,maka franchising akan mampu menyusun
perencanaan pasar.
Tidak perlu mengeluarkan biaya lagi untuk memperkenalkan produk.
Kualitas produk tetap dijaga.
2.6.2 Kekurangan Waralaba (Franchise)
Kurang kendali
Salah satu kekurangan dari bisnis waralaba adalah kurangnya kendali dari
pembeli waralaba terhadap bisnisnya sendiri, karena semua sistem telah
ditentukan oleh pemilik waralaba. Sehingga ruang gerak pembeli waralaba
sangat terbatas. Ide-ide untuk berkreatifitas pun terkadang tidak bisa
diaplikasikan, karena adanya perjanjian-perjanjian khusus.
Sangat terikat dengan supplier
Untuk mendapatkan keuntungan yang mencukupi, tentunya setiap pengusaha
menginginkan modal yang kecil. Salah satu caranya adalah mencari supplier
yang
murah. Dengan menggunakan sistem waralaba, pihak pemasok barang pun
telah
ditentukan. Sehingga kita tidak bisa memilih lagi supplier yang lebih murah.
Ketergantungan pada reputasi waralaba lain
Salah satu kekurangan terbesar dari waralaba adalah tergantungnya reputasi
waralaba terhadap waralaba yang lain. Jika waralaba yang lain melakukan
kesalahan yang mengakibatkan rusaknya reputasi, maka hal ini juga akan
mempengaruhi waralaba yang anda kelola.
Biaya waralaba
Pihak pemilik waralaba akan mengajukan biaya awal untuk membeli
perjanjian waralaba. Kemudian biaya lanjutan untuk pelatihan dan dukungan
bagi para pembeli waralaba.
Pemotongan keuntungan
Pembeli waralaba di haruskan untuk membayar royalti dari sejumlah
keuntungan yang didapatkan. Jika keuntungan yang didapatkan sedikit, berarti
keuntungan tersebut akan dipotong untuk menutupi biaya ini.

2.7 Mengevaluasi Kesempatan Usaha Franchise


Dalam 10 tahun terakhir ini bisnis franchise tengah menjadi model bisnis paling
populer di negeri ini, terutama bagi mereka yang ingin terjun menjadi enterpreneur
atau yang memulai bisnis dari nol. Tingginya minat untuk membuka bisnis franchise
ini antara lain terlihat dari antusiasnya pengunjung dalam setiap kali melihat
pameran franchise serta larisnya seminar dan buku-buku yang bertemakan franchise.
Dalam melakukan bisnis ini memang tidak ada jaminan akan keberhasilannya.
Banyak investor yang berhasil melakukan bisnis ini namun banyak juga yang gagal.
Ketua waralaba dan Lisensi Indonesia Karamoy (2009) rata-rata pertumbuhan
franchise lokal mencapai 8-9% per tahun. Sedangkan franchise asing 12-13% per
tahun. Hal ini menunjukkan bahwa antusisas untuk membuka bisnis franchise, belum
dengan kehati-hatian dan kejelian dalam pengelolaan. Masyarakat yang melakukan
bisnis franchise, harus menyadari bahwa sebuah bisnis dapat di franchise kan jika
telah memenuhi syarat yang telah ditentukan. Yaitu, sebuah sistem atau usaha yang
telah terstandar secara baku dan tekat teruji kesuksesannya. Sehingga, hal tersebut
dapat menunjukkan kesempatan untuk melakukan bisnis usaha franchise.

2.8 Sudut Pandang Franchisor


Seorang wirausaha berkeinginan menjadi seorang franchisor daripada
mengoperasikan sebuah perusahaan karena beberapa alasan yaitu :
1. Pengurangan persyaratan modal.
2. Meningkatkan motivasi dalam manajemen.
3. Kecepatan ekspansi perusahaan.
2.9 Memahami hubungan Franchisor dan Franchisee
Hubungan kerjasama antara franchisor dan franchisee merupakan aspek yang sangat
kritikal dalam waralaba. Dimana Franchisor adalah pihak pemberi waralaba,
sedangkan franchisee dalah penerima waralaba dan hubungan keduanya adalah
franchisor dan franchisee berbagi resiko dalam memperluas pangsa pasar dan
pengembangan sumber daya serta potensi lokal di masing-masing lokasi franchisee.
Franchisee berada dalam posisi independent terhadap francishor, yaitu Francishee
berharap atas laba dari usaha yang dijalankannya dan bertanggung jawab atas beban
usaha waralabanya sendiri. Selain itu franchisee terikat dalam aturan dan perjanjian
dengan francishor sesuai dengan kontrak yang disepakati bersama.
BAB III
Kesimpulan
Family business (bisnis keluarga) merupakan salah satu bentuk bisnis yang
melibatkan sebagian anggota keluarga di dalam kepemilikan atau operasi bisnis.
Masyarakat atau keluarga yang melakukan bisnis franchise, harus menyadari bahwa
sebuah bisnis dapat di franchise kan jika telah memenuhi syarat yang telah
ditentukan yaitu, sebuah sistem atau usaha yang telah terstandar secara baku dan
telah teruji kesuksesannya. Sehingga, hal tersebut dapat menunjukkan kesempatan
untuk melakukan bisnis usaha franchise.
DAFTAR PUSTAKA

http://aigarahmadiana-mpunj.blogspot.co.id/2014/05/resume-mengenai-waralaba-
franchise.html
http://bonegambrenk.blogspot.co.id/2014/03/franchise.html
https://elqorni.wordpress.com/2014/01/20/4355/
http://www.franchise-expo.co.id/Press/Tips/Keuntungan-Dan-Kekurangan-Bisnis-
Waralaba/
http://websuplemen.ut.ac.id/ekma4111/ekma4111a/kaitan_keluarga_dan_bisnis.htm
KEWIRAUSAHAAN DAN INOVASI

”Makalah Bisnis Keluarga dan Franchise (Waralaba)”

Dosen: Nurul Fachriyah,MSA.,Ak.

Disusun oleh :

Jessyca Phita 155020301111086

Vanc Sylvia Sopanti Panjaitan 155020301111098

Ellin Nurvita 155020307111042

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017