Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

HERNIA INGUINALIS LATERALIS

A. PENGERTIAN
Hernia adalah prostusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek
atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan yang terdiri atas cincin,
kantong, dan isi hernia (Suratan dan Lusianah, 2010).
Hernia inguinalis adalah hernia yang paling umum terjadi dan muncul
sebagai tonjolan di selangkangan atau skrotum. Hernia inguinalis terjadi
ketika dinding abdomen berkembang sehingga usus menerobos kebawah
melalui celah. Hernia tipe ini sering terjadi pada laki-laki dari pada
perempuan (Huda dan Kusuma, 2015).

B. ETIOLOGI
Menurut suratan dan lusianah (2010), etiologi terjadinya hernia yaitu :
1. Defek dinding otot abdomen
Hal ini dapat terjadi sejak lahir (kongenital) atau didapat seperti usia,
keturunan, akibat dari pembedahan sebelumnya.
2. Peningkatan tekanan intra abdominal
Penyakit paru obstruksi menahan (batuk kronik), kehamilan, obesitas.
Adanya Benighna Prostat Hipertropi (BPH), sembelit, mengejan saat
defekasi dan berkemih, mengangkat beban terlalu berat dapat
meningkatkan tekanan intraabdominal.

C. TANDA DAN GEJALA/ MANIFESTASI KLINIS


Menurut Suratun dan Lusianah (2010), manifestasi klinis hernia inguinalis
lateral yaitu :
1. Tampak adanya benjolan di lipat paha atau perut bagian bawah dan
benjolan bersifat temporer yang dapat mengecil dan menghilang yang
disebabkan oleh keluarnya suatu organ.
2. Bila isinya terjepit akan menimbulkan perasaan nyeri di tempat tersebut
disertai perasaan mual.
3. Nyeri yang diekspresikan sebagai rasa sakit dan sensasi terbakar. Nyeri
tidak hanya didapatkan di daerah inguinal tapi menyebar ke daerah
pnggul, belakang kaki, dan daerah genital yang disebut Reffered Pain.
Nyeri biasanya meningkat dengan durasi dan insensitas dari aktivitas atau
kerja yang berat. Nyeri akan mereda atau menghilang jika istirahat. Nyeri
akan bertambah hebat jika terjadi strangurasi karena suplai darah ke
daerah hernia terhenti sehingga kulit menjadi merah dan panas.
4. Hernia femoralis kecil mungkin berisi dinding kandung kencing sehingga
menimbulkan gejala sakit kencing (disuria) disertai hematuria (kencing
darah) disamping benjolan dibawah sela paha.
5. Hernia diafragmatika menimbulkan perasaan sakit didaerah perut disertai
sesak nafas.
6. Bila klien mengejan atau batuk maka benjolan hernia akan bertambah
besar.

D. PATHOFISIOLOGI
Menurut Mutaqqin dan Sari (2011), hernia inguinalis tidak langsung (hernia
inguinalis lateral) dimana prostusi keluar dari rongga peritoneum melalui
anulus inguinalis internus yang teletak lateral pembuluh epigastrika inferior,
kemudian hernia masuk kedalam kanalis inguinalis dan jika cukup panjang,
akan menonjol keluar dari anulus inguinalis eksternus. Apabila hernia ini
berlanjut, tonjolon akan sampai ke skrotum melalui jalur yang sama seperti
pada saat testis bermigrasi dari rongga perut ke skrotum pada saat
perkembangan janin. Jalur ini biasanya menutup sebelum kelahiran, tetapi
mungkin tetap menjadi sisi hernia dikemudian hari.

E. PATHOFLOW

Peningkatan tekanan intra abdomen Kelemahan otot dinding abdomen


- Batuk - Trauma
- Bersin-bersin - Obesitas
- Mengejan - Kehamilan
- Mengangkat benda berat - Kelainan kongenital  kelemahan
pada dinding abdomen sejak
perkembangan janin

Isi rongga abdomen (usus) melewati Isi rongga abdomen (usus) melewati
dinding inguinal anulus inguinal

Masuk ke kanal inguinal Masuk ke kanal inguinal

Menonjol ke fascia transveralis

Keluar pada cincin kanal

- Teraba benjolan Masuk ke scrotum Kurang


- Terdengar bising usus terjadi penonjolan keluar pengetahuan
- Nyeri pada benjolan (hernia)

Obstruksi saluran intestinal


Nyeri akut
Bendungan vena
Edema

Suplai terhambat

Ischemik

Nekrosis

Ansietas Pembedahan

Nyeri akut Bising usus ↓ Resiko infeksi

Resiko terhadap konstipasi kolonik

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Suratan dan Lusianah (2010), pemeriksaan diagnostik pada klien
hernia yaitu :
1. Pemeriksaan darah lengkap
Menunjukan peningkatan sel darah putih, serum elektrolit dapat
menunjukkan hemokonsentrasi (peningkatan hemotokrit), dan
ketidakseimbangan elektrolit. Pemeriksaan koagulasi darah: mungkin
memanjang, mempengaruhi homeostastis intraoperasi atau post operasi
2. Pemeriksaan urine
Munculnya sel darah merah atau bakteri yang mengidentifikasikan infeksi.
3. Elektrokardiografi (EKG)
Penemuan akan sesuatu yang tidak normal memberikan prioritas perhatian
untuk memberikan anestesi
4. Sinar X abdomen
Menunjukkan abnormalnya kadar gas dalam usus/obstruksi usus.

G. PENATALAKSANAAN MEDIS
Menurut Suratan dan Lusianah (2010), penatalaksanaan medik hernia
inguinalis antara lain :
1. Terapi konservatif
a. Reposisi
Tindakan memasukan kembali isi hernia ketempatnya semula secara
hati-hati dengan tindakan yang lembut tetapi pasti.Tindakan ini hanya
dapat dilakukan pada hernia reponibilis dengan menggunakan kedua
tangan. Tangan yang satu melebarkan leher hernia sedangkan tangan
yang lain memasukan isi hernia melalui leher hernia tadi.
b. Pemakaian penyangga/ sabuk hernia
Pemakaian bantalan penyangga hanya bertujuan menahan hernia yang
telah diresposisi dan tidak pernah menyembuhkan sehingga harus
dipakai seumur hidup.
2. Terapi operatif
a. Herniatomi
Pada herniatomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai
kelehernya.Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan jika ada
perlengketan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit, ikat setinggi
mungkin lalu dipotong.
b. Hernioplasti
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis
internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.
c. Medikasi
1) Pemberian analgesik untuk mengurangi nyeri.
2) Pemberian antibiotik untuk menyembuhan infeksi.
d. Aktivitas dan diet
1) Aktivitas
Hindari mengangkat barang yang berat sebelum atau sesudah
pembedahan.
2) Diet
Tidak ada diet khusus, tetapi setelah operasi diet cairan sampai
saluran gastrointestinal berfungsi lagi, kemudian makan dengan
gizi seimbang. Tingkatkan masukan serat dan tinggi cairan untuk
mencegah sembelit dan mengejan selama buang air besar. Hindari
kopi, teh, coklat, minuman berkarbonasi, minuman beralkohol, dan
setiap makanan atau bumbu yang memperburuk gejala.

H. PENATALKASANAAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN (POLA FUNGSI KESEHATAN)
Pengkajian hernia inguinalis terdiri atas pengkajian anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan evaluasi diagnostik. Pada anemnesis keluhan utama
yang lazim didapatkan adalah keluhan adanya benjolan akibat masuk nya
material melalui kanalis inguinal bisa bersifat hilang timbul atau juga
tidak.Keluhan nyeri hebat bersifat akut berupa nyri terbakar pada sisi
hernia terutama pada hernia strangulata dan hernia inkaserata. Pada
pengkajian riwayat penyakit sekarang, keluhan lain yang didapat sesuai
dengan kondisi hernia. Pada reponibel biasanya keluhan yanga ada berupa
adanya benjolan setelah mengalami aktivitas peningkatan tekanan
intraabdominal, seperti batuk, bersin, atau mengejan. Pada hernia
inkaserata dan hernia strangulata akut didapatkan keluhan nyeri hebat
pada abdominal bawah, keluhan gastrointestinal seperti mual, muntah,
anoreksia, serta perasaan kelelahan pasca nyeri sering didapatkan.
Menurut Suratan dan Lusianah (2010), pengkajian data
keperawatan pada klien pra operasi dan post operasi dengan hernia dalam
buku Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Gastrointestinal antara lain:

a) Data pra operasi


1) Aktivitas/istirahat
Klien dilakukan anamnese mengenai riwayat pekerjaan,
mengangkat beban berat, duduk dan mengemudi dalam waktu
lama, membutuhkan papan matras untuk tidur. Pada pemeriksaan
fisik klien mengalami penurunan rentang gerak, tidak mampu
melakukan aktivitas yang biasa, atrofi otot, gangguan dalam
berjalan.
2) Sirkulasi
Apakah klien mempunyai riwayat penyakit jantung, edema
pulmonal, penyakit vaskular perifer.
3) Eliminasi
Apakah klien mengalami konstipasi, adanya inkontinesia atau
retensi urine.
4) Makanan/cairan
Apakah klien mengalami gangguan bising usus, mual, muntah,
nyeri abdomen, malnutrisi atau obesitas.
5) Nyeri/kenyamanan
Apakah klien mengalami nyeri di daerah benjolan hernia walaupun
jarang dijumpai, kalau ada biasanya dirasakan didaerah
epigastrium atau daerah perumbilikal berupa nyeri viseral karena
rengangan pada mesenterium sewaktu segmen usus halus masuk
kedalam kantong hernia.
6) Keamanan
Apakah klien mempunyai riwayat alergi terhadap makanan dan
obat-obatan.
7) Pernafasan
Apakah klien mempunyai riwayat batuk kronik (penyakit paru
obstruksi menahun).
b) Data post operasi
1) Aktivitas/istirahat
Apakah klien mengalami kelemahan, merasa lemas, lelah, tirah
baring, penurunan kekuatan otot, kehilangan tunos otot, dan letargi
2) Sirkulasi
Apakah klien menunjukan takikardi, perubahan tekanan darah
(hipotensi, hipertensi).
3) Eliminasi
Apakah klien mengalami perubahan karakteristik urine dan feses,
ketidakmampuan defekasi, konstipasi, penurunan pengeluaran
urine, menurunya peristaltik/bising usus.
4) Makanan/cairan
Apakah klien mengalami anoreksia, mual, muntah, membran
mukosa kering, dan turgor kulit buruk.
5) Nyeri/kenyaman
Apakah klien mengalami nyeri pada insisi pembedahan, distensi
kandung kemih.
6) Keamanan
Apakah klien mengalami gatal, nyeri, bengkak, kemerahan, dan
kemungkinan perdarahan.
7) Pernafasan
Apakah klien mengalami takipnea, pernafasan dangkal, batuk, dan
perubahan pola nafas.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a) Pre operasi
1) Nyeri akut berhubungan dengan kondisi hermia antara intervensi
pembedahan
2) Ansietas berhubungan dengan prosedur pra operasi post operasi
3) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
b) Post operasi
1) Resiko terhadap konstipasi kolonik berhubungan dengan
penurunan peristaltik
2) Nyeri akut berhubungan dengan pembedahan/ trauma jaringan
3) Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
a. Pre operasi
No Diagnosa Keperawatan Tujuan (NOC) Intervensi (NIC)
1. Nyeri akut berhubungan Tujuan (NOC) : NIC :
dengan kondisi hernia Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama .... x 24 jam Manajemen nyeri
(Nanda, Domain 12, 00132) diharapkan nyeri hilang/ berkurang 1. Monitor TTV
Kriteria hasil : 2. Lakukan pengkajian nyeri
1. Klien melaporkan nyeri, berkurang, skala nyeri 2-3 3. Observasi isyarat non verbal dari ketidak nyamanan
2. Ekspresi wajah tenang & dapat istirahat, tidur. 4. Ajarkan penggunaan teknik non farmakologi untuk
3. TTV dalam batas normal (TD 120/80 mmHg, N:60- menurunkan nyeri
100 x/mnt, RR: 16-20x/mnt). 5. Kolaborasi dalam pemberian anlgetik
Pemberian analgesik
1. Cek adanya riwayat alergi obat
2. Tentukan pilihan obat analgesik
3. Cek perintah pengobatan, meliputi : obat, dosis, dan
frekuensi obat analgesik yang diresepkan
4. Monitor TTV sebelum dan sesudah pemberian
analgesik
2. Ansietas berhubungan Tujuan (NOC) : NIC :
dengan prosedur pra operasi Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama .... x 24 jam Pengurangan kecemasan
post operasi diharapkan penurunan kecemasan selama proses 1. Jelaskan seluruh prosedur tidakan kepada klien dan
(Nanda, Domain 9, 00146) keperawatan (cemas dapat hilang/berkurang/terkontrol) perasaan yang mungkin muncul pada saat
Kriteria hasil : melakukan tindakan.
1. Ekspresi wajah tampak tenang, rileks dan 2. Kaji tingkat kecemasan dan reaksi fisik pada tingkat
kooperatif. kecemasan (takikardi, takipnea, ekspresi cemas non
2. Mengenali, mengungkapkan dan menunjukkan verbal).
teknik untuk mengontrol kecemasan. 3. Temani pasien untuk mendukung keamanan dan
3. Menemukan sikap tubuh, ekspresi wajah, isyarat menurunkan rasa takut.
dan tingkat kegiatan yang menggambarkan 4. Instruksikan pasien untuk menggunakan teknik
berkurangnya penderitaan. relaksasi.
4. Menunjukkan beberapa kemampuan untuk
menenangkan diri.
3. Kurang pengetahuan Tujuan (NOC) : NIC :
berhubungan dengan Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama .... x 24 jam Pendidikan kesehatan
kurangnya informasi diharapkan pasien dapat mengerti tentang proses penyakit 1. Menentukan tingkat pengetahuan klien sebelumnya.
(Nanda, Domain 5, 00126) Kriteria Hasil : 2. Mengobservasi kesiapan klien untuk mendengar.
1. Pasien mengungkapkan pengertian tentang proses 3. Menjelaskan proses penyakit (pengertian, etiologi,
penyakit dan pengobatan. tanda, gejala, komplikasi)
2. Berpartisipasi dalam pengobatan. 4. Diskusikan tentang pilihan terapi/perawatan.
5. Instruksikan pasien mengenal tanda gejala untuk
melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan
dengan cara yang tepat.

b. Post operasi
No Diagnosa Keperawatan Tujuan (NOC) Intervensi (NIC)
1. Nyeri akut berhubungan Tujuan (NOC) : NIC :
dengan pembedahan/ trauma Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama .... x 24 jam Manajemen nyeri
jaringan diharapkan nyeri hilang/ berkurang. 1. Monitor TTV
(Nanda, Domain 12, 00132) Kriteria hasil : 2. Lakukan pengkajian nyeri
1. Klien melaporkan nyeri, berkurang, skala nyeri 2-3 3. Observasi isyarat non verbal dari ketidaknyamanan
2. Ekspresi wajah tenang & dapat istirahat, tidur. 4. Ajarkan penggunaan teknik non farmakologi untuk
3. TTV dalam batas normal (TD 120/80 mmHg, N:60- menurunkan nyeri
100 x/mnt, RR: 16-20x/mnt). 5. Kolaborasi dalam pemberian analgetik
2. Resiko terhadap konstipasi Tujuan (NOC) : NIC :
kolonik berhubungan Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama .... x 24 jam Manajemen konstipasi
dengan penurunan diharapkan konstipasi sistemik tidak terjadi 1. Monitor tanda gejala dari konstipasi
peristaltik Kriteria Hasil : 2. Catat data terakhir perubahan eliminasi BAB
(Nanda, Domain 3, 00015) 1. Pola eliminasi dalam batas normal 3. Monitor perubahan BAB (frekuensi, konsisten,
2. Konstipasi tidak ada volume, warna)
3. Kontrol perubahan eliminasi BAB 4. Kolaborasi dengan nutrisionis dalam menentukan
diit yang tepat
5. Kolaborasi dengan tim farmakologi
3. Resiko terhadap infeksi Tujuan (NOC) : NIC :
berhubungan dengan Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama .... x 24 jam Perlindungan infeksi
prosedur invasif diharapkan infeksi tidak terjadi 1. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
(Nanda, Domain 11, 00004) Kriteria Hasil : 2. Inspeksi kondisi luka atau insisi bedah
1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi 3. Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala
2. Jumlah leukosit dalam batas normal infeksi
3. Suhu normal (36 – 37 °C) 4. Ajarkan cara menghindari infeksi
5. Kolaborasi dalam pemberian antibiotik
4. PENGGUNAAN REFERENSI
Bickley, Lynn S. Buku Saku Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan
Bates Edisi 3. Jakarta: EGC. 2008.

Bilotta, Kimberly A.J. Kapita Selekta Penyakit: Dengan Implikasi


Keperawatan, edisi 2.Penerbit Buku Kedokteran : EGC. 2012.

Black, J.M & Hawks J.H. Medical Surgical Nursing. Eighth Edition.
Reproduction of thr lates American Edition. 2009.

Herdman, T. Heather. Nanda International. Diagnosis Keperawatan


Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Buku Kedokteran : EGC. 2013.

Hidayat. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta. Salemba Medika.


2008.

Jitowiyono, Sugeng dan Weni Kristiyanasari. Asuhan Keperawatan Post


Operasi pendekatan Nanda, Nic-Noc. Yogyakarta: Yuha Medika.
2010.

Lewis Sharon L. et al. Medical Surgical Nursing. Problems. Reproduction


of the latest American Edition. 2011.

Kusuma Hardhi dan Nurarif Amin Huda. Handbook For Health Student.
Yogyakarta : Mediaction. 2012.

Muttaqin, Arif dan Sari Kumala. Gangguan Gastrointestinal Aplikasi


Asuhan Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. 2011.

Nurarif, Amin Huda dan Kusuma Hardhi. Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Medis & nanda Nic-noc. Jilid 2. Yogyakarta :
EGC. 2013.

Nurarif, Amin Huda dan Kusuma Hardhi. Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Medis & Nanda Nic-noc. Jilid 2. Yogyakarta :
Mediaction. 2015.

Priharjo, Robert. Buku Pengkajian Fisik Keperawatan . Edisi 2. Jakarta :


EGC. 2006.

Ruhl, CE, Everhart, JE. Risk Factors for Inguinal Hernia among Aduls in
the US Population. Am J Epidemiol. 2007.

Sjamsuhidayat. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: Penerbit Buku


Kedokteran : EGC. 2010.

Smeltzet, Suzanne C, dan Branda G. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi


8. Jakarta : EGC. 2009.

Suratan dan Lusianah. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan


Sistem Gatrointestinal. Jakarta : Trans Info Media. 2010.

William & Wilkins, L. Buku Ajar Fatofisiologi. Jakarta: Penerbit Buku


Kedokteran : EGC. 2011.

Anda mungkin juga menyukai