Anda di halaman 1dari 17

FAKTOR PEMBATAS DISTRIBUSI POPULASI

TUGAS KELOMPOK

Disusun untuk Memenuhi Tugas Diskusi Kelompok


pada Mata Kuliah Ekologi Semester Tiga
yang Diampu oleh Dr.Mochamad Hadi, M.Si

Disusun Oleh:

1. Lutfi Azizah (24020115120036)


2. Eka Ristiani (24020116120009)
3. Windari (24020116120021)
4. Tia Erfianti (24020116120032)
5. Tia Bela Aprilliana (24020116120036)

DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, penulis
panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-
Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul
“Faktor Pembatas Distribusi Populasi”.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Ekologi semester tiga di
Universitas Diponegoro. Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Dr.Mochamad Hadi,
M.Si selaku dosen pengampu pada mata kuliah Ekologi yang senantiasa membantu penulis
dalam penyusunan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka penulis
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar penulis dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata penulis berharap semoga makalah yang berjudul “Faktor Pembatas Distribusi
Populasi” ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Semarang, 9 September 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................... ii


DAFTAR ISI.................................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang dan Masalah ................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................. 2
1.3 Tujuan Makalah ..................................................................................................................... 2
BAB II............................................................................................................................................. 3
PEMBAHASAN ............................................................................................................................. 3
2.1 Pengertian Populasi ............................................................................................................... 3
2.2 Faktor Pembatas Distribusi ................................................................................................... 5
2.3 Macam – Macam Faktor Pembatas ....................................................................................... 6
2.4 Pentingnya Faktor-Faktor Fisis sebagai Faktor-Faktor Pembatas........................................ 8
2.5 Hubungan Kelimpahan dengan Distribusi .......................................................................... 10
BAB III ......................................................................................................................................... 11
PENUTUP..................................................................................................................................... 11
3.1 Kesimpulan ................................................................................................................ 11
3.2 Saran........................................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 13

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Masalah


Pada prinsipnya ditinjau dari biologi, makhluk hidup dapat dibagi atas dua bagian
besar yaitu, hewan dan tumbuhan. Kedua kelompok ini sangat tergantung kepada faktor-
faktor yang ada diluar dirinya baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Dengan
kata lain tidak ada satu makhluk hidup pun di dunia ini yang dapat berdiri sendiri tanpa
bergantung dengan faktor lainnya.
Di lingkungan sekitar kita dapat di temui berbagai jenis makhluk hidup, baik dari
golongan hewan, tumbuhan ataupun mikroorganisme. Di tanah yang lembab dan gembur
sering ditemukan berbagai jenis ikan, di rerumputan sering ditemukan belalang, di semak
belukar sering ditermukan ular. Kehadiran suatu populasi hewan di suatu tempat dan
penyebaran (distribusi) spesies hewan tersebut di muka bumi ini, selalu berkaitan dengan
masalah habitat dan perilaku hewan (Darmawan, 2005).
Ekologi melibatkan hubungan antara kelompok produsen dan konsumen.
Kelompok produsen merupakan kelompok yang menyediakan barang atau jasa
sedangkan konsumen menggunakan barang atau jasa. Dalam konteks ekologi, kelompok
produsen adalah kelompok yang bertugas menyediakan sumber-sumber energi bagi
konsumen. Biasanya yang bertindak sebagai produsen adalah kelompok tumbuhan
berhijau daun yang memiliki kemampuan merubah unsur-unsur anorganik 5 menjadi
senyawa organik dengan bantuan cahaya matahari yang kemudian digunakan oleh
konsumennya melalui proses makan.
Dalam ekologi tumbuhan faktor lingkungan sebagai faktor ekologi dapat
dianalisis menurut bermacam-macam faktor. Pengaruh faktor-faktor lingkungan dan
kisarannya untuk suatu tumbuh-tumbuhan berbeda-beda, karena satu jenis tumbuhan
mempunyai kisaran toleransi yang berbeda-beda menurut habitat dan waktu yang
berlainan. Tetapi pada dasarnya secara alami kehidupannya dibatasi oleh: jumlah dan
variabilitas unsur-unsur faktor lingkungan tertentu (seperti nutrien dan faktor fisik,

1
misalnya suhu udara) sebagai kebutuhan minimum, dan batas toleransi tumbuhan
terhadap faktor atau sejumlah faktor lingkungan tersebut.

1. 2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan populasi?
1.2.2 Bagaimana hubungan faktor pembatas distribusi dengan spesies lain ?
1.2.3 Bagaimana hubungan antara distribusi dan kelimpahan pembatas distribusi?

1.3 Tujuan Makalah

1.3.1 Mengetahui pengertian populasi.

1.3.2 Memahami hubungan faktor pembatas distribusi dengan spesies lain.

1.3.3 Memahami hubungan antara distribusi dan kelimpahan pembatas distribusi

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Populasi


Sugiyono (2001: 55) menyatakan bahwa populasi adalah wilayah generalisasi yang
terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya
orang, tetapi juga benda-benda alam yang lain. populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada
pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh
objek atau subjek itu.
Menurut Margono (2004: 118), populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian
kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan. Jadi populasi berhubungan
dengan data, bukan manusianya. Kalau setiap manusia memberikan suatu data maka, maka
banyaknya atau ukuran populasi akan sama dengan banyaknya manusia. Populasi adalah
keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2002: 108).
Kerlinger (Furchan, 2004: 193) menyatakan bahwa populasi merupakan semua
anggota kelompok orang, kejadian, atau objek yangtelah dirumuskan secara jelas. Nazir
(2005: 271) menyatakan bahwa populasi adalah kumpulan dari individu dengan kualitas serta
ciri-ciri yang telah ditetapkan. Kualitas atau ciri tersebut dinamakan variabel. Sebuah populasi
dengan jumlah individu tertentu dinamakan populasi finit sedangkan, jika jumlah individu
dalam kelompok tidak mempunyai jumlah yang tetap, ataupun jumlahnya tidak terhingga,
disebut populasi infinit. Misalnya, jumlah petani dalam sebuah desa adalah populasi finit.
Sebaliknya, jumlah pelemparan mata dadu yang terus-menerus merupakan populasi infinit.
Pengertian lainnya, diungkapkan oleh Nawawi (Margono, 2004: 118). Ia menyebutkan
bahwa populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda,
hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber
data yang memiliki karaktersitik tertentu di dalam suatu penelitian. Kaitannya dengan batasan
tersebut, populasi dapat dibedakan berikut ini.

3
1. Populasi terbatas atau populasi terhingga, yakni populasi yang memiliki batas kuantitatif
secara jelas karena memilki karakteristik yang terbatas. Misalnya 5.000.000 orang guru SMA
pada awal tahun 1985, dengan karakteristik; masa kerja 2 tahun, lulusan program Strata 1, dan
lain-lain.
2. Populasi tak terbatas atau populasi tak terhingga, yakni populasi yang tidak dapat
ditemukan batas-batasnya, sehingga tidak dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah secara
kuantitatif. Misalnya guru di Indonesia, yang berarti jumlahnya harus dihitung sejak guru
pertama ada sampai sekarang dan yang akan datang.
Dalam keadaan seperti itu jumlahnya tidak dapat dihitung, hanya dapat digambarkan
suatu jumlah objek secara kualitas dengan karakteristik yang bersifat umum yaitu orang-
orang, dahulu, sekarang dan yang akan menjadi guru. populasi seperti ini disebut juga
parameter. Selain itu, menurut Margono (2004: 119) populasi dapat dibedakan ke dalam hal
berikut ini:
1. Populasi teoretis (teoritical population), yakni sejumlah populasi yang batas-batasnya
ditetapkan secara kualitatif. Kemudian agar hasil penelitian berlaku juga bagi populasi yang
lebih luas, maka ditetapkan terdiri dari guru; berumus 25 tahun sampai dengan 40 tahun,
program S1, jalur skripsi, dan lain-lain.
2. Populasi yang tersedia (accessible population), yakni sejumlah populasi yang secara
kuantitatif dapat dinyatakan dengan tegas. Misalnya, guru sebanyak 250 di kota Bandung
terdiri dari guru yang memiliki karakteristik yang telah ditetapkan dalam populasi teoretis.
Margono (2004: 119-120) pun menyatakan bahwa persoalan populasi penelitian harus
dibedakan ke dalam sifat berikut ini:
1. Populasi yang bersifat homogen, yakni populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang
sama, sehingga tidak perlu dipersoalkan jumlahnya secara kuantitatif. Misalnya, seorang
dokter yang akan melihat golongan darah seseorang, maka ia cukup mengambil setetes darah
saja. Dokter itu tidak perlu satu botol, sebab setetes dan sebotol darah, hasilnya akan sama
saja.
2. Populasi yang bersifat heterogen, yakni populasi yang unsurunsurnya memiliki sifat atau
keadaan yang bervariasi, sehingga perlu ditetapkan batas-batasnya, baik secara kualitatif
maupun secara kuantitatif. Penelitian di bidang sosial yang objeknya manusia atau gejala-
gejala dalam kehidupan manusia menghadapi populasi yang heterogen.

4
2.2 Faktor Pembatas Distribusi
Liebig menyatakan bahwa jumlah bahan utama yang dibutuhkan apabila mendekati
keadaan minimum kritis cendrung menjadi pembatas. Ditambahkannya bahwa cahaya, suhu,
zat makanan dan unsur-unsur utama meyebabkan hilangnya vegetasi pada ketinggian tertentu
di pegunungan atau hilangnya beberapa tumbuhan dalam wilayah yang dinaungi. Jadi
penyebaran tumbuhan ditentukan oleh cahaya, suhu dan unsur hara yang tidak memadai.
Liebig adalah seorang pionir yang mempelajari pengaruh berbagai faktor pada pertumbuhan
tanaman. Ia mendapatkan bahwa hasil panen selalu dibatasi bukan saja oleh unsur hara yang
dibutuhkan dalam jumlah besar dalam lingkungan, tetapi oleh beberapa bahan seperti Zn,
yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit dan jarang sekali dalam tanah. Liebig menyatakan
bahwa pertumbuhan tanaman tergantung pada jumlah minimum. Pernyataan ini dikenal
sebagai Hukum Minimum Liebig.
Suatu organisme mempunyai toleransi yang besar terhadap suatu faktor yang konstan,
maka faktor itu tidak merupakan pembatas. Sebaliknya bila mempunyai toleransi tertentu
terhadap suatu faktor yang bervariasi dalam lingkungan, dapat menjadi faktor yang
membatasi.
Faktor pembatas (limiting factor) dapat diartikan sebagai keadaan yang mendekati atau
melampaui ambang batas toleransi suatu kondisi. Faktor pembatas suatu organisme mencakup
kisaran minimum atau maksimum dari faktor-faktor abiotik suatu ekosistem. Misal : Suhu,
cahaya, pH yang terlalu rendah (minimum) atau terlalu tinggi (maksimum). Bagi organisme
dengan kisaran toleransi yang lebar (eury) terhadap faktor abiotik X yang relatif konstant
bukan merupakan faktor pembatas, sehingga organisme tersebut dapat hadir dalam jumlah
banyak. Sebaliknya, bagi organisme dengan toleransi yang sempit (steno) terhadap faktor
abiotik (Y) yang selalu berubah akan menjadi “faktor pembatas” sehingga akan hadir dalam
jumlah sedikit. Contohnya Kandungan O2 di udara dalam jumlah banyak dan konstan bukan
merupakan faktor pembatas organisme darat. Sebaliknya, kandungan O2 terlarut di perairan,
terdapat dalam jumlah sedikit dan jumlahnya selalu berubah-ubah, menjadi faktor pembatas
bagi organisme yang hidup di perairan.
Faktor lingkungan yang penting dalam setiap ekosistem berbeda beda seperti

5
- di darat: sinar, suhu dan air;
- di laut: sinar, suhu dan salinitas;
- di perairan tawar: kandungan oksigen.
Faktor lingkungan tidak hanya sebagai faktor pembatas (negatif) tetapi juga menjadi faktor
menguntungkan (positif) bagi organisme yang mampu menyesuaikan diri.

2.3 Macam – Macam Faktor Pembatas


Dengan mengetahui faktor pembatas (limiting factor) suatu organisme dalam suatu ekosistem
maka dapat diantisipasi kondisi-kondisi di mana organisme tidak dapat bertahan hidup.
Umumnya suatu organisme yang mempunyai kemampuan untuk melewati atau melampaui
faktor pembatasnya maka ia memiliki toleransi yang besar dan kisaran geografi penyebaran
yang luas pula. Sebaliknya jika organisme tersebut tidak mampu melewatinya maka ia
memiliki toleransi yang sempit dan memiliki kisaran geografi penyebaran yang sempit pula.
Tidak sedikit didapati pula bahwa ada organisme tertentu yang tidak hanya beradaptasi
dengan faktor pembatas lingkungan fisik saja, tetapi mereka bisa memanfaatkan periodisitas
alami untuk mengatur dan memprogram kehidupannya guna mengambil keuntungan dari
keadaan tersebut.

Faktor pembatas dapat dibagi menjadi beberapa macam, yaitu :

1. Faktor pembatas fisik


Faktor pembatas fisik bagi suatu organisme kita kenal secara luas di antaranya faktor
a) cahaya matahari, intensitas cahaya bukan merupakan bagian terpenting yang
membatasi pertumbuhan tumbuhan dilingkungan darat, tetapi penaungan oleh kanopi
hutan membuat persaingan untuk mendapatkan cahaya matahari dibawah kanopi tersebut
menjadi sangat ketat.
b) suhu, suhu daapt dikatakan sebagai factor pembatas karena pengaruhnya pada proses
biologis dan ketidakmampuan sebagian besar organisme untuk mengatur suhu tubuhnya
secara tepat. Dan sebagian organisme tidak dapat mempertahankan suhu tubuhnya lebih
tinggi beberapa derajat diatas atau dibawah suhu lingkungan sekitar
c) ketersediaan sejumlah air, air dapat dikatakan sebagai factor pembatas, ketika ada
organisme yang hidup terendam diair, tetapi ada masalah keseimbangan air, jika tekanan

6
osmosis intra seluler organisme tersebut tidak sesuai dengan tekanan air disekitarnya.
Serta factor yang lainnya.

2. Faktor pembatas kimiawi dan non fisik


Faktor pembatas nonfisik adalah unsur-unsur nonfisik seperti zat kimia yang terdapat
dalam lingkungan akan menjadi faktor pembatas bagi organisme-organisme untuk dapat
hidup dan berinteraksi satu sama lainnya. Kondisi lingkungan perairan (aquatic) berbeda
dengan kondisi lingkungan daratan (terrestrial), terutama ditinjau dari keberadaan unsur
kimiawi seperti; O2, CO2, dan gas-gas terlarut lainnya yang dapat diperoleh organisme di
lingkungannya. Garam biogenik adalah garam-garam yang terlarut dalam air, seperti
karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N), sulfur (S), posfor (P), kalium (K),
kalsium (Ca), dan magnesium (Mg). Zat kimia ini merupakan unsur vital bagi
keberlanjutan organisme tertentu.

3. Faktor pembatas Tipologi Ekosistem dan Indikator Ekologi


Kehadiran atau keberhasilan suatu organisme atau kelompok organisme-organisme
tergantung kepada kompleksitas suatu keadaan. Keadaan yang mana pun yang mendekati
atau melampaui batas-batas toleransi dinamakan sebagai yang membatasi atau faktor
pembatas. Dengan adanya faktor pembatas ini semakin jelas kemungkinannya apakah
suatu organisme akan mampu bertahan dan hidup pada suatu kondisi wilayah tertentu.
Jika suatu organisme mempunyai batas toleransi yang lebar untuk suatu faktor yang
relatif mantap dan dalam jumlah yang cukup maka faktor tadi bukan merupakan faktor
pembatas. Sebaliknya apabila organisme diketahui hanya mempunyai batas-batas
toleransi tertentu untuk suatu faktor yang beragam maka faktor tadi dapat dinyatakan
sebagai faktor pembatas. Beberapa keadaan faktor pembatas, termasuk di antaranya
adalah temperatur, cahaya, air, gas atmosfer, mineral, arus, dan tekanan, tanah, dan api.
Masing-masing dari organisme mempunyai kisaran kepekaan berbeda terhadap faktor
pembatas.
Dengan adanya faktor pembatas, dapat dianggap faktor ini bertindak sebagai ikut
menyeleksi organisme yang mampu bertahan dan hidup pada suatu wilayah sehingga
sering kali didapati adanya organisme-organisme tertentu yang mendiami suatu wilayah

7
tertentu pula. Organisme ini disebut sebagai indikator biologi (indikator ekologi) pada
wilayah tersebut.

2.4 Pentingnya Faktor-Faktor Fisis sebagai Faktor-Faktor Pembatas


Menurut Rohmani (2013) faktor pembatas (limiting factor) dapat diartikan sebagai
keadaan yang mendekati atau melampaui ambang batas toleransi suatu kondisi. Faktor
pembatas suatu organisme mencakup kisaran minimum atau maksimum dari faktor-faktor
abiotik suatu ekosistem. Misal : Suhu, cahaya, pH yang terlalu rendah (minimum) atau
terlalu tinggi (maksimum).

1. Suhu
Organisme dapat hidup pada suhu sampai 300o C dengan kisaran suhu – 200 sampai
100o C. Akan tetapi kebanyakan organisme hanya dapat hidup pada kisaran suhu yang
lebih sempit. Pada umumnya batas atas (maksimum) lebih kritis atau lebih
membahayakan kehidupan organisme daripada batas bawah (minimum).
Pada ekosistem perairan, variasi suhu lebih sempit daripada ekosistem darat. Oleh
karena itu, biasanya organisme perairan mempunyai kisaran toleransi terhadap suhu lebih
sempit daripada organisme darat. Misalnya algae air dan algae darat, invertebrata air dan
darat seperti serangga. Suhu air bepengaruh terhadap kelangsungan hidup, pertumbuhan
morfologi, reproduksi, tingkah laku, laju pergantian kulit dan metobolisme udang. Udang
hidup pada suhu air 21-32o C. Suhu untuk ikan berkisar 25-30 o C (Rohmani, 2013).

2. Cahaya
Cahaya adalah sumber energi, tetapi juga suatu pembatas pada kedua tingkat
maksimum dan minimum. Oleh karena itu cahaya sebagai faktor pembatas dan
pengontrol. Intensitas cahaya mengontrol seluruh ekosistem melalui pengaruhnya pada
produksi primer. Berdasarkan kebutuhan cahaya dikenal:
a. tumbuhan perlu cahaya penuh (light demanding)
b. tumbuhan yang toleran dan setengah toleran.

3. Air

8
Air untuk fungsi fisiologis perlu bagi semua protoplasma. Dari sudut ekologis
terutama sebagai faktor pembatas curah hujan sebagian besar ditentukan oleh geografi
dan pola gerakan udara yang besar atau sistem iklim. Penyebaran curah hujan sepanjang
tahun merupakan faktor pembatas yang sangat penting untuk organisme.

4. Gas atmosphere
Untuk lingkungan darat pada umumnya bukan limiting factors, kecuali di tempat-
tempat dan keadaan-keadaan tertentu, seperti jauh di dalam tanah atau tinggi di atas
gunung.
5. Soil
Soil adalah produksi dari iklim dan vegetasi ; perbedaan untuk setiap tempat
menurut iklim dan jenis vegetasi yang menumbuinya. Soil itu berlapis – lapis, tebal dan
macam lapisan berbeda menurut iklim dan topography. Umpamanya soil di bawah
padang hutan yang lapisan humusnya tipis saja. Di daerah tropika, oleh karena
kecepatan pembusukan tinggi, maka lapisan soil tipis.

9
2.5 Hubungan Kelimpahan dengan Distribusi
Kondisi lingkungan dan interaksi dalam populasi menentukan distribusi dan
kelimpahan spesies. Distribusi dan kelimpahan merupakan masalah pokok dalam ekologi
dan biogeografi. (Brown, 1984).
Kelimpahan adalah jumlah organisme pada habitat. Distribusi adalah penyebaran
organisme pada habitat. Hubungan yang sangat positif antara distribusi dan kelimpahan
dapat dihasilkan oleh sebuah mekanisme metapopulasi yang dinamis, yang tidak
didasarkan pada perbedaan ekologi dengan kapasitas spesies. Brown memberikan
kesimpulan tampaknya ada hubungan umum antara kelimpahan dan distribusi yang
memiliki dua bagian. Pertama, dalam spesies, kepadatan penduduk cenderung terbesar
dalam pusat jangkauan dan menurun secara bertahap menuju batas. Pola ini memegang
lebih dari berbagai skala spasial dari gradien lingkungan curam dalam wilayah lokal
untuk seluruh rentang geografis. Hubungan umum kedua adalah bahwa di antara terkait
erat, spesies ekologis sama distribusi spasial berkorelasi positif dengan rata-rata
kelimpahan.

10
BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Faktor pembatas merupakan kondisi yang mendekati atau melampaui ambang
batas toleransi. Faktor pembatas mengacu pada hukum mimum liebig yang menyatakan
bahwa pertumbuhan dikendalikan bukan oleh jumlah total sumber daya yang tersedia,
tetapi dengan sumber daya yang langka. Dapat disimpulkan bahwa faktor pembatas
dalam ilmu ekologi adalah keadaan sumber daya atau lingkungan yang membatasi
pertumbuhan , kelimpahan dan persebaran suatu organisme atau populasi dalam
ekosistem. Faktor pembatas dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu faktor fisik
yang meliputi cahaya matahari, suhu, dan ketersediaan air. Sedangkan faktor pembatas
kimiawi seperti O2, Co2, garam biogenic dan gas atmosfer. Kelimpahan adalah jumlah
organisme pada habitat. Distribusi adalah penyebaran organisme pada habitat. Hubungan
yang sangat positif antara distribusi dan kelimpahan dapat dihasilkan oleh sebuah
mekanisme metapopulasi yang dinamis, dalam spesies, kepadatan penduduk cenderung
terbesar dalam pusat jangkauan dan menurun secara bertahap menuju batas. Pola ini
memegang lebih dari berbagai skala spasial dari gradien lingkungan curam dalam
wilayah lokal untuk seluruh rentang geografis. Hubungan umum kedua adalah bahwa di
antara terkait erat, spesies ekologis sama distribusi spasial berkorelasi positif dengan rata-
rata kelimpahan.

3.2 Saran
Faktor pembatas dapat membatasi kelimpahan dan persebaran suatu organisme
atau populasi dalam ekosistem. Sehingga untuk meingkatkan kelimpahan dan persebaran
suatu organisme diperlukan adanya faktor yang dapat meminimalisir faktor pembatas
tersebut, sehingga kelimpahan dan persebaran organisme menjadi semakin banyak dan
merata.

11
12
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S.2006.Prosedur Penelitian: Suatu Pengantar Praktik.Jakarta:Rineka Cipta.

Dharmawan, A, Ibrohim, Tauarita, H, Suwono, P. Ekologi Hewan. 2005. Malang: UM Press

Furchan, A.2004.Pengantar Penelitian dalam Pendidikan.Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

Margono.2004.Metodologi Penelitian Pendidika.Jakarta:Rineka Cipta.

Nazir.2005.Metode Penelitian.Jakarta:Ghalia Indonesia.

Rohmani, Yudi Miftahul. 2013.Faktor Pembatas Volume 1 No 1.


https://www.scribd.com/doc/220552133/Jurnal-Yudi-Mifthaul-Rohmani-e1a012061

Sugiyono.2005.Memahami Penelitian Kualitatif.Bandung:Alfabeta.

13