Anda di halaman 1dari 22

TUGAS FARMASI PEMERINTAHAN

PERAN APOTEKER PADA DINAS KESEHATAN KABUPATEN/KOTA

Oleh :
Kelompok 1
Amelya Prastica Rahayu Aliong 172211101001
Selvin Nurfadita Harlinanda 172211101006
Anggih Dwi Pertiwi 172211101011
Firda Ratna Safitri 172211101016
Terryda Ayu Permatasari 172211101022
Fikriatul Hidayah 172211101027
Renova Rizka Putri 172211101040
Lisa Kusuma Wardhani 172211101045
Kartika Febriyanti Rohmaniyah 172211101050

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER VII


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JEMBER
2017
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii


BAB I ............................................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 2
BAB II ........................................................................................................................... 4
2.1 Ruang Lingkup Pekerjaan Kefarmasian ........................................................... 4
2.2 Definisi dan Struktur Organisasi Dinas Kesehatan ........................................... 4
2.3 Peran Apoteker di Dinas Kesehatan .................................................................. 6
2.4 Studi Kasus ..................................................................................................... 11
BAB III ....................................................................................................................... 19
3.1 Kesimpulan...................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 20

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setiap warga negara Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang telah dijamin
oleh negara seperti yang tertera pada Undang-Undang Republik Indonesia.Salah satu
hak tersebut yakni setiap warga negara berhak mendapatkan pelayanan kesehatan
yang aman, bermutu, serta terjangkau. Berdasarkan hak tersebut, pemerintah pusat
berkewajiban untuk memenuhinya yaitu dengan cara melakukan pembinaan,
pengawasan, dan pengendalian terhadap sarana dan tenaga pelayanan kesehatan (PP
No.51, 2009).
Salah satu tugas pemerintah pusat di bidang kesehatan yakni didelegasikan
kepada pemerintah daerah dengan membentuk badan berwenang di masing-masing
daerah untuk mengurus bidang kesehatan sejak diberlakukannya otonomi daerah di
Indonesia.Pemerintah daerah, memegang peranan penting dalam pembangunan di
wilayahnya termasuk bidang kesehatan dengan berbagai tantangan dan peluang yang
ada.Badan berwenang yang dibentuk di tingkat provinsi adalah Dinas Kesehatan
Provinsi.Badan berwenang yang dibentuk di tingkat kabupaten/kota adalah Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota atau Suku Dinas Kesehatan. Dinas Kesehatan Provinsi
merupakan unsur pelaksana otonomi daerah di bidang kesehatan sedangkan Suku
Dinas Kesehatan merupakan perpanjangan tangan dari Dinas Kesehatan Provinsi
yang bertanggung jawab kepada kepala dinas kesehatan dan walikota yang
bersangkutan untuk melaksanakan pelayanan perizinan, perencanaan, pengendalian,
dan penilaian efektivitas pelayanan kesehatan di wilayah kota administrasi (PP
No.51, 2009).
Pengelolaan obat kabupaten/kota merupakan tanggung jawab penuh dari
pemerintah kabupaten/kota. Mulai dari aspek perencanaan kebutuhan obat untuk
pelayanan kesehatan dasar berdasarkan sistem “bottom up”, perhitungan rencana
kebutuhan obat, serta mengkoordinasikan perencanaan kebutuhan obat dari beberapa
sumber dana. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengajukan Rencana

1
Kebutuhan Obat (RKO) dan melaporkan penggunaan obat kepada Pemerintah
Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat.Setiap kabupaten/kota mempunyai struktur dan
kebijakan sendiri dalam pengelolaan obat, selanjutnya Pengelola Obat
Kabupaten/Kota disebut dengan Unit Pengelola Obat Publik dan Perbekalan
Kesehatan (UPOPPK) Kabupaten/Kota.
Sebagai salah satu sumber daya manusia pada bidang ilmu yang berperan dalam
pelayanan kesehatan, Apoteker memiliki peran dan fungsi dalam Dinas
Kesehatan.Peran dan gungsi tersebut berkaitan dengan pengetahuan, pemahaman, dan
aplikasi mengenai perizinan, serta kegiatan pembinaan, pengawasan, dan
pengendalian dari pelayanan kesehatan, termasuk sarana dan tenaga kesehatan (PP
No.51, 2009). Selain itu tugas Apoteker sebagai seksi kefarmasian yakni penyiapan
perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis dan supervisi,
serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang pelayanan kefarmasian
(Permenkes No.49, 2016).

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakangtersebut, maka dapat diuraikan rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Apa definisi dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota beserta tugas pokoknya?
2. Bagaimana struktur organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota?
3. Bagaimana peran Apoteker di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka tujuan dari
penulisan makalah ini yakni:
1. Memahami pengertian Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota beserta tugas
pokoknya.
2. Mengetahui struktur organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
3. Memahami peran Apoteker di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

2
3
BAB II
ISI

2.1 Ruang Lingkup Pekerjaan Kefarmasian


Ruang lingkup pekerjaan kefarmasian meliputi ligkungan kegiatan, tanggung
jawab, kewenangan dan hak.Seluruh ruang lingkup pekerjaan kefarmasian harus
dilaksanakan dalam kerangka sistem pelayanan kesehatan yang berorientasi pada
masyarakat. Bentuk pekerjaan kefarmasian tersebut dapat dilakukan di :
1. Rumah Sakit
2. Apotek
3. Industri
4. Lembaga Riset
5. Badan POM
6. Menteri Kesehatan
7. Dinas Kesehatan

2.2 Definisi dan Struktur Organisasi Dinas Kesehatan


Dinas kesehatan adalah unsur pelaksana otonomi daerah yang dipimpin oleh
seorang Kepala Dinas yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada
Bupati melalui Sekretaris Daerah. Dinas Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan
urusan di bidang kesehatan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. (Dinkes
Kab/Kota Lumajang, 2014)
Menurut Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 2007 dan Peraturan Daerah
Kabupaten Lumajang No. 34 Tahun 2007, susunan organisasi Dinas Kesehatan
Kabupaten Lumajang mempunyai 1 Sekretariat dan 4 Kepala Bidang.Sekretariat dan
tiap Bidang mempunyai 3 Kepala Seksi atau Kepala Sub.Bagian. Di bawah ini
merupakan struktur organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang:

4
Kedudukan Dinas Kesehatan adalah sebagai unsur pelaksana Pemerintahan
Kabupaten di Bidang Kesehatan, mempunyai tugas pokok menyelenggarakan
urusan Rumah Tangga Kabupaten dan tugas konsultatif serta koordinatif di
Bidang Kesehatan. Disamping melaksanakan tugas pokok tersebut, Dinas
Kesehatan juga memiliki fungsi sebagai berikut:
1. Perumusan kebijakan teknis di bidang kesehatan;
2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang
kesehatan;

5
3. Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang kesehatan;
4. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas
dan fungsinya.

2.3 Peran Apoteker di Dinas Kesehatan


Dalam struktur organisasi di atas, peran apoteker ada di bidang pelayanan
kesehatan yakni pada Seksi Farmasi, Makanan dan Minuman.
Tugas pokok seksi farmasi makanan dan minuman adalah sebagai berikut:
1. Menyusun dan melaksanakan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA),
Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA), dan Petunjuk Pelaksanaan
Kegiatan (PPK) seksi sumber daya kesehatan.
2. Melaksanakan supervisi dan pengelolaan dalam rangka rekomendasi
perizinan sarana farmakmin seperti apotek, Cabang Penyalur Alat
Kesehatan, Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT), Pangan Industri
Rumah Tangga (PIRT), dan Pedagang Eceran Obat (PEO).
a. Apotek
Dalam proses pendirian apotek, dinas kesehatan berperan dalam
pemeriksaaan kesiapan pendirian apotek berdasarkan perintah Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota . Berdasarkan PP No. 51 tentang Pekerjaan
Kefarmasian. Sebelum melaksanakan kegiatan di apotek, Apoteker
Pengelola Apotek (APA) wajib memiliki Surat Izin Apotek. Surat
Izin Apotek yang selanjutnya disingkat SIA adalah bukti tertulis yang
diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota kepada Apoteker
sebagai izin untuk menyelenggarakan Apotek. Masa berlaku SIA adalah 5
(lima) tahun dan dapat diperpanjang selama memenuhi persyaratan.
b. Pedagang Eceran Obat
Permohonan perizinan sarana pedagang eceran obat diajukan kepada
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat. Penerbitan izin
setiap pedagang eceran obat harus disampaikan tembusan oleh Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota kepada Menteri, Kepala Dinas

6
Kesehatan Propinsi serta Kepala Balai POM setempat (Kepmenkes No
1331, 2002). Izin usaha pedagang eceran obat berlaku selama 2 (dua)
tahun terhitung dari mulai tanggal ditetapkan dan 3 (tiga) bulan
sebelum masa berlaku izin berakhir harus mengajukan permohonan
perpanjangan izin pedagang eceran obat.
c. Usaha Obat Tradisional
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota berperan dalam perizinan
penyelenggaraan usaha obat tradisional seperti Usaha Mikro Obat
Tradisional (UMOT). Izin usaha obat tradisional berlaku seterusnya
selama industri dan usaha obat tradisional yang bersangkutan masih
berproduksi dan memenuhi ketentuan peraturan perundangundangan.
Permohonan Izin UMOT diajukan oleh pemohon kepada Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota (Permenkes RI No 006, 2012).
Izin UMOT diberikan kepada pemohon yang telah memenuhi
persyaratan. Permohonan izin UMOT dapat ditunda atau ditolak
apabila ternyata belum memenuhi persyaratan. Dalam hal penundaan
pemberian izin UMOT, maka kepada pemohon diberi kesempatan
untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi paling lama 6
(enam) bulan sejak diterimanya surat penundaan. UMOT yang telah
mendapat izin, apabila melakukan perubahan nama, alamat, atau
penanggungjawab tenaga teknis kefarmasian wajib melaporkan secara
tertulis kepada kepala dinas kesehatan kabupaten/kota dengan
tembusan kepada kepala balai POM setempat. UMOT wajib
menyampaikan laporan secara berkala setiap 6 (enam) bulan meliputi
jenis dan jumlah bahan baku yang digunakan, serta jenis, jumlah,
dan nilai hasil produksi. Laporan UMOT disampaikan kepada kepala
dinas kesehatan kabupaten/kota dengan tembusan kepada kepala balai
POM setempat.

7
d. Cabang Penyalur Alat Kesehatan/Sub Penyalur Alat Kesehatan
Cabang penyalur alat kesehatan adalah perwakilan usaha dari penyalur
alat kesehatan yang telah mendapat izin. Dalam hal ini apabila suatu
perusahaan atau distributor besar ingin melaksanakan atau memiliki
perwakilan usaha di suatu daerah, perusahaan atau distributor
tersebut dapat mengajukan perizinan sub penyalur alat kesehatan
kepada Dinas Kesehatan. Kebanyakan usaha penyalur alat kesehatan
yang ada saat ini dilakukan oleh perorangan tanpa keberadaan badan
usaha yang jelas. Artinya, usaha ini dilakukan oleh perorangan jika
mendapatkan suatu tender proyek peralatan kesehatan. Oleh karena
itu, pembinaan terhadap cabang penyalur alat kesehatan ini harus
dilakukan dengan ketat. Segala bentuk perubahan yang terjadi baik
fisik maupun non fisik wajib dilaporkan kepada Dinas Kesehatan
untuk diurus perizinan perubahan tersebut.
3. Melakukan Bimbingan, Pengawasan dan Pengendalian (Binwasdal)
terhadap sarana pelayanan kesehatan kefarmasian pemerintahan dan swasta.
Pembinaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan
dalam bentuk pemberian informasi, sosialisasi peraturan, memberi
penyegaran, memberikan bimbingan teknis secara langsung ke
lapangan maupun tidak langsung untuk meningkatkan konsistensi
petugas agar memenuhi persyaratan. Pemerintah daerah melakukan
pembinaan terhadap masyarakat dan terhadap setiap penyelenggara
kegiatan yang berhubungan dengan sumber daya kesehatan di bidang
kesehatan dan upaya kesehatan (UU RI No. 36, 2009).
Pembinaan yang dilakukan pemerintah diarahkan untuk memenuhi
kebutuhan setiap orang dalam memperoleh akses atas:
1. Sumber daya di bidang kesehatan.
2. Menggerakkan dan melaksanakan penyelenggaraan upaya
kesehatan; memfasilitasi dan menyelenggarakan fasilitas kesehatan
dan fasilitas pelayanan kesehatan.

8
3. Memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan perbekalan
kesehatan, termasuk sediaan farmasi dan alat kesehatan serta
makanan dan minuman.
4. Memenuhi kebutuhan gizi masyarakat sesuai dengan standar dan
persyaratan.
5. Melindungi masyarakat terhadap segala kemungkinan yang dapat
menimbulkan bahaya bagi kesehatan.
(UU RI No. 36, 2009).
Semua perizinan Sarana Kesehatan Farmakmin dalam memberikan
pelayanan atau operasionalnya selalu mempunyai tujuan yaitu untuk
memberikan kesehatan jasmani dan rohani bagi konsumen yang dilayani.
Oleh sebab itu, bila pengelola atau pemilik sarana kesehatan tersebut
tidak menjalankan seperti apa yang telah ditentukan dalam peraturan
perundang-undangan maka akan diberikan sanksi yang sesuai dengan
pelanggaran yang dilakukan. Sanksi yang akan diberikan bagi
pengelola atau pemilik yang tidak menjalankan peraturan perundang-
undangan atau pelanggaran dalam mengelola sarana kesehatan
Farmakmin dapat dibagi menjadi beberapa kriteria, yaitu:
1. Sanksi administratif berupa:
a. Peringatan.
b. Penghentian sementara kegiatan.
c. Pencabutan izin
2. Sanksi Pidana, diajukan ke pengadilan.
4. Melaksanakan pengelolaan obat dan rekapitulasi Laporan Pemakaian dan
Lembar Permintaan Obat (LPLPO) Puskesmas.
5. Melaksanakan pemantauan harga obat generik, dan persediaan cadangan
obat esensial.
6. Pembinaan produsen, distributor dan penggunaan obat, termasuk
narkotika, psikotropika dan zat aditif (NAPZA).
7. Melaksanakan pengelolaan laporan narkotika.

9
8. Melaksanakan pengelolaan penyuluhan keamanan pangan serta
memberikan sertifikat penyuluhan industri rumah tangga makanan dan
minuman (IRTP).
Seritifkat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga atau SPP-IRT. SPP-
IRT adalah jaminan tertulis yang diberikan oleh Bupati/Walikota
terhadap pangan produksi IRTP di wilayah kerjanya yang telah
memenuhi persyaratan pemberian SPP-IRT dalam rangka peredaran
Pangan Produksi IRTP.
9. Pengendalian mutu pelayanan kefarmasian komunitas, melalui saran,
rekomendasi perbaikan, penilaian, pemberian penghargaan, sanksi dan
rehabilitasi terhadap sarana farmasi, makanan, dan minuman.
10. Memfasilitasi penyelesaian permasalahan yang dilaporkan profesi dan
masyarakat.

10
2.4 Studi Kasus

Kasus 1

Pendistribusian Obat-obatan oleh Dinkes Mengecewakan


7, April, 2017
Koran Madura Satu Hati untuk Bangsa

Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan, Moh. Sahur (kanan) sedang mengecek obat-
obatan di Puskesmas Pademawu, Pamekasan.
PAMEKASAN, koranmadura.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daereh (DPRD)
Pamekasan, Madura, Jawa Timur, menginginkan pengadaan obat-obatan untuk
Puskesmas tidak lagi terpusat di Dinas Kesehatan (Dinkes) karena pendistribusiannya
dikeluhkan sejumlah puskesmas.Hal itu disampaikan Ketua Komisi IV DPRD
Pamekasan, Moh. Sahur. Menurutnya, dari inspeksi mendadak (sidak) yang
dilakukan ke beberapa puskemas selama ini, pendistribusian obat-obat dari Dinkes
dinilai sangat mengecewakan.
Keluhan itu bermunculan karena beberapa faktor, di antaranya sering
terlambat sampai ke puskesmas, juga tidak sesuai antara jenis obat-obatan yang
diajukan dengan yang diterima puskesmas, sehingga banyak obat-obat yang tidak
terpakai. “Dari sejumkah keluhan persoalan obat-obat ini, kami menilai pengelolaan

11
obat-obat di Dinkes buruk. Makanya, nanti kami akan minta penjelasan dan
pertanggungjawaban pihak Dinkes,” kata Sahur. Bahkan, tambah politisi PPP itu,
pengiriman obat yang didapat puskemas melebihi jumlah dari yang diajukan.
Akibatnya, banyak obat-obatan yang menumpuk di gudang puskesmas, karena
tidak habis terpakai, hingga obat masuk masa kadaluwarsa. “Sepertinya ada indikasi
pemaksaan penyaluran obat-obatan ke puskesmas, agar anggaran pengadaan obat-
obatan terserap. Makanya, kami ingin akan mencari aturan yang memperbolehkan
puskesmas melakukan pengadaan obat sendiri sesuai kebutuhannya,” ungkapnya.
(ALI SYAHRONI/RAH)

Permasalahan
1. Permasalahan:Pengadaan obat yang sering terlambat sampai ke puskesmas
Analisa dan Solusi:
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota pastinya sudah memberikan tenggang waktu
kepada Puskesmas didaerahnya untuk melakukan pengadaan dan perencanaan obat-
obatan yang akan dikirimkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Jika memang dari
pihak Puskesmas telat memberikan daftar obat sesuai dengan waktu yang sudah
ditentukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota maka obat yang datang pun akan
telat karena Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota telat pula untuk mengirimkan daftar
obat ke Instalasi Farmasi Kabupaten.

2. Permasalahan:Ketidaksesuaian antara jenis obat-obatan yang diajukan dengan


yang diterima puskesmas, sehingga banyak obat-obat yang tidak
terpakai karena yang dikirimkan DinKes Kabupaten/Kotaberlebih
akibatnya membuat obat masuk masa kadaluarsanya.
Analisa:
Puskesmas melakukan pengajuan obat-obatan ke Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota dengan mempertimbangkan pola penyakit, pola konsumsi, obat
periode sebelumnya, data mutasi obat, dan rencana pengembangan menggunakan
Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO). Selanjutnya Instalasi
Farmasi Kabupaten/Kota akan melakukan kompilasi dan analisa terhadap kebutuhan

12
obat Puskesmas di wilayah kerjanya, menyesuaikan pada anggaran yang tersedia dan
memperhitungkan waktu kekosongan obat, buffer stock, serta menghindari stok
berlebih.
Permintaan diajukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah daerah setempat.
Jadi, berdasarkan analisa tersebut pengadaan obat dari Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota telah melakukan pelanggaran karena ditemukan ketidaksesuaian
permintaan obat yang diminta Puskemas dengan yang diberikan oleh Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota.
Solusi :
Petugas penerimaan di Puskesmas wajib melakukan pengecekan terhadap Obat
dan Bahan Medis Habis Pakai yang diserahkan, mencakup jumlah kemasan/peti, jenis
dan jumlah obat, bentuk obat sesuai dengan isi dokumen (LPLPO), ditandatangani
oleh petugas penerima, dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. Bila tidak memenuhi
syarat, maka petugas penerima dapat mengajukan keberatan dengan mengembalikan
obat ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Seharusnya dari pihak Dinas Kesehatan
harus memberikan obat yang sesuai dengan yang ditulis dalam LPLPO karena
pengadaan dan perencanaan obat dari Puskesmas telah disusun sesuai dengan
kebutuhan.(Permenkes Nomor 30 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Puskesmas)

3. Permasalahan:Pengelolaan obat diDinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang kurang


baik sehingga terjadi pemaksaan distribusi obat agar anggaran
pengadaan obat-obatan terserap.
Analisa:
Biaya pengadaan obat dan kesehatan di Dinkes Kabupaten/Kota diperoleh
darisumber anggaran :
a. APBN : Program Kesehatan, Program Pelayanan Keluarga Miskin
b. APBD I
c. Dana Alokasi Umum (DAU)/APBD II
d. Sumber-sumber lain.

13
Berkaitan dengan hal tersebut, maka diperlukan koordinasi dan keterpaduan
dalam hal perencanaan pengadaan obat dan anggaran biaya. Jika terjadi pemaksaan
distribusi obat yang berlebih dari Dinkes Kabupaten/Kota ke Puskesmas
dimungkinkan adanya ketidak sesuaian antara obat yang diadakan dan anggaran.
Pengadaan obat yang berlebih dan tidak sesuai dengan permintaan, maka anggaran
yang dibutuhkan semakin banyak akibatnya seperti pada kasus diatas. Obat yang
tidak diminta diberikan oleh Dinkes Kabupaten/Kota yang mengakibatkan obat tidak
terpakai dan masuk dalam masa kadaluarsa.
Solusi:
Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melakukan pengadaan obat sesaui
dengan perencanaan obat yang diminta oleh Puskesmas. Diharapkan dengan adanya
kesesuaian antara pengadaan obat dan anggaran dapat memberikan manfaat yaitu:
a. Menghindari tumpang tindih penggunaan anggaran
b. Keterpaduan dalam evaluasi, penggunaan dan perencanan
c. Kesamaan persepsi antara pemakai obat dan penyedia anggaran
d. Estimasi kebutuhan obat lebih cepat
e. Koordinasi antara penyedia anggaran dan pemakai obat
f. Pemanfaatan dana pengadaan obat dapat lebih optimal
(Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 1121/Menkes/SK/XII/2008 tentang
Pedoman Teknis Pengadaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan untuk Pelayanan
Kesehatan Dasar)

14
Kasus 2

DPRD Jember Temukan Ribuan Obat Kadaluarsa di Gudang Farmasi Dinkes

Kamis 21 Januari 2016, 14:30 WIB


Yakub Mulyono - detikNews

Jember - Komisi D DPRD Jember menemukan 1.100 botol obat-obatan kadaluarsa,


saat sidak di gudang farmasi Dinas Kesehatan setempat, Kamis (21/1/2016).Ketua
Komisi D DPRD Jember, Muhammad Hafidi terlihat marah saat menemukan ribuan
botol obat yang sudah seharusnya tidak terpakai tersebut. Obat tersebut yakni jenis
obat penyembuh luka atau obat luar."Ini bagaimana kok masih ada yang
kadaluarsa.Padahal tadi bilang sudah dipastikan bahwa semua obat masih dalam batas
waktu pemakaian," tegas Hafidi.Dia menyampaikan, DPRD Jember telah
menganggarkan untuk pengadaan obat setiap tahunnya.Hal ini ditujukan agar ada
pembaruan obat-obatan setiap tahunnya.Selain itu, obat yang kadaluarsa juga
berbahaya bagi pasien.
Anggaran pengadaan obat di Jember untuk setiap tahunnya mengalami
peningkatan. Tahun 2014 sebesar Rp 2 Miliar, tahun 2015 Rp 5 miliar dan untuk
tahun 2016 sebesar Rp 15 miliar. Hafidi menambahkan, dalam waktu dekat pihaknya
akan memanggil Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jember untuk mengklarifikasi
persoalan ini. Pasalnya, pihaknya selaku pengawas kebijakan patut mengetahui

15
penerapan kebijakan secara detail."Selasa ini atau secepatnya akan kami panggil
pihak terkait," tandasnya.
Sementara PLT Kepala Gudang Farmasi Dinas Kesehatan Jember,
Wijayaningsih saat dikonfirmasi mengatakan obat yang kadaluarsa itu sengaja
disimpan karena akan diganti oleh rekanan."Obat itu kami simpan untuk selanjutnya
ditukar dengan obat serupa dengan obat yang masa pemakaiannya lebih lama," kata
Wijayaningsih di lokasi.Dia menuturkan, obat tersebut yaitu H2O2 3% untuk
pengobatan luar seperti luka bakar. Pihaknya menegaskan tidak akan
mendistribusikan obat – obatan tersebut ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)
Jember. "Kami masih menunggu pengiriman obat dari rekanan," katanya.
Wijayaningsih justru mengeluhkan minimnya anggaran yang disediakan oleh
DPRD dan Pemkab Jember.Menurutnya, anggaran untuk pengadaan obat minimal
sebesar Rp 12 miliar per tahun."Sebelumnya hanya Rp 2 Miliar, Rp 5 Miliar. Untuk
tahun 2016 ini saja yang sudah naik menjadi Rp 15 Miliar," jelasnya.(fat/fat)

Permasalahan :Penyimpanan 1.100 botol cairan pembersih luka yang kadaluarsa di


gudang farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten Jember
Analisa :
Penyimpanan obat kadaluarsa yang disimpan di gudang farmasi dinas
kesehatan terjadi dengan alasan obat-obat tersebut disimpan untuk selanjutnya ditukar
dengan obat serupa dengan obat yang masa pemakaiannya lebih lama dan kepala
gudang farmasi Dinas Kesehatan Jember mengungkapkan masih menunggu
pengiriman obat dari rekanan.Obat tersebut sengaja disimpan terkait dengan
minimalnya anggaran yang diberikan, sehingga pihak petugas gudang farmasi
menunggu untuk menukarkan obat tersebut untuk memaksimalkan pelayanan dan
meminimalisir anggaran yang dikeluarkan.
Selain itu terjadi kesalahpahaman antara petugas gudang dengan anggota
dewan, buktinya setelah dikonfirmasi sepihak petugas gudang menyatakan bahwa
menyadari obat tersebut tidak layak pakai, namun demikian ada sedikit kelalaian

16
kepada petugas gudang dimana obat tersebut yang kadaluarsa tidak ditempatkan
secara khusus (dipisahkan dengan obat yang layak pakai).

Solusi :
Kepmenkes No.59 tahun 2011 tentang Pedoman Pengelolaan Obat dan
Perbekalan Kesehatan menyebutkan terjadinya obat dan perbekalan kesehatan
kadaluwarsa mencerminkan ketidak tepatan bantuan dan/atau kurang baik sistem
distribusi dan/atau kurangnya pengamatan mutu dalam penyimpanan obat dan
perbekalan kesehatan dan atau perubahan pola penyakit. Kemudian pada
PERMENKES No. 73 tahun 2016 menyatakan bahwa obat kadaluarsa atau rusak
harus dimusnahkan sesuai dengan jenis dan bentuk sediaan.Pemusnahan Obat
kadaluwarsa atau rusak dapat dilakukan oleh Apoteker dan disaksikan oleh Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota. Pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi dan Bahan
Medis Habis Pakai yang tidak dapat digunakan harus dilaksanakan dengan cara yang
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Berdasarkan pernyataan tersebut seharusnya yang terjadi pada kasus ini, dari
gudang farmasi bisa langsung memusnahkan obat yang kadaluarsa tersebut, namun
mereka tidak melakukan hal tersebut dikarenakan minimnya anggaran yang diberikan
sehingga untuk memaksimalkan pelayanan obat tersebut sengaja disimpan untuk
ditukarkan kepada rekanan dengan obat baru yang masa penggunaanya lebih lama.
Obat kadaluwarsa seharusnya dapat dicegah melalui koordinasi dengan
pemerintah daerah atau pemerintah kota lain yang membutuhkan jenis obat tersebut
ketika beberapa bulan akan memasuki masa expired. Sehingga obat dapat
dimanfaatkan sebelum masa kadalursa mengingat biaya pengadaan obat yang tidak
murah dan waktu pengajuan pengadaan obat yang cukup membutuhkan banyak
waktu.Apoteker juga dapat menghitung jumlah kebutuhan masing-masing obat
dengan melihat jumlah permintaan antara rentang waktu tertentu. Sehingga obat yang
diterima tidak akan berlebih sehingga dapat meminimalisir terjadinya obat yang
kadaluarsa.

17
Selain itu, penyimpanan dan penanganan obat kadaluarsa di gudang farmasi
harus hati-hati agar obat kadaluwarsa tidak dibuang atau disalurkan ke pihak yang
tidak bertanggung jawab.Karena di daerah Bekasi obat-obatan bekas atau
kedaluwarsa yang dikumpulkan oleh para pemulung di sekitar TPST Bantargebang
dipasarkan kembali ke toko-toko obat yang berada di Pasar Pramuka, Jakarta Timur.

18
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa :


1. Dinas kesehatan adalah unsur pelaksana otonomi daerah yang dipimpin oleh
seorang Kepala Dinas yangbertanggung jawab melaksanakan urusan di bidang
kesehatan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan.
2. Peran Apoteker di Dinas Kesehatan yaitu mempunyai wewenang untuk
menyusun perencanaan, merumuskan kebijakan teknis operasional,
melaksanakan pembinaan teknis produksi, pengadaan, distribusi penggunaan
sediaan farmasi, narkotika, psikotropika, zat adiktif dan bahan berbahaya,
kosmetika, alat kesehatan, makanan dan minuman.

19
DAFTAR PUSTAKA

Dinas Kesehatan Kabupaten. 2014. Profil Kesehatan Kabupaten Lumajang.


Lumajang: Dinas Kesehatan Kabupaten.

Keputusan Menteri Kesehatan No. 1331/Menkes/SK/X/2002 tentang Perubahan


Peraturan Menteri Kesehatan No. 167/Kab/B.VII/1972 tentang Pedagang
Eceran Obat

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 59 tahun 2011 tentang Pedoman


Pengelolaan Obat dan Perbekalan Kesehatan

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 1121/Menkes/SK/XII/2008 tentang


Pedoman Teknis Pengadaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan untuk
Pelayanan Kesehatan Dasar

Mulyono, Yakub. 2016. DPRD Jember Temukan Ribuan Obat Kadaluarsa di Gudang
Farmasi Dinkes.https://news.detik.com/jawatimur/3123872/dprd-jember-
temukan-ribuan-obat-kadaluarsa-di-gudang-farmasi-dinkes (Diaskes tanggal
11-9-2017)

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 006 Tahun 2012 Tentang
Industri dan Usaha Obat Tradisional

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 73 tahun 2016 tentang


Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2014 tentang


Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 49 Tahun 2016 Tentang


Pedoman Teknis Pengorganisasian Dinas Kesehatan Provinsi dan
Kabupaten/Kota

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan


Kefarmasian

Syahroni, Ali. 2017. Pendistribusian Obat-obatan oleh Dinkes


Mengecewakan.http://www.koranmadura.com/2017/04/pendistribusian-obat-
obatan-oleh-dinkes-mengecewakan/. (Diaskes tanggal 10-9-2017)

Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan

20