Anda di halaman 1dari 13

1

Gambaran Pola Asuh Makan Balita Dengan Status Gizi Balita Bawah Garis Merah
(BGM) di Kelurahan Teluk Tiram Kecamatan Banjarmasin Barat
Monica Esabilita , Nur Ankia
Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banjarmasin
Jalan Haji Mistar Cokrokusumo No.1A Banjarbaru 70714
Telp : (0511) 4773267 – 4780516 – 4781619 Fax (0511) 4772288
e-mail : poltekkes_banjarmasin@yahoo.co.id

ABSTRAK

Latar belakang. Di wilayah kerja puskesmas Teluk Tiram Kecamatan Banjarmasin Barat
terdapat 2 Kelurahan yaitu kelurahan .Telawang dan Teluk Tiram. Hasil penimbangan bulan
Februari di posyandu pada wilayah kerja puskesmas teluk tiram didapatkan jumlah balita
yang ditimbang berdasarkan data penimbangan balita di posyandu pada bulan Februari
didapatkan pada kelurahan teluk tiram berjumlah 476 orang dan kelurahan telawang
348orang. Dari jumlah tersebut didapatkan jumlah balita yang termasuk katagori BGM pada
bulan februari 2018 paling banyak terdapat di Kelurahan Teluk Tiram dengan jumlah balita
BGM 13 orang (1.5%) sedangkan di kelurahan Telwang dengan jumlah balita BGM 7 orang
(0.8%).
Tujuan. untuk mengetahui mengenai Gambaran Pola Asuh Makan Balita Dengan Status Gizi

Balita Bawah Garis Merah (BGM) di Kelurahan Teluk Tiram Kecamatan Banjarmasin Barat.

Metode. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan rancang bangun penelitian adalah Cross
Sectional . Jumlah sampel 12 Balita BGM yang dilaksanakan pada tanggal 7 Maret sampai
13 Maret tahun 2018. Data dianalisis secara deskriptif.
Hasil. Pola asuh Makan Balita masih sangat kurang.

Kata Kunci : Posyandu,BGM, Pola Asuh makan Balita.


2

ABSTRACT

Background. In the work area of Teluk Tiram Public Health Center, Banjarmasin Barat
District, there are 2 Kelurahan, Kelurahan, Tamel and Teluk Tiram. The result of weighing
the month of February at posyandu in the work area of Oyster Bay Puskesmas was found the
number of children under five weighing based on weighing data of balita at posyandu in
February was found in oyster bay village amounted to 476 people and 348orang telawang
kelurahan. From that number, the number of children under five years including BGM
category in February 2018 is mostly found in Teluk Tiram village with BGM number of 13
people (1.5%) while in Kelurahan Telwang with BGM 7 children (0.8%).
Aim. to know about the Illustration Pattern of Fostering Toddlers With Nutritional Status of
Under-Fives Under the Red Line (BGM) in Teluk Tiram Village, Banjarmasin Barat District.
.
Objective. The purpose of Picture of Foster Pattern of Toddlers With Nutritional Status of
Under-Fives Under the Red Line (BGM) in Teluk Tiram Village, Banjarmasin Barat District

Method. The type of this research is descriptive with the research design is Cross Sectional.
Number of samples of 12 BGM Toddlers conducted on March 7 to March 13, 2018. Data
were analyzed descriptively

Results. Foster pattern Toddlers are still very less

Key Words : Posyandu, BGM, Foster Pattern of Toddlers


3

Pendahuluan Tingkat sosial ekonomi


Di Indonesia dan di negara mempengaruhi kemampuan keluarga
berkembang masalah gizi pada untuk mencukupi kebutuhan zat gizi
umumnya masih didominasi oleh balita, disamping itu, keadaan sosial
masalah Kurang Energi Protein (KEP), ekonomi juga berpengaruh pada
masalah Anemia Besi,masalah pemilihan macam makanan tambahan
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium dan waktu pemberiannya serta
(GAKY), Masalah Kurang Vitamin A kebiasaan hidup sehat. Hal ini sangat
(KVA),dan masalah obesitas terutama di berpengaruh terhadap status gizi balita
kota-kota besar. (Ahmad, 2000).
Masalah gizi kurang pada Status gizi disebabkan tingkat
umumnya disebabkan oleh kemiskinan, kesehatan seseorang atau masyarakat
persediaan pangan, sanitasi lingkungan yang dipengaruhi oleh makanan yang
yang kurang baik, kurangnya dikonsumsi. Status gizi tersebut
pengetahuan masyarakat tentang gizi, merupakan akibat jangka panjang dari
dan adanya daerah miskin keadaan konsumsi makanan setiap hari
Iodium.Sebaliknya masalah gizi lebih (Apriadji, 1986).
disebabkan oleh kemajuan ekonomi KEP nyata istilah yang digunakan
pada lapisan masyarakat tertentu disertai di lapangan yang berarti sama dengan
dengan kurangnya pengetahuan tentang KEP sedang dan berat, pada KMS
gizi, menu seimbang dan kesehatan berada di garis merah atau bawah garis
(Almatsier, 2001). merah (BGM). Penentuan KEP di
Disamping itu pula,berbagai faktor tingkat Puskesmas yang umum
sosial ekonomi ikut mempengaruhi dilakukan adalah dengan hanya
pertumbuhan anak. Faktor sosial menimbang berat badan balita
ekonomi tersebut antara lain : dibandingkan dengan umur balita
pendidikan, pekerjaan, budaya, (Dep.Kes RI 1999).
pendapatan keluarga, besarnya jumlah Kekurangan gizi pada balita juga
anggota keluarga. Faktor tersebut di atas dapat terjadi karena kurangnya pola
berinteraksi satu dengan yang lainnya asuh pada balita, prilaku ibu yang
sehingga dapat mempengaruhi masukan kurang baik terhadap perawatan
zat gizi dan infeksi pada anak, yang kesehatan balitanya, kebersihan diri dan
mengakibatkan pertumbuhan terganggu sanitasi lingkungan, praktek menyusui
(Supariasa dkk, 2002).
4

dan pemberian makanan pendamping adalah seluruh balita yang ditimbang berat
ASI yang terlalu dini. badannya dan yang berkunjung di Posyandu
Di wilayah kerja puskesmas Teluk wilayah kerja PuskesmasTeluk Tiram.
Tiram Kecamatan Banjarmasin Barat
terdapat 2 Kelurahan yaitu kelurahan Hasil

.Telawang dan Teluk Tiram. Hasil Gambaran Pola Asuh Makan Balita
penimbangan bulan Februari di Dengan Status Gizi Balita Bawah Garis
posyandu pada wilayah kerja puskesmas Merah (BGM) di Kelurahan Teluk

teluk tiram didapatkan jumlah balita Tiram Kecamatan Banjarmasin Barat


yang ditimbang berdasarkan data
penimbangan balita di posyandu pada 1. Karakteristik Responden

bulan Februari didapatkan pada Karakteristik anak balita meliputi

kelurahan teluk tiram berjumlah 476 umur dan jenis kelamin anak balita.

orang dan kelurahan telawang 348orang. Umur anak balita merupakan lama

Dari jumlah tersebut didapatkan jumlah hidup anak yang menjadi responden

balita yang termasuk katagori BGM penelitian yang terhitung mulai saat

pada bulan februari 2018 paling banyak lahir sampai dengan bulan terakhir.

terdapat di Kelurahan Teluk Tiram Sedangkan jenis kelamin anak balita

dengan jumlah balita BGM 13 orang merupakan keadaan fisiologis dan

(1.5%) sedangkan di kelurahan Telwang biologis yang membedakan antara

dengan jumlah balita BGM 7 orang laki-laki dan perempuan. Distribusi

(0.8%).. karakteristik balita Garis Merah

Dari data diatas maka kami tertarik untuk (BGM) yang ditimbang diposyandu

melakukan penelitian mengenai Gambaran pada bulan februari di wilayah kerja

Pola Asuh Makan Balita Dengan Status Gizi Puskesmas Teluk Tiram dapat dilihat

Balita Bawah Garis Merah (BGM) di pada tabel 4.1 berikut ini:

Kelurahan Teluk Tiram Kecamatan Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik

Banjarmasin Barat. Garis Merah (BGM) di Wilayah


Metode Penelitian Kerja Puskesmas Teluk Tiram Tahun
Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif 2018
dengan pendekatan cross sectional. Penelitian
ini dilaksanakan di Kelurahan Teluk Tiram pada
tanggal 7 Maret 2018 sampai dengan 12
Maret 2018. Populasi dalam penelitian ini
5

Frekuensi asupan gizi tersebut tidak tercukupi maka


Variabel akan terjadi permasalahan gizi.
N %
Sebagaimana diketahui, masalah gizi dan
Umur tumbuh kembang anak terjadi di setiap
0 – 5bulan 0 0% siklus kehidupan, sejak dalam
6 - 11bulan 0 0% kandungan, bayi, anak, dewasa dan lanjut
12 – 23 bulan 5 41.67% usia. Terutama pada masa periode dua
24 – 59 bulan 7 58.33% tahun pertama kehidupan yang

Total 12 100% merupakan masa kritis, karena pada masa

Jenis Kelamin ini terjadi pertumbuhan dan


perkembangan yang sangat pesat.
Laki-laki 9 75%
Gangguan gizi yang terjadi pada periode
Perempuan 3 25%
ini bersifat permanen, artinya tidak dapat
Total 12 100%
dipulihkan walaupun kebutuhan gizi
pada masa selanjutnya terpenuhi.
Karakteristik balita
Berdasarkan penelitian di lapangan
berdasarkan umur balita
jumlah anak balita paling banyak pada
diperoleh hasil bahwa umur
rentang umur 13 - 24 bulan yaitu 3 anak
balita mayoritas berada pada
(60%). Menurut Muaris (2006), bahwa
kelompok umur 24 - 59 bulan
pertumbuhan seorang anak pada usia
yaitu 7 anak (58.33%).
balita sangat pesat sehingga
Sedangkan untuk karakteristik
memerlukanasupan gizi yang sesuai
anak berdasarkan jenis
dengan kebutuhannya. Apabila asupan
kelamin paling mayoritas
gizi pada masa balita tidak tercukupi
Laki-laki yaitu 9 anak (75%).
maka akan mengarah pada kondisi
kenaikan berat badan yang tidak
1. Karakteristik Responden
memadai sehingga anak balita menjadi
a. Umur Balita
anak balita BGM. Selain itu, usia balita
Usia balita terutama usia 1-3 tahun
terutama usia 1-3 tahun ini balita mulai
merupakan masa pertumbuhan yang
banyak beraktivitas seperti berjalan atau
cepat (growth sport), baik fisik maupun
belajar berjalan, bermain di dalam dan di
otak sehingga memerlukan kebutuhan
luar rumah, makan-makanan yang lebih
gizi yang paling banyak dibandingkan
beragam, dan lain-lain. Disini ada sedikit
masa-masa berikutnya dan apabila
penyesuain dengan hal-hal baru yang
6

mulai dikenalnya pada umur tersebut, makanan tambahan atau pada masa ini
misalnya penyesuaian terhadap seharusnya anak masih diberi ASI
lingkungan. tetapi tidak diberikan ASI dan juga
Pada usia ini makanan yang makanan yang diberikan kurang,
mereka konsumsi pun mengalami sehingga anak mengalami gizi buruk.
peralihan seiring dengan Sementara pada masa ini bayi
pertambahan umur, sehingga ada membutuhkan banyak energi untuk
beberapa balita yang rewel atau proses tumbuh kembangnya.
tidak suka terhadap makanan Menurut Zigler dan Stevenson
tertentu sebagai menu dalam Desmita (2008), menyebutkan
makanannya sehari-hari, sehingga setelah lahir hingga usia 5 tahun, sel-sel
anak juga sering mengalami otak yang belum matang dan jaringan
kesulitan makan. Apabila urat saraf yang masih lemah terus
kebutuhan nutrisi balita tidak tumbuh dengan cepatnya hingga
ditangani dengan baik maka akan mencapai kematangan seiring
mengalami tumbuh kembang pertumbuhan fisiknya. Periode ini
yang kurang dan mudah terjadi disebut sebagai periode kritis
kurang energi protein yang pertumbuhan yaitu suatu periode dimana
mengarah pada kondisi gizi buruk pertumbuhan menjadi hal yang sangat
atau kurang (Muaris 2006). sensitif atau rentan berlangsung ketika
Menurut hasil penelitian yang anak masih berada dalam kandungan
dilakukan oleh Nahak, dkk (2012) anak hingga diatas 2 tahun pertama kehidupan.
yang berumur 12-60 bulan lebih banyak Periode ini merupakan periode yang
terkena gizi buruk daripada anak yang sangat penting yang akan berdampak
berusia 6-11 bulan karena pada usia ini pada perkembangan berikutnya.
anak banyak bermain dan energi atau
semua zat gizi dibutuhkan hanya dari b. Jenis Kelamin
luar. Sedangkan pada masa ini, energi Faktor jenis kelamin pada anak
yang dibutuhkan semakin banyak untuk balita dapat berpengaruh terhadap status
proses tumbuh kembangnya dengan gizi. Berdasarkan hasil penelitian
bertambahnya usia. Anak yang menunjukkan bahwa jenis kelamin
berumur 6-11 bulan yang terkena gizi paling banyak adalah laki-laki yaitu 9
buruk dikarenakan dimana masa ini balita (75%). Hasil penelitian ini sesuai
merupakan masa peralihan dari ASI ke dengan penelitian yang dilakukan oleh
7

Chasanah, dkk (2014) sebagian besar Selain itu penelitian yang dilakukan
anak responden berjenis kelamin laki- oleh Dewi (2008), menunjukkan bahwa
laki yaitu sebanyak 30 anak (52.6%) sebanyak 61,6% anak balita perempuan
sedangkan perempuan sejumlah 27 memiliki nafsu makan yang kurang
balita (47.4%). sehingga mempengaruhi pola konsumsi
Menurut Almatsier (2005), tingkat dan tingkat konsumsi yang akan
kebutuhan pada anak laki-laki lebih berpengaruh terhadap status gizi anak
banyak jika dibandingkan dengan yang pada akhirnya dapat berisiko
perempuan. Begitu juga dengan terhadap terjadinya Kurang Energi
kebutuhan energi sehingga anak laki- Protein pada anak balita.
laki mempunyai peluang untuk 2. Pola Asuh Makan Balita
menderita KEP yang lebih tinggi a. Riwayat Anak
daripada perempuan apabila kebutuhan
Pola Asuh Makan Balita meliputi
akan protein dan energinya tidak
Riwayat Anak dan Pola Konsumsi
terpenuhi dengan baik. Kebutuhan yang
Anak. Pola Asuh Makan Balita di bulan
tinggi disebabkan aktivitas anak laki-
Februari 2018 di wilayah kerja
laki lebih tinggi dibandingkan dengan
Puskesmas Teluk Tiram bahwa ada 4
anak perempuan sehingga
responden yang dalam hal riwayat anak
membutuhkan gizi yang tinggi. Hal
ibu menerapkan ASI Ekslusif dari umur
tersebut juga dapat terjadi lebih banyak
0-6 bulan dan pada usia lebih 6 bulan
pada perempuan. Tingkat aktifitas pada
memberikan MP ASI, serta rutin
anak perempuan lebih sedikit
membawa anaknya ke posyandu, akan
dibandingkan anak laki-laki, sehingga
tetapi masih banyak ibu yang tidak
energi yang digunakan untuk
memperhatikan anaknya dalam hal
beraktivitas juga kecil, hal ini
riwayat anak karena masih kurangnya
berpengaruh terhadap asupan makan
perhatian ibu yaitu 8 responden anak
sehari-hari yang relatif lebih sedikit
masih tidak diberikan ASI Ekslusif,
daripada anak laki-laki.
serta kurangnya pengetahuan ibu dalam
Hasil penelitian ini tidak sesuai
hal pemberian MPASI yaitu
dengan penelitian yang dilakukan oleh
berdasarkan wawancara didapatkan ada
Suryono dan Supardi (2004), yang
beberapa ibu yang mengatakan anaknya
menyatakan bahwa jumlah anak balita
baru lahir sudah dikasih pisang, dan
yang mengalami KEP maupun Non-
biscuit. Hal ini dapat diindikasikan
KEP mayoritas perempuan (58,5%).
8

kurang berhasilnya dalam intervensi gizi (makan pagi, siang dan sore) serta dua
balita di kelurahan teluk tiram adalah kali makan selingan, berikan susu dalam
kurang aktifnya ibu dalam membawa bentuk minuman sekali sehari, yaitu
anaknya ke posyandu untuk menimbang pada malam hari sebelum tidur.
berat badan, dan kurang pengetahuan Hal ini dapat diindikasikan kurang
ibu akan pentingnya pemberian ASI berhasilnya pola konsumsi ibu terhadap
Eksklusif .Hal ini sejalan pendapat intervensi gizi balita di kelurahan teluk
Lailiyana, 2010 dengan Masa balita tiram adalah kurangnya perhatian ibu
adalah masa pertumbuhan dan terhadap anaknya dalam pemberian
perkembangan yang pesat, untuk itu makanan (Pola Asuh Ibu terhadap anak
kebutuhan akan zat gizi yang tinggi kurang baik) .
harus terpenuhi. Masa balita juga b. Riwayat Konsumsi
merupakan masa yang rentan Pola asuh makan balita menurut
mengalami masalah gizi manfaat zat riwayat konsumsi berdasarkan hasil
gizi bagi balita: 1.) untuk proses wawancara didapatkan 12 responden ibu
pertumbuhan dan perkembangan yang yang memiliki anak BGM untuk pola
optimal 2.) memelihara kesehatan dan makan yaitu anaknya masih tidak teratur
memulihkan kesehatan bila sakit 3.) pola makannya (kadang-kadang), untuk
melaksanaakan berbagai aktivitas 4.) kebiasaan makannya masih sangat
mendidik kebiasaan yang baik dengan kurang dan masih sangat tidak
menyukai makanan yang mengandung diperhatikan ibunya menurut salah satu
gizi yang di perlukan oleh tubuh. Pola responden “saya sih dek, cuman
asuh merupakan sikap dan perilaku memasakkan terus saya tidak
orang tua dalam hal kedekatannya menyediakan makan, malah anak saya
dengan anak, salah satunya yaitu cara saja yang ngambil kapan dan berapa
pemberian makanan dan jadwal makan banyak atau tidaknya anak saya mau
kepada anak, tetapi banyak orang tua makannya”. Jadi, dapat di simpulkan
yang kurang memperhatikan cara anak memiliki kebiasan makan sangat
pemberian makanan dan jadwal kurang. Hal ini dapat diindikasikan
makanan kepada anak, sehingga anak kurang berhasilnya dalam intervensi gizi
malas untuk makan. Menurut balita di kelurahan teluk tiram adalah
Sulistyoningsih (2010). Menurut adanya status gizi balita BGM pada
Sulistyoningsih (2010), Pola makan balita tidak hanya dari karakteristik anak
terdiri atas tiga kali makan utama akan tetapi faktor lain turut serta dalam
9

status gizi balita BGM antara lain faktor baik.Berbeda dengan seorang ibu yang
dari ibu balita yang kurang disiplin pengetahuannya rendah tentang gizi
dalam pemberian diet pada bayi/balita balita, maka dalam pemberian makan
yaitu meliputi Riwayat Konsumsi serta waktu maupun frekuensi makan
Makan Anak. Sesuai dengan Teori yaitu pun akan kurang teratur karena tidak
: mempunyai pedoman gizi yang baik,
1) Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi sehingga status gizi dari balita pun akan
Pola Asuh Makan Balita semakin rendah (Mulyaningsih, 2008).
a. Pengetahuan Ibu mengenai b. Pendidikan
makanan yang bergizi Peranan ibu sangat penting dalam
Pengetahuan merupakan hasil dari penyediaan makanan bagi anaknya.
tahu, dan ini terjadi setelah orang Pendidikan ibu sangat menentukan
melakukan penginderaan terhadap suatu dalam pilihan makanan dan jenis
objek tertentu. Penginderaan terjadi makanan yang dikonsumsi oleh anak
melalui pancaindra manusia, yakni indra dan anggota keluarga lainnya.
penglihatan, pendengaran, penciuman, Pendidikan gizi ibu bertujuan
rasa dan raba. Sebagian besar meningkatkan penggunaan sumber daya
pengetahuan manusia diperoleh melalui makanan yang tersedia. Hal ini dapat
mata dan telinga. Pengetahuan atau diartikan bahwa tingkat kecukupan zat
kognitif merupakan domain yang sangat gizi pada anak tinggi bila pendidikan
penting dalam membentuk tindakan ibu tinggi (Almatsier, 2011)
seseorang (Notoatmodjo, 2010). Tingkatan pendidikan menurut
Pengetahuan ibu tentang gizi balita Undang-Undang No 20 Tahun 2003
merupakan titik penting yang adalah :
menentukan pola makan balita yang
1. Pendidikan dasar/rendah ( SD-
nantinya akan menentukan status gizi
SMP/MTs)
balita. Seorang ibu yang memiliki
2. Pendidikan Menengah
pengetahuan tinggi tentang gizi balita
(SMA/SMK)
akan mampu memilih jenis bahan yang
3. Pendidikan Tinggi (D3/S1)
akan digunakan untuk memberi makan
Pendidikan membentuk suatu nilai
balitanya. Demikian juga dalam
tertentu bagi manusia, terutama dalam
memilih frekuensi serta waktu makan
membuka pikiran serta menerima hal-
bagi balita,sehingga kebutuhan nutrisi
hal baru dan juga cara berfikir secara
balita akan terpenuhi dengan
10

ilmiah. Pendidikan mengajarkan rumah tangga yang kemudian akan


manusia untuk dapat berfikir secara digunakan untuk memenuhi kebutuhan
obyektif, hal mana yang akan dapat keluarga, seperti pangan yang bergizi
memberikan kemampuan baginya untuk dan perawatan kesehatan. Jadi, terdapat
dapat menilai, apakah kebudayaan hubungan antara konsumsi pangan dan
masyarakat akan dapat memenuhi status ekonomi rumah tangga serta
kebutuhan atau tidak (Soekirman,2004). status gizi masyarakat (Almatsier,
Tingkat pendidikan turut pula 2011).
menentukan mudah tidaknya seseorang Tingkat pendapatan akan
menyerap dan memahami pengetahuan menentukan jenis dan ragam makanan
gizi yang mereka peroleh. Keadaan ini yang akan dibeli dengan uang
akan mencegah masalah gizi yang tidak tambahan. Keluarga dengan penghasilan
diinginkan (Benny A. Kodyat, 2007). rendah akan menggunakan sebagian
Pendidikan ibu merupakan faktor besar dari keuangannya untuk membeli
yang sangat penting. Tinggi rendahnya makanan dan bahan makanan.
tingkat pendidikan ibu erat kaitannya Penghasilan yang rendah berarti rendah
dengan tingkat pengetahuan terhadap pula jumlah uang yang akan
perawatan kesehatan. Hal ini bisa dibelanjakan untuk makanan, sehingga
dijadikan landasan untuk membedakan bahan makanan yang dibeli untuk
metode penyuluhan yang tepat. Dari keluarga tersebut tidak mencukupi
kepentingan gizi keluarga, pendidikan untuk mendapat dan memelihara
diperlukan agar seseorang lebih tanggap kesehatan seluruh keluarga. Apabila
terhadap adanya masalah gizi didalam pendapatan meningkat, maka akan
keluarga dan bisa mengambil tindakan terjadi perubahan dalam susunan
secepatnya (Suhardjo, 2008). makanan, karena peningkatan
c. Pekerjaan pendapatan tersebut memungkinkan
Status ekonomi rumah tangga dapat mereka mampu membeli pangan yang
dilihat dari pekerjaan yang dilakukan berkualitas dan berkuantitas lebih baik.
oleh kepala rumah tangga maupun Namun perlu diketahui, bahwa
anggota rumah tangga yang lain. Jenis pengeluaran uang yang lebih banyak
pekerjaan yang dilakukan oleh kepala untuk pangan tidak menjamin lebih
rumah tangga dan anggota keluarga lain beragamnya konsumsi pangan. Kadang
akan menentukan seberapa besar perubahan utama yang terjadi dalam
sumbangan mereka terhadap keuangan kebiasaan makan yaitu pangan yang
11

dimakan itu lebih mahal. Asupan sesuai untuk balitanya. Karena itu
makanan yang tidak cukup baik dari didalam sebuah penelitian menunjukkan
segi jumlah maupun kulaitas dalam bahwa seringkali terjadi ketidaksesuaian
jangka lama akan menyebabkan antara konsumsi zat gizi terutama
terjadinya gangguan gizi. Keadaan Energi dan Protein dengan kebutuhan
kurang gizi akan mengurangi daya tahan tubuh pada kelompok anak yang berusia
tubuh terhadap penyakit, mempengaruhi diatas 1 tahun (Moehji, 2005).
tingkat kecerdasan dan prestasi belajar, b. Pelayanan Kesehatan dan
produktifitas kerja dan pendapatan Kesehatan Lingkungan
(Almatsier, 2011) Adalah tersedianya air bersih dan
Menurut Notoatmodjo (2012) jenis sarana pelayanan kesehatan dasar yang
pekerjaan dibagi menjadi : terjangkau oleh setiap keluarga yang
membutuhkan (Adisasmito, 2007).
1. Pedagang
c. Higine Sanitasi
2. Buruh/tani
Higine Adalah suatu pencegahan
3. PNS
penyakit yang menitik beratkan pada
4. TNI/Polri
usaha kesehatan perseorang atau
5. Pensiunan
manusia beserta lingkungan tempat
6. Wiraswasta dan
orang tersebut berada.
7. IRT
Sanitasi adalah suatu pencegahan
Kemudian diklasifikasikan kembali
penyakit yang menitik beratkan pada
menjadi :
usaha kesehatan lingkungan hidup
1. Bekerja
manusia.(Sandra wahyudi 2013)
2. Tidak bekerja
Ibu yang sudah mempunyai
pekerjaan penuh tidak lagi dapat Kesimpulan dan Saran

memberikan perhatian penuh terhadap Kesimpulan


Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan
anak balitanya, apalagi untuk
bahwa :
mengurusnya. Meskipun tidak semua
1. Sebagian besar anak balita Bawah
ibu bekerja tidak mengurus anaknya,
akan tetapi kesibukan dan beban kerja Garis Merah (BGM) umur 24 - 59
yang ditanggungnya dapat bulan yaitu 7 anak (58.33%).
menyebabkan kurangnya perhatian ibu
Sedangkan untuk karakteristik anak
dalam menyiapkan hidangan yang
12

berdasarkan jenis kelamin paling Kementerian Kesehatan RI. (2011)


Panduan Penyelenggaraan
mayoritas Laki-laki yaitu 9 anak
Pemberian Makanan Tambahan
(75%).
Pemulihan Bagi Balita Gizi Kurang,
2. Seluruh balita Bawah Garis Merah Jakarta : Kementerian Kesehatan

(BGM) mendapatkan Pemberian


Made, A.A.,Sudargo, Toto dan Gunawan,
Makanan Tambahan.
I.M.A. (2004). Hubungan Pola Asuh
3. Seluruh balita Bawah Garis Merah dan Asupan Gizi Terhadap Status Gizi
Anak Umur 6-24 Bulan di Kelurahan
(BGM) mendapatkan konseling gizi
Mengampang, Kecamatan Barru,
dari petugas gizi.
Kabupaten Barru (dalam Jurnal
Sains Kesehatan). Yogyakarta:
Saran
Program Studi Ilmu Kesehatan
Agar pola asuh ibu balita lebih
Masyarakat Program Pascasarjan
memperhatikan anaknya.
Universitas Gadjah Mada

Daftar Pustaka
1
Moehji (2003). Ilmu Gizi: Penanggulangan
Depkes RI. (1999) Rencana
Gizi Buruk. Jakarta: Papas Sinar
Pembangunan Kesehatan Menuju
Sinanti
Indonesia Sehat 2010, Jakarta:
Depkes RI
Notoatmodjo, Soekidjo (2003). Pendidikan
Dan Perilaku Kesehatan. Jakarta:
Hurlock, E. (1980). Developmental
Rineka Cipta
Psycology (Psikologi Perkembangan).
Alih bahasa:
Rasni, H. (2009). Konsep Keberdayaan
Keluarga Miskin dalam Pemberian
Irawan, R. (2004). Diagnosis Gizi Buruk.
Asupan Nutrisi pada Balita (Dalam
Surabaya: RSUD dr. Soetomo.
Jurnal Sains Kesehatan). Jember:
Program Studi Ilmu Keperawatan
Istiwidayanti dan Soedjarwo. Jakarta:
Universitas Jember
Penerbit Erlangga
13

Sediaoetama, A. (2004). Ilmu Gizi Untuk Tamsuri, Anas. (2008). Klien Gangguan
Mahasiswa dan Profesi. Jakarta: PT. Pernapasan : Seri Asuhan
Dian Rakyat Keperawatan. Jakarta : EGC
Seyogya (1996). Menuju Gizi Baik yang
Merata di Pedesaan dan di Kota. Taopan (2005). Intervensi Penanganan
Yogyakarta: UGM Press Kasus Gizi Buruk Pada Anak Balita di
Nusa Tenggara Timur. Tesis
Soekirman (2000). Ilmu Gizi dan
Aplikasinya untuk Keluarga dan Waryana (2010). Gizi Reproduksi.
Masyarakat. Jakarta: Direktorat Yogyakarta: Pustaka Rihana
Jenderal Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan Nasional Wiryo Hananto (2002). Peningkatan Gizi
Bayi dan Anak. Jakarta: Sagung Seto
Sukmadinata, Nana Syaodih (2005).
Landasan Psikologi Proses
Pendidikan. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya

Supariasa, dkk. 2002. Penilaian Status Gizi.


Jakarta : Penerbit Kedokteran EGC

Suparyanto (2010). Pengaruh KB suntik


terhadap Perubahan berat badan

Suryono dan Supardi, S. (2004). Resiko


penyakit ISPA dan Diare pada Balita
Penderita Kekurangan Energi Protein
(KEP)di Kabupaten Sukoharjo
(Dalam Jurnal Sains Kesehatan).
Yogyakarta: Program Studi Ilmu
Kesehatan Masyarakat Program Pasca
Sarjana Universitas gajah Mada