Anda di halaman 1dari 12

45

analgesik. Sedatif sering kali diresepkan untuk penderita

nyeri kronik. Obat - obatan ini dapat menimbulkan rasa

kantuk dan kerusakan koordinasi.

2.4 Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Gout Arthritis

2.4.1 Pengkajian Keperawatan

Pengkajian asuhan keperawatan keluarga menurut teori model

Family Centre Nursing Friedman dalam Achjar (2012). Meliputi 7

komponen pengkajian yaitu :

1) Data Umum

a) Identitas kepala keluarga

1. Nama Kepala Keluarga (KK)

Nama kepala keluarga pada salah satu anggota

keluarga yang menderita gout arthritis dengan nyeri

kronis.

2. Umur

Penyakit gout arthritis sering terjadi pada pria

usia > 40 tahun dan rentan terjadi pada wanita yang

sudah mengalami menopause.

3. Pekerjaan Kepala Keluarga (KK)

Pekerjaan kepala keluarga tidak ada pengaruhnya

terhadap penyakit gout arthritis dengan nyeri kronis.


46

4. Pendidikan Kepala Keluarga (KK)

Pendidikan kepala keluarga tidak ada

pengaruhnya terhadap penyakit gout arthritis dengan

nyeri kronis.

b) Komposisi anggota keluarga

Tabel 2.2 Komposisi Anggota Keluarga (Achjar, 2012).


Hubungan Ket
Nama Umur Sex Pendidikan Pekerjaan
dengan KK
Penyakit Penyakit Jika salah satu Penyakit Gout
Gout Gout anggota Arhtritis dapat
Arthritis Arhtritis bisa keluarga menyerang
banyak terjadi pada menderita siapa saja dari
terjadi siapapun penyakit Gout berbagai
pada laki – baik laki-laki Arthritis kelompok sosial
laki usia ataupun kemungkinan ekonomi
produktif perempuan. besar rendah,
dan wanita keturunannya menengah
yang sudah akan menderita sampai atas bisa
mengalami penyakit yang terkena
menopause sama (Gout penyakit Gout
Arthritis) Arhtritis

c) Genogram :

Genogram harus menyangkut minimal 3 generasi,

harus tertera nama, umur, kondisi kesehatan tiap keterangan

gambar. Terdapat keterangan gambar dengan simbol berbeda

(Friedman, 1998) dalam Achjar (2015) seperti :

Laki – laki :

Perempuan :

Meninggal dunia :

Tinggal Serumah : ---------------

Pasien yang di identifikasi :

Kawin :
47

Cerai :

Anak adopsi :

Anak kembar :

Aborsi / keguguran :

d) Tipe atau bentuk keluarga

Pada tipe atau bentuk keluarga tidak ada pengaruhnya

terhadap penyakit gout arthritis dengan nyeri kronis.

e) Suku bangsa

Pada suku bangsa tidak ada pengaruhnya terhadap

penyakit gout arthritis dengan nyeri kronis.

f) Agama

Pada agama tidak ada pengaruhnya terhadap penyakit

gout arthritis dengan nyeri kronis.

g) Status sosial ekonomi keluarga

Status sosial ekonomi tidak ada pengaruhnya terhadap

penyakit gout arthritis dengan nyeri kronis.

h) Aktifitas rekreasi keluarga

Aktivitas seseorang dapat berpengaruh terhadap

penyakit gout arthritis. Seperti : stress dapat berpengaruh

dalam penyakit gout arthritis dengan masalah nyeri kronis.


48

2) Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga

a) Tahap Perkembangan Keluarga

Tahap perkembangan keluarga berdasarkan Duvall,

ditentukan dengan anak tertua dari keluarga inti yang salah

satu anggota keluarga menderita gout arthritis dengan nyeri

kronis.

b) Tahap Perkembangan keluarga yang belum terpenuhi

Menjelaskan mengenai tugas perkembangan yang

belum terpenuhi oleh keluarga yaitu ketidakmampuan

keluarga dalam merawat anggota keluarga yang menderita

gout arthritis dengan nyeri kronis , karena tidak tahu

bagaimana cara merawatnya

c) Riwayat keluarga inti

Pada keluarga dengan salah satu anggota keluarga

penderita gout arthritis, di dalam keluarganya ada yang

menderita penyakit yang sama (Gout Arthritis).

3) Lingkungan

a) Karakteristik rumah (luas rumah)

1. Ukuran rumah (luas rumah)

2. Kondisi dalam rumah dan luar rumah

3. Kebersihan rumah

4. Ventilasi rumah

5. Saluran pembuangan air limbah

6. Air bersih
49

7. Pengelolaan sampah

8. Kepemilikan rumah

9. Kamar mandi/ wc

10. Denah rumah

b) Karakteristik tetangga dan komunitas tempat tinggal

Karakteristik tetangga dan komunitas tempat tinggal

tidak ada pengaruhnya dengan penyakit gout arthritis.

c) Mobilitas geografis keluarga

Mobilitas geografis keluarga tidak ada pengaruhnya

dengan penyakit gout arthritis dengan nyeri kronis.

d) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat

Interaksi keluarga dan anggota keluarga menderita

gout arthritis dengan masyarakat.

e) Sistem pendukung keluarga

Dukungan dari keluarga dan masyarakat diperlukan

karena dapat memotivasi pada salah satu anggota keluarga

menderita gout arthritis dengan nyeri kronis untuk sembuh.

4) Struktur Keluarga

a) Pola komunikasi keluarga

Jenis komunikasi yang dilakukan keluarga untuk

memecahkan masalah gout arthritis pada salah satu anggota

keluarga yang menderita gout arthritis dengan nyeri kronis.


50

b) Struktur kekuatan keluarga

Respon keluarga bila pada salah satu anggota

keluarga menderita gout arthritis dengan nyeri kronis.

c) Struktur peran

Menjelaskan peran dari masing – masing anggota

keluarga pada salah satu anggota keluarga menderita gout

arhritis dengan nyeri kronis.

d) Nilai dan norma keluarga

Nilai dan norma keluarga tidak ada pengaruhnya

dalam penyakit gout arthritis dengan nyeri kronis.

5) Fungsi Keluarga

a) Fungsi afektif

Peranan kasih sayang, saling menghargai dan

dukungan antar anggota keluarga sangat diperlukan untuk

kesembuhan anggota keluarga menderita gout arthritis

dengan nyeri kronis.

b) Fungsi ekonomi

Fungsi ekonomi tidak ada pengaruhnya terhadap

penyakit gout arthritis dengan nyeri kronis.

c) Fungsi pendidikan

Fungsi pendidikan tidak ada pengaruhnya terhadap

penyakit gout arthritis dengan nyeri kronis.


51

d) Fungsi sosialisasi

Fungsi sosialisasi tidak ada pengaruhnya terhadap

penyakit gout arthritis dengan nyeri kronis.

e) Fungsi perawatan kesehatan

Bagaimana cara keluarga dapat merawat keluarga

dengan salah satu anggota keluarga menderita gout arthritis

dengan nyeri kronis.

f) Fungsi religius

Fungsi religius tidak ada pengaruhnya terhadap

penyakit gout arthritis dengan nyeri kronis.

6) Stressor dan koping keluarga

a) Stressor jangka panjang

Stressor yang dialami keluarga yang memerlukan

penyelesaian dalam waktu lebih dari 6 bulan.

b) Stressor jangka pendek

Stressor yang dialami keluarga yang memerlukan

penyelesaian dalam waktu kurang dari 6 bulan.

c) Respon keluarga terhadap stress

Mengkaji sejauh mana keluarga berespon terhadap

situasi atau stressor.

d) Strategi koping yang digunakan

Strategi koping apa yang digunakan keluarga dalam

menghadapi masalah.
52

e) Strategi adaptasi yang disfungsional

Dijelaskan mengenai adapatasi disfungsional yang

digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan.

7) Pemeriksaan fisik (head to toe)

a) Tanggal pemeriksaan fisik dilakukan

b) Pemeriksaan kesehatan dilakukan pada seluruh anggota

keluarga

c) Aspek pemeriksaan fisik mulai dari vital sin, rambut, kepala,

mata, mulut, leher, thorax, abdomen, ekstremitas atas dan

bawah, genetalia.

d) Kesimpulan dari hasil pemeriksaan fisik

8) Harapan Keluarga

Pada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan

keluarga terhadap maslah kesehatan keluarga dan terhadap

petugas kesehatan yang ada.

2.4.2 Analisa Data

Setelah dilakukan pengkajian selanjutnya data di analisa untuk

dapat dilakukan perumusan diagnosis keperawatan.

2.4.3 Diagnosis Keperawatan

Nyeri kronis berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga

merawat anggota keluarga yang sakit. Diagnosis Keperawatan

keluarga disusun berdasarkan jenis diagnosis seperti :


53

1) Diagnosis sehat atau wellnes

Diagnosis sehat/wellness, digunakan bila keluarga

mempunyai potensi untuk ditingkatkan, belum ada data yang

maladaptif. Perumusan diagnosis keperawatan keluarga potensial,

hanya terdiri dari komponen problem (P) saja atau P (problem)

dan S (symptom/sign), tanpa komponen etiologi (E).

2) Diagnosis ancaman (resiko)

Diagnosis ancaman, digunakan bila belum terdapat

paparan masalah kesehatan, namun sudah ditemukan beberapa

data maladaptif yang memungkinkan timbulnya gangguan.

Perumusan diagnosis keperawatan keluarga resiko, terdiri dari

problem (P), etiologi (E), dan symptom/sign (S).

3) Diagnosis nyata/aktual

Diagnosis nyata, digunakan bila sudah timbul gangguan

atau masalah kesehatan di keluarga, di dukung dengan adanya

beberapa data maladaptif. Perumusan diagnosis keperawatan

keluarga nyata atau gangguan, terdiri dari problem (P), etiologi

(E), dan symptom/sign (S)

Perumusan problem (P) merupakan respon terhadap

gangguan pemenuhan kebutuhan dasar. Etiologi (E) mengacu

pada 5 tugas keluarga yaitu :


54

1) Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah meliputi :

a) Persepsi terhadap keparahan penyakit

b) Pengertian

c) Tanda dan gejala

d) Faktor penyebab

e) Persepsi keluarga terhadap masalah

2) Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan, meliputi :

a) Sejauh mana keluarga mengenai sifat dan luasnya

masalah

b) Masalah dirasakan keluarga

c) Keluarga menyerah terhadap masalah yang dialami

d) Sikap negatif masalah kesehatan

e) Kurang percaya terhadap tenaga kesehatan

f) Informasi yang salah

3) Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang

sakit, meliputi :

a) Bagaimana keluarga mengetahui keadaan yang sakit

b) Sifat dan perkembangan perawatan yang dibutuhkan

c) Sumber – sumber yang ada didalam keluarga

d) Sikap keluarga terhadap yang sakit

4) Ketidakmampuan keluarga memelihara lingkungan, meliputi:

a) Keuntungan/manfaat pemeliharaan lingkungan

b) Pentingnya higiene sanitasi

c) Upaya pencegahan penyakit


55

5) Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan,

meliputi :

a) Keberadaan fasilitas kesehatan

b) Keuntungan yang didapat

c) Kepercayaan keluarga terhadap petugas kesehatan

d) Pengalaman keluarga yang kurang baik

Setelah data di analisis dan ditetapkan masalah

keperawatan keluarga, selanjutnya masalah kesehatan keluarga

dengan memperhatikan sumber daya dan sumber dana yang

dimiliki keluarga. Prioritas masalah asuhan keperawatan keluarga

seperti tabel dibawah ini :

Tabel 2.3 Skoring Prioritas Masalah

KRITERIA BOBOT SKOR

Sifat masalah 1 Aktual = 3


Risiko = 2
Potensial = 1

Kemungkinan masalah 2 Mudah = 2


dapat dicegah Sebagian = 2
Tidak dapat = 0
Potensi masalah untuk 1 Tinggi = 3
dicegah Cukup = 2
Rendah = 1

Menonjolnya masalah 1 Segera diatasi = 3


Tidak segera diatasi = 2
Tidak dirasakan adanya
masalah = 0
56

Proses skoringnya dilakukan untuk setiap diagnosis keperawatan :

a) Tentukan skornya sesuai dengan kriteria yang dibuat perawat

b) Selanjutnya skor dibagi dengan skor tertinggi dan dikalikan

dengan bobot

Skor yang diperoleh


X bobot
Skor Tertinggi

2.4.4 Perencanaan Keperawatan

Menurut Achjar (2015) Tahap berikutnya setelah merumuskan

diagnosis keperawatan keluarga adalah melakukan perencanan.

Perencanaan diawali dengan merumuskan tujuan yang disertai rencana

tindakan untuk mengatasi masalah yang ada.

Tujuan terdiri dari tujuan jangka panjang dan tujuan jangka

pendek. Penepatan tujuan jangka panjang (tujuan umum) mengacu

pada bagaimana mengatasi problem/masalah (P) di keluarga,

sedangkan penetapan tujuan jangka pendek (tujuan kusus) mengacu

pada bagaimana mengatasi etiologi (E). Tujuan jangka pendek harus

SMART (S= spesifik, M= measurable/ dapat diukur, A= achievable/

dapat dicapai, R= reality, T= time limited/ punya limit waktu).