Anda di halaman 1dari 3

Bagian II

BAB 2: Asumsi Dasar Ekonomi Makro RAPBN Tahun 2017 dan Proyeksi Jangka Menengah Periode 2018-2020

gas domestik. Dengan mempertimbangkan kondisi, potensi, dan faktor risiko yang ada, lifting gas bumi diperkirakan sebesar 1.150 ribu barel setara minyak per hari (bsmph).

2.3 Indikator Kesejahteraan Masyarakat

2.3.1 Ketenagakerjaan

Pada tahun 2017, tingkat pengangguran terbuka (TPT) diharapkan turun dan berada pada kisaran 5,3-5,6 persen. Dalam jangka menengah dan panjang, sasaran yang akan dicapai adalah peningkatan efisiensi pasar tenaga kerja yang merupakan salah satu kunci keberhasilan peningkatan pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, dalam jangka pendek sasaran yang ingin dicapai pada tahun 2017 adalah penciptaan lapangan kerja dan keadilan bagi tenaga kerja, yang mampu meningkatkan taraf hidup penduduk 40 persen ekonomi terbawah. Untuk mencapai sasaran tersebut, program prioritas yang akan dilakukan Pemerintah pada tahun 2017 adalah:

(1) penguatan iklim ketenagakerjaan dan hubungan industrial; (2) pengembangan keahlian tenaga kerja; (3) penyediaan layanan informasi pasar kerja; (4) perbaikan iklim investasi dan iklim usaha; dan (5) pembangunan infrastruktur skala kecil dan menengah. Perkembangan dan target tingkat pengangguran terbuka tahun 2014-2017 dapat dilihat pada Grafik II.2.8.

Untuk mendorong aktivitas ekonomi yang menghasilkan kesempatan kerja dan usaha yang lebih luas, arah kebijakan ketenagakerjaan Pemerintah pada tahun 2017 adalah memperluas industri manufaktur untuk mendukung perluasan lapangan kerja baru yang berkualitas,

mendorong pengeluaran pemerintah dan penciptaan investasi yang padat karya, mendukung regulasi yang mendorong investasi, serta meningkatkan hubungan industrial yang harmonis. Selain itu, untuk mendorong pengembangan ekonomi produktif, Pemerintah akan meningkatkan akses permodalan dan layanan kredit mikro, memberikan pendampingan dan pengembangan kelompok usaha, dan mendorong terwujudnya kemudahan, kepastian dan perlindungan usaha.

GRAFIK II.2.8 PERKEMBANGAN DAN TARGET TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA, 2014-2017 7 (persen) 6,5 6,2 5,9 6
GRAFIK II.2.8
PERKEMBANGAN DAN TARGET TINGKAT
PENGANGGURAN TERBUKA, 2014-2017
7
(persen)
6,5
6,2
5,9
6
5,7
5,6
5,5
5,3
5
2014
2015
Proyeksi
Proyeksi
2016
2017
Sumber: Badan Pusat Statistik

2.3.2 Kemiskinan

Pada RKP tahun 2017, Pemerintah telah menetapkan tema, “Memacu Pembangunan Infrastruktur dan Ekonomi untuk Meningkatkan Kesempatan Kerja serta Mengurangi Kemiskinan dan Kesenjangan Antarwilayah”. Sasaran angka kemiskinan yang ingin dicapai pada tahun 2017 berada pada kisaran 9,5-10,5 persen. Untuk mencapai sasaran tersebut, salah satu agenda prioritas nasional adalah memperbaiki distribusi pendapatan sehingga pendapatan penduduk kelompok 40 persen terbawah dapat tumbuh jauh lebih baik. Perbaikan distribusi ini diharapkan mampu menciptakan kualitas hidup lebih baik seperti mengurangi kemiskinan, menurunkan tingkat pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Selain mendorong penciptaan lapangan kerja yang lebih luas guna mengurangi

II.2-14

Nota Keuangan dan RAPBN 2017

BAB 2: Asumsi Dasar Ekonomi Makro RAPBN Tahun 2017 dan Proyeksi Jangka Menengah Periode 2018-2020

Bagian II

kemiskinan, Pemerintah juga akan terus mendorong peningkatan akses terhadap pelayanan dasar serta perlindungan sosial bagi penduduk miskin dan rentan. Perkembangan dan target angka kemiskinan tahun 2014-2017 dapat dilihat pada Grafik II.2.9.

Pada tahun 2017, Pemerintah akan terus melanjutkan program-program pemberdayaan dan perlindungan sosial yang telah dicapai di tahun-tahun sebelumnya, diantaranya melalui kebijakan pengembangan dan penguatan sistem penyediaan layanan dasar, peningkatan efektivitas program Bidik Misi, penataan asistensi sosial (Kartu Indonesia Sehat/KIS, Kartu Indonesia Pintar/KIP, dan Kartu Keluarga Sejahtera/KKS), perluasan cakupan kepesertaan jaminan sosial, serta integrasi data kependudukan

dan kepesertaan jaminan sosial. Selain pemberdayaan, program-program untuk mengurangi beban penduduk miskin dan rentan juga akan terus dilaksanakan oleh pemerintah. Salah satu program pengentasan kemiskinan yang dirasa cukup berhasil misalnya bantuan tunai bersyarat melalui Program Keluarga Harapan (PKH) akan lebih diperluas cakupannya. Selain

itu, program-program seperti transformasi beras untuk keluarga sejahtera (Rastra) menjadi bantuan pangan, serta keberlanjutan subsidi energi dan pupuk, bantuan iuran jaminan kesehatan/KIS, bantuan pendidikan melalui KIP, bantuan sosial di luar sistem keluarga, dan jaminan sosial yang lain diharapkan mampu menurunkan angka kemiskinan. Guna memperkuat program-program pengentasan kemiskinan tersebut, Pemerintah juga mendorong kebijakan kemiskinan terkait revolusi mental diantaranya melalui: (1) redesign program yang memungkinkan perubahan mindset masyarakat miskin menjadi produktif, mandiri, dan bermartabat, (2) mengaitkan program sosial yang mendorong masyarakat miskin peduli dengan kesehatan, pendidikan, dan keluarga berencana, serta (3) mempromosikan solidaritas sosial di masyarakat.

serta (3) mempromosikan solidaritas sosial di masyarakat. GRAFIK II.2.9 PERKEMBANGAN DAN TARGET ANGKA KEMISKINAN ,
GRAFIK II.2.9 PERKEMBANGAN DAN TARGET ANGKA KEMISKINAN , 2014-2017 13 (persen) 12 11,1 11,0 11
GRAFIK II.2.9
PERKEMBANGAN DAN TARGET ANGKA
KEMISKINAN , 2014-2017
13
(persen)
12
11,1
11,0
11
10,6
10,5
10
9,5
9
8
2014
2015
Proyeksi
Proyeksi
2016
2017
Sumber: Badan Pusat Statistik

2.3.3 Indikator Kesejahteraan Masyarakat Lainnya

Dalam RPJMN 2015-2019 Pemerintah menitikberatkan pada strategi pembangunan infrastruktur untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus menurunkan kesenjangan. Penekanan pada pembangunan infrastruktur antara lain tercermin dari penguatan PMN BUMN yang menjadi operator dalam pembangunan infrastruktur. Strategi pembangunan infrastruktur diharapkan semakin memperlancar jalur distribusi barang dan jasa sehingga akan meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat secara merata. Peningkatan produktivitas dan penciptaan stabilitas ekonomi akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menurunkan kesenjangan yang terjadi baik dalam kesenjangan pendapatan di masyarakat maupun kesenjangan antarwilayah di Indonesia.

Strategi lain yang akan ditempuh Pemerintah dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penurunan ketimpangan adalah melalui pemberdayaan dan penguatan fungsi desa sejalan dengan penerapan Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa. Melalui alokasi Dana Desa diharapkan terjadi penguatan dalam produktivitas masyarakat desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa sekaligus menurunkan tingkat ketimpangan di desa baik antardesa maupun ketimpangan antara kota dan desa. Selain itu, pembangunan desa

Nota Keuangan dan RAPBN 2017

II.2-15

Bagian II

BAB 2: Asumsi Dasar Ekonomi Makro RAPBN Tahun 2017 dan Proyeksi Jangka Menengah Periode 2018-2020

dan kawasan perdesaan akan terus ditingkatkan melalui program prioritas: (1) pemenuhan standar pelayanan minimum di desa termasuk kawasan transmigrasi, (2) penanggulangan kemiskinan dan pengembangan usaha ekonomi masyarakat desa termasuk di kawasan transmigrasi, (3) pembangunan SDM, pemberdayaan, dan modal sosial budaya masyarakat desa termasuk di kawasan transmigrasi, (4) penguatan pemerintahan desa, (5) pengawasan implementasi UU Desa secara sistematis, konsisten, dan berkelanjutan, (6) pengembangan ekonomi kawasan termasuk kawasan transmigrasi untuk mendorong pusat pertumbuhan dan keterkaitan desa-kota, dan (7) pengelolaan sumber daya alam desa dan kawasan termasuk kawasan transmigrasi dan sumber daya hutan. Lebih lanjut, Pemerintah secara bertahap dan berkesinambungan juga terus melakukan penguatan dalam alokasi dana transfer ke daerah. Hal ini bertujuan untuk menurunkan kesenjangan fiskal vertikal antara pusat dan daerah.

Untuk lebih memberikan dukungan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penurunan ketimpangan, pada tahun 2017 Pemerintah akan melanjutkan strategi financial inclusion. Strategi financial inclusion akan mampu mengatasi keterbatasan dan belum meratanya akses informasi mengenai sumber-sumber permodalan baik perbankan maupun nonperbankan. Financial inclusion juga akan mampu menambah kreativitas dan produktivitas ekonomi masyarakat, khususnya golongan masyarakat berpendapatan 40 persen terbawah. Pemerintah berharap terbukanya akses sumber-sumber permodalan tersebut bisa memacu masyarakat untuk lebih kreatif dalam berusaha dan berkarya sehingga kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan sekaligus menurunkan ketimpangan pendapatan dan ketimpangan antarwilayah.

Peningkatan pendapatan kelompok penduduk 40 persen terbawah menggunakan pendekatan komprehensif yaitu dengan meningkatkan koordinasi lintas kementerian, pemerintah daerah, dan pihak swasta. Upaya koordinasi ini dilakukan secara terintegrasi dengan cara memutus siklus ketimpangan antargenerasi melalui: (1) penciptaan lapangan kerja dan peningkatan keahlian tenaga kerja, (2) memperbaiki akses pelayanan dasar, dan (3) memastikan perlindungan bila terjadi goncangan. Upaya ini diharapkan mampu menurunkan rasio Gini pada tahun 2017 menjadi sebesar 0,38.

Selain rasio Gini yang diharapkan membaik, pembangunan nasional di bidang sumber daya manusia (SDM) yang tercermin dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga diharapkan terus meningkat. IPM tersebut menggambarkan tiga aspek esensial pembangunan manusia yakni umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Sasaran IPM yang ingin dicapai pada tahun 2017 adalah sebesar 75,3.

Proyeksi Asumsi Dasar Ekonomi Makro Jangka Menengah 2018-2020

Keberhasilan pencapaian sasaran dan arah pembangunan jangka menengah ke depan tidak dapat lepas dari dukungan arah dan strategi kebijakan fiskal yang menyertainya. Kebijakan fiskal sebagai salah satu instrumen utama dalam mendorong perekonomian serta mencapai sasaran-sasaran pembangunan nasional, perlu dikelola secara berkualitas, sehat, dan berkelanjutan. Pemerintah secara konsisten terus berupaya mewujudkan hal tersebut melalui:

2.4

(1) mendorong produktivitas APBN sebagai instrumen fiskal untuk menstimulasi perekonomian dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi dan penguatan daya saing; (2) menjaga keseimbangan dalam rangka menciptakan iklim investasi yang kondusif dan stabilitas ekonomi makro; (3) memperkuat daya tahan fiskal agar mempunyai kemampuan yang handal dalam

II.2-16

Nota Keuangan dan RAPBN 2017