Anda di halaman 1dari 29

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI……………………………………………………………………...01

KATA PENGANTAR…………………………………………………………….03

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………04

1.1 Latar belakang…………………………………………………………………...04

1.2 Rumusan masalah………………………………………………………………..05

1.3 Tujuan……………………………………………………………………...…….06

BAB II.………………………………………………………………………………07

PEMBAHASAN…………………………………………………………………….07

2.1 Etika Profesi Akuntan……………………………………………….…………..07

2.2 Standar Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik (KAP)…………………….07

2.3 Sistem Pengendalian Mutu……………………………………………………...09

2.2.1 Pengertian Sistem Pengendalian Mutu………………………………….09

2.4 Pengertian Peer Review………………………………….……………………..11

2.5 Prosedur………………………………………………………………………...12

2.6 Unsur-Unsur Sistem Pengendalian Mutu………………………………………14

2.6.1 Independensi…………………………………………………………….15

2.6.2 Penugasan Personel………...……………………………………………15

2.6.3 Konsultasi………………………….……………………………………16

2.6.4 Supervisi………………………………………………………………..16

1
2.6.5 Pemekerjaan…………………………………………………………….16

2.6.6 Pengembangan professional…………………………………………….17

2.6.7 Promosi………………………………………………………………….17

2.6.8 Penerimaan dan keberlanjutan klien…….………………………………17

2.6.9 Inspeksi…………………………...……………………………………..18

2.7 Supervisi………….………………………………………………………...……20

2.5.1 Unsur Unsur Supervisi……………………………………………………21

2.8 Konsultasi………………………………………………………………………24

2.9 Inspeksi……………………………………...………………………………….26

BAB III…………………………………………………………………………….28

PENUTUP…………………………………………………………………………28

3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………….28

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………29

2
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan

rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang

berjudul ”Standar Pengendalian Mutu KAP”, semoga dengan dibuatnya makalah ini

pembaca dapat memahami tentang materi tersebut.

Berbagai sumber referensi dasar dan esensial yang relevan dari buku, jurnal

dan kasus auditing lainnya memang sengaja dipilih dan digunakan untuk memperkuat

pembahasan dan membangun karangka penyajian yang komperehensif, agar mudah

dipahami dan dapat memenuhi harapan pembaca.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih mempunyai kekurangan baik

dari segi teknis maupun isi, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran

yang bersifat membangun demi pembuatan makalah selanjutnya. Oleh karena itu,

penulis berharap agar makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran dan

berguna bagi pembacanya.

Sabtu , 10 maret 2018

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di Indonesia saat ini, ekonomi dan bisnis semakin mengalami perkembangan.

Sejalan dengan perkembangan tersebut berdampak terhadap meningkatnya

permintaan atas jasa audit. Faktor-faktor yang mendukung tingginya permintaan jasa

audit di Indonesia adalah karena pertumbuhan ukuran dan kompleksitas bisnis,

perkembangan pasar modal, serta adanya perundang-undangan atau berbagai

peraturan yang berlaku.

Pada era globalisasi saat ini perusahaan harus berhadapan dengan adanya pasar

bebas Asia-Pasifik yang akan mengakibatkan banyaknya akuntan-akuntan luar negeri

masuk ke Indonesia. Kondisi tersebut akan berpengaruh kepada permintaan jasa audit

di KAP dalam negeri, di mana lapangan kerja untuk para auditor dalam negeri

semakin menurun. Ditambah lagi dengan adanya auditor dalam negeri yang

mengalami kegagalan dalam melakukan audit. Sehingga integritas dan objektivitas

para akuntan publik di dalam negeri diragukan dan lebih memilih untuk memakai jasa

audit asing.

Maka jika auditor gagal dalam memberikan kepercayaan pada klien dan tidak

bisa melindungi kepentingan publik maka hal tersebut mengisyaratkan bahwa kantor-

kantor akuntan publik tidak secara konsisten memberikan jasa audit berkualitas

tinggi. Melihat kenyataan yang ada, auditor merupakan pihak yang bertanggung

jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan

4
memadai tentang apakah laporan keuangan suatu perusahaan/instansi itu bebas dari

salah saji material, baik yang disebabkan oleh kesalahan atau bahkan kecurangan,

maka sudah sepantasnya hal tersebut diberi perhatian lebih karena adanya suatu

harapan yang tinggi terhadap kinerja auditor sebagai orang yang profesional dan

independen. Seorang auditor harus memiliki pengetahuan dan keahlian khusus,

sehingga dapat menjadi orang yang ahli dalam bidang auditing dan akuntansi (Seruni,

2011). Sementara itu, KAP bertanggung jawab untuk mematuhi SPAP. Dalam

pemenuhan tanggung jawab tersebut, KAP wajib mempertimbangkan integritas

stafnya dalam menentukan hubungan profesionalnya, yaitu bahwa KAP dan para

stafnya akan independen terhadap kliennya sebagaimana diatur dalam Kode Etik

Profesi Akuntan Publik dan bahwa staf KAP kompeten secara profesional, objektif

dan akan menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama (due

professional care). Oleh karena itu, KAP harus memiliki sistem pengendalian mutu

untuk memberikan keyakinan memadai tentang kesesuaian perikatan profesional

dengan SPAP.

1.2 Rumusan Masalah

1. APA ITU Etika Profesi Akuntan

2. Apa itu standar pengendalian mutu KAP?

3. Apa standar pengendalian mutu KAP?

4. Apa Pengertian sistem pengendalian mutu?

5
5. Apa pengertian peer review?

6. Apa saja unsur-unsur sistem pengendalian mutu?

7. Apa itu supervise?

8. Apa itu konsultasi?

9. Apa itu inspektasi?

1.3 Tujuan

1 Untuk mengetahui etika profesi Akuntan

2 Untuk mengetahui standar pengendalian mutu KAP?

3 Untuk mengetahui standar pengendalian mutu KAP?

4 Untuk mengetahui Apa Pengertian sistem pengendalian mutu?

5 Untuk mengetahui pengertian peer review?

6 Untuk mengetahui Apa saja unsur-unsur sistem pengendalian mutu?

7 Untuk mengetahui tujuan supervisi?

8 Untuk mengetahui bagaimana konsultasi?

9 Untuk mengetahui bagaimana inspektasi?

6
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Etika Profesi Akuntan

Dalam etika profesi, sebuah profesi memiliki komitmen moral yang tinggi

yang biasanya dituangkan dalam bentuk aturan khusus yang menjadi pegangan bagi

setiap orang yang mengembangkan profesi yang bersangkutan. Aturan ini merupakan

aturan main dalam menjalankan atau mengemban profesi tersebut yang biasanya

disebut sebagai kode etik yang harus dipenuhi dan ditaati oleh setiap profesi. Menurut

Chua dkk (1(994) menyatakan bahwa etika professional juga berkaitan dengan

perilaku moral yang lebih terbatas pada kekhasan pola etika yang diharapkan untuk

profesi tertentu.

Setiap profesi yang memberikan pelayanan jasa pada masyarakat harus

memiliki kode etik yang merupakan seperangkat moral-moral dan mengatur tentang

etika professional (Agnes, 1996). Pihak-pihak yang berkepentingan dalam etika

profesi adalah akuntan publik, penyedia informasi akuntansi dan mahasiswa

akuntansi (Suhardjo dan Mardiasmo, 2002).

2.2 Standar Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik (KAP)

7
Standar Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik (KAP) memberikan

panduan bagi kantor akuntan publik di dalam melaksanakan pengendalian kualitas

jasa yang dihasilkan oleh kantornya dengan mematuhi berbagai standar yang

diterbitkan oleh Dewan Standar Profesional Akuntan Publik Institut Akuntan Publik

Indonesia (DSPAP IAPI) dan Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik yang

diterbitkan oleh IAPI.

Dalam setiap penugasan yang diberikan, Kantor Akuntan Publik wajib

mempertimbangkan integritas staf yang dimilikinya, independensi staf terhadap kilen,

objektivitas, serta menggunakan kemahiran profesionalyang dimiliki oleh stafnya

secara cermat. Oleh karena itu Kantor Akuntan Publik harus mempunyai sistem

pengendalian mutu untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa jasa yang

diberikan sesuai dengan standar yang ada dan layak digunakan sebagai dasar

pengambilan keputusan bagi para pihak yang berkepentingan yaitu klien pada

khususnya dan masyarakat pada umumnya. Kegiatan pengendalian (control activities)

dirancang untuk memastikan adanya kepatuhan terhadap kebijakan dan prosedur yang

telah ditetapkan oleh Kantor Akuntan Publik.

Sistem pengendalian mutu meliputi semua prosedur dan kebijakan pengendalian

mutu, penetapan tanggung jawab, komunikasi dan pemantauan. Pengendalian mutu

suatu KAP harus diaplikasikan pada semua jasa audit, atestasi, akuntansi dan review,

dan konsultasi.

8
2.3 Sistem Pengendalian Mutu

Dalam menghadapi tantangan bisnis yang semakin kompleks, Kantor Akuntan

Publik didorong untuk mampu memberikan kualitas jasa terbaik yang dimilikinya

kepada pihak-pihak yang berkepentingan.Salah satu faktor yang mempengaruhi

kualitas jasa yang diberikan adalah kualitas kinerja sumber daya manausia. Kantor

Akuntan Publik, dalam menjaga kualitas kinerja sumber daya yang dimilikinya

adalah dengan menerapkan sistem pengendalian mutu, hal ini agar jasa yang dimiliki

sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan sehingga mampu memiliki daya

saing tinggi dengan Kantor Akuntan Publik yang lainnya

Sistem pengendalian mutu biasa terdapat dalam tiap elemen organisasi atau

perusahaan tertentu yang bertujuan menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan standar

yang telah ditetapkan. Sistem pengendalian mutu merupakan tindakan peninjauan

terhadap pelaksanaan kegiatan untuk disesuaikan dengan standarnya agar sesuai

dengan tujuan yang telah ditetapkan. sistem pengendalian mutu yang dimaksud ialah

sistem pengendalian mutu kantor akuntan publik.

2.3.1 Pengertian Sistem Pengendalian Mutu

Terdapat banyak definisi yang di berikan untuk pengendalian mutu yang dalam

banyak literatur bahasa Inggris dikenal dengan istilah quality control.

9
Definisi quality control dijelaskan oleh J.M. Jurandan Frank M. Gryna sebagai

berikut: “This process is used by operating forces as an aid to meeting the product

and process goals. It is based on the feedback loop, and consist of the following

steps:

(1) evaluate actual operating performance, (2) compare actual performance to goals,

(3) act on the difference”.

Definisi lain tentang quality control dikemukakan oleh Harrison M. Wadsworth,

Jr., Kenneth S. Stephens, dan A. Blanton Godfrey sebagai berikut: “Quality control is

the operational technique and the activities which sustain a quality of product or

service that will satisfy given needs; also the use of such techniques and activities”.

Menurut (Wahyudiono,2000) “quality control atau sistem pengendalian mutu

merupakan suatu proses yang dilakukan untuk memastikan bahwa suatu output dapat

memenuhi tujuan dan spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya yang diwujudkan

dengan mengunakan pedoman atau standar yang telah ditetapkan”.

Menurut (Meldasari, 2002) “sistem pengendalian mutu yang baik harus memiliki

rencana standar mutu, pelaksanaan dari rencana tersebut, pembandingan antara

pelaksanaan dengan rencana, dan perbaikan, apabila dalam pelaksanaan terjadi

penyimpangan dari rencana”.

Definisi sistem pengendalian mutu KAP menurut Standar Profesional Akuntan

Publik SPM 100 no.03 ialah “sistem pengendalian mutu KAP mencakup struktur

organisasi, kebijakan dan prosedur yang ditetapkan KAP untuk memberikan

10
keyakinan memadai tentang kesesuaian perikatan professional dengan (SPAP,

2001)”.

Tujuan pengendalian mutu bagi kantor akuntan publik adalah untuk

meningkatkan kemampuan individu dan organisasi dan memastikan kepatuhan

terhadap standar teknis dan kode etik yang telah ditetapkan.

Salah satu cara untuk mengimplementasikan dan memantau pengendalian mutu

ialah dengan melakukan proses yang dikenal dengan proses PDCA. Penjelasan terkait

proses PDCA yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Plan(merencanakan) menetapkan tujuan dan proses TC yang diperlukan agar

KAP dapat memberikan Output yang diharapkan.

2. Do(Melakukan) implementasi proses baru yang telah ditetapkan

3. Check(memeriksa) ukur proses baru tersebut lalu bandingkan hasilnya dengan

yang diharapkan, hal ini untuk memastikan ada atau tidaknya perbedaan.

4. Act(menindaklanjuti) analisis perbedaan yang ada serta jelaskan perbedaannya.

Tentukan dimana perubahan harus diterapkan agar tercapai perbaikan

2.4 Pengertian Peer Review

Dari pelaksanaan sistem pengendalian mutu, terdapat kemungkinan bahwa sistem

tersebut tidak berjalan sebagaimana semestinya. Untuk mengatasi hal tersebut maka

kantor akuntan publik biasa mengenal dengan istilah peer review. Evaluasi atas

11
penerapan sistem pengendalian mutu kantor akuntan publik umumnya dinamakan

peer review.

Pengertian peer review menurut (Sukrisno, 1999: 10) ialah: “suatu penelahaan

yang dilakukan terhadap kantor akuntan publik untuk menilai apakah kantor akuntan

tersebut telah mengembangkan secara memadai kebijakan dan prosedur pengendalian

mutu sebagaimana yang diisyaratkan dalam (SPAP, 2001) yang ditetapkan oleh

Ikatan Akuntan Indonesia”.

Peer review dapat dilakukan oleh kantor akuntan publik lain atau oleh suatu tim

yang anggotanya dipilih oleh Ikatan Akuntan Publik Indonesia. Selain dilakukan oleh

profesi, penelahaan mutu terhadap kantor akuntan publik juga dilakukan oleh BPKP

(Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan). Menurut (SPAP, 2001) dalam

SPM seksi 300 no.01 dinyatakan bahwa tujuan program review mutu IAI (Ikatan

Akuntan Indonesia) adalah untuk meningkatkan mutu kinerja anggota IAI dalam

perikatan audit, atestasi, akuntansi dan konsultasi.

Tujuan program ini dicapai melalui tindakan pendidikan dan perbaikan, serta

tindakan koreksi. Jadi dalam menjaga terhadap berjalannya suatu sistem pengendalian

mutu kantor akuntan publik, peer review menjadi penting dalam mengevaluasi sistem

pengendalian mutu suatu kantor akuntan publik.

2.5 Prosedur

12
Akuntan publik (Auditor Independen) merupakan suatu profesi yang diatur
melalui peraturan / ketentuan dari regulator (Pemerintah) serta standar dan kode etik
profesi yang ditetapkan oleh organisasi profesi. KAP seperti halnya perusahaan
penyedia jasa yang memiliki SOP untuk mengatur semua prosedur resmi tentang apa
yang harus dilakukan oleh para akuntan. Prosedur pengendalian mutu yang harus
diterapkan KAP sudah sangat jelas dimuat dalam peraturan PSPM No.1.
berikut ini adalah prosedur resmi tentang pengendaian mutu yang dilakukan
KAP, yang telah ditetapkan dalam PSPM No.1
1 Seksi ini menetapkan bahwa setiap Kantor Akuntan Publik wajib memiliki sistem
pengendalian mutu dan menjelaskan unsur-unsur pengendalian mutu dan hal-hal
yang terkait dengan implementasi secara efektif sistem tersebut. Pengendalian
mutu Kantor Akuntan Publik (KAP)1, sebagaimana yang dimaksud dalam Seksi
ini, harus diterapkan oleh setiap KAP pada semua jasa audit, atestasi, akuntansi
dan review , dan konsultansi yang standarnya telah ditetapkan oleh TAT dalam
Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP). Walaupun Seksi ini dapat pula
diterapkan pada divisi-divisi lain dalam KAP, sebagai contoh, antara lain divisi
yang menyediakan jasa perpajakan atau divisi jasa konsultansi manajemen,
penerapan Seksi ini pada divisi-divisi tersebut tidak diwajibkan oleh Seksi ini,
kecuali untuk jasa-jasa yang merupakan bagian dari jasa audit, atestasi, akuntansi
danrev ie w seperti tersebut di atas.
2 Dalam perikatan jasa profesional, KAP bertanggung jawab untuk mematuhi
SPAP. Dalam pemenuhan tanggung jawab tersebut, KAP wajib
mempertimbangkan integritas stafnya dalam menentukan hubungan
profesionalnya; bahwa KAP dan para stafnya akan independen terhadap kliennya
sebagaimana diatur oleh Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik; dan bahwa
staf KAP kompeten secara profesional, objektif, dan akan menggunakan
kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama (due professional care).
Oleh karena itu, KAP harus memiliki sistem pengendalian mutu untuk

13
memberikan keyakinan memadai tentang kesesuaian perikatan profesional dengan
SPAP.
3 Sistem pengendalian mutu KAP mencakup struktur organisasi, kebijakan dan
prosedur yang ditetapkan KAP untuk memberikan keyakinan memadai tentang
kesesuaian perikatan profesional dengan SPAR Sistem pengendalian mutu harus
komprehensif dan harus dirancang selaras dengan struktur organisasi, kebijakan,
dan sifat praktik KAP
4 Setiap sistem pengendalian mutu memiliki keterbatasan bawaan yang dapat
berpengaruh terhadap efektivitasnya. Perbedaan kinerja antarstaf dan pemahaman
persyaratan profesional, dapat mempengaruhi tingkat kepatuhan terhadap
kebijakan dan prosedur pengendalian mutu KAP, yang kemudian mempengaruhi
efektivitas sistem tersebut.
5 Sistem pengendalian mutu KAP harus dapat memberikan keyakinan memadai
bahwa bagian dari perikatan suatu KAP yang dilaksanakan oleh kantor cabang,
kantor afiliasi atau kantor koresponden telah dilaksanakan sesuai dengan SPAP
6 Sifat dan lingkup kebijakan dan prosedur pengendalian mutu yang ditetapkan oleh
KAP tergantung pada berbagai faktor, antara lain ukuran KAP, tingkat otonomi
yang diberikan kepada stafnya dan kantor-kantor cabangnya, sifat praktik,
organisasi kantornya, dan pertimbangan biaya-manfaat.
7 KAP wajib mempertimbangkan setiap unsur pengendalian mutu yang dibahas
berikut ini, sejauh diterapkan dalam praktiknya, dalam menetapkan kebijakan dan
prosedur pengendalian mutunya.

2.6 Unsur-Unsur Sistem Pengendalian Mutu

Dalam pelaksanaan jasa professional, kantor akuntan publik bertanggung jawab

untuk mematuhi terhadap Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP). Dalam

pemenuhan tanggung jawab tersebut, KAP wajib mempertimbangkan intregritas

14
stafnya dalam menentukan hubungan profesionalnya, yakni seperti tingkat

independensi, kompetensi, objektivitas, dan kesungguhan untuk menggunakan

kemahiran profesionalnya dengan cermat dan tepat. Untuk mempertimbangkan hal

tersebut, maka setiap kantor akuntan publik wajib memiliki sistem pengendalian

mutu dan menjelaskan unsur pengendalian mutu dan yang terkait dengan

implementasi secara efektif dalam sistem.

Dalam merumuskan suatu kebijakan dan prosedur pengendalian mutu, KAP

harus memperhatikan terhadap beberapa faktor penting yaitu mengenai ukuran kantor

yang dimiliki, tingkat otonomi yang diberikan kepada personel dan kantor-kantor

cabangnya, sifat praktik yang dijalankan, struktur organisasi kantor, dan

pertimbangan atas biaya dengan manfaat yang akan diperoleh oleh kantor akuntan

publik.

Untuk dapat memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan oleh Ikatan Akuntan

Indonesia tentang sistem pengendalian mutu KAP, maka terdapat unsur-unsur dari

sistem pengendalian mutu kantor akuntan publik yang tercantum dalam (SPAP, 2001)

SPM seksi 100 no.07, sebagai berikut:

2.6.1 Independensi

Unsur independensi memberikan keyakinan memadai bahwa, pada setiap lapis

organisasi, semua staf professional mempertahankan indepedensi sebagaimana diatur

dalam Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik secara rinci, Aturan Etika No.1,

Integritas, objektivitas dan independensi,memuat contoh-contoh penerapan yang

berlaku untuk akuntan publik.

15
2.6.2 Penugasan Personel

Dalam unsur ini mempunyai peran untuk memberikan keyakinan memadai

bahwa penugasan akan dilaksanakan oleh staf professional yang memiliki tingkat

pelatihan dan keahlian teknis untuk penugasan tersebut. Dalam proses penugasan

personel, sifat dan lingkup supervisi harus dipertimbangkan. Umumnya, apabila

personel yang ditugaskan semakin cakap dan berpengalaman, maka supervisi secara

langsung terhadap personel tersebut, semakin tidak diperlukan.

2.6.3 Konsultasi

Unsur konsultasi memberikan keyakinan memadai bahwa personel akan

memperoleh informasi yang memadai sesuai yang dibutuhkan dari orang yang

memiliki tingkat pengetahuan, kompetensi, pertimbangan (judgement) yang

memadai. Sifat konsultasi akan tergantung atas beberapa faktor, antara lain ukuran

KAP dan tingkat pengetahuan, kompetensi dan pertimbangan yang dimiliki oleh staf

pelaksana perikatan.

2.6.4 Supervisi

Unsur supervisi memberikan keyakinan memadai bahwa pelaksanaan perikatan

memenuhi standar mutu yang ditetapkan oleh KAP. Lingkup supervisi dan review

yang sesuai pada suatu kondisi tertentu, tergantung atas beberapa faktor, antara lain

kerumitan masalah, kualifikasi staf pelaksana perikatan, dan lingkup konsultasi yang

tersedia dan yang telah digunakan. Tanggung jawab KAP untuk menetapkan prosedur

mengenai supervisi berbeda dengan tanggung jawab staf secara individual untuk

merencanakan dan melakukan supervisi secara memadai atas perikatan tertentu.

16
2.6.5 Pemekerjaan

Unsur pemekerjaan memberikan keyakinan memadai bahwa semua staf

profesionalnya memiliki karakteristik yang tepat sehingga memungkinkan mereka

melakukan perikatan secara kompeten. Akhirnya, mutu pekerjaan KAP tergantung

kepada integritas, kompetensi, dan motivasi personel yang melaksanakan dan

melakukan supervisi atas pekerjaan. Oleh karena itu, program pemekerjaan KAP

manjadi salah satu unsur penentu untuk mempertahankan mutu pekerjaan KAP.

2.6.6 Pengembangan preofesional

Unsur ini memberikan keyakinan memadai bahwa personel memiliki

pengetahuan yang memadai sehingga memenuhi mereka untuk memenuhi tanggung

jawabnya. Pendidikan profesional dan berkelanjutan dan pelatihan merupakan

wahana bagi KAP untuk memberikan kepada personelnya pengetahuan memadai

untuk memenuhi tanggung jawab mereka dan untuk kemajuan karier mereka di KAP.

2.6.7 Promosi

Unsur ini memberikan keyakinan memadai bahwa semua personel terseleksi untuk

promosi memiliki kualifikasi seperti yang diisyaratkan untuk lapis tanggung jawab

yang lebih tinggi. Praktik promosi personel akan berakibat terhadap mutu pekerjaan

KAP. Kualifikasi personel terseleksi untuk promosi harus mencakup, tetapi tidak

terbatas kepada karakter, intelegensi, pertimbangan dan motivasi.

2.6.8 Penerimaan dan keberlanjutan klien

Dalam penerimaan dan keberlanjutan klien bahwa perikatan dari klien akan diterima

atau dilanjutkan untuk meminimumkan hubungan dengan klien yang manajemennya

17
tidak memiliki integritas. Adanya keharusan bagi KAP untuk menetapkan prosedur

dengan tujuan seperti tersebut, tidak berarti bahwa KAP bertugas untuk menentukan

integritas atau keandalan klien, dan tidak jugaberarti bahwa KAP berkewajiban

kepada siapa pun, kecuali kepada dirinya, untuk menerima, menolak atau

mempertahankan kliennya. Namun, dengan berdasarkan pada prinsip pertimbangan

hati-hati, KAP disarankan selektif dalam menentukan hubungan profesionalnya.

2.4.9 Inspeksi

Unsur inspeksi memberikan keyakinan memadai bahwa prosedur yang

berhubungan dengan unsur-unsur pengendalian mutu, seperti tersebut pada butir 2.41

sampai dengan butir 2.4.8, telah diterapkan secara efektif. Prosedur inspeksi dapat

dirancang dan dilaksanakan oleh individu yang bertindak untuk mewakili

kepentingan manajemen KAP.

Jenis prosedur inspeksi yang akan digunakan tergantung kepada pengendalian

yang ditetapkan oleh KAP dan penetapan tanggung jawab di KAP untuk

melaksanakan kebijakan dan prosedurpengendalian mutunya. Dari kesembilan unsur

yang terdapat dalam sistem pengendalian mutu kantor akuntan publik, penulis akan

memfokuskan lebih kepada tiga bagian dari kesembilan unsur tersebut, yakni

terhadap supervsi, konsultasi dan inspeksi.

Dalam menerapkan berbagai kebijakan dan prosedur pengendalian mutu, maka

kantor akuntan publik memperhatikan kepada penetapan tangung jawab, komunikasi

dan pemantauan. Berikut penjelasan yang terdapat dalam (SPAP, 2001) SPM seksi

100 No.08 – No 10, sebagai berikut:

18
a. Penetapan Tanggung Jawab

Penetapan tangung jawab ditetapkankepada personil KAP agar dapat melaksanakan

kebijakan dan prosedur pengendalian mutunya secara efektif. Hal-hal yang harus

mendapatkan pertimbangan memadai, dalam penetapan tanggung jawab, ialah

kompetensi individu, penetapan wewenang, dan lingkup supervisi yang diberikan.

b. Komunikasi

Mengkomunikasikan kebijakan dan prosedur pengendalian mutu kepada personilnya

dengan suatu cara yang memberikan keyakinan memadai bahwa kebijakan dan

prosedur tersebut dapat dipahami ialah wajib bagi KAP. Bentuk dan lingkup

komunikasi tersebut dapat menyampaikan kepada personel KAP, informasi mengenai

kebijakan dan prosedur pengendalian mutu yang berhubungan dengan mereka.

c. Pemantauan

KAP harus memantau keefektifan sistem pengendalian mutunya secara rutin,

kebijakan dan prosedur pengendalian mutunya penetapan tanggung jawabannya dan

komunikasi kebijakan dan prosedurnya. Ukuran struktur dan sifat praktik KAP

mempengaruhi keterbatasan dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh fungsi

pemantauan KAP. Selain pertimbangan unsur-unsur sistem pengendalian mutu diatas,

kantor akuntan publik juga harus mempertimbangkan kondisi dan kemampuan para

personelnya.

Oleh karena itu agar kebijakan dan prosedur pengendalian mutu yang telah

dirancang dan ditetapkan dapat berjalan secara efektif, maka harus disertai tindakan

19
yang dapat menjamin kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan kebijakan dan

prosedur. Tindakan tersebut antara lain meliputi penetapan tanggung jawab langsung

kepada beberapa staf dan personel untuk melaksanakan suatu prosedur tertentu,

melakukan komunikasi atas kebijakan dan prosedur pengendalian mutu yang telah

ditetapkan kepada semua staf dan personel kantor akuntan publik, dan mewajibkan

semua personel pada setiap tingkat organisasi untuk mematuhi kebijakan tersebut,

serta melakukan pemantauan terhadap efektifitas pelaksanaan sistem pengendalian

mutu yang telah ditetapkan.

2.7 Supervisi

Dalam setiap aktivitas organisasi atau perusahaan, tindakan supervisi biasa

dilakukan oleh atasan terhadap bawahan untuk memeriksa dan memastikan bahwa

pekerjaan yang dilakukan oleh bawahan telah dilakukan sesuai dengan rencana kerja

yang telah ditetapkan.

Dalam profesi akuntan publik, supervisi merupakan hal yang penting. Dalam

bidang pemeriksaan akuntan, supervisi diatur dalam Standar Profesional Akuntansi

Publik. Seksi ini berisi panduan bagi auditor yang melaksanakan audit berdasarkan

standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

Pengertian supervisi berdasarkan Standar Profesional Akuntan Publik (2001:311)

ialah sebagai berikut: Supervisi mencakup pengarahan usaha asisten dalam mencapai

tujuan audit dan penentuan apakah tujuan tersebut tercapai. Unsur supervisi adalah

memberikan instruksi kepada asisten, tetap menjaga penyampaian informasi masalah-

20
masalah penting yang di jumpai dalam audit, me-review pekerjaan yang

dilaksanakan, dan menyelesaikan perbedaan pendapat diantara staf audit kantor

akuntan. Luasnya supervisi memadai dalam suatu keadaan tergantung atas banyak

faktor, termasuk kompleksitas masalah dan kualifikasi orang yang melaksanakan

audit.

Supervisi merupakan cara atasan mentransfer pengalamannya kepada bawahan

berdasarkan permasalahan yang sedang dihadapidi lapangan. Penggunaan kertas kerja

sebagai salah satu media mendokumentasikan pekerjaan lapangan memudahkan dan

membantu di dalam mengarahkan personel dalam melakukan pekerjaan lapangan,

sehingga bawahan akan mendapatkan pengalaman yang terarah. Untuk itu dalam

pelaksanaan sistem pengendalian mutu kantor akuntan publik, supervisi harus di

lakukan untuk memastikan bahwa bawahan telah mengerti terhadap pekerjaan

lapangan audit yang akan dilakukan.

Menurut Mulianto dkk (2006), supervisor memiliki peran ganda yaitu:

a. Suatu saat ia mewakili perusahaan menyampaikan instruksi kerja, perintah

atau informasi lain kepada bawahan serta harus menjaga kepentingan

perusahaan.

b. Di saat lain, ia harus menyampaikan keluhan karyawan kepada atasan,

memperjuangkan kebutuhan karyawan, dan membela nasib karyawan sesuai

dengan norma-norma, peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

2.5.1 Unsur Unsur Supervisi

21
Dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP, 2001) unsur supervisi ialah

sebagai berikut:

a. Memberikan instruksi kepada asisten

Para asisten harus diberitahu tanggung jawab mereka dan tujuan prosedur yang

mereka laksanakan. Mereka harus diberitahu hal-hal yang kemungkinan berpengaruh

terhadap sifat, lingkup, dan saat prosedur yang harus dilaksanakan, seperti sifat bisnis

entitas yang bersangkutan dengan penugasan dan masalah akuntan dan audit.

b. Menjaga penyampaian informasi masalah-masalah penting yang dijumpai dalam

audit.

Auditor yang bertanggung jawab akhir untuk setiap audit harus mengarahkan

asisten untuk mengemukakan pertanyaan akuntansi. Signifikan yang muncul dalam

audit sehingga auditor dapat menetapkan seberapa signifikan masalah tersebut.

c. Memeriksa kembali pekerjaan yang dilaksanakan.

Pekerjaan yang dilaksanakan oleh asisten harus di review untuk menentukan

apakah pekerjaan tersebut telah dilaksanakan secara memadai dan auditor harus

menilainya apakah hasilnya sejalan dengan kesimpulan yang disajikan dalam laporan

auditor.

d. Menyelesaikan perbedaan pendapat di antara staf audit kantor akuntan.

Auditor yang bertanggung jawab akhir mengenai auditnya dan asistennya harus

menyadari prosedur yang harus diikuti jika terdapat perbedaan pendapat mengenai

masalah akuntansi di antara personel Kantor Akuntan Publik yang terlibatdalam

22
audit. Prosedur tersebut harus memungkinkan asisten mendokumentasikan

ketidaksetujuan di antara mereka, dan kesimpulan yangdiambil jika setelah konsultasi

memadai, ia berkeyakinan bahwa perlu baginya untuk tidak sependapat dengan

penyelesaian masalah tersebut. Dalam hal ini, dasar penyelesaian akhir masalah harus

juga didokumentasikan.

Menurut (Lidyawati, 2007) terdapat berbagai kebijakan dan prosedur

untuk mengimplementasikan tindakan supervisi yaitu :

a. Sediakan prosedur untuk perencanaan perikatan. Langkah yang dapat

dilakukan adalah sebagai berikut:

1) Bebankan tanggung jawab fungsi perencanaan suatu perikatan kepada satu

atau lebih personel dengan tingkat wewenang yang memadai. Ikut sertakan

personel yang semestinya ditugasi ke perikatan tertentu dalam proses

perencanaan.

2) Kembangkan informasi tentang latar belakang atau informasi reviewyang

dikumpulkan dari perikatan sebelumnya dan lakukan pemutakhiran sesuai

dengan kondisi yang telah berubah.

3) Jelaskan hal-hal yang harus dicakup dalam proses perencanaan penugasan.

b. Sediakan prosedur untuk mempertahankan standar mutu KAP untuk pekerjaan

yang dilaksanakan. Langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

23
1) Lakukan supervisi memadai pada semua tingkat organisasi, dengan

mempertimbangkan pelatihan, kemampuan, dan pengalaman personel yang

ditugasi.

2) Kembangkan pedoman mengenai bentuk dan isi kertas kerja.

3) Manfaatkan lembar isian, daftar pemeriksaan, dan kuesioner standar, sejauh

sesiau dengan kondisi, untuk membantu pelaksanaan perikatan.

4) Sediakan prosedur untuk menyelesaikan perbedaan pertimbangan profesional

di antara tim pelaksana perikatan.

5) Sediakan prosedur untuk me-reviewkertas kerja dan laporan perikatan.

2.8 Konsultasi

Kebijakan konsultasi yang ada dalam kantor akuntan publik merupakan alat

untuk memberikan pengalaman kepada personel. Konsultasi ditetapkan agar kantor

akuntan publik memperoleh keyakinan yang layak bahwa auditor pada kantor

akuntan publik akan meminta bantuan sepanjang diperlukan dari orang yang

mempunyai pertimbangan yang lebih matang ataupun otoritas.

Tindakan konsultasi ini diharapkan agar para pekerja lapangan audit dapat

meminta bantuan saran atau solusi kepada atasan audit dengan tidak kaku, sehingga

segala pekerjaan lapangan audit yang dilakukan tetap dalam koridor yang telah

ditetapkan.

Menurut (Lidyawati, 2007) terdapat berbagai kebijakan dan prosedur untuk

mengimplementasikan tindakan konsultasi yaitu :

24
a. Menganalisa masalah dan situasi khusus, sehingga personel harus

berkonsultasi dengan sumber ataupihak yang berwenang mengenai masalah

yang tidak biasa. Langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

1) Informasikan kebijakan dan prosedur konsultasi KAP kepada personel

2) Tentukan bidang atau situasi khusus yang mengharuskan personel untuk

berkonsultasi

3) Selenggarakan atau sediakan akses ke perpustakaan referensi dan sumber

yang berwenang lainnya.

4) Bentuk fungsi riset untuk membantu personel dalam hal masalah praktik.

b. Terdapat satu individu sebagai spesialis yang bertindak sebagai pihak yang

berwenang, dan tetapkan wewenang tersebut dalam koridor konsultasi. Buat

prosedur untuk menyelesaikan perbedaan pendapat antara personel pelaksana

perikatan dengan para spesialis.

c. Tentukan lingkup dokumentasi yang harus dilakukan terhadap hasil konsultasi

mengenai masalah atau situasi khusus yang mengharuskan adanya konsultasi

khusus. Langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

1) Jelaskan lingkup dokumentasi yang perlu disiapkan dan tanggung jawab

penyiapannya kepada personel

2) Tunjukkan kondisi yang mengharuskan dilakukannya dokumentasi

konsultasi.

3) Buat arsip, berdasarkan subjek, yang memuat hasil konsultasi untuk

referensi dan riset pada masa mendatang. Pekerjaan lapangan audit akan

25
menjadi lebih cepat dengan adanya konsultasi, sehingga kesulitan dalam

mengaudit, bisa lebih cepat terselesaikan bila dibandingkan dengan tidak

adanya tindakan konsultasi. Konsultasi merupakan lanjutan tindakan dari

adanya supervisi audit, sehingga konsultasi mempunyai pengaruh yang

cukup besar terhadap hasil pekerjaan lapangan audit.

2.9 Inspeksi

Inspeksi merupakan tindakan untuk memeriksa kembali terhadap pekerjaan

lapangan audit yang telah dilakukan oleh auditor. Maksud dari pemeriksaan kembali

ialah apakah segala tahapan dalam pekerjaan lapangan audit yang ditentukan telah

dijalankan dengan baik atau tidak, karena jika tindakan inspeksi tidakdilakukan,

resiko mutu audit yang dihasilkan akan semakin tinggi dan tentunya akan

berpengaruh terhadap kinerja dari kantor akuntan publik.

Dalam pelaksanaan tindakan inspeksi, kantor akuntan publik tentunya harus

menentukan langkah-langkah yang harus dilakukan yaitu seperti menetapkan

program inspeksi dan menyajikan pelaporan temuan inspeksi kepada tingkat

manajemen yang semestinya.

Menurut (Lidyawati, 2007) terdapat berbagai kebijakan dan prosedur untuk

mengimplementasikan tindakan inspeksi yaitu :

a. Tetapkan batas lingkup dan isi program inspeksi KAP. Langkah yang dapat

dilakukan ialah:

26
1) Tetapkan prosedur inspeksi yang diperlukan untuk memberikan keyakinan

yang memadai bahwa kebijakan dan prosedur pengendalian mutu KAP

diterapkan dengan efektif.

2) Tetapkan kualifikasi staf pelaksana inspeksi dan metode pemilihannya.

3) Laksanakan inspeksi terhadap unit,fungsi atau departemen praktik.

b. Sajikan pelaporan temuan inspeksidan tindakan pemantauan yang

dilaksanakan atau direncanakan, kepada tingkat manajemen yang semestinya.

Langkah yang dapat dilakukan ialah:

1) Lakukan pembahasan temuan review inspeksi terhadap perikatan yang di-

review, dengan staf pelaksana perikatan.

2) Lakukan pembahasan temuan inspeksi mengenai unit, fungsi, departemen

yang di-review, dengan personal manajemen yang bersangkutan.

3) Laporkan temuan dan rekomendasikan inspeksi, bersama dengan tindakan

perbaikan yang diambil atau direncanakan, kepada manajemen KAP.

4) Pastikan bahwa tindakan perbaikan yang direncanakan telah dilaksanakan.

Dari hasil tindakan inspeksi, hasil pekerjaan lapangan audit akan dapat

terlihat baik atau buruk, sehingga inspeksi memiliki pengaruh yang cukup

signifikan terhadap pekerjaan lapangan audit.

27
BAB III

3.1 KESIMPULAN

Penerapan Sistem Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik telah dilaksanakan

dengan baik. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam setiap penugasannya, Kantor

Akuntan Publik melaksanakan Sistem Pengendalian Mutu yang ditetapkan IAI.

Perencanaan audit oleh KAP telah dilaksanakan dengan baik. Hal ini

mengindikasikan bahwa sebelum melaksanakan pemeriksaan KAP terlebih dahulu

merencanakan pemeriksaan yang akan dilakukan dengan baik.

28
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Sukrisno. 2012. Auditing Edisi 4. Jakarta : Salemba Empat.

Arens, dkk. 2011. Jasa Audit dan Assurance Buku 1. Jakarta : Salemba Empat.

Mulyadi. 2002. Auditing buku 1 edisi 6. Jakarta: salemba empat

http://asisiverry.blogspot.com/2012/02/pengendalian-mutu-kantor-akuntan-

publik.html

29