Anda di halaman 1dari 8

POTENSI

1. Potensi Tanaman Pangan

Potensi lahan yang cukup luas terutama untuk beberapa komoditas tanaman pangan seperti padi
dengan luas panen tahun 2003 mencapai 16.409 ha dengan produksi mencapai 60.131 ton,
jagung dengan luas panen 2.464 ha dengan produksi 3.778 ton, ubi jalar luas panen 3.321 ha
dengan luas panen 28.387 ton, ubi kayu luas panen 8.585 ha dengan produksi 103.297 ton,
kacang tanah dengan luas panen 1.547 ha dengan luas panen 1.748 ton. Komoditas pertanian lain
yang juga banyak diusahakan di wilayah ini adalah, kedele, kacang hijau, tanaman sayur-sayuran
seperti kentang, kol/kubis, sawi, tomat, bawang merah, banwang daun, bawang putih dan buah-
buahan seperti alpokat, jeruk, belimbing, sukun, durian, jambu, manggis, pepaya pisang,
rambutan dan salak.

2. Potensi Perkebunan

Di sektor perkebunan terdapat potensi perkebunan kelapa yang cukup besar, yang ditunjukkan
oleh kondisi bahwa sebagian besar penduduk wilayah ini mengusahakan komoditas ini. Tercatat
terdapat 10 komoditi perkebunan yang terdapat di Propinsi Maluku Utara yang menopang sub-
sektor perkebunan.

Jenis komoditi utama adalah tanaman coklat (kakao), cengkeh dan kelapa. Dari beberapa
komoditi ini rata-rata tingkat produktivitas tertinggi berada di Kabupaten Halmahera Selatan,
Kabupaten Halmahera Utara dan Halmahera Barat.

Tercatat terdapat 10 komoditi perkebunan yang terdapat di Propinsi Maluku Utara yang
menopang sub-sektor perkebunan. Jenis komoditi utama adalah tanaman coklat (kakao), cengkeh
dan kelapa. Dari beberapa komoditi ini rata-rata tingkat produktivitas tertinggi berada di
Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Halmahera Utara dan Halmahera Barat.

3. Potensi Sektor Kehutanan

Kawasan hutan di Maluku Utara tahun 2003 seluas 3.184.910 Ha, yang terdiri dari hutan lindung
702.539 ha, hutan produksi terbatas 572.845 ha, hutan produksi 552.227 ha, hutan PPA 48.836
ha dan hutan konversi 1.308.463 ha. Dari potensi kayu tersebut dimanfaatkan dalam bentuk
ekspor produksi kayu lapis 28.371 ton dengan nilai ekspor 11.476.000 US Dollar dan kayu
gergaji 329.000 ton dengan nilai ekspor 62.000.000 US Dollar (data Januari-September 2003).

Luas areal perkebunan kelapa adalah 162.393 ha dengan produksi tahun 2003 sebesar 121.831
ton kelapa. Komoditas lain yang juga cukup potensial dan banyak diusahakan adalah cengkih
dengan luas areal mencapai 10.882 ha dan produksi tahun 2003 mencapai 6.528 ton; pala juga
banyak diusahakan di beberapa lokasi dengan total keseluruhan areal perkebunan seluas 9.833 ha
dan produksi tahun 2003 mencapai 5.899 ton; kakao dengan luas areal mencapai 26.686 ha dan
produksi 19.998 ton; pala dengan luas areal 9.833 ha dengan produksi mencapai 5.899 ton; kopi
dengan luas areal 4.025 ha dengan produksi mencapai 2.414 ton.

4. Potensi Peternakan

Jenis ternak yang mempunyai akses pengembangan agribisnis adalah; sapi potong dan unggas
(ayam buras, ras pedaging, ras petelur dan itik). Secara umum wilayah Maluku Utara memiliki
kesesuaian dimana lahan pengembangan peternakan meliputi lahan kosong, padang
pengembalaan, kebun kelapa dan lahan pekarangan. Wilayah Maluku Utara merupakan suatu
hamparan yang bisa dijadikan sebagai kawasan untuk pengembangan peternakan yang
terkonsentrasi.

5. Potensi Kelautan dan Perikanan

Dengan melihat karakteristik wilayah Provinsi Maluku Utara, terdiri dari 76,28% merupakan
perairan, maka dapat dikatakan bahwa, pengembangan potensi unggulan daerah dibeberapa
sektor, khususnya subsektor perikanan dan kelautan mempunyai prospek yang sangat
menjanjikan. Potensi yang tersedia pada subsektor perikanan dan kelautan (standing stock)
sebesar 694.382,48 ton per tahun dengan potensi lestari sebesar 347.191,24 ton per tahun, dan
baru dimanfaatkan sebesar 26,51% atau sekitar 92.052,21 ton per tahun.

Jenis ikan yang tersebar di perairan Maluku Utara adalah ikan pelagis besar (tuna, cakalang,
tongkol, Kakap dan tenggiri) potensi per tahun sebesar 211.590,00 ton, ikan pelagis kecil (teri,
kembung, layang, selar dan julung) dengan potensi per tahun sebesar 169.834,33 ton, jenis ikan
demersal (kakap merah, lencan, ekor kuning, baronang) sebesar 135.005,24 ton per tahun, ikan
karang dengan potensi per tahun sebesar 97.801,78 ton, Lobster dengan potensi per tahun sebesar
11.999,74 ton, Cumi-cumi potensi pertahun sebesar 35.072,18 ton, Udang Penied potensi per
tahun sebesar 26.545,26 ton.

Selain itu produksi perikanan tangkap untuk jenis ikan pelagis besar 25.488,36 ton per tahun,
pelagis kecil sebesar 40.159,66 ton per tahun, demersal sebesar 14.997,10 ton per tahun, ikan
karang sebesar 9.872,48 ton per tahun, Lobster sebesar 2.973,97 ton per tahun, Cumi-cumi
sebesar 4.987,98 ton per tahun, dan Udang Penied 2.002,10 ton per tahun.

Sedangkan perikanan budidaya dengan jenis komoditi ikan kerapu dengan luas lahan sebesar
24,75 Ha, Rumput laut dengan luas lahan 74,25 Ha, Ikan Nila dan Ikan Mas dengan luas lahan
22,67 Ha, dan Udang Windu dengan luas lahan 20,10 Ha, produksi yang dicapai pada tahun
2004 untuk jenis ikan kerapu sebesar 38.484 ton per tahun, rumput laut sebesar 16.387 ton per
tahun, Ikan Nila dan Ikan Mas sebesar 19.682 ton per tahun, dan Udang Windu sebesar 3.556 ton
per tahun.

6. Potensi Pertambangan

Potensi bahan galian logam dan non-logam seperti nikel-kobal, tembaga, emas dan perak
merupakan komoditi unggulan untuk dikembangkan lebih lanjut. Pulau Halmahera mempunyai
potensi endapan bahan galian emas yang cukup prospektif, temuan endapan emas epitermal di
daerah Gosowong dengan potensi yang terkandung dalam busur magnetik. Untuk bahan galian
nikel, perencanaan penyediaan biji nikel untuk konsumsi pabrik Feni tahun 2000 - 2030
dibutuhkan sebanyak 48.750.000 ton. Sedangkan yang baru tersedia sampai dengan saat ini
hanya sebanyak 16.355.000 ton, sehingga terdapat kekurangan biji nikel sebanyak 32.395.000
ton. Sumber endapan nikel laterit di daerah teluk Weda yang sampai saat ini belum dilakukan
eksploitasi secara terinci yang berkisar 92.000.000 ton.

Indikasi adanya hidro karbon ditunjukan oleh gejala rembesan minyak seperti yang ditemukan di
Pulau Halmahera yang dilakukan oleh Pertamina dan British Petroleum di Cekungan Halmahera
Selatan dengan rembesan flour pada kedalaman 3000 meter, selain itu terdapat potensi panas
bumi di Jailolo, energi panas bumi di Songa Bacan.

Dari berbagai potensi yang dimiliki tersebut, sehingga Propinsi Maluku Utara disebut sebagai
laboratorium alam geologi dikarenakan kedudukannya berada pada tumbukan tiga lempeng
tektonik, yaitu lempeng Australia yang bergerak ke arah selatan, lempeng Eurasia yang bergerak
dari arah barat dan Lempeng Pasifik dari arah barat. Beberapa sumber daya mineral atau bahan
galian tambang yang ditemukan tersebar hampir di seluruh daerah Maluku Utara, seperti;
Tembaga, Uranium, Emas, Nikel, Batu Bara, Alumanium/Bauksit, Magnesit, Pasir Besi,
Titanium, Mangan, Asbes, Kaolin, Diatomit, Batu Permata, Kromit, Pasir Kuarsa, Batu
Gamping, Batu Apung, Granit, Talk, Migas, Potensi Panas Bumi, dan Sumber Daya Air.

Demikian pula untuk kegiatan usaha pertambangan yang didukung ketersediaan potensi
tambang, utamanya eksploitasi Emas dan Nikel. Sementara masih tersedia potensi bahan galian
yang belum diolah sebanyak 18 belas jenis bahan galian yang termasuk golongan A, B dan C.
Tingkat produksi dalam tahun yang sama mencapai nilai ekspor 11.670.000 US Dollar.

Di sektor pertambangan didukung oleh ketersediaan potensi tambang, utamanya eksploitasi


Emas dan Nikel serta 18 belas jenis bahan galian yang termasuk golongan A, B dan C yang
belum diolah. Pulau Halmahera mempunyai potensi endapan bahan galian emas yang cukup
prospektif, temuan endapan emas epitermal di daerah Gosowong dengan potensi yang
terkandung dalam busur magnetik. Sumber endapan nikel laterit di daerah teluk Weda yang
sampai saat ini belum dilakukan eksploitasi secara terinci yang berkisar 92.000.000 ton. Indikasi
adanya hidro karbon di Propinsi Maluku Utara ditunjukan oleh gejala rembesan minyak seperti
yang ditemukan di Pulau Halmahera yang dilakukan oleh Pertamina dan British Petroleum di
Cekungan Halmahera Selatan dengan rembesan flour pada kedalaman 3000 meter,selain itu
terdapat potensi panas bumi di Jailolo, energi panas bumi di Songa Bacan.

Dari berbagai potensi yang dimiliki tersebut, sehingga Propinsi Maluku Utara disebut sebagai
laboratorium alam geologi dikarenakan kedudukannya berada pada tumbukan tiga lempeng
tektonik, yaitu lempeng Australia yang bergerak ke arah selatan, lempeng Eurasia yang bergerak
dari arah barat dan Lempeng Pasifik dari arah barat. Beberapa sumber daya mineral atau bahan
galian tambang yang ditemukan tersebar hampir di seluruh daerah Maluku Utara, seperti;
Tembaga, Uranium, Emas, Nikel, Batu Bara, Alumanium/Bauksit, Magnesit, Pasir Besi,
Titanium, Mangan, Asbes, Kaolin, Diatomit, Batu Permata, Kromit, Pasir Kuarsa, Batu
Gamping, Batu Apung, Granit, Talk, Migas, Potensi Panas Bumi, dan Sumber Daya Air.
* Emas : 78.200.000 ton Au=2-30 gram/ton yang terdapat di 16 lokasi dan tersebar di Bacan,
Galela, Loloda, Kao, Obi, Sanana, Taliabu Barat, Kayoa, Morotai Selatan dan Morotai Utara.
*Mangan : di Kecamatan Galela dan Kecamatan Loloda Utara, dan baru eksploitasi sebesar
221.553 ton.

*Tembaga dengan jumlah kandungan sebesar 70.000.000 ton tersebar di Bacan, Obi, Loloda,

*Besi dengan jumlah kandungan sebesar 87.700.000 ton (20% Fe),

* Pasir Besi dengan jumlah kandungan sebesar 10.000.000 ton (terkira),

* Batu Bara terdapat di 10 lokasi dan tersebar di Bacan, Jailolo, Galela, Kao, Makian/Malifut,
Morotai Selatan, Obi, Sanana, Taliabu Barat dan Loloda. Nikel dengan luas areal 47.898 Ha,
terdapat di Obi dan Taliabu.

7. Potensi Pariwisata

Potensi pariwisata di daerah ini berupa wisata budaya dan purbakala, sejarah, adat istiadat yang
dikenal dengan Kesultanan Moloku Kie Raha. Peninggalan-peninggalan sejarah masa silam
antara lain Kadaton Sultan Ternate dan Kadaton Sultan Tidore.

Potensi wisata bahari berupa pulau-pulau dan pantai yang indah dengan taman laut serta jenis
ikan hias, merupakan potensi utama dalam rangka mengembangkan wisata bahari. Wisata alam
seperti batu lubang yang tersebar hampir diseluruh wilayah, hutan Wisata yang dapat
diperuntukan bagi kepentingan taman nasional yang memiliki spesies endemik ranking ke 10 di
dunia. Dengan potensi seperti itu, maka pengembangannya diarahkan pada lokasi-lokasi yang
memiliki interaksi kegiatan wisata.

Kawasan suaka alam yang terdiri dari beberapa jenis, baik di daratan maupun wilayah perairan
laut yang tersebar pada berbagai lokasi seperti; Cagar Alam Gunung Sibela di Pulau Bacan,
Cagar Alam di Pulau Obi, Cagar Alam Taliabu di Pulau Taliabu, Cagar Alam Pulau Seho.

Kawasan Cagar Budaya yang memiliki nilai sejarah kepurbakalan tersebar di wilayah Propinsi
Maluku Utara meliputi Cagar Budaya di Kota Ternate, Kota Tidore, Kabupaten Halmahera
Barat, Kabupaten Halmahera Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan, dan Kabupaten Halmahera
Utara.
FASILITAS UMUM

1. PERHUBUNGAN

a. Prasarana Jalan

Transportasi Jalan di Provinsi Maluku Utara dikembangkan untuk melayani daerah-daerah yang
merupakan pusat kegiatan lokal maupun pusat kegiatan wilayah. Total panjang jalan tahun 2004
sesuai klasifikasinya terdiri dari jalan nasional sepanjang 458,21 Km jalan provinsi sepanjang
1.816,67 Km dan jalan Kabupaten/Kota sepanjang 3.279,742 Km. Dari keseluruhan panjang
jalan provinsi, 347,36 Km mengalami rusak berat, rusak sedang dan ringan masing-masing
sepanjang 155,82 Km dan 65,19 Km.

Moda angkutan darat yang beroperasi dapat melayani kebutuhan pengangkutan barang dan orang
baik inter maupun antar pulau terdiri dari bus sebanyak 13 unit, penumpang umum 1.547 unit,
truck 360 unit dan angkutan penyeberangan sebanyak 3 unit.

Jumlah terminal yang ada di Provinsi Maluku Utara sebanyak 12 buah tersebar di Pulau Ternate
sebanyak 3 buahl yaitu Terminal Gamalama, Bastiong dan Dufa-Dufa sedangkan untuk kawasan
Pulau Halmahera yaitu terminal Sidangoli, Jailolo, Malifut, Tobelo, dan Galela dan terminal
lainnya yakni terminal Daruba di Morotai, terminal Labuha di Bacan dan Terminal Goto di
Tidore.

Dalam rangka pengembangan kawasan Pulau Halmahera maka jaringan jalan yang menjadi
prioritas untuk dibangun di Pulau Halmahera adalah jaringan jalan trans Halmahera yang
menghubungkan kota Sidangoli-Dodinga – Nusajaya – Subaim – Buli – Maba – Wasile – Sagea
– Kobe -Weda - Payahe – Weda – Mafa – Matuting – Saketa, Akelamo – Sofifi - Dodinga.

Rencana yang terkait dengan pengembangan jaringan jalan di Provinsi Maluku Utara meliputi
pengembangan/perbaikan/peningkatan jaringan jalan Provinsi dan jalan Kabupaten yang
bertujuan untuk mempermudah hubungan antara kota dan Kecamatan serta antar desa maupun
untuk menunjang terbentunya sentra-sentra produksi.

b. Prasarana Perhubungan Udara

Sarana transportasi udara ini untuk mendukung sarana transportasi darat dan laut. Di Propinsi
Maluku Utara saat ini terdapat 10 buah pelabuhan udara yang terdiri dari kelas III, 1 buah, kelas
IV, 2 buah, kelas V, 3 buah dan kelas Perintis 5 buah.

Selain itu lapangan terbang bekas perang dunia kedua dengan panjang run way 2.000 M yang
terdapat di Lolobata Kecamatan Wasile Kabupaten Halmahera Timur. Sedangkan transportasi
udara regular dilayani oleh Bandara Udara Babullah Ternate dengan rute Ternate-Manado,
Ternate-Gorontalo-Makassar-Surabaya-Jakarta yang dilayani oleh PT. Merpati Nusantara Air
Lines, PT. Bouraq Air Lines, PT. Lion Air, PT. Pelita Air Service.
Bandar Udara Babullah merupakan pintu gerbang dari dan ke Provinsi Maluku Utara, dna telah
didarati Pesawat type Boing 737 seri 200. Dengan adanya bandara ini, kelancaran roda
pemerintahan, mobilitas pelaku ekonomi dan masyarakat dapat terselenggara sesuai dengan
tingkat kebutuhannya. Hal ini dapat dilihat pada frekwensi penerbangan dari dan ke Bandar
Babullah yang dari waktu ke waktu menunjukkan peningkatan dengan frekwensi penerbangan
tertinggi ke Manado dan Makassar yaitu rata-rata 20 kali per minggu, disusul Ambon dengan 6
kali perminggu dan Sorong 2 kali perminggu.

c. Sistem Transportasi Laut.

Sarana transportasi laut yang melayani kepulauan Maluku Utara terdiri dari kapal PELNI, kapal
Nusantara, Perintis dan kapal pelayanran rakyat(Pelra), yang dikelola oleh pemerintah,
perusahaan swasta, maupun perorangan. Pelayaran reguler oleh kapal-kapal PELNI yang
dilayani oleh pelabuhan A.Yani Ternate.

2. LISTRIK

Kebutuhan akan energi listrik di Provinsi Maluku Utara sampai tahun 2004 bertumpu pada
sumber PLTD yang mempunyai kapasitas 55.772 KW. Sementara itu kebutuhan listrik pada
beban puncak adalah 18.989 KW. Dengan melihat pada penyediaan dan kebutuhan beban puncak
tersebut, maka suplai energi listrik di Maluku Utara masih belum memadai dan sangat tergantung
pada baik buruknya kondisi mesin diesel.

Untuk menghindari kemungkinan terjadinya pemadaman listrik akibat over produksi pada
PLTD, maka sedang direncanakan penyiapan pembangkit listrik alternatif.

Untuk listrik pedesaan, pada tahun 2004 dari 720 desa di Maluku Utara yang telah memperoleh
listrik 449 desa (62,36%) dengan jumlah pelanggan sebanyak 51.756 pelanggan. Kendala dalam
pengembangan listrik di daerah pedesaan adalah karena faktor kondisi geografi, kurangnya
pendanaan pemerintah dan tingkat beban yang secara teknis dan ekonomis belum layak dipasok
pembangkit skala besar.

Dalam rangka pengembangan pusat-pusat produksi pertanian maka perlu didukung oleh sarana
irigasi yang memadai, akan tetapi dari 39 daerah irigasi di Provinsi Maluku Utara dengan luas
lahan 35.886,34 Ha baru 7.290,10 Ha yang dilengkapi dengan sarana irigasi dan masih tersisa
27.596,24 Ha.

3. AIR BERSIH

Pembangunan Prasarana dan sarana air bersih di Propinsi Maluku Utara sampai saat ini belum
menyentuh masyarakat pedesaan, selain itu tingkat pelayanan air bersih masih mencakup
kawasan perkotaan dan sebagian ibu kota kecamatan dan perdesaan dengan skala kecil. Pada
umumnya, masyarakat perdesaan mendapatkan air dari sarana tradisional, seperti sumur, mata
air, sungai dan sebagainya.
Departemen Pekerjaan Umum. Sebagai pengelolanya dibentuk Badan Pengelola Air Minum
(BPAM) yang bersama-sama dengan pemerintah daerah dikembangkan menjadi Perusahaan
Daerah Air Minum (PDAM). Sedangkan pembangunan prasarana dan sarana air minum di
perdesaan dilaksanakan oleh Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan
Penyehatan Lingkungan (PPM-PL), Departemen Kesehatan dibantu oleh Direktorat Jendral
Pembangunan Masyarakat Desa (PMD), Departemen Dalam Negeri. Pola perencanaan,
pelaksanaan, dan pengelolaan ditentukan oleh pemerintah pusat melalui departemen teknis yang
menangani.

Penggunaan air leding (PDAM) untuk kebutuhan rumah tangga baru mencapai 21,44%. Jumlah
pelanggan distribusi PDAM Kota Ternate memperoleh air minum melalui mata air dan air
permukaan danau laguna kondisi tahun 2001 mencapai 11.085 pelanggan.

Di Kota Tidore Kepulauan terdapat 4 buah sumur dan 1 buah reservoir sebagai sarana air bersih
yang dikelola oleh Perusahaan Air Minum (PDAM) yang dapat melayani 35.000 jiwa. Selain itu
sumur galian sumber air bersih yang tersebar di kelurahan yang memiliki debet air yang tetap
sepanjang tahun. Di Payahe Kecamatan Oba Selatan terdapat sumber air Bastiong, kali Sigela
berjarak 5 Km dari Payahe airnya dapat melayani 7.000-8.000 jiwa.

Di Weda Kabupaten Halmahera Tengah terdapat 2 buah sumur dangkal yang dapat melayani
7.000 jiwa, Di Maba Kabupaten Halmahera Timur sumber air kali Buli dapat melayani
2.000.000 jiwa, di Wasile 1 buah sumur dangkal sebagai sumber air bersih dapat melayani 5.000
jiwa.

Selain sumber air bersih yang dikelola PDAM, juga program air bersih yang oleh Departemen
Permukiman dan Prasarana Wilayah melalui program subsidi BBM, yang dilaksanakan sejak
tahun 2001 dengan sasaran masyarakat miskin di daerah kumuh perkotaan dan perdesaan yang
belum terlayani PDAM, wilayah rawan air bersih, membeli air dengan harga mahal, mengambil
air pada lokasi yang jauh, daerah yang mengalami kekeringan yang berkepanjangan, Adapun
tujuannya untuk memenuhi kebutuhan air bersih dengan harga yang lebih murah.

Dari program subsidi BBM tersebut telah dibangun sistem untuk Kota Ternate pada 9 kelurahan
dengan modul hidran umum yang dimanfaatkan oleh 8.820 jiwa, Kota Tidore Kepulauan 11
kelurahan modul tangki air yang melayani 9.825 jiwa, Kabupaten Halmahera Selatan di 5 desa
dengan modul SIPAS yang melayani 5.250 jiwa.

4. TELEPON

Sampai dengan tahun 2003 PT. Telkom telah memiliki 1 unit sentra telepon dengan kapaitas
sentral 7560. Jumlah pelanggan sebanyak 13.750 pelanggan. Selain sambungan telepon langsung
sarana telekomunikasi lain yang ada antara lain wartel. Penggunaan pulsa tahun 2003 sebanyak
96.152.112 pulsa untuk SLJJ dan 31.486.363 pulsa/tahun untuk interlokal, dan jumlah
pengiriman telegram sebanyak 3.131.

Perkembangan jeringan prasarana telekomunikasi di Propinsi Maluku Utara sebagai berikut : Di


Kabupaten Halmahera Utara (Daruba dan Tobelo) terdapat jeringan telekomunikasi dengan
kapasitas sentral 1.220 SST, kapasitas jeringan 1.504 SST dan jumlah pelanggan 777 , di
Kabupaten Kepulauan Sula ( Taliabu Timur dan Sanana), kapasitas sentral 1.442 SST, kapasitas
jeringan 1.260 SST dangan jumlah pelanggan 1.089, di Kabupaten Halmahera Selatan terdapat
kapasitas sentral 1.220 SST, kapasitas jeringan 774 SST dan jumlah pelanggan 449, dan
Kabupaten Halmahera Barat (Jailolo) dengan kapasitas sentral 392 SST, kapasitas jeringan 440
SST dan jumlah pelanggan 231.