Anda di halaman 1dari 29

PROSEDUR ORIENTASI PETUGAS BARU

No. Dokumen No. Revisi No. Halaman

02 1/1
RS ISLAM
.............................. …………………… …………………
BANJARMASIN

Ditetapkan
Tanggal Terbit
Direktur Rumah Sakit Islam Banjarmasin
SPO
1 Mei 2009
Dr. Hj. Rafiqah
1. Pengertian Tatacara mempersiapkan petugas baru IGD

2. Tujuan Sebagai acuan orientasi petugas IGD baru agar perlu menjalani
orientasi selama 1 minggu sebagai persiapan melaksanakan tugas
3. Kebijakan Sebelum bertugas di IGD petugas baru perlu menjalani orientasi
selama 1 minggu sebagai persiapan melaksanakan tugas

4. Prosedur 1. Sebelum melaksanakan tugas di IGD petugas baru


melaksanakan orientasi / pengenalan IGD
2. Masa orientasi / pengenalan selama 1 minggu/ 6 hari kerja
3. Jadual orientasi petugas baru :
 Hari ke I : perkenalan dengan, Dokter IGD, Kep.
Ruangan dan petugas IGD lainnya
 Hari ke II : Mengetahui struktur organisasi dari
Struktur fungsional dan mekanisme kerja
IGD
 Hari ke III : Mengetahui pembagian tugas dan uraian
Tugas petugas IGD
 Hari ke IV : Mempelajari protap-protap IGD
 Hari ke V : Memantapkan orientasi hari ke I sampai
Hari ke IV
 Hari ke VI : Menyaksikan dan mengikuti pelaksanaan
Tugas sehari-hari di IGD
4. Setelah menjalani orientasi selama 1 minggu, petugas baru
mendapatkan tugas dalam uraian tugasnya
5. Pada minggu ke II petugas baru melaksanakan tugas sesuai
dengan tugas yang diberikan
5. Unit terkait TU
PROSEDUR PASIEN PULANG DENGAN IZIN DOKTER

No. Dokumen No. Revisi No. Halaman

02 1/1
RS ISLAM
.............................. …………………… …………………
BANJARMASIN

Ditetapkan
Tanggal Terbit
Direktur Rumah Sakit Islam Banjarmasin
SPO
1 Mei 2009
Dr. Hj. Rafiqah
1. Pengertian Pasien yang telah mendapatkan perawatan dan pengobatan yang
telah dinyatakan sembuh oleh dokter

2. Tujuan Sebagai acuan memulangkan pasien dari ruang rawat inap

3. Kebijakan Setiap pasien pulang harus seijin dokter

4. Prosedur 1. Dokter mengijinkan pulang


2. Bagian administrasi perawat menyiapkan perincian
3. Pembiayaan dan surat-surat yang dibutuhkan antara lain :
surat control
4. Surat keterangan sakit
5. Surat perincian diatur ke bagian keuangan oleh bagian
administrasi perawat
6. Perawat menganjurkan keluarga pasien menyelesaikan
administrasi ke bagian keuangan
7. Surat bukti pembayaran diserahkan ke bagian administrasi
perawat
8. Perawat memberikan penjelasan tentang perawatan
selanjutnya dirumah dan menyerahkan surat-surat yang
diperlukan pasien

5. Unit terkait Instalasi Rawat Inap


Instralasi Rawat Jalan
PROSEDUR PASIEN PULANG PAKSA

No. Dokumen No. Revisi No. Halaman

02 1/1
RS ISLAM
.............................. …………………… …………………
BANJARMASIN

Ditetapkan
Tanggal Terbit
Direktur Rumah Sakit Islam Banjarmasin
SPO
1 Mei 2009
Dr. Hj. Rafiqah
1. Pengertian Pasien pulang paksa adalah pasien yang mendapatkan perawatan
dan pengobatan yang dinyatakan belum sembuh oleh dokter,
pulang atas kemauan sendiri

2. Tujuan Sebagai acuan memulangkan pasien pulang paksa dari ruang


rawat inap
3. Kebijakan Setiap pasien pulang dengan belum mendapat ijin dokter

4. Prosedur 1. Dokter/perawat memberikan penjelasan dan informasi


tentang keadaan penyakitnya
2. Keluarga/pasien menandatangani surat pernyataan pulang
paksa
3. Bagian administrasi/perawat menyiapkan perincian
pembiayaan dan surat control
4. Sutar perincian diantar ke bagian keuangan oleh bagian
administrasi perawat
5. Perawat menganjurkan keluarga pasien menyelesaikan
administrasi ke bagian keuangan
6. Surat bukti pembayaran diserahkan ke bagian administrasi
perawat
7. Perawat memberikan penjelasan tentang perawatan
selanjutnya dirumah dan menyerahkan surat-surat yang
diperlukan pasien
5. Unit terkait Instalasi Rawat Inap
PROSEDUR PENANGANAN LUKA BAKAR

No. Dokumen No. Revisi No. Halaman

02 1/1
RS ISLAM
.............................. …………………… …………………
BANJARMASIN

Ditetapkan
Tanggal Terbit
Direktur Rumah Sakit Islam Banjarmasin
SPO
1 Mei 2009
Dr. Hj. Rafiqah
1. Pengertian Luka bakar adalah luka yang terjadi akibat sentuhan permukaan
tubuh dengan benda-benda yang menghasilkan panas (misalnya :
api, air panas, listrik) atau zat-zat yang bersifat membakar
(misalnya : asam kuat dan basa)
- Mencegah masukan kuman-kuman dan kotoran kedalam luka
- Mencegah sekresi yang berlebihan
- Mengurangi rasa sakit
- Mengistirahatkan bagian tubuh yang luka atau sakit
- Merawat semua derajat luka bakar sesuai dengan kebutuhan

2. Tujuan Sebagai acuan dalam melakukan pengobatan luka bakar

3. Kebijakan Perawat yang terampil


Alat-alat yang lengkap

4. prosedur PERSIAPAN ALAT STERIL


1. pinset anatomi 6. Kassa
2. pinset chirurge 7. Kapas
3. gunting 8. Hand scoen
4. bengkok 9. Spuit
5. kom kecil 10. NaCl
BAKI/POLEY BERISI ALAT NON STERIL
1. Gunting balutan 4. SSD (silver sulfa diacin)
2. Plester 5. Tempat sampah
3. Verban
PELAKSANAAN
1. Memberitahu pasien dan keluarga
2. Perawat cuci tangan
3. Mengatur posisi (perawat memakai hand scoen)
4. Perawat membersihkan luka bakar
5. Mendesinfektan luka dan sekitarnya dengan NaCl
PROSEDUR OBSERVASI PASIEN GAWAT

No. Dokumen No. Revisi No. Halaman

02 1/1
RS ISLAM
.............................. …………………… …………………
BANJARMASIN

Ditetapkan
Tanggal Terbit
Direktur Rumah Sakit Islam Banjarmasin
SPO
1 Mei 2009
Dr. Hj. Rafiqah
1. Pengertian Memantau keadaan pasien gawat

2. Tujuan Sebagai acuan pemantauan / observasi penderita gawat agar


selamat jiwanya
3. Kebijakan Pelayanan yang cepat dan tepat akan menyelamatkan jiwa
seseorang

4. prosedur 1. penderita gawat harus di observasi


2. observasi dilakukan tiap 5 – 15 menit sesuai dengan tingkat
kegawatannya
3. observasi dilakukan oleh paramedic perawat, bila perlu oleh
dokter
4. hal-hal yang perlu diobservasi :
a. keadaan umum penderita
b. kesadaran penderita
c. kelancaran jalan nafas (air way)
d. kelancaran pemberian O2
e. tanda-tanda vital :
- tensi
- nadi
- respirasi/pernafasan
- suhu
f. kelancaran tetesan infuse
5. apabila hasil observasi menunjukkan keadaan penderita
semakin tidak baik maka paramedic perawat harus lapor
kepada dokter yang sedang bertugas (diluar jam kerja
pertelpon)
6. apabila kasus penyakitnya diluar kemampuan dokter IGD
maka perlu dirujuk
7. observasi dilakukan maksimal 2 jam, selanjutnya diputuskan
penderita bias pulang atau rawat inap
8. perkembangan penderita selama observasi dicatat di kartu
status penderita / lembar observasi
9. setelah observasi tentukan apakah penderita perlu : rawat
jalan/rawat inap/rujuk

5. Unit terkait Rawat Inap


TRIASE

No. Dokumen No. Revisi No. Halaman

02 1/1
RS ISLAM
.............................. …………………… …………………
BANJARMASIN

Ditetapkan
Tanggal Terbit
Direktur Rumah Sakit Islam Banjarmasin
SPO
1 Mei 2009
Dr. Hj. Rafiqah
1. Pengertian Memilah dan menentukan derajat kegawatan penderita

2. Tujuan Sebagai acuan menentukan prioritas dan tempat pelayanan medic


penderita
3. Kebijakan Mendahulukan penderita yang lebih gawat bukan yang dating
dahulu

4. Prosedur 1. Penderita dating diterima petugas / paramedis IGD


2. In form concern (Penandatanganan persetujuan tindakan)
oleh keluarga pasien
3. Diruang triase dilakukan anamnese dan pemeriksaan
singkat dan cepat (selintas) untuk menentukan derajat
kegawatannya. Oleh paramedis yang terlatih / dokter
4. Penderita dibedakan menurut kegawatannya dengan
memberi kode huruf :
a. P III adalah penderita tidak gawat dan tidak darurat
Misalnya : penderita common Cold, penderita rawat
jalan, abses, luka robek
b. P II adalah penderita yang kegawat daruratan masih
tidak urgent
Misalnya : penderita Thipoid, Hipertensi, DM
c. P I adalah penderita gawat darurat (pasien dengan
kondisi mengancam)
Misalnya : Penderita stroke thrombosis, luka bakar,
appendic acuta, KLL, CVA, MIA, asma bronchial dll
5. Penderita mendapatkan prioritas pelayanan dengan urutan
warna : PI-PII-PIII
6. Pada waktu jam kerja penderita dengan prioritas PIII
dikirim ke BP / rawat jalan
5. Unit terkait Poliklinik, Ruang perawatan
PROSEDUR PENGANGKATAN JAHITAN LUKA / UP
HEATING

No. Dokumen No. Revisi No. Halaman

02 1/1
RS ISLAM
.............................. …………………… …………………
BANJARMASIN

Ditetapkan
Tanggal Terbit
Direktur Rumah Sakit Islam Banjarmasin
SPO
1 Mei 2009
Dr. Hj. Rafiqah
1. Pengertian Mengangkat / membuka jahitan pada luka yang dijahit

2. Tujuan 1. Mencegah terjadinya infeksi dari benang


2. Mencegah tertinggalnya benang
3. Kebijakan 1. Luka jahit yang sudah waktunya diangkat jahitannya
2. Luka jahitan yang infeksi

4. Peralatan 1. Pinset anatomis : 2 buah (steril)


2. Pinset chirurgis : 2 buah (steril)
3. Gunting angkat jahit : 1 buah (steril)
4. Kassa steril
5. Mangkok kecil : 3 buah (steril)
6. Sarung tangan steril
7. Gunting verband
8. Plester
9. Alcohol 70% dalam tempatnya
10. Iodine povidon solution 10 % atau sejenisnya
11. NaCl 0,9%
12. Bengkok : 2 buah, 1 berisi cairan desinfektan
13. Kain pembalut atau verband secukupnya
5. Prosedur Tahap pra interaksi
pelaksanaan 1. Melakukan verifikasi data sebelumnya bila ada
2. Mencuci tangan
3. Menempatkan alat di dekat pasien dengan benar
Tahap orientasi
1. Memberikan salam sebagai pendekatan therapeutic
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada
pasien/keluarga
3. Menanyakan persetujuan dan kesiapan pasien sebelum
kegiatan dilakukan
Tahap kerja
1. Mengatur posisi pasien sehingga luka dapat terlihat jelas
2. Membuka bak instrument kecil
3. Memakai sarung tangan
4. Membasahi plester dengan alcohol dan buka dengan
menggunakan pinset
5. Membuka balutan lapis terluar
6. Membersihkan sekitar luka dan bekas plester
7. Membuka balutan lapisan dalam
8. Menekan kedua tepi luka (sepanjang luka)
9. Membersihkan luka dengan menggunakan cairan NaCl
0,9%
10. Mendesinfeksi luka dengan iodine povidone
11. Meletakkan kassa steril dekat luka
12. Menarik simpul jahitan sedikit keatas secara hati-hati
dengan memakai pinset chirurgis, sehingga benang yang
berada di dalam kulit kelihatan
13. Menggunting benang dan tarik hati-hati, buang kassa
14. Membilas dengan menggunakan cairan NaCl 0,9%
15. Melakukan kompres bethadine pada luka / memberi obat/
menutup dengan kassa steril
16. Memasang plester pada seluruh tepi kassa (4 sisi)
Tahap terminasi
1. Mengevaluasi hasil tindakan
2. Berpamitan dengan pasien
3. Membereskan dan mengembalikan alat ke tempat semula
4. Mencuci tangan
5. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan
PROSEDUR PERAWATAN LUKA
TUSUKAN INFUS

No. Dokumen No. Revisi No. Halaman

02 1/1
RS ISLAM
.............................. …………………… …………………
BANJARMASIN

Ditetapkan
Tanggal Terbit
Direktur Rumah Sakit Islam Banjarmasin
SPO
1 Mei 2009
Dr. Hj. Rafiqah
1. Pengertian Merawat tusukan infus (dressing infus)

2. Tujuan Mencegah terjadinya infeksi pada daerah luka tusukan infus

3. Kebijakan Pasien yang terpasang infus

4. Prosedur A. Tahap preinteraksi


1. Membaca program tindakan
2. Menyiapkan alat :
 Perlak dan pengalas
 Kapas alcohol
 Instrument steril (pinset, gunting dan kom)
 Bengkok
 Tempat sampah
 Kasa steril
 Sarung tangan
 Zalf antibiotic dan larutan antiseptic
 Plester
 Pinset bersih dan larutan desinfektan
 Gunting bersih
3. Memasang sampiran
4. Mencuci tangan
5. Mendekatkan alat ke pasien
B. Tahap orientasi
1. Memberi salam
2. Menanyakan adanya keluhan yang di rasakan saat ini
3. Menjelaskan prosedur dan tujuan tindakan kepada
pasien
4. Memberikan kesempatan pasien untuk bertanya jika ada
yang kurang jelas
C. Tahap kerja
1. Menggunakan sarung tangan
2. Meletakkan perlak dan pengalas di bawah lengan pasien
3. Membuka balutan infus yang kotor dengan pinset bersih
4. Mengkaji tanda infeksi pada luka tusukan
5. Membersihkan luka tusukan infus dengan larutan
antiseptic
6. Menutup luka tusukan infus dengan kassa steril
7. Memfiksasi selang infus dengan plester
D. Tahap terminasi
1. Mengevaluasi perasaan pasien setelah di lakukan tindakan
2. Menyimpulkan hasil kegiatan
3. Melakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
4. Mengakhiri kegiatan
5. Merapikan alat
6. Melepas sarung tangan
7. Membuka sampiran
8. Mencuci tangan
E. Dokumentasi
1. Mendokumentasikan tindakan :
 Waktu pelaksanaan
 Kondisi luka tusukan
 Jumlah tetes per menit
 Paraf
 Nama perawat
 Paraf
5. Unit terkait Instalasi rawat inap
PROSEDUR MENGATUR POSISI FOWLER DAN
SEMI FOWLER

No. Dokumen No. Revisi No. Halaman

02 1/1
RS ISLAM
.............................. …………………… …………………
BANJARMASIN

Ditetapkan
Tanggal Terbit
Direktur Rumah Sakit Islam Banjarmasin
SPO
1 Mei 2009
Dr. Hj. Rafiqah
1. Pengertian Memberikan posisi setengah duduk dan duduk pada pasien

2. Tujuan Memberikan kenyamanan pada pasien, memberikan ekspansi


paru

3. Kebijakan Pada pasien yang mengalami sesak napas

4. Prosedur A. Tahap prainteraksi


1. Memastikan kembali identitas pasien
2. Mengkaji keluhan dan tanda sesak napas
3. Mempersiapkan peralatan :
a. Bantal 2-5 buah
b. Sandaran atau punggung (regestin) k/p
c. Masker
d. Sarung tangan
4. Seluruh peralatan diletakkan ditroli atau tempat yang
bersih dan diatur rapi
5. Menjaga privasi pasien dan keluarga
B. Tahap orientasi
1. Memberikan salam kepada pasien
2. Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan
3. Menjelaskan tujuan dan prosedur yang akan dilakukan
4. Mengatur posisi pasien senyaman mungkin
5. Meminta pasien untuk bekerja sama selama tindakan
berlangsung
C. Tahap kerja
1. Perawat mencuci tangan
2. Perawat memakai masker dan memakai sarung tangan
3. Mendekatkan peralatan ke pasien
4. Membantu pasien untuk duduk di tempat tidur
5. Menyusun bantal dengan sudut ketinggian 3-400, bila
membutuhkan posisi yang lebih tegak diposisikan
dengan sudut 600
6. Perawat berdiri disamping kanan menghadap kepasien
7. Menganjurkan pasien untuk menekuk kedua lutut
8. Menganjurkan pasien untuk menopang badan dengan
kedua lengan
9. Perawat menyangga pasien dengan cara tangan kanan
perawat masuk ke ketiak pasien dan tangan kiri perawat
menyangga badannya kebelakang
10. Melepas sarung tangan dan masker
11. Merapikan kembali peralatan dan pasien
12. Perawat mencuci tangan
D. Tahap terminasi
1. Mengevaluasi respon pasien
2. Perawat menyampaikan informasi mengenai perawatan
selanjutnya
3. Mengakhiri kegiatan dan memberikan salam
E. Dokumentasi
1. Tulis tindakan yang sudah dilakukan
2. Waktu
3. Evaluasi
4. Respon
5. Paraf
6. Nama perawat jaga
5. Unit terkait Instalasi rawat inap
PROSEDUR PERAWATAN KUKU TANGAN DAN
KAKI

No. Dokumen No. Revisi No. Halaman

02 1/1
RS ISLAM
.............................. …………………… …………………
BANJARMASIN

Ditetapkan
Tanggal Terbit
Direktur Rumah Sakit Islam Banjarmasin
SPO
1 Mei 2009
Dr. Hj. Rafiqah
1. Pengertian Suatu proses memberikan perawatan pada bagian kuku tangan
dan kaki pasien
2. Tujuan 1. Menjaga kebersihan tangan dan kaki
2. Mencegah timbulnya luka (infeksi)
3. Mencegah kaki berbau tidak sedap
4. Mengkaji/memantau masalah pada kuku tangan dan kaki
5. Mencegah injuri jaringan yang lunak

3. Kebijakan Pasien yang tidak mampu melakukan perawatan kukunya sendiri

4. Prosedur 1. Bawa alat kedekat pasien, jaga privasi pasien, beri tahu
pasien mengenai prosedur dan tujuan yang akan dilakukan,
atur posisi pasien senyaman mungkin (beri posisi fowler di
tempat tidur atau duduk di kursi)
2. Cuci tangan dan pasang sarung tangan bersih
3. Pasang perlak dibawah tangan pada bagian kuku yang akan
dibersihkan
4. Membersihkan cat kuku dengan aseton (jika pasien
menggunakan cat kuku dan perlu untuk dibersihkan)
5. Meletakkan baskom air hangat dan rendam kuku tangan
dengan air hangat selama 1-2 menit, jika kuku sangat kotor,
sikat dengan sikat kuku dan sabun, lalu bilas dengan air
hangat, bersih dan keringkan dengan handuk
6. Nerbeken berisi larutan lisol 3% didekatkan pada pasien dan
minta pasien meletakkan tangan di atasnya
7. Potong kuku tidak melewati batas dasar kuku lalu kuku di
kikir
8. Cuci kuku dan tangan dengan air bersih, keringkan kuku dan
tangan, beri lotion pada jari-jari
9. Angkat perlak dan pindahkan pada tangan yang lain, lakukan
hal yang sama pada area kuku kaki
10. Rapikan alat dan pasien
11. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
12. Dokumentasikan tindakan
6. Unit terkait Instalasi rawat inap
PROSEDUR MENCUCI RAMBUT (KERAMAS)

No. Dokumen No. Revisi No. Halaman

02 1/1
RS ISLAM
.............................. …………………… …………………
BANJARMASIN

Ditetapkan
Tanggal Terbit
Direktur Rumah Sakit Islam Banjarmasin
SPO
1 Mei 2009
Dr. Hj. Rafiqah
1. Pengertian Mencuci rambut merupakan upaya menghilangkan kotoran pada
rambut dan kulit kepala dengan menggunakan sabun atau sampo
kemudian dibilas dengan air bersih
2. Tujuan 1. Memberikan perasaan senang dan segar kepala pasien
2. Rambut tetap bersih, rapi dan terpelihara
3. Merangsang peredaran darah di bawah kulit kepala
4. Membersihkan kutu dan atau ketombe

3. Kebijakan 1. Pasien yang akan menjalani operasi


2. Rambut pasien yang kotor

4. Prosedur 1. Bawa alat kedekat pasien dan jelaskan tujuan dan tindakan
yang akan dilakukan, cuci tangan, pakai celemek dan sarung
tangan, atur posisi tidur pasien senyaman mungkin dengan
kepala dekat sisi tempat tidur
2. Pasang perlak dan handuk di bawah kepala pasien, letakkan
ember yang dialasi kain pel dilantai di bawah kepala pasien,
pasang talang dan arahkan ke ember yang kosong, tutup
lubang telinga luar dengan kapas dan tutup mata pasien
dengan waslap, tutup dada dengan handuk sampai ke leher
3. Sisir rambut kemudian siram dengan air hangat dengan
menggunakan gayung, gosok pangkal rambut dengan kain
kassa yang telah diberi sampo kemudian pijat dengan ujung
jari, kassa kotor di buang ke bengkok, bilas rambut sampai
bersih kemudian keringkan
4. Angkat tutup telinga dan mata, angkat talang, masukkan ke
dalam ember dan letakkan handuk dalam baki, kembalikan
pasien pada posisi semula dengan cara mengangkat kepala
dan alasnya serta meletakkannya di atas bantal
5. Sisir rambut pasien kembali dengan sisir bersih dan biarkan
kering atau keringkan dengan alat pengering rambut lalu
sisir sampai rapi
6. Lepas sarung tangan dan masukkan ke dalam bengkok,
lepaskan celemek dan masukkan kedalam ember kosong,
bereskan dan bersihkan alat, kembalikan alat ke tempat
semula.
7. Cuci tangan
8. Dokumentasikan hasil tindakan
5. Unit terkait Instalasi rawat inap
PROSEDUR KOMPRES DINGIN KERING
(KIRBAT ES)

No. Dokumen No. Revisi No. Halaman

02 1/1
RS ISLAM
.............................. …………………… …………………
BANJARMASIN

Ditetapkan
Tanggal Terbit
Direktur Rumah Sakit Islam Banjarmasin
SPO
1 Mei 2009
Dr. Hj. Rafiqah
1. Pengertian Kompres dingin kering merupakan upaya memberikan rasa
dingin pada pasien dengan menggunakan cairan atau alat yang
menimbulkan dingin pada bagian yang memerlukan
menggunakan kirbat es/eskrap
2. Tujuan 1. Menurunkan suhu tubuh
2. Mencegah peradangan meluas
3. Mengurangi kongesti
4. Mengurangi perdarahan setempat
5. Mengurangi rasa sakit pada daerah setempat

3. Kebijakan 1. Pasien yang batuk dan muntah darah


2. Pasien dengan radang memar

4. Prosedur 1. Persiapan perawat, lingkungan dan pasien :


a. Cuci tangan
b. Tempatkan alat di dekat pasien dengan benar
c. Jelaskan tujuan dan prosedur yang akan dilakukan pada
pasien dan keluarga
d. Tanyakan persetujuan dan kesiapan pasien sebelum
kegiatan dilakukan
e. Jaga privasi
f. Atur posisi pasien senyaman mungkin
2. Masukkan potongan-potongan es kedalam kom air supaya
pinggir es tidak tajam, isi kirbat es dengan potongan es kira-
kira tiga perempat bagian dari kirbat
3. Keluarkan udara dari kirbat dengan melipat bagian yang
kosong lalu ditutup rapat periksa apakah kirbat bocor atau
tidak
4. Keringkan kirbat dengan lap, lalu masukkan kedalam
pembungkusnya, buka area yang akan di kompres dan atur
posisi yang nyaman pada pasien, pasang perlak pada bagian
tubuh yang akan dikompres
5. Letakkan kirbat es pada bagian tubuh yang akan di kompres
6. Kaji kulit setiap 20 menit (nyeri, mati rasa dan suhu tubuh)
7. Angkat kirbat es bila sudah selesai
8. Perhatikan perubahan pasien selama diberikan kirbat es
9. Dokumentasikan perubahan tersebut

6. Unit terkait Instalasi rawat inap


PROSEDUR KOMPRES HANGAT

No. Dokumen No. Revisi No. Halaman

02 1/1
RS ISLAM
.............................. …………………… …………………
BANJARMASIN

Ditetapkan
Tanggal Terbit
Direktur Rumah Sakit Islam Banjarmasin
SPO
1 Mei 2009
Dr. Hj. Rafiqah
1. Pengertian Memberikan rasa hangat pada pasien dengan menggunakan
cairan atau alat yang menimbulkan hangat pada bagian tubuh
yang memerlukan menggunakan warm water zack
2. Tujuan 1. Mengurangi rasa sakit dan peradangan
2. Member rasa hangat, nyaman dan tenang
3. Melancarkan sirkulasi darah

3. Kebijakan 1. Pasien yang kedinginan


2. Pasien yang perut kembung

4. Prosedur 1. Persiapan perawat, lingkungan dan pasien :


a. Cuci tangan
b. Tempatkan alat di dekat pasien dengan benar
c. Jelaskan tujuan dan prosedur yang akan dilakukan pada
pasien dan keluarga
d. Tanyakan persetujuan dan kesiapan pasien sebelum
kegiatan dilakukan
e. Jaga privasi
f. Atur posisi pasien senyaman mungkin
2. Mengisi buli-buli dengan air panas1/2-3/4 (saat mengisi air
buli-buli diletakkan rata dengan kepala, WWZ (buli-buli)
ditekuk sampai permukaan air kelihatan agar udara tidak
masuk)
3. Tutup rapat dan balik kepala WWZ dibawah untuk
meyakinkan air tidak tumpah
4. Keringkan WWZ dengan handuk kecil agar tidak basah lalu
bungkus dengan sarungnya
5. Letakkan pengalas dibawah daerah yang akan dipasang
WWZ
6. Meletakkan WWZ pada bagian tubuh yang akan dikompres
dengan kepala WWZ mengarah keluar tempat tidur
7. Rapikan pasien
8. Pantau respon pasien selama diberikan kompres,
dokumentasikan respon tersebut

5. Unit terkait Instalasi rawat inap


PROSEDUR LATIHAN ROM PASIF

No. Dokumen No. Revisi No. Halaman

02 1/1
RS ISLAM
.............................. …………………… …………………
BANJARMASIN

Ditetapkan
Tanggal Terbit
Direktur Rumah Sakit Islam Banjarmasin
SPO
1 Mei 2009
Dr. Hj. Rafiqah
1. Pengertian Latihan ROM pasif merupakan latihan pergelangan perawat atau
petugas lain yang menggerakkan persendian pasien sesuai dengan
rentang geraknaya
2. Tujuan 1. Menjaga fleksibilitas dari masing-masing persendian
2. Mencegah kontraktur sendi
3. Melatih tonus otot

3. Kebijakan 1. Pasien yang lama imobilisasi


2. Pasien rehabilitasi (pasien stroke, pemulihan fraktur)

4. Prosedur 1. Persiapan perawat, lingkungan dan pasien :


a. Cuci tangan
b. Jaga privasi pasien
c. Jelaskan kepada pasien atau keluarga tentang tindakan
dan minta untuk bekerja sama
d. Atur ketinggian tempat tidur pasien
e. Atur pasien ke posisi supinasi
2. Lakukan gerakan berikut berturut-turut sebanyak tiga kali
Gerakan bahu :
Fleksi, ekstensi, abdukasi, adduksi, rotasi internal, rotasi
eksternal.
Gerakan siku
Fleksi, ekstensi, supinasi, pronasi,
Pergelangan tangan :
Fleksi. Ekstensi, abduksi (deviasi radialis), adduksi (deviasi
ulnaris)
Jari tangan:
Fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, oposisi.
Gerakan pinggul :
Abduksi, adduksi, rotasi internal& eksternal, sirkumduksi.
Gerakan lutut :
Fleksi, ekstensi
Pergelangan kaki :
Dorsal fleksi, plantar fleksi
Telapak kaki : inverse, eversi
Jari kaki : fleksi,ekstensi, abduksi, adduksi
3. Setelah melatih pergerakan, kaji denyut nadi dan pertahanan
tubuh pasien
4. Catat terhadap perubahan kondisi pasien (pergerakan
abnormal, kekakuan, atau kontraktur sendi)

5. Unit terkait Instalasi rawat inap


PROSEDUR MEMINDAHKAN PASIEN DARI
TEMPAT TIDUR KE KURSI RODA DAN
SEBALIKNYA

No. Dokumen No. Revisi No. Halaman

RS ISLAM 02 1/1
BANJARMASIN .............................. …………………… …………………

Ditetapkan
Tanggal Terbit
Direktur Rumah Sakit Islam Banjarmasin
SPO
1 Mei 2009
Dr. Hj. Rafiqah
5. Pengertian Proses merubah posisi pasien dari tempat tidur ke kursi roda atau
sebaliknya, pada pasien yang tidak dapat berjalan sendiri, tetapi
sudah boleh duduk
6. Tujuan 1. Memobilisasi pasien, membantu melemaskan otot
2. Mendorong dan menstimulasi pasien untuk menambah
kegiatan atau aktivitas sosial kepada orang lain
3. Memberikan rasa nyaman dan perubahan suasana selain di
tempat standar
4. Mempermudah merapikan tempat tidur pasien

7. Kebijakan 3. Pasien yang harus dilakukan pemeriksaan penunjang di


ruang lain
4. Pasien yang tidak mampu berjalan jauh

8. Prosedur 1. Persiapan perawat, lingkungan dan pasien :


a. Cuci tangan
b. Jaga privasi pasien
c. Jelaskan kepada pasien atau keluarga tentang tujuan dan
prosedur tindakan
2. Letakkan kursi roda sejajar dengan tempat tidur
3. Bantu pasien untuk duduk menghadap kearah kursi roda
diletakkan
4. Bentu pasien merapikan pakaian dan memakai sandal
5. Perawat berdiri menghadap pasien dengan posisi kuda-kuda,
bantu pasien berdiri
6. Anjurkan pasien untuk memegang bahu perawat dan perawat
memegang pinggang pasien, bila perlu gunakan ikat
pinggang
7. Evaluasi rasa pusing pasien, pastikan kursi roda dalam posisi
terkunci, bantu pasien melangkah kearah kursi roda
berlawanan arah (mundur) perlahan-lahan
8. Bantu pasien melangkah perlahan kearah kursi roda sampai
duduk dan meletakkan kakinya dipijakkan kursi roda
9. Menutup bagian paha pasien dengan selimut
10. Dokumentasikan hari, tanggal, bulan, tahun dan ruangan
tempat pindah
6. Unit terkait Instalasi rawat inap