Anda di halaman 1dari 27

Depresi Pada Masa

Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

BAB I
PENDAHULUAN

Kehamilan seharusnya menjadi saat-saat yang paling membahagiakan bagi seorang Ibu.
Namun terkadang, sebagai seorang calon Ibu (apalagi karena baru pertama kali menghadapi
kehamilan) ada saja rasa kekhawatiran yang berlebihan sehubungan dengan semakin dekatnya
proses kelahiran. Sekitar 10-20% wanita berusaha untuk melawan gejala depresi dan seperempat
sampai setengahnya terkena depresi yang berat. Pada suatu studi terhadap 360 ibu hamil, maka
10% dari mereka mengalami depresi saat kehamilan dan hanya 6,8% yang mengalami depresi
pasca kehamilan.

Depresi merupakan gangguan mood yang muncul pada 1 dari 4 wanita yang sedang
hamil dan hal ini bukan sesuatu yang istimewa. Penyakit ini selalu melanda mereka yang sedang
hamil, tetapi sering dari mereka tidak pernah menyadari depresi ini karena mereka menganggap
kejadian ini merupakan hal yang lumrah terjadi pada Ibu hamil, padahal jika tidak ditangani
dengan baik dapat mempengaruhi bayi yang dikandung Ibu.

Depresi selama kehamilan merupakan gangguan mood yang sama seperti halnya pada
depresi yang terjadi pada orang awam secara umum, dimana pada kejadian depresi akan terjadi
perubahan kimiawi pada otak.

Depresi juga dapat dikarenakan adanya perubahan hormon yang berdampak


mempengaruhi mood Ibu sehingga Ibu merasa kesal, jenuh atau sedih. Selain itu, gangguan tidur
yang kerap terjadi menjelang proses kelahiran juga mempengaruhi Ibu karena letih dan kulit
muka menjadi kusam.

Selain itu, adanya kekhawatiran akan kandungan, sering muntah pada awal trimester
pertama, dan masalah-masalah lain juga dapat menyebabkan Ibu depresi. Ibu akan terus-menerus
mengkhawatirkan keadaan bayinya dan ini akan membuat Ibu merasa tertekan.

1 |Page FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

DSM-IV mendefenisikan bahwa gangguan mood berbeda dalam hal penampilan klinis,
perjalanan penyakit, genetik dan respon pengobatan. Kondisi ini dibedakan berdasarkan ada atau
tidaknya mania (bipolar atau unipolar), beratnya penyakit (mayor atau minor) dan peran kondisi
medis atau psikiatrik lainnya sebagai penyebab gangguan (primer atau sekunder) sehingga
depresi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1). Gangguan mood mayor: depresi mayor atau tanda dan gejala maniak.

• Gangguan Bipolar I (maniak-depresi): maniak pada masa lalu atau saat ini
(dengan atau tanpa adanya depresi atau riwayat depresi). Kadang-kadang depresi
mayor muncul.

• Gangguan Bipolar II: hipomania dan depresi mayor harus ada saat ini atau pernah
ada.

• Gangguan Depresi Mayor: depresi berat saja.

2). Gangguan mood spesifik lainnya. Depresi minor dan tanda/gejala maniak.

• Gangguan dismitik: depresi saja.

• Gangguan siklotimik: gejala depresi dan hipomaniak saat ini atau baru saja berlalu
(secara terus-menerus selama 2 tahun).

3). Gangguan mood: akibat kondisi medis umum dan gangguan mood yang diinduksi zat;
bisa depresi, maniak, atau campuran; ini merupakan gangguan mood sekunder.

4). Gangguan penyesuaian dengan mood depresi: depresi yang disebabkan oleh adanya
stesor.

2 |Page FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

BAB II
PEMBAHASAN

Depresi pada wanita lebih sering terjadi dibandingkan pada pria. Secara umum wanita
mempunyai resiko dua kali lipat dibandingkan pria untuk mengalami gangguan depresi di dalam
hidupnya. Hal ini disebabkan faktor genetik maupun sosial. Secara psikososial wanita lebih
banyak mengalami tekanan psikososial dibandingkan dengan pria. Berikut ini beberapa macam
depresi pada wanita.

2.1. Depresi Saat Kehamilan

Kehamilan merupakan waktu transisi, yakni suatu masa antara kehidupan sebelum
memiliki anak yang sekarang berada dalam kandungan dan kehidupan nanti setelah anak tersebut
lahir. Perubahan status yang radikal ini dipertimbangkan sebagai suatu krisis disertai periode
tertentu untuk menjalani proses persiapan psikologis yang secara normal sudah ada selama
kehamilan dan mengalami puncaknya pada saat bayi lahir.

Secara umum, semua emosi yang dirasakan oleh wanita hamil cukup labil. Ia dapat
memiliki reaksi yang ekstrem dan susana hatinya kerap berubah dengan cepat. Reaksi emosional
dan persepsi mengenai kehidupan juga dapat mengalami perubahan. Ia menjadi sangat sensitif
dan cenderung bereaksi berlebihan. Seorang wanita hamil akan lebih terbuka terhadap dirinya
sendiri dan suka berbagi pengalaman kepada orang lain. Ia merenungkan mimpi tidurnya, angan-
angannya, fantasinya, dan arti kata-katanya, objek, peristiwa, konsep abstrak, seperti kematian,
kehidupan, keberhasilan, dan kebahagiaan. Ia dapat mengidentifikasi bentuk-bentuk fisik yang
berhubungan erat dengan masa usia subur atau mencukupkan diri dengan kehidupan atau
makanan.

Selama kehamilan berlangsung, terdapat rangkaian proses psikologis khusus yang jelas,
yang terkadang tampak berkaitan erat dengan perubahan biologis yang sedang terjadi. Peristiwa
dan proses psikologis ini dapat diidentifikasi pada trimester ketiga dan pembagian trimester ini

3 |Page FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

akan digunakan pada diskusi berikut. Respons psikologis umum terhadap kehamilan yang baru
saja dibahas dan proses manapun peristiwa psikologis khusus lain dapat lain dapat terulang lagi.

Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan telah melaporkan bahwa 1 dari 8


orang akan mengalami gangguan depresi dan jumlah tersebut hampir 2 kali lipat pada wanita
(Depression Gideline Panel, 1993).

INSIDENS

Walaupun perubahan fisiologis dan psikologis muncul selama kehamilan dan dalam
waktu 9 bulan kehamilan insidens gangguan emosional yang serius sebenarnya rendah tetapi
pada beberapa wanita perlu penanganan adekuat.

Insidens gangguan jiwa pada kehamilan lebih rendah dibanding post partum dan di luar
kehamilan. Post partum 10-15%, diluar kehamilan 2-7%.

Namun Ohara melaporkan bahwa 10% wanita hamil memenuhi syarat mengalami depresi
mayor dan minor.

ETIOLOGI

Hasil penelitian sampai saat ini menunjukkan etiologi yang multifaktorial. Beberapa
faktor yang dilaporkan seperti faktor hormonal, neuroendokrin, biokemikal, psikologik, sosial,
budaya, genetik dan kepribadian, atau hubungan timbal balik diantara faktor-faktor tersebut.

Eskirol sejak tahun 1845 telah menghubungkan faktor keturunan penyebab gangguan
tersebut.

Salah satu dari banyak teori yang berhubungan dengan psikopatologi menyangkut hal
melahirkan anak adalah bahwa beberapa penelitian epidemiologi melaporkan gangguan mental
menjadi bertambah berat selama kehamilan, disamping faktor fisiologis mayor yang diturunkan
dan stres psikologis.

4 |Page FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

Sejauh ini belum ada mekanisme biokimia seperti hormonal atau neuroendokrin yang
jelas. Dalton menyatakan progesteron yang tiba-tiba rendah menyebabkan penyakit mental pada
masa nifas. Salah satu hal yang memegang peranan penting adalah ketidakseimbangan antara
hormon estrogen dan progesteron.

PENGARUH PSIKOLOGIS PADA KEHAMILAN

Kehamilan, disamping memberi kebahagiaan yang luar biasa, juga sangat menekan jiwa
sebagian besar wanita. Pada beberapa wanita dengan perasaan ambivalen mengenai kehamilan,
stres mungkin meningkat. Respon terhadap stres mungkin dapa tterlihat bervariasi yang tampak
atau tidak tampak. Sebagai contoh, sebagian besar wanita mengkhawatirkan apakah bayinya
normal. Pada mereka yang memiliki janin dengan resiko tinggi untuk kelainan bawaan, stres
meningkat (Tunis & Golbus, 1991). Selama kehamilan dan terutama mendekati akhir kehamilan,
harus dibuat rencana untuk perawatan anak dan perubahan gaya hidup yang akan terjadi setelah
kelahiran. Pada sejumlah wanita, takut terhadap nyeri melahirkan sangat menekan jiwa.
Pengalaman kehamilan mungkin dapat diubah oleh komplikasi medis dan obstetrik yang dapat
terjadi. Burger dkk. (1993) telah menunjukkan bahwa wanita dengan komplikasi kehamilan
adalah 2 kali cenderung memiliki ketakutan terhadap kelemahan bayi mereka atau menjadi
depresi.

PEMERIKSAAN PRENATAL

Sebaiknya masalah mengenai kesehatan mental dibicarakan. Skrining penyakit mental


sebaiknya dilakukan pada pemeriksaan prenatal pertama. Ini mencakup riwayat gangguan
psikiatrik dahulu, termasuk rawat inap dan rawat jalan.

Penilaian gangguan cemas dan mood dalam kehamilan mencakup pemeriksaan medis
dasar yang sesuai dalam hal ini termasuk pemeriksaan darah lengkap, fungsi tiroid, ginjal dan
hati. Disarankan juga pemeriksaan toksikologi urin.

5 |Page FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

Penggunaan obat psikoaktif sebelumnya atau saat ini seperti juga penggunaan alkohol
dan obat terlarang perlu dicatat. Gejala-gejala yang menunjukkan disfungsi mental sebaiknya
diperiksa. Kondisi seperti kecemasan dan depresi mungkin berhubungan dengan peningkatan
resiko kelahiran prematur (Paarlberg dkk, 1996).

Masa kehamilan dibagi menjadi tiga periode atau trimester, masing-masing selama 13
minggu. Kehamilan itu unik pada setiap wanita.

A. Trimester Pertama
Trimester pertama sering dianggap sebagai periode penyesuaian terhadap kenyataan
bahwa ia sedang mengandung. Sebagian besar wanita merasa sedih dan ambivalen tentang
kenyataan bahwa ia hamil. Kurang lebih 80% wanita mengalami kekecewaan, penolakan,
kecamasan, defresi, dan kesedihan.

Fokus wanita adalah pada dirinya sendiri yang akan menimbulkan ambivalensi mengenai
kehamilannya seiring usahanya menghadapi pengalaman kehamilan yang buruk, yang pernah ia
alami sebelumnya, efek kehamilan terhadap kehidupannya kelak ( terutama jika ia memiliki
karir), tanggung jawab yang baru atau tambahan yang akan ditanggungnya, kecemasan yang
akan berhubungan dengan kemampuannya untuk menjadi seorang ibu, masalah-masalah
keuangan dan rumah tangga, dan keberterimaan orang terdekat terhadap kehamilannya. Perasaan
ambivalen ini biasanya berakhir dengan sendirinya seiring ia menerima kehamilannya, sementara
itu, beberapa ketidaknyamanan pada trimester pertama, seperti nausea, kelemahan, perubahan
nafsu makan, kepekaan emosional, semua ini dapat mencerminkan konflik dan defresi yang ia
alami dan pada saat bersamaan hal-hal tersebut menjadi pengingat tentang kehamilannya.

Trimester pertama sering menjadi waktu yang menyenangkan untuk melihat apakah
kehamilan akan dapat berkembang dengan baik. Hal ini akan terlihat jelas terutama pada wanita
yang telah beberapa kali mengalami keguguran dan bagi para tenaga kesehatan profesional
wanita yang cemas akan kemungkinan terjadi keguguran kembali atau teratoma.

Berat badan sangat bermakna bagi wanita hamil selama trimester pertama. Berat badan
dapat menjadi salah satu uji realitas tentang keadaannya karena tubuhnya menjadi bukti nyata
bahwa dirinya hamil.

6 |Page FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

Validasi kehamilan dilakukan berulang-ulang saat wanita mulai memeriksa dengan


cermat setiap perubahan tubuh, yang merupakan bukti adanya kehamilan. Bukti yang paling kuat
adalah terhentinya menstruasi.

Hasrat seksual pada trimester pertama sangat bervariasi antara wanita yang satu dan yang
lain. Meski beberapa wanita mengalami peningkatan hasrat seksual, tetapi secara umum
trimester pertama merupakan waktu terjadinya penurunan libido dan hal ini memerlukan
komunikasi yang jujur dan terbuka terhadap pasangan masing-masing.

Banyak wanita merasakan kebutuhan kasih sayang yang besar dan cinta kasih tanpa seks.
Libido secara umum sangat dipengaruhi oleh keletihan, nausea, depresi, payudara yang
membesar dan nyeri, kecemasan, kekhawatiran, dan masalah-masalah lain merupakan hal yang
sangat normal terjadi pada trimester pertama.

B. Trimester Kedua
Trimester kedua sering dikenal sebagai periode kesehatan yang baik, yakni periode ketika
wanita merasa nyaman dan bebas dari segala ketidaknyamanan yang normal dialami saat hamil.
Namun, trimester kedua juga merupakan fase ketika wanita menelusur ke dalam dan paling
banyak mengalami kemunduran. Trimester kedua sebenarnya terbagi atas dua fase: pra-
quickening dan pasca-quickening. Quickening menunjukkan kenyataan adanya kehidupan yang
terpisah, yang menjadi dorongan bagi wanita dalam melaksanakan tugas psikologis utamannya
pada trimester kedua, yakni mengembangkan identitas sebagai ibu bagi dirinya sendiri, yang
berbeda dari ibunya.

Pada trimester kedua, mulai terjadi perubahan pada tubuh. Orang akan mengenali Anda
sedang hamil. Pada akhir trimester kedua, rahim akan membesar sekira 7,6 cm di atas pusar.
Pertambahan berat badan rata-rata 7,65-10,8 kg termasuk pertambahan berat dari trimester
pertama. Janin mulai aktif bergerak pada periode ini.

Sebagian besar wanita merasa lebih erotis selama trimester kedua, kurang lebih 80%
wanita mengalami kemajuan yang nyata dalam hubungan seksual mereka dibanding pada
trimester pertama dan sebelum hamil. Trimester kedua relatif terbebas dari segala
ketidaknyamanan fisik, dan ukuran perut wanita belum menjadi masalah besar, lubrikasi vagina
semakin banyak pada masa ini, kecemasan, kekhawatiran dan masalah-masalah yang

7 |Page FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

sebelumnya menimbulkan ambivalensi pada wanita tersebut mereda, dan ia telah mengalami
perubahandari seorang yang mencari kasih sayang dari ibunya menjadi seorang yang mencari
kasih sayang dari pasangannya, dan semua faktor ini turut mempengaruhi peningkatan libido dan
kepuasan seksual.

C. Trimester Ketiga
Trimester ketiga sering disebut periode penantian dengan penuh kewaspadaan. Pada
periode ini wanita mulai menyadari kehadiran bayi sebagai makhluk yang terpisah sehingga ia
menjadi tidak sabar menanti kehadiran sang bayi. Ada perasaan was-was mengingat bayi dapat
lahir kapanpun. Hal ini membuatnya berjaga-jaga sementara ia memperhatikan dan menunggu
tanda dan gejala persalinan muncul.

Trimester ketiga merupakan waktu persiapan yang aktif terlihat dalam menanti kelahiran
bayi dan menjadi orang tua sementara perhatian utama wanita terfokus pada bayi yang akan
segera dilahirkan. Pergerakan janin dan pembesaran uterus, keduanya menjadi hal yang terus
menerus mengingatkan tentang keberadaan bayi. Wanita tersebut lebih protektif terhadap
bayinya. Sebagian besar pemikiran difokuskan pada perawatan bayi. Ada banyak spekulasi
mengenai jenis kelamin dan wajah bayi itu kelak.

Sejumlah ketakutan muncul pada trimester ketiga. Wanita mungkin merasa cemas dengan
kehidupan bayi dan kehidupannya sendiri. Seperti: apakah nanti bayinya akan lahir abnormal,
terkait persalinan dan pelahiran (nyeri, kehilangan kendali, hal-hal lain yang tidak diketahui),
apakah ia akan menyadari bahwa ia akan bersalin, atau bayinya tidak mampu keluar karena
perutnya sudah luar biasa besar, atau apakah organ vitalnya akan mengalami cedera akibat
tendangan bayi.

Ia juga mengalami proses duka lain ketika ia mengantisipasi hilangnya perhatian dan hak
istimewa khusus lain selama kehamilan, perpisahan antara ia dan bayinya yang tidak dapat
dihindari, dan perasaan kehilangan karena uterusnya yang penuh secara tiba-tiba akan
mengempis dan ruang tersebut menjadi kosong. Depresi ringan merupakan hal yang umum
terjadi dan wanita dapat menjadi lebih bergantung pada orang lain lebih lanjut dan lebih menutup
diri karena perasaan rentannya.

8 |Page FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

Wanita akan kembali merasakan ketidaknyamanan fisik yang semakin kuat menjelang
akhir kehamilan. Ia akan merasa canggung, jelek, berantakan, dan memerlukan dukungan yang
sangat besar dan konsisten dari pasangannya. Pada pertengahan trimester ketiga, peningkatan
hasrat seksual yang terjadi pada trimester sebelumnya akan menghilang karena abdomennya
yang semakin besar menjadi halangan. Alternatif untuk mencapai kepuasan dapat membantu atau
dapat menimbulkan perasaan bersalah jika ia merasa tidak nyaman dengan cara-cara tersebut.
Berbagi perasaan secara jujur dengan pasangan dan konsultasi mereka dengan anda menjadi
sangat penting.

Dengan demikian resiko dan penyebab yang terkait, seperti tersebut diatas dapat sebagai
pencetus terjadinya reaksi-reaksi psikologis mulai tingkat gangguan emosional yang ringan
ketingkat gangguan jiwa yang serius.

PENATALAKSANAAN

Perencanaan kehamilan sangat penting pada wanita yang di diagnosis depresi atau mania,
sebaiknya kehamilannya perlu direncanakan atau dikonsultasikan dengan ahli kebidanan dan
kandungan, dan psikiater tentang masalah resiko dan keuntungan setiap pemakaian obat-obat
psikofarmakologi.

Rawat inap sebaiknya dipikirkan sebagai pilihan pengobatan psikofarmakologis pada


trimester I untuk kasus kehamilan yang tidak direncanakan, dimana pengobatan harus dihentikan
segera dan apabila terdapat riwayat gangguan afektif rekuren.

Penggunaan antidepresan trisiklik sebaiknya hanya pada pasien hamil yang mengalami
depresi berat yang mengeluhkan gejala vegetatif dari depresi, seperti : menangis, insomnia,
gangguan nafsu makan dan ada ide-ide bunuh diri. Psikoterapi harus digunakan bila ada konflik
intrapsikis yang berhubungan dengan kehamilan. Terapi perilaku kognitif sangat menolong
pasien depresi dan dapat digunakan bersama antidepresan. Terapi elektrokompulsif ( ECT )
digunakan pada pasien depresi psikotik untuk mendapatkan respon yang lebih cepat, bila
kehidupan ibu dan anak terancam. Belum ada hubungan yang jelas antara penggunaan
nortriptilin, desipramin atau golongan Selective SerotoninReuptake Inhibitors (SSRIs) adalah

9 |Page FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

anti depresan pilihan untuk wanita hamil, mencakup fluoksetindan sertralin, tidak menyebabkan
hipotensi ortostatik, konstipasi atau sedasi.

Pengobatan depresi dengan elektrosyok selama kehamilan belum diteliti lebih mendalam.
Sebuah tulisan oleh Repke dan Berger (1984) mengatakan bahwa tidak berbahaya bagi janin
pada beberapa terapi. Griffiths dkk(1989) melaporkan hasil wanita yang menjalani 11
pengobatan dari 23 – 31 minggu. Mereka menggunakan thiamilal dan suksinilkolin, inkubasi dan
ventilasi selama tiap pengobatan. Mereka menemukan bahwa jumlah epinefrin dan norepinefrin,
dopamin plasma meningkat 2 sampai 3 kali lipat selama elektrosyok. Disamping itu denyut
jantung janin meningkat dan denyut jantung ibu,tekanan darah dan saturasi oksigen tetap normal.
Varandkk (1985) menjelaskan deselerasi denyut jantung janin yang bervariasi sebagai tanda khas
kompresi akar saraf selama terapi elektrokompulsif. Sherer dkk (1991) menjelaskan bahwa
wanita yang menjalani pengobatan elektrokompulsif anterpartum mingguan dimulai pada umur
kehamilan 30 minggu. Setiap pengobatan diikuti dengan hipertensi, hipertonisitas uterus dan
perdarahan uterus, ternyata kemudian diketahui penyebabnya adalah karena abrupsi placenta.

2.2 Depresi Pasca Kehamilan

Sebagian perempuan menganggap bahwa masa–masa setelah melahirkan adalah masa–


masa sulit yang akan menyebabkan mereka mengalami tekanan secara emosional. Gangguan–
gangguan psikologis yang muncul akan mengurangi kebahagiaan yang dirasakan, dan sedikit
banyak mempengaruhi hubungan anak dan ibu dikemudian hari. Hal ini bisa muncul dalam
durasi yang sangat singkat atau berupa serangan yang sangat berat selama berbulan–bulan atau
bertahun – tahun lamanya.

Secara umum sebagaian besar wanita mengalami gangguan emosional setelah


melahirkan. Clydde (Regina dkk, 2001), bentuk gangguan postpartum yang umum adalah
depresi, mudah marah dan terutama mudah frustasi serta emosional.
angguan mood selama periode postpartum merupakan salah satu gangguan yang paling sering
terjadi pada wanita baik primipara maupun multipara. Menurut DSM-IV, gangguan pascasalin
diklasifikasikan dalam gangguan mood dan onset gejala adalah dalam 4 minggu pascapersalinan.

10 | P a g e FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

Ada 3 tipe gangguan mood pascasalin, diantaranya adalah maternity blues, postpartum
depression dan postpartum psychosis ( Ling dan Duff, 2001).

Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Paltiel (Koblinsky dkk, 1997), bahwa ada
3 golongan gangguan psikis pascasalin yaitu postpartum blues atau sering disebut juga sebagai
maternity blues yaitu kesedihan pasca persalinan yang bersifat sementara. Postpartum depression
yaitu depresi pasca persalinan yang berlangsung sampai berminggu – minggu atau bulan dan
kadang ada diantara mereka yang tidak menyadari bahwa yang sedang dialaminya merupakan
penyakit. Postpartum psychosis, dalam kondisi seperti ini terjadi tekanan jiwa yang sangat berat
karena bisa menetap sampai setahun dan bisa juga selalu kambuh gangguan kejiwaannya setiap
pasca melahirkan.

Depresi postpartum pertama kali ditemukan oleh Pitt pada tahun 1988. Pitt ( Regina dkk,
2001 ), depresi postpartum adalah depresi yang bervariasi dari hari ke hari dengan menunjukkan
kelelahan, mudah marah, gangguan nafsu makan, dan kehilangan libido ( kehilangan selera
untuk berhubungan intim dengan suami ). Masih menurut Pitt ( Regina dkk, 2001) tingkat
keparahan depresi postpartum bervariasi. Keadaan ekstrem yang paling ringan yaitu saat ibu
mengalami “kesedihan sementara” yang berlangsung sangat cepat pada masa awal postpartum,
ini disebut dengan the blues atau maternity blues. Gangguan postpartum yang paling berat
disebut psikosis postpartum atau melankolia. Diantara 2 keadaan ekstrem tersebut terdapat
kedaan yang relatif mempunyai tingkat keparahan sedang yang disebut neurosa depresi atau
depresi postpartum.

SKRINING UNTUK GANGGUAN MOOD POSTPARTUM

Meskipun telah beberapa kali kontak dengan para profesional medis selama periode
pasca-melahirkan, pasien sering mengabaikan penyakit postpartum afektif. Terlalu sering,
depresi pascamelahirkan dianggap sebagai konsekuensi normal atau alami dari melahirkan.
Perempuan sering melaporkan bertahannya gejala depresi selama berbulan-bulan sebelum
memulai pengobatan. Meskipun gejala depresi dapat muncul spontan, banyak perempuan masih
tertekan satu tahun setelah melahirkan.

11 | P a g e FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

Memprediksi siapa yang berisiko terkena penyakit jiwa pasca persalinan sangat sulit.
Individu yang berisiko terbesar sering memiliki sejarah depresi terdahulu atau psikosis
pascamelahirkan, sejarah gangguan mood pada diri pasien atau keluarga, atau depresi selama
kehamilan saat ini. Faktor risiko lain termasuk dukungan sosial yang tidak memadai,
ketidakpuasan perkawinan atau perselisihan, dan peristiwa negative yang baru saja terjadi seperti
kematian dalam keluarga, kesulitan keuangan, atau kehilangan pekerjaan. Penyaringan semua
ibu selama periode antepartum dan postpartum sangat diindikasikan.

Penyaringan perempuan untuk gejala depresi selama kehamilan juga dapat membantu
untuk mengidentifikasi perempuan berisiko lebih tinggi untuk depresi pascamelahirkan. The
Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) adalah sebuah kuisioner yang digunakan secara
ekstensif untuk deteksi depresi pasca-melahirkan. Skor 10 atau lebih pada EPDS atau jawaban
afirmatif untuk pertanyaan 10 (kehadiran pikiran untuk bunuh diri) membutuhkan evaluasi yang
lebih menyeluruh. EPDS dapat ditambahkan pada bayi baik rutin dan kunjungan pediatrik.

Tidak ada manfaat lebih telah ditunjukkan dari satu alat skrining atas alat skrining yang
lain. Menggunakan 2 pertanyaan berikut mungkin sama efektifnya dengan alat yang lebih
panjang, meskipun mereka belum divalidasi di latar belakang budaya yang berbeda:

• Selama 2 minggu terakhir Anda merasa down, depresi, atau putus asa?
• Selama 2 minggu terakhir Anda merasa sedikit ketertarikan atau kesenangan dalam
melakukan sesuatu?

Dalam sebuah studi tentang depresi pascamelahirkan antara perkotaan, ibu yang
berpenghasilan rendah, Chaudron et al menemukan bahwa, meskipun EPDS, Beck Depression
Inventory II (BDI-II), dan Postpartum Depression Screening Scale (PDSS) memiliki akurasi
tinggi dalam mengidentifikasi depresi, skor ini mungkin perlu untuk diubah dalam populasi ini
untuk mengidentifikasi depresi lebih akurat. Dalam penelitian, yang meliputi 198 ibu dari bayi
yang berumur sampai 14 bulan, sensitivitas dan kekhususan masing-masing alat skrining
dihitung dibandingkan dengan diagnosis gangguan depresi mayor atau depresi minor yang dibuat
atas dasar diagnostik wawancara psikiatri. Nilai optimal untuk BDI-II (≥ 14 untuk depresi mayor
dan ≥ 11 untuk depresi minor) dan EPDS (≥ 9 untuk depresi mayor dan ≥ 7 untuk depresi minor)

12 | P a g e FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

lebih rendah dari yang direkomendasikan saat ini. Untuk PDSS, nilai optimal sesuai dengan
pedoman saat ini untuk depresi mayor (≥ 80) tetapi lebih tinggi dari yang direkomendasikan
untuk depresi minor (≥ 77).

2.2.1 Sindrom Baby Blues/Post Partum Blues

Baby blues dapat terjadi segera setelah kelahiran, namun segera akan menghilang dalam
beberapa hari sampai satu minggu. Kejadian ini terjadi pada sekitar 50%-80% dari ibu-ibu yang
baru melahirkan dan biasanya terjadi dalam sepuluh hari pertama pasca melahirkan. Ibu yang
baru melahirkan dapat merasakan perubahan mood yang cepat dan berganti-ganti (mood swing),
kesedihan, suka menangis, hilang nafsu makan, gangguan tidur, mudah tersinggung, cepat lelah,
cemas dan merasa kesepian. Gejalanya biasanya tidak terlalu berat dan pengobatan pada fase ini
tidak diperlukan. Secara umum gejala ini akan hilang sendiri dalam waktu 10-14 hari pasca
melahirkan.

Perubahan hormon dan perubahan hidup ibu pasca melahirkan juga dapat dianggap
pemicu depresi ini. Diperkirakan sekitar 50-70% ibu melahirkan menunjukkan gejala-gejala awal
kemunculan depresi postpartum blues, walau demikian gejala tersebut dapat hilang secara
perlahan karena proses adaptasi dan dukungan keluarga yang tepat.

Sampai saat ini belum ada alat test khusus yang dapat mendiagnosa secara langsung
postpartum blues. Secara medis, dokter menyimpulkan beberapa simtom yang tampak dapat
disimpulkan sebagai gangguan depresi postpartum blues bila memenuhi kriteria gejala yang ada.
Kekurangan hormon tyroid yang ditemukan pada individu yang mengalami kelelahan luar biasa
(fatigue) ditemukan juga pada ibu yang mengalami postpartum blues mempunyai jumlah kadar
tyroid yang sangat rendah.

Angka kejadian postpartum blues di Asia cukup tinggi dan sangat bervariasi antara 26-
85% (Iskandar, 2007), sedangkan di Indonesia angka kejadian postpartum blues antara 50-70%
dari wanita pasca persalinan (Hidayat, 2007). Angka kesakitan pada post sectio caesaria lebih
tinggi dibandingkan dengan melahirkan pervagina, sedangkan angka kesakitan pralahir pada
sectio caesaria jauh lebih rendah dibandingkan dengan melahirkan pervagina (Indiarti, 2007).

13 | P a g e FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

Kejadian melahirkan section caesaria berisiko mengalami postpartum blues daripada


postpartum normal, maka ibu sectio caesaria perlu dilakukan dukungan fisik dan psikologis
dalam pencegahan postpartum blues, dengan alasan lama perawatan section caesaria.

ETIOLOGI SINDROM BABY BLUES

Beberapa hal yang disebutkan sebagai penyebab terjadinya baby blues syndrome, diantaranya:

1. Perubahan hormonal. Pasca melahirkan terjadi penurunan kadar estrogen dan


progesterone yang drastis, dan juga disertai penurunan kadar hormon yang dihasilkan
oleh kelenjar tiroid yang menyebabkan mudah lelah, penurunan mood, dan perasaan
tertekan.
2. Fisik. Hadirnya si kecil dalam keluarga menyebabkan pula perubahan ritme kehidupan
sosial dalam keluarga, terutama ibu. Mengasuh si kecil sepanjang siang dan malam
sangat menguras energi ibu, menyebabkan berkurangnya waktu istirahat, sehingga terjadi
penurunan ketahanan dalam menghadapi masalah.
3. Psikis. Kecemasan terhadap berbagai hal, seperti ketidakmampuan dalam mengurus si
kecil, ketidak mampuan mengatasi dalam berbagai permasalahan, rasa tidak percaya diri
karena perubahan bentuk tubuh dari sebelum hamil serta kurangnya perhatian keluarga
terutama suami ikut mempengaruhi terjadinya depresi.
4. Sosial. Perubahan gaya hidup dengan peran sebagai ibu baru butuh adaptasi. Rasa
keterikatan yang sangat pada si kecil dan rasa dijauhi oleh lingkungan juga berperan
dalam depresi.

GEJALA

Gejala biasanya bervariasi dari derajat ringan hingga berat. Adapun gejala yang biasanya
muncul antara lain:

1. Perasaan cemas yang berlebihan, sedih, murung, dan sering menangis.


2. Seringkali merasa kelelahan dan sakit kepala.

14 | P a g e FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

3. Perasaan ketidakmampuan, misalnya dalam mengurus si kecil.

Seringkali ibu yang pada awalnya mengalami baby blues syndrome kemudian
berkembang menjadi lebih lama dan lebih berat intensitasnya. Apabila gejala yang terjadi telah
mengganggu dalam melaksanakan tugas sehari-hari maka termasuk dalam kategori depresi pasca
melahirkan, biasanya lebih sering terjadi pada wanita dengan riwayat depresi sebelumnya.
Depresi pasca melahirkan disertai dengan tanda-tanda:

1. Kelelahan yang berkepanjangan, susah tidur, dan insomnia.


2. Hilangnya perasaan bahagia dan minat untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan.
3. Tidak memperhatikan diri sendiri dan menarik diri dari keluarga dan teman.
4. Tidak memperhatikan atau bahkan perhatian yang berlebihan pada si kecil.
5. Perasaan takut telah menyakiti si kecil.
6. Tidak tertarik pada seks.
7. Perasaan berubah-ubah dengan ekstrim, terganggu proses berpikir dan konsentrasi.

PENATALAKSANAAN

Postpartum blues biasanya ringan dalam keparahan dan akan selesai secara spontan.
Tidak ada pengobatan khusus diperlukan, selain dukungan dan jaminan. Evaluasi lebih lanjut
diperlukan jika gejala berlangsung lebih dari 2 minggu.

PENCEGAHAN SINDROM BABY BLUES

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, antara lain:

1. Mintalah bantuan orang lain, misalnya kerabat atau teman untuk membantu Anda
mengurus si kecil.
2. Ibu yang baru saja melahirkan sangat butuh istirahat dan tidur yang cukup. Lebih hanyak
istirahat di minggu-minggu dan bulan-bulan pertama setelah melahirkan, bisa mencegah
depresi dan memulihkan tenaga yang seolah terkuras habis.

15 | P a g e FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

3. Hindari makanan manis serta makanan dan minuman yang mengandung kafein. Karena
kedua makanan ini berpotensi memperburuk depresi.
4. Konsumsilah makanan yang bernutrisi agar kondisi tubuh cepat pulih, sehat dan segar.
5. Cobalah berbagi rasa dengan suami atau orang terdekat lainnya. Dukungan dari mereka
bisa membantu Anda mengurangi depresi.

Agar baby blues syndrome dapat diminimalisir maka yang pertama harus dipersiapkan
oleh sebuah keluarga yang akan menginginkan seorang anak adalah kehamilan yang terencana
yang didukung oleh kesiapan mental, financial, dan sosial dari ayah dan ibu. Persiapkan pula
pengetahuan dasar calon ayah dan calon ibu tentang kehamilan, proses melahirkan, sampai
dengan cara merawat si kecil. Sebaiknya diskusikan juga tentang pembagian kerja anata ibu dan
ayah pada saat kehamilan hingga si kecil dilaharkan sehingga ibu mempunyai waktu yang cukup
untuk beristirahat. Jika diperlukan pertimbangkan pula untuk mempunyai asisten dalam
membantu mengurus rumah tangga.

2.2.2 Depresi Post Partum

Depresi postpartum terjadi dalam 10-15% wanita pada populasi umum. Depresi
postpartum paling sering terjadi dalam 4 bulan pertama setelah melahirkan, tetapi dapat terjadi
kapan pun pada tahun pertama. Depresi postpartum tidak berbeda dari depresi yang dapat terjadi
setiap saat lainnya dalam kehidupan wanita. Masa pasca-melahirkan adalah waktu yang paling
rentan bagi wanita untuk mengembangkan penyakit kejiwaan. Wanita yang menderita 1 episode
depresi mayor setelah melahirkan memiliki risiko kekambuhan sekitar 25%.

Perempuan resiko tertinggi adalah mereka dengan sejarah pribadi depresi, episode
sebelumnya depresi pasca melahirkan, atau depresi selama kehamilan. Selain memiliki riwayat
depresi, kehidupan yang penuh stress akhir-akhir ini, stres sehari-hari seperti perawatan anak,
kurangnya dukungan sosial (terutama dari pasangan), kehamilan yang tidak diinginkan, dan
status asuransi telah divalidasi sebagai faktor risiko.

16 | P a g e FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

Biasanya, depresi pascamelahirkan berkembang secara diam-diam selama 3 bulan


pertama pasca melahirkan, meskipun gangguan tersebut mungkin memiliki onset yang lebih
akut. Depresi postpartum lebih persistent dan melemahkan daripada postpartum blues.

FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN DEPRESI POST PARTUM

Cycde (Regina dkk, 2001) mengemukakan bahwa depresi postpartum tidak berbeda
secara mencolok dengan gangguan mental atau gangguan emosional. Suasana sekitar kehamilan
dan kelahiran dapat dikatakan bukan penyebab tapi pencetus timbulnya gangguan emosional.
Nadesul (1992), penyebab nyata terjadinya gangguan pasca melahirkan adalah adanya
ketidakseimbangan hormonal ibu, yang merupakan efek sampingan kehamilan dan persalinan.
Sarafino (Yanita dan Zamralita, 2001), faktor lain yang dianggap sebagai penyebab munculnya
gejala ini adalah masa lalu ibu tersebut, yang mungkin mengalami penolakan dari orang tuanya
atau orang tua yang overprotective, kecemasan yang tinggi terhadap perpisahan, dan
ketidakpuasaan dalam pernikahan. Perempuan yang memiliki sejarah masalah emosional rentan
terhadap gejala depresi ini, kepribadian dan variabel sikap selama masa kehamilan seperti
kecemasan, kekerasan dan kontrol eksternal berhubungan dengan munculnya gejala depresi.
Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Llewellyn–Jones (1994), karakteristik wanita yang
berisiko mengalami depresi postpartum adalah : wanita yang mempunyai sejarah pernah
mengalami depresi, wanita yang berasal dari keluarga yang kurang harmonis, wanita yang
kurang mendapatkan dukungan dari suami atau orang–orang terdekatnya selama hamil dan
setelah melahirkan, wanita yang jarang berkonsultasi dengan dokter selama masa kehamilannya
misalnya kurang komunikasi dan informasi, wanita yang mengalami komplikasi selama
kehamilan.

Pitt (Regina dkk, 2001), mengemukakan 4 faktor penyebab depresi postpartum sebagai
berikut :

a. Faktor konstitusional. Gangguan post partum berkaitan dengan status paritas adalah
riwayat obstetri pasien yang meliputi riwayat hamil sampai bersalin serta apakah ada komplikasi
dari kehamilan dan persalinan sebelumnya dan terjadi lebih banyak pada wanita primipara.
Wanita primipara lebih umum menderita blues karena setelah melahirkan wanita primipara

17 | P a g e FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

berada dalam proses adaptasi, kalau dulu hanya memikirkan diri sendiri begitu bayi lahir jika ibu
tidak paham perannya ia akan menjadi bingung sementara bayinya harus tetap dirawat.

b. Faktor fisik. Perubahan fisik setelah proses kelahiran dan memuncaknya gangguan
mental selama 2 minggu pertama menunjukkan bahwa faktor fisik dihubungkan dengan
kelahiran pertama merupakan faktor penting. Perubahan hormon secara drastis setelah
melahirkan dan periode laten selama dua hari diantara kelahiran dan munculnya gejala.
Perubahan ini sangat berpengaruh pada keseimbangan. Kadang progesteron naik dan estrogen
yang menurun secara cepat setelah melahirkan merupakan faktor penyebab yang sudah pasti.

c. Faktor psikologis. Peralihan yang cepat dari keadaan “dua dalam satu” pada akhir
kehamilan menjadi dua individu yaitu ibu dan anak bergantung pada penyesuaian psikologis
individu. Klaus dan Kennel (Regina dkk, 2001), mengindikasikan pentingnya cinta dalam
menanggulangi masa peralihan ini untuk memulai hubungan baik antara ibu dan anak.

d. Faktor sosial. Paykel (Regina dkk, 2001) mengemukakan bahwa pemukiman yang
tidak memadai lebih sering menimbulkan depresi pada ibu – ibu, selain kurangnya dukungan
dalam perkawinan.

Menurut Kruckman (Yanita dan zamralita, 2001), menyatakan terjadinya depresi


pascasalin dipengaruhi oleh faktor :

1. Biologis. Faktor biologis dijelaskan bahwa depresi postpartum sebagai akibat kadar
hormon seperti estrogen, progesteron dan prolaktin yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dalam
masa nifas atau mungkin perubahan hormon tersebut terlalu cepat atau terlalu lambat.

2. Karakteristik ibu, yang meliputi :

a. Faktor umur. Sebagian besar masyarakat percaya bahwa saat yang tepat bagi seseorang
perempuan untuk melahirkan pada usia antara 20–30 tahun, dan hal ini mendukung masalah
periode yang optimal bagi perawatan bayi oleh seorang ibu. Faktor usia perempuan yang
bersangkutan saat kehamilan dan persalinan seringkali dikaitkan dengan kesiapan mental
perempuan tersebut untuk menjadi seorang ibu.

18 | P a g e FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

b. Faktor pengalaman. Beberapa penelitian diantaranya adalah penelitian yang dilakukan


oleh Paykel dan Inwood (Regina dkk, 2001) mengatakan bahwa depresi pascasalin ini lebih
banyak ditemukan pada perempuan primipara, mengingat bahwa peran seorang ibu dan segala
yang berkaitan dengan bayinya merupakan situasi yang sama sekali baru bagi dirinya dan dapat
menimbulkan stres. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Le Masters yang melibatkan suami
istri muda dari kelas sosial menengah mengajukan hipotesis bahwa 83% dari mereka mengalami
krisis setelah kelahiran bayi pertama.

c. Faktor pendidikan. Perempuan yang berpendidikan tinggi menghadapi tekanan sosial


dan konflik peran, antara tuntutan sebagai perempuan yang memiliki dorongan untuk bekerja
atau melakukan aktivitasnya diluar rumah, dengan peran mereka sebagai ibu rumah tangga dan
orang tua dari anak–anak mereka (Kartono, 1992).

d. Faktor selama proses persalinan. Hal ini mencakup lamanya persalinan, serta intervensi
medis yang digunakan selama proses persalinan. Diduga semakin besar trauma fisik yang
ditimbulkan pada saat persalinan, maka akan semakin besar pula trauma psikis yang muncul dan
kemungkinan perempuan yang bersangkutan akan menghadapi depresi pascasalin.

e. Faktor dukungan sosial. Banyaknya kerabat yang membantu pada saat kehamilan,
persalinan dan pascasalin, beban seorang ibu karena kehamilannya sedikit banyak berkurang.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab depresi postpartum
adalah faktor konstitusional, faktor fisik yang terjadi karena adanya ketidakseimbangan
hormonal, faktor psikologi, faktor sosial dan karakteristik ibu.

GEJALA-GEJALA DEPRESI POST PARTUM

Depresi merupakan gangguan yang betul–betul dipertimbangkan sebagai psikopatologi


yang paling sering mendahului bunuh diri, sehingga tidak jarang berakhir dengan kematian.
Gejala depresi seringkali timbul bersamaan dengan gejala kecemasan. Manifestasi dari kedua
gangguan ini lebih lanjut sering timbul sebagai keluhan umum seperti : sukar tidur, merasa

19 | P a g e FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

bersalah, kelelahan, sukar konsentrasi, hingga pikiran mau bunuh diri.


enurut Vandenberg (dalam Cunningham dkk, 1995), menyatakan bahwa keluhan dan gejala
depresi postpartum tidak berbeda dengan yang terdapat pada kelainan depresi lainnya. Hal yang
terutama mengkhawatirkan adalah pikiran – pikiran ingin bunuh diri, waham–waham paranoid
dan ancaman kekerasan terhadap anak–anaknya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ling dan Duff (2001), bahwa gejala depresi
postpartum yang dialami 60 % wanita hampir sama dengan gejala depresi pada umumnya. Tetapi
dibandingkan dengan gangguan depresi yang umum, depresi postpartum mempunyai
karakteristik yang spesifik antara lain :

a. Mimpi buruk. Biasanya terjadi sewaktu tidur REM. Karena mimpi – mimpi yang
menakutkan, individu itu sering terbangun sehingga dapat mengakibatkan insomnia.

b. Insomnia. Biasanya timbul sebagai gejala suatu gangguan lain yang mendasarinya
seperti kecemasan dan depresi atau gangguan emosi lain yang terjadi dalam hidup manusia.

c. Fobia. Rasa takut yang irasional terhadap sesuatu benda atau keadaan yang tidak dapat
dihilangkan atau ditekan oleh pasien, biarpun diketahuinya bahwa hal itu irasional adanya. Ibu
yang melahirkan dengan bedah Caesar sering merasakan kembali dan mengingat kelahiran yang
dijalaninya. Ibu yang menjalani bedah Caesar akan merasakan emosi yang bermacam–macam.
Keadaan ini dimulai dengan perasaan syok dan tidak percaya terhadap apa yang telah terjadi.
Wanita yang pernah mengalami bedah Caesar akan melahirkan dengan bedah Caesar pula untuk
kehamilan berikutnya. Hal ini bisa membuat rasa takut terhadap peralatan peralatan operasi dan
jarum (Duffet-Smith, 1995).

d. Kecemasan. Ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena
dirasakan akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi sumbernya sebagian besar tidak
diketahuinya.

e. Meningkatnya sensitivitas. Periode pasca kelahiran meliputi banyak sekali penyesuaian


diri dan pembiasaan diri. Bayi harus diurus, ibu harus pulih kembali dari persalinan anak, ibu
harus belajar bagaimana merawat bayi, ibu perlu belajar merasa puas atau bahagia terhadap

20 | P a g e FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

dirinya sendiri sebagai seorang ibu. Kurangnya pengalaman atau kurangnya rasa percaya diri
dengan bayi yang lahir, atau waktu dan tuntutan yang ekstensif akan meningkatkan sensitivitas
ibu (Santrock, 2002).

f. Perubahan mood. Menurut Sloane dan Bennedict (1997), menyatakan bahwa depresi
postpartum muncul dengan gejala sebagai berikut : kurang nafsu makan, sedih – murung,
perasaan tidak berharga, mudah marah, kelelahan, insomnia, anorexia, merasa terganggu dengan
perubahan fisik, sulit konsentrasi, melukai diri, anhedonia, menyalahkan diri, lemah dalam
kehendak, tidak mempunyai harapan untuk masa depan, tidak mau berhubungan dengan orang
lain. Di sisi lain kadang ibu jengkel dan sulit untuk mencintai bayinya yang tidak mau tidur dan
menangis terus serta mengotori kain yang baru diganti. Hal ini menimbulkan kecemasan dan
perasaan bersalah pada diri ibu walau jarang ditemui ibu yang benar–benar memusuhi bayinya.
Menurut Nevid dkk (1997), depresi postpartum sering disertai gangguan nafsu makan dan
gangguan tidur, rendahnya harga diri dan kesulitan untuk mempertahankan konsentrasi atau
perhatian.

Kriteria diagnosis spesifik depresi postpartum tidak dimasukkan di dalam DSM-IV,


dimana tidak terdapat informasi yang adekuat untuk membuat diagnosis spesifik. Diagnosis
dapat dibuat jika depresi terjadi dalam hubungan temporal dengan kelahiran anak dengan onset
episode dalam 4 minggu pasca persalinan.

Menurut DSM IV, simptom–simptom yang biasanya muncul pada episode postpartum
antara lain perubahan mood, labilitas mood dan sikap yang berlebihan terhadap bayi. Wanita
yang menderita depresi postpartum sering mengalami kecemasan yang sangat hebat dan sering
panik.

Meskipun belum ada kriteria diagnosis spesifik dalam DSM-IV, secara karakteristik
penderita depresi postpartum mulai mengeluh kelelahan, perubahan mood, memiliki episode
kesedihan, kecurigaan dan kebingungan serta tidak mau berhubungan dengan orang lain. Selain
itu, penderita depresi postpartum memiliki perasaan tidak ingin merawat bayinya, tidak
mencintai bayinya, ingin menyakiti bayi atau dirinya sendiri atau keduanya.
Gejala depresi pascasalin ini memang lebih ringan dibandingkan dengan psikosis pascasalin.

21 | P a g e FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

Meskipun demikian, kelainan–kelainan tersebut memiliki potensi untuk menimbulkan kesulitan


atau masalah bagi ibu yang mengalaminya ( Kruckman dalam Yanita dan Zamralita, 2001).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gejala–gejala depresi postpartum antara lain
adalah trauma terhadap intervensi medis yang dialami, kelelahan, perubahan mood, gangguan
nafsu makan, gangguan tidur, tidak mau berhubungan dengan orang lain, tidak mencintai
bayinya, ingin menyakiti bayi atau dirinya sendiri atau keduanya.

PENATALAKSANAAN

Singkirkan penyebab fisik untuk gangguan mood (misalnya, disfungsi tiroid, anemia).
Evaluasi awal termasuk riwayat kesehatan menyeluruh, pemeriksaan fisik, dan tes laboratorium
rutin. Tingkat keparahan penyakit akan menentukan terapi yang tepat.

Strategi pengobatan non-farmakologis berguna untuk wanita dengan gejala depresi ringan
sampai sedang. Psikoterapi individu atau kelompok (kognitif-perilaku dan terapi interpersonal)
adalah sangat efektif.

Psychoeducational atau dukungan kelompok juga dapat membantu. Modalitas ini dapat
sangat menarik bagi ibu yang menyusui dan yang ingin menghindari minum obat.

Strategi farmakologis yang diindikasikan untuk gejala depresi sedang sampai berat atau
ketika seorang wanita tidak merespon pengobatan non-farmakologis. Obat juga dapat digunakan
dalam hubungannya dengan terapi non-farmakologis.

Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) adalah agen lini pertama dan efektif pada
wanita dengan depresi pasca-melahirkan. Gunakan dosis antidepresan standar, misalnya,
fluoxetine (Prozac) 10-60 mg / hari, sertraline (Zoloft) 50-200 mg / hari, paroxetine (Paxil) 20-60
mg / hari, citalopram (Celexa) 20-60 mg / hari , atau escitalopram (Lexapro) 10-20 mg / hari.
Akibat yang merugikan dari obat kategori ini termasuk insomnia, mual, penurunan nafsu makan,
sakit kepala, dan disfungsi seksual.

22 | P a g e FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

Serotonin-norepinephrine reuptake inhibitors (SNRIs), seperti venlafaxine (Effexor) 75-


300 mg / hari atau duloxetine (Cymbalta) 40-60 mg / hari, juga sangat efektif untuk depresi dan
kecemasan.

Antidepresan trisiklik (misalnya, Nortriptilin 50-150 mg / hari) mungkin berguna bagi


wanita dengan gangguan tidur, walaupun beberapa studi menunjukkan bahwa perempuan lebih
merespon obat kategori SSRI. Akibat yang merugikan dari antidepresan trisiklik termasuk
mengantuk, berat badan bertambah, mulut kering, sembelit, dan disfungsi seksual.

Biasanya, gejala mulai berkurang dalam 2-4 minggu. Sebuah penyembuhan penuh dapat
berlangsung beberapa bulan. Pada sebagian responden, meningkatkan dosis dapat membantu.

Agen anxiolytic seperti lorazepam dan clonazepam mungkin berguna sebagai pengobatan
adjunctive pada pasien dengan kecemasan dan gangguan tidur.

Data awal menunjukkan bahwa estrogen, sendiri atau dalam kombinasi dengan
antidepresan, mungkin bermanfaat, namun tetap antidepresan menjadi baris pertama pengobatan.

Jika ini adalah episode pertama dari depresi, pengobatan selama 6-12 bulan dianjurkan.
Untuk wanita dengan depresi mayor berulang, diindikasikan perawatan pengobatan jangka
panjang dengan antidepresan.

Kegagalan untuk mengobati atau pengobatan yang tidak adekuat dapat mengakibatkan
memburuknya hubungan antara ibu dan bayi atau pasangan. Hal ini juga dapat meningkatkan
risiko morbiditas pada ibu dan bayi, serta kompromi sosial dan pengembangan pendidikan sang
bayi.

Semakin cepat pengobatan maka semakin baik prognosisnya. Rawat Inap mungkin
diperlukan untuk depresi pascamelahirkan yang parah.

23 | P a g e FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

Terapi electroconvulsive (ECT) adalah cepat, aman, dan efektif untuk perempuan
dengan depresi pascamelahirkan yang parah, khususnya mereka dengan pikiran bunuh diri yang
aktif.

Masih ada terapi yang masih belum terbukti seperti penggunaan cahaya terang dan terapi
gizi (terutama meningkatkan omega-3 bebas asam lemak ).

2.2.3 Psikosis Post Partum

Psikosis post partum adalah penyakit langka, dibandingkan dengan tingkat depresi
postpartum atau kecemasan. Hal ini terjadi pada sekitar 1-2 dari setiap 1.000 kelahiran, atau
sekitar 0,01% dari kelahiran. Onset biasanya tiba-tiba, paling sering dalam melahirkan 4 minggu
pertama.

Gejala psikosis postpartum dapat mencakup:

Delusi atau keyakinan aneh

Halusinasi (melihat atau mendengar hal-hal yang tidak ada)

Merasa sangat kesal

Hiperaktif

Penurunan kebutuhan atau ketidakmampuan untuk tidur

Paranoia dan kecurigaan

Perubahan mood dengan cepat

Kesulitan berkomunikasi

24 | P a g e FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

Faktor risiko paling signifikan untuk psikosis pascamelahirkan adalah sejarah pribadi
atau keluarga gangguan bipolar, atau episode psikotik sebelumnya.

Dari wanita yang mengalami psikosis pasca melahirkan, ada kemungkinan sekitar 5%
untuk terjadi pembunuhan bayi atau bunuh diri sendiri. Hal ini karena perempuan yang
mengalami psikosis sedang lari dari kenyataan. Dalam keadaan psikotik pasien, delusi dan
keyakinan masuk akal baginya, mereka merasa sangat berarti dan sering religius. Perawatan
segera untuk para wanita adalah penting.

Hal ini juga penting untuk mengetahui bahwa banyak korban psikosis postpartum tidak
pernah mendapatkan delusi berisi perintah kekerasan. Delusi mengambil banyak bentuk, dan
tidak semua dari mereka adalah destruktif. Kebanyakan wanita yang mengalami psikosis
postpartum tidak merugikan diri sendiri atau orang lain. Namun, selalu ada risiko bahaya karena
psikosis termasuk delusi berpikir dan pertimbangan tidak rasional, dan inilah mengapa wanita
dengan penyakit ini harus dirawat dan dimonitor dengan baik oleh profesional kesehatan yang
terlatih.

Psikosis postpartum adalah darurat psikiatris yang biasanya membutuhkan perawatan


rawat inap. Kebanyakan pasien dengan psikosis postpartum mengalami gangguan bipolar.
Pengobatan akut termasuk mood stabilizer (misalnya, lithium, asam valproat, carbamazepine)
dalam kombinasi dengan obat antipsikotik dan benzodiazepine.

ECT (biasanya bilateral) ditoleransi dengan baik dan cepat efektif. Risiko bunuh diri
adalah signifikan pada populasi ini.

25 | P a g e FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

BAB III
KESIMPULAN

Kehamilan merupakan waktu transisi, yakni suatu masa antara kehidupan sebelum
memiliki anak yang sekarang berada dalam kandungan dan kehidupan nanti setelah anak tersebut
lahir. Perubahan status yang radikal ini dipertimbangkan sebagai suatu krisis disertai periode
tertentu untuk menjalani proses persiapan psikologis yang secara normal sudah ada selama
kehamilan dan mengalami puncaknya pada saat bayi lahir.

Insidens gangguan jiwa pada kehamilan lebih rendah dibanding post partum dan di luar
kehamilan. Post partum 10-15%, diluar kehamilan 2-7%. Namun Ohara melaporkan bahwa 10%
wanita hamil memenuhi syarat mengalami depresi mayor dan minor.

Hasil penelitian sampai saat ini menunjukkan etiologi yang multifaktorial. Beberapa
faktor yang dilaporkan seperti faktor hormonal, neuroendokrin, biokemikal, psikologik, sosial,
budaya, genetik dan kepribadian, atau hubungan timbal balik diantara faktor-faktor tersebut.

Setiap trimester pada kehamilan memiliki resiko gangguan psikologis masing-masing.


Rawat inap sebaiknya dipikirkan sebagai pilihan pengobatan psikofarmakologis pada trimester I
untuk kasus kehamilan yang tidak direncanakan, dimana pengobatan harus dihentikan segera dan
apabila terdapat riwayat gangguan afektif rekuren. Penggunaan antidepresan trisiklik sebaiknya
hanya pada pasien hamil yang mengalami depresi berat yang mengeluhkan gejala vegetatif dari
depresi, seperti : menangis, insomnia, gangguan nafsu makan dan ada ide-ide bunuh diri.
Psikoterapi harus digunakan bila ada konflik intrapsikis yang berhubungan dengan kehamilan.
Terapi perilaku kognitif sangat menolong pasien depresi dan dapat digunakan bersama
antidepresan. Terapi elektrokompulsif ( ECT ) digunakan pada pasien depresi psikotik untuk
mendapatkan respon yang lebih cepat, bila kehidupan ibu dan anak terancam. Belum ada
hubungan yang jelas antara penggunaan nortriptilin, desipramin atau golongan Selective
SerotoninReuptake Inhibitors (SSRIs) adalah anti depresan pilihan untuk wanita hamil,
mencakup fluoksetindan sertralin, tidak menyebabkan hipotensi ortostatik, konstipasi atau sedasi.

26 | P a g e FK UKRIDA
Depresi Pada Masa
Kehamilan Dan Setelah Kehamilan

Secara umum sebagaian besar wanita mengalami gangguan emosional setelah


melahirkan. Clydde (Regina dkk, 2001), bentuk gangguan postpartum yang umum adalah
depresi, mudah marah dan terutama mudah frustasi serta emosional.
angguan mood selama periode postpartum merupakan salah satu gangguan yang paling sering
terjadi pada wanita baik primipara maupun multipara. Menurut DSM-IV, gangguan pascasalin
diklasifikasikan dalam gangguan mood dan onset gejala adalah dalam 4 minggu pascapersalinan.
Ada 3 tipe gangguan mood pascasalin, diantaranya adalah maternity blues, postpartum
depression dan postpartum psychosis ( Ling dan Duff, 2001).

Postpartum blues atau sering disebut juga sebagai maternity blues yaitu kesedihan pasca
persalinan yang bersifat sementara. Postpartum depression yaitu depresi pasca persalinan yang
berlangsung sampai berminggu – minggu atau bulan dan kadang ada diantara mereka yang tidak
menyadari bahwa yang sedang dialaminya merupakan penyakit. Postpartum psychosis, dalam
kondisi seperti ini terjadi tekanan jiwa yang sangat berat karena bisa menetap sampai setahun
dan bisa juga selalu kambuh gangguan kejiwaannya setiap pasca melahirkan.

Untuk post partum blues, tidak ada pengobatan khusus mungkin diperlukan karena
kondisi yang akan hilang dengan sendirinya. Jika gejala tidak hilang dalam waktu 2 minggu,
hubungi penyedia layanan kesehatan anda.

Untuk depresi pasca melahirkan, tingkat keparahan dari sakit akan memandu penyedia
layanan kesehatan dalam memilih pengobatan. Bentuk lebih ringan dapat diobati dengan terapi
psikologis. Bentuk yang lebih parah mungkin memerlukan pengobatan. Kombinasi obat kadang-
kadang membantu

Psikosis postpartum adalah darurat psikiatris yang biasanya membutuhkan perawatan


rawat inap. Kebanyakan pasien dengan psikosis postpartum mengalami gangguan bipolar.
Pengobatan akut termasuk mood stabilizer (misalnya, lithium, asam valproat, carbamazepine)
dalam kombinasi dengan obat antipsikotik dan benzodiazepine.

ECT (biasanya bilateral) ditoleransi dengan baik dan cepat efektif. Risiko bunuh diri
adalah signifikan pada populasi ini.

27 | P a g e FK UKRIDA