Anda di halaman 1dari 6

LANGKAH BIJAK PEMANFAATAN

Kita seringkali tidak bisa menghindarkan adanya bahan dalam makanan


kita, terutama zat pemanis. Dalam penggunaan zat pemanis harus diperhatikan
karena maraknya penyakit yang diakibatkan lebihnya kadar gula dalam tubuh,
seperti penyakit Diabetes Melitus. Oleh karena itu kita harus mengenali tentang
pemanis alami maupun buatan dan bagaimana memanfaatkannya dengan bijak
agar tetap sehat.

 Pemanis Alami

Pemanis alami adalah gula. Gula adalah termasuk senyawa karbohidrat


sederhana yang menjadi sumber energi dan komoditi perdagangan utama. Gula
yang paling banyak digunakan dalam makanan kita adalah sukrosa. Kita mengenal
ada gula pasir, gula aren, gula bit, dll. Sukrosa akan diuraikan menjadi glukosa
dan fruktosa. Glukosa inilah yang merupakan gula sederhana yang menyimpan
energi yang akan digunakan oleh sel. Namun demikian, pada orang-orang yang
memiliki sakit kencing manis atau diabetes melitus, gula adalah salah satu
pantangannya karena bisa meningkatkan kadar glukosa darah. Karena itu jika
ingin tetap merasakan manisnya dalam makanan maupun minuman, dapat
digantikan dengan pemanis buatan.

 Pemanis Buatan

Sebagai pengganti gula, banyak produk pangan menggunakan pemanis


buatan untuk menghasilkan pangan rendah kalori. Hal ini terutama ditujukan
untuk penderita Diabetes atau mereka yang harus mengurangi asupan kalori.
Pemanis buatan kini sudah mulai banyak digunakan juga oleh masyarakat yang
tidak menderita diabetes. Selain itu, beberapa produsen pangan juga mengganti
gula dengan pemanis buatan dengan alasan ekonomi, karena lebih murah.
Berbagai minuman kaleng atau botol, sirup, permen, selai, dll. banyak yang
menggunakan pemanis buatan. Macam-macam pemanis buatan meliputi:
1. Aspartam

Aspartam adalah pemanis buatan yang tersusun dari 2 macam asam


amino yaitu asam aspartat dan fenilalanin. Asam aspartat dan fenilalanin
sendiri merupakan asam amino yang menyusun protein, khusus asam
aspartat, ia juga merupakan senyawa penghantar pada sistem saraf
(neurotransmiter). Aspartam, dikenal juga dengan kode E951, memiliki
kadar kemanisan 200 kali daripada gula (sukrosa), dan banyak dijumpai
pada produk-produk minuman dan makanan/permen rendah kalori atau
sugar-free. Nama dagang aspartam sebagai pemanis buatan antara lain
adalah Equal, Nutrasweet dan Tropicana.

Sampai saat ini, FDA menyetujui aspartam sebagai pemanis buatan


yang aman. Seperti banyak peptida lainnya, kandungan energi aspartam
sangat rendah yaitu sekitar 4 kCal (17 kJ) per gram untuk menghasilkan rasa
manis, sehingga kalorinya bisa diabaikan, yang menyebabkan aspartam
sangat populer untuk menghindari kalori dari gula. Keunggulan aspartam
yaitu mempunyai energi yang sangat rendah, mempunyai cita rasa manis
mirip gula, tanpa rasa pahit, tidak merusak gigi, menguatkan cita rasa buah-
buahan pada makanan dan minuman, dapat digunakan sebagai pemanis pada
makanan atau minuman pada penderita diabetes.

Seperti halnya bahan tambahan makanan lainnya, ada dosis tertentu


yang dapat diterima penggunaannya, yang sering disebut sebagai Acceptable
Daily Intake, atau ADI, yaitu perkiraan jumlah bahan tambahan makanan
yang dapat digunakan secara rutin (setiap hari) dengan aman. Dalam hal
aspartam, angka ADI-nya adalah 40 mg per kg berat badan. Berarti sekitar
2800 mg untuk berat rata-rata orang dewasa. Dan untuk anak-anak usia 3
tahun, angka ADI-nya berkisar 600 mg.

Disamping faktor aman, penggunaan aspartam bagi orang yang


menderita penyakit keturunan yang dikenal sebagai fenilketonuria perlu
mendapat perhatian khusus. Diperkirakan 1 dalam 15.000 orang memiliki
kelainan tersebut. Orang yang menderita fenilketonuria tidak mampu
memetabolisme fenilalanin, salah satu cara untuk mengobatinya dengan
membatasi pemasukan fenilalanin, bukan menghilangkan karena fenilalanin
merupakan asam amino esensial yang penting untuk kehidupan. Berlebihnya
jumlah fenilalanin pada penderita fenilketonuria dapat menyebabkan
terjadinya keterbelakangan mental, karena asam fenilpiruvat yang dibentuk
dari fenilalanin akan menumpuk dalam otak (Yuliarti, 2007).

Pada penggunaan dalam minuman ringan, aspartam kurang


menguntungkan karena penyimpanan dalam waktu lama akan
mengakibatkan turunnya rasa manis. Selain itu, aspartam tidak tahan panas
sehingga tidak baik digunakan dalam bahan pangan yang diolah melalui
pemanasan (Cahyadi, 2006).

Aspartam tersusun oleh asam amino sehingga didalam tubuh akan


mengalami metabolisme seperti halnya asam amino pada umumnya. Bagi
penderita penyakit keturunan yang berhubungan dengan kelemahan mental
(phenil keton urea/PKU) dilarang untuk mengkonsumsi aspartam karena
adanya fenilalanin yang tidak dapat dimetabolisme oleh penyakit tersebut.
Kelebihan fenilalanin dalam tubuh penderita PKU diduga dapat
menyebabkan kerusakan otak dan pada akhirnya dapat mengakibatkan cacat
mental (Yuliarti, 2007).

2. Sakarin

Sakarin adalah pemanis tidak berkalori. Pemanis ini sesungguhnya


tidak dimetabolisme oleh tubuh sehingga aman digunakan. Sakarin
merupakan senyawa benzosulfamida. Keunggulan dari senyawa ini
mempunyai tingkat kemanisan kira-kira 300-500 kali dibandingkan dengan
gula. Sama dengan aspartame, senyawa ini bukan merupakan sumber kalori
sebagaimana gula pasir sehingga kerap digunakan untuk mereka yang
menjalani diet rendah kalori. Kelemahannya, senyawa ini labil pada
pemanasan sehingga mengurangi tingkat kemanisannya. Disamping itu
sakarin kerap kali menimbulkan rasa pahit ikutan (after taste) karena
ketidakmurnian bahannya. FDA memperkirakan bahwa pemakaian sakarin
yang aman adalah 50 mg per orang per hari. Dosis sakarin yang disarankan
adalah sebesar 5 mg per kg berat badan per hari.

3. Asesulfam Potasium

Tingkat kemanisan Asesulfam potassium sekitar 200 kali dibanding


dengan sukrosa atau gula. Kelebihannya, mempunyai sifat stabil pada
pemanasan dan tidak mengandung kalori. Selain itu, asesulfam potassium
dapat meningkatkan derajat kemanisan makanan bila dicampur dengan
pemanis lain. Pastinya pemanis ini akan dikeluarkan melalui urin tanpa
mengalami perubahan. Dosis harian yang aman yang disetujui oleh FDA
bagi asesulfam adalah tidak melebihi 15 mg/kg BB. Karena tingkat
kemanisannya yang tinggi, penggunaan asesulfam sebaiknya dibatasi dalam
dosis yang kecil. Apalagi penggunaan asesulfam sering dikombinasikan juga
dengan pemanis lain.

4. Sukralosa

Sucrose-Sucralose merupakan derivate dari sukrosa, mempunyai


tingkat kemanisan kurang lebih 600 kali sukrosa. Sejauh ini sukralosa
dinyatakan aman, dengan dosis harian yang dianggap aman adalah tidak
lebih dari 10 mg per kg berat badan. Pemanis ini tidak diserap secara baik
oleh tubuh dan akan dikeluarkan melalui urin hampir tanpa perubahan.
Salah satu keunggulan sukralosa adalah tahan panas sehingga tingkat
kemanisan yang diperoleh tidak menurun. Karena tingkat kemanisannya
yang tinggi, jumlah sukralosa yang diperlukan untuk mencapai tingkat
kemanisan yang diinginkan juga sangat sedikit. Sucralose saat ini digunakan
di lebih dari 40 negara dan disetujui FDA pada tahun 1998 sebagai pemanis
buatan. Telah dipelajari selama lebih dari 20 tahun, dan 110 penelitian
tentang keamanannya pada hewan dan manusia menyimpulkan bahwa
sucralose aman untuk dikonsumsi.
5. Siklamat

Siklamat biasanya tersedia dalam bentuk garam natrium dari asam


siklamat dengan rumus molekul C6H11NHSO3Na. Nama lain dari siklamat
adalah natrium sikloheksisulfamat atau natrium siklamat. Tidak seperti
sakarin, siklamat berasa manis tanpa rasa ikutan yang kurang disenangi.
Bersifat mudah larut dalam air dan intensitas kemanisannya ± 30 kali
kemanisan sukrosa. Dalam industri pangan natrium siklamat dipakai sebagai
bahan pemanis yang tidak mempunyai nilai gizi untuk pengganti sukrosa.
Siklamat bersifat tahan panas, sehingga sering digunakan dalam pangan
yang diproses dalam suhu tinggi misalnya pangan dalam kaleng. Meskipun
memiliki tingkat kemanisan yang tinggi dan rasanya enak (tanpa rasa pahit)
tetapi siklamat dan sakrin dapat menimbulkan kanker kantong kemih. Hasil
metabolisme siklamat, yaitu sikloheksiamin bersifat karsinogenik. Oleh
karena itu ekskresinya melalui urine dapat merangsang pertumbuhan tumor.
Penelitian yang lebih baru menunjukkan bahwa siklamat dapat
menyebabkan atropi, yaitu terjdinya pengecilan testikular dan kerusakan
kromosom (Cahyadi,2006).

Penelitian yang dilakukan oleh para ahli Academy of science pada


tahun 1985 melaporkan bahwa siklamat maupun turunannya
(sikloheksiamin) tidak bersifat karsinogenik, tetapi diduga sebagai tumor
promoter. Sampai saat ini hasil penelitian mengenai dampak siklamat
terhadap kesehatan masih diperdebatkan (Sitorus, 2009). Dalam penggunaan
siklamat harus dibatasi meskipun hasil penelitian mengenai dampak
siklamat terhadap kesehatan masih belum pasti.

Telah dijelaskan diatas pemanis alami dan lima pemanis buatan yang
diperbolehkan dikonsumsi atau beredar di masyarakat. Walaupun aman, bahan-
bahan tersebut harus sesuai aturan dalam pemakaiannya untuk tidak melebihi
dosis hariannya. Jika bisa menggunakan pemanis yang alami, sebaiknya tidak
menggunakan pemanis yang buatan.
DAFTAR PUSTAKA

Cahyadi, S,. 2006. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan.
Cetakan Pertama . PT. Bumi Aksara. Jakarta.

Sitorus, Antonius. 2009. Penyediaan Film Mikrokomposit PVC Menggunakan


Pemlastis Stearin dengan Pengisi Pati dan Penguat Serat Alam. Tesis
Program Pascasarjana USU. Medan.

Yuliarti, Nurheti., 2007. Awas Bahaya di Balik Lezatnya Makanan. Yogyakarta :


Penerbit Andi.