Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

PRAKTEK COMPOUNDING DISPENSING


MONITORING EFEK SAMPING OBAT

KELAS C
KELOMPOK 1

Oleh :
Sukron Admaja 1820353948
Syaiban 1820353949
Tantri Alfionita 1820353950
Tasya Fadillah Bachtiar 1820353951

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
2018
BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang
kefarmasian serta makin tingginya kesadaran masyarakat dalam
meningkatkan kesehatan, maka dituntut juga kemampuan dan kecakapan
para petugas dalam rangka mengatasi permasalahan yang mungkin timbul
dalam pelaksanaan pelayanan kefarmasian kepada masyarakat. Dengan
demikian pada dasarnya kaitan tugas pekerjaan Farmasis dalam
melangsungkan berbagai proses kefarmasian, bukannya sekedar
membuat obat, melainkan juga menjamin, memberikan informasi
efek dan penggunaan obat, serta meyakinkan bahwa produk
kefarmasian yang diselenggarakan adalah bagian yang tidak
terpisahkan dari proses penyembuhan pevaluasi yang diderita pasien
(Pharmasetical Care). Mengingat kewenangan keprofesian yang
dimilikinya, maka dalam menjalankan tugasnya harus berdasarkan
prosedur-prosedur kefarmasian demi dicapainya produk kerja yang
memenuhi syarat ilmu pengetahuan kefarmasian, sasaran jenis pekerjaan
yang dilakukan serta hasil kerja akhir yangseragam, tanpa mengurangi
pertimbangan keprofesian secara pribadi.
Farmasis adalah tenagaahliyang mempunyai kewenangan dibidang
kefarmasian melalui keahlianyangdiperolehnya selama pendidikan tinggi
kefarmasian. Sifat kewenangan yang berlandaskan ilmu pengetahuan ini
memberinya semacam otoritas dalam berbagai aspekobat atau proses
kefarmasian yang tidak dimiliki oleh tenaga kesehatan lainnya. Farmasi
sebagai tenaga kesehatan yang dikelompokkan profesi, telah diakui secara
universal. Lingkup pekerjaannya meliputi semua aspek tentang obat, mulai
penyediaan bahan baku obat dalam arti luas, membuat sediaan jadinya
sampai dengan pelayanan kepada pemakai obat ataupasien.
Salah satu bentuk kegiatan pharmaceutical care dalam Monitoring
Efek Samping Obat (MESO), Identifikasianalisis, mengkoordinir
pelaksanaan dan analisis hasil, termasuk upaya pemastian obat dan
pencegahan, menyebarluaskan hasil serta evaluasi.

II. Rumusan Masalah


1. Apa pengertian MESO?
2. Apa tujuan dari MESO?
3. Apa definisi dari RA dan hipertensi?
4. Bagaimana gejala RA?
5. Apa saja faktor resiko dari RA dan Hipertensi?
6. Apa terapi farmakologi dan nonfarmakologi RA dan Hipertensi?
III. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu MESO
2. Untuk mengetahui tujuan dari MESO
3. Untuk mengetahui definisi dari RA dan hipertensi
4. Untuk mengetahui gejala dari RA dan Hipertensi
5. Untuk mengetahui faktor resiko dari RA dan Hipertensi
6. Untuk mengetahui terapi farmakologi dan nonfarmakologi RA dan
Hipertensi
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pelayanan Kefarmasian Di Rumah (Home Pharmacy Care)


1. Pengertian
Pelayanan kefarmasian di rumah oleh apoteker adalah
pendampingan pasien oleh apoteker dalam pelayanan kefarmasian di
rumah dengan persetujuan pasien atau keluarganya. Pelayanan
kefarmasian di rumah terutama untuk pasien yang tidak atau belum dapat
menggunakan obat dan atau alat kesehatan secara mandiri, yaitu pasien
yang memiliki kemungkinan mendapatkan risiko masalah terkait obat
misalnya komorbiditas, lanjut usia, lingkungan sosial, karateristik obat,
kompleksitas pengobatan, kompleksitas penggunaan obat, kebingungan
atau kurangnya pengetahuan dan keterampilan tentang bagaimana
menggunakan obat dan atau alat kesehatan agar tercapai efek yang
terbaik .
2. Tujuan dan Manfaat
a. Tujuan
 Tujuan Umum
Tercapainya keberhasilan terapi obat
 Tujuan Khusus
a) Terlaksananya pendampingan pasien oleh apoteker untuk
mendukung efektifitas, keamanan dan kesinambungan
pengobatan
b) Terwujudnya komitmen, keterlibatan dan kemandirian pasien
dan keluarga dalam penggunaan obat dan atau alat kesehatan
yang tepat
c) Terwujudnya kerjasama profesi kesehatan, pasien dan keluarga
b. Manfaat
 Bagi Pasien
a) Terjaminnya keamanan, efektifitas dan keterjangkauan biaya
pengobatan

b) Meningkatkan pemahaman dalam pengelolaan dan penggunaan


obat dan/atau alat kesehatan
c) Terhindarnya reaksi obat yang tidak diinginkan
d) Terselesaikannya masalah penggunaan obat dan/atau alat
kesehatan dalam situasi tertentu

 Bagi Apoteker

a) Pengembangan kompetensi apoteker dalam pelayanan


kefarmasian di rumah

b) Pengakuan profesi farmasi oleh masyarakat kesehatan,


masyarakat umum dan pemerintah

c) Terwujudnya kerjasama antar profesi kesehatan

3. Prinsip-Prinsip Pelayanan Kefarmasian di Rumah

a. Pengelolaan pelayanan kefarmasian di rumah dilaksanakan oleh


apoteker yang kompeten
b. Mengaplikasikan peran sebagai pengambil keputusan profesional
dalam pelayanan kefarmasian sesuai kewenangan
c. Memberikan pelayanan kefarmasian di rumah dalam rangka
meningkatkan kesembuhan dan kesehatan serta pencegahan
komplikasi
d. Menjunjung tinggi kerahasiaan dan persetujuan pasien (confidential
and inform consent)
e. Memberikan rekomendasi dalam rangka keberhasilan pengobatan
f. Melakukan telaah (review) atas penatalaksanaan pengobatan
g. Menyusun rencana pelayanan kefarmasian berdasarkan pada diagnosa
dan informasi yang diperoleh dari tenaga kesehatan dan
pasien/keluarga
h. Membuat catatan penggunaan obat pasien (Patient Medication
Record) secara sistematis dan kontiniu, akurat dan komprehensif
i. Melakukan monitoring penggunaan obat pasien secara terus menerus
j. Bertanggung jawab kepada pasien dan keluarganya terhadap
pelayanan yang bermutu melalui pendidikan, konseling dan koordinasi
dengan tenaga kesehatan lain
k. Memelihara hubungan diantara anggota tim kesehatan untuk
menjamin agar kegiatan yang dilakukan anggota tim saling
mendukung dan tidak tumpang tindih
l. Berpartisipasi dalam aktivitas penelitian untuk mengembangkan
pengetahuan pelayanan kefarmasian di rumah.
4. Pelayanan Yang Dapat Diberikan Apoteker
Jenis pelayanan kefarmasian di rumah yang dapat dilakukan oleh
Apoteker, meliputi :
a. Penilaian/pencarian (assessment) masalah yang berhubungan dengan
pengobatan
b. Identifikasi kepatuhan dan kesepahaman terapeutik
c. Penyediaan obat dan/atau alat kesehatan
d. Pendampingan pengelolaan obat dan/atau alat kesehatan di rumah,
misal cara pemakaian obat asma, penyimpanan insulin, dll
e. Evaluasi penggunaan alat bantu pengobatan dan penyelesaian masalah
sehingga obat dapat dimasukkan ke dalam tubuh secara optimal
f. Pendampingan pasien dalam penggunaan obat melalui infus/obat
khusus
g. Konsultasi masalah obat
h. Konsultasi kesehatan secara umum
i. Dispensing khusus (misal : obat khusus, unit dose)
j. Monitoring pelaksanaan, efektifitas dan keamanan penggunaan obat
termasuk alat kesehatan pendukung pengobatan
k. Pelayanan farmasi klinik lain yang diperlukan pasien
l. Dokumentasi pelaksanaan pelayanan kefarmasian di rumah
B. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
1. Pengertian MESO
Monitoring Efek Samping Obat (MESO) merupakan kegiatan
pemantauan setiap respon terhadap obat yang merugikan atau tidak
diharapkan yang terjadi pada dosis lazim yang digunakan pada manusia untuk
tujuan profilaksis, diagnosa, dan terapi. Efek Samping Obat/ESO (Adverse
Drug Reactions/ADR) adalah respon terhadap suatu obat yang merugikan dan
tidak diinginkan dan yang terjadi pada dosis yang biasanya digunakan pada
manusia untuk pencegahan, diagnosis, atau terapi penyakit atau untuk
modifikasi fungsi fisiologik.
2. Tujuan MESO

 Memberikan kesempatan untuk mengenali suatu obat dengan baik dan


untuk mengenali respon orang terhadap obat.

 Membantu meningkatkan pengetahuan tentang obat, manusia atau


penyakit dari waktu ke waktu.

 Menerima info terkini tentang efek samping obat

 Menemukan efek samping obat (ESO) sedini mungkin terutama yang


berat, tidak dikenal, frekuensinya jarang.

 Menentukan frekuensi dan insidensi efek samping obat yang sudah dikenal
dan yang baru saja ditemukan.

 Mengenal semua faktor yang mungkin dapat menimbulkan/mempengaruhi


angka kejadian dan hebatnya efek samping obat.

 Meminimalkan resiko kejadian reaksi obat yang tidak dikehendaki.

 Mencegah terulangnya kejadian reaksi obat yang tidak dikehendaki

3. Kegiatan
 Menganalisis laporan efek samping Obat.
 Mengidentifikasi Obat dan pasien yang mempunyai resiko tinggi
mengalami efek samping Obat.
 Mengisi formulir Monitoring Efek Samping Obat (MESO).
 Melaporkan ke Pusat Monitoring Efek Samping Obat Nasional.

4. Faktor yang perlu diperhatikan:

 Kerja sama dengan tim kesehatan lain.


 Ketersediaan formulir Monitoring Efek Samping Obat.
 Siapa yang melaporkan?
Tenaga kesehatan, dapat meliputi:

 dokter,
 dokter spesialis,
 dokter gigi,
 apoteker,
 bidan,
 perawat,
 tenaga kesehatan lain.

 Apa yang perlu dilaporkan?


Setiap kejadian yang dicurigai sebagai efek samping obat perlu dilaporkan,
baik efek samping yang belum diketahui hubungan kausalnya (KTD/AE)
maupun yang sudah pasti merupakan suatu ESO (ADR).

 Bagaimana cara melapor dan informasi apa saja yang harus dilaporkan?
Informasi KTD atau ESO yang hendak dilaporkan diisikan ke dalam
formulir pelaporan ESO/ formulir kuning yang tersedia. Dalam penyiapan
pelaporan KTD atau ESO, sejawat tenaga kesehatan dapat menggali
informasi dari pasien atau keluarga pasien. Untuk melengkapi informasi
lain yang dibutuhkan dalam pelaporan dapat diperoleh dari catatan medis
pasien.

 Karakteristik laporan efek samping obat yang baik.


Karakteristik suatu pelaporan spontan (Spontaneous reporting) yang baik,
meliputi beberapa elemen penting berikut:
1. Diskripsi efek samping yang terjadi atau dialami oleh pasien, termasuk
waktu mula gejala efek samping (time to onset of signs/symptoms).

2. Informasi detail produk terapetik atau obat yang dicurigai, antara lain:
dosis, tanggal, frekuensi dan lama pemberian, lot number, termasuk
juga obat bebas, suplemen makanan dan pengobatan lain yang
sebelumnya telah dihentikan yang digunakan dalam waktu yang
berdekatan dengan awal mula kejadian efek samping.

3. Karakteristik pasien, termasuk informasi demografik (seperti usia, suku


dan jenis kelamin), diagnosa awal sebelum menggunakan obat yang
dicurigai, penggunaan obat lainnya pada waktu yang bersamaan,
kondisi ko-morbiditas, riwayat penyakit keluarga yang relevan dan
adanya faktor risiko lainnya.

4. Diagnosa efek samping, termasuk juga metode yang digunakan untuk


membuat/menegakkan diagnosis.

5. Informasi pelapor meliputi nama, alamat dan nomor telepon.

6. Terapi atau tindakan medis yang diberikan kepada pasien untuk


menangani efek samping tersebut dan kesudahan efek samping
(sembuh, sembuh dengan gejala sisa, perawatan rumah sakit atau
meninggal).

7. Data pemeriksaan atau uji laboratorium yang relevan.

8. Informasi dechallenge atau rechallenge (jika ada).

9. Informasi lain yang relevan.


 Kapan Melaporkan?
Tenaga kesehatan sangat dihimbau untuk dapat melaporkan kejadian efek
samping obat yang terjadi segera setelah muncul kasus diduga ESO atau
segera setelah adanya kasus ESO yang teridentifikasi dari laporan keluhan
pasien yang sedang dirawatnya.

 Analisis Kausalitas
Analisis kausalitas merupakan proses evaluasi yang dilakukan untuk
menentukan atau menegakkan hubungan kausal antara kejadian efek
samping yang terjadi atau teramati dengan penggunaan obat oleh pasien.
Badan Pengawas Obat dan Makanan akan melakukan analisis kausalitas
laporan KTD/ESO. Sejawat tenaga kesehatan dapat juga melakukan
analisis kausalitas per individual pasien, namun bukan merupakan suatu
keharusan untuk dilakukan. Namun demikian, analisis kausalitas ini
bermanfaat bagi sejawat tenaga kesehatan dalam melakukan evaluasi
secara individual pasien untuk dapat memberikan perawatan yang terbaik
bagi pasien.
Tersedia beberapa algoritma atau tool untuk melakukan analisis kausalitas
terkait KTD/ESO. Pendekatan yang dilakukan pada umumnya adalah
kualitatif sebagaimana Kategori Kausalitas yang dikembangkan oleh
World Health Organization (WHO), dan juga gabungan kualitatif dan
kuantitatif seperti Algoritma Naranjo. Di dalam formulir pelaporan ESO
atau formulir kuning, tercantum tabel Algoritma Naranjo, yang dapat
sejawat tenaga kesehatan manfaatkan untuk melakukan analisis kausalitas
per individu pasien. Berikut diuraikan secara berturut-turut Kategori
Kausalitas WHO dan Algoritma Naranjo.
C. Pengertian Rheumatoid Arthtritis dan Hipertensi
a) Rheumatoid Artritis
Artritis adalah peradangan atau inflamasi di persendian.Artritis dapat
merupakan gejala dari berbagai penyakit. Ada dua jenis penyakit artritis
yaitu: osteoartritis dan reumatoid artritis.
b) Hipertensi
Hipertensi didefinsikan sebagai kenaikan tekanan darah arterial yang
bertahan.Pasien dengan nilai diastolic blood presure (DBP) <90 mmHg
dan systolic bloodpresure (SBP) >140 mmHg mempunyai hipertensi
terbatas pada sistolik. Peningkatan bermakna pada tekanan darah (ke
level lebih tinggi stage 3) adalah krisis hipertensi, yang bisa
melambangkan hypertensive emergency (kenaikantekanan darah dengan
cedera akut target organ) atau hypertensive urgency(hipertensi akut tanpa
tanda atau simtom komplikasi akut target organ).
D. Gejala
a) Gejala-gejala umum dari Artritis adalah:
 Bengkak pada sendi
 Rasa hangat pada sendi
 Nyeri sendi
 Terasa kaku pada sendi
 Sendi berubah bentuk
 Sering mengalami kesemutan
 Mengalami keterbatasan saat bergerak
 Terkadang mengalami demam
b) Gejala-gejala Hipertensi adalah:
 Sakit kepala parah
 Pusing
 Penglihatan buram
 Mual
 Telinga berdenging
 Kebingungan
 Detak jantung tak teratur
 Kelelahan
 Nyeri dada
 Sulit bernapas
 Darah dalam urin
 Sensasi berdetak di dada, leher, atau telinga
E. Faktor Resiko Artritis dan Hipertensi
a) Artritis
Faktor Genetik
Faktor keturunan atau genetik punya kontribusi yang tidak bisa diremeh
untuk seseorang terserang penyakit diabetes. Menghilangkan faktor
genetik sangatlah sulit. Yang bisa dilakukan untuk seseorang bisa
terhindar dari penyakit diabetes melitus karena sebab genetik adalah
dengan memperbaiki pola hidup dan pola makan. Dengan memperbaiki
pola makan dan pola hidup insya Allah Anda akan terhindar dari penyakit
yang mengerikanini.
Kegemukan
Kegemukan bisa menyebabkan tubuh seseorang mengalami resistensi
terhadap hormon insulin. Sel-sel tubuh bersaing ketat dengan jaringan
lemak untuk menyerap insulin.
Penyakit autoimun
Usia dia atas 40 tahun banyak organ-organ vital melemah dan tubuh mulai
mengalami kepekaan terhadap insulin. Bahkan pada wanita yang sudah
mengalami monopause punya kecenderungan untuk lebih tidak peka
terhadap hormon insulin.
Usia
Kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor cukup besar untuk seseorang
mengalami kegemukan dan melemahkan kerja organ-organ vital seperti
jantung, liver, ginjal dan juga pankreas
b) Hipertensi
 Usia
 Jenis kelamin
 Merokok
 Alkohol
F. Terapi Farmakologi
a) Artritis
DMARDs
Metotreksat merupakan DMARDs yang sesuai untuk artritis reumatik
sedang sampai berat. Azatioprin, siklosporin, siklofosfamid,
leflunomid dan penghambat sitokin (adalimumab, anakinra, etanercept,
dan infliksimab) dipertimbangkan sebagai lebih toksik dan digunakan
jika pasien tidak memberikan respon pada pemberian DMARDs lain.
 Metotreksat biasanya diberikan dalam dosis awal 7,5 mg secara oral
seminggu sekali, kemudian diatur sesuai respon sampai maksimum 15
mg seminggu sekali (kadang sampai 20 mg). Diperlukan pemeriksaan
darah lengkap (termasuk hitung jenis darah putih dan hitung platelet),
pemeriksaan fungsi ginjal dan pemeriksaan fungsi hati. Pada pasien
yang mengalami efek samping pada saluran cerna dan mukosa, untuk
anak di atas dua tahun dan dewasa dapat diberi asam folat 5 mg setiap
minggu untuk menurunkan frekuensi efek samping, biasanya paling
tidak 24 jam setelah pemberian metotreksat.
 Azatioprin biasanya diberikan dalam dosis 1,5 sampai 2,5 mg/kg bb/
hari dalam dosis terbagi. Diperlukan pemeriksaan hitung darah untuk
mendeteksi kemungkinan netropenia atau trombositopenia yang
biasanya diatasi dengan pengurangan dosis. Mual, muntah dan diare
dapat timbul, biasanya sejak awal pengobatan, dan mungkin
memerlukan penghentian pengobatan. Infeksi herpes zoster juga
mungkin muncul.
 Leflunomid bekerja pada sistem imun sebagai DMARDs. Efek
terapetiknya dimulai setelah 4-6 minggu dan perbaikan penyakit
berlanjut pada 4-6 bulan berikutnya. Khasiat leflunomid sebanding
dengan metotreksat dan sulfasalazin, dan dapat dipilih jika kedua obat
tersebut tidak dapat digunakan. Metabolit aktif leflunomid bertahan
cukup lama.
 Siklosporin dapat diberikan untuk reumatoid artritis aktif yang berat
jika terapi konvensional lini kedua tidak memadai atau tidak efektif.
Terdapat bukti bahwa siklosporin bisa memperlambat perkembangan
erosif dan memperbaiki pengendalian gejala pada pasien yang
memberi respon sebagian terhadap metotreksat. Pada anak, siklosporin
jarang digunakan untuk juvenile idiopathic arthritis, penyakit jaringan
ikat, vaskulitis, dan uvelitis, namun dapat dipertimbangkan jika pasien
gagal memberikan respon terhadap pengobatan lain.
 Siklofosfamid dapat digunakan pada dosis 1 sampai 1,5 mg/kg bb/hari
secara oral untuk reumatoid artritis dengan manifestasi sistemik yang
berat. Obat ini bersifat toksik dan penggunaannya memerlukan
pemeriksaan hitung darah (termasuk pemeriksaan jumlah platelet).
Siklofosfamid dapat juga diberikan secara intravena dalam dosis 0,5
sampai 1 g (dengan mesna profilaktik) untuk artritis reumatoid
sistemik berat dan untuk penyakit jaringan ikat (khususnya dengan
vaskulitis aktif), diberi berulang mula-mula dengan selang dua minggu
kemudian selang sebulan (tergantung pada respons klinis dan
pemantauan hematologis).
NSAID
NSAID (non steroid anti inflamasi) dimana fungsi kerja obat ini adalah
menghambat sintesa prostaglandin yang menimbulkan nyeri.Obat ini
menghambat COX1 dan COX2, dimana COX1 sangat penting untuk
fungsi pertahanan mukosa lambung, sehingga obat ini mempunyai efek
samping pada lambung.Kerusakan pada ginjal disebabkan adanya
nekrosis unit fungsional dari ginjal, dengan pemakaian yang hati-hati
dan pertimbangan yang cukup bijaksana, maka pemakaian NSAID ini
tidak perlu dikhawatirkan.Saat ini sudah ada obat yang selektif hanya
menghambat COX2 sehingga aman digunakan jangka panjang.
 Diklofenak
 Ibuprofen
 Ketoprofen
 Meloxicam
 Piroksikam
 dll
b) Hipertensi
Duretik
Thiazide umumnya merupakan diuretik pilihan untuk perawatan
hipertensi, dansemuanya sama-sama efektif untuk menurunkan
tekanan darah. Pada pasiendengan fungsi ginjal yang baik (yaitu,
glomerulus filtration rate, GFR, >30 /mlmenit), thiazide menjadi lebih
efektif daripada loop diuretic. Tetapi, jika fungsiginjal menurun,
natrium dan air terakumulasi, penggunaan loop duretic perluuntuk
melawan efek ekspansi volume dan natrium pada tekanan darah
arterial.
Diuretik hemat kalium adalah antihipertensi lemah ketika digunakan
tunggal tapimemberikan efek aditif antihipertensi ketika digabungkan
dengan thiazide atauloop diuretic. Lebih jauh, duretik hemat kalium
tidak mempunyai sifatmenyebabkan kehabisan kalium dan magnesium
seperti pada diuretik lain.
Diuretik menurunkan tekanan darah dengan menyebabkan diuresis.
Efek samping thiazides termasuk hipokalemia, hipomagnesia,
hiperkalsemia, hiperglisemia, hiperlipidemia, dan disfungsi seksual.
Loop diureticmempunyai efek lebih kecil pada serum lipid dan
glukosa, tapi hipokalsemia bisaterjadi.
Diuretik hemat kalium bisa menyebabkan hiperkalemia, terutama
pada pasiendengan gangguan fungsi ginjal atau diabetes, dan pasien
yang menerimaperawatan dengan ACE inhibitor, NSAID, atau
suplemen kalium. Spironolaktonbisa menyebabkan ginekomasti.

Β-adrenergic blocker
Mekanisme hipotensi yang pasti dari β blocker masih belum jelas
tapi melibatkanpenurunan cardiac output melalui kronotropik negatif
dan efek inotropik padajantung dan inhibisi pelepasan renin dari
ginjal.
Efek samping dari blokade β pada myocardium termasuk
bradikarida,abnormalitas pada konduksi atrioventricular (AV), dan
gagal jantung. Blokade βpulmonal bisa menyebabkan bronkospasma
makin parah pada pasien asma atauCPOD. Blokade reseptor β2 pada
arteriolar otot polos bisa menyebabkanekstremitas menjadi dingin dan
memperburuk claudication yang terjadi dalaminterval atau fenomena
Raynaud karena penurunan aliran darah perifer.

ACE Inhibitor
ACE didistribusikan secara luas di banyak jaringan, dengan
beberapa tipe selyang berbeda, tapi lokasi umumnya pada sel
endotelal. Karena endotel vascularmeliputi area yang luas, tempat
utama produksi angiotensin II adalah pembuluhdarah, bukan ginjal.
Efek samping paling serius dari ACE inhibitor adalah netropenia
danagranulocytosis, proteinuria, glomerulonephritis, gagal ginjal akut,
danangoiedema; efek ini terjadi pada <1% pasien. Pasien yang
sebelumnya mengidappenyakit ginjal atau jaringan connective paling
rentan terhadap efek sampingginjal dan hematologis.

Calcium Channel Antagonist


Calcium channel antagonist menyebabkan relaksasi otot cardiac
dan otot polosdengan mem-block voltage-sensitive calcium channel,
sehingga mengurangimasuknya kalsium ekstraseluler ke dalam sel.
Relaksasi otot polos vascularmenyebabkan vasodilatasi dan reduksi
pada tekanan darah.

Agonis Reseptor α2 Sentral.


Clonidine, guanabenz, guanfacine, dan metildopa menurunkan
tekanan darahterutama dengan menstimulasi reseptor α2 adrenergic di
otak, yang mengurangisymphatetic outflow dari pusat vasomotor dan
meningkatkan tonus vagal.
G. Terapi Non Farmakologi
a) Artritis
 Fisioterapi
 Mengurangi berat badan
 Olahraga teratur
 Kompres hangat atau dingin pada sendi
 Menggunakan tongkat untuk mengurangi gejala radang sendi
b) Hipertensi
(1) pengurangan berat jika berlebih
(2) membatasi asupan alkohol
(3) mengurangi asupan natrium sampai <2,4 g/hari (6 g/hari natrium
klorida)
(5)menjaga asupan yang cukup dari makanan untuk kalium, kalsium,
dan
Magnesium
(6) mengurangi asupan lemak jenuh dan kolsterol dari makanan; dan
(7) menghentikan merokok.
BAB III

PEMBAHASAN

dr.Yusuf Hasibuan. M.Sc.,Sp.PD


SIP. 660.1.567/1209/DS/448.2.2014
Jl Demangan No 4 Surakarta Telp (0271)23543

Surakarta, 19 April 2018

R/ Pirocam 20 mg No XX
S 3 dd 1 pc
R/ lameson 4 mg No XX

S 2 dd 1 pc

R/ Irbesartan 150 mg No XV

S 1 dd 1 pc

Pro : Bp Suwito
Umur : 58 tahun
Alamat : Perum Budi Indah Solo

Kasus :
Anda Apoteker di Puskesmas yang akan melakukan monitoring efek samping obat
ke rumah pasien (home care pharmacy). Pasien adalah seorang laki-laki usia 58
tahun yang sedang menjalani pengobatan artritis pada hari kedua. Pasien
mempunyai riwayat maag kronis dan hipertensi dengan tensi 150 mmHg.
Tugas :
1. Tetapkan dan tulislah rencana monitoring efikasi dan keamanan dengan
menggunakan data yang tersedia!
2. Komunikasikan dengan pasien!
a. Pirocam (Piroxicam)
Indikasi : Terapi simptomatik pada rheumatoid artritis, osteoarthritis,
ankilosing spondylitis, gangguan musculoskeletal akut dan
gout akut.
Kontra : Hipersensitif terhadap OAINS, riwayat tukak lambung/
Indikasi pendarahan lambung
Peringatan : Hati-hati pada pasien dengan gangguan pencernaan,
jantung, hipertensi, retensi cairan, gangguan ginjal/ hati,
kehamilan, menyusui
Efek Samping : Gangguan gastrointestinal seperti stomatitis, anoreksia,
mual, konstipasi, rasa tidak nyaman pada abdomen,
pendarahan lambung, perforasi dan tukak lambung, edema,
pusing, sakit kepala, ruam kulit, pruritus, somnolen,
penurunan Hb dan Ht
Dosis : RA, OA dan ankillosing spondylitis : 1 kali 20 mg sehari.
Gout akut : mula-mula 40 mg sehari sebagai dosis tunggal,
diikuti 4-6 hari berikutnya 40 mg sehari dosis tunggal atau
terbagi.

b. Lameson ( Methyl Prednisolon)


Indikasi : Sebagai anti inflamasi atau imunosupresi pada beberapa
penyakit hematologi, alergi, inflamasi, neoplasma maupun
autoimun
Kontra : (Relatif) Diabetes mellitus, tukak peptic/ duodenum, infeksi
indikasi berat, hipertensi, atau gangguan system kardiovaskuler
lainnya
Efek Samping : Penghentian obat secara tiba-tiba setelah penggunaan yang
lama dapat menyebabkan insufisiensi adrenal akut dengan
gejala demam, myalgia, atralgia, dan malaise. Pada
penggunaan lama dapat menyebabkan gangguan cairan dan
elektrolit, hiperglikemia, glikosuria, mudah mendapat
infeksi, tukak peptic, habitus pasien cushing ( moon face,
buffalo hump)
Dosis : Dosis umum dewasa : 4-48 mg/hari dalam dosis terbagi
(dosis disesuaikan dengan jenis penyakit dan respon pasien).
Dosis umum anak : Anti inflamasi ( peroral, IV dan IM : 0,5-
1,7 mg/kgbb/ hari diberi dalam dosis terbagi)

c. Irbesartan
Indikasi : Hipertensi dengan diabetes mellitus, proteinuria, gagal
jantung, pasca infark miocard dengan gangguan fungsi
diastolic. Merupakan alternative yang berguna untuk pasien
yang harus menghentikan ACEI akibat batuk yang persisten
Kontra : Kehamilan (obat harus dihentikan bila ternyata pemakai
indikasi hamil), menyusui, stenosis arteri renalis bilateral atau
stenosis pada satu-satunya ginjal yang masih berfungsi
Efek Samping Hipotensi dapat terjadi pada pasien dengan kadar renin tinggi
seperti hypovolemia, gagal jantung, hipertensi renovaskular,
dan sirosis hepatis. Hiperkalemia dapat terjadi pada keadaan
tertentu misalnya insufisiensi ginjal. Pusing, diare,
penurunan Hb, ruam, metallic taste
Dosis : Dosis awal 1 kali 150 mg/hari, jika perlu dapat ditingkatkan
hingga 1 kali 300 mg/ hari. Pada pasien hemodialysis atau
usia lanjut lebih dari 75 tahun, dosis awal 1 kali 75 mg/hari
dapat digunakan
1. Untuk aktivitas pelayanan kefarmasian di rumah dibutuhkan beberapa
dokumentasi, antara lain :
a. Prosedur tetap pelayanan kefarmasian di rumah
b. Catatan penggunaan obat pasien
c. Lembar Persetujuan ( informed consent) untuk apoteker dan pasien
d. Kartu Kunjungan
Prosedur tetap pelayanan kefarmasian di rumah:
 Melakukan penilaian awal terhadap pasien untuk mengindentifikasi
adanya masalah kefarmasian yang perlu ditindaklanjuti dengan pelayanan
kefarmasian di rumah.
 Menjelaskan permasalahan kefarmasian kepada pasien dan manfaat
pelayanan kefarmasian di rumah bagi pasien
 Menawarkan pelayanan kefarmasian di rumah kepada pasien
 Menyiapkan lembar persetujuan dan meminta pasien untuk memberikan
tanda tangan, apabila pasien menyetujui pelayanan tersebut.
 Mengkomunikasikan layanan tersebut pada tenaga kesehatan lain yang
terkait, apabila diperlukan. Pelayanan kefarmasian di rumah juga dapat
berasal dari rujukan dokter kepada apoteker apotek yang dipilih oleh
pasien.
 Membuat rencana pelayanan kefarmasian di rumah dan menyampaikan
kepada pasien dengan mendiskusikan waktu dan jadwal yang cocok
dengan pasien dan keluarganya. Rencana ini diberikan dan didiskusikan
dengan dokter yang mengobati (bila rujukan)
 Melakukan pelayanan sesuai dengan jadwal dan rencana yang telah
disepakati. Mengkoordinasikan pelayanan kefarmasian kepada dokter (bila
rujukan)
 Mendokumentasikan semua tindakan profesi tersebut pada Catatan
Penggunaan Obat Pasien.
Monitoring Efikasi dan Keamanan untuk pasien Bp. Suwito (58 tahun)
sebagai berikut:
1. Monitoring nyeri sendi
2. Monitoring tekanan darah pasien agar dalam batas normal
3. Monitoring peningkatan kadar asam lambung
4. Monitoring kejadian yang tidak diinginkan pada pasien seperti nyeri perut,
sembelit, diare, dispepsia, perut kembung, perdarahan kotor / perforasi,
mulas, mual, ulkus (lambung / duodenum), dan muntah.
5. Monitoring efek samping dari tiap obat yang digunakan pasien
6. Monitoring mual, muntah dan rasa nyeri lambung pasien

DIALOG
Apoteker: Assalamualaikum...
Suami pasien: Waalaikumsalam...
Apoteker: Selamat siang pak, saya apoteker dari Puskesmas Terpadu
Mojosongo, benar ini rumahnya ibu Suwito?
Suami pasien: Oh iya benar pak saya suaminya, mari masuk
Apoteker: Pak jadi gimana kondisi istrinya ? apakah sudah membaik ?
Suami pasien: Masih mengeluh agak nyeri sih katanya, sebentar saya
panggil saja dulu biar enak ngomongnya
Apoteker: Oh iya pak
Suami pasienpun memanggil pasien untuk menemui apoteker
Apoteker: Assalamualaikum ibu gimana keadaanya? Sehat?
Pasien: Waalaikumsalam Alhamdulillah sehat pak, tapi ini masih
agak nyeri pak
Apoteker: Oh nyerinya sebalah mana ya bu?
Pasien: Ini di bagian pergelangan kaki pak
Apoteker: Obatnya diminum teratur gak bu?
Pasien: Iya teratur kok pak
Apoteker: Sebentar saya cek dulu datanya ya bu.
Apoteker memeriksa lembar data pasien
Apoteker: Ini pengobatannya baru dari dua hari yang lalu ya bu,
Disini ibu punya riwayat maagh, gimana maaghnya ?
Apakah ibu merasa nyeri lambung?
Pasien: Untuk merasa nyeri sih nggak, hanya saja saya agak mual
Apoteker: Apakah ibu meminum obatnya sesuai aturan pakai ?
Pasien: Iya hanya saja kadang saya lupa makan dulu sebelum
minum obat,
Apoteker: Baik bu, bisa saya ukur tekanan darahnya sebentar ?
Pasien: Iya silahkan..
Apotekerpun mengukur tekanan darah pasien
Apoteker: Ini sudah ada penurunan tekanan darahnya ya bu, jadi ibu
pertahankan saja pengobatannya, hanya saja minum obat
sesuai aturan pakainya ya bu. Kalau tertera setelah makan
ya berarti ibu harus makan dulu sebelum minum obat
Pasien: Baik pak saya sering lupa soalnya
Apoteker: Tolong bapak bantu ingetin ya istrinya makan dulu baru
minum obat biar maaghnya nggak kambuh, soalnya pak ini
yang obat piroxicam itu kan minumnya tiga kali sehari,
kalau nggak makan dulu bisa menyebabkan nyeri lambung
apalagi ibunya emang punya riwayat maagh
Suami pasien: Oh iya iya pak nanti saya ingatkan kalau dia lupa makan.
Apoteker: Trus kalau yang lameson itu juga diminum setelah makan
dua kali sehari ya bu, apakah ibu mengalami sembelit atau
diare?
Pasien: Tidak pak saya tidak sembelit atau diare
Apoteker: Baik bu, untuk yang irbesartan juga sama tetap setelah
makan satu kali sehari, apakah ibu merasa pusing atau sakit
kepala?
Pasien: Tidak juga pak
Apoteker: Baik, bapak punya tensi dirumah ?
Suami pasien: Iya anak saya punya
Apoteker: Baguslah, nanti tolong tetap rutin di ukur tekanan darah
ibunya Dan tolong dijaga jangan dulu makan yang asin asin
ya bu. Juga nggak usah makan makanan yang pedas atau
asam.
Pasien: Iya pak, trus ini pergelangan kaki saya yang masih agak
sakit gimana ?
Apoteker: Itu nanti ibu kompres hangat saja di tempat yang sakit.
Pasien: Oh baik pak
Apoteker: Gimana bu? Masih ada yang mau ditanyakan mengenai
penyakit ibu dan pengobatannya ?
Pasien: Sudah jelas sih pak berarti saya harus makan dulu ya baru
minum obat.
Apoteker: Iya bu, jangan sampai lupa agar maaghnya tidak kambuh.
Nanti selama pengobatan bapak pantau terus kondisi ibunya
ya , jika terjadi sesuatu bapak silahkan hubungi saya, nanti
minggu depan saya datang lagi untuk mengecek keadaan
ibu.
Suami pasien: Iya pak, makasih sudah mau repot-repot kesini.
Apoteker: Sudah kewajiban saya pak, saya pamit dulu semoga ibu
lekas sembuh ya, Assalamualaikum
Pasien: Iya makasih ya pak. Waalaikumsalam....
DAFTAR PUSTAKA

 Sukandar, Elin Yulinah, Retnoari Andrajati, Joseph I Sigit, I Ketut


Adnyana,Adji Prayitno Settiadi, Kusnandar, 2008, ISO Farmakoterapi, PT.
ISFI Penerbitan, Jakarta.
 Tim penyusun. 2016. Informasi Spesialite Obat, volume 50.Jakarta : Ikatan
Sarjana Farmasi Indonesia.
 BPOM. 2012. Pedoman Monitoring Efek Samping Obat (MESO) Bagi
Tenaga Kesehatan. Badan POM, Jakarta

 Menteri Kesehatan. Permenkes No 74 Tahun 2016 Tentang Standar


Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas.