Anda di halaman 1dari 12

unday, 17 May 2015

Makalah Tentang Kekerasan Terhadap Perempuan

BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Indonesia adalah suatu masyarakat patriarkhal, dan kondisi ini tidak


dapat diingkari, seperti juga di negara-negara lain di dunia. Partriarkhal sebagai
suatu struktur komunitas di mana kaum lelaki yang memegang kekuasaan,
dipandang sebagai struktur yang memperlemah perempuan, yang terlihat dalam
kebijakan pemerintah maupun dalam perilaku masyarakat. Kecenderungan
untuk membayar upah buruh wanita di bawah upah buruh pria dan perumusan
tentang kedudukan istri dalam perkawinan, merupakan salah satu cerminan
keberadaan perempuan dalam posisi subordinat pria. Salah satu fenomena yang
menjadi perhatian besar masyarakat akhir-akhir ini, bahkan juga masyarakat
internasional, adalah tindak kekerasan terhadap perempuan.

Tindak kekerasan terhadap perempuan seringkali dianggap suatu isu yang


terbelakang atau bahkan dapat dikatakan tidak menarik. Padahal jika dilihat dari
kenyataan yang selama ini terjadi, tindak kekerasan terhadap perempuan
merupakan ancaman terus menerus bagi perempuan di manapun di dunia. Hal
ini merupakan akibat dari adanya pandangan di sebagian besar masyarakat
yang menganggap kedudukan perempuan di sebagian dunia yang tidak
dianggap sejajar dengan laki-laki. Terlebih lagi, rasa takut kaum perempuan
terhadap kejahatan (fear of crime) jauh lebih tinggi dibandingkan dengan apa
yang dirasakan kaum pria.

Kekerasan, dan ancaman kekerasan, telah menjadi bagian yang tak


terpisahkan dan kehidupan kita saat ini. Penculikan, penjarahan, penganiayaan
dan pembunuhan telah menjadi fakta keseharian. Aksi-aksi teror dan intimidasi
yang bermunculan di mana-mana merenggut rasa aman, menyebarkan
ketakutan dan menambah ketidakpastian dan kebingungan masyarakat.
Sungguh sebuah tantangan tersendiri dalam upaya kita membuka lembar
sejarah baru di era reformasi ini.

Kekerasan terhadap perempuan merupakan bagian integral dari fenomena


kekerasan secara umum. Serangan-serangan seksual terhadap perempuan
muncul sejalan dengan meningkatnya kekerasan di masyarakat dan sama-sama
berakar pada kegagalan sistem politik, ekonomi dan sosial untuk mengelola
konflik. Tetapi, berbeda dengan kaum lakilaki, perempuan mengalami kekerasan
dalam bentuk yang lebih kompleks. Hal ini berkaitan dengan posisi perempuan
yang serba dinomorduakan dan yang penuh dengan tabu dan stereotip. Tabu
dan stereotip membuat perempuan bungkam atas kekerasan yang dialaminya,
sedangkan bias jender masyarakat membuat perempuan korban kekerasan
dituding bersalahan atas musibah yang menimpa dirinya sendiri.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasasrkan latar belakang, adapun rumusan masalahnya yaitu:

1. Apakah pengertian tindak kekerasan terhadap perempuan

2. Bagaimana bentuk bentuk tindak kekersan terhadap perempuan.

3. Apa penyebab terjadinya tindakan kekerasan terahdap


perempuan.

4. Apa saja dampak dari tindakan kekerasan terhadap perempuan.

5. Bagaimana upaya pencegahan terhadap tindak kekerasan


perempuan.

6. Bagaimana analisis gender dalam kekerasan terhadap perempuan

C. TUJUAN

1. menjelaskan pengertian tindak kekerasan terhadap perempuuan

2. menjelaskan bentuk tindak kekersan terhadap perempuan.

3. Menjelaskan penyebab terjadinya tindakan kekerasan terahdap


perempuan

4. Menjelaskan saja dampak dari tindakan kekerasan terhadap


perempuan.

5. Menjelaskan upaya pencegahan terhadap tindak kekerasan


perempuan

6. Menganalisis konsep gender dalam kekerasan terhadap


perempuan.
D. MANFAAT

1. Untuk mengetahui pengertian tindak kekerasan terhadap


perempuuan

2. Untuk mengetahui bentuk tindak kekersan terhadap perempuan.

3. Untuk mengetahui penyebab terjadinya tindakan kekerasan


terahdap perempuan

4. Untuk mengetahui saja dampak dari tindakan kekerasan terhadap


perempuan.

5. Untuk mengetahui upaya pencegahan terhadap tindak kekerasan


perempuan

6. Untuk mengaetahui analisis gender dalam tindak kekerasan


terhadap perempuan.

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN KEKERASAN

Secara terminologi kekerasan atau violenceadalah gabungan dua kata


latin “vis” (daya, kekuatan) dan “latus” berasal dari kata “ferre” yang berarti
membawa). Dalam Kamus Bahasa Indonesia, “kekerasan” diartikan dengan
perihal yang bersifat, berciri keras, perbuatan seseorang yang menyebabkan
cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang
orang lain, atau ada paksaan, ada beberapa pengertian menurut para ahli:

1. Menurut Wignyosoebroto (1997) pengertian kekerasan adalah


suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sejumlah
orang yang berposisi kuat (atau yang tengah merasa kuat)
terhadap seseorang atau sejumlah orang yang berposisi lebih
lemah (atau yang tengah dipandang berada dalam keadaan
lebih lemah), berdasarkan kekuatan fisiknya yang superior,
dengan kesenjangan untuk dapat ditimbulkannya rasa derita di
pihak yang tengah menjadi objek kekerasan itu. Namun, tak
jarang pula tindak kekerasan ini terjadi sebagi bagian dari
tindakan manusia untuk tak lain daripada melampiaskan rasa
amarah yang sudah tak tertahan lagi olehnya.

2. Menurut Santoso (2002 : 24) kekerasan juga bisa diartikan


dengan serangan memukul (assault and battery) merupakan
kategori hukum yang mengacu pada tindakan illegal yang
melibatkan ancaman dan aplikasi actual kekuatan fisik kepada
orang lain. Serangan dengan memukul dan pembunuhan secara
resmi dipandang sebagai tindakan individu meskipun tindakan
tersebut dipengaruhi oleh tindakan kolektif.

3. Soetandy mendefinisikan:kekerasanadalah suatu tindakan


yang dilakukan oleh seseorang atau sejumlah orang yang
berposisi kuat (atau yang tengah merasa kuat) terhadap
seseorang atau sejumlah orang yang berposisi lebih lemah),
bersaranakan kekuatannya, fisik maupun non fisik yang superior
dengan kesengajaan untuk menimbulkan rasa derita di pihak
yang tengah menjadi objek kekerasan.

4. Kekerasan menurut Galtung adalah “any avoidable impediment


to self realization” yang maksudnya :“Kekerasan adalah
segala sesuatu yang menyebabkan orang terhalang
mengaktualisasikan potensi diri secara wajar” .Berdasarkan
konsep tersebut jelas bahwa kekerasan selalu berhubungan
dengan tindakan atau perilaku kasar, mencemaskan,
menakutkan dan selalu menimbulkan dampak (efek) yang tidak
menyenangkan bagi korbannya, baik secara fisik,psikis maupun
sosial.

5. Menurut Faqih kata “kekerasan” merupakan padanan dari


kata “violence” dalam bahasa Inggris, meskipun keduanya
memiliki konsep yang berbeda. Kata “violence” diartikan disini
sebagai suatu serangan atau invasi (assault) terhadap fisik
maupun integritas mental psikologis seseorang. Sedangkan
kekerasan dalam bahasa Indonesia umumnya dipahami hanya
menyangkut serangan fisik belaka. Kekerasan terhadap sesama
manusia ini sumbernya maupun alasannya bermacam-macam,
seperti politik atau keyakinan keagamaan atau bahkan rasisme.
. (curhatnisa.blogspot:2011),
Kekerasan adalah penganiayaan, penyiksaan atau perlakuan salah,
menurut WHO dalam (E-book,SUMUT: 1) kekerasan adalah penggunaan
kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindkaan terhadap diri
sendiri, perorangan atau sekelompok orang dan atau masyarakat yang
mengakibatkan atau kemungkinan besar mengakibatkan memar/trauma,
kematian, kerugian psikologis, kelainan perkembangan atau perampasan
hak. Menurut depkes.RI :2006 dalam (yudhim.blogspot :2008) Kekerasan
terhadap perempuan adalah setiap perbuatan yang berkaitan atau
mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan, secara
fisik, seksual, psikologis, ancaman perbuatan tertentu, pemaksaan dan
perampasan kebebasan baik yang terjadi di lingkungan masyarakat
maupun di lingkungan rumah tangga.

Berdasarkan beberapa pengertian tentang kekerasan menurut para ahli


maka dapat disimpulkan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan
suatu bentuk tindakan yang menyakiti atau membuat penderitaan terhadap
perempuan secara fisik, seksual, psikologi yang mengakibatkan trauma terhadap
perempuan atau korban.

B. BENTUK-BENTUK KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN

Berdasaran ruang lingkup dan agen pelakunya, seperti dalam Deklarasi


Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan Pasal 2, kekerasan terhadap
perempuan mencakup, tetap tidak terbatas pada:

1. Kekerasan fisik, seksual dan psikologis yang terjadi di keluarga,


termasuk pemukulan, penganiayaan, seksual anak perempuan
dalam keluarga, perkosaan dalam perkawinan, pemotongan
kelamin perempuan, dan praktek-praktek tradisional lainnya yang
menyengsarakan perempuan, kekerasan yang dilakukan bukan
merupakan pasangan hidup dan kekerasan yang terkait dengan
eksplotasi.

2. Kekerasan, seksual dan psikologis yang terjadi dalam komunitas


berupa perkosaan, penganiyaan seksual, pelecehan dan intimidasi
seksual di tempat kerja, institusi pendidikan, tempat umum dan
lainnya, perdagangan perempuan dan pelacur paksa.
3. Kekerasan, sesksual dan psikologis yang dilaksanakan atau
dibiarkan terjadinya oleh Negara, dimanapun kekerasan tersebut
terjadi.

(amrulloh. 2009. Bentuk kekerasan terhadap perempuan)

Adapun Tindak kekerasan seksual meliputi:

1. Pernaksaan hubungan seksual (perkosaan) yang dilakukan


terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga
tersebut : Perkosaan ialah hubungan seksual yang terjadi tanpa
dikehendaki oleh korban. Seseorang laki-laki menaruh penis, jari
atau benda apapun kedalam vagina, anus, atau mulut atau tubuh
perempuan tanpa sekendak perempuan itu.

2. Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang anggota


dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan
komersial dan / atau tujuan tertentu.

3. Pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang


berkonotasi seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak
diinginkan oleh orang yang menjadi sasaran. Pelecehan seksual
bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, seperti di tempat kerja,
dikampus/ sekolah, di pesta, tempat rapat, dan tempat urnum
lainnya. Pelaku pelecehan seksual bisa teman, pacar, atasan di
tempat kerja.

4. Tindak kekerasan ekonomi: yaitu dalam bentuk penelantaran


ekonomi dimana tidak diberi nafkah secara rutin atau dalarn
jumlah yang cukup, membatasi dan/ atau metarang untuk bekerja
yang layak di dalam atau di luar rumah, sehingga korban di bawah
kendati orang tersebut.
(yudhim. blogspot : 2008)
C. PENYEBAB KEKERASAN TERAHDAP PEREMPUAN.

1. Aspek Budaya :

· Kuatnya pengertian yang bersumber pada nilai-nilai budaya yang


memisahkan peran dan sifat gender laki-laki dan perempuan
secara tajam dan tidak setara.

· Sosialisasi pengertian tersebut melalui a.l. keluarga, lembaga


pendidikan, agama, dan media massa, menyebabkan berlakunya
keyakinan dan tuntutan:

o laki-laki dan perempuan punya tempat dan perannya


sendiri-sendiri yang khas dalam
keluarga/perkawinan/berpacaran.

o laki-laki lebih superior daripada perem-puan, dan


mempunyai hak penuh untuk memperlakukan perempuan
seperti barang miliknya

o keluarga adalah wilayah pribadi, tertutup dari pihak luar,


dan berada di bawah kendali laki-laki

· Diterimanya kekerasan sebagai cara penyelesaian konflik.

2. Aspek Ekonomi

· Ketergantungan perempuan secara ekonomi pada laki-laki;

· perempuan lebih sulit untuk mendapatkan kredit, kesempatan kerja


di lingkup formal dan informal, dan kesempatan mendapat-kan
pendidikan dan pelatihan.

3. Aspek Hukum

· Status hukum perempuan yang lebih lemah dalam peraturan


perundang-undangan maupun dalam praktek penegakan hukum;

· Pengertian tentang perkosaan dan KDRT yang belum menjawab


sepenuhnya kebutuhan perlindungan bagi korban dan penanganan
pada pelaku;

· Rendahnya tingkat pengetahuan yang dimiliki perempuan tentang


hukum,
· Perlakuan aparat penegak hukum yang belum sepenuhnya peka
pada perempuan dan anak perempuan korban kekerasan.

4. Aspek Politik

· Rendahnya keterwakilan kepentingan perempuan dalam proses


pengambilan keputusan di bidang politik, hukum, kesehatan, maupun
media.

· Kekerasan terhadap Perempuan masih belum sepenuhnya dianggap


sebagai persoalan yang berdampak serius bagi negara,

· Adanya resiko yang besar bila memperta-nyakan aturan agama,

· Terbatasnya partisipasi perempuan di organisasi


politik.(savyamirawcc.BLOGSPOT)

5. Terkait dengan kondisi situasional yang memudahkan, seperti terisotasi,


kondisi konflik dan perang. Dalam situasi semacam ini sering terjadi perempuan
sebagai korban, misaInya dalam lokasi pengungsian rentan kekerasan seksual,
perkosaan. Dalam kondisi kemiskinan perempuan mudah terjebak pada
pelacuran. Sebagai imptikasi maraknya teknologi informasi, perempuan terjebak
pada kasus pelecehan seksual, pornografi dan perdagangan. yudhim. blogspot :
2008)

D. DAMPAK KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN

1. Pada Korban

· Kesehatan Fisik seperti memar, cedera (mulai dari sobekan


hingga patah tulang dan luka dalam), gangguan kesehatan yang
khronis, gangguan pencernaan, perilaku seksual beresiko,
gangguan makan, kehamilan yang tak diinginkan, keguguran/
melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, terinfeksi
penyakit menular seksual, HIV/AIDS

· Kesehatan Mental: seperti depresi, ketakutan, harga diri rendah,


perilaku obsesif kompulsif, disfungsi seksual, gangguan stress pasca
trauma

· Produktivitas kerja menurun: sering terlambat datang ke tempat


kerja, sulit berkonsentrasi, berhalangan kerja kare-na harus
mendapat perawatan medis, atau memenuhi panggilan polisi/meng-
hadiri sidang.

· Fatal: bunuh diri, membunuh/melukai pelaku, kematian karena


aborsi/kegugur-an/AIDS

2. Pada Anak

· Gangguan kesehatan dan perilaku anak di sekolah,

· Terhambatnya kemampuan untuk menjalin hubungan yang dekat


dan positif dengan orang lain,

· Kecenderungan lari dari rumah, adanya keinginan bunuh diri

· Berkemungkinan menjadi pelaku atau cenderung menjadi korban


kekerasan yang serupa di masa remaja/dewasanya

3. Pada Masyarat & Negara

· Penurunan kualitas hidup dan kemampuan perempuan untuk aktif ikut


serta dalam kegiatan di luar rumah, termasuk untuk berpenghasilan
dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

· Besarnya biaya untuk penanganan kasus di kepolisian maupun


pengadilan, serta biaya untuk perawatan kesehatan bagi korban

· Menguatnya kekerasan sebagai cara


menyelesaikan (savyamirawcc.BLOGSPOT)

E. PENCEGAHAN TERHADAP KEKERASAN PEREMPUAN.

Pencegahan, penanganan korban dan pelakuadalah tanggung jawab


semua pihak:

· laki-laki, perempuan, lingkungan tetangga, tokoh


agama/masyarakat, lembaga pendidikan/ agama, dunia usaha
maupun pemerintah.
Kerjasama antara pusat penanganan krisis bagi perempuan korban
(women’s crisis center) dengan masyarakat, dunia usaha, dan
pemerintah merupakan suatu kemutlakan.

· Upaya pencegahan dan penanganan korban maupun pelaku yang


ada masih jauh dari memadai. Bagi para perempuan penyandang
cacat, kondisi ini lebih berat dirasakan
· .Khusus tentang dukungan bagi korban untuk dapat melanjutkan
hidupnya secara mandiri, sehat dan bermartabat, dibutuhkan beragam
dukungan yang bentuknya fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuan korban, dan bersifat memberdayakan.
(savyamirawcc.BLOGSPOT)

Jalan keluar, pemecahan masalah gender dalam tindak kekerasan


terhadap perempuan perlu dilakukan secara serempak, baik upaya yang
bersifat jangka pendek maupun jangka panjang. Dari segi pemecahan
praktis jangka pendek, dapat dilakukan upaya program aksi yang
melibatkan perempuan agar mereka mampu menghentikan masalah
mereka sendiri, seperti kekerasan, pelecehan dan
berbagai stereotypeterhadapnya. Mereka sendiri harus mulai memberikan
pesan penolakan secara jelas kepada pelaku yang melakukan kekerasan
dan pelecehan agar kegiatan kekerasan dan pelecehan tersebut terhenti.

Sementara usaha perjuangan strategis jangka panjang perlu


dilakukan untuk memperkokoh usaha praktis tersebut. Perjuangan strategis
ini meliputi berbagai peperangan ideologis di masyarakat. Bentuk-bentuk
peperangan tersebut misalnya, dengan melancarkan kampanye kesadaran
kritis dan pendidikan umum masyarakat untuk meng-hentikan berbagai
bentuk tindak kekerasan terhadap perempuan. Upaya strategis lain perlu
melakukan studi tentang berbagai tindak kekerasan terhadap perempuan
untuk selanjutnya dipakai sebagai advokasi guna merubah kebijakan,
hukum dan aturan pemerintah yang dinilai tidak adil terhadap kaum
perempuan.
58

Menghentikan ketidakadilan gender dalam aspek kekerasan terhadap


perempuan, berarti mengangkat kepentingan perempuan dan membuat mereka
lebih berdaya, hal ini merupakan bagian dalam rangka mengangkat harkat dan
martabat perempuan. (SUSANTO. 2005)

F. ANALISIS GENDER TERHADAP TINDAK KEKERASAN.

Pemahaman terhadap konsep gender sangat diperlukan mengingat


dengan konsep ini telah lahir suatu analisis gender. Analisis gender dalam
sejarah pemikiran manusia tentang ketidakadilan sosial dianggap suatu
analisis baru, dan mendapat sambutan akhir-akhir ini. Analisis gender
merupakan analisis kritis yang mempertajam dari analisis kritis yang
sudah ada, seperti analisis kelas oleh Karl Marx, analisis hegemony
ideologi oleh Gramsci, analisis kritis (Critical Theory) dari mazhab
Frankfurt, dan analisis wacana oleh Fucoult. Tanpa analisis gender kritik
mereka kurang mewakili semangat pluralisme yang diimpikan. Tanpa
mempertanyakan gender terasa kurang mendalam. Peran gender yang
berbeda juga menimbulkan ketidakadilan, terutama bagi perempuan.
Diantara beberapa manifestasi ketidakadilan yang ditimbulkan oleh
adanya asumsi gender Berikut akan diuraikan dari aspek terjadinya
kekerasan terhadap perempuan disertai analisis dari temuan penelitian.

Kekerasan (violence) terhadap perempuan karena adanya


perbedaan gender. Kekerasan terhadap perempuan belakangan ini diduga
meningkat. Berbagai macam bentuk kekerasan menimpa perempuan,
mulai yang ringan hingga yang berat (mengancam jiwa). Banyak sekali
kekerasan terjadi pada perempuan yang ditimbulkan oleh adanya
stereotype gender. Perbedaan gender dan sosialisasi gender yang amat
lama mengakibatkan kaum perempuan secara fisik lemah dan kaum lelaki
umumnya kuat. Hal itu tidak menimbulkan masalah sepanjang anggapan
lemahnya perempuan tersebut tidak mendorong dan memperbolehkan
lelaki untuk bisa seenaknya memukul dan memperkosaperempuan. Banyak
terjadi pemerkosaan justru bukan karena unsur kecantikan, melainkan
karena kekuasaan dan stereotype gender yang dilabelkan pada kaum
perempuan, Berbagai macam dan bentuk kejahatan yang bisa
dikategorikan

kekerasan gender, di antaranya adalah sebagai berikut pemerkosaan,


pemukulan dan serangan non fisik yang terjadi dalam rumah tangga,
penyiksaan, prostitusi atau pelacuran, pornografi, sterilisasi dalam KB,
kekerasan terselubung dengan memegang bagian dari tubuh
perempuan, dan pelecehan sex.

Sampai saat ini kita belum dapat menekan terjadinya tindak


kekerasan terhadap perempuan. Mantan Meneg Pemberdayaan
Perempuan Khofifah Indar Parawansa pernah mengatakan bahwa
tingkat kekerasan yang dialami perempuan Indonesia cenderung
tinggi. Sekitar 24 juta perempuan atau 11,4 persen dari total
penduduk Indonesia pernah mengalami tindak kekerasan (Jawa Pos,
30 April 2003).

BAB III

KESIMPULAN

Tindak kekerasan terhadap perempuan merupakan suatu isu yang


tidak bisa dianggap sebagai isu terbelakang. Karena disadari atau tidak,
perilaku ini telah menjadi isu global. Sehingga, batasan tindak kekerasan
terhadap perempuan adalah segala bentuk kekerasan yang berdasar pada
gender yang akibatnya berupa atau dapat berupa kerusakan atau
penderitaan fisik, seksual, psikologis pada perempuan-perempuan,
termasuk di sini ancaman-ancaman dari perbuatan-perbuatan semacam itu,
seperti paksaan atau perampasan yang semena-mena atas kemerdekaan,
baik yang terjadi di tempat umum atau di dalam kehidupan pribadi
seseorang.

Sebagai suatu bentuk kejahatan, tindakan kekerasan terhadap


perempuan agaknya tidak akan pernah hilang dari muka bumi ini,
sebagaimana pula tindak-tindak kejahatan lainnya. Namun, bukan berarti
tindakan kekerasan ini tidak dapat dikurangi. Untuk mencapai hal ini, selain
upaya yuridis yang diusulkan, semuanya kembali berpulang pada warga
masyarakat sendiri. Tanpa adanya partisipasi publik, maka tidak akan
pernah ada perubahan. Untuk dapat mengubah sikap dan perilaku
masyarakat ini maka peran pembuat kebijakan akan sangat menentukan,
baik mereka yang berasal dari tingkat yang paling tinggi sampai yang
paling rendah. Selain itu, upaya pendidikan dan pemberdayaan masyarakat
serta perempuan sendiri perlu untuk menangani masalah-masalah yang
terjadi dalam komunitas mereka sendiri

DAFTAR PUSTAKA

http://www.savyamirawcc.com/kekerasan-terhadap-perempuan-ktp

http://yudhim.blogspot.com/2008/01/sekilas-kekerasan-terhadap-
perempuan.html
http://curhatnisa.blogspot.com/2011/09/konsep-kekerasan-terhadap-
perempuan-dan.html

Amrulloh. 2009. Pengertian Kekerasan terhadap Perempuan.blogspot.

http://e-book. sumatera utara.chapter II.pdf.html.