Anda di halaman 1dari 34

PENERAPAN PENDEKATAN FACEBOOK UNTUK MENINGKATKAN

KEMAMPUAN MENGEMUKAKAN PENDAPAT SECARA LISAN


DALAM DISKUSI DAN PRESTASI BELAJAR SISWA
MENGENAI INVESTASI JANGKA PANJANG PADA OBLIGASI
DI KELAS XII AKUNTANSI 1 SMK NEGERI 1 YOGYAKARTA

Disusun dalam rangka lomba inovasi pembelajaran


Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kota Yogyakarta

OLEH:
RAKHMAYANTI
NIP. 19810317 200801 2 010

SMK NEGERI 1 YOGYAKARTA


JALAN KEMETIRAN KIDUL 35 YOGYAKARTA
2009
HALAMAN PENGESAHAN

PENERAPAN PENDEKATAN FACEBOOK UNTUK MENINGKATKAN


KEMAMPUAN MENGEMUKAKAN PENDAPAT SECARA LISAN
DALAM DISKUSI DAN PRESTASI BELAJAR SISWA
MENGENAI INVESTASI JANGKA PANJANG PADA OBLIGASI
DI KELAS XII AKUNTANSI 1 SMK NEGERI 1 YOGYAKARTA

OLEH:
RAKHMAYANTI
NIP. 19810317 200801 2 010

Telah disetujui dan disahkan pada tanggal 16 September 2009


untuk diikutsertakan dalam lomba inovasi pembelajaran
Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kota Yogyakarta

Disahkan Oleh:
Kepala Sekolah

Dra. Nur Istriatmi


NIP. 19600723 198703 2 003
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya:

Nama : Rakhmayanti
NIP. : 19810317 200801 2 010
Jabatan : Guru Produktif Akuntansi
Unit Kerja : SMK Negeri 1 Yogyakarta
Judul Karya : Penerapan Pendekatan Facebook untuk Meningkatkan
Kemampuan Mengemukakan Pendapat secara Lisan dalam
Diskusi dan Prestasi Belajar Siswa Mengenai Investasi Jangka
Panjang pada Obligasi di Kelas XII Akuntansi 1 SMK Negeri 1
Yogyakarta.

Menyatakan bahwa karya inovasi ini adalah hasil karya saya sendiri dan belum
pernah diikutsertakan dalam lomba sejenis sebelumnya. Karya ini tidak memuat
keseluruhan maupun sebagian tulisan orang lain yang saya ambil dengan
menyalin atau meniru dalam bentuk rangkaian kalimat atau simbol yang
menunjukkan gagasan, pendapat, atau pemikiran dari penulis lain, yang saya akui
seolah-olah sebagai tulisan saya sendiri tanpa memberikan pengakuan penulis
aslinya.

Apabila saya melakukan pembohongan terhadap hal yang telah saya tuliskan di
atas maka saya bersedia menarik kembali karya saya ini dan bersedia menerima
sanksi apapun dari panitia penyelenggara.

Yogyakarta, 16 September 2009


Penyusun

Rakhmayanti
NIP. 19810317 200801 2 010
Penerapan Pendekatan Facebook untuk Meningkatkan Kemampuan
Mengemukakan Pendapat secara Lisan dalam Diskusi dan Prestasi Belajar Siswa
Mengenai Investasi Jangka Panjang pada Obligasi
di Kelas XII Akuntansi 1 SMK Negeri 1 Yogyakarta

ABSTRAK
Oleh: Rakhmayanti

Siswa di Program Keahlian Akuntansi SMK Negeri 1 Yogyakarta secara


akademis memiliki kemampuan yang tinggi akan tetapi, dari sisi kemampuan
berbicara dan menyampaikan pendapat dalam diskusi, mereka masih perlu
dikembangkan lagi. Penulis selama ini menetapkan standar minimal pembelajaran
Produktif Akuntansi pada nilai 7,00; standar nilai ini seharusnya masih bisa
dikembangkan lagi. Dalam rangka semakin meningkatkan prestasi belajar siswa,
penulis menetapkan standar minimal pembelajaran menjadi 7, 25.
Peneliti menerapkan metode pembelajaran kooperatif (cooperatif
learning) tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) dengan mengadopsi
operasional jejaring pertemanan (social networking) facebook untuk kemasannya.
Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui pengaruh penerapan
pendekatan facebook dalam meningkatkan kemampuan mengemukakan pendapat
secara lisan dan pengaruh dalam meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XII
Akuntansi 1 mengenai investasi jangka panjang pada obligasi.
Penelitian diadakan di SMK Negeri 1 Yogyakarta, Program Keahlian
Akuntansi, kelas XII Akuntansi 1 dengan jumlah siswa 38 orang terdiri dari 37
putri dan 1 putra dimulai dari tanggal 29 Juli sampai dengan 18 September 2009.
Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah teknik observasi berperan
serta (participant observation), sementara teknik analisis datanya adalah statistik
deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan facebook untuk
mengemas metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan
kemampuan mengemukakan pendapat secara lisan siswa kelas XII Akuntansi 1
dalam diskusi mengenai materi investasi jangka panjang pada obligasi dengan
pencapaian prosentase 29% di siklus pertama dan 58% di siklus kedua meningkat
dari sebelumnya 18% dan 8%. Kaitannya dengan peningkatan prestasi belajar
siswa, pendekatan facebook untuk mengemas metode pembelajaran kooperatif
tipe STAD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XII Akuntansi 1
mengenai investasi jangka panjang pada obligasi terbukti dengan tercapainya
standar nilai minimal 7,25 yang ditingkatkan dari sebelumnya yaitu 7,00 dengan
ketuntasan belajar kelas mencapai prosentase 90%.

Kata kunci: Metode pembelajaran kooperatif, tipe STAD, jejaring pertemanan facebook.
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat,
hidayah, serta karunia yang tiada terkira. Daya upaya manusia tanpa ridho dan
bimbingan-Nya akan senantiasa menemui jalan buntu. Ide yang didukung kerja
keras, semangat pantang menyerah, dan doa akan memberikan hasil yang
bermanfaat.
Penulis menyusun karya ini sebagai bentuk inovasi terhadap kegiatan
pembelajaran sehingga proses belajar mengajar di kelas tidak monoton dan tujuan
pembelajaran dapat tercapai dengan optimal. Karya inovasi ini berjudul
“Penerapan Pendekatan Facebook untuk Meningkatkan Kemampuan
Mengemukakan Pendapat secara Lisan dalam Diskusi dan Prestasi Belajar Siswa
Mengenai Investasi Jangka Panjang pada Obligasi di Kelas XII Akuntansi 1 SMK
Negeri 1 Yogyakarta”.
Penyelesaian karya inovasi ini tidak terlepas dari bantuan pihak lain baik
langsung maupun tidak langsung, oleh karena itu penulis sampaikan terima kasih
kepada:
1. Dra. Nur Istriatmi selaku kepala Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1
Yogyakarta atas kesempatan dan motivasi yang diberikan.
2. Sani Ismanta, S.IP selaku kepala Tata Usaha SMK Negeri 1 Yogyakarta atas
bantuan sarana dan prasarana yang diberikan.
3. Dra. A.W.Widowati selaku teman berdiskusi.
4. Dra. Siti Khotimah, guru SMK PIRI 3, selaku teman diskusi.
5. Siswa kelas XII Akuntansi 1 dan 2 SMK Negeri 1 Yogyakarta atas kerjasama,
dukungan, dan doa yang diberikan.
6. Drupadi video syuting atas bantuan dalam pendokumentasian karya.
Karya ini tentu saja memiliki keterbatasan namun semoga tetap dapat
diambil manfaatnya. Penulis berharap inovasi pembelajaran serupa terus
dikembangkan demi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Yogyakarta, 16 September 2009


Penulis

Rakhmayanti
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA iii
ABSTRAK iv
KATA PENGANTAR v
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL viii
DAFTAR LAMPIRAN ix
BABI PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Identifikasi Masalah 4
C. Pembatasan Masalah 4
D. Rumusan Masalah 4
E. Tujuan Penelitian 5
F. Manfaat Penelitian 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA 6
A. Kajian Teori 6
1. Teori Belajar dan Pembelajaran 6
2. Prinsip-Prinsip Dasar Mengajar 6
3. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperatif 9
Learning)
4. Tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) 11
5. Jejaring Pertemanan (Social Networking) Facebook 12
B. Kajian Hasil Penelitian 13
1. Riska Larasati, 2005 13
2. Drs. I Made Surianta, 2008 13
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 14
A. Objek Penelitian 14
B. Lokasi dan Waktu penelitian 14
C. Teknik Pengumpulan Data 14
D. Teknik Analisis Data 14
BAB IV HASIL PENELITIAN 15
A. Gambaran Situasi 15
B. Uraian Penelitian 16
C. Proses Analisis Data 22
D. Pembahasan 23
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 24
A. Kesimpulan 24
B. Saran 24
DAFTAR PUSTAKA 25
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

Halaman
1. Prosentase keaktifan siswa mengerjakan soal praktik di muka kelas 22
2. Prosentase keaktifan siswa dalam mengemukakan pendapat secara
lisan pada forum diskusi 22
3. Perolehan nilai kuis (tes) siswa 22
DAFTAR LAMPIRAN

1. Media pembelajaran berupa slide presentation.


2. Lembar kerja kelompok (aktivitas individu dan kelompok).
3. Daftar keaktifan siswa di kelas.
4. Daftar nilai kuis (tes).
5. CD (compact disk) pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan
pendekatan facebook.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Penulis sebagai seorang pendidik menyadari sepenuhnya bahwa
mendidik tidak hanya sekedar mentrasfer ilmu kepada peserta didik tetapi
membuka pola pikir peserta didik bahwa ilmu yang mereka pelajari memiliki
kebermaknaan untuk hidup mereka, sehingga dari ilmu tersebut mampu
merubah sikap, pengetahuan, dan keterampilan mereka menjadi lebih baik.
Mendidik secara profesional, dari hati, tanpa paksaan, logis, dan
menyenangkan berusaha penulis terapkan dalam pembelajaran Produktif
Akuntansi yang penulis ampu. Penguasaan materi dipadukan dengan
pendekatan personal-emosional kepada peserta didik menjadikan
pembelajaran selain menyenangkan juga akan menjadikan segala sesuatunya
mengalir secara wajar. Akan tetapi kondisi yang sudah baik ini harus tetap
dikemas dengan penyajian yang variatif agar sebagai pendidik penulis dapat
membawa kelas kedalam kondisi belajar yang selalu berbeda dari waktu ke
waktu dengan tetap berorientasi kepada pencapaian tujuan. Untuk itulah
penulis selalu melakukan kegiatan inovasi dalam setiap kegiatan
pembelajarannya.
Siswa di Program Keahlian Akuntansi SMK Negeri 1 Yogyakarta
adalah siswa yang masuk dengan nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan
dengan siswa dari program keahlian yang lain. Secara akademis mereka
memiliki kemampuan yang tinggi akan tetapi, dari sisi kemampuan berbicara
dan menyampaikan pendapat dalam diskusi, mereka masih perlu
dikembangkan lagi. Dari pembelajaran Produktif Akuntansi yang penulis
ampu, disetiap sesi tanya jawab mandiri (tanpa penunjukan guru), hanya
berkisar tiga (3) sampai enam (6) orang yang aktif menjawab atas dasar
inisiatif pribadi tanpa penunjukan guru, sementara yang lain baru akan
menjawab apabila ditunjuk oleh guru. Lain halnya saat mengerjakan
perhitungan maupun jurnal di depan kelas, dalam dua kali tatap muka sudah
lima puluh persen (50%) dari siswa di kelas telah aktif untuk mengerjakan
perhitungan dan jurnal di papan tulis secara mandiri tanpa penunjukan oleh
guru. Pembelajaran yang diciptakan oleh peneliti di kelas adalah
pembelajaran yang aktif, menyenangkan, dan dengan pendekatan personal
maupun emosional, seharusnya dapat membuat siswa selain aktif dalam
mengerjakan praktik di muka kelas juga membuat siswa nyaman dan aktif
dalam mengemukakan pendapatnya secara lisan di muka kelas.
Pelajaran Produktif Akuntansi yang penulis ampu selama ini
menetapkan standar minimal pembelajarannya pada nilai 7,00. Dari
kemampuan akademik, siswa Program Keahlian Akuntansi seharusnya masih
bisa dikembangkan lagi untuk semakin meningkatkan prestasi belajarnya
dengan tetap dalam koridor belajar menyenangkan, tanpa paksaan, dari hati,
dan logis. Dalam rangka semakin meningkatkan prestasi belajar siswa,
penulis menetapkan standar minimal pembelajaran untuk mata diklat yang
diampu menjadi 7, 25.
Peningkatan kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapat
secara lisan dalam diskusi dan peningkatan prestasi belajar siswa berusaha
penulis capai dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe
STAD (Students Team Achievement Division). Metode pembelajaran
kooperatif tipe STAD tidak penulis terapkan begitu saja melainkan dikemas
dengan bentuk yang lebih segar dengan mengadopsi bentuk operasional
jejaring pertemanan facebook.
Situs pertemanan yang sekarang sedang merebak dan dipergunakan
oleh kebanyakan orang dari anak-anak sampai orang tua adalah situs
pertemanan facebook yang dapat diakses melalui alamat www.facebook.com.
Disini semua orang bebas berbagi perasaan, berkomentar, maupun berbagi
foto, dan berita. Orang-orang yang menggunakan jejaring ini tidak perlu
banyak berpikir untuk menuliskan apa saja yang ingin mereka tuliskan baik
kepada seseorang ataupun kepada forum. Mereka tidak perlu banyak berpikir
untuk merangkai kata-kata. Hal ini yang menginspirasi penulis untuk
membawa peserta didik seolah-olah berada di dunia maya yang sedang
mengaktifkan jejaring pertemanan facebook saat berdiskusi sehingga mereka
akan leluasa menyampaikan permasalahan ataupun mananggapi permasalah
teman lain tanpa banyak memikirkan mengenai susunan kata-kata sebebas
saat mereka benar-benar mengoperasikan facebook yang sesungguhnya.
Harapan penulis adalah semua siswa dapat memiliki keberanian
mengemukakan pendapatnya secara lisan di depan kelas saat berdiskusi
karena iklim diskusi yang berusaha dibangun adalah iklim diskusi yang
santai.
Penulis memilih jejaring pertemanan facebook untuk inovasi
pembelajarannya karena dalam satu kelas lebih dari delapan puluh persen
siswa memiliki alamat facebook sehingga penulis berusaha membuat
pembelajaran dekat dengan dunia bermain mereka.
Pembelajaran tidak menggunakan facebook online yang sesungguhnya
akan tetapi hanya mengadopsi operasionalnya sehingga penulis menyebut
inovasinya dengan kata “pendekatan facebook”. Hal ini di karenakan
peralatan teknologi di SMK Negeri 1 Yogyakarta tidak mendukung untuk ini
dalam arti siswa di kelas tidak membawa laptop untuk pembelajarannya dan
didalam kelas bukan merupakan hot spot area.
Kebermanfaatan inovasi pembelajaran ini sangat luas karena selain
dapat diterapkan secara manual seperti yang penulis lakukan, juga dapat
diterapkan online bagi sekolah-sekolah berbasis teknologi maupun sekolah-
sekolah rintisan internasional yang peralatannya sangat mendukung mulai
dari komputer atau laptop, jaringan, maupun server. Inovasi pembelajaran
yang penulis lakukan dapat diterapkan secara manual maupun online mulai
dari tingkat SD, SMP, SMA maupun SMK sampai kepada tingkat perguruan
tinggi.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan
sebelumnya, maka dapat dapat dirumuskan beberapa identifikasi masalah
sebagai berikut:
1. Kurangnya kemampuannya siswa kelas XII Akuntansi dalam hal
mengemukakan pendapat secara lisan di muka kelas saat berdiskusi.
2. Adanya upaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XII
Akuntansi guna mencapai standar nilai minimal 7,25 dari standar nilai
sebelumnya 7,00.

C. Pembatasan Masalah
Permasalahan penelitian dibatasi hanya pada:
1. Kemampuan mengemukakan pendapat secara lisan dimuka kelas saat
berdiskusi.
2. Upaya peningkatan prestasi belajar siswa guna mencapai standar nilai
minimal 7,25 dari standar sebelumnya 7,00.
3. Siswa kelas XII Akuntansi 1.
4. Subkompetensi investasi jangka panjang pada obligasi.
5. Pendekatan jejaring pertemanan facebook.

D. Rumusan Masalah
Rumusan masalah disusun sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh penerapan pendekatan facebook untuk
meningkatkan kemampuan mengemukakan pendapat secara lisan siswa
kelas XII Akuntansi 1 dalam diskusi mengenai investasi jangka panjang
pada obligasi ?
2. Bagaimana pengaruh penerapan pendekatan facebook untuk
meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XII Akuntansi 1 mengenai
investasi jangka panjang pada obligasi ?
E. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh penerapan pendekatan facebook dalam
meningkatkan kemampuan mengemukakan pendapat secara lisan siswa
kelas XII Akuntansi 1 pada diskusi mengenai investasi jangka panjang
pada obligasi.
2. Untuk mengetahui pengaruh penerapan pendekatan facebook dalam
meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XII Akuntansi 1 mengenai
investasi jangka panjang pada obligasi.

F. Manfaat Penelitian
1. Bagi Penulis
a. Menemukan cara pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan
siswa kelas XII Akuntansi 1 untuk mengungkapkan pendapat secara
lisan dalam diskusi di muka kelas.
b. Menemukan cara pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan
prestasi belajar siswa kelas XII Akuntansi 1.
c. Menemukan cara pembelajaran baru yang dapat memperkaya
perbendaharaan inovasi pembelajaran bagi guru-guru se-Kota
Yogyakarta maupun guru-guru di luar Kota Yogyakarta.
d. Menemukan cara pembelajaran yang dekat dengan dunia siswa.
e. Menemukan cara pembelajaran yang membuat penulis selalu
mengajar dari waktu ke waktu dengan cara yang tidak sama dan
menghindarkan penulis dari kegiatan mengajar yang monoton.

2. Bagi Siswa
a. Menciptakan suasana pembelajaran yang rileks sehingga setiap siswa
dapat dengan santai mengemukakan pendapatnya dalam diskusi.
b. Menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan dekat
dengan dunia mereka sehingga siswa semangat dan dapat
meningkatkan prestasi belajarnya.
c. Menciptakan suasana pembelajaran yang berbeda dari waktu ke waktu
sehingga menghindarkan siswa dari kejenuhan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori
1. Teori Belajar dan Pembelajaran
Menurut J. Bruner dalam I Made Surianta (2008), belajar
merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk
menemukan hal-hal baru diluar informasi yang diberikan kepada dirinya.
Pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan iklim dan
pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan
peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru
dengan siswa serta antara siswa dengan siswa (Suyitno, 2004: 1).
Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai, guru harus mampu
mengorganisir semua komponen sedemikian rupa sehingga antara
komponen yang satu dengan lainnya dapat berinteraksi secara harmonis
(Suhito, 2000: 12). Salah satu komponen dalam pembelajaran adalah
pemanfaatan berbagai macam strategi dan metode pembelajaran secara
dinamis dan fleksibel sesuai dengan materi, siswa, dan konteks
pembelajaran (Depdiknas, 2003: 1), hal ini mendorong guru untuk lebih
kreatif dalam memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi
atau bahan ajar.

2. Prinsip-Prinsip Dasar Mengajar


Delapan keterampilan dasar mengajar menurut Drs. Sugiyanto,
M.Si (2008), yaitu keterampilan menjelaskan, keterampilan bertanya,
keterampilan menggunakan variasi, keterampilan memberi penguatan,
keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan mengajar
kelompok kecil dan perorangan, keterampilan mengelola kelas, dan
keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil. Prinsip dasar
mengajar inilah yang harus dikuasai oleh seorang guru atau pendidik
agar tujuan pendidikannya dapat tercapai secara optimal.
Keterampilan menjelaskan adalah suatu keterampilan menyajikan
bahan belajar yang diorganisasikan secara sistematis sebagai suatu
kesatuan yang berarti sehingga mudah dipahami peserta didik.
Keterampilan menjelaskan harus disesuaikan dengan kemampuan dan
karakteristik peserta didik, diselingi dengan tanya jawab, materi ajar
harus benar-benar dikuasai oleh guru, materi memiliki kebermaknaan
dan kebermanfaatan bagi peserta didik, penyajian disertai dengan
pemberian contoh-contoh yang konkrit dan dihubungkan dengan
kehidupan nyata, dan yang tidak kalah penting adalah apa yang disajikan
harus sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Keterampilan bertanya merupakan ucapan atau pertanyaan yang
dilontarkan guru yang menuntun respon atau jawaban dari peserta didik.
Keterampilan bertanya bertujuan untuk memotivasi peserta didik agar
terlibat langsung dalam interaksi belajar, melatih kemampuan
mengutarakan pendapat, merangsang dan meningkatkan kemampuan
berpikir peserta didik, dan pada akhirnya dapat mencapai tujuan
pembelajaran.
Keterampilan menggunakan variasi merupakan keterampilan guru
dalam menggunakan bermacam kemampuan untuk mewujudkan tujuan
belajar peserta didik sekaligus mengatasi kebosanan dan menimbulkan
minat/ gairah belajar siswa sehingga aktivitas belajar mengajar menjadi
efektif. Variasi dapat berupa penggunaan media, gaya mengajar,
penggunaan metode mengajar, serta pola interaksi.
Keterampilan memberi penguatan merupakan tindakan atau
respon terhadap suatu bentuk perilaku yang dapat mendorong munculnya
peningkatan kualitas tingkah laku tersebut disaat yang lain. Penerapan
keterampilan ini bertujuan menimbulkan perhatian peserta didik,
membangkitkan motivasi belajar peserta didik, menumbuhkan
kemampuan berinisiatif secara pribadi, merangsang peserta didik
berpikir yang baik, dan mengubah sikap negatif peserta didik ke arah
perilaku yang mendukung belajar.
Keterampilan membuka pelajaran adalah usaha guru untuk
mengkondisikan mental peserta didik agar siap dalam menerima
pelajaran. Dalam membuka pelajaran peserta didik harus mengetahui
tujuan yang akan dicapai dan langkah-langkah yang akan ditempuh.
Keterampilan menutup pelajaran adalah keterampilan guru dalam
mengakhiri kegitan inti pelajaran. Dalam menutup pelajaran, guru dapat
menyimpulkan materi pelajaran atau melakukan kegiatan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan dalam proses belajar mengajar.
Keterampilan mengajar kelompok kecil adalah kemampuan guru
melayani kegiatan peserta didik dalam belajar secara kelompok dengan
jumlah peserta didik berkisar antara tiga hingga lima orang atau paling
banyak delapan orang untuk setiap kelompoknya. Sedangkan
keterampilan pengajaran perorangan adalah kemampuan guru dalam
menentukan tujuan, bahan ajar, prosedur dan waktu yang digunakan
dalam pengajaran dengan memperhatikan tuntutan-tuntutan atau
perbedaan-perbedaan individual peserta didik.
Keterampilan mengelola kelas merupakan kemampuan guru
dalam mewujudkan dan mempertahankan suasana belajar mengajar yang
optimal. Tujuan dari pengelolaan kelas adalah mewujudkan situasi dan
kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan
kemampuannya secara optimal, menghilangkan berbagai hambatan dan
pelanggaran disiplin yang dapat merintangi terwujudnya interaksi belajar
mengajar, melayani dan membimbing perbedaan individual peserta
didik, serta mengatur semua perlengkapan dan peralatan yang
memungkinkan peserta didik belajar sesuai dengan lingkungan sosial,
emosional, dan intelektualnya.
Diskusi kelompok kecil adalah suatu proses belajar yang
dilakukan dalam kerja sama kelompok bertujuan memecahkan suatu
permasalahan, mengaji konsep atau prinsip tertentu. Prinsip untuk
membimbing sebuah diskusi dalam kelompok kecil antara lain
menyelenggarakan diskusi dengan suasana yang menyenangkan,
memberikan waktu yang cukup kepada peserta untuk merumuskan dan
menjawab pertanyaan, menyusun rencana diskusi dengan sistematis, dan
memposisikan diri guru sebagai teman diskusi.

3. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperatif Learning)


Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang
menempatkan siswa dalam kelompok kecil yang saling membantu dalam
belajar (Muhammad Nur, 1998: 16) blogcatalog Muhammad Faiq Dzaki.
Menurut Drs. Sugiyanto, M.Si (2008), model pembelajaran
kooperatif (cooperatif learning) adalah pendekatan pembelajaran yang
fokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam
memaksimalkan kondisi belajar guna mencapai tujuan. Pembelajaran ini
secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh untuk
menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat
menimbulkan permusuhan sebagai latihan hidup bermasyarakat. Ciri
pembelajaran kooperatif adalah adanya saling ketergantungan positif
antaranggota kelompok, terdapat interaksi tatap muka, adanya
akuntabilitas individual, dan dikembangkannya keterampilan menjalin
hubungan antarpribadi.
Proses pembelajaran yang baik hendaknya menempatkan siswa
sebagai pencari ilmu sehingga perlu dibiasakan memecahkan dan
merumuskan sendiri hasilnya (Johar, 2002: 2) blogcatalog Muhammad
Faiq Dzaki. Intervensi dari orang lain diberikan dalam rangka
memotivasi mereka. Posisi guru dalam proses pembelajaran bukan
sebagai pemberi materi akan tetapi sebagai organisator program
pembelajaran, sebagai fasilitator bagi pembelajaran siswa, dan sebagai
evaluator keberhasilan pembelajaran mereka. Hubungan guru dengan
siswa tidak lagi vertikal tetapi cenderung ke arah horizontal.
Terdapat beberapa perbedaan antara pembelajaran kooperatif
dengan pembelajaran tradisional. Pembelajaran kooperatif memiliki
indikator sebagai berikut:
a. Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu, dan saling
memberikan motivasi sehingga ada interaksi promotif.
b. Adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan materi
pelajaran tiap kelompok.
c. Adanya kelompok belajar heterogen.
d. Adanya pemilihan pemimpin kelompok secara demokratis atau
bahkan bergilir untuk memberikan pengalaman memimpin bagi
seluruh anggota kelompok.
e. Adanya pengajaran terhadap keterampilan sosial gotong royong.
f. Adanya pemantauan melalui observasi yang dilakukan oleh guru dan
intervensi hanya dilakukan jika terjadi masalah dalam kerja sama
antaranggota kelompok.
g. Adanya perhatian dari guru secara langsung dalam proses kelompok.
h. Adanya penekanan pada hubungan interpersonal tidak terbatas pada
penyelesaian tugas.

Indikator pembelajaran tradisional sebagai berikut:


a. Adanya dominasi kelompok atau menggantungkan diri pada salah
satu anggota kelompok.
b. Adanya pengabaian terhadap akuntabilitas individual sehingga tugas-
tugas sering diborong oleh salah seorang anggota kelompok.
c. Adanya kelompok belajar yang homogen.
d. Adanya penunjukan pemimpin kelompok oleh guru.
e. Adanya pengabaian terhadap pengajaran keterampilan sosial secara
langsung.
f. Adanya pemantauan oleh guru melalui observasi namun diiringi
dengan intervensi oleh guru pada saat pembelajaran kelompok
berlangsung.
g. Adanya sikap kurang perhatian guru terhadap proses kelompok yang
terjadi dalam kelompok-kelompok belajar.
h. Adanya penekanan yang hanya berorientasi pada penyelesaian tugas.
Penerapan metode kooperatif memiliki beberapa keuntungan,
antara lain:
a. Memungkinkan siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan,
informasi, dan perilaku sosial.
b. Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial.
c. Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama teman.
d. Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial.
e. Meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari
berbagai perspektif.
f. Meningkatkan kegemaran tanpa memandang perbedaan kemampuan,
jenis kelamin, normal atau cacat, etnis, kelas sosial, dan agama.

4. Tipe STAD (Student Teams-Achievement Divisions)


Pembelajaran tipe Student Teams Achievement Division (STAD)
yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di
Universitas John Hopkin dalam I Made Surianta (2008), merupakan
pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan cocok digunakan
oleh guru yang baru mulai menggunakan metode pembelajaran
kooperatif. Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari lima tahapan
utama sebagai berikut: a) Presentasi kelas, b) kerja kelompok, c) tes, d)
peningkatan skor individu, dan e) penghargaan kolompok.
Presentasi, materi pelajaran dipresentasikan oleh guru dengan
menggunakan metode pembelajaran kooperatif. Siswa mengikuti
presentasi guru dengan seksama sebagai persiapan untuk mengikuti tes
berikutnya.
Kerja kelompok, kelompok dibentuk terdiri dari empat sampai
dengan lima orang. Dalam kegiatan kelompok ini, para siswa bersama-
sama mendiskusikan masalah yang dihadapi, membandingkan jawaban,
atau memperbaiki miskonsepsi. Anggota kelompok harus saling bekerja
sama dengan sebaik-baiknya dan saling membantu dalam memahami
materi pelajaran.
Tes, setelah kegiatan presentasi guru dan kegiatan kelompok, siswa
diberikan tes secara individual. Dalam menjawab tes, siswa tidak
diperkenankan saling membantu, sehingga hasil tes adalah murni hasil
individu.
Peningkatan skor individu, setiap anggota kelompok diharapkan
mencapai skor tes yang tinggi karena skor ini akan memberikan
kontribusi terhadap peningkatan skor rata-rata kelompok.
Penghargaan kelompok, dimana dalam tahapan ini kelompok yang
mencapai rata-rata skor tertinggi, diberikan penghargaan.
Pemilihan metode yang tepat dan menarik bagi siswa, seperti
halnya pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat memaksimalkan proses
pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

5. Jejaring Pertemanan (Social Networking) Facebook


Kemunculan facebook sebagai situs jejaring pertemanan (social
networking) merupakan sesuatu yang fenomenal. Diperkirakan tahun
2009 ini telah tercatat 150 juta pengguna aktif. Facebook telah
menciptakan cara-cara baru untuk berkomunikasi dan berbagi informasi
antarmanusia, khususnya pengguna internet, (www.dwikisetiyawan.
wordpress.com).
Facebook merupakan jejaring pertemanan terbesar saat ini setelah
pada tanggal 29 April 2008 mampu mencetak rekor melampaui myspace,
(www.newmedia.web.id).
Memanfaatkan booming-nya facebook, maka digunakanlah
pendekatan operasional facebook tersebut untuk mengemas metode
pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan kemasan pembelajaran yang
lebih segar dan dekat dengan dunia peserta didik.
B. Kajian Hasil Penelitian
1. Riska Larasati, 2005
Penelitian Riska Larasati (2005), mengenai “Analisis Metode
Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan Pengaruhnya terhadap Upaya
Peningkatan Hasil Belajar Akuntansi dalam Pokok Bahasan Pencatatan
Transaksi Perusahaan Dagang Mata Pelajaran Akuntansi pada Siswa
Kelas II Semester I SMU Negeri 7 Purworejo” menunjukkan hasil bahwa
kelompok yang diberi perlakuan memiliki rata-rata prestasi belajar 67,50
sementara kelompok yang tidak diberi perlakuan pembelajaran dengan
metode kooperatif tipe STAD menunjukkan hasil 58,88.
Disimpulkan bahwa kelompok eksperimen yang pembelajarannya
menggunakan metode kooperatif tipe STAD lebih baik dari pada
kelompok kontrol yang hanya diberi perlakuan metode pembelajaran
ceramah.

2. Drs. I Made Surianta, 2008


Penelitian I Made Surianta, Drs. (2008) dengan judul “Penerapan
Model Pembelajaran Koperatif Tipe STAD dengan Media VCD untuk
Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas IX B SMP
Negeri 1 Banjarangkan Tahun 2008/ 2009”, menunjukkan hasil: 1)
Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan VCD
(Video Compact Disk) sebagai media pada pembelajaran bangun ruang
sisi lengkung dapat meningkatkan keaktifan siswa, 2) dapat
meningkatkan hasil belajar siswa dari rata-rata 6,68 dan ketuntasan
klasikal 70 % pada siklus I menjadi rata-rata hasil belajar 7,01 dengan
ketuntasan klasikal sebesar 83 % pada siklus II.
Disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran tipe STAD
dengan VCD sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan aktivitas
dan hasil belajar matematika siswa, sehingga model pembelajaran ini
dapat dijadikan alternatif pilihan pada pembelajaran matematika.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Objek Penelitian
Objek penelitian ini terdiri atas variabel bebas (independent variabel)
dan variabel terikat (dependent variabel). Metode pembelajaran kooperatif
tipe STAD dengan pendekatan facebook merupakan variabel bebas akan
tetapi dalam judul dipersingkat kalimatnya menjadi pendekatan facebook saja
dengan tujuan untuk menimbulkan ketertarikan pembaca agar mengenal lebih
jauh isi tulisan; sementara peningkatan kemampuan mengemukakan pendapat
secara lisan dalam diskusi dan peningkatan prestasi belajar siswa kelas XII
Akuntansi, keduanya merupakan variabel terikat yang dipengaruhi oleh
variabel bebasnya.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian diadakan di SMK Negeri 1 Yogyakarta, Program Keahlian
Akuntansi, kelas XII Akuntansi 1 dengan jumlah siswa 38 orang terdiri dari
37 putri dan 1 putra. Waktu penelitian dimulai dari tanggal 29 Juli sampai
dengan 18 September 2009.

C. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah teknik observasi
berperan serta (participant observation) dimana peneliti terlibat langsung
dalam kegiatan sehari-hari orang yang diteliti (diamati) sehingga data yang
diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai pada mengetahui tingkat
makna dari setiap perilaku yang nampak.

D. Teknik Analisis Data


Teknik analisis yang digunakan adalah statistik deskriptif yaitu statistik
untuk menganalisis data dengan cara mendiskripsikan atau menggambarkan
data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat
kesimpulan yang berlaku umum atau generalisasi.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Situasi
Penelitian menggunakan metode pembelajan kooperatif tipe STAD
(Student Teams Achievement Division). Pembelajaran kooperatif tipe STAD
terdiri dari lima tahapan utama sebagai berikut: a) Presentasi kelas, b) kerja
kelompok, c) tes, d) peningkatan skor individu, dan e) penghargaan
kolompok. Lima tahapan utama ini dikemas dalam sajian yang
menyenangkan (fun) dengan menggunakan pendekatan facebook.
Model pembelajaran kooperatif (coopertif learning) adalah pendekatan
pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk
bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar guna mencapai tujuan.
sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran, kelas dibagi menjadi kelompok-
kelompok kecil dengan sifat anggota kelompok yang heterogen dalam arti
bervariasi dalam hal kemampuan akademik dan kemampuan mengemukakan
pendapat. Satu kelompok merupakan satu tim sehingga setiap anggota
kelompok memiliki tanggung jawab yang sama untuk saling membantu dalam
hal memahami materi. Disini antaranggota gotong royong, bantu-membantu,
diskusi, dan terjadi kerjasama positif serta saling membutuhkan antaranggota;
jadi diharapkan tidak ada dominasi salah satu anggota kelompok dalam
pelaksanaannya. Walaupun dalam memahami materi merupakan tanggung
jawab kelompok, tetapi saat berpendapat di forum diskusi, menjawab
pertanyaan guru, ataupun mengerjakan evaluasi, semua merupakan tanggung
jawab masing-masing individu. Guru mengamati setiap perilaku kelompok
dan anggotanya serta membiarkan mereka mengembangkan analisisnya
sendiri terhadap suatu materi. Guru akan meluruskan atau melakukan
pembetulan apabila pemahaman siswa keluar dari konsep yang sebenarnya.
Setiap aktivitas kelompok dicatat mandiri oleh kelompok tersebut dalam satu
lembar kertas sebagai data evaluasi guru. Dari pengamatan data aktivitas
kelompok, guru akan memberikan penghargaan kepada salah satu kelompok
terpilih dengan memberikan nama “the team of the week” dan
mengumumkannya kepada forum serta memberikan hadiah dengan tujuan
semakin memacu prestasi mereka untuk bersaing sehat.
Pelaksanaan pembelajaran tidak dilakukan secara online layaknya
penggunaan jejaring pertemanan facebook yang sesungguhnya karena
keterbatasan sarana dan prasarana sekolah. Pembelajaran dan diskusi
dilaksanakan di kelas secara manual dengan cara mengacungkan jari bagi
siswa yang akan berpartisipasi dalam diskusi. Penerapan pendekatan facebook
dalam penelitian ini berupa pemakaian istilah-istilah yang lazim
dipergunakan dalam operasional facebook dan bentuk tampilan media
pembelajaran yang digunakan.

B. Uraian Penelitian
Penelitian menggunakan model Kemmis dan Mc Taggart dimana satu
siklus terdiri atas empat langkah yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan
(acting), pengamatan (observing), serta refleksi (reflecting).
1. Siklus Pertama
a. Perencanaan (Planning)
Siklus pertama fokus pada kemampuan siswa dalam menyampaikan
pendapat secara lisan pada forum diskusi. Pertemuan pertama
diadakan tanggal 26 Agustus 2009. Media yang diperlukan untuk
mendukung diskusi adalah viewer dan laptop untuk menayangkan
materi. Materi yang akan di upload maupun soal-soal yang akan di
share ke forum dibuat dalam bentuk slide presentation. Guru
merencanakan skenario pembelajaran yang disusun sebagai berikut:
1) Belajar dalam kelompok beranggotakan empat orang.
2) Satu kelompok adalah satu tim sehingga setiap anggota kelompok
memiliki tanggung jawab yang sama untuk membantu anggotanya
dalam memahami materi.
3) Walaupun dalam memahami materi merupakan tanggung jawab
kelompok, tetapi dalam berpendapat pada forum diskusi,
menjawab soal guru, mengerjakan evaluasi, semua adalah
tanggung jawab perindividu.
4) Semua bekerja atas nama kelompok, berdasarkan kerjasama
positif, tidak ada dominasi salah satu anggota.
5) Akan ditentukan the team of the week.
Setelah menyusun skenario pembelajaran kemudian guru menentukan
anggota kelompok dengan mempertimbangkan heterogenitas
kemampuan akademik dan kemampuan mengemukakan pendapat
secara lisan. Adapun susunan anggota kelompok sebagai berikut:
1) Kelompok 1 beranggotakan siswa nomor urut 1, 2, 37, 25, 14.
2) Kelompok 2 beranggotakan siswa nomor urut 13, 12, 29, 15.
3) Kelompok 3 beranggotakan siswa nomor urut 18, 6, 21, 34.
4) Kelompok 4 beranggotakan siswa nomor urut 19, 22, 4, 20.
5) Kelompok 5 beranggotakan siswa nomor urut 26, 3, 32, 5.
6) Kelompok 6 beranggotakan siswa nomor urut 27, 24, 16, 31.
7) Kelompok 7 beranggotakan siswa nomor urut 35, 28, 33, 10.
8) Kelompok 8 beranggotakan siswa nomor urut 36, 7, 9, 30.
9) Kelompok 3 beranggotakan siswa nomor urut 38, 8, 11, 17, 23.
Bahan yang diperlukan dalam pembelajaran berupa kertas HVS A4
untuk dibagikan kepada kelompok guna mencatat aktivitas kelompok.
Mengingat penelitian ini mengadopsi istilah-istilah yang lazim
dipergunakan dalam operasional facebook maka direncanakan pula
istilah yang akan digunakan dan penerapannya sebagai berikut:
1) Upload, dipergunakan untuk menampilkan materi, soal/ bahan
diskusi yang panjang, dan menampilkan jurnal.
2) Share, dipergunakan untuk manyampaikan permasalahan atau
bahan diskusi yang pendek maupun untuk berbagi informasi
kepada forum (dalam hal ini kelas).
3) Share to, dipergunakan untuk manyampaikan permasalahan atau
bahan diskusi yang pendek maupun untuk berbagi informasi yang
khusus ditujukan untuk orang tertentu (anggota kelompok lain).
4) Comment, dipergunakan saat akan menanggapi share dari forum
maupun dari orang tertentu (anggota kelompok lain).
5) Chat, dipergunakan untuk tanya jawab dalam satu kelompok dan
dilakukan saat the network is busy.
6) Chat to, khusus dipergunakan untuk tanya jawab dengan guru dan
dilakukan saat the network is busy.
Upload, share, share to, dan comment dilakukan saat guru
mengatakan the network is online, sementara saat guru mengatakan
the network is busy, siswa dapat melakukan aktivitas chat, chat to,
ataupun menuliskan tambahan materi pada handout mereka masing-
masing. Guru akan mengatakan logout saat kegiatan diskusi sudah
diakhiri. Perencanaan terakhir berupa hadiah yang akan diberikan
kepada “the team of the week”.

b. Pelaksanaan (Acting)
Guru membuka pelajaran dengan menyampaikan pentingnya materi
dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah diketahui
siswa sebelumnya. Guru kemudian menyampaikan skenario
pembelajaran, pembagian kelompok, dan meminta siswa untuk
berpindah tempat duduk berdasarkan anggota kelompoknya masing-
masing. Guru membagikan kertas untuk menuliskan aktivitas siswa
dan menerangkan teknis penulisannya yaitu satu sisi untuk
menuliskan aktivitas perindividu dan sisi yang lain untuk menuliskan
aktivitas kelompok. Setelah semua siap, guru akan mengatakan online
dan mulai meng-upload materi sebagai bahan diskusi. Seluruh siswa
akan memahami materi yang di upload oleh guru dalam kelompok
kecil mereka masing-masing. Sesi diskusi kemudian dimulai dimana
siswa bebas untuk melakukan share ataupun share to dan tentu saja
hal ini akan diikuti dengan comment dari forum. Setelah diskusi
berjalan beberapa saat, guru akan mengatakan the network is busy.
Sesi ini diisi oleh guru untuk mengulas diskusi yang tadi telah
berlangsung. Ulasan dapat berupa penekanan materi ataupun
meluruskan apabila terdapat kekeliruan pemahaman siswa. Pada
waktu the network is busy, guru memberikan kesempatan agak lama
kepada forum untuk sekedar menambahkan materi dalam catatan
mereka atau melakukan tanya jawab antaranggota dalam satu
kelompok. Guru akan mengatakan online dan bersiap untuk upload
materi baru, demikian seterusnya.

c. Pengamatan (Observing)
Setelah guru upload materi kemudian siswa berdiskusi, guru akan
keliling dari kelompok satu ke kelompok yang lain untuk mengamati
proses diskusi dalam kelompok tersebut sambil melihat situasi forum
untuk mengendalikan kegiatan (pengaturan saat online dan saat the
network is busy). Pengamatan juga dilakukan dari kertas kerja yang
telah dibagikan untuk masing-masing kelompok yang berisikan
aktivitas baik individu maupun kelompok.

d. Refleksi (Reflecting)
Pelaksanaan siklus pertama menghasilkan partisipasi diskusi sebanyak
tiga belas kali yang dilakukan oleh sebelas siswa. Partisipasi sebelas
siswa menunjukkan prosentase sebesar 29 % dari total anggota kelas
yang berjumlah 38 siswa. Menurut dugaan penulis, prosentase ini
masih bisa ditingkatkan lagi. Pelaksanaan diskusi seperti ini baru
pertama kali dilakukan sehingga siswa masih adaptasi dan
partisipasinya belum optimal, oleh karena itu perlu dilakukan siklus
kedua. Selain itu siklus kedua perlu dilakukan untuk mengukur
peningkatan prestasi belajar siswa dalam mencapai nilai standar
minimal 7,25 yang ditetapkan oleh guru. Pengukuran peningkatan
prestasi tidak relevan jika dilakukan pada siklus pertama karena
materi yang di upload masih sangat sedikit.
2. Siklus Kedua
a. Perencanaan (Planning)
Siklus kedua dilaksanakan untuk mengetahui tingkat partisipasi siswa
dalam diskusi apakah ada peningkatan dari siklus sebelumnya atau
tidak dan diadakan untuk mengetahui apakah siswa mampu mencapai
standar nilai minimal 7,25 untuk materi investasi jangka panjang pada
obligasi. Pertemuan kedua diadakan tanggal 2 September 2009.
Perencanaan seperti media, skenario pembelajaran, kelompok,
penggunaan istilah dalam diskusi, sampai pada format pemberian
hadiah semua sama dengan siklus pertama. Perbedaannya hanya pada
dokumentasi. Penulis merencanakan untuk mendokumentasikan siklus
kedua dengan format video untuk data pengamatan. Data pengamatan
dengan kertas aktivitas kerja kelompok seperti siklus pertama tetap
dipergunakan.

b. Pelaksanaan (Acting)
Pelaksanaan diskusi sama dengan siklus pertama. Siklus kedua
dimulai dengan pengumuman the team of the week dari hasil
pertemuan minggu sebelumnya (siklus pertama) dilanjutkan dengan
pemberian hadiah bagi kelompok. Guru membuka pelajaran dengan
mengingatkan kembali materi sebelumnya dan memotivasi siswa
untuk lebih aktif lagi dalam diskusi. Guru mengarahkan agar terjadi
persaingan sehat antarkelompok sehingga the team of the week
pertemuan kali ini akan berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Guru
menayangkan ulang skenario pembelajaran dalam slide presentation
kemudian meminta siswa berpindah sesuai kelompoknya masing-
masing. Setelah seluruh kelompok siap, guru akan memegang kendali
diskusi dengan mengatakan online dan mulai meng-upload materi.
Sesi diskusi kemudian dimulai dimana siswa bebas untuk melakukan
share ataupun share to dan tentu saja hal ini akan diikuti dengan
comment dari forum. Setelah diskusi berjalan beberapa saat, guru akan
mengatakan the network is busy. Sesi ini diisi oleh guru untuk
mengulas diskusi yang tadi telah berlangsung. Ulasan dapat berupa
penekanan materi ataupun meluruskan apabila terdapat kekeliruan
pemahaman siswa. Pada waktu the network is busy, guru memberikan
kesempatan agak lama kepada forum untuk sekedar menambahkan
materi dalam catatan mereka atau melakukan tanya jawab
antaranggota dalam satu kelompok. Perbedaan dengan siklus pertama
yaitu adanya kuis (tes) tertulis untuk mengukur pemahaman siswa
terhadap materi. Hasil tes dipergunakan sebagai data bagi guru untuk
menyimpulkan apakah siswa mengalami peningkatan prestasi belajar
dari kondisi semula dengan standar nilai minimal 7,00 dan sekarang
ditingkatkan menjadi 7,25.

c. Pengamatan (Observing),
Setelah guru upload materi kemudian siswa berdiskusi, guru akan
keliling dari kelompok satu ke kelompok yang lain untuk mengamati
proses diskusi dalam kelompok tersebut sambil melihat situasi forum
untuk mengendalikan kegiatan (pengaturan saat online dan saat the
network is busy). Pengamatan juga dilakukan dari kertas kerja yang
telah dibagikan untuk masing-masing kelompok yang berisikan
aktivitas baik individu maupun kelompok serta pengamatan dari hasil
rekaman video terhadap aktivitas pembelajaran di kelas.

d. Refleksi (Reflecting)
Siklus kedua menunjukkan partisipasi kelas dalam diskusi yang sangat
luar biasa yaitu 25 kali yang dilakukan oleh 22 siswa. Partisipasi 22
siswa dari 38 siswa di kelas menunjukkan prosentase 58%. Hasil kuis
diperoleh rata-rata kelas 8,73 dan terdapat empat siswa yang belum
mencapai standar minimal 7,25. Hal ini menunjukkan ketuntasan kelas
sebesar 90%. Dari pengamatan video diperoleh gambaran bahwa
siswa sangat menikmati pembelajaran dan gembira dalam mengikuti
setiap sesi.
C. Proses Analisis Data
Tabel 1: Prosentase Keaktifan Siswa Mengerjakan Soal Praktik di Muka
Kelas
No Pertemuan

12 Agustus 2009 19 Agustus 2009


Tanggal
1 27 % 14 %

Tabel 2: Prosentase Keaktifan Siswa dalam Mengemukakan Pendapat secara


Lisan pada Forum Diskusi Kelas
No Sebelum Perlakuan Sesudah Perlakuan
Siklus Pertama Siklus Kedua
29 Juli 2009 5 Agustus 2009
Tanggal 26 Agustus 2009 2 September 2009
1 18 % 8% 29 % 58 %

Data dalam tabel 1 menunjukkan partisipasi siswa dalam mengerjakan soal


praktik di muka kelas, prosentase 27% dan 14%, data ini memiliki prosentase
lebih besar jika dibandingkan data tabel 2 yaitu keaktifan siswa dalam
mengemukakan pendapat secara lisan di muka kelas yang masing–masing
menunjukkan prosentase 18% dan 8%. Setelah diberikan perlakuan dengan
penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan
facebook, keaktifan siswa dalam mengemukakan pendapat secara lisan pada
forum diskusi menjadi 29% (siklus pertama) dan 58% (siklus kedua).

Tabel 3: Perolehan Nilai Kuis (Tes) siswa


Nilai 6,00 6,50 7,00 7,50 8,00 8,50 9,00 9,50 10,00

Jumlah Siswa 1 0 3 3 4 6 7 8 6

Nilai x Jumlah Siswa 6 0 21 22,5 32 51 63 76 60

Dari tabel 3 sebagai hasil kuis siklus kedua diperoleh hasil empat siswa
belum mencapai standar nilai minimal yaitu 7,25 sehingga ketuntasan kelas
ditunjukkan dengan angka (34:38) x 100% = 90%. Perhitungan dari tabel 3
diperoleh nilai rata-rata kelas (6+0+21+22,5+32+51+63+76+60) : 38 = 8,73.

D. Pembahasan
Berdasarkan pengamatan serta dari hasil analisis data siklus pertama
dan kedua diperoleh hasil bahwa penerapan pendekatan facebook untuk
mengemas metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan
kemampuan siswa kelas XII Akuntansi 1 dalam mengemukakan pendapat
secara lisan pada diskusi mengenai investasi jangka panjang pada obligasi.
Hal ini ditunjukkan dengan angka prosentase partisipasi siswa pada diskusi
kelas menjadi 29% di siklus pertama dan 58% di siklus kedua, meningkat
dibandingkan dengan prosentase sebelum perlakuan yaitu 18% dan 8 %.
Kondisi diskusi yang dibuat dekat dengan dunia anak muda yaitu
menggunakan pendekatan facebook seperti yang sering dipergunakan siswa
dalam keseharian bermain mereka membuat siswa lebih rileks dan tanpa
beban dalam mengemukakan pendapat melalui share, share to, maupun
comment. Siswa Program Keahlian Akuntansi yang terbiasa dengan
pengolahan angka, sekarang semakin lengkap kemampuannya dengan
didukung kemampuan mengemukakan pendapat secara lisan.
Perlakuan siklus kedua menghasilkan data mengenai hasil kuis dan
dapat disimpulkan bahwa standar nilai minimal yang ditetapkan menjadi 7,25
dari sebelumnya yaitu 7,00 dapat tercapai terbukti dari hasil analisis rata-rata
kelas menunjukkan angka 8,73. Penerapan pendekatan facebook untuk
mengemas metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan
prestasi belajar siswa kelas XII Akuntansi 1 mengenai investasi jangka
panjang pada obligasi karena standar nilai minimal mereka sekarang naik
0,25 poin menjadi 7,25 dari sebelumnya 7,00. Ketuntasan belajar kelas
menunjukkan angka 90% hal ini dikarenakan rasa kebersamaan dan gotong
dalam belajar pada kelompok kecil membuat mereka saling bantu untuk
memahamkan materi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penerapan pendekatan
facebook dalam meningkatkan kemampuan mengemukakan pendapat secara
lisan pada diskusi dan pengaruh dalam meningkatkan prestasi belajar siswa
kelas XII Akuntansi 1 mengenai investasi jangka panjang pada obligasi.
Berdasar hasil analisis data, diperoleh simpulan sebagai berikut:
1. Pendekatan facebook untuk mengemas metode pembelajaran kooperatif
tipe STAD dapat meningkatkan kemampuan mengemukakan pendapat
secara lisan siswa kelas XII Akuntansi 1 dalam diskusi mengenai materi
investasi jangka panjang pada obligasi dengan pencapaian prosentase
29% di siklus pertama dan 58% di siklus kedua meningkat dari
sebelumnya 18% dan 8%.
2. Pendekatan facebook untuk mengemas metode pembelajaran kooperatif
tipe STAD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XII
Akuntansi 1 mengenai investasi jangka panjang pada obligasi terbukti
dengan kemampuan siswa untuk mencapai standar nilai minimal 7,25
yang ditingkatkan dari sebelumnya yaitu 7,00 dan ketuntasan belajar
yang berhasil dicapai kelas dengan prosentase 90%.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah disimpulkan sebelumnya,
maka dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut:
1. Metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat dikemas dengan
kemasan lain yang lebih segar sehingga tidak monoton dengan
memanfaatkan teknologi terbaru atau hal-hal yang dekat dengan dunia
peserta didik.
2. Teman-teman sesama pendidik dapat mengadopsi inovasi pembelajaran
yang dilakukan peneliti untuk diterapkan pada pembelajarannya masing-
masing.
DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. (1993). Kurikulum Pendidikan Dasar. Jakarta: Depdikbud.

Diknas. Kumpulan Metode Pembelajaran/ Pendampingan.www.google.com.

Facebook, Situs Jejaring Pertemanan Terbesar. www.newmedia.web.id.

I Made Surianta, Drs. (2008). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe


STAD dengan Media VCD untuk Meningkatkan Prestasi Belajar
Matematika Siswa Kelas IX B SMP Negeri 1 Banjarangkan Tahun 2008/
2009. www.disdikklungkung.net.

Larasati, Riska. (2005). Analisis Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD


dan Pengaruhnya terhadap Upaya Peningkatan Hasil Belajar Akuntansi
dalam Pokok Bahasan Pencatatan Transaksi Perusahaan Dagang Mata
Pelajaran Akuntansi pada Siswa Kelas II Semester I SMU Negeri 7
Purworejo. Semarang: Pendidikan Ekonomi Koperasi FIS UNES.
www.google.com.

Muhammad Faiq Dzaki. Aktivitas Belajar Pada Model Pembelajaran Kooperatif.


www.blogcatalog.com.

Setiyawan, Dwiki. Facebook Ajang Gaul yang sedang Naik Daun.


www.dwikisetiyawan.wordpress.com.

Sugiyanto, Drs, M.Si. (2008). Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta:


Panitia Sertifikasi Guru (PSG) Rayon B. http://mileniansa2009.blogspot.
com.

Sugiyono, Dr. (1999). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.

Suhito. (1990). Strategi Pembelajaran Matematika. Semarang: FPMIPA IKIP


Semarang. www.disdikklungkung.net.

Sunituti, Asmah, Dra, M.Si. Karya Tulis Ilmiah. Handout.

Suyitno Amin, Pandoyo, Hidayah Isti, Suhito, Suparyan. (2000). Dasar-Dasar dan
Proses Pembelajaran Matematika I. Semarang: Pendidikan Matematika
FMIPA UNNES. www.disdikklungkung.net.

Wibawa, Basuki, Dr. H. (2004). Penelitian Tindakan Kelas. Departemen


Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
Direktorat Tenaga Kependidikan.