Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Reproduksi sangat diperlukan oleh makhluk hidup untuk melestarikan
jenisnya. Reproduksi dimulai dari pembentukan gamet, fertilisasi, perkembangan
janin (embriogenesis) sampai lahirnya atau terbentuknya individu baru sebagai
penerus individu sebelumnya. Salah satu tahap yang penting dari reproduksi yaitu
embriogenesis, dimana pada proses ini terjadi tahap-tahap pembentukan janin atau
calon individu baru dimulai dari pembelahan zigot sampai dengan organogenesis.
Secara umum, embriogenesis adalah proses pembelahan sel dan diferensiasi
sel dari embrio manusia yang terjadi pada saat tahap-tahap awal dari
perkembangan manusia. Tepatnya, embriogenesis terjadi pada saat spermatozoa
bertemu dan menyatu dengan ovum yang disebut fertilisasi sampai akhir dari
minggu ke-8 dari perkembangan manusia (Sadler, 2000). Embriogenesis dimulai
dari tahap zigot, morula, blastula, gastrula, neurula , dan embrio atau janin.
Gastrulasi menghasilkan tiga lapisan lembaga yaitu lapisan endoderm di
sebelah dalam, mesoderm di tengah dan ektoderm di sebelah luar.dari mesoderm
terbentuk notokord yang terletak di bawah ektoderm bagian dorsal. Pembentukan
suatu organ selalu diperlukan dua macam lapisan lembaga yang berinteraksi
dalam bentuk suatu rangsangan (induksi) (Surjono, 2001). Turunan-turunan dari
ketiga lapisan lembaga tersebut yaitu :
a. Turunan ektoderm: pembentukan sistem saraf pusat dan mata
b. Turanan mesoderm: pembentukan anggota tubuh, sistem urogenital, dan
peredaran darah
c. Turunan endoderm: pembentukan sistem pencernaan makanan dan pernafasan

1.2 Rumusan masalah


Rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini yaitu:
a. Apa saja organ turunan ektoderm?
b. Bagaimana proses pembentukan organ turunan ektoderm tersebut?

1
1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:
1. Mengetahui organ turunan dari ektoderm
2. Menjelaskan dan mendiskripsikan proses organogenesis turunan ektoderm

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Proses Transformasi Embrio Amphioxus Menjadi Larva
Embrio amphioxus menetas (Keluar dari membrane vitelin yang pecah),
ketika telah terbentuk sekitar 10 somit. Sebelum menetas sel-sel ektodermal
embrio dilengkapi dengan silia. Embrio disebut sebagai larva dan larva tersebut
dapat berenang menggunakan silia. Larva awal amphioxus tidak mempunyai
mulut. Larava bertambah besar dan kedua sisi lateralnya memipih. Pembentukan
mulut diawali dengan penipisan ektodermal pada sisi kiri, tumbh ke arah dalam
dan berfusi dengan dinding anterior archenteron untuk membentuk saluran
penghubung antara usus primitive dengan bagian luar tubuh. Selanjutnya mulut
meluas ke bagian antero-median dan berposisi di bagian ventral (Lestari, dkk.
2013).
Celah insang dibentuk dengan cara: pada sisi ventral larva terbentuk saluran
transfersal yang menghubungkan bagian antero-ventral enteron dengan
lingkungan luar. Hal yang sama segera terjadi juga pada sisi kiri tubuh. Larva
amphioxus memiliki 8 celah insang pada masing-masing sisi tubuhnya. Celah
insang akan terus bertambah seiring bertambah panjangnya tubuh. Pada
amphioxus dewasa terdapat sekitar 100 pasang celah insang(Lestari, dkk. 2013).
Anus dibentuk melalui cara yang sama dengan mulut. Anus terletak dibagian
ventral sebelah kiri, didekat pangkal ekor. Pada larva lanjut dan pada dewasa anus
berlokasi pada sisi kiri tubuh. Setelah sekitar 3 bulan, larva berkembang menjadi
amphioxus muda. Pada amphioxus tidak terjadi metamorphosis.
2.2 Organ Turunan Ektoderm
Pada vertebrata, gastrulasi menghasilkan tiga lapisan lembaga pada embrio
yaitu lapisan endoderm disebelah dalam, mesoderm dibagian tengah dan ektoderm
dibagian luar. Dalam pembentukan organ selalu diperlukan dua macam lapisan
lembaga yang saling berinteraksi dalam suatu bentuk rangsangan (induksi)
sehingga salah satu lapisan lembaga akan berdiferensiasi menjadi suatujaringan
khusus untuk kemudian membentuk suatu organ. Dari ketiga lapisan yang
dihasilkan pada saat gastrulasi akan membentuk sebuah organ turunan dari ketiga
lapisan lembaga tersebut, salah satunya yaitu organ turunan ektoderm. Ektoderm

3
sebagai lapisan luar dari embrio terdiri atas bakal bumbung neural, bakal pial
neural, dan bakal epidermis. Bumbung neural merupakan bakal dari sistem saraf
pusat sedangkan pial neural akan membentuk sistem saraf perifer serta ganglion,
medula adrenal, sel-sel pigmen, rawan larinks dan kepala. Turunan epidermis
dapat dibagi menjadi dua yaitu yang berasal dari penebalan epidermis (plakoda)
meliputi lensa mata, telinga dalam dan kuncup pengecap. Sedangkan epidermis
lain akan membentuk epidermis kulit, rambut, tanduk, kuku, lapisan permukaan
mulut dan anus serta hipofisa anterior. (Sudarwati dan Sutasurya, 1990)

2.3 Organogenesis turunan ektoderm


2.3.1 Sistem saraf pusat
Pembentukan sistem saraf pusat diawali dengan pembentukan bumbung
neural atau neurulasi. Neurulasi pada amfibi,aves, dan mamalia secara garis besar
adalah sama dimana setelah notokord terbentuk, notokord akan menginduksi
ektoderm yang ada diatasnya untuk mulai melakukan neurulasi. Sel-sel ektoderm
berubah menjadi panjang seperti palisade sehingga daerah ini menjadi lebih tebal
dan mendatar bila dibandingkan dengan daerah sekitarnya dan disebut sebagai
keping neural. Kemudian bagian tepi keping neural menebal serta tumbuh ke atas
membentuk lipatan neural dengan parit neural dibagian tengahnya. Lipatan neural
akan tumbuh sehingga mendekati daerah dorsal-tengah embrio kemudian akan
melebur menjadi bumbung neural yang diliputi oleh ektoderm di atasnya. Sel-sel
yang terdapat antara bumbung neural dengan ektoderm luar menjadi sel-sel pial
neural yang kelak akan bermigrasi ke seluruh tubuh embrio untuk membentuk
antara lain sel-sel pigmen, sistem saraf tepi, medula adrenal (Gilbert, 2006).

4
Perkembangan embrio pada tahap neurulasi membentuk bumbung neural
sumber : sudarwati dan sutasurya,1990
Diferensiasi bumbung neural menjadi daerah sistem saraf pusat berlangsung
melalui tiga cara secara serentak. Cara tersebut yaitu :
a. Secara anatomi, bumbung neural dan rongganya menggelembung dan
berkonstriksi membentuk ruang-ruang (ventrikel otak dan sum-sum tulang
belakang)
b. Tingkat jaringan, sel-sel pada dinding bumbung neural menyusun diri sehingga
membentuk bagian-bagian fungsional khusus dari otak dan sum-sum tulang
belakang.
c. Tingkat selular, sel-sel akan berdiferensiasi menjadi berbagai neuron dan sel
penunjangnya. ( wieati dkk, 2001)
Bumbung neural menggelembung membentuk tiga vesikula: prosensefalon,
mesensefalon dan rhombensefalon. Pada waktu ujung posterior bumbung neural
menutup, dibentuk penonjolan baru berupa vesikula optik yang menonjol dari
kedua sisi lateral optik depan. Prosensefalon kemudian terbagi lagi menjadi
telensefalon di sebelah anterior dan diensefalon di sebelah kaudalnya.
Telensefalon kelak akan menjadi serebrum sedangkan diensefalon akan menjadi
daerah talamus, hipotalamus dengan epifisa dan hipofisa posterior. Mesensefalon
tidak berubah dan rongganya menjadi “aquaduct cerebral”. Rhombensefalon
terdiferensiasi menjadi metensefalon disebelah anterior dan myelensefalon

5
disebelah posterior. Mielensefalon kelak akan menjadi medula oblongata sedang
metensefalon menjadi serebelum dan pons varoli.(sudarwati dan sutasurya, 1990)

Sumber: Sutasurya dan Sudarwati , 1990

2.3.2 Pembentukan mata


Pada daerah otak depan bagian posterior terbentuk vesikula optik yang
merupakan penonjolan ke arah lateral. Vesikula optik menyentuh ektoderm dan
menginduksi ektoderm membentuk plakoda lensa. Induksi ini sangat spesifik, bila
vesikula optik dipindahkan ke daerah lain dari kepala, ia akan menginduksi
ektoderm untuk membentuk jaringan lensa dan bukan epidermis kepala. Setelah
plakoda lensa terbentuk, kemudian vesikula optik akan berinvaginasi dan
menginduksi bali ke vesikula optik dan menyebabkan terjadinya perubahan pada

6
vesikula optik. Vesikula optik berinvaginasi sehingga terbentuk suatu cawan optik
dengan dinding rangkap. Sambil invaginasi berlangsung lebih lanjut, hubungan
antara cawan optik dengan otak menyempit menjadi tangkai optik, sedangkan
lapisan cawan optik mengalami diferensiasi. Sel-sel pada lapisan luar
menghasilkan pigmen dan disebut lapisan berpigmen retina yang akhirnya
menjadi retina berpigmen. Lapisan dalam memperbanyak diri dengan cepat dan
membentuk neuron yang sensitiv terhadap cahaya, glia, inter-neuron dan sel-sel
ganglion, lapisan ini disebut lapisan sensoris retina yang kelak akan menjadi
retina sensoris. Akson dari sel-sel ganglion bertemu pada bagian dasar mata
sepanjang tangkai optik dan menjadi saraf mata. (wieati dkk, 2001)

Sumber: wieati dkk, 2001

Bakal lensa berinvaginasi dan membentuk gelembung, kemudian melepaskan


diri dari ektoderm. Lensa bersentuhan dan menginduksi ektoderm yang
menutupinya untuk membentuk kornea. Diferensiasi jaringan lensa sehingga
menjadi transparan, menyangkut perubahan struktur sel maupun sintesis suatu
protein spesifik yang disebut kristalin. Sel-sel lensa pada sisi dekat retina mula-
mula berubah menjadi panjang berbentuk serabut dan menghasilkan kristalin. Sel-
sel ini tumbuh terus sehingga mengisi rongga lensa dengan demikian lensa terisi
penuh dengan sel-sel kristalin yang jernih atau transparan dan tidak berinti.

7
pembentukan cawan optic dan lensa

sumber: wieati dkk, 2001

Iris merupakan suatu jaringan ikat yang berada di muka lensa. Iris berasal dari
ektoderm tepi cawan optik yang tidak berdiferensiasi menjadi retina sensoris.
Lapisan koroid dan sklera yaitu lapisan luar dari mata dan dibentuk dari
mesenkim yang berakumulasi mengelilingi bola mata. Kornea akan menjadi jernih
karena pigmen pada sel-sel epidermis hilang.

8
BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
 Gastrulasi menghasilkan tiga lapisan lembaga yaitu lapisan endoderm di
sebelah dalam, mesoderm di tengah dan ektoderm di sebelah luar.Dari
mesoderm terbentuk notokord yang terletak di bawah ektoderm bagian dorsal.
Pembentukan suatu organ selalu diperlukan dua macam lapisan lembaga yang
berinteraksi dalam bentuk suatu rangsangan (induksi)
 Turunan-turunan dari ketiga lapisan lembaga tersebut yaitu
 Turunan ektoderm : pembentukan sistem saraf pusat dan mata
 Turanan mesoderm : pembentukan anggota tubuh, sistem urogenital, dan
peredaran darah
 Turunan endoderm : pembentukan sistem pencernaan makanan dan pernafasan
 Ektoderm terdiri atas : bakal bumbung neural, bakal pial neural, dan bakal
epidermis.Bumbung neural akan membentuk sistem saraf perifer serta
ganglion, medula adrenal, sel-sel pigmen, rawan larinks, dan kepala.Epidermis
terbagi menjadi dua yaitu berasal dari penebalan epidermis: lensa mata, telinga
dalam, kuncup pengecap. Sedangkan epidermis lain akan membentuk
epidermis kulit, rambut, tanduk, kuku, lapisan permukaan mulut dan anus serta
hipofisa anterior.
 Pembentukan sistem saraf pusat diawali dengan pembentukan bumbung neural
atau neurulasi. Setelah notokord dibentuk, notokord akan menginduksi
ektoderm yang berada diatasnya untuk mulai terjadi neurulasi dimana sel
ektoderm akan memanjang seperti palisade. Daerah tersebut dinamakan keping
neural. Kemudian bagian tepi keping neural menebal serta tumbuh ke atas
membentuk lipatan neural dengan parit neural di bagian tengahnya.Lipatan
neural tumbuh dan mendekati daerah dorsal embrio. Kemudian lipatan neural
dan daerah dorsal tersebut akan melebut menjadi bumbung neural. Sel yang
terdapat antara bumbungneural dengan ektoderm luar disebut pial neural
dimana nanti akan bermigrasi ke seluruh tubuh embrio untuk membentuk: sel
pigmen, sistem saraf tepi, dan medula adrenal

9
 Diferensiasi bumbung neural menjadi sistem saraf pusat berlangsungmelalui
tiga tahap yaitu: secara anatomi, tingkat jaringan, tingkat selular
 Vesikula optik menyentuh ektoderm dan menginduksi ektoderm membentuk
plakoda lensa. Plakoda lensa akan berinvaginasi dan menginduksi balik ke
vesikula optik dan menyebabkan perubahan pada vesikula optik. Vesikula
optik berinvaginasi membentuk cawan optik berdinding rangkap. Pangkal
cawan optik dan otak menyempit menjadi tangkai optik. Lapisan cawan optik
berdiferensiasi:
 Lapisan luar menjadi retina berpigmen
 Lapisan dalam membentuk neuron, glia, interneuron dan sel-sel ganglion
(retina sensoris)
 Retina neural yang dewasa terdiri dari tiga lapisan yaitu lapisan sel ganglion,
lapisan sel bipolar dan lapisan sel batang dan kerucut.
 Bakal lensa berinvaginasi dan membentuk gelembung. Lensa tersebut akan
menginduksi ektoderm yang menutupinya untuk membentuk kornea.
 Iris berasal dari ektoderm cawan optik yang tidak berdiferensiasi menjadi
retina sensoris.
 Lapisan koroid dan sklera dibentuk dari mesenkim yang berakumulasi
mengelilingi bola mata.
 Kelopak mata berasal dari lipatan kulit yang tumbuh ke depan kornea
 Celah antara kelopak mata dengan bagian depan bola mata disebut kantung
konjungtiva yang menghasilkan kelenjar lakrimal.

10
DAFTAR PUSTAKA

Gilbert, S.F. 2006. Developmental Biology.Ed.8. Sunderland: Sinauer

Sudarwati Sri dan Sutasurya Lien A. 1990. Dasar-Dasar Perkembangan Hewan.


Bandung: Institut Teknologi Bandung

Surjono, T.W. 2001. Perkembangan Hewan. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas


Terbuka

Wieati tien, dkk. 2013. Perkembangan Hewan. Jakarta: Universitas Terbuka

11