Anda di halaman 1dari 3

Nama : Ike Anggraini

NIM : 150342601952
Off/Kelas : C/G
Prodi : 150342601952

“Pendapat Kontra tentang Pernikahan Dini”


Pernikahan dini merupakan suatu perikahan yang dilakukan sebelum mempelai
berusia 18 tahun. Pernikahan dini ini sebaiknya tidak dianjurkan karena apa ? Pernikahan
yang dilakukan ketika mempelai masih berusia kurang dari 18 tahun atau 18 tahun akan
menimbulkan berbagai dampak yang kurang bagi kedua pasangan sumai istri yang menikah
dengan usia dini.
1. Dilihat dari segi pendidikan
Telah kita ketahui, bahwa seseorang yang melakukan pernikahan dengan usia yang masih
tergolong muda, tentu akan membawa berbagai dampak, terutama pada aspek pendidikan.
Seseorang yang mempunyai keinginan untuk menikah dini tentu keinginannya untuk
melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi tidak akan teracapai. Karena dengan
menikah usia dini mengakibatkan motivasi seorang anak untuk belajar akan mengendur, hal
ini disebabkan setelah menikah, tugas seseorang menjadi bertambah. Selain itu dari segi
ketenaga kerjaan, seseorang yang memiliki pendidikan rendah hanya dapat bekerja sebagai
buruh, dengan demikian hal ini tidak dapat mengeksplor bakat dan kemampuan yang
dimiliknya.
2. Dilihat dari segi kesehatan
Pernikahan dini yang dilakukan dapat mengakibatkan berbagai resiko yang dilihat dari
aspek kesehatan diantaranya adalah :
a. Resiko penyakit seksual meningkat
b. Resiko kekerasan seksual meningkat
c. Resiko kehamilan meningkat.
Perempuan yang menikah dini dengan usia yang kurang dari 18 tahun, meskipun ia telah
mengalami menstruasi. Dapat menybabkan dampak medis yang ditimbulkan yaitu pada
kandungan dan mengakibatkan kanker mulut rahim. Hal ini terjadi karena ketika masa
peralihan sel anak-anak ke sel dewasa terjadi dengan cepat. Pada umumnya pertumbuhan sel
yang tumbuh pada anak-anak akan berakhir pada usia lebih dari 19 tahun. Selain itu
kehamilan yang terjadi pada seorang yang masih muda rentan terjadi pendarahan, keguguran,
dan hamil premature di masa kehamilan.
3. Dilihat dari segi psikologi
Ditinjau dari segi sosial pernikahan dini dapat mengurangi keharmonisan keluarga. Hal ini
dikarenakan usia dini (kurang dari 18 tahun) meupakan usia yang masih labil, gejolak darah
muda dan cara berpikir yang belum matang.
Nama : Ike Anggraini
NIM : 150342601952
Off/Kelas : C/G
Prodi : 150342601952

“Pendapat Pro tentang Pernikahan Dini”

Pernikahan dini merupakan suatu perikahan yang dilakukan sebelum mempelai berusia
18 tahun. Berbagai pendapat yang menyatakan bahwa pernikahan dini tidak baik bagi anak
yang masih berusia kurang 18 tahun. Namun, dengan adanya pernikahan dini juga
mendapatkan sisi positifnya yaitu :
1) Dengan menikah di usia dini apabila telah terencana dan direstui oleh kedua belah pihak
keluarga dapat meringankan beban ekonomi keluarga.
2) Belajar memikul tanggung jawabb di usia yang masih muda. Banyak pemuda yang
sewaktu muda sebelum masuk masa pernikahan tanggug jawabnya masih kecil
dikarenakan ada orang tua yang menanggug hidup mereka.
3) Terbebas dari perbutan maksiat seperti zina dan lain-lain.
Dalam Pandangan Islam “Pernikahan Dini” tidak disebutkan bahwa seseorang baru
boleh menikah setelah berusia sekian, sehingga didalam islam tidak ada batasan minimal usia
pernikahan. Islam hanya menganjurkan bagi mereka yang sudah mampu. Orang yang akan
menikah hendaknya benar-benar yang sudah mampu, baik secara jasmani, rohani, dan
ekonomi.Adapun dalil, baik dari hadist Nabi SAW mupun Al Quran adalah anjuran untuk
mengawalkan pernikahan bagi yang sudah mampu.
 “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang
layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang
perempuan . Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan KaruniaNya.
Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur : 32).
 “Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka
hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan
dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia
berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhori-
Muslim).