Anda di halaman 1dari 12

HAMA DAN PENYAKIT

MAKALAH

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH


Budidaya Tanaman
Yang dibimbing oleh Ir. Nugrahaningsih, MP dan DR. Ir. Suhadi, M.Si

Oleh :
Kelompok 1
Giovannica Zendi S. 150342606591
Lukas Adi Nugroho 150342607308
Monica Feby Zelvia 150342604927
Zauhara Faiqohtun W. 150342605971

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
APRIL 2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tumbuhan tidak selamanya bisa hidup tanpa gangguan. Kadang tumbuhan mengalami
gangguan oleh binatang atau organisme kecil (virus, bakteri atau jamur). Hewan dapat
disebut hama karena mereka mengganggu tumbuhan dengan memakannya, Belalang,
kumbang, ulat, wereng, tikus, walang sangit merupajan beberapa contoh binatang yang sering
menjadi hama tanaman. Gangguan terhadap tumbuhan yang disebabkan oleh virus, bakteru
dan jamur disebut penyakit. Tidak seperti hama, penyakit tidak memakan tumbuha, tetapi
merusak tumbuhan dengan mengganggu proses dalam tubuh tumbuhans sehingga mematikan
tumbuhan. Oleh karena itu tumbuhan yang terserang penyakit, umumnya bagian tubuhnya
utuh, akan tetapi aktivitas hidupnya terganggu dan dapat menyebabkan kematian. Untuk
membasmi hama dan oenyakit, sering kali manusia menggunakan obat-obatan anti hama
yang disebut pestisida. Pestisida digunakan untuk membasmi serangga. Adapun pestisida
yang digunakan untuk membasmi jamur disebut fungisida
Pembasmi hama dan penyakit menggunakan pestisida dan obat harus secara hati-hati
dan tepat guna. Penggunaan pestisida yang berlebihan dan tidak tepat justru dapat
menimbukjan bahaya yang lebih besar. Hal itu disebabkan karena pestisida dapat
menimbuljan kekebalan pada hama dan penyakiy. Oleh karena itu pengguna obat-obatan anti
hama dan penyakit hendaknya diusakan semenimial dan sebijak mungkin.
Dari makalah ini, kami akan menjelaskan lebih rinci mengenak hama dan penyakit
serta cara penanggulangannya.

B. Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian hama dan macam-macamnya
2. Untuk mengetahui penyakit pada tumbuhan dan penyebabnya
3. Untuk mengetahui pengertian gulma
4. Untuk mengetahui cara pengendalian dari serangan hama dan penyakit
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Hama pada tanaman


Hama tumbuhan adalah organisme yang menyerang tumbuhan sehingga pertumbuhan
dan perkemabanganya terganggu. Hama yang menyerang tumbuhan antara lain tikus, walang
sangit, wereng, tungau, dan ulat.
1. Tikus
Tikus merupakan hama yang sering kali membuat pusing para petani. Hal ini
diesbabkan tikus sulit dikendalikan karena memiliki daya adaptasi, mobilitas, dan
kemampuan untuk berkembang biak yang sangat tinggi. Masa reproduksi yang relative
singkat menyebabkan tikus cepat bertambah banyak. Potensi perkembangbiakan tikus sangat
tergantung dari makanan yang tersedia. Tikus sangat aktif di malam hari.
Tikus menyerang berbagai tumbuhan. Bagian tumbuhan yang disarang tidak hanya
biji – bijian tetapi juga batang tumbuhan muda. Yang membuat para tikus kuat memakan biji
– bijian sehingga merugikan para petani adalah gigi serinya yang kuat dan tajam, sehingga
tikus mudah untuk memakan biji – bijian. Tikus membuat lubang – lubang pada pematang
sawah dan sering berlindung di semak – semak. Apabila keadaan sawah itu rusak maka
berarti sawah tersebut diserang tikus.
2. Wereng
Wereng adalah sejenis kepik yang menyebabkan daun dan batang tumbuhan
berlubang – lubang, kemudian kering, dan pada akhirnya mati. Hama wereng ini dapat
dikendalikan dengan cara – cara sebagai berikut :
a. Pengaturan pola tanam, yaitu dengan melakukan penanaman secara serentak maupun
dengan pergiliran tanaman. Pergiliran tanaman dilakukan untuk memutus siklus hidup
wereng dengan cara menanam tanaman palawija atau tanah dibiarkan selama 1 – 2
bulan.
b. Pengandalian hayati, yaitu dengan menggunakan musuh alami wereng, misalnya laba
– laba predator Lycosa Pseudoannulata, kepik Microvelia douglasi dan Cyrtorhinuss
lividipenis, kumbang Paederuss fuscipes, Ophinea nigrofasciata, dan Synarmonia
octomaculata.
c. Pengandalian kimia, yaitu dengan menggunakan insektisida, dilakukan apabila cara
lain tidak mungkin untuk dilakukan. Penggunaan insektisida diusahakan sedemikan
rupa sehingga efektif, efisien, dan aman bagi lingkungan.
3. Walang Sangit
Walang sangit (Leptocorisa acuta) merupakansalah satu hama yang juga meresahkan
petani. Hewan ini jika diganggu, akan meloncat dan terbang sambil mengeluarkan bau.
Serangga ini berwarnahijau kemerah- merahan.
Walang sangit menghisab butir – butir padi yang masih cair. Biji yang sudah diisap
akan menjadi hampa, agak hampa, atau liat. Kulit biji iu akan berwarna kehitam – hitaman.
Faktor – faktor yang mendukung yang mendukung populasi walang sangit antara lain sebagai
berikut.
a. Sawah sangat dekat dengat perhutanan.
b. Populasi gulma di sekitar sawah cukup tinggi.
c. Penanaman tidak serentak
Walang sangit muda (nimfa) lebih aktif dibandingkan dewasanya (imago), tetapi
hewan dewasa dapat merusak lebih hebat karenya hidupnya lebih lama. Walang sangit
dewasa juga dapat memakan biji – biji yang sudah mengeras, yaitu dengan mengeluarkan
enzim yang dapat mencerna karbohidrat.
4. Ulat
Kupu – kupu merupakan serangga yang memiliki sayap yang indah dan benareka
ragam. Kupu – kupu meletakkan telurnya dibawah daun dan jika menetas menjadi larva. Kita
bisa sebut larva kupu – kupu sebagai ulat. Pada fase ini, ulat aktif memakan dedaunan bahkan
pangkal batang, terutama pada malam hari. Daun yang dimakan oleh ulat hanya tersisa
rangka atau tulang daunya saja.
5. Tungau
Tungau (kutu kecil) bisaanya terdapat di sebuah bawah daun untuk mengisap daun
tersebut. Hama ini banyak terdapat pada musim kemarau. Pada daun yang terserang kutu
akan timbul bercak – bercak kecil kemudian daun akan menjadi kuning lalu gugur. Hama ini
dapat diatasi dengan cara mengumpulkan daun – daun yang terserang hama pada suatu
tempat dan dibakar.
B. Penyakit pada Tanaman
Jenis – jenis penyakit yang menyerang tumbuhan sangat banyak jumlahnya. Penyakit
yang menyerang tumbuhan banyak disebabkan oleh mikroorganisme, misalnya jamur,
bakteri, dan alga. Penyakit tumbuhan juga dapat disebabkan oleh virus.
1. Jamur
Jamur adalah salah satu organisme penyebab penyakit yang menyerang hampir semua
bagian tumbuhan, mulai dari akar, batang, ranting, daun, bunga, hingga buahnya. Penyebaran
jenis penyakit ini dapat disebabkan oleh angin, air, serangga, atau sentuhan tangan.
Penyakit ini menyebabkan bagian tumbuhan yang terserang, misalnya buah, akan
menjadi busuk. Jika menyerang bagian ranting dan permukaan daun, akan menyebabkan
bercak – bercak kecokelatan. Dari bercak – bercak tersebut akan keluar jamur berwarna putih
atau oranye yang dapat meluas ke seluruh permukaan ranting atau daun sehingga pada
akhirnya kering dan rontok.
Jika jamur ini mengganggu proses fotosintesis karena menutupi permukaan daun. Batang
yang terserang umumnya akan membusuk, mula – mula dari arah kulit kemudian menjalar ke
dalam, dan kemudian membusukkan jaringan kayu. Jaringan yang terserang akan
mengeluarkan getah atau cairan. Jika kondisi ini dibiarkan, jaringan kayu akan membusuk,
kemudian seluruh dahan yang ada di atasnya akan layu dan mati.
Contoh penyakit yang disebabkan oleh jamur adalah sebagai berikut.
a. Penyakit pada padi.
Penyakit pada ruas batang dan butir padi disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzea.
Ruas – ruas batang menjadi mudah patah dan tanaman padi akhirnya mati. Selain itu, terdapat
pula penyakit yang menyebabkan daun pedi menguning. Penyakit ini disebabkan oleh jamur
Magnaporthegrisea.
b. Penyakit embun tepung.
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Peronospora parasitica. Jamur ini kadang –
kadang menyerang biji yang sedang berkecambah sehingga biji menjadi keropos dan
akhirnya mati. Jamur ini kadang – kadang menyerang daun pertama pada kecambah sehingga
tumbuhan menjadi kerdil. Tumbuhan kerdil dapat tumbuh terus tapi pada daun – daunnya
terdapat kercak – bercak hitam.
2. Bakteri
Bakteri dapat membusukkan daun, batang, dan akar tumbuhan. Bagian tumbuh
tumbuhan yang diserang bakteri akan mengeluarkan lendir keruh, baunya sangat menusuk,
dan lengket jika disentuh. Setelah membusuk, lama – kelamaan tumbuhan akan mati.
Tumbuhan yang diserang bakteri dapat diatasi dengan menggunakan bakterisida.
Contoh penyakit yang disebabkan oleh bakteri adalah penyakit yang menyerang
pembuluh tapis batang jeruk (citrus vein phloem degeneration atau CVPD). CVPD
disebabken oleh bakteri Serratia marcescens. Gejalanya adalah kuncup daun menjadi kecil
dan berwarna kuning, buah menjadi kuning, sehingga lama – kelamaan akan mati. Penyakit
CVPD yang belum parang dapat disembuhkan dengan terramycin, yang merupakan sejenis
antibiotik.
3. Virus
Selain bakteri dan jamur, dalam kondisi yang sehat, tumbuhan dapat terserang oleh
virus. Penyakit yang disebabkan oleh virus cukup berbahaya karena dapat menular dan
menyebar ke seluruh tumbuhan dengan cepat. Tumbuhan yang sudah terlanjur diserang sulit
untuk disembuhkan. Contoh penyakit yang disebabkan oleh virus antara lain penyakit daun
tembakau yang berbercak – bercak putis. Penyakit ini disebabkan oleh virus TMV (tabacco
mosaic virus) yang menyerang permukaan atas daun tembakau. Virus juga dapat menyerang
jeruk. Penularan melalui perantara serangga.
4. Alga (Ganggang)
Keberadaan alga juga perlu diaspadai karena dapat menyebabkan bercak karat merah
pada daun tumbuhan. Tumbuhan yang biasanya diserang antara lain jeruk, jambu biji, dan
rambutan. Bagian tumbuhan yang diserang oleh alga biasanya bagian daun, ditandai adanya
bercak berwarna kelabu kehijauan pada daun, kemudian pada permukaannya tumbuh rambut
berwarnya cokelat kemerahan. Meskipun ukurannya kecil, bercak yang timbul sangat banyak
sehingga cukup merugikan
Langkah – langkah yang harus dilakukan agar tumbuhan tidak tersenang penyakit
antara lain sebagai berikut.
a. Usahakan tumbuhan selalu dalam kondisi prima atau sehat dengan cara tercukupi
segala kebutuhan zat haranya.
b. Jangan membiarkan tumbuhan terlalu rimbun, pangkaslah sehingga selaruh bagian
tumbuhan mendapatkan sinar matahari yang cukup.
c. Jangan biarkan tumbuhan terserang kutu, tungau, atau hewan yang lain yang serung
membawa bakteri atau jamur.
d. Usahakan lingkungan selalu bersih.
e. Perhatikan tumbuhan sesering mungkun sehingga penyakit dapat terdeteksi sedini
mungkin.
f. Jika terdapat gejala – gejala yang tampak, pangkaslah bagian tumbuhan (daun, buah,
ranting) yang terserang, kemudian dibakar agar tidak menular ke bagian atau
tumbuhan yang lainnya.
g. Penggunaan pertisida sebagai alternative terakhir untuk pengobatan hama dan
penyakit pada tumbuhan.
C. Gulma
Selain hama dan penyakit yang menyerang tumbuhan dan merugikan petani, gulma
juga perlu mendapat perhatian khusus. Pada petani kadang kurang memperhatikan gulma
sehingga dalam kurun waktu tertentu populasi gulma sudah melebihi batas. Gulma – gulma
ini akan berkompetisi dengan tanaman utama dalam mendapatkan unsur hara yang diperlukan
pertumbuhannya. Gulma dapat menjadi tempat persembunyian hama. Pembersihan gulma
sangat penting untuk menekan perkembangan hama yang dapat menyerang tumbuhan.
Berdasarkan karaktristik yang dimiliki, gulma dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu
teki, rumput, dan gulma daun lebar.
1. Teki
Kelompok teki – tekian memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian
mekanis, karena memiliki umbu batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan –
bulan. Contohnya adalah teki ladang (Cyperus rotundus).
2. Rumput
Gulma dalam kelompok ini berdaun sempit seperti teki tetapi menghasilkan stolon.
Stolon ini di dalam tanah berbentuk jaringan rumit yang sulit diatasi secara mekanik.
Contohnya adalah alang – alang (Imperata cylindrica).
3. Gulma daun lebar
Berbagai macam gulma dari ordo Dicotyledoneae termasuk dalam kelompok ini.
Gulma ini biasanya tumbuh pada akhir masa budi daya. Kompetisi terhadap tanaman utama
berupa kompetisi cahaya. Contoh dari gulma berdaun lebar ini adalah daun sendok.

D. Cara Pengendalian Hama dan Penyakit


Dalam hal pengendalian hama dan penyakit dibagi menjadi pengendalian secara kimia
dan secara biologi.
1. Pengendalian secara kimiawi
Pengendalian hama secara kimiawi merupakan pengendalian hama dengan
menggunakan zat kimia. Pengendalian hama ini biasa dilakukan dengan penyemprotan zat
kimia pada bagian tumbuhan. Pengendalian hama ini sering dilakukan oleh petani. Oleh
karena itu pengendalaian hama secara kimiawi sering dimasukkan ke dalam langkah
pemerantasan hama dan penyakit. Permasalahan yang terjadi sekarang, petani semakin
cenderung menggunakan pengendalian hama dan penyakit dengan cara kimiawi yakni dengan
pestisida.
Ada beberapa macam pestisida, yakni :
fungisida : pengendali cendawan
insektisida : pengendali serangga
nematisida : pengendali nematoda
herbisida : pengendali gulma
akarisida : pengendali tungau
ovarisida : pengendali telur serangga dan telur tungau
bakterisida : pengendali bakteri
rodentisida : pengendali tikus
mollussida : pengendali bekicot
Penggunaan pestisida juga memberikan dampak negatif. Adapun dampak negatif yang
ditimbulkan dari penggunaan pestisida secara berlebihan dan terus menerus:
a. Hama/penyakit/gulma menjadi resisten atau kebal
Semakin sering tanaman disemprot dengan pestisida, maka tanaman semakin kebal. Ini
berarti jumlah tanaman yang mati semakin sedikit walaupun disemprot berkali-kali dengan
dosis yang tinggi.
b. Resurgensi atau timbulnya kembali hama tersebut
Populasi hama /penyakit/gulma tersebut malah menjadi berkembang lebih banyak
setelah diperlakukan dengan pestisida. Hal ini disebabkan karena musuh-musuh alami mati
sehingga pengaruh pestisida terhadap tanaman tersebut tidak mampu membunuh spora yang
tahan, sehingga inilah yang nantinya akan berkembang pesat tanpa ada musuh atau saingan
lainnya.
c. Musuh alami musnah
Biasanya musuh-musuh alami ini lebih peka terhadap pestisida dari pada
hama/penyakit/gulma sasaran. Maka pada setiap aplikasi petisida ini akan mematikan
populasinya. Padahal adanya predator akan menetukan keseimbangan ekosistem.
d. Pencemaran lingkungan
Air, tanah, dan udara ikut pula tercemar oleh pestisida. Beberapa pestisida dapat
mengalami biodegradasi, dirombak secara biologis dalam tanah dan air.
2. Pengendalian secara biologi
Secara umum pengertian pengendalian hama secara biologi/hayati adalah penggunaan
makhluk hidup untuk membatasi populasi organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Makhluk
hidup dalam kelompok ini diistilahkan juga sebagai organisme yang berguna yang dikenal
juga sebagai musuh alami, seperti predator, parasitoid, patogen. Dalam hal penggunaan dan
pengendalian mikroorganisme pengertian organisme yang berguna diperluas yaitu meliputi
makhluk hidup termasuk yang bersel tunggal, virion, dan bahan genetik.
Pengendalian biologi memiliki keunggulan lebih ramah lingkungan. Pasalnya,
penggunaan insektisida dapat dikurangi bahkan tidak digunakan sama sekali. Pengendalian
hayati, walaupun usahanya memerlukan waktu yang cukup lama dan berspektrum sempit
(inangnya spesifik), tetapi banyak keuntungannya, antara lain aman, relatif permanen, dalam
jangka panjang relatif murah dan efisien, serta tidak akan menyebabkan pencemaran
lingkungan. Dari uraian di atas, jelaslah bahwa musuh-musuh alami mempunyai peranan
yang sangat besar dalam membantu kita untuk menekan perkembangan hama tanaman.
Pengendalian hama yang hanya menggunakan pestisida saja dengan spektrum luas dan terus-
menerus sebenarnya tidak baik dari segi ekologi. Oleh karena itu dalam pengelolaan hama,
cara pengendalian hayati perlu ditingkatkan dan penggunaan pestisida hendaknya dilakukan
secara bijaksana agar keseimbangan alami tidak terganggu.
Dilihat dari fungsinya musuh alami dapat dikelompokkan menjadi, Parasitoid,
Predator dan Patogen.
a. Parasitoid
Merupakan serangga yang memarasit serangga atau binatang antropoda lainnya.
Parasitoid bersifat parasit pada fase pradewasa, sedangkan dewasanya hidup bebas dan tidak
terikat pada inangnya. Parasitoid hidup menumpang di luar atau didalam tubuh inangnya
dengan cara menghisap cairan tubuh inangnya guna memenuhi kebutuhan hidupnya .
Umumnya parasitoid menyebabkan kematian pada inangnya secara perlahan-lahan dan
parasitoid dapat menyerang setiap fase hidup serangga, meskipun serangga dewasa jarang
terparasit.
Berdasar posisi makannya, parasitoid dapat digolongkan menjadi 2 yaitu:
(1) Ektoparasitoid adalah: parasitoid yang seluruh siklus hidupnya ada diluar tubuh
inangnya( menempel pada tubuh inangnya ), contohnya: Compsometris spp yang
memarasit hama Exopholis sp.
(2) Endoparasitoid adalah: parasitoid yang berkembang didalam tubuh inang dan
sebagian besar dari fase hidupnya ada didalam tubuh inangnya, contohnya: Letmansia
bicolor yang memarasit telur Sexava sp.
Parasitoid juga dapat digolongkan berdasarkan fase tubuh inang yang
diserang:
1. Parasitoid telur: parasit yang menyerang inang pada fase telur dan
bersifat endoparasit. Contoh. Anagrus optabilis – wereng Coklat.
2. Parasitoid telur – larva : parasid yang berkembang mulai dari telur sampai larva.
Contoh. Chelonus sp – pengerek mayang kelapa.
3. Parasitoid larva : parasit yang menyerang inang yang berada pada fase
larva atau ulat. Contoh. Apenteles erionotae – larva pengulung daun
pisang.
4. Parasitoid larva – pupa : parasit yang berkembang mulai dari larva sampai
pupa. Contoh. Thetrostichus brontispae – rontispa.
5. Parasitoid pupa : parasit yang menyerang inang yang berada pada fase pupa atau
kepompong. Contoh. Opius sp – kepompong lalat buah.
6. Parasitoid imago : parasit yang menyerang inang yang berada pada fase
imago atau serangga dewasa. Contoh. Aphytis chrysomphali – Apidiotus
destruktor.
b. Predator
Predator adalah binatang atau serangga yang memangsa atau serangga. hampir
semua ordo serangga memiliki jenis yang menjadi predator, tetapi selama ini ada
beberapa ordo yang anggotanya merupakan predator yang digunakan
dalam pengendalian hayati. Ordo-ordo tersebut adalah :
1. Coleoptera, misalnya Colpodes rupitarsis dan C. saphyrinus (famili Carabidae)
sebagai predator ulat penggulung daun Palagium sp. Harmonia octamaculata (
Famili Coccniellidae) sebagai predator kutu Jassidae dan Aphididae.
2. Orthoptera, misalnya Conocephalus longipennis ( famili Tetigonidae ) sebagai
predator dari telur dan larva pengerek batang padi dan walang sangit.
3. Diptera, misalkan Philodicus javanicus dan Ommatius conopsoides ( famili
Asilidae ) sebagai predator serangga lain. Syrphus serrarius (famili
Syrphidae) sebagai predator berbagai jenis aphids.
4. Ordonata, misalnya Agriocnemis femina femina dan Agriocnemis pygmaea (
famili Coecnagrionidae ) sebagai predator wereng coklat dan ngengat hama
putih palsu. Anax junius ( famili Aeshnidae ) sebagai predator dari beberapa
jenis ngengat.
5. Hemiptera, misalnya Cyrtorhinus ividipenis ( famili Miridae ) sebagai predator
telur dan nimfa wereng coklat dan wereng hijau.
6. Neuroptera, misalnya Chrysopa sp. ( famili Chrysopidae ) sebagai predator
berbagai hama Apids sp.
7. Hyminoptera, misalnya Oecophylla smaragdina ( famili Formasidae ) sebagai
predator hama tanman jeruk.
c. Patogen
Patogen adalah salah satu faktor hayati yang turut serta dalam mempengaruhi dan
menekan perkembangan serangga hama. Kelompok serangga dalam kehidupan diserang
banyak patogen atau penyakit yang berupa virus, bakteri, protozoa, jamur, riketzia dan
nenatoda. Ini merupakan macam patogenik yang dapat digunakan sebagai agen pengendali
hayati.
1. Bakteri
Bakteri penghasil spora merupakan bakteri yang sangat penting yang saat ini
banyak digunakan sebagai insektisida mikrobia. Contoh bakteri yang biasa
digunakan sebagai berikut. Contohnya: Bacillus popiliae sebagai patogen dari
kumbang jepang Popilie japonika dan kumbang skarabia lainya – Bacillus
thuringiensis sangat efektif dalam mengendaliakan larva dari ordo Lepidoptera dan
larva nyamuk
2. Jamur
Jamur yang menginfeksi serangga disebut Jamur Entopatogenik. Saat ini
telah dikenal lebih dari 750 spesies jamur entopatogenik dan sekitar 100 genera
jamur. Berbeda dengan virus, jamur patogen masuk kedalam tubuh serangga
tidak melalui saluran makanan tetapi langsung masuk kedalam tubuh melalui
kulit atau integumen. Selain itu juga dapat masuk ketubuh serangga sewaktu
meletakkan telur atau melalui bagian tubuh yang terluka. Contoh. Jamur
Metarhizium anisopliae digunakan untuk mengendaliakan hama Oryctes rhinoceros
pada tanaman kelapa dan juga hama awereng hijau yang meyerang tanaman padi.
3. Virus
Larva serangga terinfeksi oleh virus umumnya melemah pada saluran pencernaa.
Selain itu juga dapat masuk ketubuh serangga sewaktu meletakkan telur atau melalui
bagian tubuh yang terluka. Contoh: NPV ( Nucleopolyhedro virus )
paling banyak menyerang pada serangga ordo lepidoptera, Hyminoptera, Diptera serta
Coleoptera
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Hama tumbuhan adalah organisme yang menyerang tumbuhan sehingga pertumbuhan dan
perkemabanganya terganggu. Hama yang menyerang tumbuhan antara lain tikus, walang
sangit, wereng, tungau, dan ulat.
2. Penyakit pada tumbuhan dapat disebabkan oleh bakteri, jamur dan virus
3. Selain hama dan penyakit yang menyerang tumbuhan dan merugikan petani, gulma akan
berkompetisi dengan tanaman utama dalam mendapatkan unsur hara yang diperlukan
pertumbuhannya. Gulma dapat menjadi tempat persembunyian hama. Berdasarkan
karaktristik yang dimiliki, gulma dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu teki, rumput, dan
gulma daun lebar.
4. Pengendalian hama bisa menggunakan 2 cara yaitu secara kimia dengan pemberian
pestisida dan secara biologis yaitu menggunakan musuh alami seperti parasit, patogen dan
predator. Penggunaan pengendalian secara biologis lebih baik daripada secara kimiawi
karena bersifat ramah lingkungan.