Anda di halaman 1dari 111

HUBUNGAN KUALITAS HIDUP PASIEN HEMODIALISA DENGAN

KOMORBIDITAS DIABETES MELITUS DAN TANPA KOMORBIDITAS


DIABETES MELITUS DI RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA 2017

SKRIPSI

Oleh :
Nama : DZAKI MURTADHO
NIM : 2014730023

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2017

i
Universitas Muhammadiyah Jakarta
HUBUNGAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN HEMODIALISA DENGAN
KOMORBIDITAS DIABETES MELLITUS DAN TANPA DIABETES
MELLITUS DI RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA 2017
* Dzaki Murtadho
*
Mahasiswa Prodi Kedokteran, Fakultas Kedokteran dan Kesehatan, Universitas
Muhammadiyah Jakarta.

ABSTRAK
Latar belakang: Secara global, 1 dari 10 populasi global mengalami penyakit ginjal
kronik dan penyebab penyakit ginjal kronik terbesar adalah Diabetes Melitus.
Hemodialisa adalah terapi yang yang digunakan untuk mengganti fungsi ginjal. Pada
pasien yang menjalani hemodialisa ditemukan 30-47% pasien yang mengalami
gangguan kognitif serta 12-40% mengalami gangguan mood yang memengaruhi
kualitas hidup.
Tujuan: Diketahui hubungan kualitas hidup pasien hemodialisa dengan komorbiditas
diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus di Rumah Sakit Islam Jakarta.
Metode penelitian: Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif non eksperimental, data
bersumber dari sumber data dari primer dan sekunder. Dianalisis dengan
menggunakan metode cross sectional dan analisis data memakai Uji Chi square.
Dilakukan di Unit Dialisa Rumah Sakit Islam Jakarta pada 13-16 November 2017
dengan melakukan wawacara langsung menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF.
Penelitian ini merupakan penelitian
Hasil: Berjenis kelamin Laki-Laki 61%, Perempuan 38.9% dan yang berumur ≥ 54
tahun 53% dan <54 tahun 46.7%. Tidak memiliki hubungan yang signifikan antar
aspek aspek fisik dengan komorbiditas pasien hemodilisa, aspek fisik p value: 0.054;
aspek psikologis p value 0.163; aspek sosial p value: 0.814; aspek lingkungan p value:
0.107. Serta Kecendrungan berkualitas hidup kurang baik di segala aspek yang
berkaitan pada pasien yang menjalani terapi hemodilisa.
Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan yang bermakna pada aspek-aspek kualitas
hidup terhadap terapi hemodialisa pada pasien gagal ginjal kronik dengan
komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus. Namun, kualitas hidup
pada pasien tanpa komorbiditas diabetes mellitus lebih baik daripada pasien dengan
komorbiditas diabetes mellitus.

Kata Kunci :
Kualitas Hidup, Hemodialisa, Diabetes Mellitus
RELATION BETWEEN QUALITY OF LIFE ON HEMODIALISIS PATIENT
WITH DIABETES MELLITUS AND WITHOUT DIABETES MELLITUS IN
JAKARTA ISLAMIC HOSPITAL ON 2017
* Dzaki Murtadho
*
Medical student of Faculty Medical And Health in University Of Muhammadiyah
Jakarta
ABSTRACT
Background: Globally, 1 in 10 global populations experience chronic kidney disease
and the biggest cause of chronic kidney disease is Diabetes Mellitus. Hemodialysis is
a therapy that is used to replace kidney function. Patients undergoing hemodialysis
therapy, 30-47% of patients with cognitive impairment and 12-40% experience mood
disorders affecting quality of life.
Purpose: Known relationship quality of life of hemodialysis patients with
comorbidities of diabetes mellitus and without diabetes mellitus at Jakarta Islamic
Hospital.
Method: This research is non experimental quantitative research, data sourced from
source data from primary and secondary. Analyzed using cross sectional method and
data analysis using Chi square test. Conducted in Dialysis Unit Islamic Hospital
Jakarta on 13-16 November 2017 by conducting live wawacara using WHOQOL-
BREF questionnaire. This research is a research
Result: Male sex 61%, Women 38.9% and those aged ≥ 54 years 53% and <54 years
46.7%. No significant relationship between aspects of physical aspects with
comorbidity of hemodilisa patients, physical aspect p value: 0.054; psychological
aspect p value 0.163; social aspect p value: 0.814; environmental aspect p value: 0.107.
And the tendency of quality of life is not good in all aspects related to patients
undergoing hemodylysis therapy.
Conclusion: There is no significant correlation to the quality of life aspects of
hemodialysis therapy in patients with chronic renal failure with comorbidities of
diabetes mellitus and without diabetes mellitus. However, the quality of life in patients
without comorbidity of diabetes mellitus was better than patients with comorbidity of
diabetes mellitus.
Keywords :
Quality of Life, Hemodialisa, Diabetes Mellitus
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahhirabbil’alamin, segala puja dan puji syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat, nikmat, karunia serta hidayah-Nya penulis
dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Hubungan Kualitas Hidup Pada Pasien
Hemodialisa dengan Komorbiditas Diabetes Mellitus dan Tanpa Diabetes Mellitus di
Rumah Sakit Islam Jakarta 2017” yang penulis ajukan sebagai salah satu syarat untuk
menyelesaikan studi Strata Satu (S1) di Program Studi Kedokteran Fakultas
Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada nabi besar Muhammad
SAW, pemimpin yang mampu membawa perubahan dari zaman kegelapan menuju
zaman yang terang-benderang, dari zaman kebodohan ke zaman yang penuh dengan
teknologi, dan selalu menjadi inspirator sejati untuk penulis dan para peneliti lainnya.
Segala doa dan kebaikan semoga terlimpahkan kepada keluarga beliau, para sahabat,
dan orang-orang yang selalu istiqomah berjuang di jalan-Nya hingga akhir zaman,
Aamiin.
Dalam penyusunan skripsi ini penulis mendapatkan banyak motivasi dan
dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Allah SWT, selalu memberikan yang terbaik, kemudahan, dan kelancaran
dalam menyelesaikan skripsi ini.
2. Ayahanda H. Sudiyanto, S.E dan Ibunda Hj. Sri Indah Kesuma serta Adik
tercinta Khairunnisa Ariibah dan Aqil Fadhali yang selalu memberikan
motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini sehingga dapat menyelesaikan skripsi
tepat waktu.
3. dr. Slamet Sudisantoso, M.Pd. Ked, selaku dekan Fakultas Kedokteran dan
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
4. dr. Resna Murti Wibowo, SpPD, M.Kes, selaku ketua Program Studi
Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Jakarta.
5. dr. Farsida MPH, selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan
bimbingan dengan tulus, sabar, pengertian, dan selalu memberikan dukungan
serta bantuan di saat penulis sedang dalam kesulitan sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi dengan tepat waktu.
6. dr. Abdul Baktiansyah, MKK, Sp.Ok, selaku dosen pembimbing metodologi
penelitian yang telah memberikan arahan dengan baik sehingga penulis dapat
mengambil langkah yang tepat untuk skripsi ini.
7. dr. Jekti T Rochani, MS, Sp.MK selaku dosen pembimbing akademik yang
selalu memberikan dukungan dan arahan sehingga penulis dapat menyelesaikan
pendidikan kedokteran ini dengan tepat waktu.
8. Seluruh Dosen dan Staf Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Jakarta yang telah membimbing dan membantu saya selama
masa preklinik ini.
9. Keluarga besar HMPD terutama Sita dan Taufiq, M2RC terutama Fadhil dan
Amel, EB ISMKI Dream team terutama Bang Wanda, Mbak Fenti, Kak Nadya
dan Natsir serta #IASayang terutama Aldo, Valdo, Ando, Maya, Lisa, Ulfi,
Echa, Cila dan Fathia yang memberikan pelajaran yang sangat berarti untuk
penulis, dapat mengenal arti persahabatan, kekeluargaan tanpa ikatan darah,dan
leadership yang dapat mengasah kemampuan penulis.
10. Teman-teman yang penulis banggakan, Bang Aldi, Azmi, Faiq, Mulky, Rian,
Diding, Muja, Khilda, Anis, Dwi, Refi, Bobzi, Fadhil, Urwatul, Irmalita,
Wanda, Putri dan Andita yang telah memberikan arti dalam kehidupan penulis,
mendengarkan keluh kesah penulis dan banyak membantu dari awal sampai
akhir di kedokteran ini, serta membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi.
11. Teman pejuang skripsi Afriani Khairunnisa (Depi), yang menemani sampai
akhir perjuangan membuat skripsi.
12. Keluarga besar Ligament yang selalu memberikan arti yang sangat berbeda
pada kehidupan penulis, tentang arti kekompakan, pertemanan, dan
kebersamaan.
13. Petugas di Unit Dialisa Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih yang telah
meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membantu penulis dalam
pengambilan sampel sehingga penulis dapat dapat menyelesaikan skripsi tepat
waktu.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis selalu terbuka untuk menerima kritik dan saran
yang bersifat membangun dan bermanfaat. Semoga semua pihak yang tersebut di atas
mendapatkan pahala dari Allah ta’ala dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan
berguna bagi setiap pembacanya.
Jakarta, 20 Desember 2017

Penulis
DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ................................. Error! Bookmark not defined.


LEMBAR PERNYATAAN PERSETUUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK
KEPENTINGAN AKADEMIS ....................................................................................................... ii
ABSTRAK ...................................................................................................................................... iv
LEMBAR PERSETUJUAN ............................................................. Error! Bookmark not defined.
HALAMAN PENGESAHAN........................................................... Error! Bookmark not defined.
KATA PENGANTAR ...................................................................................................................viii
DAFTAR ISI................................................................................................................................... xi
DAFTAR SINGKATAN ............................................................................................................... xiv
DAFTAR TABEL...........................................................................................................................xv
DAFTAR GAMBAR .................................................................................................................... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................................................ xviii
BAB I ............................................................................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ............................................................................................................. 1
1.2. Rumusan Masalah ........................................................................................................ 4
1.3. Tujuan Penelitian ......................................................................................................... 5
1.3.1. Tujuan Umum .............................................................................................................. 5
1.3.2. Tujuan Khusus ............................................................................................................. 5
1.4. Ruang Lingkup Penelitian ............................................................................................ 5
1.5. Manfaat Penelitian ....................................................................................................... 5
1.5.1. Manfaat Teoritis ........................................................................................................... 5
1.5.2. Manfaat Aplikatif ......................................................................................................... 6
BAB II.............................................................................................................................................. 7
2.1. Gagal Ginjal Kronik ..................................................................................................... 7
2.1.1. Definisi ......................................................................................................................... 7
2.1.2. Klasifikasi .................................................................................................................... 8
2.1.3. Penatalaksanaan Gagal Ginjal Kronik ....................................................................... 10
2.2. Hemodialisa ............................................................................................................... 11
2.2.1. Definisi ....................................................................................................................... 11
2.2.2. Epidemiologi .............................................................................................................. 11
2.2.3. Prinsip Dasar Dialisis ................................................................................................. 12
2.2.4. Efektifitas Dialisis ...................................................................................................... 13
2.2.5. Komponen Dialisis..................................................................................................... 14
2.2.6. Penatalaksaan Dialisis ................................................................................................ 16
2.2.7. Komplikasi Hemodialisis ........................................................................................... 17
2.3. Diabetes Mellitus ....................................................................................................... 17
2.4. Kualitas Hidup ........................................................................................................... 18
2.4.1. Definisi ....................................................................................................................... 18
2.4.2. Aspek-Aspek Yang Memengaruhi Kualitas Hidup.................................................... 19
2.4.3. Model Konsep Kualitas Hidup ................................................................................... 21
2.4.4. Dampak Hemodialisa terhadap Kualitas Hidup ......................................................... 21
2.5. Kerangka Teori .......................................................................................................... 23
2.6. Kerangka Konsep ....................................................................................................... 24
BAB III .......................................................................................................................................... 25
3.1. Design Penelitian ....................................................................................................... 25
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................................................... 25
3.3. Populasi, Sampling dan Teknik Sampling ................................................................. 25
3.4. Metode Pengambilan Sampel..................................................................................... 26
3.5. Kriteria Sampel .......................................................................................................... 26
3.6. Variabel Penelitian ..................................................................................................... 27
3.7. Definisi Operasional .................................................................................................. 27
3.8. Teknik Pengambilan Data .......................................................................................... 31
3.9. Alur Penelitian ........................................................................................................... 32
3.10. Pengolahan Data ........................................................................................................ 33
3.11. Analisis Data .............................................................................................................. 33
3.12. Etika Penelitian .......................................................................................................... 34
3.13. Penyajian Data ........................................................................................................... 35
BAB IV .......................................................................................................................................... 36
4.1. KETERBATASAN PENELITIAN ............................................................................ 36
4.2. HASIL PENELITIAN................................................................................................ 36
4.2.1. Gambaran Tempat Penelitian ..................................................................................... 36
4.2.2. Analisis Univariat ...................................................................................................... 36
4.2.3. Gambaran Univariat ................................................................................................... 40
i. Gambaran Kualitas Hidup berdasarkan aspek Fisik .............................................. 40
ii. Gambaran Kualitas Hidup berdasarkan aspek Psikologi ....................................... 40
iii. Gambaran Kualitas Hidup berdasarkan aspek Sosial............................................. 41
iv. Gambaran Kualitas Hidup berdasaran aspek Lingkungan ..................................... 42
4.2.4. Analisis Bivariat......................................................................................................... 42
i. Hubungan antara usia dengan kualitas hidup pada Pasien hemodialisa ................. 42
ii. Hubungan Pekerjaan dengan Kualitas Hidup ........................................................ 43
iii. Hubungan status perkawinan dengan kualitas hidup pada Pasien hemodialisa ..... 45
iv. Hubungan aspek fisik dengan pasien hemodialisa ................................................. 46
v. Hubungan aspek psikologi dengan pasien hemodialisa ......................................... 47
vi. Hubungan aspek sosial dengan pasien hemodialisa ............................................... 48
vii. Hubungan aspek lingkungan dengan pasien hemodialisa ...................................... 49
4.3. PEMBAHASAN ........................................................................................................ 50
BAB V ........................................................................................................................................... 56
5.1. SIMPULAN ............................................................................................................... 56
5.2. SARAN ...................................................................................................................... 57
5.2.1. Bagi Pelayanan Unit Dialisa .................................................................................. 57
5.2.2. Bagi Institusi Pendidikan ....................................................................................... 57
5.2.3. Bagi Peneliti selanjutnya ........................................................................................ 57
5.2.4. Bagi Rumah Sakit .................................................................................................. 57
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................... 58
DAFTAR SINGKATAN

PTM : Penyakit Tidak Menular


RSIJ-CP : Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih
WHO : World Health Organization
WHOQOL-BREF : Worlf Health Organization Quality of Life-BREF
HRQOL : Health Related to Quality of Life
PGK : Penyakit Ginjal Kronik
GFR : Glomerolus Filtration Rate
HD : Hemodialisa
DM : Diabetes Mellitus
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1.2.1 Klasifikasi penyakit gagal ginjal kronik atas dasar diagnosis etiologi.
Tabel 3.7 Definisi Operasional
Tabel 4.1. Distribusi Berdasarkan Diagnosis Diabetes Mellitus dan Tanpa Diabetes
Mellitus
Tabel 4.2. Distribusi Berdasarkan Umur
Tabel 4.3. Distribusi Berdasarkan Status Perkawinan
Tabel 4.4. Distribusi Berdasarkan Pekerjaan
Tabel 4.5. Gambaran Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa di RSIJ-CP berdasaran
Aspek Fisik
Tabel 4.6. Gambaran Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa di RSIJ-CP berdasaran
Aspek Psikologi
Tabel 4.7. Gambaran Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa di RSIJ-CP berdasaran
Aspek Sosial
Tabel 4.8. Gambaran Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa di RSaIJ-CP berdasaran
Aspek Lingkungan
Tabel 4.9. Hubungan antara Usia dengan pasien hemodilisa dengan komorbiditas
diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus
Tabel 4.10. Hubungan antara pekerjaan dengan pasien hemodilisa dengan
komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus
Tabel 4.11. Hubungan antara status perkawinan dengan pasien hemodilisa dengan
komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus
Tabel 4.12. Hubungan antara aspek fisik dengan terapi hemodialisa pada pasien gagal
ginjal kronik dengan komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes
mellitus
Tabel 4.13. Hubungan antara aspek psikologi dengan terapi hemodialisa pada pasien
gagal ginjal kronik dengan komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa
diabetes mellitus
Tabel 4.14. Hubungan antara aspek sosial dengan terapi hemodialisa pada pasien
gagal ginjal kronik dengan komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa
diabetes mellitus
Tabel 4.15. Hubungan antara aspek dengan terapi hemodialisa pada pasien gagal
ginjal kronik dengan komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes
mellitus
Tabel 4.16. Perbandingan Kualitas Hidup Baik Pasien Hemodialisa dengan
Komorbiditas Diabetes Mellitus dan Tanpa Diabetes Mellitus
Tabel 4.17. Perbandingan Kualitas Hidup Kurang Baik Pasien Hemodialisa dengan
Komorbiditas Diabetes Mellitus dan Tanpa Diabetes Mellitus
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Teori


Gambar 2.2 Kerangka Konsep
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Persetujuan Etik ……………………………………..…………..61


Lampiran 2 3 Surat Perizinan Penelitian ke RSIJ Cempaka Putih….……......……62
Lampiran 3 Surat Perizinan Penelitian dari Rumah Sakit………..….………..…....63
Lampiran 4 Inform Consent ………………………………...…….……………….64
Lampiran 5 Kuesioner WHOQOL-BREF…………………..…...……………….…65
Lampiran 6 Output Data…………………………..………………………………...70
Lampiran 7 Biodata...…………………...…………………………......…..…..…....86
Lampiran 8 Dokumentasi…………………...………………………………….…...92
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Penyakit tidak menular (PTM), merupakan penyakit kronis, tidak
ditularkan dari orang ke orang. PTM mempunyai durasi yang panjang dan
umumnya berkembang lambat. Empat jenis PTM utama menurut WHO adalah
penyakit kardiovaskular (penyakit jantung koroner, stroke), kanker, penyakit
penyakit pernafasan kronis (asma dan penyakit paru obstruksi kronis), dan
diabetes.(1)
Penyakit tidak menular saat ini menjadi perhatian yang sangat penting
pada sektor kesehatan masyarakat, karena memiliki predikat sebagai penyebab
tingginya angka kesakitan dan kematian. Berdasarkan Global Status Report on
Non-communicable Disease (WHO, 2011), sebanyak 63% kematian di dunia
disebabkan oleh penyakit tidak menular, seperti penyakit kardiovaskuler,
diabetes, kanker, dan penyakit pernafasan, dan 80%-nya terjadi di negara
berpendapatan menengah ke bawah (lower-middle income).(2)(3)
Data menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) pada tahun 2013,
penyakit tidak menular (PTM) terdiri dari: (1) asma, (2) penyakit paru
obstruksi kronis (PPOK), (3) kanker, (4) diabetes melitus (DM), (5) hipertiroid.
(6) hipertensi, (7) jantung koroner, (8) gagal jantung, (9) stroke, (10) gagal
ginjal kronis (GGK), (11) batu ginjal, (12) penyakit sendi/rematik.(1) Penyakit
ginjal kronis (PGK) merupakan salah satu pemasalahan kesehatan masyarakat
dunia, dikarenakan prevalensi dan insidens gagal ginjal yang kian meningkat,
berprognosis buruk serta membutuhkan biaya yang tidak murah. Menggunakan
data kesehatan WHO dan Riskesdas, meningkatnya revalensi PGK ini
beriringan dengan meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut dan kejadian
penyakit diabetes melitus serta hipertensi. Sekitar 1 dari 10 populasi global
mengalami PGK pada stadium tertentu.(2) PGK merupakan penyebab kematian

1
Universitas Muhammadiyah Jakarta
2

peringkat ke-27 di dunia tahun 1990 dan meningkat menjadi urutan ke-18 pada
tahun 2010. Sedangkan di Indonesia, perawatan penyakit ginjal merupakan
ranking kedua pembiayaan terbesar dari BPJS kesehatan setelah penyakit
jantung.(2)
Kesehatan adalah anugerah dari Allah SWT yang patut di syukuri,
nikmat kesehatan akan terasa sekali apabila seseorang pernah merasakan
kesakitan sebelumnya. Sakit yang dirasakan merupakan ujian dari Allah SWT
agar seorang hamba senantiasa mengingat Allah SWT. Maka dari itu setiap
penyakit pasti memiliki obatnya sebagai Firman Allah berikut:

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Rabbnya: ‘(Ya


Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang
Maha-penyayang di antara semua penyayang.” (QS. 21:83) Maka Kami pun
memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada
padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat-
gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk
menjadi peringatan bagi semua yang beribadah kepada Allah. (QS.
21:84)” (al-Anbiyaa’: 83-84)(3)
Hasil Riskesdas 2013, menunjukkan prevalensi PTM meningkat seiring
dengan bertambahnya umur, dengan peningkatan tajam pada kelompok umur
35-44 tahun dibandingkan kelompok umur 25-34 tahun. Prevalensi pada laki-
laki (0,3%) lebih tinggi dari perempuan (0,2%), prevalensi lebih tinggi terjadi
pada masyarakat perdesaan (0,3%), tidak bersekolah (0,4%), pekerjaan
wiraswasta, petani/nelayan/buruh (0,3%), dan kuintil indeks kepemilikan

Universitas Muhammadiyah Jakarta


3

terbawah dan menengah bawah masing-masing 0,3%. Sedangkan provinsi


dengan prevalensi tertinggi adalah Sulawesi Tengah sebesar 0,5%, diikuti
Aceh, Gorontalo, dan Sulawesi Utara masing-masing 0,4 %(1)
Ada beberapa treatment untuk menghadapi kasus gagal ginjal kronik.
Saat ini ada tiga terapi modalitas pengobatan yang tersedia untuk gagal ginjal
kronik yang telah mencapai derajat V (End Stage Renal Disease / Penyakit
Ginjal Akhir) yaitu hemodialisis, peritoneal dialisis dan transplantasi ginjal.
Menurut The United States Renal Data System (USRDS 2013) pada tahun
2011 di Amerika jumlah pasien baru yang memulai hemodialisis mulai turun
sebanyak 1,5%, total kejadian pasien yang menjalani dialisis adalah sebanyak
112.788 orang, sementara 2,855 orang telah menerima dan melakukan
transplantasi, total dari semua pasien yang menjalani terapi pada end stage
renal disease pada tahun 2011 adalah sebanyak 115,643 orang.(2) Sedangkan di
Indonesia, menurut Indonesian Renal Registry (IRR) pada oktober 2016
terdapat 169 (44,2%) dari total 382 fasilitas pelayanan dialisis di Indonesia.(2)
Menurut National Kidney Fondation’s Kidney Diseases Outcomes
Quality Initiative (NKF-KDOQI) untuk mengatasi masalah diatas dapat
dilakukan terapi dialysis yaitu hemodialisis dan peritoneal dialysis.(4)
Hemodialisis adalah suatu bentuk tindakan pertolongan dengan menggunakan
alat yaitu dializer yang bertujuan untuk menyaring dan membuang sisa produk
metabolisme toksik yang seharusnya dibuang oleh ginjal. Hemodialisis
merupakan terapi utama selain transplantasi ginjal pada orang- orang dengan
gagal ginjal kronik.(5)
Secara global, penyebab penyakit ginjal kronik terbanyak adalah
Diabetes Melitus. Di Indonesia, sampai dengan tahun 2000 penyebab
terbanyak glomerulonephritis, namun beberapa tahun terakhir menjadi
hipertensi. Kematian pada pasien yang menjalani hemodialysis (HD) selama
tahun 2015 tercatat sebanyak 1243 orang dengan lama hidup HD 1-317 bulan.
Proporsi terbanyak pada pasien dengan lama hidup dengan HD 6-12 bulan.(2)(6)
(7)

Universitas Muhammadiyah Jakarta


4

Kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi


hemodialisis masih merupakan masalah yang menarik perhatian para
profesional kesehatan. Pasien bisa bertahan hidup dengan menjalani terapi
hemodialisis, namun masih menyisakan sejumlah persoalan penting sebagai
dampak dari terapi hemodialisis. Hemodialisis bertujuan untuk
mempertahankan kualitas hidup penderita.(5) Secara umum, pasien
hemodialisis telah secara signifikan berkurang kesehatan fisik dan mental yang
dinilai sendiri dibandingkan dengan populasi. Dan ditemukan bahwa 30-47%
pasien dialisis mengalami gangguan kognitif serta pasien mengalami gangguan
tidur, insomnia, kegelisahan, gangguan kognitif, depresi dan lainnya.
Ditemukannya sekitar 12-40% pada pasien Penyakit Ginjal Akhir (PGA)
ditemukan sangat tinggi dan memenuhi kriteria diagnostik untuk gangguan
mood.(8)
Berdasarkan uraian data diatas bahwa saat ini belum diketahui
gambaran kualitas hidup pasien hemodialisis dengan komorbiditas diabetes
mellitus dan tanpa kemorbiditas diabetes mellitus di Rumah sakit Islam Jakarta
Cempaka Putih, maka peneliti tertarik untuk melakukan kajian terhadap
gambaran tingkat depresi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani
hemodialisa di Rumah sakit Islam Jakarta Cempaka Putih. Untuk itu peneliti
mengambil judul “Hubungan Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa dengan
komorbiditas Diabetes Mellitus dan tanpa komorbiditas diabetes mellitus di
Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih 2017”
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas penulis ingin mengetahui
Hubungan Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa dengan komorditas Diabetes
Mellitus dan tanpa komoditas diabetes mellitus di Rumah Sakit Islam Jakarta
Cempaka Putih.

Universitas Muhammadiyah Jakarta


5

1.3.Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Kualitas
Hidup Pasien Hemodialisa dengan komoribiditas Diabetes Mellitus dan
tanpa komoribiditas iabetes mellitus di Rumah Sakit Islam Jakarta
Cempaka Putih.
1.3.2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui karakteristik responden pasien Hemodialisa dengan
komorbiditas Diabetes Mellitus dan tanpa komorbiditas diabetes
mellitus di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih.
b. Mengetahui derajat kualitas hidup pada pasien Hemodialisa dengan
komorbiditas Diabetes Mellitus dan tanpa komorbiditas diabetes
mellitus di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih
1.4.Ruang Lingkup Penelitian
Secara umum penelitian ini ingin mengetahui gambaran kualitas hidup
pasien yang mengidap Diabetes Melitus pada pasien Hemodialisa dengan
komorbiditas Diabetes Mellitus dan tanpa komorbiditas diabetes mellitus di
Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih. Penelitian dilakukan dengan
menggunakan data primer dan data sekunder untuk mengetahui Kualitas Hidup
pasien yang menjalani Hemodialisa dengan komerbiditas Diabetes Melitus dan
tanpa Kemorbiditas Diabetes Melitus di Rumah Sakit Islam Jakarta dengan
desain penelitian observasional dan pengambilan datanya dilakukan pada
waktu sesaat dan secara bersamaan (cross sectional) untuk variabel bebas dan
variabel terikatnya dan selanjutnya dilakukan uji statistik.
1.5.Manfaat Penelitian
1.5.1. Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini dapat dijadikan sumber informasi kepada dunia
medis sebagai sumber rujukan terhadap penelitian selanjutnya.

Universitas Muhammadiyah Jakarta


6

b. Penelitian ini dapat dijadikan sumber wawasan kepada masyarakat


umum maupun kepada dunia kesehatan.
1.5.2. Manfaat Aplikatif
a. Bagi Peneliti
Menjadikan penelitian ini sebagai media pembelajaran dan
menambah pengalaman dalam bidang penelitia serta meningkatkan
pengetahuan peneliti sehubungan dengan gambaran kualitas hidup
pada pasien Hemodialisa dengan komorditas Diabetes Mellitus dan
tanpa komorbiditas diabetes mellitus di Rumah Sakit Islam Jakarta
Cempaka Putih.
b. Bagi Peneliti Lain
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi, tambahan
wawansan serta untuk lebih mendalami Hubungan Kualitas hidup
pada pasien Hemodialisa dengan komorbiditas Diabetes Mellitus
dan tanpa komorbiditas Diabetes Mellitus di Rumah Sakit Islam
Jakarta Cempaka Putih.
c. Bagi Institusi kesehatan
Hasil dari penelitian ini mampu menjadi sumber informasi dan
sebagai rujukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan untuk
meingkatkan kualitas hidup pasien.
d. Bagi Rumah Sakit
Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan referensi, menambah
jumlah riset yang dilakukan di Rumah Sakit serta untuk
meningkatkan kuaitas pelayanan Rumah Sakit.

Universitas Muhammadiyah Jakarta


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1.Gagal Ginjal Kronik


2.1.1. Definisi
Gagal ginjal kronik (chronic kidney disease) adalah destruksi
struktur ginjal yang progresif dan terus menerus. Gagal ginjal kronik
dapat timbul dari hampir semua penyakit penyerta, akan terjadi
perburukan fungsi ginjal secara progresif yang ditandai dengan
penurunan laju filtrasi glomerulus (GFR) yang progresif
(<60ml/menit/1,73m2)(9). Sedangkan menurut The National Kidney
Foundation mendefinisikan gagal ginjal kronik sebagai adanya
kerusakan ginjal, atau menurunnya tingkat fungsi ginjal untuk jangka
waktu tiga bulan atau lebih. Gagal ginjal kronik ini dapat dibagi lagi
menjadi 5 tahap, tergantung pada tingkat keparahan kerusakan ginjal
dan tingkat penurunan fungsi ginjal. Tahap 5 Chronic Kidney Disease
(CKD) disebut sebagai stadium akhir penyakit ginjal atau Penyakit
Ginjal Akhir (PGA). Tahap ini merupakan akhir dari fungsi ginjal.
Ginjal bekerja kurang dari 15% dari normal.(5)
Penyakit gagal ginjal kronik adalah suatu proses patofisiologis
dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal
yang progresif, dan pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal.
Selanjutnya, gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai
dengan penurunan fungsi ginjal yang ireversibel, pada suatu derajat
yang memerlukan terapi penggati ginjal yang tetap, berupa dialisis atau
transplantasi ginjal.(10). Secara global, penyebab penyakit ginjal kronik
terbanyak adalah Diabetes Melitus. Di Indonesia, sampai dengan tahun
2000 penyebab terbanyak glomerulonephritis, namun beberapa tahun
terakhir menjadi hipertensi. Kematian pada pasien yang menjalani

7
Universitas Muhammadiyah Jakarta
8

hemodialysis (HD) selama tahun 2015 tercatat sebanyak 1243 orang


dengan lama hidup HD 1-317 bulan. Proporsi terbanyak pada pasien
dengan lama hidup dengan HD 6-12 bulan.(2)(6) (7)
2.1.2. Klasifikasi
Klasifikasi penyakit gagal ginjal kronik didasarkan dua hal yaitu,
atas dasar derajat (stage) penyakit dan atas dasar diagnosis etiologi.
Penurunan laju filtrasi glomerulus dapat digunakan untuk
mengklarifikasi gagal ginjal kronis. Menurut Clinical Nephrology
dialysis and tranplantasion, klasifikasi gagal ginjal kronis(11):
a. Gagal Ginjal Tahap 1
Tahap pertama terjadi penurunan fungsi ginjal, namun
laju filtrasi glomerulus masih dalam batasan normal (lebih dari
90 ml/menit/1,73 m2). Biasanya pasien belum merasakan gejala
akibat penurunan fungsi ginjal.
b. Gagal Ginjal Tahap 2
Tahapan ini mengalami kerusakan ginjal dengan
penurunan ringan laju filtrasi glomerulus sebesar 68-89
ml/menit/1,73 m2
c. Gagal Ginjal Tahap 3
Pada tahap ini terjadi penurunan fungsi ginjal yang
ditandai dengan penurunan sedang laju filtrasi glomerulus,
dengan LFG berkisar antara 30-59 ml/menit/1,73 m2.
d. Gagal Ginjal Tahap 4
Pada tahap 4 penurunan fungsi ginjal semakin jelas yang
ditandai dengan penurunan laju filtrasi glomerulus pada tahap
ini berkisar diantara 15-29 ml/menit/1,73 m2.
e. Gagal Ginjal Tahap 5
Tahap 5 merupakan tahap akhir dari gagal ginjal kronis,
sehingga disebut sebagai penyakit ginjal tahap akhir (end stage
renal disease). Laju filtrasi glomerulus pada tahap ini sampai

Universitas Muhammadiyah Jakarta


9

pada level terendah yaitu kurang dari 15 ml/menit/1,73 m2.


Penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara progresif
menyebabkan pasien harus menjalani terapi pengganti ginjal
terutama terjadi sindrom uremia.

Klasifikasi Penyakit Gagal Ginjal Kronik Atas Dasar Diagnosis


Etiologi(10):
Jenis Penyakit Contoh:
Penyakit ginjal diabetes Diabetes tipe 1 dan 2
Penyakit ginjal non diabetes Penyakit glomerular
(penyakit otoimun,
infeksi sistemik, obat,
neoplasia)
Penyakit vascular
(penyakit pembuluh
darah besar, hipertensi,
mikroangiopati)
Penyakit
tubulointerstitial
(pielonefritis kronik,
batu, obstruksi,
keracunan obat)
Penyakit kistik (ginjal
polikistik)
Penyakit pada transplantasi Rejeksi kronik
Keracunan obat
(siklosporin/takrolimus)
Penyakit reccurent
(glomerular)

Universitas Muhammadiyah Jakarta


10

Transplant
glomerulopathy
Tabel 2.1.2.1 Klasifikasi penyakit gagal ginjal kronik atas
dasar diagnosis etiologi.
2.1.3. Penatalaksanaan Gagal Ginjal Kronik
Waktu yang paling tepat untuk terapi penyakit dasarnya adalah
sebelum terjadinya penurunan LFG, sehingga pemburukan fungsi
ginjal tidak terjadi. Sebaliknya, bila LFG sudah menurun sampai 20-
30% dari normal, terapi terhadap penyakit dasar sudah tidak banyak
bermanfaat.(10)
Usaha harus ditunjukkan untuk mengurangi gejala, mencegah
kerusakan/pemburukan faal ginjal yang terdiri dari; pengaturan cairan
dan elektrolit, hipertensi, pengendalian kalium dalam darah,
penanggulangan anemia, pengobatan dan pencegahan infeksi,
pengurangan protein dalam makanan, pengobatan neuropati, dialisis,
dan transplantasi ginjal.(10)
Pengobatan konservatif(12)
a. Penentuan dan pengobatan penyebab
b. Pengoptimalan dan rumatan keseimbangan garam dan air
c. Koreksi obstruksi saluran kemih
d. Deteksi awal dan pengobatan infeksi
e. Pengendalian hipertensi
f. Diet rendah protein, tinggi kalori
g. Pengendalian keseimbangan elektrolit
h. Pencegahan dan pengobatan penyakit tulang ginjal
i. Modifikasi terapi obat dengan perubahan fungsi ginjal
j. Deteksi dan pengobatan komplikasi

Terapi Pengganti Ginjal(12)

Universitas Muhammadiyah Jakarta


11

a. Hemodialisis
b. Dialisis peritoneal
c. Transplantasi ginjal
2.2.Hemodialisa
2.2.1. Definisi
Hemodialisis, menurut National Institute of Diabetes and
Digestive and Kidney Diseases adalah terapi untuk gagal ginjal yang
menggunakan mesin untuk menyaring darah di luar tubuh. Dengan
perawatan hemodialisis yang menempatkan dua jarum ke lengan.
Darah akan disaring melalui tabung disebut dialyzer yang didalam nya
mengalir melalui serat tipis yang menyaringnya yang menggunakan
mesin untuk menyaring darah yang ada.(13)
Tujuan dari hemodialisis adalah untuk menyaring darah
menggunakan mesin untuk menyaring limbah dan cairan berlebih dari
dari tubuh sebagaimana kerja ginjal normal dan sehat. Hemodialisa
membantu mengendalikan tekanan darah dan menstabilkan mineral-
meneral yang penting bagi tubuh seperti potassium, sodium, kalsium,
dan bikarbonat yang ada di peredaran darah. Hemodialisis berfungsi
sebagai membantu fungsi ginjal yang sudah tidak normal lagi. Dengan
hemodialisa pasien gagal ginjal dapat merasakan hidup yang lebih
baik(6)
2.2.2. Epidemiologi
Pasien yang dirawat dengan Hemodialisis di Amerika tercatat
lebih dari 400.000 dengan rata-rata pengeluaran $90.000 perorangnya
pertahun yang dirawat di tahun 2012. Jumlah ini naik beberapa kali
lipat lebih tinggi daripada individu dengan usia yang sama pada
populasi umum walaupun angka kematian pada menurun hingga 30%
sejak tahun 1999 namun pasien minimal pengunjungi dua rumah sakit
setiap tahunnya untuk pengobatan.(14)

Universitas Muhammadiyah Jakarta


12

The 7th Annual Report of Indonesian Renal Registry mencatat


bahwa Indonesia pada tahun 2014 yang menjalani Hemodialisa dari
tahun 2007-2014 pasien baru bertambah tiga kali lipat yaitu dari 4977
di tahun 2007 hingga menjadi 17193 ditahun 2014. Sedangkan pasien
yang aktif bertambah enam kali lipatnya dari 1885 menjadi 11689.
Jumlah pasien laki-laki setiap tahunnya melebihi jumlah pasien
perempuan.(6)
2.2.3. Prinsip Dasar Dialisis
Prinsip dasar ginjal buatan adalah mengalirkan darah saluran
darah kecil yang dilapisi oleh membrane tipis. Pada sisi lain membrane
tipis ini terdapat cairan dialysis tempat zat-zat tidak diinginkan dalam
darah masuk kedalamnya melalui difusi.(15)
Hemodialisis menerapkan prinsip-prinsip difusi zat terlarut
yang melintasi membran semipermeabel. Gerakan zat sisa metabolik
terjadi di bawah gradien konsentrasi dari sirkulasi ke dialisat.
Kecepatan peningkatan transpor diffusi dipengaruhi oleh beberapa
faktor, besarnya gradien konsentrasi, luas permukaan membran,
koefisien perpindahan massa membran, ukuran molekul zat terlarut,
dan kondisi aliran pada kedua sisi membran. Menurut hukum difusi,
semakin besar molekulnya, semakin lambat laju transfer melintasi
membran. Sebuah molekul kecil, seperti urea (60 Da), mengalami
ekskresi yang efektif, sedangkan molekul yang lebih besar, seperti
creatine (133 Da), eksresi yang tak begitu efektif. Selain clearance
diffusive, pergerakan produk limbah dari sirkulasi ke dialisat mungkin
terjadi karena hambatan pelarut, dengan zat terlarut disapu bersama
dengan air di membran dialisis semipermeable.(16)
Terdapat dua jenis cairan dialysis yang sering digunakan yaitu
cairan asetat dan bikarbonat. Kerugian cairan asetat adalah bersifat
asam sehingga dapat menimbulkan suasa asama di dalam darah yang
akan bermanifestasi sebagao vasodilatasi. Vasodilatasi akibat cairan

Universitas Muhammadiyah Jakarta


13

asetat ini akan mengurangi kemampuan vasokontriksi pembuluh darah


yang diperlukan tubuh untuk memperbaiki gangguan hemodinamik
yang terjadi selama hemodialisis. Keuntungan cairan bikarbona adalah
dapat memberikan bikarbonat ke dalam darah yang akan menetralkan
asidosis yang biasa terdapat pada pasien dengan ginjal kronik dan juga
tidak menimbulkan vasodilatasi. Jumlah dan tekanan darah yang
mengalir ke dialiser harus memadai sehingga perlu suatu akses khusus.
Akses khusus ini pada umumnya adalah vena lengan yang sudah
dibuatkan fistula dengan arteri radialis atau ulnaris.(10)
Hemodialisis menggunakan mesin untuk memindahkan darah
melalui saringan, yang disebut dialyzer, di luar tubuh Anda. Pompa
pada mesin hemodialisis menarik darah melalui jarum ke dalam tabung,
beberapa ons sekaligus. Darah kemudian bergerak melalui tabung,
yang membawanya ke dialyzer. Di dalam dialyzer, akan menyaring zat
sisa dan cairan berlebih yang terdapat di darah. Setelah dialyzer
menyaring darah, tabung lain membawa darah kembali ke tubuh Anda.
Hemodialisis bisa menggantikan sebagian fungsi ginjal. Serta akan
memerlukan perubahan pola makan, obat-obatan, dan batasan air dan
cairan lain yang diminum dan dapatkan dari makanan. Perubahan diet,
jumlah obat-obatan yang dibutuhkan, dan batas cairan akan bergantung
pada tempat pasien menerima perawatan -di pusat dialisis atau di
rumah- serta seberapa sering ia menerima perawatan-tiga atau lebih kali
dalam seminggu.(17)
2.2.4. Efektifitas Dialisis
Efektifitas HD tercapai bila dilakukan 2-3 kali dalam seminggu
selama 4-5 jam, atau paling sedikit 10–12 jam seminggu. Hemodialisis
di Indonesia biasanya dilakukan 2 kali seminggu dengan lama
hemodialisis 5 jam, atau dilakukan 3 kali dalam seminggu dengan lama
hemodialisis 4 jam. (6)(18)

Universitas Muhammadiyah Jakarta


14

Sebelum HD dilakukan pengkajian pradialisis, dilanjutkan


dengan menghubungkan klien dengan mesin HD dengan memasang
blood line dan jarum ke akses vaskuler klien, yaitu akses untuk jalan
keluar darah ke dialiser dan akses masuk darah ke dalam tubuh. Arterio
Venous (AV) Fistula adalah akses vaskuler yang direkomendasikan
karena cenderung lebih aman dan juga nyaman bagi pasien(17)(19)
Setelah blood line dan akses vaskuler terpasang, proses HD
dimulai. Saat dialisis darah dialirkan ke luar tubuh dan disaring di
dalam dialiser. Darah mulai mengalir dibantu pompa darah. Cairan
normal salin diletakkan sebelum pompa darah untuk mengantisipasi
adanya hipotensi intradialisis. Infus heparin diletakkan sebelum atau
sesudah pompa tergantung peralatan yang digunakan. Darah mengalir
dari tubuh melalui akses arterial menuju ke dialiser sehingga terjadi
pertukaran darah dan zat sisa. Darah harus dapat keluar dan masuk
tubuh pasien dengan kecepatan 200–400 ml/menit.(17)(19)
Proses selanjutnya darah akan meninggalkan dialiser. Darah
yang meninggalkan dialiser akan melewati detektor udara. Darah yang
sudah disaring kemudian dialirkan kembali kedalam tubuh melalui
akses venosa. Dialisis diakhiri dengan menghentikan darah dari pasien,
membuka selang normal salin dan membilas selang untuk
mengembalikan darah pasien. Pada akhir dialisis, sisa akhir
metabolisme dikeluarkan, keseimbangan elektrolit tercapai dan buffer
system telah diperbaharui.(17)(19)
2.2.5. Komponen Dialisis
a. Akses Vaskuler
Akses vaskular merupakan jalan untuk memudahkan
pengeluaran darah dalam proses hemodialisis untuk kemudian
dimasukkan lagi ke dalam tubuh pasien. Akses yang adekuat akan
memudahkan dalam melakukan penusukan dan memungkinkan
aliran darah sebanyak 200 -300 mL/menit untuk mendapatkan hasil

Universitas Muhammadiyah Jakarta


15

yang optimal. Akses vaskular dapat berupa kanula atau kateter yang
dimasukkan ke dalam lumen pembuluh darah seperti sub clavia,
jugularis, atau femoralis. Akses juga dapat berupa pembuluh darah
buatan yang menyambungkan vena dengan arteri yang disebut
Arterio Venousus Fistula (Cimino).(6)(20)(21)
b. Dialiser
Merupakan komponen penting yang merupakan unit fungsional
dan memiliki fungsi seperti nefron ginjal. Berbentuk seperti tabung
yang terdiri dari 2 ruang yaitu kompartemen darah dan kompartemen
dialisat yang dipisahkan oleh membran semi permeabel. Di dalam
dialiser cairan dan molekul dapat berpindah dengan cara difusi,
osmosis, ultrafiltrasi, dan konveksi. Dialiser yang mempunyai
permebilitas yang baik mempunyai kemampuan yang tinggi dalam
membuang kelebihan cairan, sehingga akan menghasilkan bersihan
yang lebih optimal(20)(21)
c. Aliran Dialisat
Merupakan cairan yang komposisinya seperti plasma normal
dan terdiri dari air dan elektrolit, yang dialirkan ke dalam dialiser.
Dialisat digunakan untuk membuat perbedaan konsentrasi yang
mendukung difusi dalam proses hemodialisis. Dialisat merupakan
campuran antara larutan elektrolit, bikabonat, dan air yang berperan
untuk mencegah asidosis dengan menyeimbangkan kadar asam basa.
Untuk mengalirkan dialisat menuju dan keluar dari dialiser
memerlukan kecepatan aliran dialisat yang disebut Quick of
Dialysate (Qd). Untuk mencapai hemodialisis yang adekuat Qd yang
disarankan adalah 400-800 mL/menit(20)(21)
d. Mesin Hemodialisa
Mesin hemodialisis merupakan mesin yang dibuat dengan
sistem komputerisasi yang berfungsi untuk pengaturan dan

Universitas Muhammadiyah Jakarta


16

monitoring yang penting untuk mencapai adekuasi


hemodialisis.(20)(21)
2.2.6. Penatalaksaan Dialisis
A. Indikasi
Indikasi dilakukan tindakan dialisis adalah pasien gagal ginjal
dengan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) < 15 mL/menit/1,73 m2,
pasien dengan Tes Klirens Kreatinin (TKK)/LFG < 10
mL/menit/1,73 m2 dengan gejala uremia, atau TKK/LFG < 5
mL/menit walau tanpa gejala. Pada TKK/LFG <5 mL/menit/1,73
m2, fungsi ekskresi ginjal sudah minimal sehingga mengakibatkan
akumulasi zat toksik dalam darah dan komplikasi yang
membahayakan bila tidak dilakukan tindakan dialisis segera.(22)
Pada tahun 2006, Kidney Disease Outcome Quality
Initiative (KDOQI) merekomendasikan Indikasi Hemodialisis yang
tepat pada pasien Penyakita Gagal Ginjal) tahap 5, inisiasi
Hemodialisa dilakukan apabila(10):
a. Uremia > 200 mg%
b. Kelebihan (overload) cairan ekstraseluler yang sulit
dikendalikan dan/atau hipertensi.
c. Hiperalemia > 7 meq/liter yang refrakter terhadap restriksi
dan terapi farmakologis
d. Asidosis metabolic yang refraktur terhadap pemberian terapi
bikarbonat dengan pH darah < 7,2
e. Hiperfosfatemia yang refraktur terhadap restriksi diit dan
terapi pengikat fosfat
f. Anemia yang refrakter terhadap pemberian eritropoietin dan
besi.
g. Adanya penurunan kapasitas fungsional atau kualitas hidup
tanpa penyebab yang jelas.

Universitas Muhammadiyah Jakarta


17

h. Penurunan berat badan atau malnutrisi, terutama apabila


diserati gejala mual, muntah, atau adanya bukti lain
gastroduodenitis.
i. Gangguan neurologis (seperti neuropati, ensefalopati,
gangguan psikiatri), pleuritic atau pericarditis yang tidak
disebabkan oleh penyebab lain, serta diatesis hemoragik
dengan pemanjangan waktu perdarahan.
B. Kontraindikasi
Kontraindikasi absolut untuk dilakukan hemodialisis adalah
apabila tidak didapatkannya akses vascular. Kontraindikasi relative
adalah apabila ditemukan adanya kesulitan akses vascular, fobia
terhadap jaum, gagal jantung, dan koagulopati.(10)
2.2.7. Komplikasi Hemodialisis
Komplikasi Akut yang sering terjadi selama Hemodialisis
adalah terjadiya hipotensi, efek vasodilatasi akibat pemakaian buffer
asetat, kram otot dan lainnya. Sedangkan kompikasi jangka panjang
yang dapat terjadi adalah penyakit kardiovaskular yang menjadi
penyebab utama kematian pasien penyakit ginjal tahap akhir (PGA)
selain berkaitan dengan infeksi.(10)
2.3.Diabetes Mellitus
Menurut World Health Organization (WHO), Ada dua bentuk utama
diabetes(23):
a. Diabetes tipe 1 (sebelumnya dikenal sebagai ketergantungan insulin) –
Diabetes Insipidus- di mana pankreas gagal menghasilkan insulin yang
penting untuk bertahan hidup. Bentuk ini berkembang paling sering pada
anak-anak dan remaja namun semakin dikenal di kemudian hari.
b. Diabetes tipe 2 (sebelumnya bernama non-insulin-dependent) –Diabetes
Mellitus- yang berakibat dari ketidakmampuan tubuh untuk merespon
dengan benar terhadap aksi insulin yang diproduksi oleh pankreas.
Diabetes tipe 2 jauh lebih umum dan menyumbang sekitar 90% dari semua

Universitas Muhammadiyah Jakarta


18

kasus diabetes di seluruh dunia. Hal ini terjadi paling sering pada orang
dewasa namun juga dicatat pada remaja juga.
Diabetes mellitus adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh
kekurangan dalam produksi insulin oleh pankreas, atau oleh ketidakefektifan
insulin yang dihasilkan. Kekurangan tersebut menyebabkan peningkatan
konsentrasi glukosa dalam darah, yang pada gilirannya merusak banyak sistem
tubuh, khususnya pembuluh darah dan saraf.(23) Diabetes Mellitus atau yang
biasa disebut diabetes tipe 2 dan kini juga disebut sebagai Non-Insulin-
Dependent Diabetes merupakan 90-95% dari kasus diabetes pada dewasa.
Sebanyak 26 juta penduduk dewasa Amerika telah terdiagnosis Diabetes
Mellitus. (24)(25)
Dengan diabetes tipe 2, pankreas biasanya menghasilkan insulin. Tapi
jumlah yang dihasilkan tidak cukup untuk kebutuhan tubuh, atau sel-sel tubuh
resisten terhadapnya. Resistensi insulin, atau kurangnya sensitivitas terhadap
insulin, terutama terjadi pada sel lemak, hati, dan otot.(24)
2.4.Kualitas Hidup
2.4.1. Definisi
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendefenisikan
sejak berabad-abad yang lalu mengenai makna sebuah kesehatan,
secara konvensional bisa diukur melalui pemeriksaan fisik dan
prosedur objektif atau melalui serangkaian tes medis untuk mengetahui
memverifiasi sebuah penyakit. Langkah-langkah ini umumnya
dilakukan di tingkat individu, masyarakat hingga ke pelayanan rumah
sakit. Tahun 1980-an, pencarian mengenai pengembangan indeks
kesehatan secara keseluruhan dilihat dari dimensi. Beberapa variabel
yang umumnya dianggap berada dalam domain kesehatan meliputi
kematian dini dan harapan hidup, berbagai gejala dan keadaan
fisiologis, fungsi fisik, fungsi emosional dan kognitif, dan persepsi
tentang kesehatan masa sekarang dan masa depan.(26)

Universitas Muhammadiyah Jakarta


19

World Health Organization (WHO) mendefinisikan Quality of


Life sebagai persepsi individu tentang posisi mereka dalam kehidupan
dalam konteks sistem budaya dan nilai di mana mereka tinggal dan
dalam kaitannya dengan tujuan, harapan, standar dan keprihatinan
mereka. Ini adalah konsep luas yang dipengaruhi secara kompleks oleh
kesehatan fisik seseorang, keadaan psikologis, kepercayaan pribadi,
hubungan sosial dan hubungannya dengan fitur penting lingkungan
mereka.(27) Kualitas hidup (QOL) memiliki makna yang sangat luas,
mengandung keseluruhan rasa kesejahteraan, termasuk aspek
kebahagiaan serta kepuasan hidup sebagai seorang insan.(26)
Kesehatan adalah hal yang tak lepas dari kualitas hidup, adapun
beberapa domain yang memengaruhi kualitas hidup seseorang seperti
pekerjaan, tempat tinggal, sekolah, dan lingkungan sekitar. Aspek
budaya, nilai, dan spiritualitas juga merupakan aspek kunci dari
keseluruhan kualitas hidup yang mempertajam hasil pengukuran
kualitas hidup seseorang. (26) Konsep kualitas hidup terkait kesehatan -
health-related quality of life-(HRQOL) dan faktor penentunya telah
berevolusi sejak tahun 1980an untuk mencakup aspek kualitas
keseluruhan kehidupan yang dapat ditunjukkan dengan jelas untuk
mempengaruhi kesehatan - baik fisik maupun mental. Pada tingkat
individu, ini mencakup persepsi kesehatan fisik dan mental dan
hubungannya, termasuk risiko dan kondisi kesehatan, status fungsional,
dukungan sosial, dan status sosial ekonomi. Namun, beberapa aspek
kesehatan tampaknya tidak memiliki pengaruh langsung terhadap
kualitas hidup pada saat penilaian. Ini termasuk penyakit akut dan
kronik seperti Diabetes Mellitus, paparan, atau predisposisi genetik
yang tidak diketahui individu tanpa gejala.(26)(28)
2.4.2. Aspek-Aspek Yang Memengaruhi Kualitas Hidup
Konsep kualitas hidup terkait kesehatan -health-related quality
of life-(HRQOL) dan faktor penentunya telah berevolusi sejak tahun

Universitas Muhammadiyah Jakarta


20

1980an untuk mencakup aspek kualitas keseluruhan kehidupan yang


dapat ditunjukkan dengan jelas untuk mempengaruhi kesehatan fisik
maupun mental. Pada tingkat individu, ini mencakup persepsi
kesehatan fisik dan mental dan hubungannya, termasuk risiko dan
kondisi kesehatan, status fungsional, dukungan sosial, dan status sosial
ekonomi. Namun, beberapa aspek kesehatan tampaknya tidak memiliki
pengaruh langsung terhadap kualitas hidup pada saat penilaian. Ini
termasuk penyakit akut dan kronik, paparan, atau predisposisi genetik
yang tidak diketahui individu tanpa gejala.(26)(28) Adapun aspek-aspek
yang memengaruhi kualitas hidup dikembangkan melalui kuesioner
World Health Organization WHOQOL(7):
a. Aspek Fisik
 kemampuan beraktifitas sehari-hari
 nergisitas da kelelahan
 rasa sakit dan ketidaknyaman dalam beraktifitas
 pola tidur dan istirahat
 kapasitas dalam bekerja.
b. Aspek Psikologi
 kepuasaan terhadap bentuk tubuh mulai dari apakah ada
ketidakmampuan fisik yang dapat memengaruhi aspek fisik
 keelokan dalam bepenampilan
 perasaan positif dan negative
 harga diri di lingkungan
 ketaatan pada kepercayaan yang dianut
 cara berpikir, belajar, mengingat dan konsentrasi.
c. Aspek Sosial
 hubungan antarpersonal
 dukungan sosial
 aktifitas sosial individu itu sendiri

Universitas Muhammadiyah Jakarta


21

d. Aspek Lingkungan
 sumber keuangan
 kebebasan diri dan keamanan diri di lingkungan
 suasana rumah
 kesempatan untuk menerima informasi
 mengasah skill
 berekreasi dan melancong
 keadaan lingkungan mulai dari kebersihan
 polusi udara, suara gaduh, perubahan iklim
 ketersediaan transportasi
2.4.3. Model Konsep Kualitas Hidup
Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat akan menilai kualitas
hidup. Kualitas hidup sangat berhubungan dengan aspek/domain yang
akan dinilai yang meliputi : fisik, psikologis, hubungan sosial dan
lingkungan. Model konsep kualitas hidup dari WHO (The Word Health
Organization Quality of Life / WHOQoL ) mulai berkembang sejak
tahun 1991. Instrumen ini terdiri dari 26 item pertanyaan yang terdiri
dari 4 domain yaitu : 1) Domain kesehatan fisik yang terdiri dari : rasa
nyeri, energi, istirahat, tidur, mobilisasi, aktivitas, pengobatan dan
pekerjaan; 2) Domain psikologi yang terdiri dari : perasaan positif dan
negatif, cara berfikir, harga diri, body image, spiritual; 3) Domain
hubungan sosial terdiri dari : hubungan individu, dukungan sosial,
aktivitas seksual; 4) Domain lingkungan meliputi keamanan fisik,
lingkungan rumah, sumber keuangan, fasilitas kesehatan, mudahnya
mendapat informasi, kesehatan, rekreasi, transportasi(5) (7) (27)
2.4.4. Dampak Hemodialisa terhadap Kualitas Hidup
Meski kualitas hidup berkaitan dengan kesehatan, konsepnya
sangat berbeda dengan kesehatan. Pada tahun 1997, Evans melaporkan
bahwa istilah "kualitas hidup" telah digunakan "secara bergantian
dengan istilah seperti kesejahteraan, kesejahteraan psikologis,

Universitas Muhammadiyah Jakarta


22

kebahagiaan, kepuasan hidup, pengaruh positif dan negatif, dan


kehidupan yang baik". Karena ada begitu banyak aspek kualitas hidup,
sulit untuk mempertimbangkan segala sesuatu yang mungkin berperan
di dalamnya.(8) Pengguna terapi hemodialisis mempunyai respon fisik
dan psikologis terhadapa tindakan hemodialisis yang mana dipengaruhi
oleh beberapa factor, seperti karakteristik individu, pengalaman
sebelumya dan mekanisme koping. Dampak dari hemodialisis dapat
berupa malnutrisi, anemia, uremia, menurunnya motivasi, gangguan
tidur, depresi yang dapat menurunkan kualitas hidup.(8) (19)
Hasil
penelitian didapatkan bahwa klien mengalami reaksi emosional seperti
tidak berdaya, sedih, marah, takut, merasa bersalah. Ketika pertama
kali klien dinyatakan gagal ginjal, klien merasa bingung apa yang harus
dilakukan, sering menangis dan merasa terisolasi. Selain itu juga
dirasakan adanya stres bagi klien juga berdampak pada anggota
keluarga.(19)

Universitas Muhammadiyah Jakarta


23

2.5.Kerangka Teori

Tanpa
Komorbiditas

Diabetes Mellitus

Umur

Pekerjaan

Status Perkawinan
Bagan 2.1 Kerangka Teori
Keterangan

= Diteliti = Tidak Ditelit

Universitas Muhammadiyah Jakarta


24

2.6.Kerangka Konsep
Kerangka konsep dalam penelitian terdiri atas variabel independen dan
variabel independen, adapun yang termasuk kedalam variabel independen
(bebas) dalam penelitian ini adalah Hemodialisis dengan komerbiditas Diabetes
mellitus dan tanpa komerbiditas diabetes mellitus. Sedangkan variabel
dependennya (tergantung) adalah Kualitas Hidup yang didalamnya terkandung
aspek seperti kesehatan fisik, psikologi, tingkat kemandirian, hubungan sosial,
lingkungan serta spiritual. Dibawah ini merupakan gambaran kerangka konsep
dalam penelitian ini yaitu:

VARIABEL DEPENDEN
Aspek Kualitas Hidup:
VARIABEL INDEPENDEN
Aspek Fisik, Aspek Psikologi, Aspek
Pasien Hemodialisis:
Sosial, Aspek Lingkungan
-Dengan Komorbiditas Diabetes Mellitus
-Tanpa Diabetes Mellitus
Karakteristik responden:
Umur, Jenis Kelamin dan Pekerjaan

Bagan 2. 2 Kerangka Konsep

2.7. Hipotesis
H0 : Tidak Terdapat Hubungan kualitas hidup pada pasien hemodialisa dengan
komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus di Rumah
Sakit Islam Cempaka Putih 2017
Hɑ : Terdapat Hubungan kualitas hidup pada pasien hemodialisa dengan
komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus di Rumah
Sakit Islam Cempaka Putih 2017

Universitas Muhammadiyah Jakarta


25

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1.Design Penelitian
Penelitian ini mengunakan desain non eksperimental dimana
pengambilan datanya dilakukan pada waktu sesaat dan secara bersamaan
(cross sectional) untuk variabel bebas dan variabel terkaitnya. Cara
pengumpulan data cross sectional, digunakan dengan pertimbangan relatif
lebih mudah dan cepat dilakukan sehingga tidak memerlukan waktu dan biaya
yang terlalu besar.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan data
sekunder menggunakan Rekam Medis serta data primer berupa kuesioner
untuk mengetahui Gambaran Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa dengan
Komeriditas Diabetes Mellitus dan tanpa Komerbiditas Diabetes Mellitus di
Rumah Sakit Islam Jakarta tahun 2017.
3.2.Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih pada bulan
November 2017.
3.3.Populasi, Sampling dan Teknik Sampling
3.3.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang menjalani
hemodialisa yang sudah terdata sebanyak 182 orang melalui Rekam Medis
dan Unit Dialisis di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih pada bulan
November 2017.
3.3.2. Sampel
Masyarakat yang merupakan pasien yang menjalani hemodialisa di
Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih pada bulan November 2017
yang bersedia menjadi subjek penelitian dan menandatangani lembar

Universitas Muhammadiyah Jakarta


26

inform consent, dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang


ditentukan.
3.3.3. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah
total sampling. Total Sampling adalah teknik pengambilan sampel
dimana jumlah sampel sama dengan populasi. Alasan mengambil total
sampling karena jumlah populasi 182 seluruh populasi dijadikan
sampel penelitian semuanya.
3.4.Metode Pengambilan Sampel
Cara pengambilan sampel menggunakan cara pemilihan dengan
insidential sampling. Pemilihan sekelompok subjek dalam insidential
Sampling didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai sangkut
paut yang erat dengan erat dengan ciri-ciri populasi yang sudah diketahui
sebelumnya, dengan kata lain unit sampel yang dikubungi sesuai dengan
kriteria-kriteria tertentu yang diterapkan berdasarkan tujuan penelitian. Pada
penelitian ini, peneliti akan melakukan penelitian mengenai hubungan
Hemodialisis dengan komerbiditas Diabetes Mellitus dan Tanpa Diabetes
Mellitus.
3.5.Kriteria Sampel
3.5.1. Kriteria Inklusi
 Pasien yang menjalani Hemodialisis di Unit Hemodialisa Rumah
Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih;
 Mampu berkomunikasi secara verbal baik Alloanamnesis dan
Autoanamnesis;
3.5.2. Kriteria eksklusi
 Tidak Bersedia menjadi responden;
 Tidak bisa dimintain keterangan dikarenakan tidur dan
keterbatasan kemampuan komunikasi seperti Tuli dan Bisu.
 Pasien tidak hadir

Universitas Muhammadiyah Jakarta


27

3.6.Variabel Penelitian
3.6.1. Variabel Independen
Variabel bebas (independent) pada penelitian ini adalah Hemodialisa
dengan Komerbiditas Diabetes Mellitus dan tanpa Komerbiditas
Diabetes Mellitus.
3.6.2. Variabel Dependen
Variabel terikat (dependent) dalam penelitian ini adalah Kualitas
Hidup, yang termasuk didalamnya aspek fisik, aspek psikologi, aspek

3.7.Definisi Operasional
No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala
VARIABEL INDEPENDEN
Terapi yang digunakan
untuk membantu pasien
penyakit ginjal akhir
dalam menyaring
darahnya. Dan juga
sebagai alat pengganti
Melihat Diabetes
fungsi Ginjal yang
Rekam Rekam Mellitus dan
Pasien sudah tidak berfungsi
1. Medis dan Medis dan Tanpa Nominal
Hemodialisa normal yang dilakukan
kuisioner wawancara Diabetes
pada pasien dengan
ke Pasien Mellitus
komorbiditas Diabetes
Mellitus dan Tanpa
Diabetes Mellitus.

VARIABEL DEPENDEN

Universitas Muhammadiyah Jakarta


28

Persepsi individu
tentang posisi mereka
dalam kehidupan dalam
konteks sistem budaya
dan nilai di mana
mereka tinggal dan
dalam kaitannya dengan
tujuan, harapan, standar 1. Kualitas
dan keprihatinan Hidup kurang
mereka. baik, apabila
Kuesioner nilai yang
Ini adalah konsep luas Kualitas Dihitung dari diperoleh
yang dipengaruhi secara Hidup oleh pembagian responden ≥
kompleks oleh: World Health usia Mean/Median
Kualitas
1. 1. kesehatan fisik: Organization berdasarkan Rasio
Hidup
2. keadaan psikologis: dengan uji nomalitas 2. Kualitas
3. hubungan sosial: Katergori yaitu uji hidup pasien
4. keadaan lingkungan WHOQOL- Skewness baik apabila
1. kesehatan fisik: BREF nilai yang
-Kemampuan diperoleh
beraktifitas sehari-hari responden ≤
-Energisitas dan Mean/Median
kelelahan
-Rasa sakit dan
ketidaknayaman dalam
beraktifitas
-Pola tidur dan istirahat
serta kapasitas dalam
bekerja,

Universitas Muhammadiyah Jakarta


29

2. keadaan psikologis:
-Kepuasaan terhadap
bentuk tubuh mulai dari
apakah ada
ketidakmampuan fisik
yang dapat
memengaruhi aspek
fisik
-Keelokan dalam
bepenampilan
-Perasaan positif dan
negative
-Harga diri di
lingkungan
-Ketaatan pada
kepercayaan yang dianut
-Cara berpikir, belajar,
mengingat dan
konsentrasi.

3. hubungan sosial:
-Hubungan
antarpersonal
-Dukungan sosial
-Aktifitas sosial individu
itu sendiri.

Universitas Muhammadiyah Jakarta


30

4. keadaan lingkungan
-Sumber keuangan
-Kebebasan dan
Keamanan diri di
lingkungan
-Suasana rumah
-Kesempatan untuk
menerima informasi dan
mengasah skill
-Berekreasi dan
melancong
-Keadaan lingkungan
mulai dari kebersihan
-Polusi udara, suara
gaduh dan perubahan
iklim
Ketersediaan
transportasi.

Dihitung dari
pembagian
Pembagian 1 = Lebih dari
Data diri responden usia
usia Median
2. Umur dilihat melai dari berdasarkan Rasio
berdasarkan 2 = Kurang
tanggal lahir seseorang uji nomalitas
statistik dari Median
yaitu uji
Skewness
Kuesioner
Jenis Data diri responden Jenis 1. Laki-Laki
3. karakteristik Nominal
Kelamin dilihat melai dari Kelamin 2. Perempuan
responden

Universitas Muhammadiyah Jakarta


31

perbedaan gender antara


laki-laki dan perempuan
Data diri responden Kuesioner 1. Menikah
Status Status
4. yang dilihat dari status karakteristik 2.Belum/Tida Nominal
Perkawinan Pernikahan
pernikahan seseorang responden k Menikah
1. PNS
2. Wiraswasta
3.Karyawan/
Data diri responden Kuesioner
Buruh
5. Pekerjaan yang dilihat dari status karakteristik Pekerjaan Nominal
4. IRT
pekerjaan seseorang responden
5. Pensiunan
6. Pelajar
7. Lainnya
Tabel 3.7 Definisi Operasional

3.8.Teknik Pengambilan Data


Penelitian ini menggunakan data sekunder dan primer. Data sekunder
dari penelitian ini adalah Rekam Medis Pasien yang menjalani hemodialisis
serta pengelompokan pasien dengan komerbiditas Hemodialisis dan tanpa
hemodialisis. Dan selanjutnya menggunakan data primer pada penelitian ini
yaitu data yang didapatkan dari hasil wawancara dengan responden
menggunakan kuesioner kepada masing-masing pasien yang menjalani terapi
hemodialisa di Rumah Sakit Islam Jakarta, Cempaka Putih. Kemudian melalui
kuesioner yang diberikan, peneliti melakukan wawancara langsung kepada
pasien yang sedang diterapi hemodialisa. Kuesioner terdiri dari pernyataan
mengenai gejala dan tanda yang berhubungan kualitas hidup pasien tersebut.

Universitas Muhammadiyah Jakarta


32

3.9.Alur Penelitian

Rekam Medis
Pasien Hemodialisis

Diabetes Mellitus Tanpa Diabetes


Mellitus

Informasi Penelitian

Setuju Tidak Setuju

Penandatanganan Surat
Persetujuan mengikuti Penelitian

Pembagian Kuesioner
dan Wawancara

Data Diolah dan


Dianalisis

Universitas Muhammadiyah Jakarta


33

3.10. Pengolahan Data


Proses pengolahan data ini melalui tahap-tahap sebagai berikut :
 Pengeditan
Pengeditan merupakan kegiatan untuk pemeriksaan dan
perbaikan isian formulir kuesioner
 Pengodean
Melakukan pengodean, yakni mengubah data berbentuk
kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan.
 Pemasukan data
Setelah mengubah data dalam bentuk kode, kemudian data
dimasukkan di dalam komputer
 Pembersihan data
Pemeriksaan kembali data yang sudah dimasukkan untuk
memastikan kebenaran data dengan adanya kesalahan kode dan
ketidaklengkapan kemudian dilakukan koreksi terhadap data
tersebut.
 Selanjutnya data di input ke dalam komputer menggunakan
program penghitungan SPSS for Windows. Pengujian hipotesis
menggunakan analisis bivariat chi square.
3.11. Analisis Data
Analisis Statistik yang digunakan dalam penelitian ini meliputi
1) Analisis Univariat
Analisis univariat statistik deskriptif ini digunakan untuk
menyajikan karakteristik data dengan hasil analisis yang disajikan
meliputi frekuensi dari variabel independen, yaitu
2) Analisis Bivariat
Analisi ini digunakan untuk mengetahui adanya hubungan
antara variabel independen dan variabel dependen dengan
menggunakan Uji Chi-Square

Universitas Muhammadiyah Jakarta


34

Rumus Uji Chi-Square

Keterangan : X2 = nilai Chi Square


O = Nilai Observed
E = Nilai Expected
Digunakan derajat kemaknaan a = 0,05 sehingga jika nilai hitung P
value < 0,05 (Pv < a) maka hasil uji statistik bermakna, dan sebaliknya
bila P value > 0,05 (Pv > a) maka hasil uji statistik tidak bermakna.
3.12. Etika Penelitian
Peneliti harus memenuhi etika dalam penelitian mengingat subjek
dalam penelitian ini adalah manusia. Etika penelitian ini meliputi :
a) Informed consent, peneliti memberikan penjelasan kepada subjek
yang akan diwawancarai berupa judul, tujuan dan manfaat dari
penelitian, serta keikutsertaan dalam penelitian ini bersifat
sukarela, tidak memaksa. Subjek diberikan lembar permohonan
menjadi responden. Subjek kemudian menandatangani lembar
persetujuan menjadi responden. Subjek berhak menolak
keikutsertaan dirinya dalam penelitian ini.
b) Kerahasiaan, peneliti menjamin kerahasiaan semua informasi yang
didapat pada penelitian ini. Data tidak akan dipublikasikan kecuali
untuk kepentingan ilmiah. Nama responden tidak dicantumkan
dalam publikasi.
c) Peneliti akan menanggung semua biaya yang berkaitan dengan
penelitian.

Universitas Muhammadiyah Jakarta


35

3.13. Penyajian Data


Dalam melakukan penyajian data penelitian ini dapat disajikan
dalam bentuk table, grafik, tekstual yang menggambarkan hasil dari
penelitian ini.

Universitas Muhammadiyah Jakarta


BAB IV
HASIL dan PEMBAHASAN

4.1.KETERBATASAN PENELITIAN
Peneliti menyadari bahwa penelitian ini memiliki keterbatasan, berikut
beberapa keterbatasan dalam penelitian antara lain :
4.1.1. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional, sehingga peneliti
tidak melakukan tindak lanjut. Metode cross sectional menjelaskan
mengenai pengambilan sampel hanya pada saat penelitian sehingga
peneliti tidak mengamati responden setelah penelitian.
4.1.2. Penelitian ini menggunakan kuesioner sehingga sangat dipengaruhi
oleh pemahaman dan pengetahuan responden dalam mengisi kuesioner.
4.2.HASIL PENELITIAN
4.2.1. Gambaran Tempat Penelitian
Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih, terletak di jalan
Cempaka Putih Tengah I/1 Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia.
Merupakan rumah sakit pendidikan utama bagi Program Studi
Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas
Muhammadyah Jakarta sejak tahun 2014.
4.2.2. Analisis Univariat
i. Distribusi Pasien Hemodialisa
Tabel 4.1
Distribusi Berdasarkan Diagnosis Diabetes Mellitus
dan Tanpa Diabetes Mellitus
Kategori Pasien Presentase
Frekuensi
Hemodialisa (%)
Dengan Diabetes
45 50
Mellitus
Tanpa Diabetes
45 50
Mellitus
Jumlah 90 100

36
Universitas Muhammadiyah Jakarta
37

Berdasarkan table diperoleh hasil analisis bahwa dari 90


responden diagnosis pasien Hemodialisa dengan komorbiditas diabetes
mellitus sebanyak 45 (50%) dan pasien Hemodialisa tanpa komorbiditas
diabetes mellitus sebanyak 45 (50%). Artinya responden memiliki
jumlah yang sama antara komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa
diabetes mellitus.

ii. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin


Tabel 4.2
Distribusi Berdasarkan Jenis Kelamin

Kategori Pasien Presentase


Frekuensi
Hemodialisa (%)
Laki-Laki 55 61.1

Perempuan 35 38.9

Jumlah 90 100

Berdasarkan table diperoleh hasil analisis bahwa dari 90


responden, sebanyak 55 responden (61.1%) adalah lak-laki dan sebanyak
35 responden (38.9%) adalah perempuan. Dari penelitian dengan random
sampling didapatkan responden berjenis kelamin dominan dibandingan
responden berjenis kelamin perempuan.

iii. Distribusi Responden Berdasarkan Umur


Tabel 4.3
Distribusi Berdasaran Umur
Kategori Pasien Presentase
Frekuensi
Hemodialisa (%)
≥ 54 tahun 48 53.3
< 54 tahun 42 46.7

Jumlah 90 100

Universitas Muhammadiyah Jakarta


38

Berdasarkan table diperoleh hasil analisis bahwa dari 90


responden, sebanyak 48 responden (53.3%) memiliki usia > 54 tahun
dan 42 responden (46.7%) memiliki usia < 54 tahun. Dari penelitian ini
dapat disimpulkan bahwa responden yang berumur diatas 54 tahun
dengan kisaran umur 54 tahun hingga 80 tahun yang dikategorikan
sebagai prelansia, lansia dan manula sebanyak 48 responden. Sedangkan
responden yangyang memiliki kategori umur dibawah 54 tahun dengan
kisaran umur mulai dari 24 tahun hingga 53 tahun yang dikategorikan
sebagai dewasa muda dan dewasa akhir sebanya 42 responden. Dapat
disimpulkan terapi hemodialisa dominan pada usia lanjut.

i. Distribusi Responden Berdasarkan Status Pernikahan


Tabel 4.4
Distribusi Berdasaran Status Perkawinan
Kategori Pasien Presentase
Frekuensi
Hemodialisa (%)
Menikah 87 96.7

Belum Menikah 3 3.3

Jumlah 90 100

Berdasarkan tabel diperoleh hasil analisis bahwa dari 90


responden, sebanyak 87 responden (96.7%) telah menikah dan
sebanyak 3 responden (3.3%) belum/tidak menikah. Pada penelinitian
ini didapatkan responden dominan telah menikah dibandingkan
responden yang belum/tidak menikah.

Universitas Muhammadiyah Jakarta


39

ii. Distribusi Berdasarkan Pekerjaan


Tabel 4.4
Distribusi Berdasaran Pekerjaan
Kategori Pasien Presentase
Frekuensi
Hemodialisa (%)
PNS 9 10
Wiraswasta 12 13.3
Karyawan/Buruh 8 8.9
IRT 23 25.6
Pensiunan 35 38.9
Pelajar 2 2.2
Lainnya 1 1.1
Total 9 100

Berdasarkan tabel didapatkan hasil analisis bahwa 90


responden,responden memiliki pekerjaan sebegai PNS sebanyak 9
responden (10%), responden memiliki pekerjaan sebagai wiraswasta
sebanyak 12 responden (13.3%), responden memiliki pekerjaan
sebagai karyawan/buruh sebanyak 8 responden (8.9%), responden
memiliki pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga sebanyak 23 responden
(25.6%), responden yang telah pensiun sebanyak 35 responden
(38.9%), responden memiliki pekerjaan sebagai pelajar sebanyak 2
responden (2.2%) dan responden memiliki pekerjaan lainnya sebanyak
1 responden (1.1%).
Dalam penelirtian yang diikuti oleh beragam latar bekerjaan
dapat disampulkan bahwa responden yang sudah pensiunan dominan
dalam mengikuti terapi hemodialisa ini dikarenakan ada nya jaminan
kesehatan dari pekerjaan sebelumya. Sedangkan responden lainnya
dengan pekerjaan yang belum jelas mendapati hanya terdata satu

Universitas Muhammadiyah Jakarta


40

responden saja yang menandakan bahwa faktor ekonomi sangat


memengaruhi terapi hemodialisa di Rumah Sakit Islam Jakarta
Cempaka Putih.
4.2.3. Gambaran Univariat
i. Gambaran Kualitas Hidup berdasarkan aspek Fisik
Tabel 4.5
Gambaran Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa di RSIJ-CP
berdasaran Aspek Fisik
Kategori Pasien Presentase
Frekuensi
Hemodialisa (%)
Kurang Baik 53 58.9
Baik 37 41.1
Jumlah 90 100

Berdasarkan tabel diatas didapatkan hasil analisis bahwa 90


responden, berdasarkan aspek fisik (domain 1) responden dengan
kualitas hidup baik sebanyak 37 responden (41.1%), dan responden
dengan kualitas hidup kurang baik sebanyak 53 responden (58.9%).
Secara keseluruhan responden dominan mendapati aspek fisik pada
kualitas hidup yang kurang baik dibandingkan dengan aspek fisik
kualitas hidup yang baik.
ii. Gambaran Kualitas Hidup berdasarkan aspek Psikologi
Tabel 4.6
Gambaran Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa di RSIJ-CP
berdasaran Aspek Psikologi
Kategori Pasien Presentase
Frekuensi
Hemodialisa (%)
Kurang Baik 64 71.1

Baik 26 28.9

Jumlah 90 100

Universitas Muhammadiyah Jakarta


41

Berdasarkan tabel diatas didapatkan hasil analisis bahwa 90


responden, berdasarkan aspek psikologi (domain 2) responden dengan
kualitas hidup baik sebanyak 26 responden (28.9%), dan responden
dengan kualitas hidup kurang baik sebanyak 64 responden (71.1%).
Dan disimpulkan bahwa responden secara umum dengan kualitas hidup
pada aspek psikologi dominan pada status yang kurang baik.

iii. Gambaran Kualitas Hidup berdasarkan aspek Sosial

Tabel 4.7
Gambaran Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa di RSIJ-CP
berdasaran Aspek Sosial
Kategori
Presentase
Pasien Frekuensi
(%)
Hemodialisa

Kurang Baik 65 72.2

Baik 25 27.8

Jumlah 90 100

Berdasarkan tabel diatas didapatkan hasil analisis bahwa 90


responden, berdasarkan aspek sosial (domain 3) responden dengan
kualitas hidup baik sebanyak 25 responden (27.8%), dan responden
dengan kualitas hidup kurang baik sebanyak 65 responden (72.2%).
Dan disimplukan bahwa responden secara umum dengan kualitas hidup
pada aspek sosial dominan pada status yang kurang baik.

Universitas Muhammadiyah Jakarta


42

iv. Gambaran Kualitas Hidup berdasaran aspek Lingkungan


Tabel 4.8
Gambaran Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa di RSIJ-CP
berdasaran Aspek Lingkungan
Kategori
Presentase
Pasien Frekuensi
(%)
Hemodialisa

Kurang Baik 63 70

Baik 27 30

Jumlah 90 100

Berdasarkan tabel diatas didapatkan hasil analisis bahwa 90


responden, berdasarkan aspek psikologi (domain 2) responden dengan
kualitas hidup baik sebanyak 27 responden (30%), dan responden
dengan kualitas hidup kurang baik sebanyak 63 responden (70%). Dan
disimpulkan bahwa responden secara umum dengan kualitas hidup
pada aspek lingkungan dominan pada status yang kurang baik.
4.2.4. Analisis Bivariat
i. Hubungan antara usia dengan kualitas hidup pada Pasien
hemodialisa
Hasil penelitian mengenai hubungan antara usia dengan
kualitas hidup pasien diagnosis diabetes mellitus dan tanpa diabetes
mellitus di unit hemodialisa Rumah Sakit Islam Jakarta dapat dilihat
pada tabel berikut.

Universitas Muhammadiyah Jakarta


43

Tabel 4.9
Hubungan antara Usia dengan pasien hemodilisa dengan
komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus

Pasien Hemodialisa

usia Dengan Tanpa


Persentase Persentase
Diabetes Diabetes p value
(%) (%)
Mellitus Mellitus

< 54 Tahun 20 22.2 28 31.1


0.91
≥ 54 tahun 25 27.7 17 18.8

Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa sebanyak sebanyak 90


responden diantaranya 20 responden berumur kurang dari 54 tahun dan 25
responden berumur lebih dari 54 tahun memiliki komorbiditas diabetes
mellitus. Sedangkan sebanyak 28 responden yang berumur kurang dari 54
tahun dan sebanyak 17 responden berumur diatas 54 tahun tidak memiliki
komorbiditas diabetes mellitus.
Tabel diatas menunjukan bahwa usia terhadap pasien hemodilisa
dengan komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus
hubungan yang tidak bermakna terhadap diagnosis hemodialisa dengan p =
0.91 (p > 0.05). Dapat ditarik kesimpulan bahwa usia tidak memengaruhi
seseorang untuk mengambil tindakan atau terapi hemodialisa pada pasien
dengan komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus.
ii. Hubungan Pekerjaan dengan Kualitas Hidup
Hasil penelitian mengenai hubungan antara pekerjaan dengan kualitas
hidup pasien diagnosis diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus di unit
hemodialisa Rumah Sakit Islam Jakarta dapat dilihat pada tabel berikut.

Universitas Muhammadiyah Jakarta


44

Tabel 4.10
Hubungan antara pekerjaan dengan pasien hemodilisa dengan
komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus

Tidak
Diabetes Persentase Persentase p
Kategori Diabetes Total
Mellitus (%) (%) value
Mellitus

PNS 3 3.3 6 6.7 9

Wiraswasta 3 3.3 9 10.0 12

Karyawan/
2 2.2 6 6.7 8
Buruh

IRT 11 12.2 12 13.3 23


0.017
Pensiunan 25 27.8 10 11.1 35

Pelajar 0 0 2 2.2 2

Lainnya 1 1.1 0 0.0 1

Total 45 50 45 50 90

Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa sebanyak 90 responden


diantaranya 3 responden berkerja sebagai PNS (3.3%), 3 responden bekerja
sebagai wiraswasta (3.3%), sebanyak 2 responden bekerja sebagai
karyawan/buruh (2.2%), sebanyak 11 responden adalah ibu rumah tangga
(12.2%), sebanyak 25 responden telah pensiunan dari pekerjaannya
(27.8%), ssebanyak 1 responden memilili pekerjaan lain (1.1%) adalah
responden dengan komorbiditas diabetes mellitus. Sedangkan sebanyak 6
responden memiliki pekerjaan sebagai PNS (6.7%), sebanyak 9 responden
bekerja sebagai wiraswasta (10.0%), sebanyak 6 responden adalah
ksryawan/buruh (6.7%), sebanyak 12 responden adalah ibu rumah tangga

Universitas Muhammadiyah Jakarta


45

(13.3%), sebanyak 10 responden telah pensiunan dari pekerjaannya


(11.1%), dan sebanyak 2 responden adalah pelajar (2.2%) adalah responden
yang tidak memiliki komorbiditas diabetes mellitus. Tabel diatas
menunjukan bahwa pekerjaan terhadap pasien hemodilisa dengan
komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus memiliki
hubungan yang bermakna terhadap diagnosis hemodialisa dengan p = 0.017
(p < 0.05).
Dapat disimpulkan bahwa pasien dengan komorbiditas diabetes
mellitus dan tanpa diabetes mellitus yang memiliki pekerjaan tertentu akan
memengaruhi keputusan seseorang untuk mengambil tindakan hemodialisa.
Pasien yang telah pensiunan dominan telah dijamin oleh perusahaan nya
dalam melalukan tindakan medis Hemodialisa.
iii. Hubungan status perkawinan dengan kualitas hidup pada Pasien
hemodialisa
Hasil penelitian mengenai hubungan antara status perkawinan dengan
kualitas hidup pasien diagnosis diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus
di unit hemodialisa Rumah Sakit Islam Jakarta dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 4.11
Hubungan antara status perkawinan dengan pasien hemodilisa
dengan komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus
Pasien Hemodialisa

Kategori Dengan Tanpa


Persentase Persentase p
Diabetes Diabetes
(%) (%) value
Mellitus Mellitus

Menikah 44 48.9 43 47.8

Tidak/Belum 0.557
1 1.1 2 2.2
Menikah

Universitas Muhammadiyah Jakarta


46

Berdasarkan tabel diatas, diketahui sebanyak 90 responden diantaranya


44 responden telah menikah (48.9%) dan 1 responden tidak/belum menikah
(1.1%) adalah dengan komorbiditas diabetes mellitus. Sedangkan 43
responden telah menikah (47.8%) dan 2 responden adalah responden tanpa
komorbiditas diabetes mellitus. Tabel diatas menunjukan bahwa status
perkawinan terhadap pasien hemodilisa dengan komorbiditas diabetes
mellitus dan tanpa diabetes mellitus tidak memiliki hubungan yang
bermakna terhadap diagnosis hemodialisa dengan p = 0.557 (p > 0.05).
Dapat disimpulkan bahwa, status perkawinan pasien dengan komorbiditas
diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus tidak memengaruhi keputusan
pasien untuk mengikuti terapi hemodialisa.
iv. Hubungan aspek fisik dengan pasien hemodialisa
Hasil penelitian mengenai hubungan antara aspek fisik dengan kualitas
hidup pasien diagnosis diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus di unit
hemodialisa Rumah Sakit Islam Jakarta dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.12
Hubungan antara aspek fisik dengan terapi hemodialisa pada pasien
gagal ginjal kronik dengan komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa
diabetes mellitus
Pasien Hemodialisa

Dengan Tanpa p
Aspek Fisik Persentase Persentase value
Diabetes Diabetes
(%) (%)
Mellitus Mellitus

Kurang Baik 31 34.4 22 24.4


0.054
Baik 14 15.6 23 25.6
Berdasarkan tabel diatas, diketahui sebanyak 90 responden diantaranya
31 responden dengan komorbidtas diabetes mellitus (34.4%) dan 22
responden tanpa komorbiditas diabetes mellitus (24.4%) adalah yang
memiliki aspek fisik yang kurang baik. Sedangkan 14 responden dengan

Universitas Muhammadiyah Jakarta


47

komorbidtas diabetes mellitus (15.6%) dan 23 responden tanpa


komorbiditas diabetes mellitus (25.6%) adalah yang memiliki aspek fisik
yang baik. Tabel diatas menunjukan bahwa aspek fisik terhadap pasien
hemodilisa dengan komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes
mellitus tidak memiliki hubungan yang bermakna terhadap diagnosis
hemodialisa dengan p = 0.054 (p < 0.05).
v. Hubungan aspek psikologi dengan pasien hemodialisa
Hasil penelitian mengenai hubungan antara aspek psikologi dengan
kualitas hidup pasien diagnosis diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus
di unit hemodialisa Rumah Sakit Islam Jakarta dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 4.13
Hubungan antara aspek psikologi dengan terapi hemodialisa pada
pasien gagal ginjal kronik dengan komorbiditas diabetes mellitus dan
tanpa diabetes mellitus
Pasien Hemodialisa
Aspek p
Dengan Tanpa
Psikologis Persentase Persentase value
Diabetes Diabetes
(%) (%)
Mellitus Mellitus

Kurang
35 38.9 29 32.2
Baik 0.163
Baik 10 11.1 16 17.8

Berdasarkan tabel diatas, diketahui sebanyak 90 responden diantaranya


35 responden dengan komorbidtas diabetes mellitus (38.9%) dan 29
responden tanpa komorbiditas diabetes mellitus (32.2%) adalah yang
memiliki aspek psikologi yang kurang baik. Sedangkan 10 responden
dengan komorbidtas diabetes mellitus (11.1%) dan 16 responden tanpa
komorbiditas diabetes mellitus (17.8%) adalah yang memiliki aspek

Universitas Muhammadiyah Jakarta


48

psikologi yang baik. Tabel diatas menunjukan bahwa aspek psikologi


terhadap pasien hemodilisa dengan komorbiditas diabetes mellitus dan
tanpa diabetes mellitus tidak memiliki hubungan yang bermakna terhadap
diagnosis hemodialisa dengan p = 0.163 (p > 0.05).
vi. Hubungan aspek sosial dengan pasien hemodialisa
Hasil penelitian mengenai hubungan antara aspek sosial dengan
kualitas hidup pasien diagnosis diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus
di unit hemodialisa Rumah Sakit Islam Jakarta dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 4.14
Hubungan antara aspek sosial dengan terapi hemodialisa pada pasien
gagal ginjal kronik dengan komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa
diabetes mellitus
Pasien Hemodialisa

Aspek Sosial Dengan Persentase


Tanpa
Persentase p value
Diabetes Diabetes
(%) (%)
Mellitus Mellitus

Kurang Baik 33 36.7 32 35.6


0.814
Baik 12 13.3 13 14.4

Berdasarkan tabel diatas, diketahui sebanyak 90 responden diantaranya


33 responden dengan komorbidtas diabetes mellitus (36.7%) dan 32
responden tanpa komorbiditas diabetes mellitus (35.6%) adalah yang
memiliki aspek sosial yang kurang baik. Sedangkan 12 responden dengan
komorbidtas diabetes mellitus (13.3%) dan 13 responden tanpa
komorbiditas diabetes mellitus (14.4%) adalah yang memiliki aspek sosial
yang baik. Tabel diatas menunjukan bahwa aspek sosial terhadap pasien
hemodilisa dengan komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes

Universitas Muhammadiyah Jakarta


49

mellitus tidak memiliki hubungan yang bermakna terhadap diagnosis


hemodialisa dengan p = 0.814 (p > 0.05).
vii. Hubungan aspek lingkungan dengan pasien hemodialisa
Hasil penelitian mengenai hubungan antara aspek lingkungan dengan
kualitas hidup pasien diagnosis diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus
di unit hemodialisa Rumah Sakit Islam Jakarta dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 4.15
Hubungan antara aspek Lingkungn dengan terapi hemodialisa pada
pasien gagal ginjal kronik dengan komorbiditas diabetes mellitus dan
tanpa diabetes mellitus
Pasien Hemodialisa

Aspek Dengan Tanpa


Lingkungan Persentase Persentase p value
Diabetes Diabetes
(%) (%)
Mellitus Mellitus

Kurang Baik 31 34.4 28 31.1


0.107
Baik 10 11.1 17 18.9

Berdasarkan tabel diatas, diketahui sebanyak 90 responden diantaranya


31 responden dengan komorbidtas diabetes mellitus (34.4%) dan 28
responden tanpa komorbiditas diabetes mellitus (31.1%) adalah yang
memiliki aspek lingkungan yang kurang baik. Sedangkan 10 responden
dengan komorbidtas diabetes mellitus (11.1%) dan 17 responden tanpa
komorbiditas diabetes mellitus (18.9%) adalah yang memiliki aspek
lingkungan yang baik. Tabel diatas menunjukan bahwa aspek lingkungan
terhadap pasien hemodilisa dengan komorbiditas diabetes mellitus dan
tanpa diabetes mellitus tidak memiliki hubungan yang bermakna terhadap
diagnosis hemodialisa dengan p = 0.107 (p > 0.05).

Universitas Muhammadiyah Jakarta


50

4.3.PEMBAHASAN
World Health Organization merumuskan WHOQOL-BREF sebagai
tool untuk mengukur kualitas hidup seseorang pada suatu populasi. Kualitas
hidup memiliki empat aspek penting yang saling berkaitan satu dengan yang
lainnya. Aspek Fisik adalah aspek pertama yang bisa dinilai dengan aktifitas
sehari-hari. Pada kuesioner WHOQOL-BREF, aspek fisik terdiri dari Q3, Q4,
Q10, Q15, Q16, Q17 dan Q18. Aspek fisik yang dinilai dari komponen
pertanyaan terkait(27):
a. Kemampuan beraktifitas sehari-hari
b. Energisitas da kelelahan
c. Rasa sakit dan ketidaknayaman dalam beraktifitas
d. Pola tidur dan istirahat serta kapasitas dalam bekerja,
Pada kuesioner WHOQOL-BREF, aspek psikologi terdiri dari Q5, Q6,
Q7, Q11, Q19, dan Q26 yang mencakup:
a. Kepuasaan terhadap bentuk tubuh mulai dari apakah ada ketidakmampuan
fisik yang dapat memengaruhi aspek fisik
b. Keelokan dalam bepenampilan
c. Perasaan positif dan negative
d. Harga diri di lingkungan
e. Ketaatan pada kepercayaan yang dianut
f. Cara berpikir, belajar, mengingat dan konsentrasi.
Aspek Sosial ini terdiri dari Q20, Q21 dan Q22 yang ada di kuesioner
WHOQOL-BREF, terdiri dari:
a. Hubungan antarpersonal
b. Dukungan sosial
c. Aktifitas sosial individu itu sendiri.
Aspek lingkungan terdiri dari pertanyaan Q8, Q9, Q12, Q13, Q14, Q23,
Q24 dan Q25. Aspek lingkungan ini terdari dari:
a. Sumber keuangan

Universitas Muhammadiyah Jakarta


51

b. Kebebasan dan Keamanan diri di lingkungan


c. Suasana rumah
d. Kesempatan untuk menerima informasi dan mengasah skill
e. Berekreasi dan melancong
f. Keadaan lingkungan mulai dari kebersihan
g. Polusi udara, suara gaduh danperubahan iklim
h. Ketersediaan transportasi.
Hubungan antara usia pada kualitas hidup pasien Hemodialisa dengan
Komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus Hasil tabulasi
silang antara usia dengan komobiditas pasien hemodialisa di Unit Dialisis
Rumah Sakit Islam Jakarta menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang
bermakna antara usia dengan komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes
mellitus. Hasil ini terlihat dari uji statistik chi-square yang hasil p=0.91. Dalam
penelitian ini tidak adanya hubungan antara umur dengan kejadian hemodialisa
dengan komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus, Namun
dapat dilihat adanya perbedaan proporsi kejadian hemodialisa dengan
komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus. Sehingga memiliki
kecendrungan proporsi komobiditas diabetes mellitus pada usia ≥ 54 tahun, dan
kecendrungan proporsi komorbiditas tanpa diabetes mellitus pada usia < 54
tahun.
Hubungan antara pekerjaan pada kualitas hidup pasien Hemodialisa
dengan Komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus. Hasil
tabulasi silang antara pekerjaan dengan komobiditas pasien hemodialisa di
Unit Dialisis Rumah Sakit Islam Jakarta menunjukan bahwa terdapat hubungan
yang bermakna antara usia dengan komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa
diabetes mellitus. Hasil ini terlihat dari uji statistik chi-square yang hasil
p=0.017. Hasil penelitian ini terdapat hubungan antara pekerjaan responden
dengan kualitas hidup pasien hemodialisa ini dikarenakan dengan factor
ekonomi yang tiap responden berbeda-beda. Dapat dilihat adanya perbedaan
proporsi pekerjaan pada komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes

Universitas Muhammadiyah Jakarta


52

mellitus. Kecendrungan proporsi pada komorbiditas diabetes mellitus adalah


pensiunan 25 responden, sedangkan kecendrungan proporsi pada komorbiditas
tanpa diabetes mellitus adalah ibu rumah tangga 11 responden.
Hubungan antara status perkawinan pada kualitas hidup pasien
Hemodialisa dengan Komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes
mellitus. Hasil tabulasi silang antara pekerjaan dengan komobiditas pasien
hemodialisa di Unit Dialisis Rumah Sakit Islam Jakarta menunjukan bahwa
tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status perkawinan dengan
komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus. Hasil ini terlihat
dari uji statistik chi-square yang hasil p=0.55. Hasil penelitian ini tidak
terdapat hubungan antara pekerjaan responden dengan kualitas hidup pasien
hemodialisa ini dikarenakan oleh terdapat kecendrungan responden dengan
komorbiditas diabetes mellitus terdapat 44 responden dan pada komorbiditas
tanpa diabetes mellitus terdapat 43 responden yang sudah menikah.
Hubungan kualitas hidup pada kualitas hidup pasien Hemodialisa
dengan Komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus. Hasil
tabulasi silang antara pekerjaan dengan komobiditas pasien hemodialisa di
Unit Dialisis Rumah Sakit Islam Jakarta menunjukan bahwa tidak terdapat
hubungan yang bermakna antara aspek aspek kualitas hidup dengan
komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus pada pasien
hemodialisa. Hasil ini terlihat dari uji statistik chi-square tiap aspek/ domain
kualitas hidup, hasil p=0.054 untuk aspek fisik, p=0.163 untuk aspek
psikologi, p=0.814 untuk aspek sosial dan p=0.107 untuk aspek lingkungan.
Dari hasil penelitian didapatkan kategori kualitas hidup yang baik terlihat
dominan pada segala aspek pada pasien hemodialisa tanpa komobiditas
diabetes mellitus ini dapat dilihat pada tabel berikut.
Berdasarkan penelitian ini aspek fisik kualitas hidup pada pasien
hemodialisa tidak memengaruhi komorbiditas pada pasien hemodialisa,
kualitas hidup antara pasien dengan komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa
diabetes bernilai subjektif setiap pasien. Namun dari tabel dapat disimpulkan

Universitas Muhammadiyah Jakarta


53

bahwa pasien dengan diabetes mellitus lebih dominan pada kualitas hidup yang
kurang. Sedangkan pasien tanpa diabetes mellitus dominan pada kualitas hidup
yang baik. Penelitian ini sesuai dengan penelitian dari Eva dan Monika yang
memiliki p value: l5.55 yang juga tidak memliki hubungan yang signifikan
pada pasien dengan komorbidtas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus.
Ini dipengruhi oleh aspek fisik itu sendiri yang sangat dipengaruhi oleh
aktifitas keseharian pasien tersebut, energy dan kelelahan yang dirasakan oleh
pasien, dan lainnya. (27)(29)
Berdasarkan penelitian ini aspek psikologi kualitas hidup pada pasien
hemodialisa tidak memengaruhi komorbiditas pada pasien hemodialisa,
kualitas hidup antara pasien dengan komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa
diabetes bernilai subjektif setiap pasien. Namun dari tabel dapat disimpulkan
bahwa pasien dengan diabetes mellitus lebih dominan pada kualitas hidup yang
kurang. Sedangkan pasien tanpa diabetes mellitus dominan pada kualitas hidup
yang baik. Penelitian ini sejalan dengan penelitian dari Eva dan Monika yang
memiliki p value: 14.78 yang juga tidak memliki hubungan yang signifikan
pada pasien dengan komorbidtas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus.
Ini dipengruhi oleh aspek psikologi itu sendiri yang sangat dipengaruhi oleh
kepuasaan bentuk tubuh, penampilan, perasaan positif dan negatifnya, harga
diri di lingkungannya, keyakinan dan lainnya. (27)(29)
Berdasarkan penelitian ini aspek sosial kualitas hidup pada pasien
hemodialisa tidak memengaruhi komorbiditas pada pasien hemodialisa,
kualitas hidup antara pasien dengan komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa
diabetes bernilai subjektif setiap pasien. Namun dari tabel dapat disimpulkan
bahwa pasien dengan diabetes mellitus lebih dominan pada kualitas hidup yang
kurang. Sedangkan pasien tanpa diabetes mellitus dominan pada kualitas hidup
yang baik. Penelitian ini sejalan dengan penelitian dari Eva dan Monika yang
memiliki p value: 14.98 yang juga tidak memliki hubungan yang signifikan
pada pasien dengan komorbidtas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus.
Ini dipengruhi oleh aspek sosial itu sendiri yang sangat dipengaruhi oleh

Universitas Muhammadiyah Jakarta


54

hubungan antar personal, sosial, serta aktifitas soasial individu itu sendiri.
(27)(29)

Berdasarkan penelitian ini aspek linkungan kualitas hidup pada pasien


hemodialisa tidak memengaruhi komorbiditas pada pasien hemodialisa,
kualitas hidup antara pasien dengan komorbiditas diabetes mellitus dan tanpa
diabetes bernilai subjektif setiap pasien. Namun dari tabel dapat disimpulkan
bahwa pasien dengan diabetes mellitus lebih dominan pada kualitas hidup yang
kurang. Sedangkan pasien tanpa diabetes mellitus dominan pada kualitas hidup
yang baik. Penelitian ini sejalan dengan penelitian dari Eva dan Monika yang
memiliki p value: 13.33 yang juga tidak memliki hubungan yang signifikan
pada pasien dengan komorbidtas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus.
Ini dipengruhi oleh aspek lingkungan itu sendiri yang sangat dipengaruhi oleh
sumber keuangan, kebebasan diri dan keamanan diri di lingkungan, suasana
rumah, kesempatan untuk menerima informasi, mengasah skill, melancong,
kebersihan lingkungan dan lain sebagainya. (27) (29)
Tabel 4.16
Perbandingan Kualitas Hidup Baik Pasien Hemodialisa dengan
Komorbiditas Diabetes Mellitus dan Tanpa Diabetes Mellitus
Dengan Tanpa
Kategori Diabetes Mellitus Diabetes Mellitus
BAIK Presentase Presentase
Frekuensi Frekuensi
(%) (%)
Aspek Fisik 14 15.6 23 25.6
Aspek Psikologi 10 11.1 16 17.8
Aspek Sosial 12 13.3 13 14.4
Aspek
10 11.1 17 18.9
Lingkungan
Dan penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Eva
Živčicova dan Monika Gullerová pada tahun 2015, yang mana dipenelitian
tersebut menunjukan perbedaan yang signifikan pada pasien yang tanpa

Universitas Muhammadiyah Jakarta


55

diabetes mellitus memiliki tingkatan dominan yang lebih tinggi dibandingkan


pasien dengan komorbiditas diabetes mellitus.
Sedangkan dari hasil penelitian di dapatkan kategori kualitas hidup
yang kurang baik terlihat dominan pada segala aspek pada pasien hemodialisa
dengan komobiditas diabetes mellitus ini dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.17
Perbandingan Kualitas Hidup Kurang Baik Pasien Hemodialisa dengan
Komorbiditas Diabetes Mellitus dan Tanpa Diabetes Mellitus

Dengan Tanpa
Kategori Diabetes Mellitus Diabetes Mellitus
KURANG BAIK Kurang Presentase Kurang Presentase
Baik (%) Baik (%)
Aspek Fisik 31 34.4 22 24.4
Aspek Psikologi 35 38.9 29 32.2
Aspek Sosial 33 36.7 32 35.6
Aspek Lingkungan 35 38.9 28 31.1

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Eva


Živčicova dan Monika Gullerová pada tahun 2015, yang mana dipenelitian
tersebut menunjukan perbedaan yang signifikan pada pasien dengan
komorbiditas diabetes mellitus memiliki tingkatan dominan yang lebih tinggi
dibandingkan pada pasien tanpa komorbiditas diabetes mellitus.

Universitas Muhammadiyah Jakarta


BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1.SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian mengenai hubungan kualitas hidup pada
pasien dengan komorbiditas diabetes dan tanpa diabetes mellitus di unit dialisis
Rumah Sakit Islam Jakarta 2017 adalah.
1. Pasien hemodialisa dengan komobiditas diabetes mellitus dan tanpa
diabetes mellitus ada sebanyak 45 responden (50%) untuk komorbiditas
diabetes mellitus, dan 45 responden (50%) untuk komobiditas tanpa
diabetes mellitus.
2. Terdapat hubungan yang bermakna secara statistic antara jenis pekerjaan
dengan komobiditas diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitus pada
pasien hemodialia dengan hasil uji Chi-Square yang menghasilkan p =
0.017.
3. Analisis univariat pada responden pasien gagal ginjal kronik dengan terapi
hemodialisa di Unit Dialisis Rumah Sakit Islam Jakarta yang diukur
berdasarkan aspek fisik, aspek psikologi, aspek sosial dan aspek
lingkungan memiliki kecondongan pada kualitas hidup yang kurang baik.
4. Analisis bivariat yang menghubungkan aspek fisik, psikologi, sosial dan
lingkungan pada pasien hemodialisa dengan komorbiditas diabetes
mellitus dan tanpa komorbiditas diabetes mellitus menunjukan tidak
adanya hubungan antara aspek-aspek kualitas hidup dengan pemberian
terapi Hemodialisis.
5. Perbandingan kualitas hidup pada pasien Hemodialisa memiliki perbedaan
yang tidak signifikan, namun pasien Hemodialisa dengan diabetes mellitus
menunjukan kualitas hidup yang kurang baik sedangkan pasien
Hemodialisa tanpa diabetes mellitus menunjukan kualitas hidup yang baik.

56
Universitas Muhammadiyah Jakarta
57

5.2.SARAN
5.2.1. Bagi Pelayanan Unit Dialisa
Pelayanan sudah baik, terutama dalam hal kekelurgaan yang
tinggi antara pasien dengan perawat-perawatnya. Unit dialisis yang
bersih, nyaman dan membuat klien puas. Namun selain itu, pasien
membutuhkan perhatian yang lebih dari dokter. Dalam rangka
membantu meningkatkan pasikologis klien hemodialisa yang
memerlukan konsultasi dokter dan meningkatkan kepercayaan kepada
dokter.
5.2.2. Bagi Institusi Pendidikan
Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan peserta didik
dalam memberikan asuhan media pada klien dari segi psikologis, dan
pemberikan edukasi bagi klien hemodialisis dan dapat
mengembangkan kurikulum untuk pendidikan berkelanjutan.
5.2.3. Bagi Peneliti selanjutnya
Pada penelitian ini didapatkan bahwa kualitas fisik dan
psikologis klien HD menurun, sehingga perlu dilakukan penelitian
lanjut tentang factor faktor yang mempengaruhi kualitas fisik dan
psikologis dengan metode lain.
5.2.4. Bagi Rumah Sakit
Mempertahankan kualitas pelayan di Unit Dialisas Rumah
Sakit Islam Jakarta.

Universitas Muhammadiyah Jakarta


DAFTAR PUSTAKA

1. Kemenkes. RISET KESEHATAN DASAR. 2013;


2. Kemenkes. InfoDATIN. 2017;
3. Alquran Nur Karim.
4. Between C, Thyroxin F, Rate GF. CHRONIC KIDNEY DISEASE ; :506–
12.
5. Mardyaningsih DP. Kualitas Hidup Pada Penderita Gagal Ginjal Kronik
Yang Menjalani Terapi Hemodialisis di RSUD dr. Soediran Mangun
Sumarso Kabupaten Wonogiri. 2014; Available from:
http://id.portalgaruda.org/
6. Indonesian P, Registry R, Renal I, Indonesia PN, Kesehatan D, Kesehatan
D, et al. 7 th Report Of Indonesian Renal Registry 2014 7 th Report Of
Indonesian Renal Registry 2014. 2014;
7. The WHOQOL Group. Whoqol-Bref: Introduction , Administration ,
Scoring and Generic Version of the Assessment. Program Ment Heal.
1996;(December):16.
8. Taylor CI. Quality of life in hemodialysis patients. University of Tennessee
at Chattanooga; 2010.
9. Risk C. Chronic Kidney Disease ( CKD ) Management in General Practice.
2015;
10. Siti Sitiati et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 6th ed. Jakarta:
InternaPublishing; 2014.
11. JB L. Diabetic Nephropathy: Clinical Nephrology dialysis and
tranplantasion. 2002.
12. Hayat A Haria D & Salifu. Erithropoietin stimulating agent in the
management of anemia of chronic kidney disease. 2008.
13. Scott D. Bieber, D.O.; Jonathan Himmelfarb M. National Institute of
Diabetes and Digestive and Kidney Disease [Internet]. 2016 [cited 2017 Sep

58
Universitas Muhammadiyah Jakarta
59

26]. Available from: https://www.niddk.nih.gov/health-


information/kidney-disease/kidney-failure/hemodialysis
14. Al JTD et. KDOQI CLINICAL PRACTICE GUIDELINE FOR
HEMODIALYSIS ADEQUACY : 2015 UPDATE Abstract University of
Minnesota Department of Medicine. 2015;66(5):884–930.
15. Guyton A. Buku Ajar Fisiologi Manusia. 11th ed. Jakarta: EGC; 2010.
16. Fauci, Braunwald, Kasper, Hauser, Longo, Jameson L. Harrison’s
Principle of Intenal Medicine. Seventeent. United States Of America:
McGraw-Hill; 2008. 1772-1775 p.
17. Neil R. Powe, M.D., M.P.H., M.B.A., and Delphine Tuot, M.D.C.M. MA.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease [Internet].
2016 [cited 2017 Jan 1]. Available from: https://www.niddk.nih.gov/health-
information/kidney-disease/kidney-failure/choosing-treatment
18. Mubim H. Gagal Ginjal Kronik : Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam:
Diagnosis dan Terapi. 2nd ed. Vol. 2. Jakarta: EGC; 2007.
19. Farida A. PENGALAMAN KLIEN HEMODIALISIS TERHADAP
KUALITAS HIDUP DALAM KONTEKS ASUHAN KEPERAWATAN
DI RSUP FATMAWATI JAKARTA. Universitas Indonesia; 2012.
20. Departeme Kesehatan Republik Indonesia.
21. Daugirdas JT. Physiologic Principles and Urea Kinetic Modeling. 4, editor.
Philadelpia:; 2007.
22. Indonesian P, Registry R, Renal I, Indonesia PN, Hemodialisis U,
Hemodialisis SU, et al. 4 th Report Of Indonesian Renal Registry 2011 4 th
Report Of Indonesian Renal Registry 2011. 2011;
23. World Health Organization. Diabetes Mellitus [Internet]. [cited 2017 Jan
1]. Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs138/en/
24. Dansinger M. Types Of Diabetes Mellitus [Internet]. 17 Januari. 2017
[cited 2017 Jan 1]. Available from:
http://www.webmd.com/diabetes/guide/types-of-diabetes-mellitus#1
25. Wu Y, Ding Y, Tanaka Y, Zhang W. Risk factors contributing to type 2

Universitas Muhammadiyah Jakarta


60

diabetes and recent advances in the treatment and prevention. Int J Med
Sci. 2014;11(11):1185–200.
26. Services H. Population Assessment of Health-Related Quality of Life. 2000.
27. World Health Organization. WHOQOL: measuring quality of life. Psychol
Med [Internet]. 1998;28(3):551–8. Available from:
http://www.who.int/mental_health/media/68.pdf
28. HRQOL Concepts [Internet]. Center for Disease Control and Pervention.
Available from: https://www.cdc.gov/hrqol/concept.htm
29. Eva Živčicová MG. QUALITY OF LIFE COMPARISON OF PEOPLE
WITH AND WITHOUT DIABETES MELLITUS. 2015;258–63.

Universitas Muhammadiyah Jakarta


LAMPIRAN 1
Etik

61
Universitas Muhammadiyah Jakarta
62

LAMPIRAN 2
Perizinan ke RSIJ Cempaka Putih

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


63

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


64

LAMPIRAN 3
Perizinan dari RSIJ Cempaka Putih

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


65

LAMPIRAN 4
Inform Consent

LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN


Saya yang bertandatangan dibawah ini :
Nama :
Usia :
Jenis Kelamin :
Perkerjaan:
Status Pernikahan: Menikah/Belum Menikah*
Dengan ini menyatakan BERSEDIA menjadi responden, dengan menjawab
pertanyaan yang akan diberikan (mengisi kuesioner) dan berpartisipasi dalam
penelitian yang berjudul “HUBUNGAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN
HEMODIALISA DENGAN KOMORBIDITAS DIABETES MELLITUS dan
TANPA DIABETES MELLITUS” yang dilakukan oleh Dzaki Murtadho dari Fakultas
Kedokteran Dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan penuh kesadaran, tanpa ada paksaan.

Jakarta, 2017

(…………………………….)

*(pilih salah satu)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


66

LAMPIRAN 5
Kuesioner
WHOQOL-BREF

Pertanyaan berikut ini menyangkut perasaan anda terhadap kualitas hidup, kesehatan
dan hal-hal lain dalam hidup anda. Saya akan membacakan setiap pertanyaan kepada
anda, bersamaan dengan pilihan jawaban. Pilihlah jawaban yang menurut anda paling
sesuai. Jika anda tidak yakin tentang jawaban yang akan anda berikan terhadap
pertanyaan yang diberikan, pikiran pertama yang muncul pada benak anda seringkali
merupakan jawaban yang terbaik. Camkanlah dalam pikiran anda segala standar hidup,
harapan, kesenangan dan perhatian anda. Kami akan bertanya apa yang anda pikirkan
tentang kehidupan anda pada empat minggu terakhir.

Sangat Buruk Biasa- Baik Sangat


buruk Biasa Baik
Saja
1. Bagaimana menurut Anda 1 2 3 4 5
kualitas hidup Anda?

Sangat Tidak Biasa- Memuas Sangat


Tidak Memuas Biasa kan Memuas
Memuas kan Saja kan
kan
2. Seberapa puas Anda 1 2 3 4 5
dengan kesehatan Anda?

Pertanyaan berikut adalah tentang seberapa sering anda telah mengalami hal-
hal berikut ini dalam empat minggu terakhir.

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


67

Tidak Sedikit Dalam Sangat Dalam


Sama Jumlah Sering Jumlah
Sekali Sedang Berlebih
3. Seberapa jauh rasa sakit Anda 5 4 3 2 1
mencegah Anda dalam
beraktifitas sesuai kebutuhan
Anda?
4. Seberapa sering Anda 5 4 3 2 1
membutuhkan terapi media
untuk dapat berfungsi dalam
kehidupan sehari-hari Anda?
5. Seberapa jauh Anda 1 2 3 4 5
menikmati hidup Anda?
6. Seberapa jauh Anda merasa 1 2 3 4 5
hidup Anda berarti?
7. Seberapa jauh Anda mampu 1 2 3 4 5
berkonsentrasi?
8. Secara umum, seberapa aman 1 2 3 4 5
Anda rasakan dalam
kehidupan Anda sehari-hari?
9. Seberapa sehat lingkungan 1 2 3 4 5
dimana Anda tinggal
(berkaitan dengan sarana dan
prasarana)

Pertanyaan berikut ini adalah tentang seberapa penuh anda alami hal-hal berikut
ini dalam 4 minggu terakhir?

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


68

Tidak Sedikit Sedang Sering Sepenuhnya


Sama Kali dialami
Sekali
10. Apakah Anda memiliki 1 2 3 4 5
vitalitas yang cukup untuk
beraktifitas sehari hari?
11. Apakah Anda dapat 1 2 3 4 5
menerima penampilan
tubuh Anda?
12. Apaah Anda memiliki 1 2 3 4 5
cukup uang untuk
memenuhi kebutuhan
Anda?
13. Seberapa jauh ketersediaan 1 2 3 4 5
informasi bagi kehidupan
Anda dari hari ke hari?
14. Seberapa sering Anda 1 2 3 4 5
memiliki kesempatan untuk
bersenang-senang/rekreasi?

Sangat Buruk Biasa- Baik Sangat


buruk Biasa Baik
Saja
15 Seberapa baik kemampuan 1 2 3 4 5
Anda dalam bergaul?

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


69

Sangat Tidak Biasa- Memuas Sangat


Tidak Memuas Biasa kan Memuas
Memuas kan Saja kan
kan
16. Seberapa puaskah Anda 1 2 3 4 5
dengan tidur Anda?
17. Seberapa puaskah Anda 1 2 3 4 5
dengan kemampuan
Anda untuk
menampilkan aktivitas
kehidupan Anda sehari-
hari?
18. Seberapa puaskah Anda 1 2 3 4 5
dengan kemampuan
Anda untuk bekerja?
19. Seberapa puaskah Anda 1 2 3 4 5
dengan diri sendiri?
20. Seberapa puaskah Anda 1 2 3 4 5
dengan hubungan
personal/sosial Anda?
21. Seberapa puaskah Anda 1 2 3 4 5
dengan kehidupan
seksual Anda?
22. Seberapa puaskah Anda 1 2 3 4 5
dengan dukungan yang
Anda peroleh dari erima
Anda?
23. Seberapa puaskah Anda 1 2 3 4 5
dengan kondisi tempat
Anda tinggal saat ini?

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


70

24. Seberapa puaskah Anda 1 2 3 4 5


dengan akses Anda pada
layanan kesehatan?
25. Seberapa puaskah Anda 1 2 3 4 5
dengan transportasi
yang harus Anda jalani?

Pertanyaan berikut merujuk pada seberapa sering anda merasakan atau mengalami hal-
hal berikut dalam empat minggu terakhir.

Sangat Buruk Biasa- Baik Sangat


buruk Biasa Baik
Saja
26. Seberapa sering Anda memiliki 5 4 3 2 1
perasaan negative seperti
“feeling blue” (kesepian) putus
asa, cemas dan depresi.

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


71

LAMPIRAN 6
Hasil Output Statistik

Umur
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 24 1 1.1 1.1 1.1
31 2 2.2 2.2 3.3
36 2 2.2 2.2 5.6
38 1 1.1 1.1 6.7
40 2 2.2 2.2 8.9
42 2 2.2 2.2 11.1
43 3 3.3 3.3 14.4
44 1 1.1 1.1 15.6
45 3 3.3 3.3 18.9
46 1 1.1 1.1 20.0
47 2 2.2 2.2 22.2
48 5 5.6 5.6 27.8
49 6 6.7 6.7 34.4
50 4 4.4 4.4 38.9
51 3 3.3 3.3 42.2
52 3 3.3 3.3 45.6
53 4 4.4 4.4 50.0
54 3 3.3 3.3 53.3
55 3 3.3 3.3 56.7
56 3 3.3 3.3 60.0
57 1 1.1 1.1 61.1
58 4 4.4 4.4 65.6

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


72

60 3 3.3 3.3 68.9


61 2 2.2 2.2 71.1
62 4 4.4 4.4 75.6
63 5 5.6 5.6 81.1
64 5 5.6 5.6 86.7
65 3 3.3 3.3 90.0
67 2 2.2 2.2 92.2
68 2 2.2 2.2 94.4
69 1 1.1 1.1 95.6
70 1 1.1 1.1 96.7
72 1 1.1 1.1 97.8
76 1 1.1 1.1 98.9
80 1 1.1 1.1 100.0
Total 90 100.0 100.0

Statistics

Status
Jenis Kelamin Perkawinan Pekerjaan Hemodialisa Fisik

N Valid 90 90 90 90 90

Missing 0 0 0 0 0
Mean 1.39 1.03 3.81 1.50 1.41
Median 1.00 1.00 4.00 1.50 1.00
Std. Deviation .490 .181 1.445 .503 .495
Skewness .464 5.288 -.621 .000 .367
Std. Error of
.254 .254 .254 .254 .254
Skewness

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


73

Statistics
Psikologi Sosial Lingkungan Umur
N Valid 90 90 90 90
Missing 0 0 0 0
Mean 1.29 1.28 1.30 1.47
Median 1.00 1.00 1.00 1.00
Std. Deviation .456 .450 .461 .502
Skewness .947 1.009 .888 .136
Std. Error of
.254 .254 .254 .254
Skewness

Jenis Kelamin

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Laki-Laki 55 61.1 61.1 61.1

Perempuan 35 38.9 38.9 100.0

Total 90 100.0 100.0

Status Perkawinan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Menikah 87 96.7 96.7 96.7

Tidak Menikah 3 3.3 3.3 100.0

Total 90 100.0 100.0

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


74

Pekerjaan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid PNS 9 10.0 10.0 10.0

Wiraswasta 12 13.3 13.3 23.3

Karyawan/Buruh 8 8.9 8.9 32.2

IRT 23 25.6 25.6 57.8

Pensiunan 35 38.9 38.9 96.7

Pelajar 2 2.2 2.2 98.9

Lainnya 1 1.1 1.1 100.0

Total 90 100.0 100.0

Hemodialisa

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Diabetes Mellitus 45 50.0 50.0 50.0

Tidak Diabetes
45 50.0 50.0 100.0
Mellitus

Total 90 100.0 100.0

Fisik

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Kurang Baik 53 58.9 58.9 58.9

Baik 37 41.1 41.1 100.0

Total 90 100.0 100.0

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


75

Psikologi

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Kurang Baik 64 71.1 71.1 71.1

Baik 26 28.9 28.9 100.0

Total 90 100.0 100.0

Sosial

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Kurang Baik 65 72.2 72.2 72.2

Baik 25 27.8 27.8 100.0

Total 90 100.0 100.0

Lingkungan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Kurang Baik 63 70.0 70.0 70.0

Baik 27 30.0 30.0 100.0

Total 90 100.0 100.0

Umur

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Lebih dari 54 48 53.3 53.3 53.3

Kurang dari 54 42 46.7 46.7 100.0

Total 90 100.0 100.0

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


76

Crosstabs
Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

Fisik *
90 100.0% 0 0.0% 90 100.0%
Hemodialisa

Fisik * Hemodialisa Crosstabulation


Count

Hemodialisa

Diabetes Tidak Diabetes


Mellitus Mellitus Total

Fisik Kurang Baik 31 22 53

Baik 14 23 37
Total 45 45 90

Chi-Square Tests

Asymptotic
Significance Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value df (2-sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 3.717a 1 .054


Continuity Correctionb 2.937 1 .087
Likelihood Ratio 3.747 1 .053

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


77

Fisher's Exact Test .086 .043


Linear-by-Linear
3.676 1 .055
Association
N of Valid Cases 90

Crosstabs
Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

Psikologi * Hemodialisa 90 100.0% 0 0.0% 90 100.0%

Psikologi * Hemodialisa Crosstabulation


Count

Hemodialisa

Diabetes Tidak Diabetes


Mellitus Mellitus Total

Psikologi Kurang Baik 35 29 64

Baik 10 16 26
Total 45 45 90

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


78

Chi-Square Tests

Asymptotic
Significance Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value df (2-sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 1.947a 1 .163


Continuity Correctionb 1.352 1 .245
Likelihood Ratio 1.961 1 .161
Fisher's Exact Test .245 .122
Linear-by-Linear
1.925 1 .165
Association
N of Valid Cases 90

Crosstabs
Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

Sosial * Hemodialisa 90 100.0% 0 0.0% 90 100.0%

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


79

Sosial * Hemodialisa Crosstabulation


Count

Hemodialisa

Diabetes Tidak Diabetes


Mellitus Mellitus Total

Sosial Kurang Baik 33 32 65

Baik 12 13 25
Total 45 45 90

Chi-Square Tests

Asymptotic
Significance Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value df (2-sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square .055a 1 .814


Continuity Correctionb .000 1 1.000
Likelihood Ratio .055 1 .814
Fisher's Exact Test 1.000 .500
Linear-by-Linear
.055 1 .815
Association
N of Valid Cases 90

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


80

Crosstabs
Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

Lingkungan *
90 100.0% 0 0.0% 90 100.0%
Hemodialisa

Lingkungan * Hemodialisa Crosstabulation


Count

Hemodialisa

Diabetes Tidak Diabetes


Mellitus Mellitus Total

Lingkungan Kurang Baik 35 28 63

Baik 10 17 27
Total 45 45 90

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


81

Chi-Square Tests

Asymptotic
Significance Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value df (2-sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 2.593a 1 .107


Continuity Correctionb 1.905 1 .168
Likelihood Ratio 2.615 1 .106
Fisher's Exact Test .167 .083
Linear-by-Linear
2.564 1 .109
Association
N of Valid Cases 90

Crosstabs
Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

Jenis Kelamin *
90 100.0% 0 0.0% 90 100.0%
Hemodialisa

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


82

Jenis Kelamin * Hemodialisa Crosstabulation


Count

Hemodialisa

Diabetes Tidak Diabetes


Mellitus Mellitus Total

Jenis Kelamin Laki-Laki 25 30 55

Perempuan 20 15 35
Total 45 45 90

Chi-Square Tests

Asymptotic
Significance Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value df (2-sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 1.169a 1 .280


Continuity Correctionb .748 1 .387
Likelihood Ratio 1.172 1 .279
Fisher's Exact Test .387 .194
Linear-by-Linear
1.156 1 .282
Association
N of Valid Cases 90

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


83

Crosstabs
Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

Status Perkawinan *
90 100.0% 0 0.0% 90 100.0%
Hemodialisa

Status Perkawinan * Hemodialisa Crosstabulation


Count

Hemodialisa

Diabetes Tidak Diabetes


Mellitus Mellitus Total

Status Perkawinan Menikah 44 43 87

Tidak Menikah 1 2 3
Total 45 45 90

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


84

Chi-Square Tests

Asymptotic
Significance Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value df (2-sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square .345a 1 .557


Continuity Correctionb .000 1 1.000
Likelihood Ratio .351 1 .553
Fisher's Exact Test 1.000 .500
Linear-by-Linear
.341 1 .559
Association
N of Valid Cases 90

Crosstabs
Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

Pekerjaan *
90 100.0% 0 0.0% 90 100.0%
Hemodialisa

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


85

Pekerjaan * Hemodialisa Crosstabulation


Count

Hemodialisa

Diabetes Tidak Diabetes


Mellitus Mellitus Total

Pekerjaan PNS 3 6 9

Wiraswasta 3 9 12

Karyawan/Buruh 2 6 8

IRT 11 12 23

Pensiunan 25 10 35

Pelajar 0 2 2

Lainnya 1 0 1
Total 45 45 90

Chi-Square Tests

Asymptotic
Significance
Value df (2-sided)

Pearson Chi-Square 15.472a 6 .017


Likelihood Ratio 17.096 6 .009
Linear-by-Linear
8.096 1 .004
Association
N of Valid Cases 90

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


86

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

Umur *
90 100.0% 0 0.0% 90 100.0%
Hemodialisa

Umur * Hemodialisa Crosstabulation


Count

Hemodialisa

Diabetes Tidak Diabetes


Mellitus Mellitus Total

Umur Lebih dari 54 20 28 48

Kurang dari 54 25 17 42
Total 45 45 90

Chi-Square Tests

Asymptotic
Significance Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value df (2-sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 2.857a 1 .091


Continuity Correctionb 2.188 1 .139
Likelihood Ratio 2.873 1 .090
Fisher's Exact Test .139 .069
Linear-by-Linear
2.825 1 .093
Association
N of Valid Cases 90

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


87

LAMPIRAN 7
Data Diri Penulis

A. DATA PRIBADI

Nama lengkap DZAKI MURTADHO


Nama panggilan DZAKI
Agama Islam
Jenis kelamin Laki-Laki

Tempat & tanggal lahir Padang, 19 Januari 1996


Anak ke … dari … bersaudara 1 dari 3
Alamat saat ini dan kode pos Asrama Putra Fakultas Kedokteran dan Kesehatan
Universitas Muhammadyah Jakarta. Jalan, K.H Ahmad
Dahlan
Alamat email Dzakiimrd@outlook.com
Nomor telepon/HP 0852-6346-2105
Perguruan Tinggi Universitas Muhammadiyah Jakarta
Program Studi dan Fakultas Program Studi Kedokteran (Fakultas Kedokteran dan
Kesehatan)
Angkatan & Nomor Mahasiswa 2014 dan 2014730023
Motto Hidup Improving, Inspiring, Empowering.

B. RIWAYAT PENDIDIKAN FORMAL

TK Playgroup Adiyaksa Padang (1999 - 2000)


Taman Kanak-kanak Telkom Sandy Putra Padang (2000-2001)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


88

Taman Kanak-kanak Adiyaksa Padang (2001 - 2002)

SD SD Islam Budi Mulia Padang (2002-2008)

SMP SMP Negeri 8 Padang (2008-2011)

SMA SMA Negeri 4 Padang (2011-2014)

S1 Program Studi Kedokteran FKK UMJ (2014-sekarang)

C. RIWAYAT PENDIDIKAN NON FORMAL

Lembaga (lokasi) Materi Pendidikan Waktu Pendidikan Nilai/Prestasi


(jika ada)

ESQ Leadership ESQ Basic Training 2011


Training, Jakarta For Teen

Mastama (Masa Leadership September 2014


Ta’aruf Mahasiswa) Implementation Of
Good Management

LKMM Lokal FKK Latihan Desember 2014 -


UMJ, Jakarta Kepemimpinan dan
Managemen
Mahasiswa

Baitul Arqam Mahasiswa Sebagai 7-8 Maret 2015


Mahasiswa Universitas Agen Dakwah
Muhammadyah Jakarta Menuju Indonesia
Berkemajuan

Training Kader to Good Leader: The 2 Mei 2015


Leader Stimulating Work to
Expect The Best
Integrity

LKMM Nasional Latihan November 2015


ISMKI Kepemimpinan dan
Managemen
Mahasiswa

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


89

D. PRESTASI AKADEMIS dan NON-AKADEMIS


Prestasi Terbaik
1 Best National Staff of International Affair, ISMKI, 2016
2 Juara 3 Lomba Bahasa Inggris Tertulis Se-Indonesia, tahun
2007
3 Juara 1 Lomba Debat SMAN 4 Padang, tahun 2012
4 Juara 1 Lomba Debat SMAN 4 Padang, tahun 2013
5 Juara 2 Lomba Fotografi Smantse Cup, tahun 2014
6 Juara 2 Lomba Nasyid se-Sumatera Barat SMAN 3 Padang,
tahun 2014
7 Juara 1 Lomba Essay Training Kader to Leader Competition,
tahun 2015
8 Finalis Lomba Video Edukasi – Universitas Hasanusin
Makassar tahun 2015 dengan judul:
“ALADIN: Ayo Lindungi Anak Dengan Imunisasi”
9 PKM Terbaik se Uiversitas Muhammadyah Jakarta 2016
10. Funded Scholarship of Medical Faculty University of
Muhammadyah Jakarta, 2017

E. KINERJA DAN KOMPETENSI


Organisasi (nama, 1 SATGAS (Satuan Petugas) Lembaga Disiplin Sekolah Menengah
jabatan, tahun) Pertama Negeri 8 Padang, Staff Ahli Periode 2007 -2008
2 Rohis (Rohani Islam) Sekolah Menengah Atas Negeri 4 Padang,
Anggota Nasyid periode 2012 - 2014
3 HMPD (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Dokter) Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadyah Jakarta, Staff Ahli
Kajian dan Strategi (KASTRAT) Periode 2015 -2016

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


90

4 M2RC (Muhammadiyah Medical Researcher Comunnity)


Lembaga Studi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Jakarta, Staff Ahli Divisi Council of Human
Resourchers Department (COHERD) Periode 2015-2016
5 CD4B (Community Development Bersih, Bergizi, Berkarya,
Bermanfaat) Lembaga Sosial dan Syifa (Sosyif) HMPD, Koor
Acara Periode 2015-2016
6 Padus (Paduan Suara) Himpunan Mahasiswa Pendidikan Dokter,
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadyah Jakarta,
Anggota Aktif, 2014-2016
7 ISMKI (Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia),
Pengurus Harian Nasional bidang International Affair. 2016 -
2017
8 HMPD (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Dokter) Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadyah Jakarta, Wakil Ketua 2
(VPE) HMPD FKK UMJ, 2016-2017
9 ISMKI (Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia),
National Coordinator of International Affair. 2017-2018
10 ISMKI (Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia), Vice
President of Project Development. 2018-2019
Kepanitiaan (nama, 1 Rakernas (Rapat Kerja Nasional) Universitas Muhammadyah
jabatan, tahun) Jakarta, Laiser Officer, tahun 2014
2 Majestynas (Muhammadyah Jakarta Scientific Competition)
M2RC Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadyah Jakarta,
Panitia Divisi Acara Simposium, 2014
3. IASHE 2015, LO of Vietnam Delegates
3 POA (Project Of Action) B Ligament Featuring “Dekat” Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadyah Jakarta, Koor Publikasi
dan Dokumentasi, tahun 2015
4 KPU (Komisi Pemilu Umum) Himpunan Mahasiswa Pendidikan
Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadyah Jakarta,
Ketua Umum, tahun 2015
5 Penyuluhan CD4B Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadyah Jakarta, Pj Transportasi, tahun 2015

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


91

6 WOW (Week Of Welcome) Himpunan Mahasiswa Pendidikan


Dokter Universitas Muhammadyah Jakarta, Panitia Divisi Acara,
Tahun 2015
7 PKM (Pekan Kreativitas Mahasiswa) Fakultas Kedoktean
Universitas Muhammadyah Jakarta, Lumpia Isi Tahu Strawberry,
Ketua, tahun 2015
8 Majesty Nasional (Muhammadyah Jakarta Scientific competition
Nasional) M2RC Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadyah Jakarta, Anggota Divisi Acara Simposium,
Tahun 2016
9 LKMM (Latihan Kepemimpinan dan Management Mahasiswa)
LOKAL Himpunan Mahasiswa Pendidikan Dokter Universitas
Muhammadyah Jakarta, Panitia Divisi Publikasi dan
Dokumentasi, Tahun 2015
10 Penyuluhan CD4D HMPD Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadyah Jakarta, Ketua Pelaksana, tahun 2016

10 ARTSPACE INFOKOM Himpunan Mahasiswa Pendidikan


Dokter Universitas Muhammadyah Jakarta, Panitia Divisi
Hubungan Masyarakat, Tahun 2016 (sertifikat dalam proses)
11 ISMKI Project 2 (ISPRO 2) – ISMKI Wilayah 2, Universitas
Muhammadyah Jakarta, Ketua Pelaksana, 2016

12 WOW (Week Of Welcome) Himpunan Mahasiswa Pendidikan


Dokter Universitas Muhammadyah Jakarta, Streering
Committee, Tahun 2016
13 PKM (Pekan Kreativitas Mahasiswa) Fakultas Kedoktean
Universitas Muhammadyah Jakarta, KOPAJA, Pembimbing,
tahun 2015
14 POA (Project Of Action) Cranium “Strenum & Juxtapose”
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadyah Jakarta,
Steering Committee,, tahun 2017
15 1st ASEAN CBR TRAINING WORKSHOP, Training Worksop
on CBR Development and Sustainability Community Based

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


92

Rehabilitation for all group of persons with Disability, PSIKI,


Organizing Committee, 2017

Keikutsertaan 1 Kegitan Donor Darah “Share blood Share Life” Oleh


Departemen Sosial dan Syifa Himpunan Mahasiswa Pendidikan
Dokter (Syosif HMPD) Fakultas Kedokteran Universitas Jakarta,
Peserta, tahun 2015
2 9th National Folklore Festival Competition Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia, Peserta, tahun 2015
3 Pesantrean Ramadhan Fakultas Kedokteran Muhammadyah
Jakarta, Peserta, tahun 2015
4 RAKORNAS (Rapat Koordinasi Nasional) ISMKI, Peserta,
Universitas Diponegoro, Semarang, 2015
5 ISPRO 2 FK YARSI - ISMKI, Peserta, 2015
6 MUSKERWIL (Musyawarah Kerja Wilayah) ISMKI Wilayah 2,
Peserta, Universitas Maranatha, Bandung, 2016
7 10th National Folklore Festival Competition Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia, Peserta, tahun 2016
8 Bakti Sosial Dept Sosyif (Baksos Sosyif 2) Himpunan
Mahasiswa Pendidikan Dokter Universitas Muhammadyah
Jakarta, Jonggol, Peserta, 2016
9 ISMKI Project 1 (ISPRO 1) ISMKI Wilayah 2, UNIKA ATMA
JAYA, Peserta, 2016
10 Temu Ilmiah Nasional 2016, Universitas Islam Malang, Delegasi
Lembaga Ilmiah Kampus (M2RC), 2016
11 Rapat Koordinasi Nasional ISMKI, Pengurus Harian Nasional,
2016
12 LKMM Nasional- ISMKI, Universitas Airlangga, Fasilitator,
2016
13 Indonesian Medical Student Summit 5th ISMKI, Universitas
Sumatera Utara, National Coordinator of International Affairs
ISMKI, 2017
14 Asian Pasific Regional Meeting, Japan 2017, International
Federation of Medical Student Association, SCOPE, Peserta.

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


93

LAMPIRAN 8

Foto Saat Pengambilan Data

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA